I. RIWAYAT HIDUP DAN KARYA MISI
PAULUS
1. Dilahirkan di Tarsus
Sumber
utama mengenai Paulus adalah surat-suratnya yang otentik yaitu 1Tes, Gal, Flp,
Flm, 1-2Kor, Rom. Informasi historis dapat pula digali dari Kisah Para Rasul
dan surat-surat deutero-Paulinis yaitu Kol, Ef, 2Tes, 1-2Tim dan Titus. Masih
ada informasi-informasi lainnya dari tulisan-tulisan apokrif, akan tetapi
otentisitas datanya masih perlu diuji lagi.
Menurut
Kisah Para Rasul, Paulus dilahirkan di Tarsus di tanah Kilikia, dibesarkan di
Yerusalem dan dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hal Taurat
(Kis 22:3; 21:39). Selanjutnya Kisah Rasul masih menyebut Tarsus dalam tiga
ayat lain, bdk. Kis 9:11.30; 11:25. Surat-surat Paulus samasekali tidak menyebut
kota Tarsus. Tarsus adalah kota yang mempunyai keunggulan di dalam pengembangan
kebudayaan helenisme. Tahun 67 sM Pompeyus menaklukkan kota Tarsus dan
menjadikannya ibu kota dari provinsi Kilikia. Cicero pernah menjadi prokonsul
di Kilika pada tahun 51-50 sM. Pada tahun 47 sM Tarsus menyambut dengan gembira
kehadiran Yulius Caesar. Untuk menghormatinya, Tarsus sampai diberi nama
Iuliopolis. Setelah kematian Caesar, Tarsus mendapat status kota merdeka dari
Markus Antonius yang pada waktu itu menguasai wilayah kekaisaran Roma bagian
Timur. Di bawah pemerintahan kaisar Agustus, Tarsus mendapat bermacam-macam
keistimewaan, termasuk dibebaskan dari pajak kekaisaran. Tarsus menjadi kota
yang memberi harapan, apalagi semakin berkembang sebagai pusat kegiatan intelektual.
Sebagai
sebuah kota besar, Tarsus mempunyai pelabuhan sendiri, berpenduduk sekitar
300.000 orang pada zaman Paulus. Posisi kota Tarsus menguntungkan untuk
lalu-lintas perdagangan. Karena dekat dengan laut Mediteran, Tarsus menampung
penduduk dari segala macam ras dan suku bangsa. Budaya yang berkembang di
Tarsus menjadi beraneka ragam, namun semuanya bisa disatukan dalam payung
budaya helenisme. Kaum Yahudi merasa tidak perlu hidup dalam ghetto,
mereka hidup dengan cukup bebas bersama bangsa-bangsa lain. Keterbukaan kaum
Yahudi terhadap bangsa-bangsa lain justru mampu menarik hati banyak bangsa
menjadi proselit (bangsa non Yahudi yang menganut agama Yahudi).
Sebagai
kota pusat kebudayaan, di Tarsus ada sebuah universitas besar yang berani
bersaing dengan universitas di Athena maupun di Aleksandria. Dari segi
religius, Tarsus yang dihuni oleh bermacam ragam suku bangsa dan agama itu membuka kemungkinan terjadinya sinkretisme.
Paulus yang dilahirkan di kota yang berpikiran maju dan multi rasial ini
dibentuk dalam budaya helenis dan Yahudi sekaligus.
Paulus
(Yun: Paulos) lahir dengan nama Yahudi “Saulus” (Kis 7:58; 8:1; 9:1.4 dst.).
Kisah Para Rasul menyebut namanya dengan “Saulus” sampai Kis 13:9. Perubahan
namanya menjadi “Paulus” dikarenakan karya misinya di dunia helenis. Dia
sendiri tidak pernah menyebut nama Yahudinya (Saulus) di dalam surat-suratnya,
tetapi selalu memakai nama Paulus (1Tes 1:1; 2:18; Rm 1:1; 1Kor 1:1.12-13). Dia
dilahirkan antara tahun 5-10M. Sebagai orang Yahudi, Paulus berasal dari suku
Benyamin (Flp 3:5; Rm 11:1; bdk. Kis 13:21). Nama Yunani yang dimilikinya
mungkin berkaitan dengan statusnya sebagai warga kota Tarsus, di mana ia
dilahirkan dan dibesarkan (Kis 9:11; 21:39; 22:3; bdk. 9:30; 11:25). Statusnya
sebagai warganegara Roma amat berguna menurut Kisah Para Rasul (Kis 16:37-38;
22:25-29; 23:27; 25:8-12.21; 26:32; 27:24; 28:19). Karena statusnya tersebut,
Paulus diperbolehkan mengajukan banding kepada kaisar ketika harus berperkara
dengan pengadilan Romawi. Paulus mendapat status warga negara Roma dari
ayahnya, jadi berdasarkan keturunan (Kis 16:37-38; 22:25-29; 23:7; 25:10-11).
Pendidikan
Paulus di Tarsus tidak dijelaskan di dalam Kisah Rasul maupun surat-suratnya.
Paulus rupanya lebih bangga dengan pendidikannya sebagai orang Yahudi, seperti
dikatakan dalam dalam Kis 22:3: “Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di
tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah
pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang
yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini.”
Mungkin pernyataan Paulus di sini dipengaruhi oleh situasi dan kondisinya pada
waktu itu, ketika dia sedang berhadapan dengan orang-orang Yahudi-Kristen yang
masih membanggakan keyahudian mereka. Apa yang dikatakan oleh Paulus tersebut
menjadi petunjuk bahwa ada kemungkinan keluarga Paulus pindah dari Tarsus ke
Yerusalem, di mana ia kemudian menerima pendidikannya yang kedua (Kis 26:4).
Yang
jelas, entah bagaimana persisnya, Paulus mendapat pendidikan helenis (budaya
Yunani) yang cukup memadai. Bekal ini menjadikan Paulus seorang misionaris yang
begitu percaya diri untuk tampil di kalangan internasional. Kemampuannya untuk
berkotbah, mengajar, menulis surat yang panjang, terlibat dalam debat teologis
yang mendalam, membuktikan bahwa ia mempunyai pendidikan yang memadai mengenai
budaya dan bahasa Yunani. Lukas dalam Kisah menampilkan Paulus sebagai seorang
pengkotbah yang mempunyai kemampuan retorika yang unggul. Dia menguasai bahasa
Ibrani / Aram (bdk. Kis 22:2) dan Yunani (Kis 9:29) dengan baik.
2. Paulus
sebelum pertobatan
Sebelum
pertobatannya, Paulus termasuk orang yang setia dan taat dalam melaksanakan
tradisi agama Yahudi yang diwarisi dari nenek moyangnya. Dia memandang dirinya
sebagai seorang Yahudi ortodoks yang dengan penuh semangat berupaya memerangi
segala bentuk kekafiran. Paulus adalah anggota dari kelompok Farisi dan ikut
ambil bagian di dalam pengejaran terhadap para pengikut Kristus (Gal 1:13.23;
Flp 3:6; 1Kor 15:9). Perjuangan Paulus untuk mengejar-ngejar umat Kristen
tampaknya dilatarbelakangi oleh karena orang-orang Yahudi-Kristen dianggapnya
tidak lagi setia pada hukum Taurat. Kisah Para Rasul dan Paulus sendiri tidak
memberi alasan yang detil mengenai hal ini. Rupanya sebagai orang Yahudi
fanatik Paulus sulit memahami bagaimana mungkin Yesus yang telah mati disalib itu diyakini sebagai
Mesias. Bukankah kitab Ul 21:23 mengatakan bahwa orang yang mendapat hukuman
gantung di kayu salib adalah orang yang terkutuk oleh Allah? Jika Yesus yang
disalib itu dipercaya sebagai Mesias, maka ini sungguh suatu penghojatan.
Kisah
Para Rasul mengungkapkan bahwa Paulus mendapat pendidikan dari rabi Gamaliel di
Yerusalem (Kis 5:34; 22:3). Dia masuk kelompok Farisi, yaitu suatu kelompok
eksklusif dan tekun dalam menjalankan Taurat. Pada waktu itu di Palestina
jumlah mereka ada sekitar 6000 orang awam. Mereka begitu lekat pada tradisi
nenek-moyang, taat ibadat dan menjalankan hukum agama, antara lain dalam
membayar persepuluhan. Sebelum tahun 70 M kelompok Farisi sudah mempunyai
posisi dominan. Setelah tahun 70 M (kehancuran Yerusalem), kelompok Farisi
semakin berpengaruh lagi karena kelompok yang lekat pada Bait Allah (Imam dan
Lewi) pelan-pelan kehilangan peranan di tengah masyarakat Yahudi. Sebagai
anggota kelompok Farisi, Paulus percaya akan kebangkitan badan. Kepercayaan itu
pada diri Paulus mendapat kepenuhannya dan peneguhannya dengan imannya akan
kebangkitan Yesus Kristus dari mati (1Kor 15:12.20-21).
Sebagai
seorang Yahudi fanatik yang membenci umat Kristen, Paulus hadir pada saat
perajaman (hukuman dengan cara dilempari batu) terhadap diakon Stefanus (Kis
7:58; 8:1; 22:20). Paulus kemudian berniat mengejar umat Kristen sampai ke
Damsyik dengan meminta surat dari Mahkamah Agama untuk dibawa kepada para
petinggi sinagoga di Damsyik. Maksudnya supaya dia diijinkan menangkap umat
Kristen di antara jemaat Yahudi di sinagoga. Umat Kristen sebenarnya belum
samasekali lepas dari lingkungan bangsanya. Mereka masih rajin ke sinagoga. Namun
selain itu mengadakan ibadat perjamuan bersama di rumah-rumah mereka secara
bergiliran. Dalam 1Kor 15:9 dan Gal 1:13 Paulus mengakui kegiatannya sebagai
penganiaya jemaat Kristen.
Sebenarnya
cukup aneh bahwa Paulus yang kaku dan legalis dalam hukum agama itu adalah
murid Gamaliel, rabi yang dikenal bijak dan amat dihormati bangsanya. Gamaliel
mempunyai keunikan karena dia mampu mengadopsi filsafat Yunani ke dalam
pengajaran agama Yahudi. Menurut Kis 5:34-39, Gamaliel menasehati para anggota
Mahkamah Agama agar melepaskan para rasul dan membiarkan mereka mewartakan
Injil. Alasannya, otoritas agama Yahudi tidak akan mungkin melenyapkan gerakan
Kristen jika itu sungguh berasal dari Allah. Jangan-jangan dengan upaya
melenyapkan jemaat Kristen, ternyata mereka justru bertindak melawan Allah.
Sulit dimengerti bahwa rabi Yahudi yang bijaksana dan begitu toleran itu adalah
guru Paulus. Namun, tidak ada dasar yang cukup bagi kita untuk menelitinya
lebih jauh dan meragukan keterangan dari Kisah Para Rasul. Ada keanehan lain
yang kita temukan berdasarkan informasi dari Gal 1:20-22 bahwa Paulus tidak
dikenal oleh jemaat-jemaat di Yudea. Sebenarnya Paulus juga melakukan
pengejaran di Yerusalem atau tidak? Tidak ada kepastian bahwa Paulus giat
mengadakan pengejaran di Yerusalem. Meskipun demikian, Kis 9:21 memberi kesan
bahwa diapun juga bergiat di Yerusalem, sehingga kehadiran Paulus di tengah
jemaat Kristen sesudah pertobatan sempat menimbulkan kecurigaan (Kis 9:26-27).
Mengenai
penampilan fisik Paulus, Kitab Suci hanya memberi gambaran sedikit dan kurang
meyakinkan, bdk. 1Kor 2:3: Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan
dan dengan sangat takut dan gentar; dan 2Kor 10:10: Sebab, kata orang,
surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya
lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti. Di dalam kitab Apokrif
tentang kisah Paulus dan Tekla dikatakan bahwa Paulus seorang yang berperawakan
kecil, berambut tipis dan halus, kakinya bengkok namun badannya tegap, alisnya
bertemu dengan hidung sedikit bungkuk, menimbulkan iba.
3. Pertobatan
Diperkirakan
pertobatan Paulus terjadi pada tahun 34 M. Pada waktu itu Paulus sedang penuh
semangat mengejar-ngejar umat Kristen di Damsyik. Ketika sudah mendekati kota
Damsyik, tiba-tiba Paulus mengalami penglihatan akan Kristus yang bangkit. Di
dalam kisah selanjutnya (dan juga surat-suratnya) kelihatan bahwa pengalaman di
Damsyik itu memberi kesan begitu dahsyat bagi Paulus dan secara total merubah
pandangannya terhadap Yesus, imannya, jalan hidupnya, harapan hidupnya. Kisah
Para Rasul mengacu pada pertobatan Paulus sampai tiga kali (Kis 9:1-9; 22:6-21;
26:12-18). Di dalam Gal 1:15-16 pertobatan tersebut oleh Paulus dianggap
sebagai panggilan, penyataan dan perutusan untuk mewartakan Injil: “Tetapi
waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh
kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan
Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa
bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia.”
Yesus disebut oleh Paulus sebagai Anak Allah. Menurut teks Galatia ini,
pertobatan di dekat Damsyik mengawali karier Paulus sebagai pewarta Injil.
Surat 1Kor 15:8 memandang peristiwa tersebut sebagai penampakan Yesus yang
terakhir setelah kebangkitan-Nya. Kalau informasi-informasi mengenai pertobatan
Paulus ini disatukan, ada sejumlah unsur yang sepakat mengatakan bahwa :
Pertama, Paulus pada mulanya adalah penganiaya jemaat Kristen (Gal 1:13; 1Kor
15:9; Kis 26:9-11; 9:1-5). Kedua, penampakan Kristus yang bangkit dihubungkan
dengan panggilan Paulus untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa lain (Gal
1:16; Kis 26:16). Ketiga, kisah pertobatan terjadi di dekat Damsyik, yaitu
sebuah kota di wilayah Siria (Gal 1:17; Kis 9; 22; 26).
Paulus
berubah total dari pengejar dan penganiaya jemaat Kristen menjadi pengikut
Kristus yang setia dan berani mati. Kegiatannya menganiaya jemaat diakui Paulus
di dalam surat-suratnya:
“Aku adalah yang paling hina dari
semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah” (1Kor 15:9).
“Sebab kamu telah mendengar
tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat
Allah dan berusaha membinasakannya” (Gal 1:13).
“... tentang kegiatan aku
penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak
bercacat” (Flp 3:6). - bdk. Kis 7:58; 8:1-3; 9:1-2; 22:3b; 26:1-11.
Istilah
“pertobatan” bagi pengalaman Paulus di dekat Damsyik sebenarnya tidak
sepenuhnya tepat. Paulus sendiri menganggapnya sebagai penyataan /
perwahyuan (Gal 1:16), suatu penciptaan baru (2Kor 5:17) dan suatu penampakan
(1Kor 15:8), ditangkap oleh Kristus Yesus (Fil 3:12). Perubahan diri
Paulus sebagai penganiaya jemaat Kristen menjadi pengikut Kristus tidak dapat
disamakan dengan perubahan dari orang kafir menjadi orang beriman, atau dari
orang tak bermoral menjadi orang bermoral, atau dari agama tertentu ke agama
lain. Paulus menggambarkan dirinya sebelum peristiwa Damsyik sebagai seorang
Yahudi yang taat pada hukum Taurat tanpa cacat (Fil 3:6). Sebenarnya Paulus tidak
samasekali anti Taurat. Namun, sekarang dia memahami Taurat dengan cara pandang
lain, yaitu sesuai dengan imannya akan Yesus Kristus Anak Allah. Dia mengenang
ketaatannya pada Taurat tanpa Kristus bagaikan hidup di dalam perbudakan yang
setiap kali membawanya kepada kelemahan daging. Paulus menggambarkan
pertobatannya sebagai karya Allah yang tanpa dapat dijelaskan persisnya
ternyata telah merasuk ke dalam dirinya dan mengubah hidupnya dari dalam
sebagai bagian dari anak-anak Allah yang merdeka. Paulus mengisahkan perubahan
dirinya yang mendalam itu pada beberapa kesempatan (antara lain dalam 1Kor
15:8; Gal 1:15-16).
Kita
tidak mendapat informasi bagaimana Paulus mendapatkan pengajaran agama Kristen.
Tidak juga ada petunjuk di dalam Kisah Para Rasul maupun di dalam
surat-suratnya bahwa dia secara khusus mempelajari kehidupan Yesus dan
ajaran-ajaran-Nya. Dapat diandaikan bahwa pertemuannya dengan para rasul
membuatnya semakin mengenal Yesus dan ajaran-ajaran-Nya. Kendati begitu, Paulus
di sisi lain menegaskan bahwa misi kerasulannya adalah indipenden dari kuasa
manusia, karena dia menerimanya secara pribadi dari Yesus sendiri (Gal
1:15-17). Bagaimana persisnya perutusan itu terjadi, kita hanya menduganya dari
tafsiran serba terbatas terhadap peristiwa Damsyik.
Kunjungan pertama ke Yerusalem (37 M)
Paulus
mengatakan dalam Gal 1:17-18 bahwa setelah pertobatannya ia tidak ke Yerusalem
menemui para rasul, namun pergi ke tanah Arab, kembali ke Damsyik, dan setelah
3 tahun kemudian barulah ia ke Yerusalem (Gal 1:18-24). Surat 2Kor 11:32-33
mengatakan bahwa Paulus meninggalkan Damsyik karena pengejaran dari wali negeri
raja Aretas: “Di Damsyik wali negeri raja Aretas menyuruh mengawal kota
orang-orang Damsyik untuk menangkap aku.
Tetapi dalam sebuah keranjang aku diturunkan dari sebuah tingkap ke luar
tembok kota dan dengan demikian aku terluput dari tangannya.” Kis 9:22-26
mendukung pendapat bahwa Paulus mengunjungi Yerusalem setelah meninggalkan
Damsyik dengan diam-diam, tanpa menyebut kepergiannya lebih dahulu ke Arabia dan tanpa referensi mengenai
pengejaran oleh wali negeri raja Aretas. Di Yerusalem, tiga tahun kemudian,
Paulus tinggal bersama Petrus selama 15 hari sebab orang Yahudi Helenis
berusaha lagi membunuh dia (Gal 1:17-18; Kis 9:19 dsb). Paulus lari ke
Yerusalem dan di situ Barnabas berani memperkenalkan dia kepada
pemimpin-pemimpin Kristen yang sangat mencurigainya, hal yang dapat dimengerti.
Paulus pergi ke Yerusalem guna menemui Kefas dan Yakobus. Pada waktu itu dia
tidak melihat seorang rasul pun kecuali Kefas dan Yakobus saudara Yesus (Gal
1:16-19). Menurut Gal 1:21 dan Kis 9:30, Paulus kemudian diantar ke Kaisarea
kemudian kembali ke Tarsus di Kilikia. Ia tinggal di sana sekitar 10 th. Hanya
sedikit informasi mengenai periode 10 tahun ini, yaitu antara tahun 34/35
sampai tahun 45. Dalam Galatia juga dikatakan bahwa Paulus kemudian pergi ke
Siria (Antiokhia) dan Kilikia (Tarsus) untuk mewartakan Injil sebelum memulai
perjalanan misinya (Gal 1:21-24).
Ketika
diutus untuk mengunjungi jemaat di Antiokhia, Barnabas mendengar pekerjaan
Paulus dan teringat perjumpaan mereka pertama kali. Ia kemudian meminta Paulus
datang ke Antiokhia untuk menolong pemberitaan Injil yang sedang berkembang di
tengah-tengah masyarakat non-Yahudi (Gal 1:17dst; Kis 9:26dst; 11:20 dst).
Sesudah satu tahun mewartakan Injil dengan sukses, Paulus dan Barnabas diutus ke Yerusalem. Kis
11:30-12:24 menceritakan perjalanan Paulus kedua ke Yerusalem. Ia bersama
dengan Barnabas membawa kolekte untuk membantu jemaat di Yerusalem yang sedang
menderita kurang makanan.
Jika
kita menerima pernyataan Paulus tentang kepergiannya ke Arabia (wilayah
Nabatea), ada kemungkinan ini berkaitan dengan perutusan untuk mewartakan Injil
kepada bangsa kafir. Namun, tidak ada penjelasan apakah misinya di tanah Arab
cukup sukses. Dari konteks lebih luas yang dapat dilihat pada surat-surat dan
kisah perjalanan misinya, kita dapat menduga bahwa misi Paulus ke tengah
bangsa-bangsa kafir bukannya tanpa masalah.
4. Perjalanan misi Paulus
Gereja
Antiokhia rupanya menjadi basis utama bagi jemaat kristen perdana. Menurut
Kisah Para Rasul, tiga kali Paulus memulai perjalanannya misinya dari
Antiokhia.
a. Perjalanan
misi pertama: Kis 13:4-14:28 (tahun 45-48 M, sebelum konsili di Yerusalem)
Antiokhia (di Siria) - Seleukia -
Salamis - Pafos - Perga - Antikohia di Pisidia (di Frigia) - Ikonium - Listra -
Derbe - Listra - Ikonium - Antiokhia di Pisidia - Perga - Antiokhia (di Siria).
Keputusan untuk melakukan karya misi
penginjilan terjadi pada saat berdoa di tengah jemaat Antiokhia, di bawah
bimbingan Roh Kudus (Kis 13:1-3). Perjalanan misi pertama berlangsung sekitar
dua sampai tiga tahun. Paulus bersama
Barnabas dan Markus menjelajah pulau Siprus. Barnabas tampil sebagai pemimpin
perjalanan dari Antikohia ke Siprus.
Namun ketika meninggalkan Siprus, perjalanan misi tampaknya dipimpin oleh
Paulus. Di Perga, Yohanes Markus meninggalkan Paulus dan Barnabas. Mereka
kemudian melintasi Galatia Selatan, yaitu ke Antiokhia di Pisidia, Ikonium,
Listra, Derbe (Kis 13-14). Cara kerja mereka, yang menjadi pola Paulus dalam
pemberitaan Injil, adalah mula-mula berkhotbah di sinagoga atau rumah ibadat.
Pendengar mereka adalah orang Yahudi dan non-Yahudi (disebut sebagai orang “yang takut akan
Allah”). Jika masyarakat Yahudi menolak Injil yang diwartakan Paulus -
kadang-kadang dengan kekerasan - maka pemberitaan dialihkan kepada masyarakat
non-Yahudi (bdk Kis 13:46 dst). Misi pertama mengalami sukses tetapi juga
kegagalan. Di Ikonium, Paulus mengalami konflik dengan orang-orang Yahudi yang
menolak pewartaannya (Kis 14:1-7). Di Listra, Paulus dilempari batu (Kis
14:19). Di wilayah Pisidia, keberhasilannya mengkristenkan sejumlah proselit
mendapat perlawanan kalangan Yahudi yang begitu hebat (Kis 13:45) sampai Paulus
dan Barnabas kemudian mengalihkan pewartaan mereka kepada bangsa-bangsa non
Yahudi (Kis 13:46). Kendati ada bahaya-bahaya penolakan tersebut dan perpisahan
dengan Markus di Perga, pemberitaan Injil berhasil menumbuhkan jemaat di daerah
Pisidia dan Pamfilia, persisnya di kota Antiokhia, Ikonium, Listra, Derbe dan
mungkin Perga. Hal lain yang semakin meneguhkan perjuangan mereka adalah
kesadaran bahwa Allah telah membuka pintu iman bagi bangsa-bangsa non-Yahudi
(Kis 14:28).
Konsili
pertama di Yerusalem (Kis 15)
Ketika banyak dari kalangan
masyarakat non-Yahudi menjadi Kristen, timbul masalah berat tentang hubungan
mereka dengan hukum dan adat-istiadat Yahudi. Sebagian orang Kristen-Yahudi
mengharuskan orang Kristen non-Yahudi agar disunat dan mentaati Taurat Musa, jika
mereka hendak diterima ke dalam persekutuan Gereja. Sesudah Paulus kembali ke
Antiokhia dari perjalanan misinya yang pertama
(49 M), ia melihat gerakan peng-Yahudi-an ini sebagai suatu ancaman
terhadap serius pewartaan Injil yang sebenarnya. Dengan jelas dan tegas Paulus
melawan gerakan tersebut. Bahkan tanpa ragu-ragu ia mengeritik Petrus di muka
umum (Gal 2:14), karena Petrus dengan diam-diam meninggalkan perjamuannya
bersama kelompok Kristen non-Yahudi akibat kedatangan orang-orang
Yahudi-Kristen. Kelompok Yahudi-Kristen tidak mau jika Gereja meninggalkan
begitu saja adat-istiadat Yahudi. Mereka masih mengambil jarak terhadap
orang-orang Kristen non Yahudi. Mereka juga masih berpegang pada ajaran
ketahiran dan kenajisan, makanan haram dan halal. Kelompok Yahudi-Kristen
disebut dalam bahasa Inggris kaum Judaizers, sehingga untuk selanjutnya
kita sebut saja kelompok Yudais.
Sesudah mendengar bahwa ajaran
peng-Yahudi-an itu oleh kaum Yudais membawa pengaruh pada Gereja-gereja yang
baru didirikannya, Paulus menulis surat peringatan yang tegas kepada jemaat di
Galatia. Dengan penuh semangat dijelaskannya bahwa “Keselamatan terjadi karena
kasih karunia melalui iman, bukan karena menjalankan Taurat”.
Peristiwa di Antiokhia menimbulkan
krisis teologi besar dan yang pertama dalam Gereja. Untuk menyelesaikan kemelut
teologis yang ditimbulkannya, jemaat Antiokhia mengutus Paulus dan Barnabas
untuk berunding dengan para rasul dan penatua di Yerusalem (Kis 15). Sebelum
tahun 70 M, Yerusalem masih berfungsi sebagai Gereja induk, pimpinannya adalah
Yakobus saudara Yesus. Meskipun begitu, Petrus dan para rasul lainnya tetap
mempunyai otoritas tertinggi dalam menentukan arah Gereja.
Sidang para rasul dan para penatua di
Yerusalem mengambil keputusan, supaya kepada orang Kristen non-Yahudi jangan
ditanggungkan lebih banyak beban (Kis 15:28). Namun, Yakobus masih mengusulkan
agar mereka tetap harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada
berhala, darah, daging binatang yang mati lemas, dan percabulan. Batasan-batasan
berkaitan dengan makanan haram dan halal tersebut rupanya hanya ditaati pada
awalnya, karena Gereja di kemudian hari tidak mengindahkannya lagi. Larangan yang disampaikan oleh Yakobus
tersebut agaknya hanya dikenakan secara setempat (bdk 1Kor 8), guna menjaga
hubungan baik antara orang Kristen Yahudi dan non-Yahudi. Bagaimanapun juga
keputusan yang dibuat dalam konsili di Yerusalem jelas merupakan dukungan kuat
terhadap pandangan Paulus, bahwa orang Kristen non-Yahudi tidak usah mentaati
hukum Taurat Musa.
b. Perjalanan misi yang kedua: Kis
15:36-18:23 (tahun 48-50)
Antiokhia - Siria - Kilikia - Derbe -
Listra - Frigia - Misia - Troas - Samotrake - Neapolis - Filipi - Ampipolis -
Apolonia - Tesalonika - Berea - Atena - Korintus (18 bulan) - Kengkrea - Efesus
- Kaisarea - Yerusalem - Antiokhia
Setelah selesai menghadiri konsili di
Yerusalem, Paulus kembali ke Antiokhia (15:30). Selanjutnya Paulus bersiap
untuk menempuh perjalanan misi yang kedua (15:36). Karena perbedaan pendapat
dengan Barnabas yang ingin membawa Yohanes Markus lagi bersama mereka (Kis
15:38-39), Paulus memilih untuk berpisah dari Barnabas. Dia membawa Silas pada
perjalanan penginjilan kedua ini (Kis 15:36-18:22), sedangkan Barnabas menempuh
perjalanan misi bersama Yohanes Markus ke daerah lain.
Mula-mula Paulus dan Silas
mengunjungi Gereja-gereja yang telah didirikannya di wilayah Siria dan Kilikia
(15:41). Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke Derbe dan Listra (16:1). Di Listra, Timotius bergabung dengan mereka.
Rute selanjutnya melintasi Asia Kecil (Frigia dan Galatia), ke Troas (16:8).
Dalam penglihatan di Troas, Paulus melihat seorang Makedonia memanggil-manggil
dia. Paulus menafsirkan penglihatan itu sebagai panggilan untuk memberitakan
Injil di wilayah Makedonia. Dengan
demikian mulailah penginjilannya di wilayah Yunani. Mereka singgah di
Samotrake, Neapolis, kemudian tinggal di Filipi (Kis 15:36-16:11; 16:12-40).
Setelah dibebaskan dari penjara di
Filipi, ia melanjutkan perjalanan melalui Amfipolis dan Apolonia ke Tesalonika
(17:1). Di Tesalonika dia mendirikan komunitas baru (Kis 17:1-9), meskipun
sempat mendapatkan perlawanan. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke Berea
(17:10) dan di sana Paulus meninggalkan Silas dan Timotius (17:14). Paulus
kemudian berlanjut ke Atena (17:18), tetapi kemudian memanggil kedua rekan yang
telah ditinggalkannya di Berea tersebut untuk bergabung kembali. Di Athena,
Paulus menghadapi penolakan dari orang-orang
setempat ketika di depan sidang di Areopagus dia mewartakan kebangkitan
orang dari mati (Kis 17:15-33). Paulus kemudian melanjutkan perjalanan ke
Korintus (18:1-18) dan tinggal di sana selama satu setengah tahun (18:11). Silas dan Timotius dari Makedonia menyusul
Paulus ke Korintus. Paulus berhasil membangun suatu jemaat Kristen di Korintus,
suatu jemaat yang di kemudian hari
menjadi sumber sukacita sekaligus keprihatinan. Karyanya di Korintus
membangkitkan perlawanan juga, akan tetapi Gallio, gubernur Akhaya, tidak
terhasut untuk ikut-ikutan menentang Paulus. Paulus sempat tinggal selama 18
bulan di Korintus, sebelum akhirnya pulang kembali ke Antiokhia (18:18b-23a).
Paulus meninggalkan Korintus menuju
Efesus diikuti oleh Priskila dan Akwila. Mereka singgah sebentar di Efesus,
kota perdagangan di Asia, dan Paulus meninggalkan Priskila dan Akwila di sana
sebagai perintis perkembangan jemaat. Paulus kembali ke Antiokhia melewati
Yerusalem. Dengan demikian selesailah perjalanan misinya yang kedua. Untuk
terakhir kalinya Paulus tinggal di Antiokhia, karena sesudahnya ia memindahkan
basis karyanya untuk wilayah barat di Efesus. Perjalanan misi Paulus yang kedua
ini dapat dinilai berhasil. Paling tidak dia telah berhasil mendirikan
komunitas Kristen di Makedonia dan di Akhaya, dua wilayah yang meninggalkan
kesan mendalam di hatinya.
c. Perjalanan
misi yang ketiga: Kis 18:23-21:17 (tahun 52-58)
Antiokhia - Frigia - Efesus (3 th) -
Makedonia - Filipi - Troas - Asos - Metilene - Samos - Miletus- Knidus- Rhodos
- Patara - Mitra - Tirus - Ptolomais - Kaisarea
Dikatakan dalam Kis 18:23 bahwa
Paulus hanya beberapa hari di Antiokhia. Sesudah itu Paulus memulai perjalanan
misinya yang ketiga. Perjalanan misi Paulus yang ketiga juga dimulai dari
Antiokhia. Paulus mengunjungi Gereja di Galatia dan Frigia (Kis 18:23). Dari
Antiokhia di Pisidia, Paulus menuju Efesus di mana dia tinggal selama lebih
dari dua tahun (hampir tiga tahun).
Di Efesus ada seorang Yahudi asal
Aleksandria bernama Apolos yang pandai berbicara dan mempunyai pengetahuan
mendalam tentang Kitab Suci. Dikatakan bahwa ia hanya menerima baptisan dari
Yohanes, sehingga ada kemungkinan bahwa dia mengenal Yohanes Pembaptis dan
mungkin Yesus juga (Kis 18:24). Apolos banyak mengajar tentang Yesus di Efesus
(sebelum kedatangan Paulus) dan berdebat dengan orang-orang Yahudi untuk membuktikan
bahwa Yesus adalah Mesias. Akwila dan Priskila menjumpainya dan menjelaskan
Injil kepadanya. Setelah itu Apolos berangkat ke Korintus (Akhaya). Paulus tiba
di Efesus ketika Apolos telah berada di Korintus. Di Efesus, Paulus bertemu
dengan sekitar dua belas murid yang telah menerima baptisan Yohanes dan tidak
tahu apa-apa mengenai Yesus. Paulus kemudian mengajar mereka tentang Yesus
kemudian membaptis mereka dalam nama Yesus.
Tiga bulan lamanya Paulus mengunjungi
rumah-rumah ibadat di Efesus untuk mengajarkan Injil. Ada sejumlah orang yang
menolak ajarannya. Kemudian Paulus mengajar di ruang kuliah Tiranus sampai dua
tahun lamanya. Untuk membiayai hidupnya, Paulus bekerja sebagai tukang tenda,
sambil meneruskan kegiatannya mewartakan Injil. Kis 19:11-22 mengisahkan
bagaimana Paulus banyak melakukan mujizat penyembuhan dan pengusiran setan.
Sejumlah tukang jampi yang berkeliling di Efesus mencoba memakai nama Yesus
untuk mengusir orang yang kerasukan roh jahat. Para tukang jampi itu adalah
anak seorang imam Yahudi bernama Skewa. Upaya mereka untuk mengusir roh jahat
dalam nama Yesus ternyata gagal, bahkan roh jahat berbalik menyerang mereka.
Banyak tukang sihir yang berubah menjadi percaya kepada Yesus setelah melihat
kejadian itu.
Paulus berniat pergi ke Yerusalem
melalui Makedonia dan Akhaya, kemudian dari Yerusalem ia berniat mengadakan
perjalanan untuk mewartakan Injil ke Roma. Timotius dan Erastus disuruhnya
untuk mendahului dia ke Makedonia. Tukang-tukang perak di Efesus yang membuat
kuil-kuil untuk dewi Artemis merasa dirugikan dengan kehadiran Paulus.
datangannya. Di bawah pimpinan Demetrius mereka menyandera Gayus dan
Aristarkhus (teman seperjalanan Paulus dari Makedonia) di gedung kesenian.
Terjadilah kekacauan di gedung kesenian, akan tetapi Paulus dicegah oleh
sahabat-sahabatnya untuk datang ke sana. Kekacauan itu berhasil diredakan oleh
panitera kota, kemudian Paulus pergi meninggalkan Efesus untuk mengunjungi
Makedonia. Dari Makedonia, Paulus pergi ke Ilirikum kemudian ke Korintus. Dari
Korintus dia bermaksud naik kapal menuju Siria tetapi mendapat ancaman dari
orang-orang Yahudi. Oleh karena itu Paulus memilih jalan darat ke Filipi dan di
sana ia merayakan hari raya Roti tak Beragi. Paulus mengunjungi Troas, sempat
membangkitkan Eutikhus dari mati, lalu berlayar ke Asos dan sampai ke Miletus
(melalui Metilene, Khios dan Samos).
Di Miletus, Paulus memanggil para
penatua jemaat Efesus untuk datang ke Miletus. Paulus mengucapkan pidato
perpisahan yang mengharukan. Setelah perpisahan itu, Paulus berlayar ke Kos,
Patara, dan akhirnya sampai di Tirus. Paulus memanfaatkan kesempatan tujuh hari
di Tirus untuk bertemu dengan jemaat di sana. Tahu bahwa Paulus akan pergi ke
Yerusalem, murid-muridnya di Tirus mencoba mencegahnya. Namun, Paulus berkeras
hati untuk pergi ke Yerusalem. Paulus kemudian berlayar sampai ke Ptolemais dan
melanjutkan perjalanan darat menuju Kaisarea, dan dari Kaisarea ke Yerusalem.
5. Dari
Yerusalem ke Roma : Kis 21:15-28:31 (tahun 60)
Antipatris - Kaisarea - Sidon - Mira
- Kreta - Malta - Sirakusa - Regium - Putioli - Roma
Sesampainya di Yerusalem Paulus harus
menghadapi lagi permasalahan yang selalu berulang yaitu soal pewartaan yang di
lakukan di bangsa-bangsa non Yahudi dan kecenderungannya untuk melepaskan
Taurat demi iman akan Yesus Kristus. Kali ini Paulus harus berhadapan dengan
Yakobus dan para penatua jemaat di Yerusalem yang “pro Taurat”. Pada kesempatan
tersebut Paulus menceritakan segala hal yang dilakukan Allah melalui
pelayanannya di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi. Dia juga menyerahkan
sumbangan yang dikumpulkannya dari jemaat Makedonia dan Akhaya. Dengan
sumbangan itu Paulus mau menunjukkan solidaritas dan kesatuan Gereja di
diaspora dengan Gereja induk di Yerusalem.
Di dalam pertemuan dengan Yakobus dan
para penatua muncullah suatu persoalan. Paulus dianggap telah menganjurkan
jemaat-jemaat Yahudi-Kristen di diaspora untuk melepaskan hukum Musa. Anggapan
itu sudah tersebar di kalangan jemaat Kristen-Yahudi dan sempat menimbulkan
sandungan. Untuk menyingkirkan tuduhan tersebut, mereka meminta Paulus untuk
membuktikan bahwa tuduhan itu tidak benar. Bagaimana caranya? Mereka meminta
Paulus melakukan upacara pentahiran
menurut hukum Taurat di Bait Allah, dengan alasan bahwa dia baru saja
kembali dari wilayah bangsa-bangsa lain dalam keadaan najis. Selain itu Paulus
harus menanggung biaya pentahiran untuk empat orang miskin yang sudah bernazar
tetapi tidak mampu membiayai nazarnya. Paulus tidak mempunyai pilihan lain
kecuali menyetujui permintaan mereka. Akan terbukti kemudian bahwa kesediaan
Paulus untuk menyetujui usulan mereka berbuntut panjang.
Ketika Paulus melakukan pentahiran
dan pelepasan nazar di Bait Allah (Kis 21:23; bdk. 1Kor 16:3; 2Kor 9; Rm
15:25), orang-orang Yahudi dari Asia Kecil menghasut rakyat melawan Paulus.
Mereka menangkap dan memukuli Paulus. Kegemparan yang terjadi pada waktu itu
membuat Lisias (kepala pasukan Roma yang bermarkas di benteng Antonia) turun
tangan. Paulus diamankannya dan dibawanya ke markas. Ketika akan didera, Paulus
mengatakan bahwa dia adalah warga negara Roma. Pengakuan Paulus itu
menyelamatkan dia dari deraan, namun tidak membuatnya bebas dari penjara.
Lisias mengumpulkan Mahkamah Agama untuk menjelaskan tuduhan mereka terhadap
Paulus. Rupanya Paulus berhasil meciptakan perselisihan di antara kelompok
Saduki dan Farisi dengan kepercayaannya akan kebangkitan orang mati. Melihat
bahwa perselisihan tersebut dapat membahayakan keselamatan Paulus, sekali lagi
Lisias menyelamatkan dia dan membawanya kembali ke markas. Namun, orang-orang
Yahudi tetap berniat bahkan sampai bersumpah untuk membunuh Paulus. Tekad itu
diketahui oleh kemenakan Paulus yang kemudian melaporkannya kepada Lisias.
Untuk menyelamatkan dia, Lisias mengirim Paulus ke Kaisarea dengan pengawalan
ketat. Perjalanan ke Kaisarea dilakukan dengan diam-diam pada malam hari, agar
tidak diketahui oleh orang-orang Yahudi yang telah sepakat bulat untuk membunuh
Paulus.
Di Kaisarea Paulus diperiksa oleh
Feliks yang pada waktu itu menjabat wali negeri di Yudea. Feliks tidak mendapatkan
kesalahan apapun dari Paulus menurut hukum Roma. Kedatangan orang-orang Yahudi
ke Kaisarea untuk menuntut hukuman bagi Paulus tidak dapat meyakinkan Feliks.
Alasan yang mereka ajukan sifatnya hanya intern di kalangan penganut agama
Yahudi. Dari kaca mata hukum Roma, tidak ada alasan untuk menghukum Paulus.
Tidak lama setelah itu Feliks harus meninggalkan Palestina karena pindah tugas.
Perkara Paulus diserahkan kepada wali negeri Festus yang menggantikannya.
Sekali lagi di dalam pengadilan yang dipimpin oleh Festus, Paulus mendapat
tuduhan bermacam-macam dari orang-orang Yahudi yang didatangkan dari Yerusalem
ke Kaisarea. Di dalam sidang pengadilan itu, Paulus sebagai warga negara Roma
memakai haknya untuk naik banding kepada kaisar. Itu berarti Festus harus
mengirim Paulus ke Roma sebagai tawanan yang mau naik banding kepada pengadilan
kaisar. Sebelum diberangkatkan ke Roma, Paulus masih sempat dihadapkan pada
Herodes Agripa II dan Bernike yang pada
saat itu sedang mengunjungi Festus di Kaisarea. Paulus sempat dua tahun ditahan
di penjara Kaisarea (58-60 M).
Akhirnya Paulus dengan pengawalan
ketat menempuh perjalanan ke Roma sebagai tawanan yang diperlakukan dengan baik
(sekitar tahun 60 M). Perjalanan kapal dari Kaisarea harus melewati Mira, pulau
Kreta dan pulau Malta (sebelah Selatan Italia). Di tengah perjalanan terjadi
angin sakal dan angin badai. Setelah melewati perjalanan yang sulit, mereka
terdampar di Malta (Kis 28:1-10). Penduduk Malta sangat ramah menyambut mereka.
Kira-kira tiga bulan Paulus berada di Malta, berada bersama-sama dengan anggota
jemaat Kristen. Akhirnya dia dan rombongan pasukan yang membawanya berangkat
lagi menuju Roma. Setelah melewati Sirakusa (pulau Sisilia), Regium, Putioli,
Tres Taberne, sampailah Paulus dan rombongannya di Roma (Kis 28:11-15). Kita
boleh menduga bahwa Paulus memanfaatkan kepergiannya ke Roma ini sebagai
kesempatan untuk mewartakan Injil, seperti yang telah lama dia idam-idamkan.
Dua tahun lamanya Paulus menjadi
tahanan rumah di Roma. Dengan kebebasan terbatas, Paulus masih dapat melayani
jemaat di Roma. Kisah Para Rasul selesai dengan kisah penahanan Paulus di Roma.
Tidak ada penjelasan mengenai tahun-tahun terakhir hidupnya. Sesudah dua tahun
menjadi tahanan rumah, ada kemungkinan Paulus dilepaskan. Apakah dia sempat
pergi ke Spanyol? (bdk Rm 15:24; surat pertama Klemens dari Roma dan kanon
Muratori). Tidak ada kepastian. Sejauh dapat diduga dari surat pastoralnya
kepada Titus dan Timotius, Paulus mempunyai kesempatan untuk melakukan karya
misi lagi setelah pemenjaraan di Roma (1Tim 1:3; 1Tim 4:13.20; Tit 1:5; 3:12).
Ada kemungkinan setelah itu Paulus masih ditahan lagi (2Tim 4:16-18). Menurut
tradisi, Paulus dihukum mati dengan penggal kepala pada masa pemerintahan
kaisar Nero, kira-kira tahun 62 M. Pada tahun-tahun terakhirnya di Roma Paulus
dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya yang setia: Lukas, Timotius, Yohanes
Markus, Demas. Ketika dia ditangkap lagi, menjelang ajalnya, rupanya hanya
Lukas sendiri yang ada bersamanya. Dalam 2Tim 4:6-11, Paulus menuliskan
kerinduannya pada waktu itu kepada Timotius dan Yohanes Markus.
Cukup menarik jika kita simak
bagaimana Paulus sudah membayangkan saat-saat akhir hidupnya yang dimulai
dengan penangkapan terhadap dirinya di Yerusalem. Itu dikatakannya di Miletus
pada saat perpisahannya dengan para penatua jemaat Efesus (Kis 20:18-25):
18 “Kamu tahu, bagaimana aku hidup di
antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: 19 dengan segala rendah
hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata
dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku.
20 Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu.
Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam
perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; 21 aku senantiasa bersaksi kepada
orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah
dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus.
22 Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak
tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ 23 selain dari pada yang
dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara
menunggu aku. 24 Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja
aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh
Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.
25 Dan sekarang aku tahu, bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu
sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah.
Sebenarnya, berapa kalikah Paulus
mengunjungi Yerusalem? Ternyata informasi yang ada pada Kisah Para Rasul masih
harus disesuaikan dengan informasi dari surat-suratnya. Lukas, sebagai penulis
Kisah Para Rasul, memandang Yerusalem sebagai kota yang berperan penting bagi
perkembangan Gereja. Kisah Para Rasul menyebutkan lima kali kunjungan Paulus ke
Yerusalem, sedangkan surat-surat Paulus hanya menyebut tiga kali kunjungan.
Pada ahli mencoba membuat kesesuaian antara kedua sumber tersebut. Di duga
bahwa Paulus memang melakukan lima kali kunjungan ke Yerusalem. Hanya kunjungan
ketiga dan keempat dirasa tidak perlu disebutkan di dalam surat-suratnya.
Lima kali kunjungan Paulus ke
Yerusalem adalah:
(1) Kunjungan
setelah pertobatan (Kis 9:26-30)
(2) Kunjungan
pada saat terjadi kelaparan di Yerusalem (Kis 11:27-30)
(3) Hadir
pada saat konsili di Yerusalem (Kis 15:1-30)
(4) Kunjungan
singkat (Kis 18:22)
(5) Kunjungan
terakhir, dengan membawa kolekte untuk jemaat Yerusalem (Kis 21:15-17)
Menurut surat-suratnya, Paulus hanya
menyebut adanya tiga kali kunjungan ke Yerusalem:
- Kunjungan
yang dilakukan tiga tahun setelah pertobatannya (Gal 1:18-20)
- Kunjungan
pada saat konsili Yerusalem, empat belas tahun setelah pertobatan (Gal 2:1-10)
- Kunjungan
dengan membawa kolekte (Rm 15:25-33; 1Kor 16:1-4; 2Kor 1:16)
6. Kronologi
Paulus
Ternyata
tidak mudah menentukan kronologi hidup Paulus sejak pertobatannya sampai dengan
saat dipenjara di Roma. Hampir tidak ada kesepakatan bulat di antara para ahli.
Kesulitan tersebut disebabkan oleh informasi dari Kisah para Rasul yang tidak
menyebut tahun absolutnya. Oleh karena itu, kita perlu membuat kronologi
relatif berdasarkan urutan peristiwa dan kegiatan yang dilakukannya, sejak
pertobatan sampai pada perjalanannya ke Roma. Untuk menentukan tahunnya, kita
dibantu oleh kronologi absolut yang merupakan kronologi eksternal (extra
biblis).
Kronologi relatif (kronologi
internal) yang dapat kita kumpulkan dari Kisah Para Rasul adalah:
Satu
tahun di Antiokhia (Kis 11:26)
Beberapa
waktu lamanya di Ikonium (Kis 14:3)
Tidak
sebentar tinggal di Antiokhia (Kis 14:28)
Delapan
belas bulan di Korintus (Kis 18:11)
3 bulan +2 tahun+beberapa lama di
Efesus (Kis 19:8.10.22)
Tiga bulan di Yunani (Kis 20:3)
Dua tahun di Kaisarea (Kis 24:27)
Dua tahun di Roma (Kis 28:30)
Kronologi absolut (kronologi
eksternal) yang dianggap membantu:
Kelaparan pada zaman Klaudius (Kis
11:27-30), terjadi antara tahun 41-54.
Kematian Herodes Agripa (Kis
12:20-23), terjadi pada tahun 44 (menurut informasi Josephus)
Klaudius dan orang-orang Yahudi
(pengusiran orang Yahudi; bdk. Kis 18:2), diperkirakan tahun 49
Inskripsi Galio (prokonsul di Akhaya;
bdk. Kis 18:12), sekitar tahun 51/52.
Ananias sebagai Imam Agung (Kis
23:2), dipilih tahun 47 dan pada tahun 52 berperkara di Roma.
Felix dan Festus (Kis 25:1.6.13.23).
Felix berada di Kaisarea sebagai prokonsul antara 58-60, digantikan oleh
Festus.
Jika kita mencoba menggabungkan
informasi dari kronologi relatif dan absolut (internal dan eksternal), dapat dibuat
kronologi sebagai berikut:
34 Pertobatan
Paulus, kepergiannya ke Arabia dan Damaskus (3 tahun)
37 Kunjungan
ke Yerusalem: ke Siria dan Kilikia. Dengan memperhitungkan karya misinya ke
Galatia dan perjalanan misi pertama, ada rentang waktu 13 tahun.
48 Kunjungan
kedua ke Yerusalem, konsili di Yerusalem, krisis Antiokhia.
48-50 Perjalanan
misi yang kedua, kunjungan pertama ke Makedonia.
50-51 Berada
di Korintus sekitar 18 bulan, bertemu dengan Gallio, berkarya di Efesus selama
2 tahun.
56-57 Kunjungan
terakhir ke Makedonia, pergi ke Yerusalem dengan membawa kolekte.
57-59 Kunjungan
terakhir ke Yerusalem, ditangkap dan dipenjara selama 2 tahun di Kaisarea.
59-60 Pengadilan
di hadapan Festus, perjalanan naik banding ke Roma.
60-62 Dua
tahun dipenjara di Roma
7. Paulus dan dunia Yahudi
Paulus
dengan terus terang menjelaskan asal-usulnya sebagai keturunan Yahudi:
15 Menurut kelahiran kami adalah
orang Yahudi dan bukan orang berdosa dari bangsa-bangsa lain... (Gal 2:15).
Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika
ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih
lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin,
orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,
tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum
Taurat aku tidak bercacat (Fil 3:4-5; bdk. Gal 1:13-14; Rm 11:1; 2Kor 11:22).
Paulus
adalah seorang Yahudi diaspora, masuk golongan Farisi. Sebelum dan sesudah
pertobatannya, sebenarnya Paulus tetap menyimpan di dalam hatinya kekayaan iman
Yahudi. Dia tetaplah kuat berakar di tengah lingkungan Yahudi dan budaya
Yahudi. Kendati demikian perlu disadari bahwa Yudaisme pada abad pertama masehi
sudah mengalami pluralisme. Banyak kelompok dan sekte berada bersama-sama,
semuanya hanya disatukan oleh Taurat dan Allah perjanjian. Umat Yahudi di
diaspora bagian Timur memakai bahasa Aram sebagai bahasa sehari-hari, sedangkan
umat Yahudi di diaspora bagian Barat memakai bahasa Yunani Koiné
(seperti bahasa Yunani PB). Palestina sendiri berada di tengah dua arus
diaspora tersebut. Meskipun bahasa Aram dan Ibrani dipakai, namun budaya dan
bahasa Yunani sudah membawa pengaruh yang nyata. Paulus sendiri bisa berbicara
Ibrani (mungkin bahasa Aram) seperti dikatakan dalam Kis 21:40.
Sebagai
orang Farisi, tentu saja Paulus mengalami cara hidup Yahudi yang ketat dalam
bidang agama. Setelah pertobatan, Paulus terkesan anti legalis seperti dapat
dilihat dalam kontoversinya melawan kaum Yudais (Yahudi-Kristen). Meskipun
begitu, dia sendiri disunat dan menyuruh Timotius yang keturunan Yahudi untuk
disunat (Kis 16:3). Terhadap jemaat Kristen non Yahudi, Paulus samasekali tidak
menganjurkan kewajiban sunat. Di dalam dirinya sendiri, Paulus belum terlalu
jauh dari tradisi Yahudi. Bedanya, setelah mengenal Kristus ia memahami tradisi
agamanya secara baru. Jika dia menyebut tentang Kitab Suci, yang dimaksudkannya
adalah Perjanjian Lama (dalam bahasa Yunani atau Septuaginta). Baginya
kedatangan Kristus adalah untuk memenuhi janji dan ia memakai sejarah
keselamatan Israel sebagai dasar dari pewartaan Injilnya. Jemaat Kristiani
(Gereja) adalah kelanjutan dari sejarah penyelamatan sampai pada kepenuhan
datangnya Kerajaan Allah.
Pengaruh
Yahudinya kelihatan pada kutipan-kutipan yang diambilnya dari Perjanjian lama,
bagaimana ia menggunakan kutipan itu dan caranya menafsirkan. Setelah
pertobatannya, Paulus mempelajari Perjanjian Lama dalam terang imannya akan
Kristus. Musa menjadi figur dari Kristus. Tiang awan dan penyeberangan Laut
Merah adalah simbol dari baptisan. Roti mana dan air yang memancar dari batu
karang adalah simbol dari Ekaristi (1Kor 10:1-4). Nubuat Yeremia (Yer 31:31-34)
dan Yehezkiel (Yeh 36:26) mengenai perjanjian yang baru mengacu pada
pembaharuan perjanjian yang diperbarui di dalam Yesus Kristus. Kutipan-kutipan
Kitab Suci dipakai oleh Paulus sebagai dasar untuk menjelaskan kebaruan yang
dibawa oleh Yesus. Cara penafsiran Paulus dekat dengan cara penafsiran rabinis,
seperti kelihatan pada Targum, Talmud dan Midrash. Ekesegese Paulus pada
prinsipnya adalah eksegese Kristologis, artinya mengarahkan segala
penafsirannya pada misteri Kristus. Sebagai sarananya, Paulus memakai
pendekatan tipologi dan alegori.
Debat
Paulus melawan musuh-musuhnya bagaikan makanan sehari-hari. Lawan Paulus yang
utama adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Yahudi-Kristen. Orang-orang
Yahudi yang beragama Yahudi jelas menolak Mesianisme Kristus, sehingga iman
orang Kristen sudah dari pangkalnya dianggap melanggar kepercayaan Yahudi.
Kelompok Yahudi-Kristen mengritik kebijakan Gereja untuk meninggalkan Taurat
dan tradisi nenek-moyang. Pada waktu itu, kelompok Yahudi-Kristen hidup bersama
dengan kelompok Kristen non-Yahudi. Oleh karena itu perbedaan sikap terhadap
Taurat dan tradisi di antara mereka menjadi persoalan yang rawan. Gereja
Kristen abad pertama ternyata masih rapuh dalam hal kesatuan. Meskipun begitu,
dengan hancurnya Yerusalem dan semakin banyaknya anggota Gereja dari kelompok bangsa-bangsa
non Yahudi persoalan semakin mereda. Gereja semakin mandiri dan mampu
melepaskan diri dari bayang-bayang Taurat serta tradisi nenek-moyang. Paulus
menjadikan penghayatan iman yang murni dan konsekuen akan Kristus sebagai
perjuangan utamanya. Tidak heran bahwa Paulus pada zamannya harus mengalami
banyak penderitaan, terutama diakibatkan kontroversinya terus-menerus melawan
orang-orang Yahudi yang beragama Yahudi. Jika Paulus menyinggung penderitaannya
karena disesah dan dipukuli (2Kor 11:24) serta dilempari batu (2Kor 11:25-26),
itu adalah ulah kaum Yahudi yang begitu benci padanya.
Apakah
Paulus juga mendapat pengaruh dari tulisan-tulisan Qumran? Sejak penemuan
naskah-naskah Qumran (naskah Laut Mati) mulai ada penelitian sejauh mana Paulus
dipengaruhi oleh gerakan rohani yang dirintis oleh jemaat di Qumran. Surat 2Kor
6:14-7:1 (paham tentang anak terang dan anak gelap) menunjukkan gejala ini.
Pendapat ini diikuti antara lain oleh E. Schweizer, H. Braun, J.A. Fitzmyer, J.
Gnilka, D. Georgi, B. Gärtner. Demikian pula surat Kol 2:16-17 kemungkinannya
dipengaruhi oleh tradisi Qumran. Apakah pandangan tentang daging/roh,
pembenaran/rahmat juga dipengaruhi oleh Qumran? Kaitan pandangan Paulus dengan
tradisi Qumran masih terbuka pada penelitian lebih jauh.
Sejumlah
pandangan Paulus memang menunjukkan diskontinuitas terhadap pandangan Yahudi,
misalnya tentang: paham pembenaran, universalisme keselamatan, kedudukan bangsa
Yahudi sebagai bangsa terpilih, karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus,
penebusan, peranan Taurat, kemerdekaan Kristen dan masih banyak hal lain lagi.
Diskontinuitas yang terjadi antara tradisi agama Yahudi dan Injil Paulus memang
menyangkut dasar-dasar pokok dari kehidupan beriman. Paulus memang semakin
menjauh dari paham Yahudi tradisional tetapi dasar-dasar pemikirannya serta
refleksinya tetap berangkat dari tradisi Yahudi.
8. Paulus
dan dunia Yunani
Suatu
tantangan yang tidak mudah bagi Paulus untuk mewartakan Injil kepada masyarakat
yang berbudaya helenis. Helenisme dengan paham filsafat dan religinya harus
ditaklukkan oleh Paulus yang mewartakan salib, sebagai kekuatan Allah yang
dianggap kebodohan di mata manusia, apalagi di mata orang Yunani yang suka
mengandalkan hikmat (1Kor 1:18-25). Adalah luar biasa bahwa Paulus ternyata berhasil
menarik perhatian umat helenis dengan teologi salibnya. Konsepnya mengenai
Allah begitu tampak luas dan mendalam dari segi rohani. Allah yang
menyelenggarakan hidup umat-Nya adalah Allah dari Tuhan kita Yesus Kristus (Ef
1:3) dan Roh yang datang dari Allah melalui Putera-Nya tinggal di dalam umat
Kristiani (1Kor 6:19; 12:13). Pengaruh
helenisme pada pewartaan Paulus menjadi perbincangan cukup lama di kalangan
para ahli, kendati surat-suratnya tidak memberikan bukti yang amat jelas. F.C.
Baur, diikuti oleh C.F. Heinrici dan sejumlah ahli lainnya mengamati pengaruh
helenisme itu pada etika Paulus. Sebagai contoh, Paulus membuat antitesis
antara daging dan roh yang dekat dengan ide Platonis. Paulus menggunakan Septuaginta
untuk membuat kutipan Perjanjian Lama (menurut pengamatan H. Vollmer dan C.
Grafe). Sebagai seorang Yahudi helenis yang berasal dari diaspora, pengaruh
helenisme dalam gaya dan pola pikirnya bukanlah hal yang mustahil. P. Wendland
dan R. Bultmann meneliti surat-surat Paulus dari segi retotikanya. Rupanya
Paulus senang dengan gaya satire dan cara pikir aliran Stoa. Kebanyakan
ahli tafsir semakin yakin dengan pengaruh helenisme pada pewartaan Paulus,
antara lain pada:
- Kutipan
dari sebuah puisi Yunani (1 Kor 15:33: Pergaulan yang buruk merusakkan
kebiasaan yang baik).
- Penggunaan
sejumlah metafora:
* 24
Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut
berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu
larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! 25 Tiap-tiap orang yang turut
mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka
berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk
memperoleh suatu mahkota yang abadi. (1Kor 9:24-27)
* 12
Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala
anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula
Kristus...... (1Kor 12:12 dst)
- Penggunaan
antitesis dan diatribe (retorika dengan kata-kata tajam): Rom 21:1-120;
3:1-10; 9:19-20.
- Kata-kata tehnis khas helenis (Stoa): kesadaran
(bdk. 1Kor 10:25-29); kemerdekaan (Gal 4:22); kebajikan (Fil
4:8); akal-budi (1Kor 14:14-15).
Sejumlah
contoh kecil di atas menunjukan bagaimana Paulus mampu mewartakan pesan kristiani
dengan bahasa universal yang dapat ditangkap oleh dunia non-Yahudi.
Paulus
juga harus menghadapi juga dunia religi Yunani yang percaya pada dewa-dewi.
Para dewa-dewi tersebut memang berperan penting dalam agama-agama misteri.
Paulus dengan tegas menyebut mereka sebagai musuh-musuh Kristus (1Kor 15:22-25;
8:5-6; 10:20-22). Beberapa kekhasan dari agama-agama misteri adalah:
keselamatan diperoleh dengan persembahan atau sesaji, memerlukan ritus
inisiasi, gelar kyrios diberikan kepada dewa penyelamat. Berhadapan
dengan agama-agama misteri tersebut, Paulus mewartakan bahwa Kristianisme
adalah satu-satunya agama yang membawa kebenaran, gelar kyrios / Tuhan
diberikan kepada Yesus (dengan latar belakang PL), Kristianisme menolak adanya
dewa-dewa lain. Paulus menggunakan ide-ide helenis di dalam mewartakan Injil
dengan tetap memakai dasar iman yang merupakan kelanjutan dari Yudaisme. Di
dalam Paulus kita temukan pertemuan dua budaya, dan Paulus berhasil
memanfaatkan kedua-duanya untuk kepentingan Injilnya.
II. PENGANTAR UMUM SURAT-SURAT PAULUS
1. Antara surat dan epistel
Deissmann
pada tahun 1923 membuat pembedaan antara surat dan epistel. Surat-surat Paulus
pada umumnya adalah sebuah epistel. Apakah bedanya?
- Surat: Adalah sebuah karya
berbentuk tulisan yang sifatnya lebih
pribadi dan konfidensial, di mana seseorang mengirimkannya kepada orang lain
untuk menyampaikan kabar atau memberi ifnormasi. Dapat juga surat ditujukan
untuk lebih dari seorang. tetapi tujuan utamanya tetaplah mengkomunikasikan hal-hal
yang bersifat pribadi, di dalam lingkup yang tertentu. Gaya surat biasanya
lebih spontan, akrab, serupa dialog (monolog), bukan suatu karya sastra dalam
arti khusus. Tujuan surat dapat bermacam-macam: membawa berita, mengisahkan
sesuatu, mengungkapkan pengalaman, menasihati. Surat mempunyai ciri natural,
situasional, berkaitan dengan persoalan sehari-hari.
- Epistel:
Berasal dari bahasa Yunani epistolē, yang aslinya menunjuk pada komunikasi
lisan dari seorang utusan. Adalah suatu surat yang membawa berita (nasihat,
peringatan, pengajaran), yang tidak ditujukan kepada orang atau kelompok
khusus, tetapi sebisa mungkin menjangkau banyak orang. Epistel berisi pokok
bahasan tertentu, ditulis dengan cara lebih tehnis dan sistematis, memakai seni
bicara tertentu.
Paulus
banyak memakai bentuk epistel, sesuai denga kebutuhannya. Biasanya epistel
Paulus berupa tanggapan terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi jemaat dalam
kerangka kehidupan iman: persoalan sehari-hari, persoalan ajaran, pewartaan
kabar keselamatan, nasehat yang bersiat etis dan spiritual. Surat dan epistel
dari Paulus menunjukkan perhatiannya kepada jemaat demi perkembangan iman.
Tidak mudah membedakan mana yang surat, mana yang epistel di dalam karya-karya
Paulus. Kita hanya dapat membuat gambaran yang sifatnya masih umum sekali:
- Surat
kepada Filemon merupakan surat dalam arti sebenarnya, ditujukan pada orang
tertentu dan sifatnya lebih pribadi.
- 1-2Timotius
dan Titus juga berupa surat yang dialamatkan kepada kelompok tertentu, yaitu
para gembala Gereja. Meskipun dikirim kepada Timotius, namun dimaksudkan
sebagai pegangan para gembala Gereja pada umumnya.
- 1-2Tes
berupa instruksi dan seruan/himbauan kepada jemaat, mengenai persoalan di dalam
jemaat.
- 1-2Kor
sifatnya lebih resmi daripada jenis surat di atas, berupa ajaran Paulus
menanggapi persoalan jemaat.
- Fil
dan Tes merupakan bentuk epistel yang berisi hal-hal yang bersifat teologis.
- Galatia
penuh spontanitas dan polemiknya menjangkau masyarakat yang lebih luas.
- Efesus
mempunyai karakter sebuah surat, merskipun temanya bersifat teologis.
- Roma
lebih dekat dengan gaya epistel, tidak menunjuk kelompok khusus dan tidak
berangkat dari situasi tertentu. Isinya lebih bersifat spekulatif, berupa
pengajaran doktrinal tentang keselamatan Allah.
- Kolose
adalah sebuah karya liturgis dan teologis.
- Ibrani
adalah sebuah epistel, namun ada kesan serupa homili atau kotbah.
2. Masalah
keaslian Surat-surat Paulus
Koleksi
surat-surat Paulus yang sering disebut Corpus Paulinum rupanya sudah
terjadi pada abad (kemungkinan sebelum tahun 95 M). Surat 2Ptr 3:15-16 sudah
menyinggung adanya surat-surat Paulus. Dapat diandaikan bahwa pengarang surat
Petrus dan jemaat-jemaat yang dituju telah mempunyai kumpulan surat Paulus :
15 Anggaplah kesabaran Tuhan kita
sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus,
saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang
dikaruniakan kepadanya. 16 Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya,
apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada
hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan
yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri,
sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.
Klemens
dari Roma (95 M) mengutip beberapa bagian dari surat Paulus, demikian juga
Polikarpus (100/150 M). Diandaikan bahwa mereka mempunyainya atau paling tidak
telah membaca surat-surat Paulus. Meskipun jemaat-jemaat yang dituju oleh surat
Paulus pasti menyimpannya, tetapi tidak jelas di mana persisnya surat-surat
Paulus dikumpulkan. Ada yang menduga pengumpulan surat-surat tersebut dilakukan
di Efesus, ada yang memperkirakannya di Korintus. Pada awalnya, Corpus
Paulinum tidak diurutkan seperti urutan dalam PB sekarang (144 M).
Urutannya: Gal, 1-2Kor, Rm, 1-2Tes, Ef, Kol, Flp, Flm. Sekitar tahun 180 M,
kanon Muratori membuat urutan surat-surat Paulus menurut perkiraan tahun
penulisannya. Surat Ibrani tidak termasuk di dalamnya. Barulah kodeks Vaticanus
dan Sinaiticus memuat surat Ibrani ke dalam kumpulan surat Paulus. Urutan yang
biasa diikuti adalah:
* Surat-surat pertama: 1 dan 2
Tesalonika
* Surat-surat
besar: Roma, 1 dan 2 Korintus, Galatia.
* Surat-surat
dari penjara: Efesus, Filipi, Kolose, Filemon.
* Surat-surat
pastoral: 1 dan 2 Timotius, Titus
* Surat
Ibrani
Pada
abad kedua dan ketiga sebenarnya sudah
muncul pertanyaan apakah seluruh Corpus Paulinum adalah asli tulisan
Paulus. Yang paling awal diragukan adalah surat Ibrani. Para Bapa Gereja Timur
pada umumnya menganggapnya sebagai tulisan Paulus, sedangkan para Bapa Gereja
Barat meragukannya. Pada zaman kini para ahli sepakat bahwa surat Ibrani tidak
ditulis oleh Paulus. Siapakah pengarangnya? Beberapa nama diusulkan, antara
lain Lukas, Barnabas, Klemens dari Roma, atau Apolos, namun tidak pernah ada
kesepakatan. Tiga belas surat lainnya
sampai abad ke 19 selalu dikatakan sebagai surat-surat Paulus. Akhirnya F.C.
Baur dari Tübingen membuka wacana yang intinya meragukan keaslian dari beberapa
surat Paulus. Baginya, yang asli hanyalah Galatia, Roma, 1 dan 2 Korintus.
Sejak itu semakin banyak para ahli yang mendiskusikannya. Pendapat pada ahli di
zaman sekarang pada umumnya demikian:
- Tulisan asli Paulus adalah surat: Roma, 1
dan 2 Kor, Galatia, Filipi, 1Tesalonika, Filemon.
Selebihnya, sering disebut
surat-surat Deutero Paulinis:
- 2
Tesalonika dan Kolose : masih didiskusikan siapakah pengarangnya.
- Efesus
: juga masih amat didiskusikan siapakah pengarangnya.
- 1Timotius, 2 Timotius dan Titus :
biasanya diyakini sebagai tulisan dari murid Paulus.
Surat
2Tes diragukan sebagai tulisan Paulus karena beberapa alasan: ada
ketergantungan leterer pada 1Tes, perbedaan teologi dan pandangan tentang
datangnya parousia, beberapa masalah kecil lainnya. Surat kepada jemaat di
Kolose diragukan karena ada perbedaan gaya bahasa, style dan Kristologi jika
dibandingkan dengan surat-surat otentik dari Paulus. Gaya bahasa Kolose terlalu
resmi dan terkesan menahan diri. Surat kepada jemaat di Efesus diragukan
sebagai tulisan Paulus karena: kedekatan hubungannya dengan Kolose, ada
perbedaan cukup jelas dengan surat-surat otentik Paulus dari segi gaya bahasa
dan teologinya mengenai Gereja sebagai Tubuh Kristus, dan Kristus sebagai
kepala-Nya). Efesus tidak memberi kesan samasekali bahwa Paulus pernah tinggal
di sana. Padahal, kesaksian Kisah Para Rasul mengatakan bahwa Paulus pernah
berada di Efesus lebih dari dua tahun. Diskusi mengenai otentisitas surat
Efesus ini cukup hangat. Surat-surat pastoral juga diragukan sebagai tulisan
Paulus dengan alasan bahwa isinya lebih cocok dengan situasi setelah periode
para rasul, misalnya: struktur komunitas Gerejani (adanya penilik, penatua,
diakon), macam-macam bidaah yang disinggung (tidak sesuai dengan masalah yang
dihadapi jemaat Paulus pada umumnya), dan ungkapan-ungkapan bahasa serta
teologi yang dipakai cukup berbeda dengan surat-suratnya yang otentik.
Meskipun
ada surat-surat yang disebut deutero-paulinis, tidak perlu kita membuang
mereka dari Corpus Paulinum karena para penulisnya masih berada pada
arus tradisi Paulus. Jika mereka menuliskan nama Paulus sebagai penulisnya
pasti bukan untuk maksud jahat (pemalsuan), tetapi lebih dimaksudkan untuk
menegaskan sejumlah pokok pemikiran yang sudah diajarkan oleh Paulus.
Kapan surat-surat asli dari Paulus
ditulis?
- Surat
1Tesalonika ditulis sekitar tahun 50/51 : Para ahli setuju bahwa 1Tes
adalah surat Paulus yang tertua. Rupanya surat ini ditulis tidak lama setelah
jemaat Tesalonika didirikan oleh Paulus (sekitar tahun 49), yang menurut Kis
17:1-9 terjadi pada periode perjalanan misinya yang kedua. Pada waktu itu
Paulus datang ke Tesalonika dari Filipi (1Tes 2:2). Surat pertama Tesalonika
dibawa oleh Silvanus dan Timotius (1Tes 1:1; bdk. Kis 18:5), kemungkinannya
dikirim dari Korintus.
- Surat
Galatia ditulis sekitar tahun 52–54/55: Perkiraan tahun penulisannya tidak
sepenuhnya pasti, karena Kisah Para Rasul tidak menyinggung soal pendirian
Gereja-gereja di Galatia oleh Paulus. Ada kemungkinan Paulus mendirikan
Gereja-gereja di Galatia dalam perjalanan misinya yang kedua (Kis 16:6-8), kemudian ia masih mengunjunginya lagi dalam
perjalanan misinya yang ketiga (Kis 18:23). Namun begitu tidak ada kepastian
apakah kunjungannya kembali ke Galatia terjadi sebelum atau sesudah krisis
Galatia (yang tidak dicatat dalam Kis). Yang jelas, surat Galatia ditulis
sebagai tanggapan atas berkembangnya arus anti-Paulus di dalam Gereja-gereja
Galatia. Barangkali surat Galatia ditulis pada waktu Paulus tinggal di Efesus
(Kis 20:31).
- Surat
1Korintus ditulis sekitar tahun 54/55: Ada kemungkinan penulisannya hampir
bersamaan dengan surat Galatia, karena 1Kor 16:1 mengacu pada jemaat Galatia.
Surat-surat Paulus kepada jemaat di Korintus ada lebih dari dua, paling tidak
ada empat surat. Jika jemaat Korintus didirikan pada perjalanan misinya yang
kedua (Kis 18:1-8), sekitar tahun 50/51, ada kemungkinannya penulisannya
terjadi antara periode keberangkatan Paulus dari Korintus dan kunjungannya yang
terakhir ke kota itu. Ada kemungkinan surat 1Kor ditulis di Efesus (1Kor 16:8)
menjelang akhir tinggalnya Paulus di Efesus.
- Surat
2Korintus ditulis sekitar tahun 55-56: Penulisannya dibuat setelah 1Kor,
sebelum kunjungan Paulus yang ketiga dan yang terakhir ke Korintus. Ada
kemungkinannya ditulis di Efesus atau di sebuah tempat di Asia Kecil dan
Makedonia, sekitar tahun 55-56..
- Surat
Filipi dikirim sesudah pendirian jemaat di Filipi (Kis 16:12-40), setelah orang
Yahudi-Kristen muncul dan menghambat karya Paulus (Fil 3:2.17-19) dan pada
waktu Paulus sedang dipenjara (di Efesus?).
- Surat
Filemon adalah juga surat penjara (Flm 9). Tidak dapat ditentukan apakah
Filemon ditulis pada waktu dan tempat yang sama dengan Filipi.
- Surat
kepada jemaat di Roma ditulis sekitar tahun 56, dan dikirim menjelang
keberangkatan Paulus ke Palestina.
3. Bentuk-bentuk
literer surat-surat Paulus (Corpus Paulinum)
a. Otobiografi:
Paulus kadang-kadang mengisahkan pengalaman-pengalaman dan situasinya. Misalnya
Paulus mengisahkan perjalanannya dan karya kerasulannya (2Kor 1:8-10; 7:5;
12:1-10; Flp 1:12-14; 1Tes 2:1-12). Kisah-kisah yang diceritakan sering dipakai
dalam rangka apologi, yaitu untuk membela otoritas kerasulannya (Gal 1:11-2:14;
1Kor 9).
b. Apokaliptik:
Nuansa apokaliptik dipakai oleh Paulus berkaitan dengan penyataan mengenai
akhir zaman yang diyakini sebagai kedatangan Tuhan yang kedua, penderitaan dan
pencobaan yang dialami dalam karya kerasulannya, kata-kata yang khas
apokaliptik (misalnya: malaekat, iblis, Yerusalem baru, pengadilan terakhir),
bahasa simbolis mengenai penglihatan, berkat, sejumlah perwahyuan khusus.
Contoh ungkapan apokalitik ini kelihatan pada 1Tes 4:13-5:11; 2Tes 1:5-10;
2:1-17; 1Kor 15:12-28.
c. Katalog
atau daftar: Gaya literer ini kelihatan pada rentetan daftar kerapuhan dan
keutamaan khas Yunani (Gal 5:19-23; Kol 3:5-15), nasihat dalam hidup
berkeluarga (Kol 3:18-4:1; Ef 5:21-6:9; Titus 2:1-10); peraturan bagi komunitas
(1Tim 2; 5), sikap yang berlawanan dengan perilaku kristiani (Rm 1:18-32; 1Kor
6:9-11), pengajaran moral dan tingkah laku (Kol 5:3-11; Gal 5:16-24).
d. Katekese:
Sejumlah pengajaran kateketis mengenai kekudusan Kristen kita temukan pada 1Tes
4:1-9; Kol 3:8-4:12; Ef 4:22-25.
e. Pengakuan
iman: Bentuk-bentuk singkat dari pengakuan iman: Rm 10:9; 1Kor 11:23; 1Tim
3:16.
f. Himne:
Yang dimaksud himne di sini kemungkinan bagian dari lagu-lagu yang biasa
dipakai di dalam ibadat. Misalnya himne mengenai Kristus (Fil 2:2-11; Kol
1:15-20), baptis (Ef 2:19-22; Titus 3:4-7; Rom 6). Himne-himne ini biasanya
terbedakan dari konteksnya karena bentuk ungkapannya yang paralel, memakai
kata-kata yang unik (puitis?), susunan gramatik yang khas.
g. Kerygma
: Yang dimaksud kerygma adalah bentuk pewartaan khusus mengenai misteri
Kristus. Bahan-bahan pewartaan biasanya berkaitan dengan pemenuhan profetis
dalam diri Kristus, penyaliban-Nya,
kebangkitan-Nya, peninggian-Nya, janji kedatangan-Nya kembali yang
biasanya diikuti dengan himbauan untuk bertobat (Rm 1:1-13; 1Kor 15:1-7; Gal
1:3-4; bdk. Kis 2:14-29; 10:36-43).
h. Pernyataan
profetis: Seperti tulisan para nabi Perjanjian Lama, bentuk pernyataan
profetis dalam surat Paulus berupa:
pembukaan, kritik, ancaman hukuman, himbauan
(Gal 1:6-9; Rm 1:18-32; 1Kor 5:1-13; 2Tes 1:5-12).
4. Retorika
dari surat-surat Paulus
Para
filsuf Yunani memakai struktur retorik tertentu ketika harus berpidato,
misalnya seperti yang dilakukan oleh Cicero, Aristoteles. Quintilian. Struktur
ini sering dipakai misalnya di dalam pidato politik, pidato penguburan yang
biasanya menjadi salah satu bagian penting (antara lain berisi pujian atas jasa
orang yang meninggal), pada saat sidang pengadilan.
Paulus rupanya memakai pola dasar
retorika yang mereka gunakan:
a. Exordium
(introduksi): berupa kata-kata atau kalimat pendahuluan yang mengantar ke
pembicaraan. Misalnya Gal 1:6-10; Rm 1:1-15; Ibr 1:1-4:16.
b. Propositio
(tesis): Misalnya dalam Gal 1:11-12
c. Narratio
(kisah): Paulus mengisahkan sesuatu, bisa berupa pengalaman diri sendiri, untuk
mendukung tesis. Misalnya Ga; 1:11-2:14; Ibr 5:1-6:20.
d. Probatio
(argumentasi): Argumentasi diajukan untuk mendukung pendapat pokok. Misalnya
Gal 3:1-4:31). Seringkali argumentasi ini disebut juga confirmatio, misalnya Rm
1:18-15:13; Ibr 7:1-10:18. Di dalam surat Galatia (5:1-6:10) di dalam probatio
disertakan pula exhortatio berupa seruan atau nasehat etis, yang sering disebut
juga parenesis.
e. Peroratio
(kesimpulan berupa rekapitulasi): Setelah tesis dan argumen dipaparkan,
biasanya Paulus membuat kesimpulan / rekapitulasi pada bagian akhir
(conclusio). Misalnya Gal 6:11-18; Rm 15:14-16:23; Ibr 10:19-13:21.
Struktur umum dari surat-surat
Paulus:
a. Pembukaan:
Surat-surat Paulus biasa dibuka dengan salam yang kemudian diperkembangkan
dengan menyebutkan maksud penulisan suratnya, identitas penulis dan kawan-kawan
sekerjanya, nama orang / jemaat yang dituju, menyebutkan hubungannya dengan
Allah dalam Kristus. Paulus biasa menyebut dirinya sebagai rasul dan hamba.
Sedangkan orang/jemaat yang dituju disebut para kudus, yang terkasih, Gereja
Allah yang berada di ..... Jika salam menurut kebiasaan orang Yunani
umumnya ditulis dengan chairein (salam), oleh Paulus dibuat menjadi charis
kai eirēnē (rahmat dan damai). Ucapan berkat dimaksudkan untuk menunjukkan
trahmat dan damai Allah yang telah mereka terima, atau merupakan doa agar
orang/ jemaat yang dituju mendapatkan berkat tersebut secara penuh. Contoh
mengenai pembukaan ini dapat kita lihat pada Rm 1:1-7; Gal 1:1-5; 1Tes 1:1; Tit
1:1-4.
b. Syukur
dan berkat pada pembukaan: Paulus membuka suratnya dengan mengucap syukur
kepada Allah, Bapa Yesus Kristus (1Kor 1:4; Flp 1:3; Kol 1:3; 1Tes 1:2; 2Tes
1:3; Flm 4). Meskipun bentuk syukurnya dipengaruhi oleh gaya helenis, namun isi
syukurnya dipengaruhi oleh PL dan pola pikir Yahudi.
c. Bagian
pokok surat: Bagian pokok surat Paulus ada bermacam-macam bentuk serta
strukturnya. Sering sulit menemukan di mana mulainya bagian pokok surat. Paulus
sering memakai: “Aku menasihatkan kamu, saudara-saudara...” (1Kor 1:10; 1Tes
4:10). Di dalam bagian pokok surat kita temukan nasihat (parenese), kisah
pribadi, tema-tema pembicaraan tertentu.
d. Penutup:
Paulus menggunakan salam penutup gaya
helenis, namun dia tidak meniru persis. Misalnya penutup dalam surat di dunia
helenis berisi harapan akan kesehatan /keselamatan atau kata-kata perpisahan.
Paulus mengisi bagian penutup dengan berkat (1Kor 16:23; Gal 6:16.18; Ef
6:23-24; 2tes 3:14.18), suatu doksologi (Rm 16:25-27; Flp 4:20), harapan
bernada positif bagi jemaat (1Kor 16:24).
III. SURAT-SURAT PAULUS
1. SURAT PAULUS KEPADA JEMAAT DI
GALATIA
Kisah
Para Rasul memaparkan adanya proses
transformatif dari Kristianisme yang pada awalnya dianggap sebagai sekte Yahudi
menjadi sebuah agama yang baru. Transformasi ini ternyata tidak berjalan dengan
mudah. Meskipun anggota jemaat Galatia sebagian besar berasal dari bangsa
non-Yahudi, namun pengaruh dari mereka yang ingin menerapkan Hukum Taurat cukup
terasa. Pada awal terbentuknya Kristianisme, masih kuat adanya pandangan bahwa
keselamatan adalah milik eksklusif bangsa Yahudi. Janji Allah di dalam Kitab Suci
diperuntukkan bagi bangsa Yahudi. Yesus sendiri adalah orang Yahudi. Pada waktu
pewartaan Injil masih terbatas di daerah Yerusalem, pandangan atau keyakinan
tersebut belum menimbulkan masalah. Ketika penyebaran Injil menjangkau
bangsa-bangsa lain di luar Yerusalem, mulailah muncul reaksi yang melawan
pandagan kaum Yahudi tersebut. Sejumlah umat Kristen-helenis mewartakan Injil
kepada bangsa-bangsa non Yahudi di Antiokhia (Kis 11:19-20). Kelompok
Yahudi-Kristen yang masih konservatif rupanya sulit menerima perkembangan
tersebut. Kisah mengenai Petrus yang mewartakan Injil kepada Kornelius (warga
negara Romawi) dalam Kis 10-11 rupanya dijadikan salah alasan untuk mendukung
upaya pewartaan Injil kepada bangsa-bangsa lain. Persoalannya, apakah bangsa
non-Yahudi harus juga disunat seperti orang Yahudi jika ingin menjadi Kristen.
Pandangan
konservatif yang mendukung kewajiban sunat tersebut berasal dari
sekelompok orang yahudi-Kristen. Dengan kata lain, orang yang
masuk Kristen harus lebih dahulu menjadi Yahudi dengan mentaati Hukum Musa dan
disunat (bdk. Kis 15:1.5). Rupanya, pandangan konservatif ini dipengaruhi oleh
kewajiban yang dikenakan kepada bangsa non-Yahudi yang ingin maemeluk agama
Yahudi. Mereka dapat memeluk agama Yahudi kan tetapi tetap terbedakan dari kaum
Yahudi asli. Kepada mereka dikenakan istilah proselit (masuk agama
Yahudi karena pertobatan, bukan karena keturunan). Menurut pandangan mereka,
gerakan Yesus merupakan upaya untuk membentuk Israel baru, tetapi Israel baru
yang dimaksudkan tetaplah sebuah institusi Yahudi.
Paulus
mempunyai pandangan berbeda dari kelompok Yahudi-Kristen yang masih konservatif
tersebut. Dia justru melawan kewajiban bagi bangsa-lain yang masuk kristen
untuk mentaati Hukum agama Yahudi, khususnya dalam hal: sunat, makanan
pantangan, merayakan hari-hari keagamaan Yahudi. Pandangan yang dipropagandakan
oleh kelompok Yahudi-Kristen yang konservatif ini membuka proses pemisahan
antara Yahudi dengan Kristen, sekaligus berpotensi menimbulkan perpecahan di
dalam jemaat. Paulus melawan pandangan tersebut dengan argumen mengenai
pembenaran karena iman akan Yesus Kristus. Dengan demikian, untuk mendapatkan
keselamatan, bangsa non-Yahudi tidak diwajibkan menjalankan perintah Hukum
Taurat. Persoalan mengenai kewajiban sunat bagi bangsa non-Yahudi rupanya
menjadi issue hangat di kalangan jemaat Kristiani awal. Surat Galatia
dan Roma menjadikan persoalan ini sebagai salah satu tema yang penting untuik
ditanggapi. Dibandingkan dengan surat Galatia, surat Roma terkesan masih lebih
lembut nuansanya.
1. Kapan
dan di mana ditulis?
Tidak
jelas dari surat ini kelompok mana di Asia Kecil yang dituju Paulus. Mereka
disapa oleh Paulus sebagai “orang-orang Galatia” (3:1) dan sebagai
“jemaat-jemaat di Galatia” (l :2). Mungkin tinjauan sejarah dapat memberi
sedikit penjelasan. Pada pertengahan abad 3 sM, ada sekelompok orang Keltik
(yang menjadi akar dari nama Galatia)
yang menetap di jantung Asia Kecil seputar Ankara ibukota Turki dewasa
ini, karena diusir dari tanah asalnya sepanjang sungai Donau. Dalam perjalanan
waktu, mereka menempati wilayah selatan, yaitu daerah Pisidia, Likaonia,
Isauria dan sebagian Frigia. Pada tahun 25 sM baik daerah di Utara maupun di
Selatan Galatia menjadi propinsi Romawi. Nama Galatia sebenarnya digunakan untuk
menunjuk penduduk asli di sebelah Utara. Sedang daerah-daerah selatan lebih
suka mempertahankan nama mereka sendiri.
Dalam
perjalanan misinya yang pertama bersama Barnabas, Paulus mengunjungi wilayah
Selatan dari Galatia (Pisidia, Frigia, Likaonia) seperti dikisahkan dalam Kis
13-14. Selain di dalam surat ini (Gal 1:2; 3:1), nama Galatia disebut juga
dalam Kis 16:6; 18:23; 1Kor 16:1; 2Tim. 4:10; 1Pet. 1:1. Secara teologis, surat
Galatia dekat dengan 1Tes. Apa yang ditulis dalam surat Galatia terdapat juga
dalam surat Roma, tetapi dengan sejumlah revisi untuk hal-hal yang dianggap
penting.
Para
ahli tidak sepakat di mana persisnya Paulus menulis surat Galatia. Sebagai nama
tempat, Galatia adalah sebuah provinsi yang terbagi menjadi dua, yaitu Galatia
Utara dan Galatia Selatan. Bisa jadi
yang dituju oleh surat ini adalah jemaat di Galatia Selatan (Antiokhia,
Ikonium, Listra, Derbe). Meskpun begitu banyak ahli meyakini bahwa tujuan surat
adalah jemaat kristiani di wilayah Galatia Utara, di mana terdapat banyak
keturunan Keltik. Paulus mengunjungi Galatia pada tiga kali perjalanan misinya
(Kis 13:13-14:28; 16:1-5; 18:23). Ada tiga kemungkinan tempat penulisannya,
yaitu Efesus (bdk. Kis 19:1-20), Makedonia atau Korintus / Akhaya (Kis 20:1-3).
Diperkirakan penulisannya terjasdi pada akhir tahun 50.
Surat
Paulus kepada jemaat di Galatia dapat disebut sebagai surat yang menunjukkan
kekhasan Paulus dalam hal ide, perasaan, cara bereaksi terhadap persoalan dan
situasi yang sedang dihadapi. Kita sebenarnya juga dapat melihat kekhasan
Paulus pada surat kepada jemaat di Roma dan surat 1-2Korintus. Paulus tampil
sebagai pembela kebenaran ketika kebenaran itu dilecehkan. Jemaat Galatia pada
waktu itu terkesan hampir meninggalkan Kristus (Gal 1:6). Sebagai pengikut
Kristus, mereka juga mengikuti kepercayaan lokal yang tersebar di wilayah
Frigia. Dalam provinsi Galatia terdapat
banyak komunitas Yahudi, lebih-lebih di wilayah Selatan. Dari segi historis,
surat Galatia cukup penting karena memberi gambaran sedikit tentang biografi
Paulus dan situasi jemaat perdana. Memang nada surat dari Galatia adalah
kontroversial, antara lain berkaitan dengan debat tentang keharusan melakukan
sunat bagi jemaat Kristiani non Yahudi. Kontroversi ini sebenarnya menandai
proses terpisahnya Kristianisme dari Yudaisme. Ajaran Paulus mengenai
“dibenarkan oleh iman” menjadi salah satu unsur yang mendasari Reformasi
Protestan.
2. Latar
belakang historis surat Galatia
Dengan mengandaikan jemaat yang
dituju adalah jemaat di Galatia Utara, kita dapat membuat rekonstruksi sebagai
berikut:
Konsili Yerusalem:
Setelah
perjalanan misi bersama Barnabas, sejumlah orang Yahudi-Kristen dari Yudea
datang ke Antiokhia dan mengatakan bahwa orang-orang kafir yang bertobat
menjadi Kristen harus disunat. Paulus, Barnabas, sejumlah wakit umat dari
Antiokhia, termasuk Titus, pergi ke Yerusalem untuk meminta pendapat para rasul
mengenai persoalan tersebut (Kis 15:1-5; Gal 2:4-5). Para rasul di yerusalem,
diwakili oleh soko guru Gereja (Petrus, Yakobus dan Yohanes) setuju dengan
pendapat Paulus dan Barnabas bahwa orang-orang kafir yang masuk Kristen tidak
perlu disunat dan tidak perlu mentaati Hukum Yahudi (Gal 2:1-10 = Kisa 15).
Mereka tidak memaksa Titus (termasuk orang Kristen non Yahudi) untuk disunat.
Setelah mendapat penegasan dari para rasul, Paulus dan Barnabas kembali ke
Antiokhia.
Persoalan mengenai makan bersama
kelompok Kristen non-Yahudi di Antiokhia
Rupanya
penegasan dari para rasul belum mengakhiri persoalan sepenuhnya. Di Antiokhia
masih ada keraguan, apakah orang Kristen Yahudi dapat duduk makan bersama
dengan orang-orang kafir yang tidak terikat pada peraturan makan agama Yahudi.
Mengenai hal ini Paulus sampai harus konflik dengan Petrus dan Barnabas di
Antiokhia (Gal 2:11-14). Petrus dianggapnya tidak konsekuen dengan kebijakan
Gereja yang telah ditegaskan dalam konsili di Yerusalem.
Perjalanan Paulus yang kedua
Setelah
persoalan di Antiokhia, Paulus dan Barnabas berselisih pendapat tentang Yohanes
Markus yang hendak diajak mengikuti perjalanan misi yang kedua (Kis 15:36-41).
Paulus mengunjungi kembali Gereja-gereja di wilayah Galatia bagian Selatan,
kemudian melakukan karya misi untuk pertama kalinya di wilayah Galatia bagian
Utara (Kis 16:1-2.6). Ketika Paulus menginjil di Galatia (bagian Utara), dia
menyampaikan apa yang menjadi keputusan dari konsili Yerusalem (Kis 16:4).
Dengan menyampaikan keputusan konsili tersebut, Paulus terkesan bergantung pada
para rasul di Yerusalem.
Konflik di Galatia
Setelah
Paulus meninggalkan Galatia, persoalan tersebut muncul. Ada orang yang
mengajarkan kewajiban sunat dan pelaksanaan hukum Yahudi bagi orang kafir yang
bertobat menjadi Kristen, agar mereka diselamatkan. Mereka tidak sepakat dengan
keputusan Yerusalem dan menolak otoritas soko guru jemaat dalam hal ini.
Pengajaran tersebut bertentangan dengan apa yang telah disampaikan Paulus
sebelumnya. Para lawan Paulus mengecam dia dengan mengatakan bahwa:
- Paulus
hanya ingin menyenangkan para rasul di Yerusalem (bdk. Gal 1:10)
- Injil
yang diwartakan Paulus di Galatia tidak berasal dari Allah tetapi dari manusia.
- Pembebasan
dari Hukum Taurat hanya akan membawa orang-orang Kristen non-Yahudi kepada dosa
(bdk. Gal 2:17).
Dari
apa yang dikatakan Paulus dalam Gal 6:12-13 dapat diandaikan bahwa sejumlah
orang Kristen non- Yahudi di Galatia telah dipaksa untuk sunat. Dari antara
mereka juga ada yang mulai mentaati peraturan mengenai hari-hari dan
waktu-waktu khusus yang diatur dalam Hukum agama Yahudi (Gal 4:10). Rupanya
pengajaran yang disampaikan sebagai reaksi melawan ajaran paulud tersebut
menimbulkan persaingan dan perpecahan yang cukup serius di kalangan jemaat
Galatia (Gal 5:13-15).
Paulus menulis surat Galatia
Paulus
mendengar kabar mengenai situasi Galatia tidak lama setelah dia meninggalkan
wilayah tersebut (Gal 1:6). Pada waktu itu mungkin Paulus sedang berada di
Makedonia atau Akhaya (Kis 16:6-18:17). Berhubungan dia mengatakan bahwa
tubuhnya membawa “tanda-tanda milik Yesus” (Gal 6:17), ada kemungkinan surat
ditulis setelah dia barru saja mengalami penganiayaan di Filipi (Kis 16:22-23).
Yang jelas, Paulus kemudian menulis
surat kepada jemaat Galatia untuk menanggapi situasi di sana.
3. Struktur
Retorik dari surat Galatia
I. The
Epistolary Prescript (1:1-5)
1:1-2
A. Pengirim dan pembaca surat
1:3-4 B. Ucapan
salam
1:5 C. Doksologi
II. The
Introduction - EXORDIUM (1:6-11 )
Excursus: Kutukan in 1:8-9
III. The
Statement of Facts - NARRATIO (1:12-2:14 )
1:12 A. Thesis:
Paulus menerima Injil dari perwahyuan Ilahi, bukan dari tradisi manusia.
Excursus:
Pertobatan, Perwahyuan dan Tradisi
1:13-24 B. Bagian
I: Dari kelahiran Paulus sampai misi di Asia kecil
Excursus:
Rasul, Kefas, Yakobus, Konsili di Yerusalem
2:1-10 C. Bagian
II: Kunjungan Paulus yang kedua ke Yerusalem
Excursus:
Barnabas, Titus, Yohanes penginjil, Kolekte untuk Yerusalem, Konflik di
Antiokhia
2:11-14 D. Bagian III:
Konflik di Antiokhia
IV. The
Proposition - PROPOSITIO (2:15-21)
2:15-16
A. Point
of Agreement: Dibenarkan karena iman
2:17-18 B. Point
of Disagreement: kosekuensi bagi jemaat Kristen-non Yahudi
2:19-20 C. Eksposisi Tesis
2:21 D. Penolakan dan tuduhan
V. The
Proofs - PROBATIO (3:1-4:31)
3:1-5 A. Argumen
I: Pengalaman jemaat Galatia akan Roh
3:6-14 B. Argumen
II: Janji Allah kepada Abraham
Excursus: Abraham
3:15-18 C. Argumen
III: Pelaksanaan hukum pada umumnya
3:19-25 D. Suatu
penyimpangan terhadap Taurat
3:26-4:11 E. Argumen
IV: Tradisi Kristiani
3:26-29 1. Referensi pada Tradisi Baptis
4:1-7 2. Bukti-bukti
4:8-11 3. Suatu Interrogatio
4:12-20 F. Argumen
V: Persahabatan
4:21-31 G. Argumen
VI: Alegori Sarah dan Hagar
VI. The
Exhortation (berupa Parenesis) - EXHORTATIO (5:1-6:10)
5:1-12 A. Peringatan melawan ketaatan terhadap
Taurat Yahudi
5:13-24 B. Peringatan
melawan kerapuhan daging
Excursus:
Daftar keburukan dan keutamaan moral
5:25-6:10 C. Rekomendasi
bagi hidup Kristiani
VII. The Epistolary Postscript (6:11-18)
6:11
A. Pernyataan tentang otentisitas surat
6:12-17 B. PERORATIO : Rekapitulasi
(12-14: conquestio/himbauan emosional)
6:18 C. Berkat
terakhir
Penjelasan:
(1) Epistolary
prescript / salam (1:1-5): Pada bagian salam ini Paulus sudah mengantisipasi salah satu dari
argumen-argumen pokok dalam suratnya, yaitu bahwa pesannya sebagai seorang
rasul tidak datang dari manusia (1:1). Menarik bahwa Paulus sampai
menghilangkan ucapan syukur bagi jemaat, tidak seperti yang biasa dia tuliskan
di dalam surat-surat lainnya setelah salam. Tidak adanya ucapan syukur tersebut
menandakan hati yang sedang gundah terhadap jemaat Galatia.
(2) Exordium
atau introduksi (1:6-12): Paulus emnggambarkan problem di Galatia sebagai suatu konflik antara
dua Injil. Yang satu dia kotbahkan kepada jemaat Galatia dan yang lain dia
anggap sebagai pemutar-balikan terhadap Injil ang sejati. Seperti dijelaskan
pada bagian selanjutnya, dua Injil tersebut menawarkan dua cara yang berbeda
dengan mana umat Kristiani dibenarkan. Istilah “pembenaran” datang dari dunia
pengadilan. Istilah tersebut mengandaikan akan adanya hari penghakiman dari
Allah terhadap umat manusia. Orang yang dibenarkan adalahj orang yang
dinyatakan tidak bersalahn dan tidak boleh dihukum. Menurut Injil Paulus,
seseorang dibenarkan melalui iman akan Yesus Kristus. Injil lain, yang
diwartakan lawan-lawan Paulus, mewajibkan orang non Yahudi untuk disunat dan
mentaati hukum Musa. Paulus mengutuk orang-orang yang mewartakan Injil yang
berbeda dari Injil yang dia ajarkan.
(3) Narratio:
Paulus membela Injilnya (1:13-21:4):
- Paulus
dan Yerusalem (1:13-2:10): Untuk menyatakan bahwa dia tidak menerima
Injilnya dari para rasul di Yerusalem, Paulus mengisahkan relasi dengan mereka
pada awalnya. Paulus membuat dua hal pokok: dia mendapatkan Injilnya langsung
dari Allah (1:13-24); dan para rasul di Yerusalem tidak menambah apapun pada
Injil yang telah diuraikannya kepada mereka (2;1-10).
- Insiden
di Antiokhia (2:11-14): Persoalannya, apakah orang Yahudi-Kristen boleh makan
bersama dengan orang kafir? Ada dua alasan mengapa orang Yahudi tidak mau makan
bersama kaum kafir: Pertama, Hukum menandaskan bahwa orang Yahudi boleh makan
makanan yang sama dengan orang kafir. Kedua, Orang kafir yang tidak mengikuti
Hukum dianggap najis menurut Hukum dan membuat orang yYahudi yang makan bersama
mereka ikut najis. Meskipun begitu, beberapa umat Yahudi-Kristen di Antiokhia
dan Petrus (yang pada saat itu mengunjungi Antiokhia) makan bersama dengan kaum
kafir. Pada saat orang Yahudi-Kristen datang dari kunjungan kepada Yakobus di
Yerusalem. Ketika ada semakin banyak orang Yahudi-Kristen yang masuk kelompok
Yakobus mendatangi mereka, Petrus dan Barnabas dan rekan-rekan lainnya mulai
menghentikan makan mereka dan diam-diam menjauhi kaum kafir tersebut.Paulus
mengecam Petrus atas tindakannya tersebut.
(4) Propositio:
pernyataan terhadap persoalan-persoalan yang ada (3:15-21)
Pada bagian selanjutnya dari surat,
Paulus menyatakan bahwa pembenaran tidak datang lewat Taurat tetapi dalam iman
akan Yesus Kristus (2:15-16), dan kebebasan dari Hukum janganlah membawa kepada
sikap-sikap dosa (2:17-21).
(5) Probatio:
argumentasi bagi jemaat (3:1-5:12):
- Iman
dan Hukum (3:1-18). Paulus memulianya dengan sejumlah argumen:
* Jemaat
Galatia telah menerima Roh Kudus pada saat mereka menerima Injil Paulus. Dengan
begitu Allah meneguhkan pengajaran Paulus mengenai pembenaran karena iman
(3:1-5).
* Abraham
menurut Kitab Suci dibenarkan karena iman dan kaum kafir yang telah masuk agama
Kristen akan dibenarkan dengan cara yang sama (3:6-9).
* Mereka
yang mengandalkan Hukum Taurat untuk pembenaran berada di bawah kutuk, tetapi
Kristus telah membebaskan jemaat dari kutuk (3:10-14).
* Allah
menjanjikan pembenaran bagi Abraham dan keturunannya berdasarkan iman. Hukum
yang datang kemudian tidak dapat membatalkan apa yang telah dijanjikan sejak
semula (3:15-18).
- Maksud
dari adanya Hukum Taurat (3:19-4:11): Paulus mengajukan pertanyaan retotik:
“Jika Hukum Taurat tidak membawa pembenaran, lalu apa gunanya?” Jawabannya
tidak cukup mudah diikuti. Hukum Taurat membuat semua orang sadar akan dosa
mereka, sehingga mereka akan siap menerima pembenaran karena iman. Hukum Taurat
disamakan dengan pengawal, pengasuh/ pembimbing anak (paedagogos).
Menjadi Kristiani sama dengan menjadi dewasa, sehingga tidak diperlukan lagi
adanya seorang pemomong atau pembimbing (3:23-29). Paulus juga berbicara
mengenai malaikat-malaikat yang menjadi perantara Hukum (3:19). Bagaimanapun
juga, umat Yahudi maupun orang kafir pernah mengalami menjadi seperti anak-anak
kecil di bawah bimbingan pengasuh atau penjaga. Namun ketika mereka telah
diangkat menjadi anak-anak Allah, para penjaga tidak diperlukan lagi (4:1-7).
Paulus juga mengatakan bahwa dengan menkhususkan hari-hari tertentu, mereka sama
saja dengan kembali pada roh-roh dunia (4:8-10).
- Sapaan
personal (4:11-20): Paulus mengingatkan orang-orang Galatia pada hubungan baik
dengannya di masa lalu.
- Penghambaan
atau kemerdekaan (4:21-5:1): Paulus kemudian menggunakan kisah dari Taurat (Kej
21:1-4) yaitu mengenai Sarah dan Hagar untuk membuat perbandingan antara
kemerdekaan di dalam iman akan Kristus dan perhambaan di bahwa Hukum Taurat.
Agama Kristen adalah seperti Sarah yang akan melahirkan anak-anak merdeka dan
ahli waris Allah.
- Sunat
yang sia-sia (5:2-12): Melawan para musuhnya, Paulus mengatakan bahwa disunat
atau tidak disunat sudah tidak ada manfaatnya lagi. Yang terpenting adalah
“iman yang bekerja melalui kasih”.
(6) Exhortatio
(5:13-6:10) : Paulus
kemudian menegaskan bahwa bebas dari Hukum jangan sampai membuat seseorang
berlaku jahat. Dia mengingatkan umat Galatia agar jangan memanfaatkan kebebasan
mereka sebagai sebuah kelonggaran untuk memuja daging, yaitu bagian dari
manusia yang membuat manusia menjadi subyek dari dosa. Paulus menasehati
pembaca agar waspada terhadap pekerjaan-pekerjaan daging. Roh Kudus merupakan
prinsip yang menggantikan Hukum dan daging.
(7) Konklusi
/ epistolary postscript: Paulus mengakhiri suratnya dengan mengecam para musuhnya. Berkat
terakhir bagi mereka yang setuju dengannya (6:16) menjadi imbangan dari
pernyataan kutuk pada bagian awal surat bagi mereka yang menolaknya.
2. SURAT PAULUS KEPADA JEMAAT DI ROMA
Surat
Paulus kepada jemaat di Roma lebih mirip dengan serangkaian pengajaran dogmatis
yang menguraikan sejumlah pokok teologis yang diyakini oleh Paulus tentang
karya keselamatan Allah dalam peristiwa Yesus Kristus. Tidak seperti
surat-surat lainnya, Paulus tidak sedang menanggapi persoalan praktis tentang
iman dan moral yang terjadi di tengah jemaat. Kendati demikian, surat Roma
bukanlah sebuah paper teologi sistematik. Apa yang ditulisnya lebih-lebih akar
keyakinannya sebagai seorang Yahudi yang beragama Kristen. Paulus mencoba
menyoroti peranan Yesus Kristus di dalam sejarah keselamatan bangsanya. Selain
itu, bagaimana peristiwa Yesus dan karya keselamatan-Nya relevan bagi seluruh
umat manusia, baik kaum Yahudi maupun bangsa-bangsa lain.
Paulus
bukanlah pendiri jemaat Roma, bahkan belum pernah ke Roma apalagi mengenal
jemaatnya secara pribadi. Di dalam suratnya, Paulus menulis apa yang rupanya
menjadi persoalan yang hangat di kalangan jemaat Kristiani yang sedang
memperjuangkan jati dirinya sebagai pengikut Kristus, lepas dari agama Yahudi.
Untuk itu, tema tentang kebenaran Allah, pembenaran, pendamaian, penebusan,
keselamatan, dosa dan kedosaan, menjadi fokus perhatian. Tema-tema yang
berlatar belakang paham Perjanjian Lama itu diberi makna baru berkat wafat dan
kebangkitan Kristus. Paulus amat berjasa di dalam merumuskan dasar-dasar iman
tersebut, sehingga tidak heran jika pengajaran yang ditulis di dalam suratnya
kepada jemaat di Roma mempengaruhi teologi Kristen dan selalu dirujuk oleh
Gereja sepanjang masa.
Tidak
ada keraguan bahwa surat ini ditulis oleh Paulus sendiri. Gaya penulisannya
dekat dengan surat Galatia dan 1Korintus. Roma adalah ibu kota kekaisaran,
sebuah kota besar yang hanya dapat dibayangkannya lewat gambaran tentang
Tarsus, kota kelahirannya. Sebenarnya Paulus sudah lama mendambakan kesempatan
untuk mengunjungi Roma. Ketika berada di Efesus, Paulus berencana pergi ke
Yerusalem melalui Makedonia dan Akhaya. Sesudah itu ia akan mengunjungi Roma
dalam rangka misinya ke Spanyol (Rom 15:24.28). Di dalam Kisah Para Rasul,
rencana ke Roma itu disinggung juga: “Sesudah berkunjung ke situ (Yerusalem)
aku harus melihat Roma juga” (Kis 19:21). Kelihatan dari surat-suratnya dan
Kisah Para Rasul bahwa Paulus sungguh ingin berkunjung ke Roma.
1. Kapan
dan di mana ditulis?
Mengenai
tempat dan waktu penulisan, Rm 15:26 menyebut Makedonia dan Akhaya. Rm 16:1
menybut nama Febe, diakon dari jemaat Kengkrea, pelabuhan dari Korintus.
Tampaknya penulisannya dilakukan di wilayah Yunani, kemungkinannya di Korintus.
Apa yang menyebabkan Paulus tergerak untuk menulis surat kepada jemaat di Roma?
Memang dia bukanlah pendiri jemaat Roma, namun dorongan untuk menulis surat ini
disebabkan oleh rasa tanggungjawabnya sebagai rasul bangsa-bangsa non-Yahudi
(bdk. Rm 1:1-15; 15:15-16). Paulus memanfaatkan sepuluh tahun dari karyanya
(47-57 M) untuk mewartakan Injil di wilayah Timur dan Barat laut Aegea. Selama
periode itu Paulus memusatkan perhatian pada wilayah Galatia, Makedonia,
Akhaya, dan Asia kecil. Paulus sungguh menghayati perutusannya sebagai pewarta
Injil kepada bangsa-bangsa lain. Rencana besarnya sudah terpenuhi, yaitu
mendirikan jemaat di Ikonium, Filipi, Tesalonika, Korintus, Efesus dan sejumlah
wilayah lainnya.
Tugas
Paulus belum selesai. Pada musim dingin tahun 56-57M dia tinggal di Korintus,
di rumah Gaius. Ia berencana untuk membawa sumbangan ke Yerusalem, yaitu
sumbangan yang dari jemaat Akhaya dan Makedonia (15:30-31) yang diharapkan
dapat mempererat hubungan antara Gereja di wilayah bangsa lain dengan Gereja di
Yudea. Surat kepada jemaat di Roma rupanya ditulis pada musim dingin tahun 57 M
di Korintus, tidak lama sebelum dia berangkat membawa kolekte ke Yerusalem (Rom
15:25.31; 1Kor 16:1-3). Periode ini berkaitan dengan periode tinggalnya selama
3 bulan di Akhaya, menurut Kis 20:2-3.
Menjelang
Pentekosta (Juni 57M) Paulus tiba di Yerusalem. Ketika bersiap untuk pergi ke
Yerusalem, nampaknya Paulus merasa bahwa situasinya sedang tidak menguntungkan
bagi dia. Di dalam vision yang dia alami, Tuhan berdiri di sisinya dan
berfirman: “Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah
bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi
bersaksi di Roma” (Kis 23:11). Ketegangan yang dia rasakan tentang nasibnya
di Yerusalem tercermin juga di dalam Rom 15:30-31: “Tetapi demi Kristus,
Tuhan kita, dan demi kasih Roh, aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, untuk
bergumul bersama-sama dengan aku dalam doa kepada Allah untuk aku, supaya aku
terpelihara dari orang-orang yang tidak taat di Yudea, dan supaya pelayananku
untuk Yerusalem disambut dengan baik oleh orang-orang kudus di sana...”
Paulus berencana untuk mewartakan Injil Spanyol, wilayah provinsi Romawi tertua
yang paling Barat. Sebelum ke Spanyol, Paulus berencana mengunjungi Roma.
Meskipun belum pernah ke Roma, namun Paulus sudah mengenal beberapa anggota jemaat
di sana. Yang dia sebut dalam surat Roma adalah Febe, Priskila dan Akwila,
Epenetus, Maria, Andronikus dan Yunias, Ampliatus, Urbanus, Stakhis, Apeles,
Herodion, Trifena dan Trifosa, Persis, Rufus, Asinkritus, Flegon, Hermes,
Patrobas, Hermas, Filologus, Yulia, Nereus, Olimpas (bdk. Rom 16:1-15). Kepada
mereka, Paulus mengirim salamnya. Dengan adanya teman dan sahabat di Roma,
Paulus berharap tidak merasa terlalu asing dengan jemaat di sana.
2. Jemaat
di Roma
Tidak
ada kejelasan kapan awal pertumbuhan dan perkembangan Gereja di Roma. Roma
mengenalnya sebagai Gereja yang tumbuh dengan baik dalam hal iman (Rom 1:8).
Suetonius menulis bahwa pada tahun 49M kaisar Klaudius mengusir semua orang
Yahudi dari Roma karena mereka bertengkar atas hasutan seorang bernama Krestus
(bdk. Kis 18:1 dst.). Dengan demikian sebelum tahun 49M pasti sudah ada orang
Kristen di Roma. Mereka dianggap identik dengan kelompok orang Yahudi, sehingga
orang Yahudi-Kristen ikut terusir bersama rekan sebangsanya. Informasi ini sesuai
dengan Kis 18:2 yang mengatakan bahwa Akwila dan Priskilla meninggalkan Italia karena terjadi
pengusiran kaum Yahudi dari kota Roma atas perintah kaisar Klaudius. Setelah kematian kaisar
Klaudius (54M), banyak orang Yahudi kembali ke Roma, termasuk Akwila dan
Priskila. Pada waktu Paulus menulis suratnya, orang Yahudi sudah boleh hidup di
Roma lagi (Rom 16:3). Di natara mereka yang kembali ke Roma ada banyak sahabat
yang dia kenal pada waktu penginjilannya. Jemaat Roma pada waktu itu terdiri
dari orang Yahudi (Rom 4:1; 7:4-6; 15:7-8) dan orang non Yahudi (Rom 1:5.13;
11:13-32; kemungkinan juga 15:10-11).
Kehadiran
kaum Yahudi di Roma tentu masih dapat dirunut jauh ke belakang, paling tidak
ketika Pompeius menaklukkan Yerusalem (63 sM). Pada tahun 19M, kaum Yahudi di
Roma sudah mengalami pengusiran atas perintah kaisar Tiberius. Akan tetapi
beberapa tahun kemudian mereka kembali ke Roma lagi dengan jumlah yang lebih
banyak. Priskila dan Akwila tampaknya sudah menjadi kristen sebelum bertemu
dengan Paulus, namun kita tidak tahu riwayat pertobatan mereka. Di dalam
suratnya, Paulus kelihatannya memperhitungkan dua kelompok besar dalam jemaat,
yaitu kelompok Kristen-Yahudi dan kelompok Kristen non-Yahudi. Meskipun
jumlahnya lebih besar, Paulus berpesan agar jemaat Kristen non-Yahudi jangan
menghina jemaat Kristen Yahudi (11:18). Mereka hendaknya sadar bahwa
pertumbuhan jemaat mereka tetaplah berawal dari komunitas Yahudi. Dibandingkan
dengan suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus tampak lebih berhati-hati di
dalam surat Roma jika berbicara mengenai adat-istiadat dan dasar kepercayaan
kaum Yahudi. Karena Paulus banyak memakai bahasa dan ungkapan khas liturgi
Yahudi, kemungkinan ada banyak keturunan Yahudi di kalangan Gereja Roma
(meskipun bukan mayoritas).
3. Tujuan
penulisan surat Roma
Dari
suratnya dapat diduga bahwa Paulus sedang mencari dukungan dari jemaat Kristen
di Roma untuk karya misinya ke Yerusalem dan misi berikutnya ke Spanyol.
Mengenai perjalanannya ke Yerusalem, Paulus meminta doa jemaat Roma (Kis
15:30-31). Berkaitan dengan rencananya ke Spanyol, Paulus bermaksud menjadikan
Roma sebagai basis kegiatannya di wilayah Barat (15:22-25.28). Dia mengharapkan
sambutan yang baik dari jemaat Roma atas kunjungannya (15:22-25.28-29.32; bdk.
juga 16:1-2.23).
Nada
yang cukup kuat dari suratnya adalah usaha Paulus untuk menjembatani
kesenjangan yang terjadi antara paham Yahudi dan paham Kristen. Diperlihatkan
olehnya bahwa adanya unsur-unsur kontinuitas dan diskontinuitas. Hendaknya
masing-masing memahami hal-hal itu agar iman akan Yesus Kristus dapat merek
pertanggungjawabkan tanpa harus melewati perselisihan bahkan perpecahan.
Tujuan penulisan surat kepada jemaat
di Roma dapat kita sebutkan secara singkat sebagai berikut:
a. berkenalan
dengan jemaat yang tidak didirikan oleh Paulus sendiri (1:11 dst).
b. meminta
dukungan keuangan dan sarana untuk perjalanan ke Spanyol (15:24)
c. meminta
doa sehubungan dengan konfrontasi melawan orang Yahudi fanatik di Yerusalem
yang kemungkinan besar akan segera dia hadapi sebelum keberangkatan ke Roma
(15:30-31)
d. meminta
doa sehubungan dengan ketidakpastian jemaat Kristen Yerusalem terhadap
sumbangan jemaat-jemaat Makedonia dan Akhaya yang dibawa Paulus ke Yerusalem
sebagai bentuk solidaritas dan kesatuan jemaat universal (15:30-31)
e. meredakan
perselisihan yang sedang berlangsung dalam jemaat di Roma (14:1-15:13)
Masalahnya,
mengapa ada uraian panjang dalam 1:18-13:14 yang berisi perdebatan
terus-menerus dengan pihak Yahudi? Bagaimanakah uraian itu dapat kita anggap
sebagai dasar nasihat 14:1-15:13, dan apakah relevasinya? Jika bab 1-11
berbicara banyak tentang hukum Taurat dan hubungan jemaat Kristen non Yahudi
dengan Kristen Yahudi, mengapa bab 14-15 samasekali tidak menyinggung lagi
soal-soal tersebut?
Ada beberapa kemungkinan jawabannya:
a. Tema
pokok 1:18-11:36 adalah kesatuan orang Yahudi dan non Yahudi dalam pembenaran
oleh iman dalam Yesus Kristus. Bangsa Yahudi diakui sebagai bangsa pilihan,
umat Allah. Antara Yahudi dan non-Yahudi terpisah sebelum kedatangan Kristus.
Kini semuanya sama-sama menjadi umat Allah yang dikarunia Roh Allah, berkat
baptisan.
b. Rupanya
rencana ke Spanyol mau dijadikan bukti bahwa tidak ada lagi pemisahan antara
bangsa-bangsa.
c. Untuk
itu Paulus mendapat perlawanan dari tiga pihak: orang-orang Yahudi yang menolak
Injil Paulus (dianggap kaum murtad), orang Kristen Yahudi yang telah menerima
Injil (kedatangan Kristus tidak merubah status Israel sebagai bangsa pilihan
dan tidak ada alasan untuk meniadakan kewajiban mentaati Taurat), orang Kristen
non Yahudi (Israel tidak masuk hitungan lagi; orang Kristen yang masih Yudais
dianggap lemah).
Sebenarnya
apa sajakah tuduhan yang dilontarkan para lawan Paulus terhadapnya? Dari
surat-suratnya dapat disimpulkan demikian:
a. Paulus
dituduh mewartakan keselamatan tanpa hukum Taurat (3:21)
b. Paulus
mengajarkan bahwa kebenaran tanpa hukum Taurat membatalkan hukum Taurat (Kitab
Suci).
c. Paulus
mengajarkan bahwa Allah menganugerahkan keselamatan berdasarkan iman, bukan
atas dasar menjalankan Taurat. Dengan dermikian Paulus mewartakan Allah lain.
Paulus
pernah membela ajarannya di hadapan pemimpin gereja Yerusalem (Kis 15). Tapi
rupanya pengakuan resmi dari para rasul tidak melindungi Paulus dari serangan
kaum Yudais. Ada kecurigaan terhadapnya. Itulah sebabnya Paulus merasa perlu ke
Yerusalem lagi. Dengan semangat solidaritas (antara lain lewat sumbangan yang
dikumpulkannya untuk jemaat Yrusalem) Paulus ingin menjelaskan lagi pengajaran
karya kerasulannya di tengah bangsa-bangsa lain. Dengan latar belakang demikian
dapat dikatakan bahwa:
a. Rm
1:18-13:14 merupakan upaya preventif dari Paulus untuk menjaga jangan sampai
jemaat Roma terpengaruh oleh tuduhan-tudahan yang selama ini dialamatkan
kepadanya.
b. Lewat
jemaat Roma, ia menyapa lawan-lawannya dalam lingkungan Yahudi-Kristen, yang
harus dia hadapi dalam berbagai kesempatan, termasuk kelak di Yerusalem.
Sumbangan dana dipakai sebagai tanda kesatuan Gereja.
c. Teologi:
Rm 1:18-13:14 mau meletakkan dasar keyakinan Paulus mengenai kesatuan antara
orang Yahudi dan non Yahudi, sambil tetap mempertahankan perbedaan kedua
golongan tersebut. Ia meletakkan dasar kesinambungan hukum Taurat dengan Injil,
sambil menunjukkan pembaharuan yang dibawa oleh Injil. Paulus mengutip
sana-sini dari PL (bab 1-4 dan 9-11) untuk menunjukkan kesinambungan PL dengan
Injil. Cara ini penting lebih-lebih bagi jemaat Kristen yang mempunyai latar
belakang agama, bangsa, dan budaya Yahudi. Paulus ingin mengeaskan bahwa Injil
yang dia wartakan, yang berpusat pada Yesus Kristus, sebenarnya sudah mendapat
antisipasinya di dalam Taurat.
d. Yang
terutama menjadi alamat dari serangan Paulus adalah orang-orang Yahudi-Kristen
yang masih eksklusif dengan membanggakan
sunat dan Taurat. Mereka ingin agar praktek Taurat masih diberlakukan di tengah
jemaat Kristen.
e. Rupanya
Paulus menyadari benar bahwa jemaat Roma berada dalam posisi defensif melawan
agama Yahudi, sehingga tema-tema pembicaraan berkaitan dengan paham Yudaisme.
f. Paulus
sering memakai cara berpikir zig-zag. Di satu pihak dia menyatakan bahwa Injil
membawa keselamatan tanpa hukum Taurat (3:21), di pihak lain ia meneguhkan
hukum Taurat (3:31). Cara ini ditempuh karena dia memperhitungkan siapakah
jemaat yang sedang dihadapinya. Paulus dengan bebas menggunakan ayat-ayat PL,
di luar konteksnya, namun dengan begitu ia justru mampu menonjolkan pesannya
secara jelas.
g. Surat
Roma berpengaruh besar terhadap dogma-dogma Kristen, lebih-lebih berkaitan
dengan pembenaran cuma-cuma berkat penebusan Kristus. Martin Luther mendasarkan
salah satu ajaran pokoknya, yaitu tentang pembenaran oleh iman, dari surat
Paulus kepada jemaat di Roma ini.
4. Jenis
sastra dari surat Roma
Karena
Paulus tidak dapat hadir di Roma, maka ia berkomunikasi dengan jemaat di Roma
lebih dahulu lewat surat. Surat Roma memiliki struktur yang sama dengan
surat-surat lainnya: pengantar (1:1-7), ucapan syukur (1:8-17); bagian pokok
(1:18-11:36); parenesis (12:1-15:13); narasi perjalanan misi (15:14-32);
penutup panjang (15:33-16:27). Sebagai surat, surat Roma lebih panjang dari
surat-suratnya yang lain. Isinya bersifat didaktis, mirip dengan dokumen publik
yang resmi. Dapat dikatakan bahwa surat Roma lebih mirip sebuah surat-esei.
Struktur
retorik dari surat Paulus kepada jemaat di Roma menunjukkan ciri epideictic,
yaitu suatu retorika yang sifatnya demonstratif. Kata Yunani epideixis
artinya menunjukkan atau memamerkan. Tipe persuasif dari retorika ini sering
dipakai pada pidato penguburan, pidato politik, pidato yang mengawali suatu
pesta atau pertandingan olah raga. Yang dituju dengan gaya ini adalah
mengangkat perasaan publik (audiens) dengan cara menunjukkan
keutamaan-keutamaan dari para audiens. Retorika epideictic berakar pada encomia,
yaitu retorika yang dimaksudkan untuk menghormati seseorang karena kepribadiannya
yang mengagumkan. Dibandingkan dengan
surat Galatia, surat Roma tidak terlalu kelihatan defensif dan tidak menunjuk
kesalahan-kesalahan jemaat. Dibandingkan dengan 1Korintus, surat Roma tidak
memberi perhatian pada persoalan-persoalan praktis di dalam jemaat. Yang
menonjol dari surat ini lebih-lebih pengajaran yang bermaksud meneguhkan
nilai-nilai iman kepercayaan mereka.
Jika
kita mengamati dengan baik isi suratnya, tampak bahwa Paulus memakai gaya
bertutur yang runtut, selangkah-demi selangkah. Dia mulai dengan suatu
pernyataan (propositio), kemudian dia menjelaskan pernyataan itu dengan
macam-macam bukti dan argumen (probatio). Tema-tema yang dibicarakan Paulus
pada garis besranya adalah:
- Injil yang diwartakan Paulus: isinya,
hasilnya, tujuannya dan siapa yang dituju.
- Keadilan
ilahi: hubungan antara murka Allah dan keadilan-Nya, keadilan dan belas-kasih,
keadilan dan pilihan-Nya
- Eksistensi
dan tindakan dari umat beriman, pembenaran terhadap mereka, pembenaran dan
moralitas, umat beriman dan perintah dalam hukum Musa.
- Hukum
Musa: gunanya, hubungannya dengan keselamatan, Yesus Kristus dan Hukum Musa.
5. Tema
pokok dari Surat Roma:
Dalam
suratnya, Paulus tampak memperhitungkan hubungan antara orang-orang Yahdui dan
bangsa-bangsa lain, baik dalam hal keselamatan maupun dalam situasi konkret
jemaat. Tema pokok ini kelihatan tiga bagian dari isi suratnya:
(1) Dalam
Rm 1-8 Paulus menyatakan bahwa baik orang Yahudi mapun bangsa lain mendapatkan
keselamatan atas dasar yang sama, yaitu iman akan Yesus. Orang Yahudi tidak
mendapatkan manfaat dari Hukum, karena tidak ada manusia akan dibenarkan di
hadapan Allah berdasarkan Hukum. Dalam hal ini Paulus membedakan perspektif
pandangannya dari pandangan kaum Yahudi-Kristen. Kaum Yahudi-Kristen berbeda
pendapat mengenai keharusan orang non-Yahudi (bangsa lain) dalam hal ketaatan
pada Hukum Taurat. Namun, mereka setuju
mengatakan bahwa orang Yahudi-Kristen masih perlu melakukan Hukum Taurat. Pola
pikir Paulus sungguh kontras dengan pandangan itu. Argumentasi yang
diajukannya membawa kita pada kesimpulan
logis bahwa ketaatan pada Hukum Taurat bagi orang Yahudi pun tidak akan membawa
keselamatan. Paulus memang tidak keberatan jika orang Yahudi-Kristen masih
mempraktekkan Taurat, meskipun menurut sikap tersebut menurut dia merupakan
pertanda dari lemahnya iman. Paulus menekankan bahwa ketaatan pada Taurat tidak
membawa efek apapun bagi keselamatan. Bagi orang Yahudi maupun bangsa lain
hanya ada satu Allah, yaitu Dia yang “akan membenarkan kaum bersunat atas dasar
iman dan kaum tak bersunat juga atas dasar iman yang sama” (Rm 3:30). Hukum
tidak membawa keselamatan, tetapi justru
membuat manusia mengenal dosa: “justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal
dosa” (Rm 7:7).
(2) Dalam
Rm 9-11, tema tentang Yahudi dan bangsa lain dilanjutkan. Paulus
mempertanyakan, mengapa bangsa lain menerima Mesias Yahudi, sedangkan
kebanyakan orang Yahudi sendiri justru menolaknya? Paulus menyimpulkan bahwa
situasi ini adalah bagian rencana penyelamatan oleh Allah bagi kaum Yahudi
maupun bangsa lain. Allah telah membuat kaum Yahudi menolak kabar gembira
supaya bangsa lain menerimanya, namun dengan cara tertentu Allah akan
menyelamatkan bangsa Israel juga. Untuk itu Paulus menasehatkan agar jemaat
Kristen non-Yahudi jangan memandang diri mereka lebih dari bangsa Yahudi.
Rupanya di balik pernyataan Paulus ini ada kasus di mana kaum Yahudi
direndahkan karena telah menolak Kristus dan karya penyelamatan-Nya.
(3) Tema
tentang Yahudi dan bangsa lain terjadi lagi dalam Rm 14-15, namun dengan nuansa
yang lain. Paulus menganjurkan terjalinnya hubungan yang harmonis antara “yang
lemah” dan “yang kuat”. Yang disebut sebagai “yang lemah” kemungkinanya adalah
orang-orang Yahudi-Kristen yang mengharamkan daging binatang tertentu dan
daging yang dipersembahkan kepada dewa-dewi. Banyak yang bahkan mengharamkan
anggur. Mereka yang kuat adalah kaum Kristen non-Yahudi dan kaum Yahudi Kristen
yang tidak lagi peduli pada pantangan-pantangan tersebut. Apakah persoalan
tersebut sungguh terjadi di kalangan jemaat Roma, ataukah Paulus mengadopsinya
dari Gereja di daerah lain? Tidak cukup jelas. Meskipun begitu, tujuan utamanya
adalah agar jemaat menciptakan relasi yang harmonis satu sama lain, karena
Kristus telah menjadi pelayan bagi kaum yahudi maupun non-Yahudi (Rm 15:7-9).
6. Struktur
retorik dari Surat Roma
I. PROLOG
(1:1-17) - EXORDIUM
A. Salam 1:1-7
B. Ucapan syukur 1:8-15
C. Tema surat -
TRANSITIO 1:16-17
PROBATIO/CONFIRMATIO (1:18-15:13)
II. PEMBENARAN
OLEH IMAN (1:18-4:25)
A. Kuasa
dosa yang universal 1:18-3:32
1. Dosa kaum fasik 1:18-32
2. Orang Yahudi juga terkena dosa (2:1-3:8)
a. Orang Yahudi dan penghakiman Allah (2:1-16)
i. Kritik terhadap anggapan dari orang Yahudi 2:1-5
ii. Tidak
ada pembedaan bagi penghakiman Allah 2:6-11
iii. Penghakiman dan Hukum Taurat 2:12-16
b. Keterbatasan dari perjanjian (2:17-29)
i. Hukum Taurat 2:17-24
ii. Sunat 2:25-29
c. Kesetiaan Allah dan penghakiman bagi orang
Yahudi 3:1-8
3. Semua orang berdosa 3:9-20
B. Pembenaran
oleh Iman (3:21-4:25)
1. Pembenaran dan kebenaran Allah 3:21-26
2. “Hanya oleh Iman” (3:27-4:25)
a. “Hanya oleh Iman”: Pernyataan awal 3:27-31
b. “Hanya oleh Iman”: Abraham (4:1-25)
i. Iman dan perbuatan 4:1-8
ii. Iman dan sunat 4:9-12
iii. Iman, Janji dan Hukum Taurat 4:13-22
iv. Iman Abraham dan iman Kristiani 4:23-25
III. HARAPAN AKAN KESELAMATAN (5:1-8:39)
A. Harapan
akan kemuliaan (5:1-21)
1. Dari Pembenaran ke Keselamatan 5:1-11
2. Kuasa Rahmat dan Kehidupan 5:12-21
B. Pembebasan
dari belenggu dosa (6:1-23)
1. “Mati terhadap dosa” melalui kesatuan dengan
Kristus 6:1-14
2. Dibebaskan dari kuasa dosa untuk mengabdi
Kebenaran 6:15-23
C. pembebasan
dari kuasa hukum Taurat (7:1-25)
1. Bebas dari Hukum Taurat, disatukan dengan
Kristus 7:1-6
2. Kehidupan orang Yahudi di bawah hukum Taurat
(7:7-25)
i. Datangnya hukum Taurat 7:7-12
ii. Hidup di bawah hukum Taurat 7:13-25
D. Jaminan
hidup kekal di dalam Roh (8:1-30)
1.
Roh Kehidupan 8:1-13
2. Roh Keputeraan 8:14-17
3. Roh Kemuliaan 8:18-30
E. Keyakinan
Iman 8:31-39
IV. MEMBELA
INJIL (9:1-11:36)
A. Ketegangan
antara janji Allah dan pilihan atas Israel 9:1-5
B. Tentang
janji Allah (9:6-29)
1. Israel di dalam Israel 9:6-13
2. Kebebasan dan Maksud
Allah 9:14-23
3. Umat Allah yang baru: Yahudi dan non-Yahudi 9:24-29
C. Kristus
puncak sejarah keselamatan (9:30-10:21)
1. Israel, bangsa-bangsa lain, dan kebenaran
Allah (9:30-10:13)
a. Kebenaran Allah dan Hukum Kebenaran 9:30-33
b. Kebenaran Allah dan “kebenaran mereka sendiri” 10:1-4
c. Injil dan hukum Taurat 10:5-13
2. Ketidsk percayaan Israel 10:14-21
D. Sumarium:
Israel yang dipilih dan yang tegar hati 11:1-10
E. Masa
depan Israel (11:11-32)
1. Maksud Allah di dalam penolakan dari bangsa
Israel 11:11-15
2. Hubungan orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain 11:16-24
3. Keselamatan bagi “seluruh Israel”
F. Kesimpulan:
Puji Tuhan atas rencana-Nya yang tak terselami (11:33-36)
V. PERI
LAKU KRISTIANI (12:1-15:13) - EXHORTATIO
A. Transformasi
total 12:1-2
B. Rendah
hati dan saling melayani 12:3-8
C. Kasih dan
perwujudannya 12:9-21
D. Pemimpin
sekuler dan Pemimpin kristiani 13:1-7
E. Kasih dan
Hukum Taurat 13:8-10
F. Menggunakan
senjata terang 13:11-14
G. Himbauan
agar bersatu 14:1-15:13
1. Jangan saling menghakimi 14:1-12
2. Jangan membuat batu sandungan bagi orang lain 14:13-23
3. Utamakan orang lain 15:1-6
4. Saling menerima dengan orang lain 15:17-13
VI. PENUTUP (15:14-16:27) - CONCLUSIO
A. Pelayanan
Paulus dan rencana perjalanannya (15:14-15:33)
1. Menengok ke belakang: Misi Paulus di Timur 15:14-21
- PERORATIO (15:14-15 - REKAPITULASI PENDAPAT)
2. Melihat ke depan: Yerusalem, Roma, Spanyol 15:22-29
3. Mohon doa 15:30-33
B. Salam
(16:1-23)
1. Minta perhatian untuk Febe 16:1-2
2. Salam untuk jemaat kristiani di Roma 16:3-16
3. Peringatan, janji dan mohon kasih karunia 16:17-20
4. Salam dari teman-teman Paulus 16:21-23
C. Doksologi
penutup 16:25-27
(1) Introduksi
(1:1-15): Paulus
memulai syratnya dengan salam dan menjelaskan pujian dan niatnya untuk
mengunjungi jemaat Roma.
(2) Injil
yang diwartakan oleh Paulus (1:16-8:39): Pada pembagian dari pokok surat Roma, Paulus memberikan
sejumlah detil mengenai Inil yang diwartakannya. Dia tidak hanya mengulangi
pewartaan pokok Injil (tentang wafat, penguburan, kebangkitan Yesus), tetapi
juga menjelaskan bagaimana peristiwa Yesus itu begitu penting bagi keselamatan
kaum beriman. Paulus ingin menunjukkan bahwa keselamatan tidak datang melalui
Hukum tetapi melalui iman akan Kristus. Hukum Taurat tidak membawa manfaat bagi
orang Yahudi. Baik kaum Yahudi maupun non Yahudi mempunyai k\peluang yang sama
untuk sampai kepada Allah lewat iman dalam Yesus Kristus.
- Tema
pokok (1:16-17):
Paulus menyatakan bahwa tema pokok suratnya adalah “kebenaran Allah” yang
diperoleh lewat iman. Istilah Yunani “kebenaran” dapat juga berarti “pembenaran”.
Sama seperti dalam surat Gakatia, istilah ini datang dari dunia pengadilan
berkaitan dengan pembenaran yang diputuskan hakim terhadap terdakwa.
- Persoalan
yang dihadapi manusia (1:18-3:20): Paulus memulai pengajaran Injilnya
dengan menggambarkan kondisi maunsia yang butuh diselamatkan, yaitu:
* Karena
jauh dari Allah maka manusia menjadi rapuh dan berdosa (1:18-32). Akibatnya
manusia mengalami: kegelapan hati (1:21), tubuh tercemar (1:24), dan
pikiran-pikiran terkutuk (1:28). Yang dimaksud dengan “pikiran” di sini identik
dengan “hati”.
* Sebagai
akibatnya, baik kaum Yahudi maupun non Yahudi layak mendapat hukuman Allah pada
hari penghakiman. Semua orang menjadi subyek pengadilan Allah karena dosa
(2:1-3:20). Tidak ada umat manusia (Yahudi maupun bangsa lain) yang tanpa dosa
dan semua dosa akan diperhitungkan pada hari penghakiman Allah. Hukum dan sunat
tidak akan menolong kaum Yahudi lepas dari hukuman Allah.
- Solusi
atas pengadilan Allah terhadap dosa manusia? (3:21-5:21): Ada dua persoalan
pokok, dan Paulus berusaha memberi solusi untuk masing-masing. Pertama,
pengadilan Allah terhadap manusia yang berdosa diselesaikan lewat kematian
Yesus bagi kaum pendosa. Manusia dibenarkan karena iman dalam Kristus, dengan
menerima kematian-Nya sebagai pengganti dirinya. Pembenaran tidak terjadi lewat
Hukum.
* Pembenaran
datang melalui darah Yesus (3:21-26)
* Karena
itu orang Yahudi tidak dapat membanggakan Hukum Taurat (3:27-31)
* Pembenaran
karena iman diajarkan oleh Kitab Suci, khususnya pada kisah Abraham (4)
* Pembenaran
membawa pendamaian, pemulihan dari keretakan hubungan dengan Allah (5:1-11)
* Seperti
halnya dosa masuk ke seluruh umat manusia lewat satu orang, yaitu Adam;
demikian juga rahmat Allah datang kepada seluruh umat manusia lewat satu orang,
yaitu Yesus. Hukum Taurat hanyalah menambah dosa (5:12-21).
- Solusi
terhadap kedosaan yang merusak manusia (6:1-8:17): Paulus selanjutnya
berbicara mengenai solusi terhadap rusaknya manusia akibat kedosaan. Allah
bukan hanya mengampuni para pendosa dan membiarkan manusia terus berkubang di
dalam kecenderungan pada dosa. Allah bermaksud merubah situasi dan kondisi
manusia agar terbebas dari kecenderungannya pada dosa. Paulus menyebut
kecenderungan tersebut sebagai “kuasa dosa” (hamartia) yang tinggal di dalam
daging dan membelenggu jiwa manusia. Kuasa dosa dihancurkan dengan partisipasi
umat beriman pada wafat dan kebangkitan Yesus lewat baptisan, dengan mati
terhadap dosa tetapi hidup bagi Allah,
dengan menerima Roh Kudus serta mengarahkan pikiran pada hal-hal dari
Roh dan bukan kepada daging.
* Baptis
menyimbolkan partisipasi dalam kematian, penguburan dan kebangkitan Kristus.
Melalui baptisan, manusia beriman mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah (6).
* Jika
seorang suami mati, maka dia tidak lagi berkuasa atas isterinya. Demikian juga
jika orang telah mati terhadap dosa, hukum dosa tidak lagi berkuasa atas
dirinya (7:1-6).
* Hukum
Taurat dan perintahnya adalah kudus dan baik, tetapi ternyata memberi
kesempatan pada kuasa dosa yang tinggal di dalam tubuh manusia untuk menjadikan
akal budi manusia sebagai tawanannya (7:7-25).
* Jika
seorang menerima Roh Kudus, pikirannya dikuasai oleh Roh dan bukan oleh daging
(8:1-17).
* Keselamatan
saat ini akan disempurnakan di masa depan. Tidak ada yang dapat memisahkan umat
beriman dari kasih Allah (8:18-39).
(3) Tempat
Israel di dalam rencana Allah (9-11): Pada bagian kedua ini Paulus menghadapi persoalan yang sama
dengan apa yang dikisahkan dalam Kisah Para Rasul, yaitu penolakan bangsa
Yahudi terhadap pewartaan Injil. Jika Yesus adalah Mesias yang dijanjikan
kepada bangsa Israel, mengapa kebanyakan bangsa Israel menolak-Nya? Pulus
mrnyimpulkan bahwa Allah memang telah mengeraskan hati orang-orang Yahudi
sehingga mereka tidak mau menerima Injil. Mungkin tindakan Allah terkesan tidak
fair. Namun, Paulus beranggapan bahwa Allah pasti punya alasan untuk
mengeraskan hati umat Israel agar kemudian Dia dapat merestorasinya.
- Mengeraskan
hati Israel (9-10): Paulus sedih bahwa bangsanya telah menolak Injil
(9:1-5), namun dia yakin bahwa janji Allah kepada Abraham tidak akan pernah
gagal. Israel sejati menurut Paulus adalah mereka yang menjadi anak-anak
Abraham melalui iman dalam Yesus (9:6-13). Israel yang rohani ini telah
menerima janji-janji tersebut, lebih daripada Israel fisik (bangsa Israel).
Apakah dengan demikian Allah berlaku tidak adil terhadap bangsa Israel? Paulus
berkata “tidak”, karena Allah mempunyai kewenangan untuk menunjukkan kasih
kepada yang dikehendaki-Nya atau sebaliknya mengeraskan hati mereka yang dikehendaki-Nya
(9:14-18). Allah bagaikan tukang periuk yang mempunyai kewenangan untuk membuat
periuk seperti yang dikehendaki-Nya (9:19-29). Agak unik bahwa Paulus kemudian
mengalihkan sebab musabab “pengerasan hati” dari kewenangan Allah menjadi
kesalahan bangsa Yahudi. Manurut Paulus, bangsa Yahudi telah melakukan kesalahan dengan mengandalkan
pembenaran melalui pelaksanaan Hukum Taurat, bukan melalui iman dalam Yesus
Kristus (9:30-10:21).
- Restorasi
Israel (11): Kendati Allah telah mengeraskan hati Israel namun Dia
tidak menolak mereka sebagai umat-Nya (11:1a). Sisa Israel yang dipilih
berdasarkan karunia Allah telah menerima Injil, walaupun sisa yang lain
dikeraskan hatinya (11:1c-10). Selain itu, Israel tersandung bukan agar mereka
jatuh, tetapi agar keselamatan sampai juga kepada bangsa-bangsa lain
(11:11-16). Akan ada pemulihan bagi bangsa Israel. Mereka bagaikan cabang dari
pohon zaitun yang dipotong untuk memberi tempat pada cabang lainnya, yaitu
bangsa-bangsa lain., agar dapat dicankokkan. Orang Kristen non-Yahudi janganlah
membanggakan diri terhadap cabang-cabang yang pada mulanya telah bersatu secara
natural dengan pokoknya, sebab cabang-cabang tersebut masih mungkin dicankokkan
lagi (11:17-24). Rencana Allah adalah kebijaksanaan yang tak terselami bagi
manusia. Pada kenyataannya, rencana Allah yang terakhir merupakan suatu
perwahyuan rahasia bagi Paulus:
”25 Sebab, saudara-saudara, supaya
kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini:
Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari
bangsa-bangsa lain telah masuk. 26 Dengan jalan demikian seluruh Israel akan
diselamatkan, seperti ada tertulis: "Dari Sion akan datang Penebus, Ia
akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. 27 Dan inilah
perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka." 28
Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai
pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang. 29 Sebab Allah
tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya. 30 Sebab sama seperti kamu
dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh
ketidaktaatan mereka, 31 demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh
kemurahan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh kemurahan. 32 Sebab
Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat
menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua.” (11:15-32).
(4) Pengajaran
tentang hidup baru di dalam Kristus (12:1-15:13)
Pada
bagian ini Paulus menggambarkan kehidupan baru yang hendaknya membentuk
karakter seorang yang telah mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah.
- Hidup
yang dipersembahkan dan pembaharuan budi (12:1-2): Paul memulai
penjelasannya dengan merujuk ke tema utama Injil yang diwartakannya, yaitu berkenaan
dengan keselamatan badan dan budi (nous). Tubuh menjadi seuatu
persembahan yang hidup dengan disalibkan terhadap dosa dan dibangkitkan bagi
kehidupan baru dengan Kristus. Budi manusia diperbaharui di dalam Roh dan bukan
di dalam daging.
- Bermacam-macam
pengajaran (12:3-13:14): Paulus memberipengajaran mengenai berbagai aspek
dari kehidupan baru di dalam Kristus. Dia menasieati agar para pembacanya
memiliki kerendahan hati di dalam menjalankan tugasnya sebagai anggota tubuh
Kristus (12:3-8); di dalam mengikuti berbagai nasehat (12:9-21); tunduk pada
pemimpin yang ditunjuk (13:1-7); saling mengasihi (13:8-10); dan hidup sebagai
anak-anak terang (13:11-14).
- Yang
lemah dan yang kuat (14:1-15:13): Paulus memberi perhatian khusus pada
mereka yang dianggap “lemah dalam iman” (14:1), yaitu mereka percaya adanya
makanan tertentu yang dianggap najis dan adanya hari-hari tertentu yang
dianggap khusus. Mereka yang kuat mempunyai pengetahuan yang lebih daripada
yang lemah.Sejumlah ahli menganggap pembedaan berkaitan dengan anggota jemaat
yang berbangsa Yahudi dan non-Yahudi. Rupanya pembedaan itu masih cukup
terasakan di tengah jemaat Galatia, sejauh pemahaman Paulus. Oleh karena itu,
baik anggota yang dianggap lemah maupun yang dianggap kuat hendaknya dapat
hidup bersama. Mereka janganlah menghakimi saudara seiman (14:1-12) atau
membuat menjadi sandungan bagi yang lain (14:13-15:6), tetapi bersedia saling
menerima seperti Kristus menerima mereka semua (15:7-13).
(5) Kesimpulan
(15:14-16:27)
- Rencana
di masa depan
(15:14-33): Paulus mengakhiri suratnya dengan pernyataan yang sifatnya lebih
personal, yaitu menceritakan rencana-rencananya dan meminta doa-doa dari jemaat
di Roma.
- Mengenai
Efesus (16:1-20): Paulus memperkenalkan Febe, seorang diakon wanita dari
Kengkrea (16:1-2). Ada kemungkinan dia adalah seorang wanita yang membawa surat
kepada jemaat di Efesus. Kengkrea adalah sebuah kota dekat Korintus. Paulus
melewatkan musim dingin di wailayah tersebut untuk menulis suratnya. Kemudian
dia memberi salam kepada banyak teman dan rekan kerjanya di Efesus (16:3-16),
mengingatkan mereka untuk melawan pengajaran-pengajaran yang menyeleweng dari
apa yang telah dia ajarkan (16:16:17-20a). dan mengakhirinya dengan berkat
(16:20b).
- Salam
dari para rekan kerjanya (16:21-23):
Berupa salam yang sifatnya umum, dari rekan-rekan sekerjanya. Tampaknya
salam ini lebih tepat dikatakan di dalam surat kepada jemaat di Roma daripada
kepada jemaat di Efesus.
- Doksologi
(16:25-27): Ada kemungkinan doksologi adalah bagian dari surat versi yang
pendek, yang berakhir pada bab 14.
3. SURAT PAULUS KEPADA JEMAAT
KORINTUS
Kita
tidak dapat mengabaikan pentingnya surat Paulus kepada jemaat di Korintus atas
beberapa alasan. Surat Korintus merekam dengan bagus perkembangan jemaat
kristen perdana di wilayah diaspora. Surat-surat ini juga memberikan gambaran
persoalan-persoalan sehari-hari yang dihadapi oleh jemaat perdana dan para
tokoh pendirinya. Selain itu, sebagai tulisan yang berisi pembicaraan antara
rasul dengan jemaatnya tentu menjadi penting sebagai sumber awal pengajaran
kristiani.
A. Kota
Korintus
Kota
Korintus pada abad pertama adalah ibu kota dari propinsi Akhaya, bagian
dari kekaisaran Roma (bdk. 2Kor 1:1)
yang dibangun kembali pada masa pemerintahan Yulius Caesar (44 sM). Kota
Korintus kuno yang dibangun pada tahun 146 sM telah diratakan dengan tanah.
Setelah dibangun kembali, kaisar Roma menempatkan para veteran perang Roma dan
bekas budak-budaknya di Korintus. Penduduk Korintus pada waktu itu diperkirakan
ada 600.000 jiwa, sebagian besar (400.000) adalah budak, buruh, tukang,
pedagang kecil. Kebudayaan yang dominan adalah Yunani bercampur dengan
macam-macam kebudayaan Timur. Jurang kaya-miskin cukup mencolok. Hanya sedikit
saja orang kaya yang sekaligus mempunyai kekuasaan, selebihnya adalah kaum
miskin. Sesuai dengan masayarakatnya yang majemuk, di Korintus berkembang
macam-macam agama dan aliran kepercayaan. Orang-orang Korintus terbuka pada
pengaruh-pengaruh asing.
Pada
zaman Paulus, Korintus merupakan kota perdagangan yang penting dengan dua
pelabuhan yang terkenal yaitu Kengkrea (pantai Timur) dan Lekhaion (pantai
Barat). Posisinya yang menghubungkan laut Aegea dan Adriatik memberi keuntungan
bagi Korintus sebagai lalu lintas perdagangan darat dan laut, juga
menghubungkan jalur Yunani Utara dengan Yunani Selatan. Sebagian terbesar
perdagangan timur-barat di Laut Tengah melintas lewat Korintus. Tidak heran
jika kota Korintus menarik perhatian para pedagang, pelancong dan pelaut dari
wilayah sekitar laut Mediteran (laut Tengah). Penelitian arkeologis menunjukkan
adanya pasar yang besar dengan banyak toko, saluran air panas dan dingin,
sejumlah kuil para dewa (Apolo, Poseidon, Demetrios, Asclepius), sebuah gedung
drama, tempat bermain gimnastik, gedung pengadilan. Penggalian di lokasi
kuil-kuil menunjukkan adanya praktek ibadat perjamuan dan korban dalam agama
Yunani-Romawi di masa lalu. Di temukan juga bekas sinagoga Yahudi yang
membuktikan kehadiran bangsa Yahudi di Korintus (bdk. Kis 18).
Korintus
adalah salah satu kota yang paling bejat di jaman dahulu. Praktek pelacuran
merajalela. Di tempat ketinggian di kota itu berdirilah kenisah untuk dewi
Aphrodite, dengan tak kurang dari seribu imam wanita yang menjalankan pelacuran
sakral. Bersetubuh dengan salah satu dari antara mereka termasuk ibadah atau
perbuatan suci. Karena itu, wanita-wanita kuil itu pada malam hari pergi ke
kota dan melaksanakan perbuatan itu di sana. Menurut sejahrawan bernama Strabo,
ungkapan 'perempuan Korintus' pada waktu itu merupakan ungkapan Yunani
yang sama artinya dengan pelacur. Kata kerja bahasa Yunani korinthiazesthai
berarti menjadi calon pelacur, melacur atau juga menjadi pelacur. Situasi moral
pada umumnya itu rupanya membawa dampak pada jemaat kristen. Kata Corinthian
masuk ke dalam perbendaharaan bahasa lnggris dan diartikan sebagai pemborosan
duit dan pesta pora resmi.
B. Jemaat
Korintus
Informasi
mengenai berdirinya jemaat Korintus hanya sedikit saja ditemukan di dalam PB,
yaitu pada surat 1Kor dan Kisah Rasul. Menurut Kisah rasul, kunjungan Paulus
yang pertama ke Korintus terjadi setelah dia meninggalkan Athena (Kis 18:1-17).
Rekan kerjanya, yaitu Timotius dan Silwanus bergabung bersama dia di Korintus.
Di sana dia juga menjumpai Priska dan Akwila, suami-isteri Yahudi, yang
melarikan diri dari Roma karena pengusiran yang dilakukan oleh Claudius
terhadap bangsa Yahudi. Ketika tiba di Korintus, Paulus bekerja bersama
Priskila dan Akwila (Kis 18:1-3; 1Kor 16:19) sebagai pembuat tenda. Setelah
berdebat di sinagoga (Kis 18:4), Paulus mewartakan Injil di kalangan bangsa
lain, tinggal bersama Titius Yustus (Kis 18:7). Pada waktu itu Paulus membaptis
Krispus, seorang kepala sinagoga (Kis 18:8; 1Kor 1:14); Sostenes (1Kor 1:1);
ada kemungkinan juga kepala sinagoga yang dikisahkan pada Kis 18:17; Erastus,
seorang bendahara kota (Rm 16:23).
Keluarga
Stefanus (1Kor 1:16; 16:15) dan Kloe (1:11) juga dipertobatkan oleh Paulus dan
kemudian menjadi anggota jemaat lokal. Nama-nama lain yang disebut sebagai
anggota jemaat Korintus tertulis dalam 1Kor 16:17 (Fortunatus dan Akhaikus), Rm
16 (Yason, Lucius, Febe, Tertius, Quartus, Sosipater). Kebanyakan dari mereka
memakai nama Romawi dan dapat diduga berasal dari kalangan atas dalam
masyarakat (bdk. 1Kor 10:27; 11:17-34). Meskipun begitu, kebanyakan dari jemaat
Korintus berasal dari kalangan bawah (1Kor 1:26-29).
Jemaat
di Korintus, seperti jemaat kristiani di wilayah lain, memanfaatkan rumah
keluarga sebagai tempat beribadat (gereja rumah, Rm 16:23; 1Kor 16:29).
Kemungkinannya rumah yang dipakai adalah milik anggota jemaat yang kaya, yang
biasanya mempunyai rumah cukup besar. Dalam 1Kor kesan tentang adanya
gereja-rumah ini tampak pada saat
perjamuan Agape yang biasa mengawali Perjamuan Tuhan (1Kor 11:17-34).
Keanekaragaman anggota jemaat tampak ketika terjadi ketegangan antara kelas
atas dan kelas bawah, anggota yang kuat dan yang lemah, Yahudi dan non-Yahudi,
penggunaan karunia-karunia rohani (1Kor 12-14). Sikap dalam menghadapi agama/
kepercayaan lain diperlihatkan pada nasihat Paulus tentang kasus makan makanan
yang disediakan bagi dewa-dewi (1Kor 8; 10:14-11:1). Rupanya Paulus menganggap
sesuatu yang serius adanya kecenderungan di dalam jemaat Korintus membedakan
golongan-golongan di antara mereka menurut
siapa yang mereka ikuti (Apolos, Kefas, Paulus, bahkan Kristus; bdk.
1Kor 1:10-15).
Dari
surat-surat Paulus dapat ditafsirkan bahwa kebanyakan anggota jemaat di
Korintus berasal dari kalangan non-Yahudi (bdk. 1Kor 12:2). Meskipun ada juga
sejumlah orang Yahudi, tetapi pengaruh mereka tidak besar (1Kor 7:18; bdk Kis
18:4). Sejumlah orang Kristen kaya berasal dari kalangan atas (1Kor 11:21-22)
yang menyediakan rumahnya yang besar untuk menampung seluruh jemaat pada
kesempatan pesta. Agaknya Paulus pernah memberitakan Injil di Korintus sekitar
tahun 41 M, ketika ia belum lama menjadi Kristen (th 33 M). Ia memberitakan
Injil sekaligus mendirikan jemaat di Korintus (bdk 1Kor 3:8; 4:15). Sekitar
tahun 51 M barulah Paulus kembali ke Korintus dalam jangka waktu yang agak
lama. Selama sepuluh tahun (th 41-51) jemaat Korintus menempuh perkembangan
sendiri tanpa pengawasan Paulus. Rupanya Paulus belum berpikir untuk mendirikan
sebuah jemaat yang harus mampu mengatur diri.
Garis
besar sejarah jemaat Korintus diberikan dalam Kis 18. Sekitar th 51 M Paulus
bergerak sendirian, dari Makedonia melalui daerah Atena lalu ke Korintus. Ia
tinggal bersama satu keluarga Yahudi, Akwila dan Priskila, yang barangkali
telah menjadi Kristen dan belum lama diusir dari Roma. Jadi jemaat Korintus
yang pertama lahir di rumah tangga Akwila. Paulus punya kebiasaan berkotbah di
sinagoga tentang Yesus sebagai Mesias, untuk mempertobatkan orang Yahudi dan
masyarakat non-Yahudi (proselit). Suatu tambahan tenaga bagi golongan Kristen
diperoleh berkat kedatangan Silas dan Timotius, dengan berita baik dari
Makedonia (bdk 1Tes 3:16). Keadaan ini menambah kekuatan baru pada pemberitaan
Paulus. Timbullah perlawanan yang kuat dari masyarakat Yahudi, yang
mengakibatkan Paulus terpisah dari kelompok sinagoga.
Sejak
itu pelayanan Paulus di Korintus terutama ditujukan kepada masyarakat
non-Yahudi. Pusat kegiatan Paulus yang pertama berdampingan dengan sinagoga
Yahudi, yaitu di rumah seorang non-Yahudi yang bernama Titius Yustus. Agaknya,
seperti yang terjadi di tempat-tempat lain, masyarakat non-Yahudi yang takut
akan Allah (proselit) sebagai satu keseluruhan terbuka menerima Injil. Demikian
juga halnya dengan beberapa orang Yahudi asli, termasuk pejabat tinggi sinagoga
bernama Krispus (bdk 1Kor 1:14), yang agaknya diikuti oleh teman sekerjanya
atau penggantinya yang bernama Sostenes. Pada suatu kali orang-orang Yahudi
menghadapkan Paulus di meja pengadilan wali negeri, akan tetapi Galio memutuskan bahwa perselisihan itu di
luar kekuasaan hukumnya. Dengan begitu untuk sementara waktu tidak ada yang
perlu ditakuti dari penguasa sipil maupun orang Yahudi.
Menurut
Kis 18:11, Paulus berada di Korintus lebih lama dari biasanya, yaitu hingga 18
bulan. Dia kemudian meninggalkan Korintus dengan membawa Akwila dan Priskila bersamanya. Di Efesus
kedua orang ini sangat berperan membantu seorang pewarta Kristen lainnya, yaitu
Apolos. Paulus kemudian meninggalkan Akwila dan Priskila di Efesus, dan kembali
ke Antiokhia. Sementara Paulus tidak di Korintus, datanglah seorang pewarta
bernama Apolos. Rupanya karya Apostolos did Korintus amat bagus, sehingga dia
memperoleh banyak pengikut. Dalam Kis 18:24-28 dikatakan bahwa Apolos adalah
seorang Yahudi-Kristen yang berasal dari Alexandria, pusat studi helenisme dan
kebijaksanaan Timur dekat. Beberapa pembicaraan Paulus tentang kebijaksanaan
manusiawi dan ilahi dapat ditafsirkan sebagai ajaran yang sifatnya mengoreksi
orang-orang Korintus yang tertarik pada Apolos karena keahliannya berbicara,
pengetahuannya mengenai helenisme dan kebijaksanaan kuno. Kendati begitu,
tampak bahwa Paulus menghargai pelayanan misi yang dilakukan oleh Apolos (1Kor
3:5-9.21-23; 16:21), seperti dikatakannya pada 1Kor 3:6: “Aku menanam,
Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.”
Apolos
melihat adanya pertobatan ditengah-tengah masyarakat Yahudi (Kis 18:28). Banyak
pengajar lain yang mengikutinya. Selain itu ada kelompok Kefas di Korintus
(1Kor l:12). Tidak harus diartikan bahwa rasul Petrus atau Kefas sendiri telah
mengunjungi Korintus, tapi mungkin kelompok itu dibentuk oleh pengajar-pengajar
Yahudi dari jemaat-jemaat yang lebih tua. Memang, rasul-rasul palsu yang begitu
keras ditentang dalam 2 Kor 11 ialah orang-orang Yahudi (bdk ay 22). Korintus
tidak kekurangan “pendidik dalam Kristus” (l Kor 4: 15).
Paulus
mengatakan bahwa jemaat Korintus kaya dalam segala hal (1 Kor 1:5 dst). Mereka
sangat gembira atas karunia-karunia yang menakjubkan, khususnya berbahasa
lidah, dan memperkenankan orang menggemarinya tanpa batas (1 Kor 12; 13:1.8;
14:2 dst). Sikap ini rupanya telah memberi angin kepada penggolongan,
kecongkakan, kepuasan diri yang menimbulkan kekacauan.
C. Berapakah surat yang dikirim
Paulus kepada jemaat di Korintus?
Kedua
surat kepada jemaat di Korintus yang kita punya ditulis oleh Paulus ketika ia
berada di Efesus. Dari tahun 49-51 Paulus tinggal di Efesus dan kemudian ia
mendengar kabar tentang jemaat di Korintus beserta permasalahannya. Kabar-kabar
tersebut tidak terlalu menggembirakan, antara lain soal percabulan yang
dianggap oleh jemaat Korintus sebagai perkara sepele. Oleh karena itu sekitar
th 49 Paulus mengirim surat kepada jemaat di Korintus untuk membicarakan soal
itu dan sejumlah soal lainnya (bdk 1Kor 5:9-11). Surat ini tidak tersimpan
dalam kanon PB. Mungkin surat tersebut kurang ditanggapi dengan baik oleh
jemaat. Oleh karena itu dalam 1Kor 6:2-20 soal itu dibicarakan lagi oleh
Paulus. Ada kemungkinan jemaat Korintus menanggapi surat itu dan mengirimnya
kepada Paulus di Efesus. Surat tersebut berisi sejumlah perkara yang merepotkan
jemaat (1Kor 7:1). Mengenai perkara tersebut, sebenarnya Paulus juga sudah
mendengarnya dari keluarga Klöe (1Kor 1:11). Paulus kemudian menulis sepucuk
surat lagi sebagai tanggapannya. Surat Paulus inilah yang kita punyai dalam
kanon PB sebagai surat pertama kepada jemaat di Korintus. Ketika surat tersebut
masih di perjalanan, Paulus mengutus Timotius ke Korintus (1Kor 4:17) karena
khawatir jemaat tidak menanggapi dengan baik suratnya dan Timotius diperlakukan
tidak baik (1Kor 16:10-11). Paulus kemudian masih mengutus Titus dan orang lain
untuk mengumpulkan kolekte bagi jemaat induk di Yerusalem (2Kor 12:17-18; 8:6).
Paulus berencana untuk pergi ke Korintus melewati Makedonia (1Kor 16:5-9).
Sementara
itu muncul sejumlah pengacau di Korintus yang menghasut jemaat agar melawan
Paulus (2Kor 11:22-23). Hasutan itu berhasil, dan entah bagaimana Paulus
mengetahui gerakan yang terjadi di Korintus itu. Oleh karena itu segera Paulus
menyebang dari Efesus ke Korintus (bdk 2Kor 2:1; 12:14; 13:1). Sejumlah umat
Korintus tidak menerima Paulus dengan baik, bahkan ada yang menghina Paulus
(2Kor 2:5; 7:12). Paulus kemudian kembali ke Efesus lagi dan menulis surat yang
ketiga, yang isinya lebih keras dan tegas. Mengenai surat tersebut kita dapat
membacanya pada 2 Kor 2:3-4. Surat ketiga ini rupanya tidak tersimpan. Paulus
bermaksud sekali lagi pergi ke Korintus (2Kor 1:16), namun terpaksa perjalanan
itu ditunda. Sesudah itu ia berangkat menuju Makedonia dan ditunggu oleh Titus
di sana (2Kor 2:12-13; 7:5). Yang membawa surat ketiga tersebut ke Korintus
adalah Titus. Berita terakhir dari Titus tentang orang Korintus rupanya menyenangkan Paulus (2Kor 7:6-7,
13-16).
Di
Makedonia, Paulus menulis surat yang keempat sekitar tahun 51. Sesudah itu
Paulus pergi ke Korintus dan tinggal di sana selama kurang lebih 2 tahun. Surat
Paulus yang keempat inilah yang kita kenal dalam kanon PB sebagai surat Paulus
yang kedua kepada jemaat di Korintus. Dengan begitu sedikitnya ada 4 surat yang
ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Korintus. Berkat dua surat yang tersimpan
di dalam kanon PB (1-2 Kor), kita dapat memperoleh sejumlah informasi mengenai
kekristenan pada pertengahan abad pertama Masehi di dunia Yunani-Romawi. Kedua
surat itu juga memberi kita wawasan tentang pribadi Paulus, termasuk pikiran
dan refleksinya mengenai Yesus Kristus dan karya-Nya serta tentang Gereja Yesus
Kristus.
Inilah
salah satu pendapat mengenai jumlah surat Paulus kepada jemaat di Korintus.
Yang jelas, secara kanonik saat ini hanya ada 2 surat Paulus kepada jemaat di
Korintus. Masing-masing surat berisi tanggapan Paulus terhadap persoalan yang
dihadapi jemaat Korintus. Misalnya, dalam surat 1Kor dia menanggapi satu per
satu persoalan tersebut dengan ungkapan “sekarang tentang” atau “tentang”; Yun: Peri. de. (peri de).
7:1 - “Dan
sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku...”
7:25:
- “Sekarang
tentang para gadis....”
8:1:
- “Tentang
daging persembahan berhala...”
12:1:
- “Sekarang
tentang karunia-karunia Roh. Aku mau...”
16:1
- “Tentang
pengumpulan uang bagi orang-orang kudus..”
12 - “Tentang
saudara Apolos”
Ungkapan
yang biasa dipakai untuk memulai topik pembicaraan tersebut menunjukkan awal
dari tanggapan Paulus terhadap surat-surat yang dikirim oleh jemaat Korintus
kepadanya. Namun, beberapa topik pembahasan ternyata tidak memakai formula
tersebut di atas. Topik-topik tersebut misalnya berkaitan dengan perpecahan di
dalam Gereja (1:10-4:21), percabulan (5:1-6:20), menahan diri dari keinginan
jahat (9:24-10:13), penyembahan berhala (10:14-22), menghina perjamuan Tuhan
(11:1.17-34), tentang penyangkalan terhadap kebangkitan (15:1-58). Selain itu
masih ada dua tema berkaitan dengan peranan kaum perempuan dalam Gereja (1Kor
11:3-16; 14:33b-38).
D. SURAT
PAULUS YANG PERTAMA KEPADA JEMAAT DI KORINTUS
1. Struktur retorik surat 1Korintus
Bagian I: Pembelaan diri Paulus
terhadap otoritasnya
1. Epistolary
prescript (1:1-3)
Pengirim dan jemaat yang dituju 1:1-2
Salam 1:3
2. Ucapan
syukur 1:4-9
3. Propositio 1:10
4. Narratio 1:11-13
5. Refutatio 1:14-17
6. Topik-topik
yang dibicarakan (1:18-2:5)
A. Hikmat Allah dan hikmat manusia 1:18-30
B. Relasi Paulus dengan jemaat Korintus 2:1-5
7. Argumentatio
dan pengembangan topik (2:6-4:21)
A. Hikmat
yang benar menurut Paulus 2:6-3:4
B. Tugas Paulus dan para hamba Kristus 3:5-23
C. Relasi-relasi Paulus dengan Gereja-gereja
Korintus 4:1-13
8. Peroratio
(rekapitulasi argumen) 4:14-21
Bagian II: Tanggapan Paulus terhadap
persoalan-persoalan jemaat Korintus
9. Persoalan
tentang imoralitas dan perselisihan (5-6)
A. Kasus khusus dalam imoralitas seksual 5:1-8
B. Referensi
surat sebelumnya 5:9-13
C. Perselisihan di antara sesama saudara 6:1-4
D. Nasehat melawan percabulan 6:12-20
10. Jawaban
atas surat berisi pertanyaan dari jemaat Korintus kepada Paulus (7:1-16:4)
A. Selibat
dan perkawinan 7:1-40
B. Makanan persembahan kepada berhala (8:1-11:1)
a. Topik
tentang persembahan kepada berhala 8
b. Kehidupan Paulus sebagai teladan 9
c. Pengembangan topik tentang berhala- 10:1-11:1
C. Persoalan
tentang kerudung wanita dalam ibadat 11:2-16
D. Persoalan
tentang Perjamuan Tuhan 11:17-34
E. Karunia
spiritual kepada jemaat (12:1-14:40)
a. Kasih
sebagai sikap dasariah Gereja 13
b. Karunia bernubuat dan menafsirkan 14:1-40
F. Kebangkitan
Kristus dan dan kebangkitan kita 15
G. Kolekte
bagi jemaat di Yerusalem 16:1-4
11. Epistolary
postscript - conclusio (16:5-24)
A. Rencana
misi dan perjalanan Paulus 16:5-9
B. Peroratio
(rekapitulasi argumen) 16:10-18
C. Salam 16:19-24
Struktur
retorik ini mengandaikan kedekatan hubungan antara pembelaan diri Paulus
(1:10-4:21; 9) dan nasihat kepada jemaat
(5-16, kecuali 9). Paulus pertama-tama ingin membangun dan meneguhkan kembali
wibawa kerasulannya sebelum menasihati jemaat berkenaan dengan
persoalan-persoalan yang mereka hadapi.Surat 1Kor menyajikan hal-hal penting
berkaitan dengan permasalahan sehari-hari dalam jemaat. Di dalamnya kita
temukan juga sejumlah tradisi awal, misalnya: kerygma primitif dari iman
kristen (15:3-7), perjamuan Tuhan (11:23-25), pandangan apokaliptis (7:29-31;
15:24-28). Dalam 1Kor 16 dikatakan juga ajaran tentang persekutuan antar Gereja,
yaitu pengumpulan bantuan bagi jemaat Yerusalem seperti yang disinggung dalam
2Kor 8-9 dan Rm 16.
Retorika
dari Paulus kita kenal dari sejumlah gaya bicaranya: mengajukan premis dan
memberi kesimpulan, memperluas sebuah topik pembicaraan, kiasan dan metafor,
seruan dan himbauan, perbandingan dan kontras, pertanyaan retorik, peroratio
(epilog berupa kesimpulan dari pokok-pokok pembicaraan yang penting).
2. Masalah-masalah yang dibicarakan:
1. Perpecahan
di dalam jemaat (lKor 1:10-11; 3:3-15)
Gereja Korintus terpecah ke dalam
beberapa golongan, masing-masing menyebut pemimpin mereka. Ada yang mengatakan
bahwa Apolos pemimpin mereka, yang lain Petrus, yang lain lagi Paulus. Apolos
dianggap sebagai seorang pewarta Injil yang berpengetahuan dan pandai bicara,
berasal dari Aleksandria (Kis 18:24). Orang-orang Korintus yang mengakui dia
sebagai pemimpin pasti juga dari kalangan cendekiawan. Ada pula tradisi yang
mengatakan bahwa Petrus pernah ke Korintus. Mereka yang mengakui Petrus sebagai
pemimpin rupanya orang-orang yang dulu bertobat karena pewartaan Petrus
(Kefas). Tidak ada cukup bukti tentang kunjungan Kefas (Petrus) ke Krointus.
Yang mengakui Paulus sebagai pemimpin tentulah anggota jemaat dari kalangan
Kristen liberal. Dalam 1Kor 3:6-9 Paulus
berkata: “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi
pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram,
melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. Baik yang menanam maupun yang
menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan
pekerjaannya sendiri. Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah
ladang Allah, bangunan Allah.”
Sedangkan dalan 1Kor 1:12-13
dikatakan: “Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku
dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan
Kefas. Atau aku dari golongan Kristus. Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah
Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?”
Paulus ingin mengatakan bahwa di dalam Kristus semua anggota jemaat adalah
satu. Kita semua milik Kristus.
2. Keangkuhan
intelektual (lKor 1:17.20-25; 2:1-5.10-16; 3:18-23).
Paulus mewartakan Injil di Korintus
setelah meninggalkan Atena (Kis 18:1). Dia Atena, tepatnya di hadapan sidang
Areopagus, Paulus menyampaikan kotbah filosofis mengenai kebesaran Allah dan
eksistensi manusia. Namun, dia gagal mempertobatkan Paulus sidang Areopagus
ketika berbicara mengenai kebangkitan orang mati (Kis 17:22-34). Bukan mustahil
bahwa pengalaman kegagalan itu membuat Paulus berbicara mengenai hikmat Allah
yang dianggap sebagai batu sandungan bagi orang Yahudi, kebodohan bagi orang
Yunani yang lebih suka mencari hikmat (1Kor 1:19-25). Oleh karena itu di
Korintus Paulus sudah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa yang lain
selain Yesus Kristus, yaitu Yesus Kristus yang disalibkan (1Kor 2:2). Di
Korintus Paulus lebih suka berbicara tentang wahyu Allah dalam diri Yesus
Kristus, daripada tentang akal budi manusia.
3. Dosa
percabulan (1Kor 5)
Paulus menanggapi juga soal
percabulan, antara lain tentang seorang laki-laki yang kawin dengan ibu tirinya
(isteri ayahnya), tetapi tidak ada reaksi dari jemaat. Telah dikatakan bahwa
kemurnian betul-betul satu kebajikan Kristen yang baru, yang dibawa ke dalam
dunia. Orang-orang Kristen Korintus harus dapat memberi kesaksian suatu
kehidupan bermoral di tengah masyarakat Korintus. Jangan sampai iman mereka
yang belum lama mereka hayati itu dicemarkan. Paulus dalam hal ini berbicara
mengenai percabulan yang terjadi di dalam jemaat, bukan percabulan di
masyarakat Korintus umumnya. Hendaknya jemaat jangan bergaul dengan kaum cabul
tanpa harus menghakimi mereka. Biarlah Allah sendiri yang menjadi hakim atas
mereka.
4. Masalah
penyelesaian perkara (1Kor 6:1-8)
Paulus keberatan jika persoalan yang
terjadi di antara anggota jemaat sampai dibawa ke pengadilan. Hendaknya jemaat
hidup dalam damai. Jika ada persoalan, hendaknya diselesaikan dengan semangat
damai di antara anggota jemaat sendiri. Ada kemungkinan bahwa persoalan yang
diselesaikan di dalam jemaat dengan semangat damai dan pengampunan tidak akan
ada ganti rugi. Paulus tahu itu semua, tetapi bagi Paulus semangat tidak mau
rugi itu bukanlah dasar yang baik untuk suatu persaudaraan dalam iman. Dalam
1Kor 6:7 Paulus mengatakan: “Adanya saja perkara di antara kamu yang seorang
terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu. Mengapa kamu tidak
lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapakah kamu tidak lebih suka dirugikan?”
5. Tubuh
dan jiwa (1Kor 6:9-20)
Di kalangan orang Yunani ada titik
tolak pandangan yang mengatakan bahwa materi pada dasarnya jahat. Menurut
Plato: “Tubuh adalah penjara bagi jiwa”. Epitectus mengatakan: “Saya adalah
jiwa yang malang, dibelenggu menjadi mayat”. Seneca berbicara tentang,
“kebiasaan-kebiasaan tubuh yang menjijikkan”. Menurut Paulus, manusia bukanlah
jiwa atau badan, tetapi jiwa dan badan. Keduanya telah ditebus oleh Kristus,
menjadi milik Allah dan menjadi tempat kediaman Roh. Jiwa dan badan, keduanya
adalah milik Kristus. Di dalam 1Kor 6:19-20 Paulus berkata: “Tidak tahukah
kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus
yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab
kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah
Allah dengan tubuhmu!”
6. Perkawinan
dan hubungan seksual (1Kor 7)
Apa yang kita bicarakan dalam
nomor-nomor terdahulu, merupakan jawaban Paulus atas soal-soal dan informasi
yang dibawa oleh anggota keluarga Klöe. Soal perkawinan dan hidup seksual rupanya
ditanyakan lewat surat yang ditulis Korintus sendiri, seperti dikatakan oleh
Paulus pada 1Kor 7:1: “Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan
kepadaku.” Paulus memberi konteks ajarannya berkaitan dengan saat parousia
yang sudah dekat. Waktu terlalu singkat
(1Kor 7:19), sehingga orang harus menyesuaikan kehidupannya dengan
situasi dan kondisi tersebut. Dalam kondisi “waktu yang singkat” ini,
perkawinan dapat dilakukan jika orang memang sudah tidak tahan bertarak. Kedatangan Kristus yang kedua dapat terjadi
setiap saat, dan ia menghendaki seluruh perhatian diarahkan pada saat
kedatangan Kristus yang kedua ini (lKor 7:32-35). Bukannya perkawinan itu tidak
penting, tetapi hendaknya orang lebih memusatkan perkara Tuhan dan
mengesampingkan perkara-perkara duniawi. Mengenai perkawinan, pendapat Paulus
tertuang dalam Ef 5:22-33, di mana hubungan suami isteri digambarkan seperti
Kristus dengan GerejaNya.
7. Daging
persembahan berhala (lKor 8-10)
Seperti kebiasaan korban syukur atau
korban nazar di kalangan Yahudi, tidak seluruh daging korban dibakar. Ada
bagian tertentu dari daging kurban yang diambil untuk dibakar di altar, bagian
lainnya untuk umat dan untuk imam. Umat membuat pesta dengan bagiannya itu.
Rupanya pesta di yang sama biasa terjadi di dalam kuil-kuil kafir. Mungkin
bagian yang diperuntukkan para imam itu terlalu banyak (jika banyak orang yang
mempersembahkan korban), akibatnya banyak daging korban yang dijual di pasar.
Karena daging korban itu merupakan bagian dari upacara kafir, ada yang menolak
untuk membeli dan memakannya. Akan tetapi, jika ada orang yang menolak makan
daging persembahan itu akan muncul anggapan bahwa dia mau memutuskan sama
sekali hubungannya dari keakraban sosial. Menurut Paulus, tangan yang telah
menyentuh Tubuh Kristus dalam Sakramen tak boleh menyentuh daging persembahan
berhala. Seorang yang beriman kuat mungkin berpikir bahwa hal itu tidak
apa-apa; tetapi soalnya akan lain bagi mereka yang lemah hati? Dan demi mereka
yang lemah itulah, orang-orang yang kuat harus mengalah. Jika orang nekad
memakan daging persembahan kepada berhala, dia membuat dosa sandungan. Dalam
hal ini, Paulus mengambil sikap: “Apabila makanan menjadi batu sandungan
bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi,
supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku” (1Kor 8:13).
8. Wanita
dalam Gereja (1Kor 11:2 -16; 14:34-36)
Ada permasalahan mengenai wanita di
dalam ibadat. Apakah mereka harus memakai kerudung atau tidak? Di zaman dahulu,
jika seorang wanita pakai kerudung, tak seorangpun yang boleh berbicara
dengannya, atau mengganggunya. Kalau ia berjalan tanpa kerudung, wanita itu
sebenarnya menyatakan dirinya sebagai wanita bebas, dan setiap pria dapat
mendekatinya. Wanita Yunani dari keluarga terhormat biasa menyembunyikan
dirinya dari kehidupan umum. Kalau ada pria asing di rumah, ia tidak akan duduk
bersama di meja makan. Menurut hukum Yahudi, wanita dianggap mempunyai hak yang
terbatas, bahkan mendapat pendidikan pun tidak. Agama Kristen sebenarnya sudah menghapuskan
aturan yang terkesan membedakan hak antara pria dan wanita itu, apalagi ada
kecenderungan untuk merendahkan atau membatasi kebebasan pihak wanita.Wanita
Kristen di kalangan jemaat Korintus rupanya mau menuntut kebebasan di tengah
jemaat kristen tersebut, antara lain dengan tidak memakai kerudung. Paulus
tidak mau memberi ketegasan mutlak dalam hal ini, tetapi menyerahkannya pada
pertimbangan jemaat: “Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa
kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?” (1Kor 11:13). Paulus
hanya menyerahkannya pada kebijaksanaan setempat. Namun dia mengatakan kepada
jemaat Korintus bahwa baginya dan bagi jemaat pada umumnya, tidak ada kebiasaan
wanita yang beribadat tanpa memakai kerudung. Mungkin soal ini lebih berkaitan
dengan kesopanan dan kebiasaan dalam jemaat, daripada persoalan teologis.
9. Masalah
Perjamuan Tuhan (1Kor 11:17-34)
Pada saat surat ini ditulis,
Perjamuan Tuhan merupakan satu bagian dari perjamuan bersama yang disebut
Perjamuan Cintakasih (Agape). Perjamuan ini seharusnya merupakan satu kegiatan
persaudaraan yang sejati. Sebaliknya, pada waktu itu orang kaya makan kelewat
kenyang, orang miskin tetap lapar, dan rasa persaudaraan jadi mandul (1Kor
11:18-22). Akibatnya tampak sekali adanya kesenjangan kaya-miskin. Mengingat
perjamuan agape merupakan bagian dari perjamuan Tuhan, maka hendaknya orang
melaksanakannya dengan cara yang layak.
l0. Masalah Anugerah Roh (1Kor 12-14)
Gereja bagaikan satu tubuh, kata
Paulus. Ada banyak macam anggota tubuh manusia, masing-maing berbeda dalam
fungsi, tetapi saling melengkapi. Jemaat hendaknya memperhitungkan perbedaan
fungsi di antara anggota Gereja sebagai kesempatan untuk saling melengkapi, dan
bukan dijadikan alasan untuk bersaing dan saling merasa diri lebih dari yang
lain. Ada bermacam-macam anugerah di dalam Gereja: bernubuat, berkata-kata
dengan hikmat, mengadakan mujizat, berbhasa roh, menafsirkan bahasa roh. Namun,
Paulus berkata bahwa: “Semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang
sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti
yang dikehendaki-Nya. Karena sama
seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu,
sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus” (1Kor
12:11-12).
11. Kebangkitan badan (IKor 15)
Yang menjadi soal bukan bahwa jiwa
tak dapat mati (immortalitas jiwa), karena orang Yunani juga percaya akan hal
ini, tetapi tentang kebangkitan badan.Yang ingin ditandaskan oleh Paulus ialah
bahwa manusia diselamatkan baik jiwa maupun badannya. Pribadi atau
orang-perorangan tetap ada, namun tubuh yang bangkit tidak lagi akan menyerupai
tubuh sekarang ini (1Kor 15:35-50). Bagaimana persisnya tubuh yang baru sesudah
kebangkitan itu? Semuanya kita serahkan kepada kebijaksanaan Allah.
3. Sejumlah
tema pengajaran Paulus dalam surat 1Korintus
1. Hidup
di dalam Kristus (1 Kor. 1:10-4:21)
Untuk menyelesaikan persoalan tentang
keretakan di dalam jemaat, Paulus mengajak jemaat merenungkan peristiwa
Kristus. Ketika Paulus pertama kali mengunjungi Korintus, Paulus menyatakan
bahwa salib Kristus dan kebangkitan-Nya adalah "paling utama" dalam
usaha mengerti iman Kristen (1 Kor. 15:3-7; 1:18-25). Ini merupakan
satu-satunya dasar bagi orang-orang dari bermacam-macam kebudayaan untuk dapat
dipersatukan kembali. Jika Paulus, Apolos atau Kefas melakukan pewartaan dalam
nama mereka sendiri, tidak akan ada artinya. Jadi Paulus mengulangi berita
pokoknya sebagai jawaban terhadap masalah-masalah di jemaat Korintus:
"Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada
dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus" (1 Kor. 3:11). Setelah
menjelaskan titik-tolaknya sendiri, Paulus melanjutkan dengan meninjau beberapa
masalah khusus di jemaat Korintus; masalah-masalah yang berkaitan dengan sikap
mereka terhadap kebiasaan-kebiasaan bukan-Kristen, dan sikap mereka satu
terhadap yang lainnya di dalam pertemuan-pertemuan jemaat.
2. Hidup
di dalam dunia (1 Kor. 5:1-11:1) .
Walaupun orang-orang Kristen
menikmati hak-hak istimewa yang baru di dalam Kristus, pada kenyataannya mereka
masih harus hidup di dalam dunia bukan-Kristen. Paulus menyebut tiga perkara
khusus yang telah disampaikan jemaat Korintus kepadanya:
- Kebejatan
moral: Salah satu hal yang benar-benar membuatnya khawatir adalah laporan
tentang adanya percabulan di antara jemaat (1 Kor. 5:1). Paulus bukanlah tipe
orang yang akan mengambil tindakan keras terhadap orang-orang yang tidak setuju
dengannya. Namun perilaku seperti ini begitu buruk, sehingga Paulus merasa
tidak mempunyai alternatif selain menyuruh anggota-anggota jemaat agar tidak
berhubungan dengan orang yang bersangkutan sampai ia bertobat dari dosanya. Ia
berkata kepada mereka: "Bilamana kita berkumpul dalam roh, kamu
bersama-sama dengan aku, dengan kuasa Yesus, Tuhan kita, orang itu harus kita
serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar
rohnya diselamatkan pada hari Tuhan" (1 Kor. 5:4-5). Beberapa bagian dari
perintah ini sulit kita mengerti. Tetapi pokok utamanya jelas, dosa jenis ini
begitu berat sehingga harus dibinasakan. Orang yang bersangkutan harus keluar
dari persekutuan Kristen - dan masa depan rohaninya yang terakhir bukan lagi
urusan jemaat setempat tetapi akan diungkapkan "pada hari Tuhan".
- Kemerdekaan: Sekali lagi Paulus
menekankan bahwa kemerdekaan dalam Kristus tidak berarti kebebasan untuk
berbuat cabul (1 Kor. 6:12-20). Orang-orang Kristen tidak bebas untuk berbuat
sesuka hatinya, melainkan bebas untuk melayani Allah, sebab mereka milik-Nya
(ayat 19-20).
- Perkawinan
: Salah satu pertanyaan yang diajukan orang-orang Korintus kepada Paulus juga
berkaitan dengan perkawinan dan perceraian (1 Kor. 7:1-40). Di dalam
menjawabnya, Paulus mengizinkan orang Kristen untuk menikah (ayat 1-9),
walaupun ia sendiri tidak menikah dan “alangkah baiknya, kalau semua orang
seperti aku” (ayat 7). Ia melarang perceraian (ayat 10-11), kecuali bila
seorang pasangan kafir meninggalkan seorang Kristen (ayat 12-16). Ia
menganjurkan supaya orang-orang Kristen di Korintus tetap tinggal dalam
keadaannya yang sekarang, apakah keadaan menikah atau tidak menikah (ayat
17-24), walaupun ia menyatakan keadaan tidak menikah sebagai keadaan yang lebih
baik (ayat 25-40).
3. Orang
Kristen berhadapan dengan hukum masyarakat:
Hal lain yang merisaukan Paulus
adalah begitu mudahnya orang Kristen Korintus membawa persoalan yang terjadi di
antara mereka ke pengadilan. Paulus mengutuk kelakuan ini dengan tegas.
Pertama-tama, tidak masuk akal bahwa orang Kristen, yang menyatakan mereka
bersekutu sebagai saudara, harus pergi ke pengadilan kafir. Kalau terjadi
pertengkaran di dalam sebuah keluarga, tidak perlu pergi ke pengadilan, karena
pasti ada anggota persekutuan jemaat yang mampu menyelesaikan perkaranya (1Kor.
6:1-6). Adanya pertengkaran-pertengkaran sangat merisaukan Paulus.
4. Paulus
membahas persoalan makan daging haram (1Korintus 8:1-11:1):
Ada empat pokok berkaitan dengan
persoalan ini:
- Orang
Kristen bebas makan makanan yang dipersembahkan kepada dewa-dewa kafir, oleh
karena dewa-dewa tersebut toh tidak ada. Tetapi orang Kristen yang mengerti hal
ini harus juga mempunyai kepedulian terhadap orang~orang yang mempunyai
pandangan lain. Jadi orang Kristen yang “berpengetahuan” kadang-kadang harus
rela melepaskan kebebasannya untuk makan makanan yang dibeli dari kuil-kuil
kafir demi tenggang rasa bagi orang lain (1 Kor. 8:1-13).
- Paulus
sendiri pernah melakukan konsesi seperti ini dalam bidang lain. Sebagai rasul
Allah, Paulus berhak ditunjang oleh umat Allah: “Tuhan telah menetapkan, bahwa
mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu” (1Kor.
9:14). Paulus melepaskan haknya untuk ditunjang dengan cara itu, dan melakukan
disiplin diri sendiri (1Kor. 9:1-27). Ia bersedia menempatkan dirinya di bawah
pembatasan-pembatasan agar beritanya dapat diterima oleh berbagai macam orang:
"Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba
dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang"
(ayat 19).
- Orang-orang
Kristen juga harus sadar ada bahaya nyata bila ikut serta dalam pesta-pesta
kafir (1Kor 10:1-22). Beberapa orang Kristen di Korintus beranggapan bahwa
sakramen-sakramen memberikan semacam kekebalan magis terhadap upacara-upacara
agama kafir, sehingga mereka dapat ikut serta dalam upacara kafir tersebut
tanpa benar-benar terlibat secara rohani. Paulus menunjukkan dari sejarah
bangsa Israel bahwa hal itu tidak benar. Tidak mungkin ikut serta dalam
Perjamuan Kudus pada suatu hari, dan menghadiri pesta kafir bari berikutnya dan
luput dari akibatnya.
- Prinsip
umum yang harus diikuti di dalam mencapai keputusan praktis tentang
persoalan-persoalan etis ini adalah agar jangan melakukan sesuatu yang dapat
menyebabkan orang lain tersandung - walaupun hal-hal tersebut pada dirinya
sendiri tidak salah - melainkan supaya melakukan "semuanya itu untuk
kemuliaan Allah" (1Kor. 10:23-11:1).
5. Ibadah jemaat (1 Kor. 11:2-14:40):
Sewaktu jemaat di Korintus bertemu
untuk beribadah, dengan mencoba melakukan apa yang diajarkan Paulus kepada
mereka, tiga kesulitan praktis timbul:
- Kemerdekaan
di dalam ibadah: Paulus mengizinkan wanita untuk memainkan peranan penuh
dalam pelayanan Kristen, berbeda dengan kebiasaan Yahudi. Ia telah meneruskan
tradisi-tradisi tentang hal itu kepada jemaat Korintus (1 Kor. 11:2) dan
ajarannya ini dituruti oleh anggota-anggota jemaat. Namun mereka
menyalahartikan sifat kemerdekaan Kristen. Menurut kebiasaan sosial yang
berlaku masa itu, wanita yang sopan hanya muncul di depan umum dengan kepaIa
yang bertudung. Tetapi orang-orang Kristen di Korintus berpendapat, orang
Kristen dibebaskan dari kebiasaan umum masyarakat, dan dapat menyatakan
kebebasan itu di hadapan Allah daIam jemaat. Jika wanita-wanita yang mengambil
peranan penting dalam kebaktian tidak bertudung, berarti mereka berani melakukan
sesuatu di hadirat Allah yang tidak akan mereka lakukan di hadapan tetangganya.
Sebab itu ia menyarankan agar wanita-wanita yang ikut serta di dalam kebaktian
jemaat, harus mengikuti kebiasaan sosial yang berlaku di masyarakat waktu itu,
yaitu harus menutupi kepalanya (1 Kor. 11:2-16).
- Etika dalam ibadah: Cara jemaat
menyelenggarakan Perjamuan Kudus juga merupakan sumber keprihatinan Paulus
(1Kor. 11:17-34). Mereka tidak mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh
Yesus sendiri, dan yang telah disampaikan Paulus sebelumnya (ayat 23-26),
tetapi orang-orang Kristen di Korintus menjadikan ibadah suatu kesempatan untuk
berpesta dan bergembira. Mereka semua membawa makanannya sendiri, dan
mengadakan pesta pribadi yang mestinya diadakan di rumah mereka sendiri (ayat
22). Perpecahan antara kelompok-kelompok yang begitu ditentang Paulus, muncul
juga dalam perjamuan (1 Kor. 11:18-19).
- Karunia-karunia dan ibadah: Suatu
ciri penting di jemaat Korintus adalah penggunaan karunia-karunia rohani yang
dianugerahkan oleh Roh Kudus. Mereka adalah orang-orang
"kharismatik", yang mempunyai karunia-karunia rohani berupa:
berbicara dalam bahasa lidah (glossolalia), penafsiran bahasa lidah, nubuat
(seperti dalam Kis. 13:1-2), dan mengerjakan mujizat-mujizat, yang dilakukan
oleh para rasul (Kis. 19:11-12). Jemaat di Korintus memiliki semua karunia
tersebut dan karunia lainnya secara berkelimpahan, dan mereka begitu ingin
mempergunakannya. Namun Paulus memperingatkan mereka, "Allah tidak
menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera" (1 Kor. 14:33). Itu berarti
bila karunia itu digunakan di dalam jemaat, dan jikalau Allah benar-benar
mengilhami mereka, semestinya karunia-karunia itu dijalankan dengan cara yang
akan membangun seluruh jemaat (1 Kor. 12:7). Paulus mengakui keabsahan semua
karunia yang muncul di Korintus. Ia menekankan tiap karunia itu diberikan oleh
Allah, dan oleh karena itu mempunyai tempat dalam pertemuan-pertemuan jemaat.
Sama seperti tubuh manusia mempunyai anggota-anggota yang berbeda-beda, yang
masing-masingnya berperan agar tubuh berfungsi dengan baik, begitu juga dengan
jemaat. Setiap karunia yang dimiliki anggota-anggota yang berlainan di jemaat,
harus membantu memperlancar fungsi keseluruhannya (1 Kor. 12:14-31).
6. Kepercayaan
jemaat (1 Kor. 15):
Akhirnya Paulus membicarakan inti
iman Kristen yang hakiki, yang merupakan salah satu unsur utama dari
masalah-masalah yang dihadapi jemaat di Korintus, yakni kebangkitan Kristus.
Beberapa anggota jemaat menyatakan dalam pengalaman mistiknya, mereka sudah dibangkitkan
pada suatu tingkat rohani baru, yang lebih tinggi daripada apa yang dicapai
oleh anggota jemaat yang biasa. Keyakinan ini didasarkan atas salah pengertian
tentang kebangkitan Yesus, dan Paulus menghadapinya dengan dua cara.
Pertama-tama, ia mengingatkan orang-orang Korintus tentang kokohnya dasar
historis yang melandasi kepercayaan akan kebangkitan (1 Kor. 15:3-11). Kedua,
ia melanjutkan dengan menunjukkan bagaimana - jika kebangkitan Yesus terjadi
secara historis (seperti yang dipercaya oleh Paulus dan para rasul lainnya) -
maka peristiwa itu menjadi jaminan bahwa orang-orang Kristen pun akan
dibangkitkan pada hari terakhir, sama seperti Yesus dibangkitkan dari kematian.
Oleh karena kebangkitan Yesus begitu hakiki bagi seluruh iman Kristen, setiap
orang yang menyangkal hal ini dengan merohanikannya sebagai pengalaman mistik,
pada kenyataannya menolak dasar iman kristen: "Sebab jika benar orang mati
tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus
tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam
dosamu .... maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala
manusia" (1 Kor. 15:16-19).
E.
SURAT PAULUS YANG KEDUA KEPADA JEMAAT DI KORINTUS
Surat
Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus termasuk surat yang sulit dipahami.
Salah satu penyebabnya yang mencolok adalah kurangnya informasi mengenai
konteks historis suratnya. Paulus tampaknya sedang menanggapi sejumlah konflik
yang terjadi antara dirinya dengan sejumlah kelompok dalam Gereja Korintus.
Namun tidak mudah menduga siapakah para lawannya dan apakah yang menjadi
persoalan persisnya. Surat 2Kor kelihatannya terdiri atas beberapa surat yang
disusun menjadi satu. Kita dapat menduganya dari adanya perubahan nada suratnya
yang tiba-tiba, interupsi-interupsi dalam tuturannya, adanya adanya
inkonsistensi antara bagian surat yang satu dengan bagian lainnya.
1. Rekonstruksi konteks historis
2Kor:
Surat
2Kor merupakan semacam surat pendamaian dan rujuk antara Paulus dan jemaat di
Korintus. Isi pokoknya merupakan pembelaan diri Paulus sebagai rasul dan karya
misinya. Rupanya, pada rentang waktu antara penulisan 1Kor dan 2Kor terjadi
bentrokan hebat antara jemaat dan Paulus. Untuk menyelesaikan konflik itu,
Timotius dikirim oleh Paulus ke Korintus namun ternyata tidak membawa hasil
yang diharapkan (1Kor 4:17;16.10). Sebaliknya bentrokan menjadi-jadi dan
semakin meruncing ketika Paulus secara mendadak mengunjungi jemaat (2Kor 1:15;
2:5; 7:12). Kunjungan Paulus yang mendadak itu ternyata juga tidak berhasil
memperbaiki situasi. Selanjutnya Paulus mengirim Titus ke Korintus sambil
membawa surat yang ditulisnya, yang isinya cukup tegas (2Kor 7:13-15; 2:3.4.9;
7:8-10.12; 8:6; 12:17-18). Usaha Titus berhasil baik, sebagian besar jemaat
menyesal dan mau berdamai dengan Paulus. Kemudian, sekitar th. 51 Paulus
menulis 2Kor yang dibawa oleh Titus ke Korintus (2Kor 8:16-18). Paulus sendiri
akan datang juga setelah kedatangan Titus (2Kor 12:20; 13:2). Dengan demikian,
surat 2Kor bermaksud memperteguh perdamaian yang sudah tercapai, meskipun masih
belum sepenuhnya selesai. Surat ini mengisahkan pertikaian antara jemaat
Korintus dengan Paulus. Nada pertikaian cukup terasa di beberapa bagian
suratnya.
Permasalahan
yang dibahas dalam surat 2Kor ini berkaitan dengan kedatangan sekelompok orang
yang berasal dari Yerusalem dan mengaku diri sebagai “rasul-rasul” (2 Kor.
11:1-15). Paulus sudah menghadapi orang-orang semacam ini di jemaat-jemaat di
Galatia. Kali ini mereka datang ke Korintus dan membujuk jemaat Korintus agar
tidak mengakui Paulus sebagai rasul atas dasar beberapa alasan. Alasan-alasan
yang mereka kemukakan dapat dideteksi dari tanggapan Paulus terhadap mereka di
dalam 2Kor. Jelas bahwa mereka tidak sama dengan kelompok Yudais yang berusaha
jemaat kristen agar menjadi orang Yahudi dengan menerima sunat dan hukum
Taurat. Kelompok yang datang ke Korintus ini
Paulus rupanya berusaha menghimbau jemaat agar hanya para pemimpin
Yahudi dari jemaat pertama di Yerusalem.
Ada
kemungkinan Paulus mengunjungi jemaat di Korintus sewaktu orang-orang tersebut
masih berada di sana, dan kunjungan ini disebut sebagai “kunjungan dukacita” (2
Kor 2:1). Kunjungan tersebut memang menyakitkan bagi Paulus, sebab ia dihina
oleh rasul-rasul palsu tersebut dan otoritasnya sebagai rasul patut diragukan.
Kemudian Paulus meninggalkan kota itu dengan tergesa. Tindakannya ini kemudian
disesalinya karena memberi kesan bahwa apa yang dikatakan para lawannya adalah
benar (2 Kor. 1:12-22).
Paulus
kemudian menulis satu surat yang sangat keras dan tajam. “Aku menulis kepada
kamu” kata Paulus, “dengan hati yang sangat cemas dan dengan mengucurkan banyak
air mata” (2Kor 2:4). “Jadi meskipun aku menyedihkan kamu dengan suratku
itu, namun aku tidak menyesalkannya. Memang pernah aku menyesalkannya, karena
aku lihat bahwa surat itu menyedihkan hatimu - kendatipun untuk- seketika saja
lamanya -, namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita,
melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat” (2Kor 7:8-9).
Persoalannya, surat manakah yang dimaksud oleh Paulus sebagai surat yang
menyedihkan, bernada keras dan tajam itu? Dengan mengandaikan bahwa surat 2Kor
merupakan kumpulan dari sejumlah fragmen, pengamatan diarahkan pada perubahan
tiba-tiba dari surat yang semula bernada tenang (bab 1-9) kemudian berubah
menjadi keras pada bab 10. Paulus pada bab 10 mengungkapkan suatu keluhan yang
paling pedih yang pernah ditulis Paulus. Boleh jadi 2Kor 10-13 adalah surat
bernada kecewa yang terpaksa Paulus tulis setelah kunjungannya yang tak
memuaskan itu. Surat ini dikirim lewat Titus. Paulus sangat ingin mendapat
jawabannya sampai-sampai ia tak tahan menunggu, lalu pergi ke Troas untuk
menemui Titus di sana. Sesampai di sana Titus belum juga tiba, sehingga Paulus
berangkat ke Makedonia untuk menemuinya (2Kor 2:13). Di sana ia bertemu dengan
Titus dan mendapat kabar bahwa persoalan antara Paulus dan jemaat Korintus
dapat dianggap beres (2Kor 7:5-13). Karena menerima kabar sukacita dari Titus
tersebut, Paulus menulis surat kini kita temukan dalam 2 Kor 9, yang merupakan
surat pengampunan, karena luka-luka pelanggaran berangsur-angsur sembuh.
Siapakah
sebenarnya lawan-lawan Paulus dalam surat ini? Ada kemungkinan para lawan
Paulus dalam 2Kor adalah orang-orang yang datang dari luar (10:15-16), yaitu
orang Kristen (5:16;10:7; 11:23) keturunan Yahudi yang datang dari Palestina
(11:22). Rupanya mereka mengaku diri sebagai rasul (11:5.13; 12:11) dan membawa
surat rekomendasi (3:11). Meskipun keturunan Yahudi, rupanya mereka bukan
golongan Kristen-Yahudi yang mau memberlakukan sunat dan hukum Taurat. Yang
mereka lakukan tidak lebih dari membanggakan diri mereka sendiri sebagai
orang-orang yang mendapat penyataan dan penglihatan khusus (12:1.7.11). Mungkin
saja mereka yang dianggap pengacau itu adalah orang Kristen keturunan Yahudi
dari Palestina, yang dipengaruhi paham mistik Yunani. Jelas sekali mereka
langsung melawan Paulus sendiri. Mereka yang hanya sekelompok kecil itu (2:6;
10:2) memfitnah dan memburukkan nama Paulus.
Tuduhan
mereka terhadap Paulus dapat direkonstruksi berdasarkan isi suratnya dan cara
Paulus menanggapi mereka. Berdasarkan surat 2Kor dapat diduga bahwa
tuduhan-tuduhan tersebut adalah:
- Kelakuan
Paulus tidak mantap dan tidak dapat dipercaya (1:15-17), terbukti dari
surat-suratnya yang terkesan mendua (1:13-14).
- Paulus
tidak mempunyai surat rekomendasi (3:1-4) dan Injilnya tidak jelas (4:3).
- Kelakuan
Paulus tidak jernih (5:11) dan menjadi batu sandungan (6:3) serta merugikan
jemaat (7:2).
- Paulus
dengan licik memperkaya dirinya (12: 16) dan hanya pura-pura tidak mau menerima
sumbangan dari jemaat (11:7-9; 12:13).
- Hanya
dari jauh saja Paulus berani (10:1) dan cara bicaranya menjemukan (10:11;
11:16).
- Paulus
sebenarnya bukan utusan sejati (l0:14), bukan milik Kristus (10:7), juru
bicara-Nya (13:3) atau rasul-Nya (12:11-12; 11:5).
Paulus
balik menyerang mereka dengan sebutan pengacau-pengacau yang hanya mencari
keuntungan sendiri (2:17; 11:20), sombong tanpa dasar (10:12.18; 5:12;
11:12-18), pekerja dan rasul gadungan (11:13). Mereka utusan Iblis (11:13-14)
yang memberitakan 1njil, Kristus dan roh yang lain (11:4), orang berdosa yang
tidak bertobat (12:21; 13:2).
Suasana
panas dan caranya 2Kor ditulis (agaknya secara bertahap) dapat menjelaskan
sedikit mengapa tuturannya tidak begitu lancar. Fragmen-fragmen dalam surat
2Kor memberi nuansa yang berbeda:
- bab 1-7 bernada tenang,
- bab 10-13 sangat emosional.
- bab 8-9 membicarakan pengumpulan dana.
- Ayat 2:13 pikiran tiba-tiba terputus, lalu
diteruskan dalam 7:5.
- Antara 6:2 dan 6:3 pikiran terputus, dan
5:14-6:2 terasa sebagai semacam selingan yang kurang pada tempatnya.
- Bab
6:14-7:1 nampaknya terlalu umum dan di luar rangka sapaan langsung yang
menjiwai 6: 11-13 dan 7:2-4.
Tidak
ada alasan untuk meragukan bahwa 2Kor sungguh-sungguh karangan Paulus. Selain
kaitannya (baik isi, latar belakang dan bahasanya) dengan 1Kor, ada tradisi
kuat sejak abad kedua Masehi yang mendukung keaslian surat itu.Kalau diambil
secara menyeluruh 2Kor merupakan suatu pembelaan diri Paulus. Mati-matian
Paulus membela dirinya dan kewibawaannya sebagai rasul sejati, karena
kewibawaannya sebagai rasul di Korintus sedang digerogoti. Meskipun jemaat
secara menyeluruh sudah berdamai dengannya, namun rupanya Paulus tetap kuatir
kalau pengacau-pengacau itu kembali menghasut jemaat. Surat 2Kor dapat dibagi
menjadi tiga bagian besar yang tidak jelas hubungannya satu sama lain, yaitu
bab 1-7; bab 8-9 dan bab 10-13.
2. Struktur retorik surat 2 Korintus
STRUKTUR RETORIK 2 KOR 1:1-7:16
I. Epistolary
prescript 1:1-2
II. Allah
yang penuh belas kasih dan sumber penghiburan,
yang meneguhkan Paulus dalam
penderitaannya,
dan membagikan penghiburan ini kepada
umat Korintus 1:3-7
III. Narasi
tentang penolakan terhadap tuduhan melawan Paulus (1:8-2:13)
A. Paulus di Asia Kecil: Allah membebaskan dia
dari derita dan kematian 1:8-11
B. Relasi Paulus dengan umat Korintus (1:12-2:13)
1. Tindakannya
diwarnai oleh kesederhanaan dan ketulusan 1:12-14
2. Paulus menjelaskan batalnya kunjungan dan
penulisan “surat air mata” nya 1:15-2:11
C. Paulus berangkat ke Makedonia 2:12-13
IV. Propositio:
Pelayanan Paulus yang tulus, berasal
dari Allah dan
dimaksudkan untuk mewartakan Kristus (12:14-17)
A. Metafor
kemenangan militer dan keharuman dupa 2:14-16
B. Ketulusan Paulus dalam mewartakan Firman 2:17
V. Kesaksian:
jemaat sebagai surat pujian / rekomendasi 3:1-3
VI. Argumentatio dan propositio
A. Kesanggupan
kami berasal dari Allah agar menjadi
pelayan perjanjian baru dalam Roh 3:4-4:1
B. Ketulusan
Paulus dalam tindakan dan kotbahnya 4:2-6
C. Kekuatan Allah di dalam kerapuhan dan
penderitaan Paulus 4:7-12
D. Ketulusan
Paulus dalam penderitaan menumbuhkan rasa percaya diri 4:13-5:10
E. Kesaksian Paulus akan Kristus 5:11-6:10
Interpolasi: Jangan berpasangan
dengan orang tak beriman (6:14-7:1)
VII. Peroratio: Paulus membela
diri (kecuali 6:14-7:1) - (6:11-7:16)
A. Himbauan
agar mau membuka hati (pathos) 6:11-7:4
B. Narasi
pengalaman Paulus sejak datang ke Makedonia (bdk. 2:13) - 7:5-16
1. Allah
menghibur Paulus dengan kedatangan Titus (bdk. 1:3-4) 7:5-7
2. Paulus
menyinggung lagi “surat air mata” nya 7:8:13a
3. Kegembiraan atas kabar baik dari Titus 7:13b-16
STRUKTUR RETORIK 2 KOR 8-9
I. Narasi
tentang kemurahan hati jemaat Makedonia: tekadan bagi jemaat Korintus (8:1-9)
A. Teladan
dari kemurahan hati jemaat Makedonia 8:1-5
B. Penerapannya
bagi jemaat Korintus 8:6-7
C. Transisi
untuk menyiapkan “Propositio” 8:8-9
II. Propositio: menyelesaikan apa yang sudah dimulai setahun yang
lalu 8:10-11
III. Argumentio 8:12-15
IV. Rekomendasi bagi Titus, wakil
Paulus untuk mengumpulkan kolekte 8:16-24
V. Alasan
Paulus menulis surat 9:1-5
VI. Peroratio (epilog)
A. Rakapitulasi
tentang himbauan agar memberi dengan murah hati 9:6
B. Alasan
untuk berderma 9:7-12
C. Himbauan
yang penuh perasaan 9:13-14
VII. Kesimpulan: “Syukur kepada
Allah” 9:15
STRUKTUR RETORIK 2 KOR 10-13
I. Pendahuluan
kepada persoalan yang akan dibahas dalam surat 10:1-6
II. Propositio:
menolak tuduhan terhadap Paulus 10:7-11
III. Argumentatio (10:12-12:13)
A. Introduksi: Paulus dan orang-orang bodoh
(10:12-11:15)
1. Kebalikan
dari para lawan, kesombongan Paulus dibatasi oleh Tuhan 10:12-18
2. Paulus
membandingkan dirinya dengan para lawan 11:1-15
B. Argumentasi
pertama: Paulus sebagai pelayan yang menderita 11:16-33
C. Argumentasi
kedua: Paulus membanggakan perwahyuan Allah padanya 12:1-10
D. Kesimpulan
dari argumentasi-argumentasi: “Aku tidak kalah” 12:11-13
IV. Peroratio
A. Merencanakan
kunjungan yang ketiga (bdk. 10:1-2) 12:14-18
B. Paulus
tidak bermaksud membela diri (bdk. 10:7-11) 12:19-21
C. Peringatan
yang keras dari Paulus 13:1-10
V. Epistolary
postscript 13:11-14
Dari
bentuknya yang ada sekarang, surat 2Kor serupa dengan sebuah surat umumnya di
zaman itu. Ada pembukaan yang menyebutkan si penulis, alamat dan salam (1:1-2);
ada ucapan syukur (1:3-7); bagian pokok dari surat (1-9 dan 10-13); nasehat
singkat (13:11); dan akhirnya bagian akhir surat yang berisi salam (13:12-13)
dan ucapan berkat (13:14). Karena alamatnya adalah para anggota gereja Allah di
Korintus, maka suratnya bersifat publik dan resmi.
Bentuk
dan struktur surat 2 Kor dapat disamakan dengan surat Roma dan 1Kor. Sama
dengan 1Kor, retorika surat 2Kor bersifat memberi penilaian yang diungkapkan
dengan hati-hati. Banyak ahli mengatakan bahwa surat Korintus kumpulan yang
terdiri atas 2 sampai 4 fragmen yang berbeda. Dalam 1:1-7:16, Paulus membela
kerasulannya yang berasal dari Allah dengan nada tegas. Dalam 2Kor 8-9 Paulus memakai
retorika yang lebih hati-hati, yaitu ketika menghimbau jemaat agar
menyelesaikan pengumpulan sumbangan bagi jemaat Yerusalem yang sudah dimulainya
setahun sebelumnya. Akhirnya, dalam 2Kor 10-13 Paulus memakai lagi retorika
yang bersifat tegas dalam menanggapi para lawannya yang mengatakan bahwa Paulus
keras dalam suratnya tetapi ternyata lemah dan tidak meyakinkan dalam
penampilannya. Jika berpangkal pada retorikanya, surat 2Kor tidak harus dibaca
secara kronologis (menurut urutan yang ada). Misalnya, apa yang dikatakan dalam
2Kor 10-13 tentang surat air mata sebenarnya sudah disebut dalam 2Kor 2:4: “Aku
menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan
mencucurkan banyak air mata, bukan supaya kamu bersedih hati, tetapi supaya kamu
tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua.” Jika kita ingin membuat
urutan berdasarkan retorikanya, surat 2Kor dapat dibuat perandaian bahwa
pembukaan dari bagian surat 2Kor 8-9 dan 10-13 serta penutup dari surat 2Kor
1-7 dan 8-9 sekarang ini hilang (dihapuskan?).
Surat
2Kor bekisar pada pengalaman pribadi Paulus. Meskipun begitu keras dia
mengritik para lawannya, namun dia memaafkan mereka. Demi kasihnya kepada
jemaat dan demi kebaikan mereka, Paulus rela untuk menderita. Meskipun
dikecewakan oleh kegagalannya, namun imannya akan Allah dan relasi mistiknya
dengan Kristus memberi peneguhan dari dalam. Yang cukup dominan dalam surat ini
adalah pembelaan diri Paulus terhadap jati dirinya sebagai rasul dan misinya
mewartakan Injil. Baginya, kerasulan dan Injil tidak dapat dipisahkan. Sebagai
rasul, Paulus merasa terpanggil untuk mewartakan Injil Kristus.
3. Komponen-komponen
yang terdapat dalam surat 2Kor:
Bornkamm mengatakan bahwa ada 6 surat
berbeda di dalam 2Kor. Ahli lain mengatakan bahwa suratnya terdiri atas dua,
tiga atau empat fragmen yang berbeda isi dan nuansanya. Bagaimana perbedaan
tersebut dapat diamati dari surat 2Kor? Kita mencoba mengamati perbedaannya
menurut tema yang dibicarakan:
a. Apologi
pertama (2:14-6:13; 7:2-4): Apologi ini dimulai dengan ucapan syukur kepada
Allah dan kisah tentang kegiatan misionaris Paulus, yang disampaikan dengan
metafor tentang pawai kemenangan (2:14-17). Dalam pawai kemenangan tersebut,
Paulus berada di ujung depan barisan (4:5; 5:20-6:2; 6:11-13; 7:2-4). Metafor
tersebut adalah bagian dari argumentasi-argumentasi Paulus dalam membela
kelayakan dirinya untuk tugas kerasulan. Sebagai seorang rasul, dia menyebut
dirinya “pelayan perjanjian baru” (3:6), yang kemudian dijelaskannya pada
3A:4-6:10. Meskipun maksud dari argumentasinya yang persis tidak cukup jelas,
namun kelihatan bahwa Paulus mau menampilkan ajaran-ajaran kristologis dan
soteriologis. Kesimpulannya berupa sebuah himbauan akan jemaat mau menerima Paulus dan percaya
kepadanya (6:11-13; 7:2-3), seperti halnya Paulus juga merasa terhibur dan
gembira akan mereka (7:4). Ungkapan dalam 7:2-4 ini serupa dengan akhir sebuah
surat.
b. Apologi
yang kedua (10:1-13:10) sering disebut sebagai “surat air mata” (bdk. 2:4).
Rupanya surat ini berkaitan dengan kegagalannya dalam membela diri dan
membersihkan diri dari prasangka terhadap dirinya (10:1-2). Untuk itu Paulus
merasa harus melawannya dengan senjata retorikanya dan menghadapi para
penuduhnya secara langsung. Dalam 10:10 Paulus sebenarnya mengatakan soal cukup
serius berkaitan dengan penampilannya: “Kata orang, surat-suratnya memang
tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan
perkataan-perkataannya tidak berarti.” Siapakah para lawan Paulus? Apakah
dia termasuk golongan orang yang suka memuji dirinya sendiri (bdk. 7:12),
ataukah dia mempunyai peran tertentu dalam jemaat, atau dia adalah seorang
mata-mata yang mau mengawasi Paulus? Pendapat lawan tentang diri Paulus dalam
10:10 bernada negatif. Paulus kemudian mengakui dirinya sebagai seorang yang
bodoh dan kurang paham dalam berkata-kata (11:1-12:10). Paulus berupaya
memulihkan kredibilitas dirinya dengan mendiskreditkan para lawannya, yang
dianggapnya sebagai rasul palsu, pekerja curang, Iblis, dan sebagainya. Paulus
setuju jika para pengritiknya meragukan kepandaian dalam berkata-kata, akan
tetapi tidak demikian dengan pengetahuannya (11:6). Jika mereka menginginkan
bukti dari kerasulannya, Paulus siap untuk menunjukkan semuanya. Paulus
mengisahkan bagaimana dia mempunyai pengalaman rohani yaitu diangkat sampai ke
sorga (12:1-4), selain itu diapun mengakui kelemahan-kelemahannya. Namun,
Paulus mempunyai cara pandang yang berbeda terhadap kelemahan dirinya. Dia
memuliakan Allah dalam kelemahan-kelemahannya (12:9-10; 11:21-29; 12:21). Dia tidak
menerima bantuan finansial dari orang-orang Korintus (11:7-12; 12:13; 14:18)
dan menolak jika dibandingkan dengan para rasul lainnya (11:5.13-15; 12:11-13).
Setelah berbicara tentang kebodohannya dalam berkata-kata, Paulus menyebut
rencananya untuk melakukan kunjungan ketiga ke Korintus (12:14-21; 13:1-4). Ada
kesan pula bahwa 13:5-10 merupakan akhir surat.
c. Surat
rekonsiliasi (1:1-2; 7:4-16; 13:11-13): Tema-tema rekonsiliasi cukup mudah
dideteksi dan rupanya dipakai sebagai kerangka pokok oleh redaktor di dalam
mengatur potongan-potongan surat lainnya. Surat rekonsiliasi dimulai dengan
pengantar (1:1-2) yang menyatakan siapakah pengirimnya, yaitu Paulus, bersama
dengan Timotius. Selanjutnya disebut juga alamt surat, yaitu jemaat Allah di
Korintus dengan semua orang kudus di seluruh Akhaya. Pengantar ini diakhiri
dengan salam. Bagian exordium dimulai dengan ucapan pujian kepada Allah
(1:3-4), dan tidak tampak adanya ungkapan syukur seperti biasanya. Tema tentang
penderitaan (thlipsis) Paulus dan penghiburan (paraklesis) yang
diterimanya dari Allah dipakai sebagai dasar teologis dari doa pujian dan
sekaligus mengantar tema yang ada pada bagian pokok surat. Paulus menganggap
bahwa jemaat Korintus merupakan rekan dalam penderitaan dan penghiburan
(1:5-7). Peristiwa penyelamatan dari kematian yang hampir dialami oleh Paulus
di Asia Kecil dipakai sebagai contoh bagaimana karya penghiburan (peneguhan)
terjadi di dalam situasi konkret. Setelah menunjukkan nuansa teologis dari
pengalamannya, Paulus kemudian masuk pada diskusi panjang tentang suratnya yang
lampau (1:12-2:4), yang merupakan surat air mata (10:1-13:10). Paulus kemudian
mengatakan bahwa dia akan mengubah rencana perjalanannya, setelah menyatakan
ketulusan serta maksud baiknya (1:12-14). Hendaknya perubahan rencana tersebut
jangan dijadikan dasar tuduhan bahwa dirinya tidak dapat dipercaya (1:15-22).
Selanjutnya dijelaskan juga mengapa dia menunda kedatangannya yang ketiga ke
Korintus dan mengapa ditulisnya surat air mata. Jika suratnya telah membuat mereka
sedih, itu bukan dimaksudkan untuk menyedihkan mereka tetapi untuk menunjukkan
kasihnya kepada mereka. Mereka yang menentang Paulus sebenarnya tidak akan
menyedihkan dia tetapi justru hanya akan menyedihkan jemaat. Oleh karena itu
hendaknya jemaat mengampuni mereka, dan Paulus juga akan mengampuni mereka
(2:5-11). Paulus kemudian menyatakan betapa cemas hatinya ketika bermaksud
menjumpai Titus di Makedonia, untuk mencari tahu bagaimana tanggapan jemaat
Korintus atas suratnya (2:12-13 dilanjutkan pada 7:5). Kecemasan itu berubah
seketika menjadi suka cita ketika Titus memberitakan kabar baik kepadanya yang
isinya adalah kerinduan jemaat Korintus kepada Paulus dan kesediaan mereka
untuk membelanya (7:6-7). Sejak itu terjadi rekonsiliaso antara Paulus dan
jemaat Korintus.
Paulus memberi analisa teologis (dan
psikologis) atas kecemasannya dan atas suratnya yang membawa kesediahan bagi
jemaat. Paulus menganggap bahwa suratnya yang menyedihkan membawa sukacita
karena kemudian mereka bertobat. Dukacita
menurut kehendak Allah akan membawa sukacita, sebaliknya dukacita dari
dunia akan membawa kematian (7:9-10). Sambutan baik jemaat kepada Titus membuat
Paulus bangga dan semakin percaya kepada kesungguhan serta ketaatan jemaat
(7:13-16).
d. Surat
yang berkaitan dengan pengumpulan sumbangan bagi Yerusalem (2Kor 8-9): 2Kor 8 ditulis oleh Paulus dan dikirimkan
kepada jemaat di Korintus, dibawa oleh Titus dan dua “saudara” berkaitan dengan
pengumpulan sumbangan bagi Gereja di Yerusalem. Pada bagian dari surat bab 8
ini, Paulus memberi rekomendasi bagi Titus dan teman-temannya untuk
mengumpulkan sumbangan tersebut. Bab 9 merupakan tulisan bagi jemaat di
propinsi Akhaya, juga berkaitan dengan pengumpulan sumbangan. Paulus menesihati
agar pengumpulan sumbangan dilaksanakan dan diurus tuntas. Maksud dari
sumbangan secara teologis diuraikan pada 9:6-14. Hendaknya jemaat mengumpulkan
sumbangan dengan sukacita dan percaya bahwa Allah akan menganugerahi mereka
dengan berkat yang berkelimpahan. Ulasan teologis ini ditutup dengan sebuah perorasi
berupa ucapan syukur kepada Allah.
e. Bagian
yang isinya campuran (6:14-7:1): Bagian ini isinya berbeda dengan bagian
lain dari surat 2Kor. Di sini Paulus
tidak berbicara mengenai hubungannya dengan jemaat Korintus dan tidak berbicara
mengenai kolekte. Isi dari bagian ini adalah peringatan agar jemaat menjaga
diri terhadap noda-noda kekafiran yang dapat terjadi di dalam perkawinan dengan
orang-orang tak beriman. Asal dari bagian ini tidak jelas, demikian juga tidak
kita ketahui alasan dimasukkannya ke dalam surat 2Kor. Ungkapan yang dipakai
juga bukan khas Paulus, sehingga ada sementara ahli yang meragukan keaslian
bagian ini sebagai tulisan Paulus sendiri (bdk. Furnish dan Betz)..
4. Sejumlah
tema pengajaran Paulus dalam surat 2 Korintus
a. Menghadapi
masalah-masalah (2 Kor. 1:3-2:13):
Paulus perlu menjelaskan hubungannya
yang kurang begitu baik dengan jemaat Korintus. Selain itu ada juga persoalan
mengenai kerasulan yang sejati dan yang palsu. Paulus menjelaskan pemikirannya
tentang kedua pokok tersebut dalam bagian ucapan syukur di pembukaan suratnya
(2 Kor. 1:3-11). Ia meminta perhatian bukan hanya terhadap kasihnya kepada
jemaat di Korintus, tetapi juga terhadap keyakinannya bahwa penderitaan dan
kelemahan merupakan bagian yang tak terhindarkan dari pelayanan yang sejati
kepada Allah. Supaya bisa tahan dalam penganiayaan, Paulus harus percaya dengan
sepenuh hati kepada Allah. Tetapi ia juga membutuhkan dukungan doa dari para
pembacanya. Hubungannya dengan mereka tidak bersifat sepihak: Paulus
membutuhkan doa-doa mereka sama seperti mereka memerlukan bimbingannya. Paulus
juga harus meyakinkan kembali orang-orang Korintus bahwa ia dapat diandalkan.
Kunjungan serta surat-suratnya yang tak disangka-sangka itu, dan perubahan
rencana parla saat terakhir, telah memberikan kesan kepada mereka bahwa ia
bertindak serampangan (2Kor.1:12-2:4). Mereka menyimpulkan Paulus takut
mengunjungi mereka, sebab di dalam hatinya ia tahu pernyataan-pernyataan para
“rasul palsu” itu memang benar. Paulus rupanya sangat terluka dengan
kecaman-kecaman ini, dan membela dirinya terhadap tuduhan bahwa ia bertindak
demi kepentingan diri sendiri. Hal itu sama sekali tidak benar; ia menulis
surat, dan tidak mengunjungi mereka, sebab berharap hal ini merupakan cara yang
tidak begitu menyakitkan dalam meluruskan anggapan mereka: “Aku menulis
kepada kamu . . . bukan supaya kamu bersedih hati, tetapi supaya kamu tahu
betapa besarnya kasihku kepada kamu semua” (2 Kor.2:4). Permusuhan pribadi
juga harus dibereskan - baik Paulus maupun jemaat harus bersedia mengampuni
orang-orang yang menyebabkan kesedihan (2 Kor. 2:5-11).
b. Apa
artinya rasul? (2 Kor. 2:14-7:4):
Pokok utama yang dipermasaIahkan
adaIah kewenangan Paulus sebagai rasul. Paulus mengawali pokok ini dengan
ucapan syukur kepada Allah atas apa yang telah dilakukan-Nya daIam kehidupan
Paulus. Oleh karena pengaIamannya akan Kristus yang hidup, ia menjadi bagian
dari “jalan kemenangan-Nya” (2 Kor. 2:14). Dengan demikian, ia mempunyai
hubungan pribadi yang dekat dengan Kristus sendiri. Tetapi hal itu bukan alasan
baginya untuk membanggakan diri karena kesanggupan-kesanggupannya sendiri.
Sebaliknya, oleh karena dipenuhi dengan Roh Kudus dari Allah berarti mempunyai
tanggung jawab yang besar; dan kesadaran akan hal tersebut membedakan Paulus
dari para “rasul” lainnya yang tiba di Korintus: “Sebab kami tidak sama dengan
banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam
Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah
Allah dan di hadapan-Nya” (2 Kor. 2:17). Berbeda dengan mereka yang datang dari
Yerusalem, Paulus tidak bergantung pada surat-surat resmi guna memperoleh
kepercayaan. Ia sudah merasa puas bahwa keabsahan pekerjaannya diuji melalui
hasil-hasil yang telah dicapai yakni adanya perubahan hidup dari orang-orang
yang bertobat, dan gaya hidup pribadinya sendiri (2Kor. 3:1-18). Jika
orang-orang Kristen sungguh-sungguh melayani Allah, maka kehadiran dan kuasa
Allah harus nyata bagi semua orang: “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan
Tuhan . . . Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka
kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin
besar” (ayat 18). Inilah manfaat besar yang diberikan Injil kepadanya
dibanding dengan kesetiaannya yang lama terhadap agama Yahudi (ayat 4-17).
Tetapi tidakkah hal ini berarti para
rasul akan menghayati hidup rohani yang luar biasa, di mana semua persoalan
hidup sehari-hari, sudah lenyap? Sama sekali tidak, kata Paulus (2 Kor. 4:1-15).
Injil adalah berita yang berkuasa dan memberi hidup, namun Allah telah
mempercayakannya kepada manusia lemah yang diumpamakan sebagai “bejana tanah
liat”. Biasanya perkakas tanah liat ini mudah rapuh. Hal semacam ini juga akan
dialami oleh hamba-hamba Kristus yang sejati: “Dalam segala hal kami
ditindas.... kami habis akal .... kami dianiaya... .kami senantiasa membawa
kematian Yesus di dalam tubuh kami ...” (ayat 8-10). Ini tentunya merupakan
pengalaman Yesus sendiri, yang memuncak dengan penderitaan di kayu salib.
Tetapi setelah salib ada kebangkitan - dan bagi Paulus ini merupakan kunci
kehidupan Kristen. Dalam Galatia 2:19-20 ia menegaskan rahasia imannya adalah
kehadiran Kristus yang hidup di dalam dirinya. Dan dia menguiangi tema yang
sama di sini: “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami,
supaya kehidupan Yesusjuga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (2 Kor.
4:10). Inilah, kata Paulus, yang seyogianya diberi penekanan. Para pembawa
berita Injil janganlah dibingungkan dengan berita itu sendiri. Kenyataan “harta
rohani” terdapat dalam “bejana tanah liat” menekankan kenyataan “kekuatan
yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2 Kor.
4:7).
Setelah merenungkan kembali
bahaya-bahaya fisik yang telah dialaminya, Paulus beralih kepada pokok hidup
setelah mati. Hal itu sudah merupakan pokok utama dalam 1 Korintus. Tetapi
sekarang perspektifnya telah berubah. la mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
berbeda di sini - pasti sebagai akibat pengalamannya luput dari maut beberapa
waktu sebelumnya (mungkin di Efesus, 2 Kor. 1:9). Apa yang dikatakannya
merupakan salah satu ayat yang paling rumit dalam semua suratnya (2 Kor.
5:1-10). Tetapi ada dua hal yang jelas:
- Ia
tetap menentang pandangan orang-orang Korintus (dan para Gnostik pada kemudian
hari) yang menyatakan kebangkitan adalah soal pengalaman rohani dalam batin
seseorang.
- Ia
juga tetap berpegang pada kepercayaan Yahudi tentang adanya tubuh setelah
kematian, dan tidak mengikuti pandangan Yunani tentang adanya roh manusia yang
abadi, yang akan hidup terus setelah tubuh binasa.
Itu tidak berarti ia berpikir secara
duniawi semata-mata, sebab ia menulis tentang menggantikan “tempat kediaman
kita di bumi ini” dengan “tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman
yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia [melainkan oleh Allah]”
(2 Kor. 5:1). Sebab itu cara orang Kristen berpikir, cara mereka bertindak, dan
standar-standar serta nilai-nilai mereka, harus mencerminkan di sini dan
sekarang ini suatu realitas kehadiran Allah yang hidup: “Sebab itu kami
tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia ... Jadi siapa yang
ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu,
sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Kor. 5:16-17). Hal ini menyangkut
inti pengertian Paulus tentang kematian dan kebangkitan Yesus, yang merupakan
dasar segala pekerjaannya sebagai seorang penginjil: “Sebab Allah mendamaikan
dunia dengan diri-Nya oleh Kristus” (2 Kor. 5:19).
Dalam terang ini, penderitaan Paulus
sama sekali tidak bertentangan dengan pernyataannya bahwa ia seorang rasul.
Sebaliknya merupakan pembuktian yang paling jelas tentang kebenaran
pemyataannya itu (2 Kor. 6:1-10). Mungkin Paulus merasa ia telah memberikan
pembelaan diri yang lebih rinci daripada yang diperlukan, sebab ia menutup
bagian ini dengan seruan kepada para pembacanya agar memperlihatkan kejujuran
yang sama terhadap dirinya seperti yang ia telah perlihatkan kepada mereka
(ayat 11-13).
Ia kemudian memperingatkan mereka
bahwa gaya hidup orang Kristen harus berbeda sama sekali dari gaya hidup
sekuler. Orang-orang Kristen harus mencerminkan nilai-nilai dan standar-standar
Allah sendiri (2 Kor. 6:14- 7:1). Para pembaca modero dari nats ini sering
mengira Paulus menulis tentang moralitas pribadi, khususnya masalah perkawinan.
Memang hal itu termasuk dalam apa yang dikatakannya, tetapi nasihatnya mencakup
banyak hai lain. Ada sesuatu yang secara hakiki tidak sesuai antara
standar-standar dunia kafir dan standar-standar Injil Kristen - dan orang-orang
percaya harus bersedia untuk mengutamakan Allah dalam semua bidang kehidupan,
bukan hanya dalam keadaan yang menyenangkan. Yesus sendiri mengatakan hai yang
sama: “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan..... Kamu tidak dapat
mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat. 6:24).
c. Memandang
ke masa depan (2 Kor. 7:5-9:15):
Paulus kemudian membahas akibat dari
surat yang membawa dukacita, yang rupanya telah menyebabkan orang-orang
Korintus mengubah sikapnya - seperti yang dilaporkan oleh Titus (2 Kor.
7:5-16). Perubahan sikap itulah yang menjadi dasar Paulus mengajak mereka ikut
berpartisipasi dalam pengumpulan dalla yang sedang diselenggarakannya bagi
jemaat di Yerusalem (2 Kor. 8:1-9:15). Ini bukanlah pertama kalinya orang-orang
Korintus mendengar hal itu (1Kor. 16:1-4). Tetapi hubungan mereka dengan Paulus
yang begitu terganggu telah mencegah mereka melakukan pengumpulan dalla selama
ini. Paulus mendesak mereka agar bermurah hati bukan karena terpaksa, tetapi
sebagai tanggapan dalam kasih terhadap apa yang telah dilakukan Allah bagi
mereka. Bagian kedua surat (2Kor 8:1-9:15) membahas sampai dua kali tentang pengumpulan dana bagi jemaat
induk di Yerusalem. Paulus mengharapkan dan mengajak jemaat supaya dengan murah
dan hati ikut serta dalam”pelayanan kasih” menuruti teladan baik jemaat-jemaat
di Makedonia. Rupanya Paulus kuatir kalau-kalau dituduh main korupsi. Karena
itu ia mengambil tindakan untuk menghilangkan segala rasa curiga (8:1-23).
Pengumpulan dana itu sudah lama dimulai, tetapi rupanya di Korintus tidak bisa
jalan dengan lancar (8:6-7.10-11; 9:2-5).Tentu saja mengherankan sedikit bahwa
Paulus dua kali berturut-turut membicarakan hal yang sama dengan panjang lebar.
Dasar dari pelayanan kasih itu ada dalam peristiwa Yesus sendiri. Masuknya
Yesus dalam hidup mereka merupakan suatu tindakan kebajikan Allah yang
sebenarnya tidak layak mereka terima. Oleh karena itu mereka harus melakukan
kebajikan dengan membantu mereka yang butuh bantuan (2 Kor. 8:9). Paulus
percaya, tindakan kemurahan hati seperti itu akan memperbaiki hubungan antara
jemaat-jemaat bukan-Yahudi yang didirikannya dengan jemaat-jemaat Yahudi di
Palestina (2 Kor. 9:1-15).
d. Kewenangan
dan kharisma (2 Kor. 10:1-13:10)
Paulus dikecam oleh para lawannya
karena kepribadiannya. “Surat-suratnya memang tegas dan keras”, kata para
lawannya di Korintus, “tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan
perkataan-perkataannya tidak berarti” (2 Kor. 10:10). Paulus tidak menjawab
tuduhan-tuduhan tersebut secara komprehensif di sini. Ia sudah melakukannya
dalam pembahasan sebelumnya tentang hubungan antara kelemahan dan kekuasaan di
dalam kehidupan hamba-hamba Allah. Penjelasan Paulus mengenai pokok tersebut
kurang sistematis di sini, dan memberi kesan para lawannya itu hanya kelihatannya
saja hebat, karena “mereka mengukur dirinya dengan ukuran mereka sendiri dan
membandingkan dirinya dengan dici mereka sendiri” (2 Kor. 10:12). Paulus
menanggapi mereka yang mempertanyakan “surat-surat kepercayaannya”, dengan cara berturut-turut membahas
hubungannya dengan jemaat Korintus (2 Kor. 11:1-6), gaya hidupnya (ayat 7-11),
dan sumber tertinggi dari kewenangannya sebagai rasul (ayat 12-15).
Penganiayaan yang dideritanya memperlihatkan kebenaran panggilannya sebagai
rasul (ayat 16-33). Paulus menyadari bahwa menyombongkan diri tentang hal-hal
tersebut tidak ada faedahnya - tetapi ia harus meluruskan persoalan dan
menegaskan ia pun menerima “penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan”
dari Tuhan (2 Kor. 12:1). Tetapi ia tetap kembali ke tema penderitaan dan
kelemahan sebagai batu penjuru dari status kerasulannya: hanya kalau orang
menyadari kelemahannya sendiri dan mempercayakan diri kepada Allah, mereka
dapat menyatakan diri sebagai orang Kristen sejati (2 Kor.12:7-10).
e. Kesimpulan
Paulus diserang oleh kawan dan lawan.
Ini tentu membuat dia sadar akan perlunya merenungkan kembali isi Injilnya. Ia
ingin menghindari jebakan-jebakan masa lampau, tanpa sedikit pun mengurangi
pandangannya yang pokok bahwa dalam Kristus semua hambatan ras, jenis kelamin
dan kedudukan sosial sudah dilenyapkan, dan semua manusia berdiri sama rata di
dalam kemerdekaan yang diberikan oleh Roh Kudus. Meskipun 'surat keras' Paulus dalam 2 Kor ini memberi dampak
penyesalan, tetapi kunjungan yang dibicarakan dalam 2 Kor akhirnya dilangsungkan (bdk. Kis 20:2), juga
bantuan bagi jemaat di Yerusalem dapat terlaksana (Rm 15:26). Surat kepada
jemaat di Roma, yang ditulis selama kunjungan ketiga ini, memberikan
tanda-tanda adanya suatu akhir yang menyenangkan. Setelah kekecewaan-kekecewaan
yang lama dan mengalami penundaan-penundaan, sekarang Paulus dapat menantikan
kesempatan memberitakan Injil di Roma dan daerah lain (Rm 1:10-15; 15:28).
Selesailah perkara Korintus.
4.
SURAT PAULUS KEPADA JEMAAT FILIPI
Surat
kepada jemaat Filipi bersama dengan Kolose, Efesus dan Filemon adalah empat
surat Paulus yang ditulis Paulus penjara. Ada sejumlah alasan mengenai menyebut
keempat surat sebagai surat dari penjara. Pertama, keempat surat tersebut
memberi kesan ditulis oleh Paulus sendiri (Fil 1:1; Flm 1; Kol 1:1; 4:18; Ef
1:1; 4:1). Kedua, di dalam keempat surat ini Paulus menyebut dirinya sebagai
seorang tawanan (Fil 1:7.13.14; Flm 1:9; Kol 4:18; Ef 3:1; 4:1; 6:20). Ketiga,
ada banyak rekan sekerja yang disebut di dalam keempat surat ini. Surat kepada
Filemon dan kepada jemaat di Kolose menyebut nama Onesimus dan Arkhipus (Flm 1.12.17; Kol
4:9-10.17). Surat kepada jemaat di Kolose dan Efesus menyebut nama Tikhikus
dengan cara yang sama (Kol 4:7; Ef 6:21). Surat kepada jemaat di Filipi, kepada
Filemon, dan kepada jemaat di Kolose menyebut Timotius sebagai utusan Paulus
(Fil 1:1; Flm 1; Kol 1:1).
Persoalannya,
surat kepada jemaat di Kolose dan Efesus diragukan sebagai tulisan Paulus.
Surat Efesus lebih serupa dengan liturgi baptisan atau homili daripada sebuah
surat menurut lazimnya di kalangan jemaat kristen perdana yang terpengaruh
sastra helenis. Surat Filipi mempunyai sejumlah perbedaan dibandingkan dengan
ketiga surat lainnya. Ada nama-nama yang hanya dikenal dalam surat ini, yaitu:
Epafroditus (2:25; 4:18), Euodia, Sintikhe (4:2). Rencana perjalanannya juga
khas (2:19.23-29) dan situasi Paulus di penjara tidak begitu jelas, jika
dibandingkan dengan surat-surat lainnya (1:20-26; 2:17.24). Persoalan terakhir,
di penjara manakah Paulus menulis surat Filipi? Umum disetujui bahwa surat ini
ditulis di Efesus.
1. Kota Filipi
Pada
zaman Paulus, Filipi adalah sebuah penting dari propinsi Makedonia, terletak di
wilayah bagian Timur pegunungan Pangaeus, persisnya di Via Egnatia yang
menghubungkan laut Adriatik dan laut Egea. Kota Filipi didirikan oleh Filipus
II raja Makedonia, ayah Aleksander Agung, pada tahun 358-357 sM. Filipus dari Makedonia tahun 360 sM
merebutnya dan menamai kota itu sesuai dengan namanya. Dia kemudian memperkuat
dan mengembangkan tambang emas di kota ini. Pada tahun 31 sM kota Filipi
menjadi saksi kemenangan Markus Antonius melawan para pembunuh Yulius Caesar,
yaitu Cassius dan Brutus.
Setelah
mengalahkan Markus Antonius di Actium, Octavianus (nantinya bergelar kaisar Augustus)
memasukkan orang-orang Italia kota Filipi, kebanyakan dari mereka adalah para
tentara veteran Roma. Sejak itu kota Filipi diberi nama Colonia Iulia
Augusta Philippensis. Penduduk kota menerima Ius Italicum (hak
sebagai orang Italia), seolah-olah mereka berada di Italia.
2. Gereja
Filipi
Di
Filipi, pada perjalanan misinya yang
kedua, Paulus memulai karya misinya yang pertama kali di daratan Eropa. Kis
16:11-40 mengisahkan berdirinya jemaat Filipi. Berhubung Filipi tidak mempunyai
sinagoga, maka Paulus memulai pewartaannya di sebuah tempat sembahyang Yahudi
dekat sungai Crenides. Ahli sejarah Strabo (VII: 41) mengatakan bahwa nama kota
Filipi dulunya adalah Crenides karena banyaknya sumber air di daerah itu.
Dibandingkan
dengan surat-surat lainnya, surat kepada jemaat Filipi bernada ramah dan penuh
perasaan. Paulus menulis kepada jemaat yang ia kenal dengan baik. Mereka adalah
orang-orang yang ia pertobatkan sewaktu datang ke Filipi untuk pertama kali,
pada perjalanan misi kedua sekitar tahun 50 (Kis 16:12-40). Ia mengunjungi
mereka untuk kedua kalinya pada perjalanan misi ketiga, yaitu dalam
perjalanannya dari Efesus menuju ke Korintus pada musim gugur tahun 57 (Kis
20:1-2). Dan untuk ketiga kalinya ia mengunjungi mereka pada perayaan Roti tak
beragi tahun 58 (Kis 20:3-6). Paulus mengenal jemaat Filipi dengan amat baik.
Meskipun berpendirian tidak mau menerima pemberian umat atas karyanya di tengah
mereka, toh Paulus dengan senang menerima hadiah yang mereka kirimkan, sewaktu
dia berada di Tesalonika (Flp 4:16) dan di Korintus (2Kor 11:9). Ini merupakan
bukti betapa dekatnya hubungan Paulus dengan jemaat Filipi.
Paulus
mendirikan jemaat Kristen di kota perdagangan ini pada tahun 50/51. Silas,
Timotius dan Lukas ada bersamanya. Sesudah karya yang berhasil itu, Paulus dan
Silas ditangkap dengan tuduhan proselitisme. Orang-orang Roma mengizinkan
orang-orang Yahudi (tidak dibedakan antara orang Yahudi dan Kristen) untuk
menjalankan agamanya, tetapi mereka dilarang mempertobatkan orang. Di Filipi,
Paulus mempertobatkan Lidia, seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira. Ia
dibaptis beserta seisi rumahnya. Eksorsisme yang dilakukan Paulus terhadap
seorang budak perempuan yang mempunyai roh tenung membuatnya ditangkap, disesah
dan dimasukkan ke penjara. Sesudah dibebaskan secara ajaib dan dengan
persetujuan para pembesar, Paulus dan Silas meninggalkan kota itu menuju
Tesalonika (Kis 16:11-17:1). Para pembesar merasa bersalah setelah tahu bahwa
mereka telah mendera dan memenjarakan Paulus, seorang warganegara Roma, tanpa
melewati proses pengadilan. Seperti disebut di muka, setelah meninggalkan
Filipi pada kunjungannya yang pertama, Paulus masih mengunjungi kembali
jemaatnya beberapa kali (musim gugur 57 dan Paskah tahun 58). Lidia ternyata
menjadi seorang wanita yang mempunyai peranan penting di tengah jemaat Filipi.
Dari nama-nama yang disebut dalam surat Filipi, dapat diduga bahwa kebanyakan
warga jemaat adalah pertobatan dari bangsa-bangsa lain (bukan bangsa Yahudi).
3. Otentisitas
surat Filipi dan persoalan mengenai kesatuan surat
Para
ahli kebanyakan sependapat bahwa surat ini ditulis oleh Paulus sendiri.
Pendapat ini didukung oleh Ireneus (dalam bukunya Adversus Haeresis,
1:83), Fragmen Muratorium, dan beberapa naskah kuno lainnya. Pendapat ini juga
didukung oleh pengamatan atas bahasa, gaya, ajaran yang dipakai Paulus dalam
surat ini. Keaslian surat Filipi sebagai tulisan Paulus didukung oleh para ahli
modern dari sekolah Tübingen (abad 19), dan sampai sekarang tidak ada lagi yang
mempersoalkannya.
Yang
lebih menimbulkan persoalan adalah kesatuan di dalam surat. Ada yang
mempertanyakan apakah surat Filipi ini dari awalnya merupakan satu surat atau
merupakan kompilasi dari dua atau tiga surat yang dilakukan generasi setelah
Paulus. Polikarpus (abad 2) menyebut adanya beberapa surat yang ditulis Paulus
kepada jemaat Filipi. Ini merupakan kesaksian eksternal yang sering dipakai
untuk meragukan kesatuan surat. Kendati begitu, ada alasan lain yang
dikemukakan berdasarkan pengamatan internal dari isi surat dan tata susunannya.
Sejumlah pengamatan internal yang
meragukan kesatuan surat antara lain sebagai berikut:
- Bila
dilihat konteksnya, pada Fil 3:2 tiba-tiba Paulus mengubah nada dan isi
bicaranya. Ia memberi peringatan agar hati-hati terhadap para lawan yang akan
menggoyahkan iman jemaat. Perubahan tiba-tiba yang kontras dengan perikope yang
mendahului ini lebih cocok menjadi awal sebuah surat.
- Setelah
kesimpulan yang mengakhiri 4:2-9, seolah-olah Paulus memulai pembicaraan yang
baru pada 4:10 di mana Paulus berterima kasih terhadap pemberian bantuan dari
jemaat Filipi.
- Ajakan
untuk bersukacita pada 4:4 sejalan dengan ajakan yang sama pada 3:1.
Seolah-olah 3:1b-16 dan 3:17-4:3 menyela kesinambungan tuturan antara 3:1
dengan 4:4.
Dari pengamatan di atas, ada dugaan
bahwa surat Filipi merupakan kompilasi dari:
Surat
A: 4:10-20, yang berisi ucapan terima kasih atas pemberian bantuan dari jemaat
Filipi.
Surat B: 1:1-3:1a; 4:4-7:21-23, yang
berisi ajakan untuk menjaga kesatuan dan bersuka-cita.
Surat
C: 3:1b-4:3.8-9, yang berisi polemik antara Paulus dan para lawannya.
Banyak
ahli lain yang tetap berpendapat bahwa surat Filipi adalah satu surat. Mereka
juga mendasarkan argumennya pada kesesuaian gaya bahasa, ide, dan konstruksi
surat. Selain itu, kesulitan dalam merekonstruksi proses kompilasinya membuat
mereka cenderung mengandaikan bahwa sejak dari awalnya surat Filipi adalah
suatu kesatuan. Meskipun begitu, perubahan tema dan nada bicara Paulus yang
tiba-tiba pada 3:2 tetaplah suatu kendala yang mengurangi keyakinan akan
kesatuan surat Filipi. Entah surat Filipi merupakan suatu kesatuan atau suatu
kompilasi dari beberapa surat, yang jelas sejumlah ide dan gaya bicara dari
surat tersebut tak diragukan lagi adalah khas Paulus.
4. Waktu
dan tempat penu1isan
Sulit
ditentukan kapan dan di mana surat ini ditulis. Paulus hanya mengatakan bahwa
ia menulis surat ini dari penjara. Berabad lamanya orang berkeyakinan bahwa ia
menulis surat kepada jemaat Filipi pada saat pemenjaraannya di Roma dari tahun
61 sampai 63. Alasannya, di dalam surat ini Paulus menyebut “praetorium” (=
istana), 1:13, dan “mereka yang di istana Kaisar” (4:22). Pendapat ini tidak
lagi diikuti. Kedua ungkapan tersebut tidak mesti mengacu pada Roma.
Diperkirakan istilah-istilah itu dipakai oleh Paulus untuk menunjukkan hubungan
orang-orang Filipi dengan orang-orang Roma. Ini dapat menjadi semacam petunjuk
bahwa setiap kota penting dalam kerajaan Romawi memiliki sebuah istana. Juga
setiap pegawai sipil, termasuk para hamba, disebut “mereka dari istana Kaisar”.
Para
ahli dari abad kesembilan belas sepakat berpendapat bahwa tak ada petunjuk
jelas bahwa surat ini ditulis pada masa pemenjaraannya di Roma. Apakah surat
ini ditulisnya ketika Paulus di dalam penjara di Kaisarea? Pendapat ini tidak mendapat
dukungan dari isi suratnya sendiri. Perlu dikembangkan teori lain. Meskipun
Kisah para Rasul tidak bicara mengenai penahanan di Efesus, namun ada dugaan
bahwa surat ini ditulis di Efesus pada perjalanan misinya yang ketiga. Paulus
tinggal cukup lama tinggal di sana (Kis 19:1-20:1). Dalam suratnya kepada
jemaat di Korintus, Paulus menyebut dengan bahasa kiasan “binatang buas di
Efesus” (lKor 15:32) dan “penderitaan” (2Kor 1:8-10). Alasan lain untuk
mendukung penulisan di Efesus adalah jaraknya yang tidak terlalu jauh dari Filipi. Ada kesan bahwa Timotius serta
Epafroditus tidak mempunyai kesulitan untuk berangkat dan pergi ke situ.
Perjalanan dari Filipi ke Efesus hanya membutuhkan waktu seminggu, sedangkan
perjalanan dari Filipi ke Roma butuh waktu sekitar l bulan.
Kita
andaikan saja bahwa surat kepada jemaat Filipi ini ditulis sewaktu Paulus ada
dalam penjara di Efesus. Sewaktu mendengar penderitaannya, jemaat Filipi
mengumpulkan dana dan menitipkannya kepada Epafroditus. Epafroditus mengunjungi
Paulus di penjara dan kemudian jatuh sakit. Begitu sembuh, Paulus memutuskan
untuk mengirimkannya ke Filipi dengan membawa suratnya kepada jemaat Filipi.
Paulus menyinggung kebaikan hati mereka dua kali (waktu ia pertama kali pergi
ke Filipi dan ketika mereka mengirimkan dana kepadanya dalam penjara, 4:14-17).
5. Madah
Kristus dalam 2:6-11
Enam
ayat ini merupakan untaian madah yang indah. Para ahli sangat tertarik akan
bagian ini yang menyoroti secara bagus misteri inkarnasi Yesus. Mungkin juga
Paulus menggubah madah ini berdasarkan Yes 52:13 - 53:12 yang sudah digunakan
dalam liturgi Gereja purba. Namun demikian tak dapat disangkal bahwa
unsur-unsur dari madah sendiri dikembangkan dalam surat-surat Paulus lainnya,
seperti Rm 1:1-4; 2Kor 8:9; bdk. Ibr. 5:8; 12:1-2. Dalam madah itu ia
menjelaskan, bahwa meskipun Kristus berada dalam kemuliaan Ilahi tetapi Ia
tidak menganggap perlu untuk selalu memperlihatkan kemuliaan-Nya yang setara
dengan Allah Bapa itu. Sebaliknya, Ia menghampakan diri dan menanggalkan kemuliaan
ilahi-Nya dengan mengambil rupa manusia, bahkan manusia yang paling hina sampai
mati di kayu salib. Karena kerendahan hati dan ketaatan yang mengantar-Nya ke
kematian di kayu salib, Allah Bapa menganugerahkan kepada-Nya Nama, yang
artinya pemberian kepada Yesus kemuliaan dan kekuasaan-Nya sendiri. Misteri
inkarnasi Yesus ini dijadikan pola bagi jemaat Filipi untuk bersikap rendah
hati yang serupa dengan pengosongan diri Kristus.
6. Struktur
dan isi surat Filipi
Pendahuluan
1:1-2
Salam
1:3-11
Ucapan syukur dan doa
Berita
pribadi (1:12-26)
Nasihat
1:27-30
Agar jemaat teguh dalam iman
2:1-11 Agar tetap bersatu dalam kasih
2:12-18 Agar taat
Berita
tentang dikirimnya Timotius dan Epafroditus (2:19-30)
Peringatan
terhadap orang-orang Kristen - Yahudi
3:1-21 Keyakinan mereka dilawankan dengan
keyakinannya sendiri
Nasihat
selanjutnya
4:1-9 Agar tetap teguh dan bergembira
4:10-20 ucapan terima kasih atas pemberian jemaat
Salam dan
berkat (4:21-23)
Nada
surat Filipi pada umumnya lembut dan menggembirakan, memberi tekanan pada
ajakan bersukacita (1:4.18; 2:2.17; 3:1; 4:1.4.10). Jalan pikiran surat Filipi
relatif sederhana. Dalam salam pembukaan (Flp 1:1-2), Paulus serta Timotius
mengucapkan selamat kepada jemaat di Filipi beserta para pemukanya. Cukup
menarik jika mengamati bahwa Paulus tidak menyebut dirinya sebagai “rasul”,
seperti yang di katakan dalam surat-surat lainnya (kecuali 1Tes dan 2Tes). Kita
bisa menduga bahwa kerasulan Paulus tidak dipersoalkan oleh jemaat Filipi. Di
Korintus dan Galatia, Paulus menghadapi para lawan yang yang mempersoalkan
kerasulannya, sehingga Paulus terpaksa menyebut dirinya sebagai “rasul”.
Setelah
salam pembukaan, Paulus mulai dengan mengucapkan syukur (1:3-8) atas iman dan
semangat jemaat. Ucapan syukur ini bernada lembut dan akrab. Syukur itu
kemudian beralih menjadi sebuah doa bagi jemaat (1:9-11).
Pada
1:12-26, Paulus berbicara mengenai pemenjaraannya. Dia berharap agar bisa
segera keluar dari penjara untuk melayani jemaat lagi. Manurut Paulus, pemenjaraannya
membawa keuntungan bagi pemberitaan Injil (1:12-17), karena dia dipenjarakan
demi Kristus. Oleh karena itu Paulus dapat bersukacita bahwa Kristus dimuliakan
di dalam penderitaannya (1:18-20). Paulus tidak peduli apakah dia akan mati
atau hidup terus. Dengan terus-terang Paulus mengatakan: “Bagiku hidup
adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (1:21). Sebenarnya Paulus lebih
ingin mati sebagai martir dan begitu segera berkumpul dengan Kristus (1:21-23).
Namun begitu, dia lebih merasa lebih perlu untuk tinggal hidup demi
pelayanannya kepada jemaat (1:24). Paulus yakin bahwa ia akan dibebaskan dari
penjara dan terus berkarya (1:24-26).
Pembicaraan
mengenai kesaksian imannya kemudian beralih pada serangkaian nasehat (1:27 -
2:18). Jemaat diajak untuk hidup berpadanan dengan Injil Kristus. Jemaat
hendaknya bersatu padu dalam iman yang dicobai oleh penderitaan (1:27-30).
Sebagai orang kristen, kita dipanggil bukan hanya untuk percaya tetapi juga
untuk menderita demi Kristus. Hendaknya mereka secara sehati, saling mengasihi
dengan tidak mementingkan dirinya, senantiasa bersukacita, rendah hati dengan
cara menganggap yang lain lebih utama (2:1-5). Dalam hal itu jemaat mesti
meneladan Kristus atau sepikiran dan seperasaan dengan Kristus. Menyusul
kemudian sebuah madah terkenal yang intinya menyampaikan misteri perendahan dan
peninggian Kristus Yesus (2:6-11). Hendaknya jemaat meneruskan kehidupan
kristianinya dalam dunia buruk, sehingga Paulus dapat berbangga dan
bersukacita, meskipun barangkali mesti mengalami hukuman mati (2:12-18).
Paulus
berbicara mengenai Timotius dan Epafroditus yang telah membantu dia selama
dipenjara (2:19-30). Timotius dipuji dan diutus. Epafroditus yang diutus oleh
jemaat untuk membawa sumbangan dan membantu dia ternyata jatuh sakit keras dan
kemudian dikirim kembali kepada jemaat Filipi setelah sembuh (2:25-30). Flp
3:la terkesan menjadi semacam penutup surat, tetapi tiba-tiba Paulus memulai
suatu pembicaraan baru yang intinya mengecam orang-orang yang membahayakan
jemaat (Flp 3:lb-21). Rupanya ada sejumlah orang-orang Yahudi yang aktif di
Filipi, yang mau mengacaukan jemaat dengan mengajak mereka untuk mentaati
Taurat agar memperoleh keselamatan. Paulus dengan penuh ketegasan menyatakan
bahwa dia sendiri seorang Yahudi sejati. Akan tetapi iman akan Kristus telah
membuatnya meninggalkan segala sesuatu. Paulus hanya ingin mengenal Kristus,
kuasa kebangkitan-Nya, persekutuan dalam penderitaan-Nya, dan menjadi serupa
dengan-Nya dalam wafat dan kebangkitan (3:5-11). Ia tentu sadar bahwa belum
sampai di tujuan itu, tetapi penuh kepercayaan dia mau mengarah ke tujuan itu
(3:12-14). Maka Paulus mengharapkan jemaat berpegang pada apa yang sudah mereka
dapat (3:15-16).
Selanjutnya
Paulus tidak ragu-ragu mengecam anggota-anggota jemaat yang dalam gaya hidupnya
rnenyangkal kekristenannya dengan memikirkan perkara duniawi saja (3:17-19).
Mereka telah hidup sebagai seteru salib Kristus. Panggilan jemaat yang beriman
kepada Kristus adalah kewarganegaraan sorgawi yang akan membawa perubahan tubuh
duniawi menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia (3:20-21). Hendaknya jemaat
tetap berdiri teguh dalam Tuhan (4:1).
Menyusul
kemudian nasehat agar jemaat bersatu hati dan berjuang untuk menwartakan Injil
dengan penuh sukacita (4:2-9). Pada bagian akhir surat, Paulus mengucapkan
terima kasih atas sumbangan yang dikirim jemaat (4:10-19). Kata penutup
(4:20-23) terdiri atas suatu pujian, salam bagi seluruh jemaat Filipi dan
berkat penutup.
7. Pentingnya
surat ini
Surat
ini berisikan pelajaran-pelajaran berharga dan penuh rasa persahabatan. Bagian
yang terpenting adalah pujian terhadap keilahian Kristus, penjelmaan,
keutamaan, kematian, kebangkitan dan kemuliaan (2:5-11). Hukum dan karya-karya
kodrati keselamatan (3:2-8) seolah-olah tidak berguna. Keadilan diberikan Tuhan
secara cuma-cuma kepada orang beriman (3:9). Kebangkitan badan hanya dapat
terjadi melalui kekuatan Kristus (3:12).
Paulus memberi sejumlah nasehat berharga bagi kehidupan Kristen: keselarasan, kedamaian
(1:27; 2:4; 4:2-7) dan kerendahan hati (2:3-5). Umat kristen perlu menghayati
persekutuan dalam sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus (3:10). Seluruh
jemaat dipanggil untuk bekerja keras guna mencapai kesempurnaan (3:12 dst.).
Jika percaya kepada Kristus dan selalu bersama-Nya, kita dapat melakukan segala
hal (4:13). Hendaknya jemaat senantiasa taat dan mengerjakan keselamatan dengan
takut dan gentar (2:12). Iman akan Kristus membawa keyakinan kuat bahwa kita
akan menerima hadiah surgawi (3:14; 1:6-11). Surat ini terutama berisi ajakan
berulang-ulang untuk bergembira (1:7.25; 2:2-17.18.28-29; 3:1; 4:4). Ajakan
tersebut memberi warna tersendiri pada surat ini. Paulus selalu mengaitkan
“kegembiraan” dengan keselamatan dari Mesias.
5.
SURAT PAULUS KEPADA FILEMON
Surat
Paulus kepada Filemon merupakan salah satu dari surat yang ditulis dari dalam
penjara. Inilah surat Paulus yang terpendek (hanya 335 kata dalam teks
Yunaninya) dalam Perjanjian Baru. Beberapa kali Paulus dipenjara (di Kaisarea,
Efesus, Roma), surat ini rupanya ditulis ketika Paulus dipenjarakan di Efesus.
Pada waktu itu Paulus sudah tua, meskipun semangatnya masih tinggi untuk
mewartakan Injil Tuhan. Kata-kata Paulus di dalam surat Filemon terkesan bijak,
hati-hati dan penuh kepekaan perasaan.
1. Struktur
retorik surat Paulus kepada Filemon
Pengantar surat / Epistolary
Prescript - 1-3
Pendahuluan / Exordium - 4-7
Tujuan penulisan surat / Probatio -
Confirmatio - 8-16
Alasan dan kesimpulannya /
Argumentatio - Peroratio - 17-22
Penutup / Epistolary Postcript - 23-25
2. Sebuah
surat semi pribadi
Surat
kepada Filemon dapat disebut sebagai surat semi pribadi. Alasannya, surat ini
memang ditujukan kepada Filemon, tetapi di dalamnya disebut juga dua nama lain
yang menjadi tujuan surat, yaitu Apfia dan Arkhipus. Sebagai pengirim, Paulus
tidak mau sendirian tetapi juga menyebut nama Timotius yang ada bersama dengan
dia. Tentunya Timotius mengetahui juga isi surat kepada Filemon ini. Rupanya
Paulus memang menulisnya sebagai surat
semi pribadi, agar jemaat yang biasa berkumpul di rumah Filemon dapat ikut
mengetahui isinya dan dapat bersama-sama merenungkan pesannya. Pada bagian
salam pembukaan, para jemaat juga ikut disapa. Kendati demikian, permasalahan
pokok yang dibahas di dalam surat lebih pada urusan Paulus dengan Filemon
berkenaan dengan minggatnya Onesimus.
Pada
waktu itu, jumlah jemaat kristen masih sedikit dan mereka biasa mengadakan doa
serta pertemuan di rumah-rumah pribadi jemaat yang mempunyai ruangan cukup
besar. Sudah menjadi kebiasaan bahwa surat-surat Paulus dibaca dan didengarkan
bersama-sama. Mengenai surat Filemon, kehadiran jemaat yang ikut mendengarkan
pembacaan surat memberi keuntungan sendiri bagi tujuan Paulus. Di dalam surat,
Paulus meminta agar Onesimus diterima kembali di rumah Filemon. Dapat
dibayangkan bahwa kehadiran jemaat pada waktu surat dibacakan membuat Filemon sulit mengabaikan atau menolak
permintaan Paulus. Tentu saja cara yang dipilih oleh Paulus tidak bertujuan
buruk, mengingat sikap persaudaraan dan keterbukaan di antara jemaat pada waktu
itu sudah menjadi suatu keutamaan yang dicita-citakan bersama. Selain itu, isi
dan pesan suratnya relevan untuk seluruh jemaat, bukan hanya untuk Filemon.
Apakah
Filemon mengabulkan permintaan Paulus? Kita mengandaikan bahwa Filemon
mengabulkannya, terbukti surat semi pribadi ini sampai disimpan oleh jemaat,
dan Gereja memasukkannya ke dalam kanon Kitab Suci. Bahkan amat sangat mungkin
pesan rohani Paulus di dalam surat ini menyentuh hati jemaat dan memberi
inspirasi iman yang dianggap relevan untuk diteruskan dari generasi ke
generasi.
3. Apakah
pokok permasalahannya?
Dari
suratnya, kita dapat merekonstruksi duduk permasalahan yang
melatarbelakanginya. Filemon mempunyai seorang budak yang bernama Onesimus.
Pada suatu hari, entah apa alasannya, Onesimus melarikan diri dari tuannya.
Jika mengacu pada surat Kolose 4:9.17, nama Onesimus dan Arkhipus disebut
sebagai orang-orang yang tinggal di Kolose. Dari situ dapat disimpulkan bahwa
Filemon tinggal di Kolose. Kita tidak tahu persis apa sebabnya Onesimus minggat
dan apa kesalahan yang telah dilakukannya. Ada kesan bahwa Onesimus bukan hanya
minggat dari rumah Filemon tetapi juga telah merugikan tuannya itu. Kerugian
apakah yang dimaksud? Apakah Onesimus telah mencuri uang Filemon? Ataukah dia
masih berhutang kepada tuannya dan belum membayarnya? Kita tidak tahu persis.
Yang jelas, jika memang benar bahwa Onesimus telah merugikan tuannya entah
dalam hal uang maupun hutang, Paulus
bersedia menanggungnya (ayat 18-19).
Onesimus
minggat dari rumah Filemon dan pergi kepada Paulus yang pada waktu itu sedang
dipenjara. Jarak antara Kolose ke Efesus memang tidak amat jauh. Jika ditarik
garis lurus, kedua kota itu berjarak sekitar 175 km. Karena Onesimus lari
kepada Paulus, maka Paulus merasa bertanggungjawab secara langsung untuk
menyelesaikan persoalannya. Menurut undang-undang Romawi, barangsiapa menerima
seorang budak pelarian, dia harus bertanggungjawab pada tuan dari budak
tersebut. Paulus memang menunjukkan tanggungjawabnya, dia akan mengembalikan
Onesimus kepada Filemon dan akan menanggung segala kerugian (ayat 19). Sebagai
perbandingan, dalam Ul 23:15-16 dikatakan: “Janganlah kauserahkan kepada
tuannya seorang budak yang melarikan diri dari tuannya kepadamu. Bersama-sama
engkau ia boleh tinggal, di tengah-tengahmu, di tempat yang dipilihnya di salah
satu tempatmu, yang dirasanya baik; janganlah engkau menindas dia.” Sebagai
orang Yahudi, tentunya Paulus tahu aturan yang tertulis dalam kitab Ulangan
tersebut. Kendati begitu, Paulus hidup di tengah budaya helenis yang memakai
undang-undang Romawi di dalam kehidupan sosial dan politik. Paulus memang tidak
menindas Onesimus. Dari suratnya, hal itu tidak disebabkan oleh perintah kitab
Ulangan, tetapi karena Paulus sendiri merasakan kehadiran Onesimus yang berguna
baginya.
Rupanya
Paulus juga memperhitungkan undang-undang Romawi untuk mengembalikan seorang
budak yang melarikan diri kepada tuannya. Kasus minggatnya seorang budak dari
rumah tuannya adalah sesuatu yang biasa terjadi di dunia Yunani-Romawi pada
waktu itu. Biasanya para budak yang tertangkap setelah melarikan diri akan
dihukum dengan hukuman penjara, dicambuk, bahkan disalibkan. Dalam kasus
Onesimus, persoalannya menjadi tidak biasa karena iman kristen memberi dimensi
baru bagi persaudaraan di dalam Kristus yang tidak mengenal pembedaan suku,
ras, golongan, status sosial, maupun gender. Bagi iman kristen, Kristus adalah
semua di dalam segala sesuatu (bdk. Kol 3:11; Gal 3:27-28). Paulus tidak mau
membiarkan Onesimus kembali kepada Filemon untuk kemudian ditindas, atau
diperlakukan sebagai budak kembali. Paulus ingin agar Onesimus diperlakukan
dengan baik, bahkan dianggap sebagai saudara dalam Kristus.
4. Tujuan
surat
Apakah
Paulus memakai surat ini sebagai senjata untuk memberantas perbudakan? Kita
boleh menduga bahwa Paulus tidak mau masuk ke dalam masalah perbudakan, kendati
latar belakang suratnya kental dengan suasana itu. Keprihatinan Paulus lebih
pada bagaimana dapat membangun relasi antar jemaat kristen yang diwarnai
persaudaraan sejati. Di dalam persaudaraan sejati itu diandaikan adanya sikap
saling menghargai, saling mengampuni, saling berbela rasa, saling mengasihi dan
memberi perhatian. Siapapun entah budak atau tuan, entah kaya atau miskin,
entah berstatus rendah maupun tinggi, mendapat hak dan kewajiban yang sama
untuk membangun dan merasakan persaudaraan sejati itu. Jika prinsip persaudaran
sejati itu sungguh dilaksanakan, lama-kelamaan sistem perbudakan akan hapus
dengan sendirinya. Untuk sementara, Paulus baru sampai pada himbauan agar
memperlakukan budak sebagai saudara sejati di dalam Kristus. Sekali lagi,
penghapusan sistem perbudakan bukanlah tujuan utama dari surat ini. Rasanya
masih sulit pada waktu itu untuk membayangkan suatu masyarakat tanpa budak.
Namun, dapat diharapkan bahwa sistem perbudakan dengan sendirinya akan hapus
jika jemaat mau mewujudkan persaudaraan sejati yang dilandasi iman akan
Kristus. Jika Onesimus kembali kepada Filemon, mungkin saja dia masih melakukan
pekerjaan yang sama sebagai budak. Namun, dengan intervensi Paulus diharapkan
perlakuan terhadap Onesimus menjadi lain. Dia diperlakukan sebagai saudara
sejati dalam Kristus, meskipun masih melakukan pekerjaan yang sama. Selain itu,
intervensi Paulus bertujuan pula agar Onesimus tidak harus menanggung kerugian
Filemon. Paulus yang akan menanggungnya.
Surat
kepada Filemon mempunyai beberapa tujuan penting. Pertama, untuk memberi
kepastian kepada Filemon bahwa Paulus akan mengirimkan Onesimus kembali
kepadanya. Kedua, Paulus meminta agar dia diterima oleh Filemon sebagai saudara
terkasih demi iman akan Kristus. Ketiga, persoalan ini menjadi kesempatan bagi
Paulus untuk menasihatkan bahwa iman kristen membawa pola relasi yang baru di
antara anggota jemaat, yaitu relasi yang diwarnai persaudaraan sejati tanpa
memandang perbedaan suku, ras, golongan, budaya, kedudukan sosial, maupun
gender. Keempat, Paulus mau mengajarkan perwujudan iman Kristen di dalam
tindakan belas kasih dan pengampunan.
Onesimus
yang dianggap bersalah itu ternyata telah banyak membantu Paulus selama dia
berada di dalam penjara. Dari kedekatannya dengan Onesimus, Paulus tahu bahwa
Onesimus adalah orang baik dan dia tidak memberi kesan sebagai seorang budak
yang sedang melayani Paulus sebagai tuannya. Lebih tepat dikatakan bahwa Onesimus
telah melayani Paulus sebagai seorang kristen melayani rasul, atau sebagai
seorang anak melayani bapaknya. Dia melayani Paulus dengan penuh hormat,
perhatian dan kasih yang tulus. Oleh karena itu, Paulus tidak segan-segan
menyebut dia sebagai anak dan buah hatinya. Ini suatu pertanda bahwa hubungan
keduanya sudah begitu dekat dan saling membutuhkan. Hanya satu yang masih
mengganjal, yaitu bahwa Onesimus bukan orang merdeka. Dia adalah milik Filemon,
sehingga Paulus harus mengirimnya kembali kepadanya.
Berdasarkan
pengalaman relasi yang begitu dekat itu, Paulus berpendapat bahwa Onesimus
layak diterima kembali oleh Filemon sebagai saudara dalam Kristus, tidak
diperlakukan sebagai seorang budak. Mengapa hal ini perlu ditekankan?
Persoalannya, bisa saja Filemon menerima Onesimus kembali kepadanya tanpa
diberi hukuman tetapi tetap diperlakukan sebagai seorang budak. Menurut ukuran
kelaziman waktu itu, sudah merupakan suatu kebajikan yang luar biasa jika
Onesimus diterima kembali tanpa mendapat hukuman. Namun, Paulus menghimbau
Filemon agar menunjukkan kebaikan yang melebihi kelaziman pada zamannya. Dia
ingin agar Onesimus bukan hanya diterima dan tidak dihukum, tetapi hendaknya
dianggap sebagai saudara dalam Kristus. Status dan latar belakang Onesimus
memang tidak dapat diubah lagi dari segi sosial kemasyarakatan. Namun, masih
ada jalan yang sah dan seharusnya terjadi bagi umat Kristen, yaitu menganggap
orang lain sebagai saudara dalam iman akan Yesus Kristus. Di dalam suratnya
kepada jemaat di Kolose, Paulus pernah memberi nasehat demikian:
“8 Tetapi sekarang, buanglah
semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang
keluar dari mulutmu. 9 Jangan lagi
kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta
kelakuannya, 10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus
diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;
11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang
bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau
orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.
12 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan
dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati,
kelemahlembutan dan kesabaran.” (Kol 3:8-12)
27 Karena kamu semua, yang dibaptis
dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. 28 Dalam hal ini tidak ada orang
Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada
laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus
Yesus. (Gal
3:27-28)
Paulus
menasihati jemaat Kolose tentang keutamaan kristiani yang menjadi ciri dari
manusia baru yang terus-menerus diperbaharui menurut gambar (citra) Allah Sang
Pencipta, manusia baru yang dipilih-Nya dan dikasihi-Nya. Keutamaan tersebut
antara lain berupa sikap dan tindakan belas kasih, kerendahan hati,
kelemah-lembutan dan kesabaran. Selain itu, Paulus juga mengatakan bahwa di
dalam Kristus tidak ada lagi pembedaan, antara lain pembedaan antara budak dan
orang merdeka. Kristus adalah semua dan di dalam semua, dan kita semua adalah
satu di dalam Kristus Yesus.
Sebagai
anggota jemaat yang berdomisili di Kolose, Filemon tentu pernah mendengar atau
bahkan membaca surat Paulus tersebut. Dengan demikian, permintaan Paulus agar
Onesimus diampuni dan diterima kembali di rumahnya bukan sesuatu yang baru bagi
Filemon. Filemon pernah mendengar nasihat Paulus itu, dan inilah saat yang
tepat baginya untuk mewujudkannya secara nyata.
5. Argumentasi
dan retorika Paulus di dalam surat kepada Filemon
1. Paulus
menyebut Filemon sebagai saudara kekasih dan rekan sekerja (ayat 1). Sebutan
sebagai saudara dan rekan sekerja ini menunjukkan pola relasi tertentu. Filemon
bukan orang lain dan bukan sekedar salah satu anggota jemaat kristen. Filemon
mempunyai relasi dekat dengan Paulus, bahkan berperan sebagai rekan sekerjanya
di dalam membina jemaat Kolose. Diandaikan bahwa Filemon mengenal dengan baik
apa yang menjadi perjuangan, semangat dan cita-cita Paulus. Wibawa Paulus diakuinya.
2. Paulus
bersyukur atas teladan Filemon dalam hal kasih kepada semua orang kudus (jemaat
beriman) dan dalam beriman kepada Tuhan Yesus. Surat ini ditulis dengan
disertai keyakinan Paulus akan keunggulan kasih dan iman dari Filemon.
Keyakinan ini menumbuhkan harapan bagi Paulus bahwa Filemon akan menyetujui
permintaannya dan memahami argumentasi Paulus dalam menganjurkan pengampunan
dan penerimaan kembalinya Onesimus kepadanya.
3. Paulus
menyatakan dirinya sebagai orang yang sudah menjadi tua dan dipenjarakan karena
Kristus. Apa kaitannya dengan isi surat? Dengan pernyataan itu, Paulus mau
mengatakan bahwa dia telah rela mengorbankan dirinya demi Kristus sampai pada
masa tuanya. Jika dia meminta Filemon untuk berkorban demi Kristus itu bukan
sekedar nasehat saleh tetapi dia sendiri sudah menghayati arti pengorbanan itu.
Pengorbanan apa yang dituntut dari Filemon? Tak lain adalah kesediaannya untuk
menerima Onesimus kembali, bukan sebagai budak tetapi sebagai saudara dalam
Kristus. Selain itu, Paulus ingin menggugah simpati Filemon akan kondisinya dan
mengundangnya untuk ikut terlibat di dalam pengorbanannya demi Kristus. Di
dalam penderitaannya, Paulus dapat merasakan bahwa kehadiran Onesimus amat
bermanfaat baginya. Baginya, Onesimus sudah menjadi saudara kekasih. Tentunya,
hal yang sama dapat dirasakan oleh Filemon dengan kehadiran Onesimus kepadanya.
4. Paulus
memang mempunyai sebuah permintaan, tetapi dia tidak mau memaksa Filemon untuk
mengabulkannya. Dia sebenarnya ingin agar Onesimus tetap tinggal bersamanya dan
membantu dia selama di penjara. Akan tetapi dia tidak mau melakukan hal itu
tanpa persetujuan Filemon. Bagaimanapun juga, Onesimus secara hukum adalah
miliknya. Dengan mengirim kembali Onesimus kepada tuannya, Filemon bebas untuk
mangambil keputusan. Kalau dia mau, dapat saja Onesimus dikirim kembali ke
Efesus untuk melayani Paulus di penjara atas persetujuannya. Paulus tidak mau
berandai-andai sejauh itu. Baginya cukup untuk mengatakan bahwa Onesimus telah
berguna baginya, dia bukan lagi seorang budak tetapi sudah seperti saudara,
anak, buah hati, bahkan telah menjadi bagian dari dirinya. Dia ingin agar
relasi yang begitu dekat itu juga terjadi antara Filemon dan Onesimus.
5. Minggatnya
Onesimus dari rumah Filemon dalam arti tertentu mempunyai makna positif. Jika
dia tidak minggat, keadaannya masih akan sama. Disposisi Filemon terhadap
Onesimus, dan juga sebaliknya, masih akan tetap sama. Dengan sejenak berpisah
dari Filemon, Onesimus mempunyai harapan untuk perubahan situasi dan kondisi.
Ayat 15-16 memberi tafsiran itu: “15 Sebab mungkin karena itulah dia
dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk
selama-lamanya, 16 bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba,
yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik
secara manusia maupun di dalam Tuhan.”
6. Paulus
sampai pada argumentasi puncaknya pada ayat 17: ““Kalau engkau menganggap
aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri.” Kalau argumen
sebelumnya mengatakan bahwa Onesimus sepatutnya diterima kembali oleh Filemon
karena masih dapat berguna baginya (fungsional), sekarang argumentasinya
menjadi lebih menukik lagi. Menerima kembali Onesimus berarti sama dengan
menerima Paulus sendiri. Kita diingatkan pada perumpamaan Yesus tentang
penghakiman terakhir. Di situ sang raja (Tuhan) yang menghakimi manusia menurut
perbuatannya, menyamakan dirinya dengan kaum lemah yang ditolong; “Aku
berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah
seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”
(Mat 25:40). Begitu dalamnya pathos Paulus sampai dia menyamakan dirinya
dengan Onesimus. Dapat kita bayangkan, Filemon tentu tidak dapat tidak
mengabulkan permintaan Paulus.
7. Persoalan
antara Filemon dan Onesimus adalah persoalan yang tidak terlalu rumit untuk
ukuran sosial kemasyarakatan waktu itu. Budak adalah budak. Jika bersalah,
tuannya dapat saja menghukum dia dengan cara yang lazim pada waktu itu. Tidak
ada yang bisa menggugat, karena budak tersebut sudah menjadi milik tuannya.
Seandainya tuannya cukup berbaik hati untuk menerima budak pelarian itu kembali
ke rumahnya, wajar jika dia harus menyelesaikan persoalan yang telah membuat
dia lari. Berkaitan dengan kasus Onesimus, kita andaikan saja dia telah mencuri
uang Filemon atau telah berhutang padanya. Jika dia kembali kepada tuannya dan
diterima kembali tanpa hukuman, Onesimus tetap harus menyelesaikan perkaranya
yaitu mengembalikan uang yang dicuri atau melunasi hutangnya. Akan tetapi cara
berpikir Paulus lain. Dia ingin agar Onesimus kembali kepada tuannya tanpa
dibebani lagi permasalahan uang yang tak mungkin diselesaikannya itu. Jika
Filemon mau memberlakukan kebiasaan tersebut, Paulus bersedia membayar
kerugiannya. Biarlah semua kerugian Filemon akibat ulah Onesimus ditanggungkan
pada dirinya (ayat 18-19). Selanjutnya Paulus mengatakan sesuatu yang bisa
membuat Filemon semakin tak berkutik. Onesimus hanya berhutang uang kepada
Filemon, tetapi Filemon sendiri sebenarnya juga telah berhutang kepada Paulus,
bukan uang tetapi hidupnya sendiri. Paulus telah memperkenalkan Kristus
kepadanya dan dengan demikian hidupnya telah “diselamatkan”. Tidak berlebihan
jika Paulus mengatakan bahwa Filemon telah berhutang kepadanya, karena berkat jasanya
hidup Filemon telah diselamatkan untuk kehidupan abadi. Akan tetapi entah
Filemon mengakuinya atau tidak, Paulus bersedia untuk menanggung kerugian
akibat ulah Onesimus, dengan jaminan tulisan tangannya sendiri (ayat 19). Bisa
dipastikan bahwa Filemon tidak keberatan untuk mengabulkan permintaan Paulus
yang disertai dengan segala alasan yang begitu kuat itu. Paulus tentu juga
yakin akan hal itu. Pada awal surat, Paulus bersyukur kepada Tuhan karena kasih
yang iman Filemon. Tentu Filemon tidak akan menyia-nyiakan rasa syukurnya dan
mengabaikan hubungan persaudaraan yang telah begitu erat dengan Paulus, hanya
karena persoalan minggatnya Onesimus. Kasihnya kepada sesama, imannya kepada
Tuhan, dan persahabatannya dengan Paulus tidak akan dapat digoyahkan oleh
pelanggaran seorang budaknya. Sebaliknya semua itu sekarang sedang diuji. Dan
Paulus yakin bahwa Filemon akan memenangkan ujian itu. Bahkan Paulus yakin
bahwa Filemon akan melakukan lebih dari apa yang diminta oleh Paulus (ayat 21).
6.
SURAT PAULUS KEPADA JEMAAT DI TESALONIKA
Surat-surat Tesalonika dianggap
sebagai tulisan yang tertua dalam Perjanjian Baru. Surat-surat tersebut
memaparkan sejumlah permasalahan dan
aspirasi dari Gereja muda. Surat 1Tes diperkirakan ditulis dalam 20 tahun setelah
karya pulbik Yesus, tidak lama setelah Paulus mendirikan komunitas kristen
di Tesalonika, provinsi Makedonia (Kis
17; 1Tes). Dengan demikian surat-surat ini tergolong cukup penting. Ada
kesulitan untuk membandingkan 1Tes dengan 2Tes. Keduanya mempunyai kemiripan
tetapi juga mempunyai perbedaan yang tajam. Umumnya diduga bahwa 2Tes bukan
tulisan asli Paulus, tetapi hasil peredaksian pada masa seseudah Paulus.
1. Kota
Tesalonika
Sampai
sekarang kota Tesalonika masih berdiri, dengan nama Salonika. Pada zaman Paulus,
Tesalonika adalah kota pelabuhan alami di propinsi Makedonia yang terletak di
ujung teluk Terme. Kota Tesalonika mempunyai sejarahnya jauh sebelum Paulus,
yaitu sekitar tahun 315 ketika kota itu didirikan oleh Cassander atau
Kassandros, salah seorang jenderal dari raja Aleksander Agung. Cassander
menamainya kota Tesalonika, seperti nama isterinya, saudari tiri/satu ayah dari
Aleksander Agung. Setelah menang perang di Pydna pada tahun 168 sM, bangsa
Romawi menguasai Tesalonika dan menjadikannya kota yang penting serta strategis
untuk berhubungan dengan wilayah kekaisaran bagian Timur. Tahun 146 sM,
Tesalonika menjadi ibu kota dari privinsi Makedonia, di bawah kekaisaran
Romawi. Penduduk Tesalonika mendukung Octavius dalam perang di Filipi tahun 42
sM, dan sejak itu mendapatkan status kota merdeka yang mempunyai otonomi
administratip sendiri di bawah seorang gubernur Roma. Karena letaknya yang
strategis, Tesalonika juga menjadi kota penting dalam bidang ekonomi,
perdagangan dan politik.
Orang
Yahudi di Tesalonika mempunyai sinagoga sendiri, di mana Paulus pernah
berkotbah (bdk. Kis 17:1-2). Selain itu dari penelitian arkeologis di sana
ditemukan juga bekas-bekas kuil dewa-dewi Isis, Serapis, Osiris, Anubis dan
tempat pemujaan kaisar.
2. Gereja
di Tesalonika
Sumber
yang dapat kita ambil mengenai didirikannya Gereja di Tesalonika oleh Paulus
terdapat pada Kis 17:1-10 dan surat 1Tes. Disebutnya nama Makedonia dalam Kis
19-20 dan surat-surat Paulus (1-2Kor, Roma, Filipi) mengandaikan adanya kontak
yang cukup dekat antara Paulus dengan jemaat Tesalonika. Menurut Kis 17:1-10,
Tesalonika adalah kota Eropa kedua, setelah Filipi, di mana Paulus mewartakan
Injil. Ditemani oleh Silas dan Timotius, Paulus menyeberangi laut Aegea dari
Asia. Setelah mengunjungi Filipi dan mengalami banyak kesulitan sampai
pemenjaraan (Kis 16:16-40), Paulus dan kawan-kawan meninggalkan Filipi,
melewati Amfipolis dan Apolonia lalu sampai di Tesalonika (sekitar tahun 49),
yang jaraknya sekitar 130 km dari Filipi. Amfipolis dan Apolonia tidak mereka
singgahi, mungkin karena tidak terdapat sinagoga di kedua kota itu.
Menurut
Kisah Para Rasul, Paulus beserta Silas dan Timotius mengunjungi Tesalonika
dalam perjalanan misinya yang kedua, sekitar tahun 50. Rupanya jumlah orang
Yahudi di Tesalonika ada cukup banyak, sampai dapat mempunyai sinagoga sendiri.
Kisah Para Rasul menceritakan bahwa Paulus dan kawan-kawannya tinggal di rumah
Yason ketika berkotbah selama tiga hari Sabat di Tesalonika. Dia berhasil
mengkristenkan beberapa orang Yahudi terkemuka dan banyak orang Yunani
proselit. Karena terjadi keributan yang diprakarsai oleh orang-orang Yahudi
melawan Paulus, mereka meninggalkan Tesalonika dan pergi ke Berea (Kis 17:1-9).
Surat 1Tes ditulis beberapa bulan setelah dia meninggalkan Tesalonika dan surat
ini ditulisnya dari Korintus.
Penjelasan
menurut Kisah Para Rasul tidak memberikan gambaran lengkap tentang kegiatan
Paulus di Tesalonika. Pembicaraan Paulus tentang karya misinya (1Tes 2:9-12)
dan kedekatannya dengan jemaat Tesalonika (1Tes
2:8; 3:6-10) mengandaikan bahwa Paulus tinggal di sana lebih dari tiga
minggu, mungkin sampai beberapa bulan. Menurut 1Tes, diduga bahwa Paulus
mempertobatkan orang-orang dari paganisme, bukan dari Yudaisme (bdk. 1:9:
mereka meninggalkan berhala-berhala). Tidak terkesan adanya komunitas Yahudi
dalam 1Tes dan tidak ada petunjuk bahwa pengejaran terhadapnya disebabkan oleh
ulah kaum Yahudi. Selain itu, 1Tes tidak mengatakan bahwa tema kotbah Paulus di
Tesalonika berkisar pada Yesus sebagai Mesias yang menderita, wafat dan
bangkit. Menurut Kisah Para Rasul 17, kotbah Paulus mengenai Yesus sebagai
Mesias yang menderita dan bangkit dari mati (ay. 2-3) disalah-tafsirkan sebagai
upaya mewartakan pemerintahan baru melawan kaisar Roma (ay. 7). Isu ini
tentunya cukup efektip mengingat Tesalonika menjadi tempat tinggal gubernur
Roma untuk propinsi Makedonia.
Informasi
berdasarkan surat 1Tes agak berbeda dengan apa yang ditulis dalam Kisah Rasul.
Paulus ingin ditinggal sendirian di Atena sementara Timotius dikirim kembali ke
Tesalonika untuk melihat bagaimana keadaan jemaat di Tesalonika (1Tes 3:6).
Ketika Timotius kembali, tidak jelas apakah waktu itu Paulus masih di Atena
(1Tes 3:1-3) atau sudah pergi ke Korintus (Kis 18:1.5). Mendengar laporan
Timotius bahwa bahwa jemaat Tesalonika masih teguh dalam iman, Paulus kemudian
menulis surat 1Tes ini yang ditujukan kepada jemaat di sana. Dalam Kisah Rasul
ditegaskan bahwa baik Timotius maupun Silas tidak bertemu Paulus di Atena,
tetapi mereka bergabung kembali dengannya setelah Paulus berada di Korintus
(Kis 17:14-16; 18:5).
Mengapa
terjadi perbedaan informasi antara Kis 17 dan 1Tes? Rupanya penulis Kisah Rasul
lebih dipengaruhi oleh situasi dan kondisi setelah zaman Paulus yang cenderung
mendiskreditkan kaum Yahudi. Misalnya, dengan menyebut adanya perlawanan dari
kaum Yahudi terhadap umat Kristen, mau ditunjukkan bahwa yang perlu dicurigai
bangsa Roma adalah sinagoga dan bukan Gereja.
Meskipun
ada perbedaan, namun terdapat sejumlah kesamaan informasi dari Kisah Rasul dan
1Tes. Pertama, kunjungan Paulus ke Tesalonika telah didahului dengan kunjungan
ke Filipi (1Tes 2:2; Kis 16:19-24). Kedua, tinggalnya Paulus di Tesalonika
diwarnai oleh kesulitan dan penganiayaan (1Tes 1:6; 2:14; Kis 17:5-9). Ketiga,
setelah meninggalkan Tesalonika, Paulus pergi ke Atena (1Tes 3:1; Kis
17:14-16). Keempat, Paulus menulis surat Tesalonika ketika dia bergabung
kembali dengan Timotius dan Silas (1Tes 1:1; 3:6), kemungkinannya ditulis di
Korintus (Kis 18:1.5). Dengan demikian, ada kemungkinan surat ini ditulis
sekitar tahun 50. Ada yang bilang ditulis lebih awal.
Hubungan
Paulus dengan jemaat di Makedonia rupanya terus berlangsung, tentunya juga
dengan jemaat Tesalonika. Hubungan ini disinggung dalam Kis 19-20, surat
Filipi, Korintus, dan Roma. Paulus memuji kesetiaan mereka pada iman kendati
ada di dalam penganiayaan dan juga kemurahan hati mereka (Rm 15:26; 2Kor
8:1-5). Pada akhir karyanya di Filipi (tahun 55) Paulus berencana untuk pergi
ke Korintus dengan melewati Makedonia (1Kor 16:5). Baik 2Kor 7:5 maupun Kis
20:1-6 memberi petunjuk bahwa Paulus mengunjungi Makedonia lagi (tahun 56)
sebelum perjalanannya yang terakhir ke Yerusalem.
3. Pentingnya
surat Tesalonika
Sebagai dokumen yang tertua, surat
1Tes memuat bahan-bahan tradisional, khususnya rumusan-rumusan iman:
1Tes 1:9-10 : 9 Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami
kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk
melayani Allah yang hidup dan yang benar, 10 dan untuk menantikan kedatangan
Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu
Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.
1Tes 4:14: Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan
telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam
Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.
1Tes 5:9-10 9 Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa
murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, 10 yang
sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita
hidup bersama-sama dengan Dia.
Rumusan
singkat tersebut merupakan gambaran inti pewartaan Injil pada masa antara
kebangkitan Kristus sampai penulisan-penulisan awal Perjanjian Baru (antara th.
30-50). Awal munculnya iman terkait erat dengan pemaknaan peristiwa wafat dan
kebangkitan Yesus bagi jemaat Kristiani.
Dari
segi doktrinal, tulisan Paulus berkaitan dengan parousia (1Tes 4:13-18) dan
Hari Tuhan (5:1-11) menggambarkan tumbuhnya harapan eskatologis di kalangan
jemaat perdana. Harapan ini dinyatakan dengan ungkapan-ungkapan yang bersifat
apokaliptik. Berhubungan apokaliptisme penuh dengan ungkapan simbolik, maka
teks berkaitan dengan parousia dan Hari Tuhan tidak dapat ditafsirkan sebagai
gambaran harafiah mengenai akhir zaman. Yang menjadi dasar keyakinan pokok
adalah kedatangan kembali Yesus pada akhir dunia untuk menegakkan
pengadilan-Nya.
Surat
1Tes disusun serupa dengan surat personal yang lazim ditulis di lingkungan
budaya sastra helenis. Dengan demikian, kita mendapatkan contoh bentuk dokumen
kristen yang kuno.
4. Susunan
surat 1Tesalonika:
SALAM (1:1)
UCAPAN SYUKUR (1:2-3:13)
A.
Ucapan syukur yang pertama - 1:2-2:12
B.
Ucapan syukur yang kedua - 2:13-3:13
NASEHAT (PARENESE) YANG PERTAMA
(4:1-12)
A.
Mengenai bahaya percabulan - 4:1-8
B.
Mengenai perbuatan cinta kasih - 4:9-12
ESKATOLOGI (4:13-5:11)
A. Kotbah apokaliptis (1): Parousia - 4:13-18
B.
Kotbah apokaliptis (2): Eksistensi eskatologis - 5:1-11
NASEHAT TERAKHIR (5:12-22)
A. Nasehat pertama: hormat dan taat kepada
pemimpin jemaat - 5:12-13
B. Nasehta
kedua: himbauan tentang berbagai keutamaan hidup menjemaat - 5:14-22
SALAM DAN BERKAT (5:23-28)
5. Permasalahan
jemaat Tesalonika dan tanggapan Paulus
a. Meneguhkan
mereka agar setia dalam iman di tengah penganiayaan dan penderitaan:
Menurut laporan Timotius, jemaat di
Tesalonika menderita penganiayaan dan pengejaran namun tetap tabah dalam iman.
Paulus meneguhkan iman mereka dengan mensharingkan pengalamannya sendiri.
Selain itu, Paulus menyatakan bahwa ketekunan dan kesetiaan jemaat Tesalonika
sudah dikenal di kalangan Gereja-gereja lainnya dan mampu menjadi daya dorong
bagi mereka agar tekun dan tabah dalam iman. Ketekunan dan ketabahan dalam iman
hendaknya dieujudkan pula dalam tindakan cinta kasih dan hormat kepada sesama
jemaat dan mempertahankan hidup kudus.
b. Paulus
mau membela dirinya melawan berbagai tuduhan:
Di balik pernyataan Paulus dalam 1Tes
2:1-12 terkandung suatu pembelaan diri Paulus terhadap tuduhan padanya, yang
berupa anggapan bahwa Paulus adalah rasul yang: melakukan tugas kerasulannya
dengan tidak murni, disertai dengan tipu daya, mau menyukakan hati manusia
saja, hanya bermulut manis, loba, mencari pujian dari manusia, tidak ramah,
mengambil keuntungan material dari pelayanannya. Paulus dengan tegas menolak
semua tuduhan tersebut. Para anggota jemaat diharapkan dapat menjadi saksi
bahwa tuduhan-tuduhan terhadapnya tidak benar.
c. Kedatangan
Tuhan kembali di akhir dunia:
Yesus telah berjanji akan datang kembali.
Rupanya jemaat menafsirkan bahwa kedatangan Yesus kembali sudah begitu dekat.
Mereka yang masih hidup akan mengalami tibanya akhir zaman itu. Muncul
persoalan dengan meninggalnya para anggota jemaat sebelum akhir dunia. Apakah
ada keselamatan bagi mereka? Bagaimana mereka nanti akan diadili karena sudah
meninggal? Untuk menanggapi permasalahan tersebut, Paulus memakai bahasa
apokaliptik yang sarat dengan simbolisme untuk melukiskan datangnya akhir zaman
(1Tes 4:13-18). Gambaran apokaliptik ini tentu saja tidak dapat ditafsirkan
secara harafiah. Paulus menegaskan bahwa rencana keselamatan Allah bagi
umat-Nya akan terlaksana, meskipun pada waktu itu terjadi banyak halangan dari
kalangan musuh-musuh Kristus. Paulus menasehati agar jemaat jangan gelisah.
Mereka yang sudah meninggal akan dibangkitkan dan kemudian ikut serta dalam
barisan pengikut Kristus. Mereka akan bangkit mendahului anggota jemaat yang
masih hidup, baru kemudian bersama-sama dengan mereka yang masih hidup diangkat
dalam awan untuk menyongsong kedatangan Tuhan. Baik-yang hidup maupun yang
telah mati akan bersama-sama ada di dalam Tuhan dan bersama Tuhan (1Tes
4:16-17). Paulus mau memberi keyakinan kepada jemaat bahwa mereka yang mati
sebelum hari Tuhan tetap akan disatukan dengan Kristus. Kematian tidak akan
memisahkan manusia beriman dari Kristus. Di dalam 1Tes, Paulus terkesan
menganggap hari Tuhan akan segera tiba, oleh karena itu umat hendaknya
berjaga-jaga. Surat 2Tes seolah-olah mengoreksi anggapan Paulus ini dengan
pernyataan bahwa kedatangan Tuhan belum akan segera datang. Sebelum Tuhan
datang, akan lebih dulu muncul para musuh Kristus yang semuanya akan dikalahkan
oleh-Nya. Untuk jelasnya, kita dapat membandingkan 1Tes 4:13-18 dengan 2Tes 2;1-12. Entah kapan hari
Tuhan akan tiba, kedua surat Tesalonika hanya menasehatkan agar jemaat
berjaga-jaga menghadapi kedatangan Tuhan tersebut.
c. Menasihati
jemaat agar hidup secara pantas menurut Injil:
Berkaitan dengan kepercayaan akan
datangnya hari Tuhan, Paulus menasehati jemaat agar hidup kudus (4;1-12;
5:1-22). Hidup kudus adalah cara yang paling tepat untuk berjaga-jaga jika
suatu kali Tuhan datang kembali, karena hari Tuhan akan datang seperti pencuri
di waktu malam. Artinya dapat begitu saja datang tanpa disangka-sangka. Bagaimana
persisnya hidup kudus itu? Paulus ingin agar jemaat tidak gelisah tetapi justru
dapat saling memberi penghiburan satu sama lain, seperti Paulus juga bermaksud
menghibur dan meneguhkan hati jemaat. Ungkapan berjaga-jaga oleh Paulus
dikaitkan dengan jati diri jemaat kristiani sebagai anak-anak terang dan
anak-anak siang. Istilah kegelapan dikaitkan dengan kondisi tidur dan
tidak berjaga-jaga. Dengan bahasa kiasan, Paulus menggambarkan sikap
berjaga-jaga bagaikan: memakai iman dan kasih sebagai baju zirah, memakai
pengharapan bagaikan ketopong yaitu semacam topi pelindung kepala (5:1-11). Di satu pihak, berjaga-jaga adalah
siap melindungi diri dari serangan, di lain pihak berjaga-jaga sama dengan siap
menyerang musuh yang tak lain adalah kejahatan dan dosa. Pada ayat 10 kata tidur
disamakan dengan mati. Selanjutnya, Paulus dalam 5:12-22 memberi nasehat agar
jemaat saling menghormati, mengasihi, mengingatkan, menghibur, membela yang
lemah dan sabar terhadap semua orang. Hendaknya jemaat jangan membalasa kejahatan
dengan kejahatan, sebaliknya tetap tekun dan setia untuk berbuat baik terhadap
semua orang. Berkaitan dengan iman akan Kristus, hendaknya jemaat senantiasa
bersukacita, tekun berdoa, bersyukur dalam segala hal, tidak memadamkan Roh,
tidak menganggap rendah nubuat, menguji segala sesuatu dan berpegang pada hal
yang baik. Pada akhirnya, Paulus mensehati jemaat agar menjauhkan diri dari
segala macam kejahatan (ay. 22). Pernyataan ini merupakan kesimpulan dari
nasehat Paulus agar jemaat berjaga-jaga di dalam menghadapi hari kedatangan
Tuhan.
6. Permasalahan
mengenai otentisitas 2Tes sebagai surat Paulus
Sesuatu
hal yang cukup janggal bahwa surat 1Tes dianggap asli Paulus sedangkan surat
2Tes diragukan keasliannya. Sebenarnya pada abad kedua dan ketiga keaslian 2Tes
sudah diterima umum. Beberapa manuskrip kuno memuat surat 2Tes Surat Polikarpus kepada jemaat Filipi yang
ditulis sekitar tahun 140 sudah menyebut adanya surat 2Tes. Kesaksian mengenai
otentisitas surat 2Tes kita temukan pada kanon Muratorium (abad 2-4), koleksi
Marcion (sekitar th. 140), kesaksian Ireneus (sekitar th. 180), tulisan Klemes
dari Aleksandria dan Tetulianus (abad 3). Rupanya kesaksian yang sifatnya
internal tersebut tidak menyurutkan dugaan banyak ahli untuk meragukan
otentisitas surat 2Tes. Para ahli memakai alasan yang sifatnya internal, yaitu
bukti-bukti yang didapatkan lewat pengamatan atas teksnya sendiri.
Alasan keraguan terhadap keaslian
2Tes:
- Adanya
kemiripan antara 1 Tes dengan 2Tes. Surat 2Tes mempunyai 146 kata yang ditemukan
pula di dalam 1Tes. Selain itu juga ada kemiripan dalam sejumlah frase (bdk.
1Tes 2:9 dengan 2Tes 3:8). Kemiripan dalam ungkapan: pekerjaan iman (1Tes 1:3;
2Tes 1:11), “orang-orang yang tidak mengenal Allah” (1Tes 4:5; 2Tes 1:8),
“beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus Tuhan kita” (1Tes 5:9; 2Tes 2:14).
- 2Tes
mempunyai sejumlah kata dan frase yang tidak dikenal di dalam surat-surat
Paulus lainnya, misalnya: Kami wajib (harus) selalu mengucap syukur kepada
Allah (2Tes 1:3; 2:13), “lekas bingung dan gelisah” (2Tes 2:2), “percaya akan
kebenaran” (2Tes 2:12), “beroleh kemajuan” (3:1). Alasan ini sebenarnya
bukanlah dasar yang cukup kuat karena Paulus juga mempunyai kata-kata dan
ungkapan yang khas untuk masing-masing surat.
- Pandangan
yang berbeda terhadap eskatologi: Bandingkan 1Tes 5:1-3 dengan 2Tes 2:1-12;
1Tes 5:4. Dalam surat 1Tes kedatangan Tuhan akan segera terjadi di saat
mereka/jemaat masih hidup (1Tes 4:15.17). Dalam 2Tes kedatangan masih jauh
(2Tes 2:7). Parousia baru akan terjadi setelah kaum jahat dienyahkan. Dalam
1Tes parusia akan datang tanpa peringatan, sedangkan bagi 2Tes parusia akan
didahului dengan peristiwa-peristiwa apokaliptis (bdk. kontras antara Mat
24:3-35 dengan 36-44). Ide mengenai manusia pendosa dalam 2Tes tidak dikenal
dalam surat-surat Paulus lainnya. Tidak biasa bagi Paulus untuk memberi dua
macam nasihat kepada jemaat yang sama pada waktu yang berdekatan.
- Kristologi
yang lebih maju: Surat 1Tes memberi tekanan pada Allah sedangkan 2Tes pada
Tuhan (1Tes 1:4 bdk 2Tes 2:13). 1Tes menempatkan Allah sebelum Yesus: dalam
3:11, dan 2Tes 2:16 menempatkan Yesus sebelum Allah. Ini menunjukkan bahwa
surat 2Tes ditulis setelah zaman Paulus ketika Gereja memberi tempat yang lebih
penting pada Yesus. Ada perbedaan penggunaan antara sebutan “Allah” dalam 1Tes
dengan sebutan “Tuhan” dalam 2Tes. Ini mengandaikan adanya perkembangan
kristologis: dari Allah ke Yesus. Dalam 2Tes, Kristus disapa sebagai Allah
(1:12).
- Perbedaan
pada nuansa personal surat: Kecuali 3:1.7-9, surat 2Tes tidak memiliki nuansa
personal seperti kelihatan pada 1Tes (bdk. 2:1-3:10). Keinginan Paulus untuk
melihat dan mengajar kembali jemaat Tes tidak kelihatan pada 2Tes.
- Tema
mengenai pembalasan ilahi bagi pembunuh Yesus dan penganiayaan jemaat kristen
adalah tema yang khas setelah zaman Paulus (Apologi dari Yustinus martir, Injil
Petrus 7:25). Ini salah satu alasan mengapa 1Tes 2:15-16 dianggap Dtr-Paulinis.
IV.
GAGASAN TEOLOGIS DALAM SURAT-SURAT PAULUS
Surat-surat
Paulus tidak memberikan suatu pengajaran teologis yang sistematik, karena dia
hanya mengajarkan hal-hal yang menjadi permasalahan di kalangan jemaatnya.
Nasihat, himbauan, peringatan, peneguhan, dan berbagai pengajaran yang
diberikan oleh Paulus lebih menyangkut hal-hal khusus dalam praksis kehidupan
iman jemaat. Meskipun tidak diberikan dengan cara sistematis, namun kita masih
dapat membuat sejumlah gagasan teologis, kristologis, dan etis yang dominan
dari pemikiran Paulus berdasarkan surat-suratnya.
Perlu
diketahui bahwa pemahaman Paulus mengenai kristianisme dipengaruhi oleh latar
belakang Yudaisme yang dianutnya sebelum menjadi kristen, budaya helenisme, dan
tradisi kristiani awal. Dari Yudaisme, Paulus mewarisi paham tentang
kebangkitan badan, datangnya zaman baru, otoritas Kitab Suci, serta cara
interpretasi dan berargumentasi khas para rabi Yahudi. Pandangan etis Paulus
tampak dipengaruhi oleh budaya helenis. Paulus memakai terminologi filsafat
yang berkembang di dunia Helenis-Roma ketika berbicara mengenai etika dan moral.
Selebihnya, Paulus juga memanfaatkan retorika Yahudi (amat kelihatan dalam
surat kepada jemaat di Roma). Iman Paulus akan Yesus yang dibangkitkan dari
mati diwarisi dari tradisi kristiani yang sudah ada sebelum pertobatannya (bdk.
1Kor 15:1-7). Paulus tentu mengenal juga ajaran kristiani yang berasal dari
Yesus sendiri, meskipun dia tidak pernah menyinggung hidup publik Yesus.
Sebagai contoh, Paulus mengutip ajaran-ajaran Yesus mengenai seorang isteri
yang hendaknya tidak meninggalkan suaminya (1Kor 7:10 bdk. Mrk 10:12), mereka
yang mewartakan Injil mempunyai hak untuk hidup dari jerih-payahnya (1Kor 9:14
bdk. Mat 10:10; Luk 10:7). Banyak aspek dari pengajaran Paulus mempunyai
kesamaan dengan apa yang terdapat dalam Injil, misalnya perintah untuk mengasihi
sesama (Rm 13:8-10 bdk. Mrk 12:28-34). Yang pasti adalah bahwa Paulus
meneruskan tradisi perjamuan Tuhan (1Kor 11:23-26 bdk. Mrk 14:22-25).
Beberapa ide teologis, kristologis,
eklesiologis dan antropologis dalam surat-surat Paulus antara lain:
1. Eskatologi
Gerakan Yesus memberi orientasi pada
dimensi eskatologis dari kehidupan beriman. Demikian juga Paulus mengarahkan
pandangannya pada datangnya kehidupan baru yang terjadi pada saat kedatangan
Kristus yang kedua. Pada saat itu, orang-orang mati akan dibangkitkan dan
dihadapkan pada pengadilan Allah. Segenap ciptaan akan ditebus dari belenggu
kedosaan dan kematian tidak ada lagi. Kristus akan meraja dan semua umat
beriman akan ambil bagian dalam kemuliaan-Nya. Bagi Paulus, berkat keselamatan
yang sudah hadir di dalam Kristus akan mendapat kepenuhan-Nya di zaman
kemudian. Paulus percaya bahwa hari kedatangan Tuhan sudah dekat. Dia
memperingatkan jemaat di Roma dan Tesalonika agar berjaga-jaga sebab hari Tuhan
sudah dekat (Rm 13:11-12; 1Tes 4-5). Kepada jemaat Filipi, Paulus menulis bahwa
“Tuhan sudah dekat!” (Flp 4:5).
2. Memaknai
Hukum Taurat dari sudut pandang non-Yahudi
Baik Paulus maupun umat
Yahudi-Kristen sama-sama menantikan datangnya pengadilan Allah dalam Kristus.
Bagaimana umat beriman dapat diselamatkan dari penghukuman? Jemaat
Yahudi-Kristen masih berpegang pada pandangan bahwa Hukum Taurat merupakan
jalan ke keselamatan. Pandangan Paulus rupanya berbeda secara radikal dengan
pandangan tersebut. Bagi Paulus, Hukum tidak membawa kehidupan tetapi justru
membawa kematian. Tidak ada orang yang dibenarkan (dinyatakan benar) di hadapan
Allah dengan melalui Hukum. Problem yang utama bagi Paulus sebenarnya bukan
Hukum itu sendiri, tetapi kerapuhan manusia di dalam mentaati Hukum (Rm
7:7-14). Kodrat manusia adalah “daging”
sedang Allah adalah “Roh”. Daging dan Roh bertentangan karena kuasa dosa
tinggal di dalam daging dan membuat manusia cenderung melawan Allah. Meskipun
Hukum pada prinsipnya adalah baik, namun tidak mendapatkan implementasinya di dalam
kehidupan manusia karena sifat “kedagingan” dari manusia itu sendiri. Tuntunan
yang diberikan oleh Hukum tidak dapat dipenuhi oleh manusia, akibatnya Hukum
justru membawa manusia kepada dosa dan mereka hidup di bawah kutuk (Gal 3:10;
Rm 7:7-14). Sebagai akibatnya, manusia menjadi musuh Allah, diperbudak oleh
kuasa dosa, layak mendapat hukuman pada saat penghakiman dan tak berdaya di
hadapan kematian.
3. Pembenaran
berkat iman akan Yesus
Dalam pembicaraan mengenai
keselamatan, Paulus memahami kematian Yesus sebagai korban. Salah satu jenis
korban yang dipersembahkan di Bait Allah adalah korban pelunas dosa yang
diperuntukkan bagi orang yang telah melanggar Hukum. Ritus korban menyertakan
pula darah yang tertumpah dari binatang yang dikorbankan. Dengan tumpahnya
darah korban maka Allah mengampuni si pendosa dan membatalkan hukuman yang
seharusnya dijatuhkan. Paulus tidak pernah mendiskusikan apa yang dia pikirkan
mengenai ritus korban, tetapi baginya wafat Yesus adalah korban terakhir,
bahkan korban yang sempurna. Darah Yesus yang tertumpah membawa pengampunan
Allah atas manusia yang berdosa. Hanya dengan iman dalam Yesus, manusia akan
menerima rahmat keselamatan (Rm 3:21-26). Berkat darah-Nya, manusia didamaikan
dengan Allah. Berkat iman akan Yesus dan baptisan, umat beriman dibenarkan
(tidak lagi menjadi obyek murka Allah di hari pengadilan), didamaikan dengan
Allah (tidak lagi menjadi musuh-Nya) dan ditebus (tidak lagi tunduk di bawah
kuasa dosa).
Jika Paulus berbicara mengenai dosa,
yang dia maksud lebih-lebih adalah kuasa dosa dan bukan dosa personal. Paulus
tidak memakai bentuk plural untuk kuasa dosa (hamartia). Baginya, dosa (hamartia)
adalah kekuatan yang tak tertahankan bagi manusia, yang membawanya kepada
kejahatan, kebencian, dan akhirnya kematian (Rm 5:12; 6:6; 6:11; 7:13). Untuk
menyebut dosa partikular, Paulus biasanya memakai ungkapan dari Septuaginta
yaitu: pelanggaran, kesalahan, kekeliruan, kejahatan. Surat kepada jemaat di
Roma secara khusus menmbahas kuasa dosa dan kecenderungan kepada dosa. Bagi
Paulus, dosa adalah kuasa jahat yang masuk ke dunia lewat dosa Adam, manusia
pertama. Namun, manusia pertama jangan dianggap sebagai orang mendalangi
terjadinya dosa, tetapi lebih tepat dianggap sebagai sarana masuknya dosa. Pada
kenyataannya, dosa membuat masing-masing manusia menjadi pendosa.
4. Pewartaan
Injil sebagai pembebasan
Injil yang diwartakan oleh Paulus
adalah sebuah kabar gembira pembebasan, yaitu pembebasan dari dosa, dari Hukum
dan dari maut. Inilah tiga kekuatan yang membayangi kehidupan manusia dan oleh
Paulus ketiga kekuatan tersebut dipersonifikasikan sebagai musuh manusia.
Ketiga kekuatan tersebut juga merupakan musuh dari karya keselamatan Allah.
Jika manusia ada dalam kebebasan, maka diapun dapat membuat pilihan antara melawan
atau mentaati Allah. Sebagai seorang pendosa, manusia dapat berkata “tidak”
terhadap Perjanjian yang diadakan oleh Allah dengan manusia. Dosa dan kedosaan
membuat manusia terpisah dari Allah. Di hadapan Hukum, manusia dapat menjadikan
dirinya bagaikan seorang budak, yaitu mentaatinya secara buta dengan
menfasirkannya secara harafiah. Hukum dengan begitu menjadi belenggu bagi
kebebasan manusia. Berhadapan dengan maut, manusia sepenuhnya tanpa daya. Tidak
ada manusia yang tidak mengakhiri kehidupannya dengan kematian. Kematian
menjadi kemestian yang menakutkan dan menyakitkan bagi manusia. Namun, Kristus
melalui wafat dan kebangkitan-Nya mengalahkan ketiga musuh tersebut. Dia
membebaskan manusia dengan Roh-Nya (Rm 8:2). Dosa menjadi tanpa daya berhadapan
dengan rahmat-Nya. Roh ketaatan pada
Hukum digantikan dengan Roh kebebasan dan kasih. Kematian yang tak terelakkan
menjadi sarana yang membawa kebangkitan dan kesatuan dengan Tuhan.
5. Dasar
dan alasan dari tanggapan Paulus terhadap Taurat
Perbedaan yang radikal antara Paulus
dan gerakan Yesus yang mendahuluinya membuat banyak orang menganggap Paulus
sebagai pendiri dari kristianisme seperti yang kita kenal sekarang. Meskipun
Paulus mewarisi tradisi yang lebih awal darinya, namun harus diakui bahwa dia
mempunyai pengaruh besar dengan penolakannya terhadap Taurat sebagai jalan
keselamatan. Kita tidak dapat melebih-lebihkan peranan Paulus dalam membangun
kristianisme, namun kita tetap mengakui pengaruhnya yang besar. Apa yang
membuat Paulus mengambil sikap yang begitu radikal terhadap Taurat? Ada
beberapa alasan yang rupanya saling berkaitan.
- Pertama,
Hukum Taurat menawarkan jalan yang begitu rumit untuk mencapai keselamatan.
Kerumitan tersebut justru membuat manusia semakin merasa bersalah karena tidak
akan pernah dapat melaksanakannya dengan sempurna. Bagaimana orang dapat
selamat jika hanya berdasarkan Taurat? Bagaimana nasib orang yang tidak
mengenal Taurat?
- Karya misi Paulus di tengah bangsa-bangsa
non Yahudi membuatnya bertanya mengenai relevansi Taurat. Apalagi yang
diwartakan adalah Kristus, yang datang untuk menyelamatkan semua manusia.
Bangsa Yahudi yang mengenal Taurat justru menjadi lawan yang amat gigih
menentang pewartaannya akan keselamatan dalam Kristus. Bangsa-bangsa non Yahudi
justru lebih terbuka pada pewartaan Injil.
- Jika
Taurat dirasa cukup untuk keselamatan, lalu manakah peran Kristus sebagai
Penyelamat? Paulus menyinggung hal ini dalam Gal 2:21: “Sekiranya ada
kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.” Apalagi kematian
Kristus adalah cara kematian yang terkutuk menurut Taurat. Kontras dari
peristiwa Yesus dengan ajaran Taurat rupanya membuat Paulus harus memilih salah
satu, yaitu Kristus atau Taurat. Ketika harus merefleksikan nilai dari kematian
Yesus demi keselamatan seluruh umat manusia, Paulus makin cenderung untuk
menolak Taurat sebagai jalan keselamatan. Jika toh Taurat masih dipandang
bermanfaat, maka itu tidak lebih dari pembimbing bagi umat yang belum mencapai
kedewasaan, serupa dengan paedagogos.
- Perjuangan
untuk taat pada Taurat justru membuat orang beriman semakin jauh dari Allah.
Jika manusia semakin jauh dari Allah, berarti keselamatan juga semakin menjadi
utopia belaka. Peristiwa Yesus bagi Paulus adalah peristiwa rahmat di mana
Allah sendiri yang menghampiri manusia. Kristus dengan wafat dan
kebangkitan-Nya memberi perspektif baru yang menjadi pencerahan bagi Paulus.
Manusia tidak diselamatkan karena melakukan Taurat, tetapi berkat iman akan
Kristus dan dalam Kristus. Partisipasi manusia dalam wafat dan kebangkitan
Kristus itulah yang akan membawa keselamatan.
Apapun alasan Paulus untuk
mengabaikan Taurat, yang jelas ajarannya membawa langkah maju dari gerakan
Yesus. Pandangan Paulus memberi cakrawala bagi tradisi Kristen non Yahudi, yang
pada gilirannya akan diadopsi oleh tradisi Gereja universal. Begitu lepas dari
Hukum Yahudi, kristianisme berkembang menjadi agama sendiri, tidak lagi
dianggap sebagai sekte Yahudi.
6. Sekitar
hidup menggereja dalam surat-surat Paulus
Jika mengamati karya Paulus dalam
Kisah Para Rasul dan berdasarkan surat-suratnya, ada kesan kuat bahwa Gereja
perdana berawal dari Gereja rumah. Jemaat kristiani berkumpul di rumah salah
satu anggota jemaat dan melakukan pemecahan roti serta berdoa bersama. Pada
kesempatan tertentu, Gereja rumah dapat berkumpul bersama sehingga membentuk
sebuah kelompok jemaat yang cukup besar. Dalam situasi dan kondisi tersebut,
Paulus lewat surat-suratnya merefleksikan beberapa gagasan yang sifatnya
eklesiologis.
- Perbedaan
kelas sosial: Anggota Gereja berasal dari bermacam-macam kelas dan golongan
dalam masyarakat. Beberapa surat Paulus menanggapi persoalan yang berangkat
dari beragamnya latar belakang anggota Gereja tersebut. Dia berusaha
menyelesaikan konflik atau potensi konflik yang timbul di tengah jemaat akibat
perbedaan sosial dari anggotanya. Dengan
baptisan, umat kristiani menjadi sebuah keluarga yang menganggap satu sama lain
sebagai saudara atau saudari. Masing-masing anggota jemaat dihimbau agar memiliki
“sense of belonging”, bukan hanya di tingkat lokal (intern), tetapi juga dalam relasinya dengan Gereja-gereja lainnya.
Solidaritas antar Gereja juga menjadi perhatian dari Paulus, antara lain dalam
bidang kesejahteraan hidup. Paulus menggambarkan Gereja sebagai tubuh Kristus
di mana masing-masing anggota mempunyai peranannya sendiri-sendiri tanpa
kehilangan unsur persatuan dan perhatian terhadap yang anggota lainnya (Rm
12:4-5; 1Kor 12:12-31; bdk. Kol 1:24; Ef 5:23). Ia menggambarkan Gereja
bagaikan pengantin Kristus (2Kor 11:2; bdk. Ef 5:24-32), dan sebagai Bait Allah
atau Bait Roh Kudus (1Kor 3:16-17; 2Kor 6:16; bdk. Ef 2:19-22).
- Mengambil
jarak terhadap hal-hal duniawi: Gereja memanfaatkan banyak keutamaan yang
ditemukan di dalam budaya di sekitarnya. Sebagai contoh, etika kristiani memanfaatkan
filsafat helenis yang populer. Meskipun memanfaatkan sejumlah keutamaan dari
budaya yang ada, Paulus mengajak jemaatnya agar berani mengambil jarak terhadap
budaya sekitarnya (bersikap kritis). Dalam pandangannya, dunia berada di bawah
kuasa setan. Allah berinisatif mengakhiri tata sosial yang lama dengan tata
sosial yang baru yang mengutamakan kebenaran. Dunia menjadi perlambang dari
tempat berkembangnya kegelapan moral dan spiritual. Jemaat kristiani dipanggil untuk membawa
terang baru yang mengantisipasi terang sejati yang merupakan zaman baru (Flp
2:15). Paulus mengajar jemaatnya agar menjaga keutamaan dari kehidupan seksual,
keluarga, hubungan antar keluarga, dan urusan-urusan duniawi lainnya.
- Kepemimpinan
Gereja: Kita tidak mendapatkan gambaran yang lengkap dan jelas mengenai
kepemimpinan Gereja dari surat-surat Paulus. Yang banyak kita dapatkan adalah
para pelayan Injil yang berpindah dari satu Gereja ke Gereja lain, yang hanya
mengunjungi suatu Gereja dalam jangka waktu tertentu saja. Ada kesan, para
pemimpin Gereja lokal antara lain adalah anggota yang cukup kaya, yang rumahnya
diapakai berkumpulnya jemaat. Dalam 1Tes 5:12, Paulus berpesan kepada jemaat
demikian: “hendaknya supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di
antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu”. Kepada
para pemimpin, Paulus berpesan: “Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara,
tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar
hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang. Perhatikanlah,
supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah
senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang”
(1Tes 5:14-15). Dalam Flp 1:1 Paulus menyebut adanya para penilik jemaat
(Yun: episcopoi) dan para diaken (Yun: diakonoi). Dalam Rm
16:1-2 disebut tentang Febe, yaitu seorang wanita yang melayani jemaat di
Kengkrea. Dari surat-surat Paulus setidaknya kita peroleh gambaran mengenai
orang-orang yang menduduki jabatan tertentu sebagai pemimpin dan pelayan
jemaat.
- Peranan perempuan: Para perempuan
rupanya menduduki peran yang penting di dalam jemat-jemaat yang didirikan oleh
Paulus. Mereka termasuk anggota jemaat yang diberi salam dalam Rm 16. Paulus
menyebut nama Priskila dan Akwila, suami isteri yang menjadi rekan kerja Paulus
(Rm 16:3-5; Kis 18:24-26). Priskila disebut pertama, seolah-olah perempuan itu
berperan penting dalam jemaat. Suami isteri lainnya yang disebut oleh Paulus
adalah Andronikus dan Yunias (Rm 16L7). Paulus juga mengirim salam kepada
beberapa perempuan, antara lain: Maria, Trifena, Trifosa, Persis, yang berperan
sebagai rekan sekerja Paulus (Rm 16:6.12). Di dalam surat kepada jemaat di
Filipi (Flp 4:2-3), Paulus menyebut nama Euodia dan Sintikhe sebagai dua
perempuan yang bekerja bersama Paulus di dalam mewartakan Injil. Tampilnya
perempuan di dalam pelayanan Gereja perdana menunjukkan bahwa Paulus secara
konsekuen mewujudkan sebuah gereja yang tidak mengenal perbedaan jenis kelamin
(bdk. Gal 3:28: “tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua
adalah satu di dalam Kristus Yesus”). Semuanya mendapat peluang yang sama
untuk melayani Gereja sebagai tokoh jemaat maupun asebagai pewarta Injil.
Dengan semangat penghargaan terhadap peranan perempuan di dalam kebaktian,
surat Paulus kepada jemaat Korintus yang pertama memberi kesan aneh. Dalam 1Kor
11:3016 para perempuan dinasehati oleh Paulus agar mereka memakai kerudung
kepala di dalam acara ibadat. Dalam 1Kor 14:33-36 bahkan perempuan dilarang
berbicara di dalam Gereja. Kita tidak dapat menafsirkan ayat-ayat tersebut
sebagai “bias gender”, tetapi mungkin Paulus menghadapi suatu persoalan
kongkrit dengan cara yang kongkrit pula.
- Dimensi
ritual:
= Baptis:
Di dalam jemaat Paulus, tanda pertobatan untuk menjadi anggota Gereja adalah
pembaptisan. Pembaptisan menjadikan seorang kristen sebagai anak Allah tanpa
memandang status sosial dan jenis kelamin, dan mendapat pencurahan Roh Kudus
(Gal 3:26-28; 4:6-7; bdk. Mrk 1:9-11). Refleksi mengenai kematian Kristus bagi
Paulus menjadi dasar ritus pembaptisan. Dimasukkan ke dalam air menjadi lambang
partisipasi umat beriman dalam kematian Yesus, dan diangkat dari air menjadi
lembang partisipasi dalam kebangkitan-Nya (Rm 6:1-11). Sebelum menerima
baptisan, calon baptis harus mengucapkan pengakuan iman, seperti dikatakannya
dalam Rm 10:9: “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah
Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari
antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.”
= Persekutuan
dalam ibadat: Jemaat biasa berkumpula pada hari Tuhan (1Kor 16:2), yaitu pada
hari pertama dalam pekan untuk menghormati hari kebangkitan Kristus. Sejumlah
anggota yang berpartisipasi dalam ibadat hari Minggu merasa mendapatkan karunia
rohani dari Roh Kudus, dengan mengucapkan nubuat, menasihati anggota jemaat
lain, berbicara dengan bahasa roh, menafsirkan bahasa roh, menyembuhkan orang
sakit (1Kor 12-14; Rm 12:3-8). Di dalam kegiatan ibadat, jemaat juga bernyanyi
dan bermain musik (1Kor 14:26; bdk. Kol 3:16; Ef 5:19).
= Perjamuan
Tuhan: Paulus menyebut adanya perjamuan komunal yang disebutnya Perjamuan
Tuhan, yang menyajikan roti dan anggur (1Kor 11:20-34; bdk. 10:14-22). Roti
yang diberkati menghadirkan tubuh Yesus, sedangkan anggur yang diberkati
menghadirkan darah Yesus. Partisipasi dalam tubuh dan darah Yesus ini
melambangkan kesatuan Gereja sebagai Tubuh Kristus.
- Dimensi
etis:
Penolakan Paulus terhadap Hukum
Taurat sebagai dasar pembenaran bukan berarti bahwa suatu penolakan terhadap tuntutan-tuntutan
moralnya. Sama seperti tradisi awal kekristenan, tuntutan moral dari Hukum: “Kasihilah sesamamu seperti
dirimu sendiri” (Rm 13:8-10). Dengan melakukan perintah tersebut, umat kristen
telah memenuhi Hukum. Dari tradisi Helenis-Roma, Paulus mewarisi sikap negatif
terhadap nafsu daging. Menurut Paulus, kita hendaknya menyelamatkan nafsu
daging jika ingin berpartisipasi secara simbolis dalam kematian Kristus lewat
pembaptisan. Mati terhadap daging memungkinkan seseorang untuk hidup bagi Allah
dalam Kristus Yesus. Sebagai ciptaan baru, umat beriman tidak lagi hidup dalam
daging tetapi hidup dalam Roh, yang diterima dalam baptisan dan berdiam di
dalam umat beriman, menghasilkan buah-buah keutamaan bagaikan pohon baik yang
menghasilakn buah yang baik (Gal 5:16-26). Surat-surat Paulus penuh dengan
himbauan dan nasehat (parenesis / nasihat-nasihat berkaitan dengan suatu tema
tertentu) yang dimaksudkan untuk menuntun tingkah laku umat beriman. Salah
satui contoh parenesis: “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang
jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara
dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu
kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam
pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Bantulah
dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu
memberikan tumpangan!” Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan
jangan mengutuk!”
7. Kristologi
Paulus (gelar-gelar Yesus)
Apakah dasar Kristologi Paulus?
Sebagai orang Yahudi pasti ada pemahaman tentang pre-christian messianic
dalam diri Paulus, yang berakar pada
tradisi Yudaisme, meskipun hal itu jarang dia bicarakan. Dalam Rom 9:5 ada
kesan bahwa Paulus percaya akan kedatangan Mesias keturunan Daud. Dengan latar
belakang helenisme, Paulus menggunakan sebutan Kyrios untuk Yesus,
sebuah sebutan yang diambil dari dunia Yunani. Kendati begitu, paham bahwa
Yesus adalah Tuhan - yang kedatangan-Nya kembali diharapkan - sudah kelihatan
pada masa sebelum penulisan surat-surat Paulus, contohnya dipakainya ungkapan Maranatha
(datanglah Tuhan kami; bdk. 1Kor 16:22) yang berasal dari lingkungan berbahasa
Aram. Dengan begitu, gelar Kyrios dalam surat-surat Paulus adalah
istilah Yunani yang merupakan transliterasi dari gelar Aramaic tersebut.
Pertobatan Paulus dan tradisi
kristiani awal: Gal 1:11-23 merupakan pernyataan yang mungkin paling awal
tentang pertobatannya. Dalam surat tersebut Paulus meyakini bahwa ia menerima
injilnya bukan dari manusia tetapi dari Allah secara langsung. Pertobatan
Paulus dikisahkan pula dalam Kis 9 dan 22.
Paulus mewartakan Injil Kristus. Apa
artinya? Bisa jadi artinya sama dengan “injil yang diberitakannya berasal dari
Yesus Kristus” atau “injil yang isinya mengenai Kristus”. Apapun arti dari
ungkapan tersebut, tetaplah tidak dapat diingkari bahwa setelah pertobatannya
Paulus menerima pengajaran dari orang kristen lain (antara lain Petrus, bdk Gal
1:18) mengenai Yesus dan ajaran-Nya. Selain itu, Paulus dengan segala
kemampuannya yang dituntun oleh Tuhan sendiri pasti telah melakukan pendalaman
pribadi tentang Yesus dan ajaran-Nya. Mengenai hal ini, Paulus dapat berbicara
bahwa ia mendapatkan ilham atau insight dari Kristus sendiri.
Paulus mengimani Kristus yang bangkit
dan mulia. Paulus percaya bahwa Yesus masih hidup dalam kehidupan yang
mengatasi darah dan daging manusiawi. Jika Yesus setelah kematian-Nya diangkat
ke sorga, maka itu berarti Dia dibenarkan oleh Allah. Sesudah pengalaman
pertobatannya di jalan menuju Damaskus, Paulus memandang Yesus secara lain,
bukan lagi dari kaca mata manusia (bdk. 2Kor 5:16). Ia percaya bahwa Yesus
adalah Anak Allah. Sengsara dan wafat Kristus dipahami sebagai kesediaan
Kristus untuk menjadi kutuk bagi umat demi menyelamatkan mereka dari kutukan
hukum (Taurat; bdk. 1Kor 12:3).
Bagi Paulus, jemaat kristiani
disatukan dalam Kristus. Pengalaman Damsyik (Kis 9:4-5; bdk. Kis 22:7-8;
26:14-15) menjelaskan kepada Paulus bahwa Kristus mengidentifikasikan diri
dengan umat kristiani, dan umat kristiani pastilah umat Allah. Rupanya
pengalaman ini ikut mempengaruhi pandangannya tentang Gereja sebagai tubuh
mistik Kristus. Bagi Paulus, Kristus adalah Penyelamat. Pengalaman di Damsyik
baginya pengalaman diselamatkan oleh Kristus, kendati Paulus dan tindakannya
justru melawan Kristus. Ia menghayati pengalaman tersebut sebagai rahmat.
Dengan refleksinya mengenai rahmat, Paulus harus membuat cara pandang yang baru
terhadap Hukum Taurat. Seluruh segi kehidupan sekarang harus dinilai dari cara
pandang Kristus dan bukan kaca mata Taurat. Kristus mengakhiri peranan Taurat.
Dengan ketaatan pada Taurat, Paulus mengejar keselamatan berdasarkan tindakan
manusia. Dalam Kristus, keselamatan adalah rahmat. Apa yang dapat dilakukan
manusia adalah menanggapi rahmat tersebut dengan melakukan keutamaan-keutamaan
yang selaras.
- Yesus
adalah Tuhan: Salah satu inti dari pemberitaan Paulus : Yesus Kristus
adalah Tuhan. Kita temukan di dalam surat-suratnya ungkapan: Tuhan Yesus
Kristus (28 x), Tuhan kita (9x), Yesus Kristus Tuhan kita (3x). Pengakuan akan
Yesus sebagai Tuhan memasukkan umat ke dalam persekutuan yang percaya akan
kebangkitan dan mengakui ke-Tuhan-an Kristus (Rom 10:9). Dalam 2Kor 4:5
dikatakan: “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus
sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus”. Bagi
Paulus tidak ada seorangpun yang dapat mengaku (dengan iman) bahwa Yesus adalah
Tuhan selain berkat karunia Roh Kudus (1Kor 12:3). Pengakuan ini mencerminkan
pengalaman si pengaku (Kol 2:6), sekaligus dihayati di dalam persekutuan
Gereja. Yesus telah diangkat dan menempati kedudukan penuh kuasa atas manusia
baik yang hidup maupun yang mati (Rom 14:9). Dalam 1Kor 8:6 dikatakan salah
satu unsur penting dari ke-Tuhan-an Yesus: “Bagi kita hanya ada satu Allah
saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia
kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala
sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup”.
Dalam Flp 2:5-11 kita temukan himne
kristologis tentang pengosongan dan peninggian. Karena pengosongan diri-Nya dan
ketaatan-Nya sampai mati, kepada-Nya dikaruniakan suatu nama baru yang
menunjukkan peran dan statusnya yang baru, yaitu Kyrios. Di hadapan
Yesus Tuhan, seluruh dunia akan berlutut. Gelar Kyrios merupakan
terjemahan dari tetragramaton YHWH, yaitu nama Allah perjanjian dan juga nama
Allah sejarah. Dengan gelar tersebut, Yesus menempati peran Allah dalam
memerintah dunia, memulihkan dunia yang telah jatuh. Allah melakukan itu semua
dalam diri Anak-Nya yang telah menjelma, Yesus Kristus. Ketika dunia menyembah
Kristus sebagai Tuhan, maka dunia akan menyembah Allah. Dalam Fil 2:6 dst.
dikatakan tentang Yesus sebagai Dia yang “dalam rupa Allah” (morphē theou)
telah mengosongkan diri-Nya.
Jika pengakuan akan ke-Tuhan-an Yesus
berarti keselamatan (Rom 10:9), maka latar belakangnya adalah konsep Perjanjian
Lama tentang menyeru nama Yahweh. Paulus mengutip Yoel 2:32: “barangsiapa
yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan” (bdk. Rom 10:13). Istilah
Hari Tuhan (1Kor 5:5; 1Tes 5:2; 2Tes 2:2) telah menjadi Hari Tuhan Yesus (2Kor
1:14), atau Hari Tuhan Yesus Kristus (1Kor 1:8), atau Hari Kristus (Flp 1:6.10;
2:16). Kristus sebagai Tuhan menjalankan hak prerogatif Allah. Ia menduduki
kursi pengadilan Allah (Rom 14:10; bdk. 2Kor 5:10). Allah menghakimi dunia
melalui Kristus (Rom 2:16).
Cukup jelas bahwa ke-Tuhan-an dan
mesianitas Yesus mengungkapkan realitas yang sama. Berhubung paham mesias adalah
kekhasan Yahudi, tentunya Paulus lebih banyak menggunakan gelar Tuhan untuk
Yesus. Ide ke-Tuhan-an Yesus diambil dari Perjanjian Lama, namun rupanya dapat
diterima di dunia helenis. Paulus menulis bahwa Yesus mati dan bangkit untuk
menjadi Tuhan (kyrieusē) bagi orang yang mati dan yang hidup (Rom 14:9).
Yesus harus memerintah sebagai raja (basileuein) sampai Ia menaklukkan
semua musuh-Nya (1Kor 15:25: “Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai
Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya”). Dengan
demikian cukup jelas bahwa gelar Mesias (Kristus) dan Tuhan menunjuk
pada beberapa aspek yang mirip, yaitu berkaitan dengan kuasa Yesus yang
menyerupai kuasa Allah sendiri.
- Kristus Mesias: Pertobatan di Damsyik
meyakinkan Paulus bahwa Yesus sungguh Mesias yang dinanti-nantikan orang
Yahudi. Sepintas lalu, mesianitas Yesus hanya memainkan peranan kecil di dalam
pemikiran Paulus. Dibandingkan dengan penggunaannya dalam Injil-injil Sinoptik,
penggunaan gelar Kristus (Christos) dalam surat-surat Paulus hampir
serupa dengan nama diri. Hanya ada satu ayat di mana Christos digunakan
sebagai gelar, yaitu pada Rom 9:5: “Mereka adalah keturunan bapa-bapa
leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di
atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya.
Amin!” Kita dapat juga mengamati pemakaian Christos sebagai gelar
dalam beberapa ayat lain: Rom 10:6; 1Kor 10:4.15.22; 2Kor 4:4; 5:10. Kendati
begitu, sebutan “Yesus Mesias” sudah diganti dengan sebutan “Yesus Kristus”
atau “Tuhan Yesus Kristus”. Paulus sendiri memang masing tetap membedakan
antara Yesus sebagai nama diri dan Kristus sebagai gelar, contohnya, kerapkali
dia menempatkan Kristus di muka nama Yesus. Kecenderungan untuk menyebut Christos
sebagai nama diri ada kemungkinan terjadi di dunia helenis di mana sebutan
tersebut tidak mempunyai konotasi iman atau religius. Dalam Kis 11:26 dikatakan
bahwa di Antiokhia para murid Kristus untuk pertama kalinya disebut Christianoi
(orang-orang Kristen). Kenyataan ini mengandaikan bahwa nama Kristus telah
dianggap sebagai nama diri.
Yesus
Kristus tetaplah mempunyai fungsi yang ditempatkan di dalam arus karya
keselamatan Israel. Dalam Rom 9:4-5 disebutkan peranan Kristus sebagai Mesias,
misi-Nya dilakukan “menurut Kitab Suci” (1Kor 15:3), Kristus juga memenuhi
fungsi eskatologis dari Mesias dengan harapan akan kedatangan-Nya kembali dalam
kemuliaan (2Tim 4:1; 2Tes 1:5), menjadi hakin atas manusia (1Kor 15:10),
menghancurkan orang jahat (2Tes 2:8).
Misi Yesus dikaitkan dengan martabat
Kerajaan. Paulus menghubungkan Kerajaan Allah dengan kebangkitan dan
keselamatan. Dengan pemerintahan-Nya, Kristus Mesias akan berkuasa atas semua
musuh-Nya (1Kor 15:25), dan Ia akan menyerahkan Kerajaan Allah kepada Bapa (1Kor
15:24). Kerajaan Allah adalah pemerintahan yang dinamis, menyelamatkan, yang
dijalankan oleh misi mesianis Yesus. Kerajaan Allah di satu pihak digambarkan
sebagai berkat eskatologis yang akan diwariskan (1Kor 6:9.10; 15:50; Gal 5:21)
sekaligus juga berkat masa kini (Kol 1:13). Kerajaan Allah bukanlah hal-hal
jasmani namun lebih berkaitan dengan realitas rohani, antara lain kebenaran,
damai, sukacita, yang dianggap sebagai buah-buah Roh (Rom 14:17). Kendati ada
kesinambungan, Mesianitas Kristus tetaplah mengambil bentuk lain daripada
mesias menurut tradisi Yahudi. Kristus bukanlah penguasa politik, Ia tidak
menghancurkan musuh-musuh Israel, pemerintahannya tidak diatur menurut tatanan
di bumi. Bagi Paulus, Mesias yang duduk di sebelah kanan Allah adalah Yesus
dari Nazaret. Paulus tidak pernah hidup bersama Yesus, sehingga masuk akal jika
dia tidak menyinggung biografi Yesus. Kendati begitu ia menyatakan bahwa Yesus yang dimuliakan adalah
Yesus dari Nazaret, orang Israel (Rom 9:5), keturunan Daud (Rom 1:3), pernah
hidup di bawah Taurat (Gal 1:19), miskin (2Kor 8:9), berkarya di tengah
masyarakat Yahudi (Rom 15:2) memiliki 12 murid (1Kor 15:5), memulai tradisi
perjamuan Tuhan (1Kor 11:23 dst.), disalibkan, dikuburkan dan bangkit dari
kematian (2Kor 1:3.4; 1Kor 15:4). Paulus juga mempunyai referensi pada
sifat-sifat Yesus yang: lemah-lembut (2Kor 10:1); taat kepada Allah (Rom 5:19),
tekun (2Tes 3:5), menyangkal diri (Fil 2:9 dst.), benar (Rom 5:18), tidak
berdosa (2Kor 5:21). Bultmann menganggap bahwa Paulus mendasarkan idenya
mengenai keselamatan hanya pada kerygma, bukan pada fakta-fakta historis
tentang Yesus. Bagi Bultmann, Yesus sejarah telah hilang di balik tradisi
Kristen. Sebenarnya ada perbedaan antara Yesus menurut daging (Christos kata
sarka) dengan Kristus dalam kerygma. Bagi Bultmann tidak ada
kesinambungan antara Yesus historis dan Kristus kerygma. Pendapat
Bultmann ini dinilai terlalu ekstrim dan tidak semua dapat menyetujuinya. Bagi
Paulus, makna eskatologis dari pribadi dan karya Yesus mendapat maknanya yang
lebih penuh di dalam wafat dan kebangkitan-Nya. Dalam 2Kor 5:16 Paulus
mengatakan: “Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran
manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang
kami tidak lagi menilai-Nya demikian.” Apa yang dimaksudkan oleh Paulus dengan
“menilai Yesus menurut ukuran manusia” (harafiah: Yesus menurut daging; Yun: Christos
kata sarka). Bagi Paulus, ungkapan Christos kata sarka bukanlah
Yesus yang pernah hidup dalam sejarah. Ungkapan tersebut mau menjelaskan adanya
pandangan yang keliru terhadap Kristus, antara lain menganggap-Nya sebagai
penghujat, pelanggar hukum Taurat. Pada kenyataannya, pandangan keliru
tersebutlah yang diyakini oleh Sanhedrin, sampai mereka menghendaki kematian-Nya.
Pemahaman keliru tersebut menjadi pemahaman Paulus pula sebelum pertobatannya.
Kekeliruan terjadi karena ia memandang Yesus menurut ukuran manusia / harf.
ukuran daging (kata sarka).
- Yesus
Anak Allah: Gelar Yesus sebagai Anak Allah kurang begitu sering digunakan
oleh Paulus, jika dibandingkan dengan gelar Tuhan dan Kristus, meskipun gelar
tersebut amat penting. Gelar Anak Allah mempunyai bagi Yesus nuansa: relasi
amat dekat dengan Allah, diutus untuk menyelamatkan, menjadi serupa dengan manusia,
supaya manusia serupa dengan-Nya sebagai anak-anak Allah. Partisipasi Yesus
pada kerapuhan manusia (akibat dosa) bertujuan agar manusia berpartisipasi
dalam status ke-Puteraan Ilhi-Nya. Kepada jemaat di Roma, Paulus menyatakan
bahwa dia mewartakan Injil mengenai Anak Allah (Rm 1:3; bdk. 1:9). Gelar ini
mempunyai latar belakang Yudaisme, yang biasa digunakan untuk malaekat, Israel,
raja. Dengan sebutan tersebut ingin diungkapkan adanya hubungan dekat mereka
dengan Allah. Dalam Rm 1:3-4 Paulus berkata: “(Injil) tentang Anak-Nya, yang
menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh
kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang
berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.” Kebangkitan Yesus bagi Paulus
merupakan bukti dari dari Allah bahwa Yesus adalah benar dan diakui sebagai
Anak Allah, bahkan Anak Allah yang berkuasa. Selanjutnya, Paulus masih menyebut
lagi Yesus sebagai Anak Allah dalam Rm 8:3. Yesus diutus sebagai Anak Allah
dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa. Dengan
jalan itu, Dia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging. Tindakan
Allah dalam Yesus ini tidak mungkin dilakukan hukum Taurat. Dalam 1Tes 1:9-10,
keputeraan Yesus disebut dalam kaitannya dengan kebangkitan-Nya dari mati.
Gelar Anak Allah yang bernada mesianis ditemukan juga dalam 1Kor 15:24-28.
Jelas bahwa peranan Yesus dan makna gelar-Nya sebagai Anak Allah jauh melampaui
konsep tentang mesianis keturunan Daud. Yesus sebagai Anak Allah diserahkan
oleh Bapa kepada manusia untuk mengaruniakan keselamatan (Rm 8:32), sejalan
dengan Gal 2:20 yang mengatakan bahwa Anak Allah telah mati dan menyerahkan
diri-Nya (dengan kematian) untuk keselamatan manusia. Gelar Anak Allah
mempunyai nilai tinggi sebagai “yang amat berkenan kepada Allah” dan “yang rela
untuk mengasihi dan menyerahkan diri-Nya” dermi keselamatan umat manusia.
Dengan gerlar ini juga ditekankan bahwa Yesus ada di pihak Allah dalam karya
penebusan-Nya. Cara lain untuk menyatakan keselamatan sebagai maksud Allah
mengutus Putera-Nya adalah agar supaya manusia “diterima menjadi anak (Allah)”.
Dengan begitu, unsur partisipasi pada wafat dan kebangkitan Kristus akhirnya
mengarah pada partisipasi umat beriman dalam Kristus (Anak Allah) sebagai
anak-anak Allah, bdk. juga 1Kor 1:9: “Allah, yang memanggil kamu kepada
persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.”
Paulus mengajarkan secara konsisten bahwa keputeraan Ilahi bagi umat Kristen
dianugerahkan melalui dan seturut dengan Kristus yang merupakan prototipe
original Anak Allah.
8. Antropologi
Paulus
Semua teologi mengandaikan adanya
suatu antropologi. Untuk menafsirkan surat-surat Paulus, hendaknya perlu
diingat bahwa dia adalah seorang Yahudi yang berasal dari daerah diaspora.
Sebagai orang Yahudi, Paulus mempunyai paham antrolopologi khas Semit yang
sangat berbeda dari antropologi Yunani. Manusia bagi filsafat Yunani adalah
mahluk yang mempunyai badan dan jiwa. Bagi orang Yahudi, manusia adalah suatu
badan, pribadi yang hidup. Badan adalah keseluruhan manusia dalam relasinya
dengan Allah, orang lain dan dunia. Terjemahan Yunani dari bahasa Ibrani
kerapkali tidak sungguh-sungguh mewakili makna sebenarnya. Paulus menggunakan
versi Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani (Septuaginta), namun pemikiran yang
ada di balik istilah-istilah yang dia pakai tetaplah semitik.
Bahasa Ibrani Bahasa Yunani / LXX
Bâsâr
(daging) - diri manusia yang bisa hancur Sarx:
daging
Sôma:
tubuh
Lev
(hati) - diri manusia dengan akal budi Nous:
intelegensi, daya pikir, rasio
Kardia:
hati, kehendak
Ruah
(angin, roh) - manusia dengan daya rohani Pneuma:
roh
Nefesh
(jiwa) - manusia dengan kebutuhan rohani Psyche:
jiwa
Menurut pemahaman Yahudi, bâsâr
adalah diri manusia dalam seginya yang tampak, tubuh, aspek-aspek yang sifatnya
duniawi. Dengan begitu, bâsâr adalah bagian dari hidup manusia yang sifatnya sementara dan rapuh. Dalam arti
tertentu, daging menunjuk pada aspek kelemahan manusia jika dibandingkan dengan
iman. Dosa dikaitkan dengan kelemahan daging. Untuk menterjemahkan bâsâr,
bahasa Yunani memakai makna gabungan dari kata sarx dan sôma. Sarx
(daging) adalah keseluruhan diri manusia tetapi dipandang dari segi
kerapuhannya dan sifatnya yang sementara (bdk. Kol 1:24; Rm 6:19; 2Kor 4:11).
Bagi Paulus, mereka yang hidup oleh daging atau di dalam daging identik dengan
“bukan kristen”, identik dengan kehidupan manusia yang mengingkari Allah (Rm
7:5). Sôma adalah keseluruhan pribadi manusia dipandang dari aspek
eksternal, tetapi mampu berelasi dengan dunia, sesama dan Allah. Tubuh
merupakan suatu tanda solidaritas, sebagai “saya” yang diciptakan untuk Allah,
sehingga dapat dibangkitkan. Tubuh adalah bait Roh Kudus (1Kor 6:19-20), tubuh
adalah untuk Tuhan dan Tuhan untuk tubuh (1Kor 6:13). Dalam Rm 12:1 dikatakan “Demi
kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu
(sôma) sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada
Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Kata lèv dalam bahasa Ibrani
merupakan tempat beradanya akal budi dan kehendak (Ul 29:3; 1Sam 12:24). Bagi
orang Yahudi, lèv (hati) merupakan tempat kegiatan intelektual dan
pengambilan keputusan. Hati juga merupakan pusat kesadaran, perasaan, emosi dan
keinginan. Sebaliknya, orang Yunani membedakan antara intelegensi (nous)
dan hati (kardia). Nous merupakan tempat beradanya pengetahuan,
pemahaman dan pemikiran, sedangkan hati (kardia) adalah tempat dari
keinginan, niat, kehendak dan perasaan. Hati digerakkan oleh perasaan dalam
arti: mengiginkan sesuatu (Rm 10:1), mengambil keputusan (2Kor 2:4), kesedihan
(Rm 9:2), mencintai (2Kor 7:3; 8:16; Flp 1:7).
Ruah (Ibr.: angin, roh) merupakan daya
hidup (Kej 7:22; Ayb 34:14-15), unsur rohaniah dari diri manusia. Daya hidup
ini berasal dari Allah, mempunyai daya kekuatan dan energi, kemampuan untuk
bertindak. Manusia mampu menemui atau mengenal Allah karena mempunyai Ruah.
Kata ruah dalam bahasa Yunani diterjemahkan dengan kata pneuma,
yang muncul 145 dalam surat-surat Paulus, sebagai bukti bahwa kata ini penting.
Banyak kali Paulus menggunakan kata pneuma untuk dikenakan pada Roh
Allah.
Nefesh (Ibr: jiwa, nyawa) mungkin serupa
dengan nyawa, unsur manusiawi dari jiwa dengan segala kebutuhannya. Misalnya,
untuk mempertahankan nefesh, orang perlu minum, makan. Dalam bahasa
Yunani, kata nefesh diterjemahkan
dengan psyche, diri manusia sebagai mahluk hidup (a living being). Psyche
dapat juga berarti keseluruhan pribadi manusia (2Kor 12:15), dapat berarti
manusia duniawi yang dikongraskan dengan manusia rohani. Pembedaan itu misalnya
kelihatan pada 1Kor 2:14-15: “Tetapi manusia duniawi (psychikos) tidak
menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu
kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai
secara rohani. Tetapi manusia rohani (pneumatikos) menilai segala sesuatu,
tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain. Tetapi manusia duniawi tidak
menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu
kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai
secara rohani.” Psychikos dalam hal ini dipakai untuk menunjuk sisi
pribadi manusia yang tidak komunikatif dengan Allah, diwarnai oleh daging dan
darah (fisik), tidak mempunyai potensi untuk berkomunikasi dengan Allah. Contoh
lain dari perbedaan antara psyche dan pneuma kelihatan pada 1Kor 15:44: “Yang
ditaburkan adalah tubuh alamiah (psychikos), yang dibangkitkan adalah tubuh
rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah (pneumatikos).”
Berkaiatn dengan antropologi Paulus,
masih ada kata lain yang dipakai, yaitu syneidèsis, dalam bahasa
Indonesia dapat diterjemahkan dengan “kesadaran.” Melalui kesadarannya (syneidèsis),
manusia dapat berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Melalui kesadaran, manusia
dapat memilih antara yang baik dan yang buruk. Dalam 1Kor 8:7-13 dan 10:23-33
dibahas mengenai hal ini. Dalam 1Kor 15:10, terjemahan Indonesia, kata ini
diterjemahkan dengan “hati nurani”. Kesadaran manusia dapat lemah atau kuat
berhadapan dengan tuntutan moral.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar