Senin, 17 Maret 2014

I. RIWAYAT HIDUP DAN KARYA MISI PAULUS

1. Dilahirkan di Tarsus

     Sumber utama mengenai Paulus adalah surat-suratnya yang otentik yaitu 1Tes, Gal, Flp, Flm, 1-2Kor, Rom. Informasi historis dapat pula digali dari Kisah Para Rasul dan surat-surat deutero-Paulinis yaitu Kol, Ef, 2Tes, 1-2Tim dan Titus. Masih ada informasi-informasi lainnya dari tulisan-tulisan apokrif, akan tetapi otentisitas datanya masih perlu diuji lagi.
     Menurut Kisah Para Rasul, Paulus dilahirkan di Tarsus di tanah Kilikia, dibesarkan di Yerusalem dan dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hal Taurat (Kis 22:3; 21:39). Selanjutnya Kisah Rasul masih menyebut Tarsus dalam tiga ayat lain, bdk. Kis 9:11.30; 11:25. Surat-surat Paulus samasekali tidak menyebut kota Tarsus. Tarsus adalah kota yang mempunyai keunggulan di dalam pengembangan kebudayaan helenisme. Tahun 67 sM Pompeyus menaklukkan kota Tarsus dan menjadikannya ibu kota dari provinsi Kilikia. Cicero pernah menjadi prokonsul di Kilika pada tahun 51-50 sM. Pada tahun 47 sM Tarsus menyambut dengan gembira kehadiran Yulius Caesar. Untuk menghormatinya, Tarsus sampai diberi nama Iuliopolis. Setelah kematian Caesar, Tarsus mendapat status kota merdeka dari Markus Antonius yang pada waktu itu menguasai wilayah kekaisaran Roma bagian Timur. Di bawah pemerintahan kaisar Agustus, Tarsus mendapat bermacam-macam keistimewaan, termasuk dibebaskan dari pajak kekaisaran. Tarsus menjadi kota yang memberi harapan, apalagi semakin berkembang sebagai pusat kegiatan intelektual.
     Sebagai sebuah kota besar, Tarsus mempunyai pelabuhan sendiri, berpenduduk sekitar 300.000 orang pada zaman Paulus. Posisi kota Tarsus menguntungkan untuk lalu-lintas perdagangan. Karena dekat dengan laut Mediteran, Tarsus menampung penduduk dari segala macam ras dan suku bangsa. Budaya yang berkembang di Tarsus menjadi beraneka ragam, namun semuanya bisa disatukan dalam payung budaya helenisme. Kaum Yahudi merasa tidak perlu hidup dalam ghetto, mereka hidup dengan cukup bebas bersama bangsa-bangsa lain. Keterbukaan kaum Yahudi terhadap bangsa-bangsa lain justru mampu menarik hati banyak bangsa menjadi proselit (bangsa non Yahudi yang menganut agama Yahudi).
     Sebagai kota pusat kebudayaan, di Tarsus ada sebuah universitas besar yang berani bersaing dengan universitas di Athena maupun di Aleksandria. Dari segi religius, Tarsus yang dihuni oleh bermacam ragam suku bangsa dan agama itu  membuka kemungkinan terjadinya sinkretisme. Paulus yang dilahirkan di kota yang berpikiran maju dan multi rasial ini dibentuk dalam budaya helenis dan Yahudi sekaligus. 
     Paulus (Yun: Paulos) lahir dengan nama Yahudi “Saulus” (Kis 7:58; 8:1; 9:1.4 dst.). Kisah Para Rasul menyebut namanya dengan “Saulus” sampai Kis 13:9. Perubahan namanya menjadi “Paulus” dikarenakan karya misinya di dunia helenis. Dia sendiri tidak pernah menyebut nama Yahudinya (Saulus) di dalam surat-suratnya, tetapi selalu memakai nama Paulus (1Tes 1:1; 2:18; Rm 1:1; 1Kor 1:1.12-13). Dia dilahirkan antara tahun 5-10M. Sebagai orang Yahudi, Paulus berasal dari suku Benyamin (Flp 3:5; Rm 11:1; bdk. Kis 13:21). Nama Yunani yang dimilikinya mungkin berkaitan dengan statusnya sebagai warga kota Tarsus, di mana ia dilahirkan dan dibesarkan (Kis 9:11; 21:39; 22:3; bdk. 9:30; 11:25). Statusnya sebagai warganegara Roma amat berguna menurut Kisah Para Rasul (Kis 16:37-38; 22:25-29; 23:27; 25:8-12.21; 26:32; 27:24; 28:19). Karena statusnya tersebut, Paulus diperbolehkan mengajukan banding kepada kaisar ketika harus berperkara dengan pengadilan Romawi. Paulus mendapat status warga negara Roma dari ayahnya, jadi berdasarkan keturunan (Kis 16:37-38; 22:25-29; 23:7; 25:10-11).
     Pendidikan Paulus di Tarsus tidak dijelaskan di dalam Kisah Rasul maupun surat-suratnya. Paulus rupanya lebih bangga dengan pendidikannya sebagai orang Yahudi, seperti dikatakan dalam dalam Kis 22:3: “Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini.” Mungkin pernyataan Paulus di sini dipengaruhi oleh situasi dan kondisinya pada waktu itu, ketika dia sedang berhadapan dengan orang-orang Yahudi-Kristen yang masih membanggakan keyahudian mereka. Apa yang dikatakan oleh Paulus tersebut menjadi petunjuk bahwa ada kemungkinan keluarga Paulus pindah dari Tarsus ke Yerusalem, di mana ia kemudian menerima pendidikannya yang kedua (Kis 26:4).
     Yang jelas, entah bagaimana persisnya, Paulus mendapat pendidikan helenis (budaya Yunani) yang cukup memadai. Bekal ini menjadikan Paulus seorang misionaris yang begitu percaya diri untuk tampil di kalangan internasional. Kemampuannya untuk berkotbah, mengajar, menulis surat yang panjang, terlibat dalam debat teologis yang mendalam, membuktikan bahwa ia mempunyai pendidikan yang memadai mengenai budaya dan bahasa Yunani. Lukas dalam Kisah menampilkan Paulus sebagai seorang pengkotbah yang mempunyai kemampuan retorika yang unggul. Dia menguasai bahasa Ibrani / Aram (bdk. Kis 22:2) dan Yunani (Kis 9:29) dengan baik.
    
2.  Paulus sebelum pertobatan
    
     Sebelum pertobatannya, Paulus termasuk orang yang setia dan taat dalam melaksanakan tradisi agama Yahudi yang diwarisi dari nenek moyangnya. Dia memandang dirinya sebagai seorang Yahudi ortodoks yang dengan penuh semangat berupaya memerangi segala bentuk kekafiran. Paulus adalah anggota dari kelompok Farisi dan ikut ambil bagian di dalam pengejaran terhadap para pengikut Kristus (Gal 1:13.23; Flp 3:6; 1Kor 15:9). Perjuangan Paulus untuk mengejar-ngejar umat Kristen tampaknya dilatarbelakangi oleh karena orang-orang Yahudi-Kristen dianggapnya tidak lagi setia pada hukum Taurat. Kisah Para Rasul dan Paulus sendiri tidak memberi alasan yang detil mengenai hal ini. Rupanya sebagai orang Yahudi fanatik Paulus sulit memahami bagaimana mungkin Yesus  yang telah mati disalib itu diyakini sebagai Mesias. Bukankah kitab Ul 21:23 mengatakan bahwa orang yang mendapat hukuman gantung di kayu salib adalah orang yang terkutuk oleh Allah? Jika Yesus yang disalib itu dipercaya sebagai Mesias, maka ini sungguh suatu penghojatan.
     Kisah Para Rasul mengungkapkan bahwa Paulus mendapat pendidikan dari rabi Gamaliel di Yerusalem (Kis 5:34; 22:3). Dia masuk kelompok Farisi, yaitu suatu kelompok eksklusif dan tekun dalam menjalankan Taurat. Pada waktu itu di Palestina jumlah mereka ada sekitar 6000 orang awam. Mereka begitu lekat pada tradisi nenek-moyang, taat ibadat dan menjalankan hukum agama, antara lain dalam membayar persepuluhan. Sebelum tahun 70 M kelompok Farisi sudah mempunyai posisi dominan. Setelah tahun 70 M (kehancuran Yerusalem), kelompok Farisi semakin berpengaruh lagi karena kelompok yang lekat pada Bait Allah (Imam dan Lewi) pelan-pelan kehilangan peranan di tengah masyarakat Yahudi. Sebagai anggota kelompok Farisi, Paulus percaya akan kebangkitan badan. Kepercayaan itu pada diri Paulus mendapat kepenuhannya dan peneguhannya dengan imannya akan kebangkitan Yesus Kristus dari mati (1Kor 15:12.20-21).
     Sebagai seorang Yahudi fanatik yang membenci umat Kristen, Paulus hadir pada saat perajaman (hukuman dengan cara dilempari batu) terhadap diakon Stefanus (Kis 7:58; 8:1; 22:20). Paulus kemudian berniat mengejar umat Kristen sampai ke Damsyik dengan meminta surat dari Mahkamah Agama untuk dibawa kepada para petinggi sinagoga di Damsyik. Maksudnya supaya dia diijinkan menangkap umat Kristen di antara jemaat Yahudi di sinagoga. Umat Kristen sebenarnya belum samasekali lepas dari lingkungan bangsanya. Mereka masih rajin ke sinagoga. Namun selain itu mengadakan ibadat perjamuan bersama di rumah-rumah mereka secara bergiliran. Dalam 1Kor 15:9 dan Gal 1:13 Paulus mengakui kegiatannya sebagai penganiaya jemaat Kristen.
     Sebenarnya cukup aneh bahwa Paulus yang kaku dan legalis dalam hukum agama itu adalah murid Gamaliel, rabi yang dikenal bijak dan amat dihormati bangsanya. Gamaliel mempunyai keunikan karena dia mampu mengadopsi filsafat Yunani ke dalam pengajaran agama Yahudi. Menurut Kis 5:34-39, Gamaliel menasehati para anggota Mahkamah Agama agar melepaskan para rasul dan membiarkan mereka mewartakan Injil. Alasannya, otoritas agama Yahudi tidak akan mungkin melenyapkan gerakan Kristen jika itu sungguh berasal dari Allah. Jangan-jangan dengan upaya melenyapkan jemaat Kristen, ternyata mereka justru bertindak melawan Allah. Sulit dimengerti bahwa rabi Yahudi yang bijaksana dan begitu toleran itu adalah guru Paulus. Namun, tidak ada dasar yang cukup bagi kita untuk menelitinya lebih jauh dan meragukan keterangan dari Kisah Para Rasul. Ada keanehan lain yang kita temukan berdasarkan informasi dari Gal 1:20-22 bahwa Paulus tidak dikenal oleh jemaat-jemaat di Yudea. Sebenarnya Paulus juga melakukan pengejaran di Yerusalem atau tidak? Tidak ada kepastian bahwa Paulus giat mengadakan pengejaran di Yerusalem. Meskipun demikian, Kis 9:21 memberi kesan bahwa diapun juga bergiat di Yerusalem, sehingga kehadiran Paulus di tengah jemaat Kristen sesudah pertobatan sempat menimbulkan kecurigaan (Kis 9:26-27).
     Mengenai penampilan fisik Paulus, Kitab Suci hanya memberi gambaran sedikit dan kurang meyakinkan, bdk. 1Kor 2:3: Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar; dan 2Kor 10:10: Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti. Di dalam kitab Apokrif tentang kisah Paulus dan Tekla dikatakan bahwa Paulus seorang yang berperawakan kecil, berambut tipis dan halus, kakinya bengkok namun badannya tegap, alisnya bertemu dengan hidung sedikit bungkuk, menimbulkan iba.
    
3.  Pertobatan

     Diperkirakan pertobatan Paulus terjadi pada tahun 34 M. Pada waktu itu Paulus sedang penuh semangat mengejar-ngejar umat Kristen di Damsyik. Ketika sudah mendekati kota Damsyik, tiba-tiba Paulus mengalami penglihatan akan Kristus yang bangkit. Di dalam kisah selanjutnya (dan juga surat-suratnya) kelihatan bahwa pengalaman di Damsyik itu memberi kesan begitu dahsyat bagi Paulus dan secara total merubah pandangannya terhadap Yesus, imannya, jalan hidupnya, harapan hidupnya. Kisah Para Rasul mengacu pada pertobatan Paulus sampai tiga kali (Kis 9:1-9; 22:6-21; 26:12-18). Di dalam Gal 1:15-16 pertobatan tersebut oleh Paulus dianggap sebagai panggilan, penyataan dan perutusan untuk mewartakan Injil: “Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya,  berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia.” Yesus disebut oleh Paulus sebagai Anak Allah. Menurut teks Galatia ini, pertobatan di dekat Damsyik mengawali karier Paulus sebagai pewarta Injil. Surat 1Kor 15:8 memandang peristiwa tersebut sebagai penampakan Yesus yang terakhir setelah kebangkitan-Nya. Kalau informasi-informasi mengenai pertobatan Paulus ini disatukan, ada sejumlah unsur yang sepakat mengatakan bahwa : Pertama, Paulus pada mulanya adalah penganiaya jemaat Kristen (Gal 1:13; 1Kor 15:9; Kis 26:9-11; 9:1-5). Kedua, penampakan Kristus yang bangkit dihubungkan dengan panggilan Paulus untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa lain (Gal 1:16; Kis 26:16). Ketiga, kisah pertobatan terjadi di dekat Damsyik, yaitu sebuah kota di wilayah Siria (Gal 1:17; Kis 9; 22; 26).
     Paulus berubah total dari pengejar dan penganiaya jemaat Kristen menjadi pengikut Kristus yang setia dan berani mati. Kegiatannya menganiaya jemaat diakui Paulus di dalam surat-suratnya:

Aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah” (1Kor 15:9).
Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya” (Gal 1:13).
“... tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat” (Flp 3:6). - bdk. Kis 7:58; 8:1-3; 9:1-2; 22:3b; 26:1-11.

     Istilah “pertobatan” bagi pengalaman Paulus di dekat Damsyik sebenarnya tidak sepenuhnya tepat. Paulus sendiri menganggapnya sebagai penyataan / perwahyuan (Gal 1:16), suatu penciptaan baru (2Kor 5:17) dan suatu penampakan (1Kor 15:8), ditangkap oleh Kristus Yesus (Fil 3:12). Perubahan diri Paulus sebagai penganiaya jemaat Kristen menjadi pengikut Kristus tidak dapat disamakan dengan perubahan dari orang kafir menjadi orang beriman, atau dari orang tak bermoral menjadi orang bermoral, atau dari agama tertentu ke agama lain. Paulus menggambarkan dirinya sebelum peristiwa Damsyik sebagai seorang Yahudi yang taat pada hukum Taurat tanpa cacat (Fil 3:6). Sebenarnya Paulus tidak samasekali anti Taurat. Namun, sekarang dia memahami Taurat dengan cara pandang lain, yaitu sesuai dengan imannya akan Yesus Kristus Anak Allah. Dia mengenang ketaatannya pada Taurat tanpa Kristus bagaikan hidup di dalam perbudakan yang setiap kali membawanya kepada kelemahan daging. Paulus menggambarkan pertobatannya sebagai karya Allah yang tanpa dapat dijelaskan persisnya ternyata telah merasuk ke dalam dirinya dan mengubah hidupnya dari dalam sebagai bagian dari anak-anak Allah yang merdeka. Paulus mengisahkan perubahan dirinya yang mendalam itu pada beberapa kesempatan (antara lain dalam 1Kor 15:8; Gal 1:15-16).
     Kita tidak mendapat informasi bagaimana Paulus mendapatkan pengajaran agama Kristen. Tidak juga ada petunjuk di dalam Kisah Para Rasul maupun di dalam surat-suratnya bahwa dia secara khusus mempelajari kehidupan Yesus dan ajaran-ajaran-Nya. Dapat diandaikan bahwa pertemuannya dengan para rasul membuatnya semakin mengenal Yesus dan ajaran-ajaran-Nya. Kendati begitu, Paulus di sisi lain menegaskan bahwa misi kerasulannya adalah indipenden dari kuasa manusia, karena dia menerimanya secara pribadi dari Yesus sendiri (Gal 1:15-17). Bagaimana persisnya perutusan itu terjadi, kita hanya menduganya dari tafsiran serba terbatas terhadap peristiwa Damsyik.

Kunjungan pertama ke Yerusalem (37 M)
     Paulus mengatakan dalam Gal 1:17-18 bahwa setelah pertobatannya ia tidak ke Yerusalem menemui para rasul, namun pergi ke tanah Arab, kembali ke Damsyik, dan setelah 3 tahun kemudian barulah ia ke Yerusalem (Gal 1:18-24). Surat 2Kor 11:32-33 mengatakan bahwa Paulus meninggalkan Damsyik karena pengejaran dari wali negeri raja Aretas: “Di Damsyik wali negeri raja Aretas menyuruh mengawal kota orang-orang Damsyik untuk menangkap aku.  Tetapi dalam sebuah keranjang aku diturunkan dari sebuah tingkap ke luar tembok kota dan dengan demikian aku terluput dari tangannya.” Kis 9:22-26 mendukung pendapat bahwa Paulus mengunjungi Yerusalem setelah meninggalkan Damsyik dengan diam-diam, tanpa menyebut kepergiannya lebih  dahulu ke Arabia dan tanpa referensi mengenai pengejaran oleh wali negeri raja Aretas. Di Yerusalem, tiga tahun kemudian, Paulus tinggal bersama Petrus selama 15 hari sebab orang Yahudi Helenis berusaha lagi membunuh dia (Gal 1:17-18; Kis 9:19 dsb). Paulus lari ke Yerusalem dan di situ Barnabas berani memperkenalkan dia kepada pemimpin-pemimpin Kristen yang sangat mencurigainya, hal yang dapat dimengerti. Paulus pergi ke Yerusalem guna menemui Kefas dan Yakobus. Pada waktu itu dia tidak melihat seorang rasul pun kecuali Kefas dan Yakobus saudara Yesus (Gal 1:16-19). Menurut Gal 1:21 dan Kis 9:30, Paulus kemudian diantar ke Kaisarea kemudian kembali ke Tarsus di Kilikia. Ia tinggal di sana sekitar 10 th. Hanya sedikit informasi mengenai periode 10 tahun ini, yaitu antara tahun 34/35 sampai tahun 45. Dalam Galatia juga dikatakan bahwa Paulus kemudian pergi ke Siria (Antiokhia) dan Kilikia (Tarsus) untuk mewartakan Injil sebelum memulai perjalanan misinya (Gal 1:21-24).
     Ketika diutus untuk mengunjungi jemaat di Antiokhia, Barnabas mendengar pekerjaan Paulus dan teringat perjumpaan mereka pertama kali. Ia kemudian meminta Paulus datang ke Antiokhia untuk menolong pemberitaan Injil yang sedang berkembang di tengah-tengah masyarakat non-Yahudi (Gal 1:17dst; Kis 9:26dst; 11:20 dst). Sesudah satu tahun mewartakan Injil dengan sukses,  Paulus dan Barnabas diutus ke Yerusalem. Kis 11:30-12:24 menceritakan perjalanan Paulus kedua ke Yerusalem. Ia bersama dengan Barnabas membawa kolekte untuk membantu jemaat di Yerusalem yang sedang menderita kurang makanan.
     Jika kita menerima pernyataan Paulus tentang kepergiannya ke Arabia (wilayah Nabatea), ada kemungkinan ini berkaitan dengan perutusan untuk mewartakan Injil kepada bangsa kafir. Namun, tidak ada penjelasan apakah misinya di tanah Arab cukup sukses. Dari konteks lebih luas yang dapat dilihat pada surat-surat dan kisah perjalanan misinya, kita dapat menduga bahwa misi Paulus ke tengah bangsa-bangsa kafir bukannya tanpa masalah.

4. Perjalanan misi Paulus

     Gereja Antiokhia rupanya menjadi basis utama bagi jemaat kristen perdana. Menurut Kisah Para Rasul, tiga kali Paulus memulai perjalanannya misinya dari Antiokhia.

a.  Perjalanan misi pertama: Kis 13:4-14:28 (tahun 45-48 M, sebelum konsili di Yerusalem)

Antiokhia (di Siria) - Seleukia - Salamis - Pafos - Perga - Antikohia di Pisidia (di Frigia) - Ikonium - Listra - Derbe - Listra - Ikonium - Antiokhia di Pisidia - Perga - Antiokhia (di Siria).

Keputusan untuk melakukan karya misi penginjilan terjadi pada saat berdoa di tengah jemaat Antiokhia, di bawah bimbingan Roh Kudus (Kis 13:1-3). Perjalanan misi pertama berlangsung sekitar dua sampai tiga tahun.  Paulus bersama Barnabas dan Markus menjelajah pulau Siprus. Barnabas tampil sebagai pemimpin perjalanan dari Antikohia ke  Siprus. Namun ketika meninggalkan Siprus, perjalanan misi tampaknya dipimpin oleh Paulus. Di Perga, Yohanes Markus meninggalkan Paulus dan Barnabas. Mereka kemudian melintasi Galatia Selatan, yaitu ke Antiokhia di Pisidia, Ikonium, Listra, Derbe (Kis 13-14). Cara kerja mereka, yang menjadi pola Paulus dalam pemberitaan Injil, adalah mula-mula berkhotbah di sinagoga atau rumah ibadat. Pendengar mereka adalah orang Yahudi dan non-Yahudi  (disebut sebagai orang “yang takut akan Allah”). Jika masyarakat Yahudi menolak Injil yang diwartakan Paulus - kadang-kadang dengan kekerasan - maka pemberitaan dialihkan kepada masyarakat non-Yahudi (bdk Kis 13:46 dst). Misi pertama mengalami sukses tetapi juga kegagalan. Di Ikonium, Paulus mengalami konflik dengan orang-orang Yahudi yang menolak pewartaannya (Kis 14:1-7). Di Listra, Paulus dilempari batu (Kis 14:19). Di wilayah Pisidia, keberhasilannya mengkristenkan sejumlah proselit mendapat perlawanan kalangan Yahudi yang begitu hebat (Kis 13:45) sampai Paulus dan Barnabas kemudian mengalihkan pewartaan mereka kepada bangsa-bangsa non Yahudi (Kis 13:46). Kendati ada bahaya-bahaya penolakan tersebut dan perpisahan dengan Markus di Perga, pemberitaan Injil berhasil menumbuhkan jemaat di daerah Pisidia dan Pamfilia, persisnya di kota Antiokhia, Ikonium, Listra, Derbe dan mungkin Perga. Hal lain yang semakin meneguhkan perjuangan mereka adalah kesadaran bahwa Allah telah membuka pintu iman bagi bangsa-bangsa non-Yahudi (Kis 14:28). 

     Konsili pertama di Yerusalem (Kis 15)

Ketika banyak dari kalangan masyarakat non-Yahudi menjadi Kristen, timbul masalah berat tentang hubungan mereka dengan hukum dan adat-istiadat Yahudi. Sebagian orang Kristen-Yahudi mengharuskan orang Kristen non-Yahudi agar disunat dan mentaati Taurat Musa, jika mereka hendak diterima ke dalam persekutuan Gereja. Sesudah Paulus kembali ke Antiokhia dari perjalanan misinya yang pertama  (49 M), ia melihat gerakan peng-Yahudi-an ini sebagai suatu ancaman terhadap serius pewartaan Injil yang sebenarnya. Dengan jelas dan tegas Paulus melawan gerakan tersebut. Bahkan tanpa ragu-ragu ia mengeritik Petrus di muka umum (Gal 2:14), karena Petrus dengan diam-diam meninggalkan perjamuannya bersama kelompok Kristen non-Yahudi akibat kedatangan orang-orang Yahudi-Kristen. Kelompok Yahudi-Kristen tidak mau jika Gereja meninggalkan begitu saja adat-istiadat Yahudi. Mereka masih mengambil jarak terhadap orang-orang Kristen non Yahudi. Mereka juga masih berpegang pada ajaran ketahiran dan kenajisan, makanan haram dan halal. Kelompok Yahudi-Kristen disebut dalam bahasa Inggris kaum Judaizers, sehingga untuk selanjutnya kita sebut saja kelompok Yudais.
Sesudah mendengar bahwa ajaran peng-Yahudi-an itu oleh kaum Yudais membawa pengaruh pada Gereja-gereja yang baru didirikannya, Paulus menulis surat peringatan yang tegas kepada jemaat di Galatia. Dengan penuh semangat dijelaskannya bahwa “Keselamatan terjadi karena kasih karunia melalui iman, bukan karena menjalankan Taurat”.
Peristiwa di Antiokhia menimbulkan krisis teologi besar dan yang pertama dalam Gereja. Untuk menyelesaikan kemelut teologis yang ditimbulkannya, jemaat Antiokhia mengutus Paulus dan Barnabas untuk berunding dengan para rasul dan penatua di Yerusalem (Kis 15). Sebelum tahun 70 M, Yerusalem masih berfungsi sebagai Gereja induk, pimpinannya adalah Yakobus saudara Yesus. Meskipun begitu, Petrus dan para rasul lainnya tetap mempunyai otoritas tertinggi dalam menentukan arah Gereja.
Sidang para rasul dan para penatua di Yerusalem mengambil keputusan, supaya kepada orang Kristen non-Yahudi jangan ditanggungkan lebih banyak beban (Kis 15:28). Namun, Yakobus masih mengusulkan agar mereka tetap harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, darah, daging binatang yang mati lemas, dan percabulan. Batasan-batasan berkaitan dengan makanan haram dan halal tersebut rupanya hanya ditaati pada awalnya, karena Gereja di kemudian hari tidak mengindahkannya lagi.  Larangan yang disampaikan oleh Yakobus tersebut agaknya hanya dikenakan secara setempat (bdk 1Kor 8), guna menjaga hubungan baik antara orang Kristen Yahudi dan non-Yahudi. Bagaimanapun juga keputusan yang dibuat dalam konsili di Yerusalem jelas merupakan dukungan kuat terhadap pandangan Paulus, bahwa orang Kristen non-Yahudi tidak usah mentaati hukum Taurat Musa.

b. Perjalanan misi yang kedua: Kis 15:36-18:23 (tahun 48-50)

Antiokhia - Siria - Kilikia - Derbe - Listra - Frigia - Misia - Troas - Samotrake - Neapolis - Filipi - Ampipolis - Apolonia - Tesalonika - Berea - Atena - Korintus (18 bulan) - Kengkrea - Efesus - Kaisarea - Yerusalem - Antiokhia

Setelah selesai menghadiri konsili di Yerusalem, Paulus kembali ke Antiokhia (15:30). Selanjutnya Paulus bersiap untuk menempuh perjalanan misi yang kedua (15:36). Karena perbedaan pendapat dengan Barnabas yang ingin membawa Yohanes Markus lagi bersama mereka (Kis 15:38-39), Paulus memilih untuk berpisah dari Barnabas. Dia membawa Silas pada perjalanan penginjilan kedua ini (Kis 15:36-18:22), sedangkan Barnabas menempuh perjalanan misi bersama Yohanes Markus ke daerah lain.
Mula-mula Paulus dan Silas mengunjungi Gereja-gereja yang telah didirikannya di wilayah Siria dan Kilikia (15:41). Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke  Derbe dan Listra (16:1).  Di Listra, Timotius bergabung dengan mereka. Rute selanjutnya melintasi Asia Kecil (Frigia dan Galatia), ke Troas (16:8). Dalam penglihatan di Troas, Paulus melihat seorang Makedonia memanggil-manggil dia. Paulus menafsirkan penglihatan itu sebagai panggilan untuk memberitakan Injil di wilayah Makedonia.  Dengan demikian mulailah penginjilannya di wilayah Yunani. Mereka singgah di Samotrake, Neapolis, kemudian tinggal di Filipi (Kis 15:36-16:11; 16:12-40).
Setelah dibebaskan dari penjara di Filipi, ia melanjutkan perjalanan melalui Amfipolis dan Apolonia ke Tesalonika (17:1). Di Tesalonika dia mendirikan komunitas baru (Kis 17:1-9), meskipun sempat mendapatkan perlawanan. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke Berea (17:10) dan di sana Paulus meninggalkan Silas dan Timotius (17:14). Paulus kemudian berlanjut ke Atena (17:18), tetapi kemudian memanggil kedua rekan yang telah ditinggalkannya di Berea tersebut untuk bergabung kembali. Di Athena, Paulus menghadapi penolakan dari orang-orang  setempat ketika di depan sidang di Areopagus dia mewartakan kebangkitan orang dari mati (Kis 17:15-33). Paulus kemudian melanjutkan perjalanan ke Korintus (18:1-18) dan tinggal di sana selama satu setengah tahun (18:11).  Silas dan Timotius dari Makedonia menyusul Paulus ke Korintus. Paulus berhasil membangun suatu jemaat Kristen di Korintus, suatu jemaat  yang di kemudian hari menjadi sumber sukacita sekaligus keprihatinan. Karyanya di Korintus membangkitkan perlawanan juga, akan tetapi Gallio, gubernur Akhaya, tidak terhasut untuk ikut-ikutan menentang Paulus. Paulus sempat tinggal selama 18 bulan di Korintus, sebelum akhirnya pulang kembali ke Antiokhia (18:18b-23a).
Paulus meninggalkan Korintus menuju Efesus diikuti oleh Priskila dan Akwila. Mereka singgah sebentar di Efesus, kota perdagangan di Asia, dan Paulus meninggalkan Priskila dan Akwila di sana sebagai perintis perkembangan jemaat. Paulus kembali ke Antiokhia melewati Yerusalem. Dengan demikian selesailah perjalanan misinya yang kedua. Untuk terakhir kalinya Paulus tinggal di Antiokhia, karena sesudahnya ia memindahkan basis karyanya untuk wilayah barat di Efesus. Perjalanan misi Paulus yang kedua ini dapat dinilai berhasil. Paling tidak dia telah berhasil mendirikan komunitas Kristen di Makedonia dan di Akhaya, dua wilayah yang meninggalkan kesan mendalam di hatinya.
      
c.  Perjalanan misi yang ketiga: Kis 18:23-21:17 (tahun 52-58)

Antiokhia - Frigia - Efesus (3 th) - Makedonia - Filipi - Troas - Asos - Metilene - Samos - Miletus- Knidus- Rhodos - Patara - Mitra - Tirus - Ptolomais - Kaisarea

Dikatakan dalam Kis 18:23 bahwa Paulus hanya beberapa hari di Antiokhia. Sesudah itu Paulus memulai perjalanan misinya yang ketiga. Perjalanan misi Paulus yang ketiga juga dimulai dari Antiokhia. Paulus mengunjungi Gereja di Galatia dan Frigia (Kis 18:23). Dari Antiokhia di Pisidia, Paulus menuju Efesus di mana dia tinggal selama lebih dari dua tahun (hampir tiga tahun).
Di Efesus ada seorang Yahudi asal Aleksandria bernama Apolos yang pandai berbicara dan mempunyai pengetahuan mendalam tentang Kitab Suci. Dikatakan bahwa ia hanya menerima baptisan dari Yohanes, sehingga ada kemungkinan bahwa dia mengenal Yohanes Pembaptis dan mungkin Yesus juga (Kis 18:24). Apolos banyak mengajar tentang Yesus di Efesus (sebelum kedatangan Paulus) dan berdebat dengan orang-orang Yahudi untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias. Akwila dan Priskila menjumpainya dan menjelaskan Injil kepadanya. Setelah itu Apolos berangkat ke Korintus (Akhaya). Paulus tiba di Efesus ketika Apolos telah berada di Korintus. Di Efesus, Paulus bertemu dengan sekitar dua belas murid yang telah menerima baptisan Yohanes dan tidak tahu apa-apa mengenai Yesus. Paulus kemudian mengajar mereka tentang Yesus kemudian membaptis mereka dalam nama Yesus.
Tiga bulan lamanya Paulus mengunjungi rumah-rumah ibadat di Efesus untuk mengajarkan Injil. Ada sejumlah orang yang menolak ajarannya. Kemudian Paulus mengajar di ruang kuliah Tiranus sampai dua tahun lamanya. Untuk membiayai hidupnya, Paulus bekerja sebagai tukang tenda, sambil meneruskan kegiatannya mewartakan Injil. Kis 19:11-22 mengisahkan bagaimana Paulus banyak melakukan mujizat penyembuhan dan pengusiran setan. Sejumlah tukang jampi yang berkeliling di Efesus mencoba memakai nama Yesus untuk mengusir orang yang kerasukan roh jahat. Para tukang jampi itu adalah anak seorang imam Yahudi bernama Skewa. Upaya mereka untuk mengusir roh jahat dalam nama Yesus ternyata gagal, bahkan roh jahat berbalik menyerang mereka. Banyak tukang sihir yang berubah menjadi percaya kepada Yesus setelah melihat kejadian itu.
Paulus berniat pergi ke Yerusalem melalui Makedonia dan Akhaya, kemudian dari Yerusalem ia berniat mengadakan perjalanan untuk mewartakan Injil ke Roma. Timotius dan Erastus disuruhnya untuk mendahului dia ke Makedonia. Tukang-tukang perak di Efesus yang membuat kuil-kuil untuk dewi Artemis merasa dirugikan dengan kehadiran Paulus. datangannya. Di bawah pimpinan Demetrius mereka menyandera Gayus dan Aristarkhus (teman seperjalanan Paulus dari Makedonia) di gedung kesenian. Terjadilah kekacauan di gedung kesenian, akan tetapi Paulus dicegah oleh sahabat-sahabatnya untuk datang ke sana. Kekacauan itu berhasil diredakan oleh panitera kota, kemudian Paulus pergi meninggalkan Efesus untuk mengunjungi Makedonia. Dari Makedonia, Paulus pergi ke Ilirikum kemudian ke Korintus. Dari Korintus dia bermaksud naik kapal menuju Siria tetapi mendapat ancaman dari orang-orang Yahudi. Oleh karena itu Paulus memilih jalan darat ke Filipi dan di sana ia merayakan hari raya Roti tak Beragi. Paulus mengunjungi Troas, sempat membangkitkan Eutikhus dari mati, lalu berlayar ke Asos dan sampai ke Miletus (melalui Metilene, Khios dan Samos).
Di Miletus, Paulus memanggil para penatua jemaat Efesus untuk datang ke Miletus. Paulus mengucapkan pidato perpisahan yang mengharukan. Setelah perpisahan itu, Paulus berlayar ke Kos, Patara, dan akhirnya sampai di Tirus. Paulus memanfaatkan kesempatan tujuh hari di Tirus untuk bertemu dengan jemaat di sana. Tahu bahwa Paulus akan pergi ke Yerusalem, murid-muridnya di Tirus mencoba mencegahnya. Namun, Paulus berkeras hati untuk pergi ke Yerusalem. Paulus kemudian berlayar sampai ke Ptolemais dan melanjutkan perjalanan darat menuju Kaisarea, dan dari Kaisarea ke Yerusalem.

5.  Dari Yerusalem ke Roma : Kis 21:15-28:31 (tahun 60)

Antipatris - Kaisarea - Sidon - Mira - Kreta - Malta - Sirakusa - Regium - Putioli - Roma

Sesampainya di Yerusalem Paulus harus menghadapi lagi permasalahan yang selalu berulang yaitu soal pewartaan yang di lakukan di bangsa-bangsa non Yahudi dan kecenderungannya untuk melepaskan Taurat demi iman akan Yesus Kristus. Kali ini Paulus harus berhadapan dengan Yakobus dan para penatua jemaat di Yerusalem yang “pro Taurat”. Pada kesempatan tersebut Paulus menceritakan segala hal yang dilakukan Allah melalui pelayanannya di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi. Dia juga menyerahkan sumbangan yang dikumpulkannya dari jemaat Makedonia dan Akhaya. Dengan sumbangan itu Paulus mau menunjukkan solidaritas dan kesatuan Gereja di diaspora dengan Gereja induk di Yerusalem.
Di dalam pertemuan dengan Yakobus dan para penatua muncullah suatu persoalan. Paulus dianggap telah menganjurkan jemaat-jemaat Yahudi-Kristen di diaspora untuk melepaskan hukum Musa. Anggapan itu sudah tersebar di kalangan jemaat Kristen-Yahudi dan sempat menimbulkan sandungan. Untuk menyingkirkan tuduhan tersebut, mereka meminta Paulus untuk membuktikan bahwa tuduhan itu tidak benar. Bagaimana caranya? Mereka meminta Paulus melakukan upacara pentahiran  menurut hukum Taurat di Bait Allah, dengan alasan bahwa dia baru saja kembali dari wilayah bangsa-bangsa lain dalam keadaan najis. Selain itu Paulus harus menanggung biaya pentahiran untuk empat orang miskin yang sudah bernazar tetapi tidak mampu membiayai nazarnya. Paulus tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyetujui permintaan mereka. Akan terbukti kemudian bahwa kesediaan Paulus untuk menyetujui usulan mereka berbuntut panjang.
Ketika Paulus melakukan pentahiran dan pelepasan nazar di Bait Allah (Kis 21:23; bdk. 1Kor 16:3; 2Kor 9; Rm 15:25), orang-orang Yahudi dari Asia Kecil menghasut rakyat melawan Paulus. Mereka menangkap dan memukuli Paulus. Kegemparan yang terjadi pada waktu itu membuat Lisias (kepala pasukan Roma yang bermarkas di benteng Antonia) turun tangan. Paulus diamankannya dan dibawanya ke markas. Ketika akan didera, Paulus mengatakan bahwa dia adalah warga negara Roma. Pengakuan Paulus itu menyelamatkan dia dari deraan, namun tidak membuatnya bebas dari penjara. Lisias mengumpulkan Mahkamah Agama untuk menjelaskan tuduhan mereka terhadap Paulus. Rupanya Paulus berhasil meciptakan perselisihan di antara kelompok Saduki dan Farisi dengan kepercayaannya akan kebangkitan orang mati. Melihat bahwa perselisihan tersebut dapat membahayakan keselamatan Paulus, sekali lagi Lisias menyelamatkan dia dan membawanya kembali ke markas. Namun, orang-orang Yahudi tetap berniat bahkan sampai bersumpah untuk membunuh Paulus. Tekad itu diketahui oleh kemenakan Paulus yang kemudian melaporkannya kepada Lisias. Untuk menyelamatkan dia, Lisias mengirim Paulus ke Kaisarea dengan pengawalan ketat. Perjalanan ke Kaisarea dilakukan dengan diam-diam pada malam hari, agar tidak diketahui oleh orang-orang Yahudi yang telah sepakat bulat untuk membunuh Paulus.
Di Kaisarea Paulus diperiksa oleh Feliks yang pada waktu itu menjabat wali negeri di Yudea. Feliks tidak mendapatkan kesalahan apapun dari Paulus menurut hukum Roma. Kedatangan orang-orang Yahudi ke Kaisarea untuk menuntut hukuman bagi Paulus tidak dapat meyakinkan Feliks. Alasan yang mereka ajukan sifatnya hanya intern di kalangan penganut agama Yahudi. Dari kaca mata hukum Roma, tidak ada alasan untuk menghukum Paulus. Tidak lama setelah itu Feliks harus meninggalkan Palestina karena pindah tugas. Perkara Paulus diserahkan kepada wali negeri Festus yang menggantikannya. Sekali lagi di dalam pengadilan yang dipimpin oleh Festus, Paulus mendapat tuduhan bermacam-macam dari orang-orang Yahudi yang didatangkan dari Yerusalem ke Kaisarea. Di dalam sidang pengadilan itu, Paulus sebagai warga negara Roma memakai haknya untuk naik banding kepada kaisar. Itu berarti Festus harus mengirim Paulus ke Roma sebagai tawanan yang mau naik banding kepada pengadilan kaisar. Sebelum diberangkatkan ke Roma, Paulus masih sempat dihadapkan pada Herodes Agripa II dan Bernike yang  pada saat itu sedang mengunjungi Festus di Kaisarea. Paulus sempat dua tahun ditahan di penjara Kaisarea (58-60 M).
Akhirnya Paulus dengan pengawalan ketat menempuh perjalanan ke Roma sebagai tawanan yang diperlakukan dengan baik (sekitar tahun 60 M). Perjalanan kapal dari Kaisarea harus melewati Mira, pulau Kreta dan pulau Malta (sebelah Selatan Italia). Di tengah perjalanan terjadi angin sakal dan angin badai. Setelah melewati perjalanan yang sulit, mereka terdampar di Malta (Kis 28:1-10). Penduduk Malta sangat ramah menyambut mereka. Kira-kira tiga bulan Paulus berada di Malta, berada bersama-sama dengan anggota jemaat Kristen. Akhirnya dia dan rombongan pasukan yang membawanya berangkat lagi menuju Roma. Setelah melewati Sirakusa (pulau Sisilia), Regium, Putioli, Tres Taberne, sampailah Paulus dan rombongannya di Roma (Kis 28:11-15). Kita boleh menduga bahwa Paulus memanfaatkan kepergiannya ke Roma ini sebagai kesempatan untuk mewartakan Injil, seperti yang telah lama dia idam-idamkan.
Dua tahun lamanya Paulus menjadi tahanan rumah di Roma. Dengan kebebasan terbatas, Paulus masih dapat melayani jemaat di Roma. Kisah Para Rasul selesai dengan kisah penahanan Paulus di Roma. Tidak ada penjelasan mengenai tahun-tahun terakhir hidupnya. Sesudah dua tahun menjadi tahanan rumah, ada kemungkinan Paulus dilepaskan. Apakah dia sempat pergi ke Spanyol? (bdk Rm 15:24; surat pertama Klemens dari Roma dan kanon Muratori). Tidak ada kepastian. Sejauh dapat diduga dari surat pastoralnya kepada Titus dan Timotius, Paulus mempunyai kesempatan untuk melakukan karya misi lagi setelah pemenjaraan di Roma (1Tim 1:3; 1Tim 4:13.20; Tit 1:5; 3:12). Ada kemungkinan setelah itu Paulus masih ditahan lagi (2Tim 4:16-18). Menurut tradisi, Paulus dihukum mati dengan penggal kepala pada masa pemerintahan kaisar Nero, kira-kira tahun 62 M. Pada tahun-tahun terakhirnya di Roma Paulus dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya yang setia: Lukas, Timotius, Yohanes Markus, Demas. Ketika dia ditangkap lagi, menjelang ajalnya, rupanya hanya Lukas sendiri yang ada bersamanya. Dalam 2Tim 4:6-11, Paulus menuliskan kerinduannya pada waktu itu kepada Timotius dan Yohanes Markus.
Cukup menarik jika kita simak bagaimana Paulus sudah membayangkan saat-saat akhir hidupnya yang dimulai dengan penangkapan terhadap dirinya di Yerusalem. Itu dikatakannya di Miletus pada saat perpisahannya dengan para penatua jemaat Efesus (Kis 20:18-25):

18 “Kamu tahu, bagaimana aku hidup di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: 19 dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku. 20 Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; 21 aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus.  22 Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ 23 selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. 24 Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah. 25 Dan sekarang aku tahu, bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah.
         
Sebenarnya, berapa kalikah Paulus mengunjungi Yerusalem? Ternyata informasi yang ada pada Kisah Para Rasul masih harus disesuaikan dengan informasi dari surat-suratnya. Lukas, sebagai penulis Kisah Para Rasul, memandang Yerusalem sebagai kota yang berperan penting bagi perkembangan Gereja. Kisah Para Rasul menyebutkan lima kali kunjungan Paulus ke Yerusalem, sedangkan surat-surat Paulus hanya menyebut tiga kali kunjungan. Pada ahli mencoba membuat kesesuaian antara kedua sumber tersebut. Di duga bahwa Paulus memang melakukan lima kali kunjungan ke Yerusalem. Hanya kunjungan ketiga dan keempat dirasa tidak perlu disebutkan di dalam surat-suratnya.
Lima kali kunjungan Paulus ke Yerusalem adalah:
(1)     Kunjungan setelah pertobatan (Kis 9:26-30)
(2)     Kunjungan pada saat terjadi kelaparan di Yerusalem (Kis 11:27-30)
(3)     Hadir pada saat konsili di Yerusalem (Kis 15:1-30)
(4)     Kunjungan singkat (Kis 18:22)
(5)     Kunjungan terakhir, dengan membawa kolekte untuk jemaat Yerusalem (Kis 21:15-17)

Menurut surat-suratnya, Paulus hanya menyebut adanya tiga kali kunjungan ke Yerusalem:
-    Kunjungan yang dilakukan tiga tahun setelah pertobatannya (Gal 1:18-20)
-    Kunjungan pada saat konsili Yerusalem, empat belas tahun setelah pertobatan (Gal 2:1-10)
-    Kunjungan dengan membawa kolekte (Rm 15:25-33; 1Kor 16:1-4; 2Kor 1:16)

6.  Kronologi Paulus

     Ternyata tidak mudah menentukan kronologi hidup Paulus sejak pertobatannya sampai dengan saat dipenjara di Roma. Hampir tidak ada kesepakatan bulat di antara para ahli. Kesulitan tersebut disebabkan oleh informasi dari Kisah para Rasul yang tidak menyebut tahun absolutnya. Oleh karena itu, kita perlu membuat kronologi relatif berdasarkan urutan peristiwa dan kegiatan yang dilakukannya, sejak pertobatan sampai pada perjalanannya ke Roma. Untuk menentukan tahunnya, kita dibantu oleh kronologi absolut yang merupakan kronologi eksternal (extra biblis).

Kronologi relatif (kronologi internal) yang dapat kita kumpulkan dari Kisah Para Rasul adalah:
     Satu tahun di Antiokhia (Kis 11:26)
     Beberapa waktu lamanya di Ikonium (Kis 14:3)
     Tidak sebentar tinggal di Antiokhia (Kis 14:28)
     Delapan belas bulan di Korintus (Kis 18:11)
3 bulan +2 tahun+beberapa lama di Efesus (Kis 19:8.10.22)
Tiga bulan di Yunani (Kis 20:3)
Dua tahun di Kaisarea (Kis 24:27)
Dua tahun di Roma (Kis 28:30)

Kronologi absolut (kronologi eksternal) yang dianggap membantu:
Kelaparan pada zaman Klaudius (Kis 11:27-30), terjadi antara tahun 41-54.
Kematian Herodes Agripa (Kis 12:20-23), terjadi pada tahun 44 (menurut informasi Josephus)
Klaudius dan orang-orang Yahudi (pengusiran orang Yahudi; bdk. Kis 18:2), diperkirakan tahun 49
Inskripsi Galio (prokonsul di Akhaya; bdk. Kis 18:12), sekitar tahun 51/52.
Ananias sebagai Imam Agung (Kis 23:2), dipilih tahun 47 dan pada tahun 52 berperkara di Roma.
Felix dan Festus (Kis 25:1.6.13.23). Felix berada di Kaisarea sebagai prokonsul antara 58-60, digantikan oleh Festus.

Jika kita mencoba menggabungkan informasi dari kronologi relatif dan absolut (internal dan eksternal), dapat dibuat kronologi sebagai berikut:

34          Pertobatan Paulus, kepergiannya ke Arabia dan Damaskus (3 tahun)
37          Kunjungan ke Yerusalem: ke Siria dan Kilikia. Dengan memperhitungkan karya misinya ke Galatia dan perjalanan misi pertama, ada rentang waktu 13 tahun.
48          Kunjungan kedua ke Yerusalem, konsili di Yerusalem, krisis Antiokhia.
48-50          Perjalanan misi yang kedua, kunjungan pertama ke Makedonia.
50-51          Berada di Korintus sekitar 18 bulan, bertemu dengan Gallio, berkarya di Efesus selama 2 tahun.
56-57          Kunjungan terakhir ke Makedonia, pergi ke Yerusalem dengan membawa kolekte.
57-59          Kunjungan terakhir ke Yerusalem, ditangkap dan dipenjara selama 2 tahun di Kaisarea.
59-60          Pengadilan di hadapan Festus, perjalanan naik banding ke Roma.
60-62          Dua tahun dipenjara di Roma


7. Paulus dan dunia Yahudi

     Paulus dengan terus terang menjelaskan asal-usulnya sebagai keturunan Yahudi:

15 Menurut kelahiran kami adalah orang Yahudi dan bukan orang berdosa dari bangsa-bangsa lain... (Gal 2:15). Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat (Fil 3:4-5; bdk. Gal 1:13-14; Rm 11:1; 2Kor 11:22).

     Paulus adalah seorang Yahudi diaspora, masuk golongan Farisi. Sebelum dan sesudah pertobatannya, sebenarnya Paulus tetap menyimpan di dalam hatinya kekayaan iman Yahudi. Dia tetaplah kuat berakar di tengah lingkungan Yahudi dan budaya Yahudi. Kendati demikian perlu disadari bahwa Yudaisme pada abad pertama masehi sudah mengalami pluralisme. Banyak kelompok dan sekte berada bersama-sama, semuanya hanya disatukan oleh Taurat dan Allah perjanjian. Umat Yahudi di diaspora bagian Timur memakai bahasa Aram sebagai bahasa sehari-hari, sedangkan umat Yahudi di diaspora bagian Barat memakai bahasa Yunani Koiné (seperti bahasa Yunani PB). Palestina sendiri berada di tengah dua arus diaspora tersebut. Meskipun bahasa Aram dan Ibrani dipakai, namun budaya dan bahasa Yunani sudah membawa pengaruh yang nyata. Paulus sendiri bisa berbicara Ibrani (mungkin bahasa Aram) seperti dikatakan dalam Kis 21:40.
     Sebagai orang Farisi, tentu saja Paulus mengalami cara hidup Yahudi yang ketat dalam bidang agama. Setelah pertobatan, Paulus terkesan anti legalis seperti dapat dilihat dalam kontoversinya melawan kaum Yudais (Yahudi-Kristen). Meskipun begitu, dia sendiri disunat dan menyuruh Timotius yang keturunan Yahudi untuk disunat (Kis 16:3). Terhadap jemaat Kristen non Yahudi, Paulus samasekali tidak menganjurkan kewajiban sunat. Di dalam dirinya sendiri, Paulus belum terlalu jauh dari tradisi Yahudi. Bedanya, setelah mengenal Kristus ia memahami tradisi agamanya secara baru. Jika dia menyebut tentang Kitab Suci, yang dimaksudkannya adalah Perjanjian Lama (dalam bahasa Yunani atau Septuaginta). Baginya kedatangan Kristus adalah untuk memenuhi janji dan ia memakai sejarah keselamatan Israel sebagai dasar dari pewartaan Injilnya. Jemaat Kristiani (Gereja) adalah kelanjutan dari sejarah penyelamatan sampai pada kepenuhan datangnya Kerajaan Allah.
     Pengaruh Yahudinya kelihatan pada kutipan-kutipan yang diambilnya dari Perjanjian lama, bagaimana ia menggunakan kutipan itu dan caranya menafsirkan. Setelah pertobatannya, Paulus mempelajari Perjanjian Lama dalam terang imannya akan Kristus. Musa menjadi figur dari Kristus. Tiang awan dan penyeberangan Laut Merah adalah simbol dari baptisan. Roti mana dan air yang memancar dari batu karang adalah simbol dari Ekaristi (1Kor 10:1-4). Nubuat Yeremia (Yer 31:31-34) dan Yehezkiel (Yeh 36:26) mengenai perjanjian yang baru mengacu pada pembaharuan perjanjian yang diperbarui di dalam Yesus Kristus. Kutipan-kutipan Kitab Suci dipakai oleh Paulus sebagai dasar untuk menjelaskan kebaruan yang dibawa oleh Yesus. Cara penafsiran Paulus dekat dengan cara penafsiran rabinis, seperti kelihatan pada Targum, Talmud dan Midrash. Ekesegese Paulus pada prinsipnya adalah eksegese Kristologis, artinya mengarahkan segala penafsirannya pada misteri Kristus. Sebagai sarananya, Paulus memakai pendekatan tipologi dan alegori.
     Debat Paulus melawan musuh-musuhnya bagaikan makanan sehari-hari. Lawan Paulus yang utama adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Yahudi-Kristen. Orang-orang Yahudi yang beragama Yahudi jelas menolak Mesianisme Kristus, sehingga iman orang Kristen sudah dari pangkalnya dianggap melanggar kepercayaan Yahudi. Kelompok Yahudi-Kristen mengritik kebijakan Gereja untuk meninggalkan Taurat dan tradisi nenek-moyang. Pada waktu itu, kelompok Yahudi-Kristen hidup bersama dengan kelompok Kristen non-Yahudi. Oleh karena itu perbedaan sikap terhadap Taurat dan tradisi di antara mereka menjadi persoalan yang rawan. Gereja Kristen abad pertama ternyata masih rapuh dalam hal kesatuan. Meskipun begitu, dengan hancurnya Yerusalem dan semakin banyaknya anggota Gereja dari kelompok bangsa-bangsa non Yahudi persoalan semakin mereda. Gereja semakin mandiri dan mampu melepaskan diri dari bayang-bayang Taurat serta tradisi nenek-moyang. Paulus menjadikan penghayatan iman yang murni dan konsekuen akan Kristus sebagai perjuangan utamanya. Tidak heran bahwa Paulus pada zamannya harus mengalami banyak penderitaan, terutama diakibatkan kontroversinya terus-menerus melawan orang-orang Yahudi yang beragama Yahudi. Jika Paulus menyinggung penderitaannya karena disesah dan dipukuli (2Kor 11:24) serta dilempari batu (2Kor 11:25-26), itu adalah ulah kaum Yahudi yang begitu benci padanya.
     Apakah Paulus juga mendapat pengaruh dari tulisan-tulisan Qumran? Sejak penemuan naskah-naskah Qumran (naskah Laut Mati) mulai ada penelitian sejauh mana Paulus dipengaruhi oleh gerakan rohani yang dirintis oleh jemaat di Qumran. Surat 2Kor 6:14-7:1 (paham tentang anak terang dan anak gelap) menunjukkan gejala ini. Pendapat ini diikuti antara lain oleh E. Schweizer, H. Braun, J.A. Fitzmyer, J. Gnilka, D. Georgi, B. Gärtner. Demikian pula surat Kol 2:16-17 kemungkinannya dipengaruhi oleh tradisi Qumran. Apakah pandangan tentang daging/roh, pembenaran/rahmat juga dipengaruhi oleh Qumran? Kaitan pandangan Paulus dengan tradisi Qumran masih terbuka pada penelitian lebih jauh.
     Sejumlah pandangan Paulus memang menunjukkan diskontinuitas terhadap pandangan Yahudi, misalnya tentang: paham pembenaran, universalisme keselamatan, kedudukan bangsa Yahudi sebagai bangsa terpilih, karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus, penebusan, peranan Taurat, kemerdekaan Kristen dan masih banyak hal lain lagi. Diskontinuitas yang terjadi antara tradisi agama Yahudi dan Injil Paulus memang menyangkut dasar-dasar pokok dari kehidupan beriman. Paulus memang semakin menjauh dari paham Yahudi tradisional tetapi dasar-dasar pemikirannya serta refleksinya tetap berangkat dari tradisi Yahudi.

8.  Paulus dan dunia Yunani

     Suatu tantangan yang tidak mudah bagi Paulus untuk mewartakan Injil kepada masyarakat yang berbudaya helenis. Helenisme dengan paham filsafat dan religinya harus ditaklukkan oleh Paulus yang mewartakan salib, sebagai kekuatan Allah yang dianggap kebodohan di mata manusia, apalagi di mata orang Yunani yang suka mengandalkan hikmat (1Kor 1:18-25). Adalah luar biasa bahwa Paulus ternyata berhasil menarik perhatian umat helenis dengan teologi salibnya. Konsepnya mengenai Allah begitu tampak luas dan mendalam dari segi rohani. Allah yang menyelenggarakan hidup umat-Nya adalah Allah dari Tuhan kita Yesus Kristus (Ef 1:3) dan Roh yang datang dari Allah melalui Putera-Nya tinggal di dalam umat Kristiani (1Kor 6:19; 12:13).    Pengaruh helenisme pada pewartaan Paulus menjadi perbincangan cukup lama di kalangan para ahli, kendati surat-suratnya tidak memberikan bukti yang amat jelas. F.C. Baur, diikuti oleh C.F. Heinrici dan sejumlah ahli lainnya mengamati pengaruh helenisme itu pada etika Paulus. Sebagai contoh, Paulus membuat antitesis antara daging dan roh yang dekat dengan ide Platonis. Paulus menggunakan Septuaginta untuk membuat kutipan Perjanjian Lama (menurut pengamatan H. Vollmer dan C. Grafe). Sebagai seorang Yahudi helenis yang berasal dari diaspora, pengaruh helenisme dalam gaya dan pola pikirnya bukanlah hal yang mustahil. P. Wendland dan R. Bultmann meneliti surat-surat Paulus dari segi retotikanya. Rupanya Paulus senang dengan gaya satire dan cara pikir aliran Stoa. Kebanyakan ahli tafsir semakin yakin dengan pengaruh helenisme pada pewartaan Paulus, antara lain pada:
-    Kutipan dari sebuah puisi Yunani (1 Kor 15:33: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik).
-    Penggunaan sejumlah metafora:
*   24 Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! 25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. (1Kor 9:24-27)
*   12 Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus...... (1Kor 12:12 dst)
-    Penggunaan antitesis dan diatribe (retorika dengan kata-kata tajam): Rom 21:1-120; 3:1-10; 9:19-20.
     -    Kata-kata tehnis khas helenis (Stoa): kesadaran (bdk. 1Kor 10:25-29); kemerdekaan (Gal 4:22); kebajikan (Fil 4:8); akal-budi (1Kor 14:14-15).
     Sejumlah contoh kecil di atas menunjukan bagaimana Paulus mampu mewartakan pesan kristiani dengan bahasa universal yang dapat ditangkap oleh dunia non-Yahudi.
     Paulus juga harus menghadapi juga dunia religi Yunani yang percaya pada dewa-dewi. Para dewa-dewi tersebut memang berperan penting dalam agama-agama misteri. Paulus dengan tegas menyebut mereka sebagai musuh-musuh Kristus (1Kor 15:22-25; 8:5-6; 10:20-22). Beberapa kekhasan dari agama-agama misteri adalah: keselamatan diperoleh dengan persembahan atau sesaji, memerlukan ritus inisiasi, gelar kyrios diberikan kepada dewa penyelamat. Berhadapan dengan agama-agama misteri tersebut, Paulus mewartakan bahwa Kristianisme adalah satu-satunya agama yang membawa kebenaran, gelar kyrios / Tuhan diberikan kepada Yesus (dengan latar belakang PL), Kristianisme menolak adanya dewa-dewa lain. Paulus menggunakan ide-ide helenis di dalam mewartakan Injil dengan tetap memakai dasar iman yang merupakan kelanjutan dari Yudaisme. Di dalam Paulus kita temukan pertemuan dua budaya, dan Paulus berhasil memanfaatkan kedua-duanya untuk kepentingan Injilnya.


II. PENGANTAR UMUM SURAT-SURAT PAULUS


1. Antara surat dan epistel

     Deissmann pada tahun 1923 membuat pembedaan antara surat dan epistel. Surat-surat Paulus pada umumnya adalah sebuah epistel. Apakah bedanya?
     -    Surat: Adalah sebuah karya berbentuk  tulisan yang sifatnya lebih pribadi dan konfidensial, di mana seseorang mengirimkannya kepada orang lain untuk menyampaikan kabar atau memberi ifnormasi. Dapat juga surat ditujukan untuk lebih dari seorang. tetapi tujuan utamanya tetaplah mengkomunikasikan hal-hal yang bersifat pribadi, di dalam lingkup yang tertentu. Gaya surat biasanya lebih spontan, akrab, serupa dialog (monolog), bukan suatu karya sastra dalam arti khusus. Tujuan surat dapat bermacam-macam: membawa berita, mengisahkan sesuatu, mengungkapkan pengalaman, menasihati. Surat mempunyai ciri natural, situasional, berkaitan dengan persoalan sehari-hari.
-    Epistel: Berasal dari bahasa Yunani epistolē, yang aslinya menunjuk pada komunikasi lisan dari seorang utusan. Adalah suatu surat yang membawa berita (nasihat, peringatan, pengajaran), yang tidak ditujukan kepada orang atau kelompok khusus, tetapi sebisa mungkin menjangkau banyak orang. Epistel berisi pokok bahasan tertentu, ditulis dengan cara lebih tehnis dan sistematis, memakai seni bicara tertentu.
     Paulus banyak memakai bentuk epistel, sesuai denga kebutuhannya. Biasanya epistel Paulus berupa tanggapan terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi jemaat dalam kerangka kehidupan iman: persoalan sehari-hari, persoalan ajaran, pewartaan kabar keselamatan, nasehat yang bersiat etis dan spiritual. Surat dan epistel dari Paulus menunjukkan perhatiannya kepada jemaat demi perkembangan iman. Tidak mudah membedakan mana yang surat, mana yang epistel di dalam karya-karya Paulus. Kita hanya dapat membuat gambaran yang sifatnya masih umum sekali:
-    Surat kepada Filemon merupakan surat dalam arti sebenarnya, ditujukan pada orang tertentu dan sifatnya lebih pribadi.
-    1-2Timotius dan Titus juga berupa surat yang dialamatkan kepada kelompok tertentu, yaitu para gembala Gereja. Meskipun dikirim kepada Timotius, namun dimaksudkan sebagai pegangan para gembala Gereja pada umumnya.
-    1-2Tes berupa instruksi dan seruan/himbauan kepada jemaat, mengenai persoalan di dalam jemaat.
-    1-2Kor sifatnya lebih resmi daripada jenis surat di atas, berupa ajaran Paulus menanggapi persoalan jemaat.
-    Fil dan Tes merupakan bentuk epistel yang berisi hal-hal yang bersifat teologis.
-    Galatia penuh spontanitas dan polemiknya menjangkau masyarakat yang lebih luas.
-    Efesus mempunyai karakter sebuah surat, merskipun temanya bersifat teologis.
-    Roma lebih dekat dengan gaya epistel, tidak menunjuk kelompok khusus dan tidak berangkat dari situasi tertentu. Isinya lebih bersifat spekulatif, berupa pengajaran doktrinal tentang keselamatan Allah.
-    Kolose adalah sebuah karya liturgis dan teologis.
-    Ibrani adalah sebuah epistel, namun ada kesan serupa homili atau kotbah.

2.  Masalah keaslian Surat-surat Paulus

     Koleksi surat-surat Paulus yang sering disebut Corpus Paulinum rupanya sudah terjadi pada abad (kemungkinan sebelum tahun 95 M). Surat 2Ptr 3:15-16 sudah menyinggung adanya surat-surat Paulus. Dapat diandaikan bahwa pengarang surat Petrus dan jemaat-jemaat yang dituju telah mempunyai kumpulan surat Paulus :

15 Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. 16 Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.

     Klemens dari Roma (95 M) mengutip beberapa bagian dari surat Paulus, demikian juga Polikarpus (100/150 M). Diandaikan bahwa mereka mempunyainya atau paling tidak telah membaca surat-surat Paulus. Meskipun jemaat-jemaat yang dituju oleh surat Paulus pasti menyimpannya, tetapi tidak jelas di mana persisnya surat-surat Paulus dikumpulkan. Ada yang menduga pengumpulan surat-surat tersebut dilakukan di Efesus, ada yang memperkirakannya di Korintus. Pada awalnya, Corpus Paulinum tidak diurutkan seperti urutan dalam PB sekarang (144 M). Urutannya: Gal, 1-2Kor, Rm, 1-2Tes, Ef, Kol, Flp, Flm. Sekitar tahun 180 M, kanon Muratori membuat urutan surat-surat Paulus menurut perkiraan tahun penulisannya. Surat Ibrani tidak termasuk di dalamnya. Barulah kodeks Vaticanus dan Sinaiticus memuat surat Ibrani ke dalam kumpulan surat Paulus. Urutan yang biasa diikuti adalah:
     *   Surat-surat pertama: 1 dan 2 Tesalonika
*   Surat-surat besar: Roma, 1 dan 2 Korintus, Galatia.
*   Surat-surat dari penjara: Efesus, Filipi, Kolose, Filemon.
*   Surat-surat pastoral: 1 dan 2 Timotius, Titus
*   Surat Ibrani
     Pada abad  kedua dan ketiga sebenarnya sudah muncul pertanyaan apakah seluruh Corpus Paulinum adalah asli tulisan Paulus. Yang paling awal diragukan adalah surat Ibrani. Para Bapa Gereja Timur pada umumnya menganggapnya sebagai tulisan Paulus, sedangkan para Bapa Gereja Barat meragukannya. Pada zaman kini para ahli sepakat bahwa surat Ibrani tidak ditulis oleh Paulus. Siapakah pengarangnya? Beberapa nama diusulkan, antara lain Lukas, Barnabas, Klemens dari Roma, atau Apolos, namun tidak pernah ada kesepakatan.  Tiga belas surat lainnya sampai abad ke 19 selalu dikatakan sebagai surat-surat Paulus. Akhirnya F.C. Baur dari Tübingen membuka wacana yang intinya meragukan keaslian dari beberapa surat Paulus. Baginya, yang asli hanyalah Galatia, Roma, 1 dan 2 Korintus. Sejak itu semakin banyak para ahli yang mendiskusikannya. Pendapat pada ahli di zaman sekarang pada umumnya demikian:
     -    Tulisan asli Paulus adalah surat: Roma, 1 dan 2 Kor, Galatia, Filipi, 1Tesalonika, Filemon.
Selebihnya, sering disebut surat-surat Deutero Paulinis:
-    2 Tesalonika dan Kolose : masih didiskusikan siapakah pengarangnya.               
-    Efesus : juga masih amat didiskusikan siapakah pengarangnya.                                          
     -    1Timotius, 2 Timotius dan Titus : biasanya diyakini sebagai tulisan dari murid Paulus. 
     Surat 2Tes diragukan sebagai tulisan Paulus karena beberapa alasan: ada ketergantungan leterer pada 1Tes, perbedaan teologi dan pandangan tentang datangnya parousia, beberapa masalah kecil lainnya. Surat kepada jemaat di Kolose diragukan karena ada perbedaan gaya bahasa, style dan Kristologi jika dibandingkan dengan surat-surat otentik dari Paulus. Gaya bahasa Kolose terlalu resmi dan terkesan menahan diri. Surat kepada jemaat di Efesus diragukan sebagai tulisan Paulus karena: kedekatan hubungannya dengan Kolose, ada perbedaan cukup jelas dengan surat-surat otentik Paulus dari segi gaya bahasa dan teologinya mengenai Gereja sebagai Tubuh Kristus, dan Kristus sebagai kepala-Nya). Efesus tidak memberi kesan samasekali bahwa Paulus pernah tinggal di sana. Padahal, kesaksian Kisah Para Rasul mengatakan bahwa Paulus pernah berada di Efesus lebih dari dua tahun. Diskusi mengenai otentisitas surat Efesus ini cukup hangat. Surat-surat pastoral juga diragukan sebagai tulisan Paulus dengan alasan bahwa isinya lebih cocok dengan situasi setelah periode para rasul, misalnya: struktur komunitas Gerejani (adanya penilik, penatua, diakon), macam-macam bidaah yang disinggung (tidak sesuai dengan masalah yang dihadapi jemaat Paulus pada umumnya), dan ungkapan-ungkapan bahasa serta teologi yang dipakai cukup berbeda dengan surat-suratnya yang otentik.
     Meskipun ada surat-surat yang disebut deutero-paulinis, tidak perlu kita membuang mereka dari Corpus Paulinum karena para penulisnya masih berada pada arus tradisi Paulus. Jika mereka menuliskan nama Paulus sebagai penulisnya pasti bukan untuk maksud jahat (pemalsuan), tetapi lebih dimaksudkan untuk menegaskan sejumlah pokok pemikiran yang sudah diajarkan oleh Paulus.


Kapan surat-surat asli dari Paulus ditulis?

-    Surat 1Tesalonika ditulis sekitar tahun 50/51 : Para ahli setuju bahwa 1Tes adalah surat Paulus yang tertua. Rupanya surat ini ditulis tidak lama setelah jemaat Tesalonika didirikan oleh Paulus (sekitar tahun 49), yang menurut Kis 17:1-9 terjadi pada periode perjalanan misinya yang kedua. Pada waktu itu Paulus datang ke Tesalonika dari Filipi (1Tes 2:2). Surat pertama Tesalonika dibawa oleh Silvanus dan Timotius (1Tes 1:1; bdk. Kis 18:5), kemungkinannya dikirim dari Korintus.
-    Surat Galatia ditulis sekitar tahun 52–54/55: Perkiraan tahun penulisannya tidak sepenuhnya pasti, karena Kisah Para Rasul tidak menyinggung soal pendirian Gereja-gereja di Galatia oleh Paulus. Ada kemungkinan Paulus mendirikan Gereja-gereja di Galatia dalam perjalanan misinya yang kedua (Kis 16:6-8),  kemudian ia masih mengunjunginya lagi dalam perjalanan misinya yang ketiga (Kis 18:23). Namun begitu tidak ada kepastian apakah kunjungannya kembali ke Galatia terjadi sebelum atau sesudah krisis Galatia (yang tidak dicatat dalam Kis). Yang jelas, surat Galatia ditulis sebagai tanggapan atas berkembangnya arus anti-Paulus di dalam Gereja-gereja Galatia. Barangkali surat Galatia ditulis pada waktu Paulus tinggal di Efesus (Kis 20:31).
-    Surat 1Korintus ditulis sekitar tahun 54/55: Ada kemungkinan penulisannya hampir bersamaan dengan surat Galatia, karena 1Kor 16:1 mengacu pada jemaat Galatia. Surat-surat Paulus kepada jemaat di Korintus ada lebih dari dua, paling tidak ada empat surat. Jika jemaat Korintus didirikan pada perjalanan misinya yang kedua (Kis 18:1-8), sekitar tahun 50/51, ada kemungkinannya penulisannya terjadi antara periode keberangkatan Paulus dari Korintus dan kunjungannya yang terakhir ke kota itu. Ada kemungkinan surat 1Kor ditulis di Efesus (1Kor 16:8) menjelang akhir tinggalnya Paulus di Efesus.
-    Surat 2Korintus ditulis sekitar tahun 55-56: Penulisannya dibuat setelah 1Kor, sebelum kunjungan Paulus yang ketiga dan yang terakhir ke Korintus. Ada kemungkinannya ditulis di Efesus atau di sebuah tempat di Asia Kecil dan Makedonia, sekitar tahun 55-56..
-    Surat Filipi dikirim sesudah pendirian jemaat di Filipi (Kis 16:12-40), setelah orang Yahudi-Kristen muncul dan menghambat karya Paulus (Fil 3:2.17-19) dan pada waktu Paulus sedang dipenjara (di Efesus?).
-    Surat Filemon adalah juga surat penjara (Flm 9). Tidak dapat ditentukan apakah Filemon ditulis pada waktu dan tempat yang sama dengan Filipi.
-    Surat kepada jemaat di Roma ditulis sekitar tahun 56, dan dikirim menjelang keberangkatan Paulus ke Palestina.

3.  Bentuk-bentuk literer surat-surat Paulus (Corpus Paulinum)

a.  Otobiografi: Paulus kadang-kadang mengisahkan pengalaman-pengalaman dan situasinya. Misalnya Paulus mengisahkan perjalanannya dan karya kerasulannya (2Kor 1:8-10; 7:5; 12:1-10; Flp 1:12-14; 1Tes 2:1-12). Kisah-kisah yang diceritakan sering dipakai dalam rangka apologi, yaitu untuk membela otoritas kerasulannya (Gal 1:11-2:14; 1Kor 9).
b.  Apokaliptik: Nuansa apokaliptik dipakai oleh Paulus berkaitan dengan penyataan mengenai akhir zaman yang diyakini sebagai kedatangan Tuhan yang kedua, penderitaan dan pencobaan yang dialami dalam karya kerasulannya, kata-kata yang khas apokaliptik (misalnya: malaekat, iblis, Yerusalem baru, pengadilan terakhir), bahasa simbolis mengenai penglihatan, berkat, sejumlah perwahyuan khusus. Contoh ungkapan apokalitik ini kelihatan pada 1Tes 4:13-5:11; 2Tes 1:5-10; 2:1-17; 1Kor 15:12-28.
c.  Katalog atau daftar: Gaya literer ini kelihatan pada rentetan daftar kerapuhan dan keutamaan khas Yunani (Gal 5:19-23; Kol 3:5-15), nasihat dalam hidup berkeluarga (Kol 3:18-4:1; Ef 5:21-6:9; Titus 2:1-10); peraturan bagi komunitas (1Tim 2; 5), sikap yang berlawanan dengan perilaku kristiani (Rm 1:18-32; 1Kor 6:9-11), pengajaran moral dan tingkah laku (Kol 5:3-11; Gal 5:16-24).
d.  Katekese: Sejumlah pengajaran kateketis mengenai kekudusan Kristen kita temukan pada 1Tes 4:1-9; Kol 3:8-4:12; Ef 4:22-25.
e.  Pengakuan iman: Bentuk-bentuk singkat dari pengakuan iman: Rm 10:9; 1Kor 11:23; 1Tim 3:16.
f.  Himne: Yang dimaksud himne di sini kemungkinan bagian dari lagu-lagu yang biasa dipakai di dalam ibadat. Misalnya himne mengenai Kristus (Fil 2:2-11; Kol 1:15-20), baptis (Ef 2:19-22; Titus 3:4-7; Rom 6). Himne-himne ini biasanya terbedakan dari konteksnya karena bentuk ungkapannya yang paralel, memakai kata-kata yang unik (puitis?), susunan gramatik yang khas.

g.  Kerygma : Yang dimaksud kerygma adalah bentuk pewartaan khusus mengenai misteri Kristus. Bahan-bahan pewartaan biasanya berkaitan dengan pemenuhan profetis dalam diri Kristus, penyaliban-Nya,  kebangkitan-Nya, peninggian-Nya, janji kedatangan-Nya kembali yang biasanya diikuti dengan himbauan untuk bertobat (Rm 1:1-13; 1Kor 15:1-7; Gal 1:3-4; bdk. Kis 2:14-29; 10:36-43).
h.  Pernyataan profetis: Seperti tulisan para nabi Perjanjian Lama, bentuk pernyataan profetis dalam surat Paulus  berupa: pembukaan, kritik, ancaman hukuman, himbauan  (Gal 1:6-9; Rm 1:18-32; 1Kor 5:1-13; 2Tes 1:5-12).


4.  Retorika dari surat-surat Paulus

     Para filsuf Yunani memakai struktur retorik tertentu ketika harus berpidato, misalnya seperti yang dilakukan oleh Cicero, Aristoteles. Quintilian. Struktur ini sering dipakai misalnya di dalam pidato politik, pidato penguburan yang biasanya menjadi salah satu bagian penting (antara lain berisi pujian atas jasa orang yang meninggal), pada saat sidang pengadilan.
Paulus rupanya memakai pola dasar retorika yang mereka gunakan:
a.  Exordium (introduksi): berupa kata-kata atau kalimat pendahuluan yang mengantar ke pembicaraan. Misalnya Gal 1:6-10; Rm 1:1-15; Ibr 1:1-4:16.
b.  Propositio (tesis): Misalnya dalam Gal 1:11-12
c.  Narratio (kisah): Paulus mengisahkan sesuatu, bisa berupa pengalaman diri sendiri, untuk mendukung tesis. Misalnya Ga; 1:11-2:14; Ibr 5:1-6:20.
d.  Probatio (argumentasi): Argumentasi diajukan untuk mendukung pendapat pokok. Misalnya Gal 3:1-4:31). Seringkali argumentasi ini disebut juga confirmatio, misalnya Rm 1:18-15:13; Ibr 7:1-10:18. Di dalam surat Galatia (5:1-6:10) di dalam probatio disertakan pula exhortatio berupa seruan atau nasehat etis, yang sering disebut juga parenesis.
e.  Peroratio (kesimpulan berupa rekapitulasi): Setelah tesis dan argumen dipaparkan, biasanya Paulus membuat kesimpulan / rekapitulasi pada bagian akhir (conclusio). Misalnya Gal 6:11-18; Rm 15:14-16:23; Ibr 10:19-13:21.

Struktur umum dari surat-surat Paulus:

a.  Pembukaan: Surat-surat Paulus biasa dibuka dengan salam yang kemudian diperkembangkan dengan menyebutkan maksud penulisan suratnya, identitas penulis dan kawan-kawan sekerjanya, nama orang / jemaat yang dituju, menyebutkan hubungannya dengan Allah dalam Kristus. Paulus biasa menyebut dirinya sebagai rasul dan hamba. Sedangkan orang/jemaat yang dituju disebut para kudus, yang terkasih, Gereja Allah yang berada di ..... Jika salam menurut kebiasaan orang Yunani umumnya ditulis dengan chairein (salam), oleh Paulus dibuat menjadi charis kai eirēnē (rahmat dan damai). Ucapan berkat dimaksudkan untuk menunjukkan trahmat dan damai Allah yang telah mereka terima, atau merupakan doa agar orang/ jemaat yang dituju mendapatkan berkat tersebut secara penuh. Contoh mengenai pembukaan ini dapat kita lihat pada Rm 1:1-7; Gal 1:1-5; 1Tes 1:1; Tit 1:1-4.
b.  Syukur dan berkat pada pembukaan: Paulus membuka suratnya dengan mengucap syukur kepada Allah, Bapa Yesus Kristus (1Kor 1:4; Flp 1:3; Kol 1:3; 1Tes 1:2; 2Tes 1:3; Flm 4). Meskipun bentuk syukurnya dipengaruhi oleh gaya helenis, namun isi syukurnya dipengaruhi oleh PL dan pola pikir Yahudi.
c.  Bagian pokok surat: Bagian pokok surat Paulus ada bermacam-macam bentuk serta strukturnya. Sering sulit menemukan di mana mulainya bagian pokok surat. Paulus sering memakai: “Aku menasihatkan kamu, saudara-saudara...” (1Kor 1:10; 1Tes 4:10). Di dalam bagian pokok surat kita temukan nasihat (parenese), kisah pribadi, tema-tema pembicaraan tertentu.
d.  Penutup: Paulus  menggunakan salam penutup gaya helenis, namun dia tidak meniru persis. Misalnya penutup dalam surat di dunia helenis berisi harapan akan kesehatan /keselamatan atau kata-kata perpisahan. Paulus mengisi bagian penutup dengan berkat (1Kor 16:23; Gal 6:16.18; Ef 6:23-24; 2tes 3:14.18), suatu doksologi (Rm 16:25-27; Flp 4:20), harapan bernada positif bagi jemaat (1Kor 16:24).



III. SURAT-SURAT PAULUS

1. SURAT PAULUS KEPADA JEMAAT DI GALATIA

     Kisah Para Rasul memaparkan  adanya proses transformatif dari Kristianisme yang pada awalnya dianggap sebagai sekte Yahudi menjadi sebuah agama yang baru. Transformasi ini ternyata tidak berjalan dengan mudah. Meskipun anggota jemaat Galatia sebagian besar berasal dari bangsa non-Yahudi, namun pengaruh dari mereka yang ingin menerapkan Hukum Taurat cukup terasa. Pada awal terbentuknya Kristianisme, masih kuat adanya pandangan bahwa keselamatan adalah milik eksklusif bangsa Yahudi. Janji Allah di dalam Kitab Suci diperuntukkan bagi bangsa Yahudi. Yesus sendiri adalah orang Yahudi. Pada waktu pewartaan Injil masih terbatas di daerah Yerusalem, pandangan atau keyakinan tersebut belum menimbulkan masalah. Ketika penyebaran Injil menjangkau bangsa-bangsa lain di luar Yerusalem, mulailah muncul reaksi yang melawan pandagan kaum Yahudi tersebut. Sejumlah umat Kristen-helenis mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa non Yahudi di Antiokhia (Kis 11:19-20). Kelompok Yahudi-Kristen yang masih konservatif rupanya sulit menerima perkembangan tersebut. Kisah mengenai Petrus yang mewartakan Injil kepada Kornelius (warga negara Romawi) dalam Kis 10-11 rupanya dijadikan salah alasan untuk mendukung upaya pewartaan Injil kepada bangsa-bangsa lain. Persoalannya, apakah bangsa non-Yahudi harus juga disunat seperti orang Yahudi jika ingin menjadi Kristen.
     Pandangan konservatif yang mendukung kewajiban sunat tersebut berasal dari sekelompok  orang  yahudi-Kristen. Dengan kata lain, orang yang masuk Kristen harus lebih dahulu menjadi Yahudi dengan mentaati Hukum Musa dan disunat (bdk. Kis 15:1.5). Rupanya, pandangan konservatif ini dipengaruhi oleh kewajiban yang dikenakan kepada bangsa non-Yahudi yang ingin maemeluk agama Yahudi. Mereka dapat memeluk agama Yahudi kan tetapi tetap terbedakan dari kaum Yahudi asli. Kepada mereka dikenakan istilah proselit (masuk agama Yahudi karena pertobatan, bukan karena keturunan). Menurut pandangan mereka, gerakan Yesus merupakan upaya untuk membentuk Israel baru, tetapi Israel baru yang dimaksudkan tetaplah sebuah institusi Yahudi.
     Paulus mempunyai pandangan berbeda dari kelompok Yahudi-Kristen yang masih konservatif tersebut. Dia justru melawan kewajiban bagi bangsa-lain yang masuk kristen untuk mentaati Hukum agama Yahudi, khususnya dalam hal: sunat, makanan pantangan, merayakan hari-hari keagamaan Yahudi. Pandangan yang dipropagandakan oleh kelompok Yahudi-Kristen yang konservatif ini membuka proses pemisahan antara Yahudi dengan Kristen, sekaligus berpotensi menimbulkan perpecahan di dalam jemaat. Paulus melawan pandangan tersebut dengan argumen mengenai pembenaran karena iman akan Yesus Kristus. Dengan demikian, untuk mendapatkan keselamatan, bangsa non-Yahudi tidak diwajibkan menjalankan perintah Hukum Taurat. Persoalan mengenai kewajiban sunat bagi bangsa non-Yahudi rupanya menjadi issue hangat di kalangan jemaat Kristiani awal. Surat Galatia dan Roma menjadikan persoalan ini sebagai salah satu tema yang penting untuik ditanggapi. Dibandingkan dengan surat Galatia, surat Roma terkesan masih lebih lembut nuansanya.
    
1.  Kapan dan di mana ditulis?

     Tidak jelas dari surat ini kelompok mana di Asia Kecil yang dituju Paulus. Mereka disapa oleh Paulus sebagai “orang-orang Galatia” (3:1) dan sebagai “jemaat-jemaat di Galatia” (l :2). Mungkin tinjauan sejarah dapat memberi sedikit penjelasan. Pada pertengahan abad 3 sM, ada sekelompok orang Keltik (yang menjadi akar dari nama Galatia)  yang menetap di jantung Asia Kecil seputar Ankara ibukota Turki dewasa ini, karena diusir dari tanah asalnya sepanjang sungai Donau. Dalam perjalanan waktu, mereka menempati wilayah selatan, yaitu daerah Pisidia, Likaonia, Isauria dan sebagian Frigia. Pada tahun 25 sM baik daerah di Utara maupun di Selatan Galatia menjadi propinsi Romawi. Nama Galatia sebenarnya digunakan untuk menunjuk penduduk asli di sebelah Utara. Sedang daerah-daerah selatan lebih suka mempertahankan nama mereka sendiri.
     Dalam perjalanan misinya yang pertama bersama Barnabas, Paulus mengunjungi wilayah Selatan dari Galatia (Pisidia, Frigia, Likaonia) seperti dikisahkan dalam Kis 13-14. Selain di dalam surat ini (Gal 1:2; 3:1), nama Galatia disebut juga dalam Kis 16:6; 18:23; 1Kor 16:1; 2Tim. 4:10; 1Pet. 1:1. Secara teologis, surat Galatia dekat dengan 1Tes. Apa yang ditulis dalam surat Galatia terdapat juga dalam surat Roma, tetapi dengan sejumlah revisi untuk hal-hal yang dianggap penting.
     Para ahli tidak sepakat di mana persisnya Paulus menulis surat Galatia. Sebagai nama tempat, Galatia adalah sebuah provinsi yang terbagi menjadi dua, yaitu Galatia Utara dan Galatia Selatan. Bisa jadi  yang dituju oleh surat ini adalah jemaat di Galatia Selatan (Antiokhia, Ikonium, Listra, Derbe). Meskpun begitu banyak ahli meyakini bahwa tujuan surat adalah jemaat kristiani di wilayah Galatia Utara, di mana terdapat banyak keturunan Keltik. Paulus mengunjungi Galatia pada tiga kali perjalanan misinya (Kis 13:13-14:28; 16:1-5; 18:23). Ada tiga kemungkinan tempat penulisannya, yaitu Efesus (bdk. Kis 19:1-20), Makedonia atau Korintus / Akhaya (Kis 20:1-3). Diperkirakan penulisannya terjasdi pada akhir tahun 50.
     Surat Paulus kepada jemaat di Galatia dapat disebut sebagai surat yang menunjukkan kekhasan Paulus dalam hal ide, perasaan, cara bereaksi terhadap persoalan dan situasi yang sedang dihadapi. Kita sebenarnya juga dapat melihat kekhasan Paulus pada surat kepada jemaat di Roma dan surat 1-2Korintus. Paulus tampil sebagai pembela kebenaran ketika kebenaran itu dilecehkan. Jemaat Galatia pada waktu itu terkesan hampir meninggalkan Kristus (Gal 1:6). Sebagai pengikut Kristus, mereka juga mengikuti kepercayaan lokal yang tersebar di wilayah Frigia.  Dalam provinsi Galatia terdapat banyak komunitas Yahudi, lebih-lebih di wilayah Selatan. Dari segi historis, surat Galatia cukup penting karena memberi gambaran sedikit tentang biografi Paulus dan situasi jemaat perdana. Memang nada surat dari Galatia adalah kontroversial, antara lain berkaitan dengan debat tentang keharusan melakukan sunat bagi jemaat Kristiani non Yahudi. Kontroversi ini sebenarnya menandai proses terpisahnya Kristianisme dari Yudaisme. Ajaran Paulus mengenai “dibenarkan oleh iman” menjadi salah satu unsur yang mendasari Reformasi Protestan.
    
2.  Latar belakang historis surat Galatia

Dengan mengandaikan jemaat yang dituju adalah jemaat di Galatia Utara, kita dapat membuat rekonstruksi sebagai berikut:

Konsili Yerusalem:

     Setelah perjalanan misi bersama Barnabas, sejumlah orang Yahudi-Kristen dari Yudea datang ke Antiokhia dan mengatakan bahwa orang-orang kafir yang bertobat menjadi Kristen harus disunat. Paulus, Barnabas, sejumlah wakit umat dari Antiokhia, termasuk Titus, pergi ke Yerusalem untuk meminta pendapat para rasul mengenai persoalan tersebut (Kis 15:1-5; Gal 2:4-5). Para rasul di yerusalem, diwakili oleh soko guru Gereja (Petrus, Yakobus dan Yohanes) setuju dengan pendapat Paulus dan Barnabas bahwa orang-orang kafir yang masuk Kristen tidak perlu disunat dan tidak perlu mentaati Hukum Yahudi (Gal 2:1-10 = Kisa 15). Mereka tidak memaksa Titus (termasuk orang Kristen non Yahudi) untuk disunat. Setelah mendapat penegasan dari para rasul, Paulus dan Barnabas kembali ke Antiokhia.

Persoalan mengenai makan bersama kelompok Kristen non-Yahudi di Antiokhia

     Rupanya penegasan dari para rasul belum mengakhiri persoalan sepenuhnya. Di Antiokhia masih ada keraguan, apakah orang Kristen Yahudi dapat duduk makan bersama dengan orang-orang kafir yang tidak terikat pada peraturan makan agama Yahudi. Mengenai hal ini Paulus sampai harus konflik dengan Petrus dan Barnabas di Antiokhia (Gal 2:11-14). Petrus dianggapnya tidak konsekuen dengan kebijakan Gereja yang telah ditegaskan dalam konsili di Yerusalem.

Perjalanan Paulus yang kedua

     Setelah persoalan di Antiokhia, Paulus dan Barnabas berselisih pendapat tentang Yohanes Markus yang hendak diajak mengikuti perjalanan misi yang kedua (Kis 15:36-41). Paulus mengunjungi kembali Gereja-gereja di wilayah Galatia bagian Selatan, kemudian melakukan karya misi untuk pertama kalinya di wilayah Galatia bagian Utara (Kis 16:1-2.6). Ketika Paulus menginjil di Galatia (bagian Utara), dia menyampaikan apa yang menjadi keputusan dari konsili Yerusalem (Kis 16:4). Dengan menyampaikan keputusan konsili tersebut, Paulus terkesan bergantung pada para rasul di Yerusalem.

Konflik di Galatia

     Setelah Paulus meninggalkan Galatia, persoalan tersebut muncul. Ada orang yang mengajarkan kewajiban sunat dan pelaksanaan hukum Yahudi bagi orang kafir yang bertobat menjadi Kristen, agar mereka diselamatkan. Mereka tidak sepakat dengan keputusan Yerusalem dan menolak otoritas soko guru jemaat dalam hal ini. Pengajaran tersebut bertentangan dengan apa yang telah disampaikan Paulus sebelumnya. Para lawan Paulus mengecam dia dengan mengatakan bahwa:
-    Paulus hanya ingin menyenangkan para rasul di Yerusalem (bdk. Gal 1:10)
-    Injil yang diwartakan Paulus di Galatia tidak berasal dari Allah tetapi dari manusia.
-    Pembebasan dari Hukum Taurat hanya akan membawa orang-orang Kristen non-Yahudi kepada dosa (bdk. Gal 2:17).

     Dari apa yang dikatakan Paulus dalam Gal 6:12-13 dapat diandaikan bahwa sejumlah orang Kristen non- Yahudi di Galatia telah dipaksa untuk sunat. Dari antara mereka juga ada yang mulai mentaati peraturan mengenai hari-hari dan waktu-waktu khusus yang diatur dalam Hukum agama Yahudi (Gal 4:10). Rupanya pengajaran yang disampaikan sebagai reaksi melawan ajaran paulud tersebut menimbulkan persaingan dan perpecahan yang cukup serius di kalangan jemaat Galatia (Gal 5:13-15).

Paulus menulis surat Galatia

     Paulus mendengar kabar mengenai situasi Galatia tidak lama setelah dia meninggalkan wilayah tersebut (Gal 1:6). Pada waktu itu mungkin Paulus sedang berada di Makedonia atau Akhaya (Kis 16:6-18:17). Berhubungan dia mengatakan bahwa tubuhnya membawa “tanda-tanda milik Yesus” (Gal 6:17), ada kemungkinan surat ditulis setelah dia barru saja mengalami penganiayaan di Filipi (Kis 16:22-23). Yang  jelas, Paulus kemudian menulis surat kepada jemaat Galatia untuk menanggapi situasi di sana.


3.  Struktur Retorik dari surat Galatia

I. The Epistolary Prescript (1:1-5)                                                  
     1:1-2           A.      Pengirim dan pembaca surat 
     1:3-4           B.      Ucapan salam
     1:5              C.      Doksologi      
                                                                                              
II.      The Introduction - EXORDIUM (1:6-11 )    
                        Excursus: Kutukan in 1:8-9

III.    The Statement of Facts - NARRATIO (1:12-2:14 )    
     1:12       A. Thesis: Paulus menerima Injil dari perwahyuan Ilahi, bukan dari tradisi manusia.
                        Excursus: Pertobatan, Perwahyuan dan Tradisi
     1:13-24       B. Bagian I: Dari kelahiran Paulus sampai misi di Asia kecil
                        Excursus: Rasul, Kefas, Yakobus, Konsili di Yerusalem
     2:1-10         C. Bagian II: Kunjungan Paulus yang kedua ke Yerusalem
                        Excursus: Barnabas, Titus, Yohanes penginjil, Kolekte untuk Yerusalem, Konflik di Antiokhia
     2:11-14       D. Bagian III: Konflik di Antiokhia

IV.    The Proposition - PROPOSITIO (2:15-21)
     2:15-16       A. Point of Agreement: Dibenarkan karena iman                     
     2:17-18       B. Point of Disagreement: kosekuensi bagi jemaat Kristen-non Yahudi
     2:19-20       C. Eksposisi Tesis                                                        
     2:21            D. Penolakan dan tuduhan                                                                               

V. The Proofs - PROBATIO (3:1-4:31)
     3:1-5           A. Argumen I: Pengalaman jemaat Galatia akan Roh
     3:6-14         B. Argumen II: Janji Allah kepada Abraham
                        Excursus: Abraham
     3:15-18       C. Argumen III: Pelaksanaan hukum pada umumnya
     3:19-25       D. Suatu penyimpangan terhadap Taurat
     3:26-4:11    E. Argumen IV: Tradisi Kristiani
                        3:26-29       1. Referensi pada Tradisi Baptis
                        4:1-7           2. Bukti-bukti
                        4:8-11         3. Suatu Interrogatio
     4:12-20       F.  Argumen V: Persahabatan
     4:21-31       G. Argumen VI: Alegori Sarah dan Hagar

VI.    The Exhortation (berupa Parenesis) - EXHORTATIO (5:1-6:10)
     5:1-12         A. Peringatan melawan ketaatan terhadap Taurat Yahudi   
     5:13-24       B. Peringatan melawan kerapuhan daging
                        Excursus: Daftar keburukan dan keutamaan moral
     5:25-6:10    C. Rekomendasi bagi hidup Kristiani

VII. The Epistolary Postscript (6:11-18)
     6:11            A. Pernyataan tentang otentisitas surat                                
     6:12-17       B. PERORATIO : Rekapitulasi (12-14: conquestio/himbauan emosional)
     6:18            C. Berkat terakhir    

Penjelasan:

(1)     Epistolary prescript / salam (1:1-5): Pada bagian salam ini Paulus sudah mengantisipasi salah satu dari argumen-argumen pokok dalam suratnya, yaitu bahwa pesannya sebagai seorang rasul tidak datang dari manusia (1:1). Menarik bahwa Paulus sampai menghilangkan ucapan syukur bagi jemaat, tidak seperti yang biasa dia tuliskan di dalam surat-surat lainnya setelah salam. Tidak adanya ucapan syukur tersebut menandakan hati yang sedang gundah terhadap jemaat Galatia.

(2)     Exordium atau introduksi (1:6-12): Paulus emnggambarkan problem di Galatia sebagai suatu konflik antara dua Injil. Yang satu dia kotbahkan kepada jemaat Galatia dan yang lain dia anggap sebagai pemutar-balikan terhadap Injil ang sejati. Seperti dijelaskan pada bagian selanjutnya, dua Injil tersebut menawarkan dua cara yang berbeda dengan mana umat Kristiani dibenarkan. Istilah “pembenaran” datang dari dunia pengadilan. Istilah tersebut mengandaikan akan adanya hari penghakiman dari Allah terhadap umat manusia. Orang yang dibenarkan adalahj orang yang dinyatakan tidak bersalahn dan tidak boleh dihukum. Menurut Injil Paulus, seseorang dibenarkan melalui iman akan Yesus Kristus. Injil lain, yang diwartakan lawan-lawan Paulus, mewajibkan orang non Yahudi untuk disunat dan mentaati hukum Musa. Paulus mengutuk orang-orang yang mewartakan Injil yang berbeda dari Injil yang dia ajarkan.

(3)     Narratio: Paulus membela Injilnya (1:13-21:4):
-    Paulus dan Yerusalem (1:13-2:10): Untuk menyatakan bahwa dia tidak menerima Injilnya dari para rasul di Yerusalem, Paulus mengisahkan relasi dengan mereka pada awalnya. Paulus membuat dua hal pokok: dia mendapatkan Injilnya langsung dari Allah (1:13-24); dan para rasul di Yerusalem tidak menambah apapun pada Injil yang telah diuraikannya kepada mereka (2;1-10).
-    Insiden di Antiokhia (2:11-14): Persoalannya, apakah orang Yahudi-Kristen boleh makan bersama dengan orang kafir? Ada dua alasan mengapa orang Yahudi tidak mau makan bersama kaum kafir: Pertama, Hukum menandaskan bahwa orang Yahudi boleh makan makanan yang sama dengan orang kafir. Kedua, Orang kafir yang tidak mengikuti Hukum dianggap najis menurut Hukum dan membuat orang yYahudi yang makan bersama mereka ikut najis. Meskipun begitu, beberapa umat Yahudi-Kristen di Antiokhia dan Petrus (yang pada saat itu mengunjungi Antiokhia) makan bersama dengan kaum kafir. Pada saat orang Yahudi-Kristen datang dari kunjungan kepada Yakobus di Yerusalem. Ketika ada semakin banyak orang Yahudi-Kristen yang masuk kelompok Yakobus mendatangi mereka, Petrus dan Barnabas dan rekan-rekan lainnya mulai menghentikan makan mereka dan diam-diam menjauhi kaum kafir tersebut.Paulus mengecam Petrus atas tindakannya tersebut.

(4)     Propositio: pernyataan terhadap persoalan-persoalan yang ada (3:15-21)
Pada bagian selanjutnya dari surat, Paulus menyatakan bahwa pembenaran tidak datang lewat Taurat tetapi dalam iman akan Yesus Kristus (2:15-16), dan kebebasan dari Hukum janganlah membawa kepada sikap-sikap dosa (2:17-21).

(5)     Probatio: argumentasi bagi jemaat (3:1-5:12):

-    Iman dan Hukum (3:1-18). Paulus memulianya dengan sejumlah argumen:
*   Jemaat Galatia telah menerima Roh Kudus pada saat mereka menerima Injil Paulus. Dengan begitu Allah meneguhkan pengajaran Paulus mengenai pembenaran karena iman (3:1-5).
*   Abraham menurut Kitab Suci dibenarkan karena iman dan kaum kafir yang telah masuk agama Kristen akan dibenarkan dengan cara yang sama (3:6-9).
*   Mereka yang mengandalkan Hukum Taurat untuk pembenaran berada di bawah kutuk, tetapi Kristus telah membebaskan jemaat dari kutuk (3:10-14).
*   Allah menjanjikan pembenaran bagi Abraham dan keturunannya berdasarkan iman. Hukum yang datang kemudian tidak dapat membatalkan apa yang telah dijanjikan sejak semula (3:15-18).
-    Maksud dari adanya Hukum Taurat (3:19-4:11): Paulus mengajukan pertanyaan retotik: “Jika Hukum Taurat tidak membawa pembenaran, lalu apa gunanya?” Jawabannya tidak cukup mudah diikuti. Hukum Taurat membuat semua orang sadar akan dosa mereka, sehingga mereka akan siap menerima pembenaran karena iman. Hukum Taurat disamakan dengan pengawal, pengasuh/ pembimbing anak (paedagogos). Menjadi Kristiani sama dengan menjadi dewasa, sehingga tidak diperlukan lagi adanya seorang pemomong atau pembimbing (3:23-29). Paulus juga berbicara mengenai malaikat-malaikat yang menjadi perantara Hukum (3:19). Bagaimanapun juga, umat Yahudi maupun orang kafir pernah mengalami menjadi seperti anak-anak kecil di bawah bimbingan pengasuh atau penjaga. Namun ketika mereka telah diangkat menjadi anak-anak Allah, para penjaga tidak diperlukan lagi (4:1-7). Paulus juga mengatakan bahwa dengan menkhususkan hari-hari tertentu, mereka sama saja dengan kembali pada roh-roh dunia (4:8-10).
-    Sapaan personal (4:11-20): Paulus mengingatkan orang-orang Galatia pada hubungan baik dengannya di masa lalu.
-    Penghambaan atau kemerdekaan (4:21-5:1): Paulus kemudian menggunakan kisah dari Taurat (Kej 21:1-4) yaitu mengenai Sarah dan Hagar untuk membuat perbandingan antara kemerdekaan di dalam iman akan Kristus dan perhambaan di bahwa Hukum Taurat. Agama Kristen adalah seperti Sarah yang akan melahirkan anak-anak merdeka dan ahli waris Allah.
-    Sunat yang sia-sia (5:2-12): Melawan para musuhnya, Paulus mengatakan bahwa disunat atau tidak disunat sudah tidak ada manfaatnya lagi. Yang terpenting adalah “iman yang bekerja melalui kasih”.

(6)     Exhortatio (5:13-6:10) : Paulus kemudian menegaskan bahwa bebas dari Hukum jangan sampai membuat seseorang berlaku jahat. Dia mengingatkan umat Galatia agar jangan memanfaatkan kebebasan mereka sebagai sebuah kelonggaran untuk memuja daging, yaitu bagian dari manusia yang membuat manusia menjadi subyek dari dosa. Paulus menasehati pembaca agar waspada terhadap pekerjaan-pekerjaan daging. Roh Kudus merupakan prinsip yang menggantikan Hukum dan daging.
(7)     Konklusi / epistolary postscript: Paulus mengakhiri suratnya dengan mengecam para musuhnya. Berkat terakhir bagi mereka yang setuju dengannya (6:16) menjadi imbangan dari pernyataan kutuk pada bagian awal surat bagi mereka yang menolaknya.










2. SURAT PAULUS KEPADA JEMAAT DI ROMA

     Surat Paulus kepada jemaat di Roma lebih mirip dengan serangkaian pengajaran dogmatis yang menguraikan sejumlah pokok teologis yang diyakini oleh Paulus tentang karya keselamatan Allah dalam peristiwa Yesus Kristus. Tidak seperti surat-surat lainnya, Paulus tidak sedang menanggapi persoalan praktis tentang iman dan moral yang terjadi di tengah jemaat. Kendati demikian, surat Roma bukanlah sebuah paper teologi sistematik. Apa yang ditulisnya lebih-lebih akar keyakinannya sebagai seorang Yahudi yang beragama Kristen. Paulus mencoba menyoroti peranan Yesus Kristus di dalam sejarah keselamatan bangsanya. Selain itu, bagaimana peristiwa Yesus dan karya keselamatan-Nya relevan bagi seluruh umat manusia, baik kaum Yahudi maupun bangsa-bangsa lain.
     Paulus bukanlah pendiri jemaat Roma, bahkan belum pernah ke Roma apalagi mengenal jemaatnya secara pribadi. Di dalam suratnya, Paulus menulis apa yang rupanya menjadi persoalan yang hangat di kalangan jemaat Kristiani yang sedang memperjuangkan jati dirinya sebagai pengikut Kristus, lepas dari agama Yahudi. Untuk itu, tema tentang kebenaran Allah, pembenaran, pendamaian, penebusan, keselamatan, dosa dan kedosaan, menjadi fokus perhatian. Tema-tema yang berlatar belakang paham Perjanjian Lama itu diberi makna baru berkat wafat dan kebangkitan Kristus. Paulus amat berjasa di dalam merumuskan dasar-dasar iman tersebut, sehingga tidak heran jika pengajaran yang ditulis di dalam suratnya kepada jemaat di Roma mempengaruhi teologi Kristen dan selalu dirujuk oleh Gereja sepanjang masa.
     Tidak ada keraguan bahwa surat ini ditulis oleh Paulus sendiri. Gaya penulisannya dekat dengan surat Galatia dan 1Korintus. Roma adalah ibu kota kekaisaran, sebuah kota besar yang hanya dapat dibayangkannya lewat gambaran tentang Tarsus, kota kelahirannya. Sebenarnya Paulus sudah lama mendambakan kesempatan untuk mengunjungi Roma. Ketika berada di Efesus, Paulus berencana pergi ke Yerusalem melalui Makedonia dan Akhaya. Sesudah itu ia akan mengunjungi Roma dalam rangka misinya ke Spanyol (Rom 15:24.28). Di dalam Kisah Para Rasul, rencana ke Roma itu disinggung juga: “Sesudah berkunjung ke situ (Yerusalem) aku harus melihat Roma juga” (Kis 19:21). Kelihatan dari surat-suratnya dan Kisah Para Rasul bahwa Paulus sungguh ingin berkunjung ke Roma.

1.  Kapan dan di mana ditulis?

     Mengenai tempat dan waktu penulisan, Rm 15:26 menyebut Makedonia dan Akhaya. Rm 16:1 menybut nama Febe, diakon dari jemaat Kengkrea, pelabuhan dari Korintus. Tampaknya penulisannya dilakukan di wilayah Yunani, kemungkinannya di Korintus. Apa yang menyebabkan Paulus tergerak untuk menulis surat kepada jemaat di Roma? Memang dia bukanlah pendiri jemaat Roma, namun dorongan untuk menulis surat ini disebabkan oleh rasa tanggungjawabnya sebagai rasul bangsa-bangsa non-Yahudi (bdk. Rm 1:1-15; 15:15-16). Paulus memanfaatkan sepuluh tahun dari karyanya (47-57 M) untuk mewartakan Injil di wilayah Timur dan Barat laut Aegea. Selama periode itu Paulus memusatkan perhatian pada wilayah Galatia, Makedonia, Akhaya, dan Asia kecil. Paulus sungguh menghayati perutusannya sebagai pewarta Injil kepada bangsa-bangsa lain. Rencana besarnya sudah terpenuhi, yaitu mendirikan jemaat di Ikonium, Filipi, Tesalonika, Korintus, Efesus dan sejumlah wilayah lainnya.
     Tugas Paulus belum selesai. Pada musim dingin tahun 56-57M dia tinggal di Korintus, di rumah Gaius. Ia berencana untuk membawa sumbangan ke Yerusalem, yaitu sumbangan yang dari jemaat Akhaya dan Makedonia (15:30-31) yang diharapkan dapat mempererat hubungan antara Gereja di wilayah bangsa lain dengan Gereja di Yudea. Surat kepada jemaat di Roma rupanya ditulis pada musim dingin tahun 57 M di Korintus, tidak lama sebelum dia berangkat membawa kolekte ke Yerusalem (Rom 15:25.31; 1Kor 16:1-3). Periode ini berkaitan dengan periode tinggalnya selama 3 bulan di Akhaya, menurut Kis 20:2-3.
     Menjelang Pentekosta (Juni 57M) Paulus tiba di Yerusalem. Ketika bersiap untuk pergi ke Yerusalem, nampaknya Paulus merasa bahwa situasinya sedang tidak menguntungkan bagi dia. Di dalam vision yang dia alami, Tuhan berdiri di sisinya dan berfirman: “Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma” (Kis 23:11). Ketegangan yang dia rasakan tentang nasibnya di Yerusalem tercermin juga di dalam Rom 15:30-31: “Tetapi demi Kristus, Tuhan kita, dan demi kasih Roh, aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, untuk bergumul bersama-sama dengan aku dalam doa kepada Allah untuk aku, supaya aku terpelihara dari orang-orang yang tidak taat di Yudea, dan supaya pelayananku untuk Yerusalem disambut dengan baik oleh orang-orang kudus di sana...” Paulus berencana untuk mewartakan Injil Spanyol, wilayah provinsi Romawi tertua yang paling Barat. Sebelum ke Spanyol, Paulus berencana mengunjungi Roma. Meskipun belum pernah ke Roma, namun Paulus sudah mengenal beberapa anggota jemaat di sana. Yang dia sebut dalam surat Roma adalah Febe, Priskila dan Akwila, Epenetus, Maria, Andronikus dan Yunias, Ampliatus, Urbanus, Stakhis, Apeles, Herodion, Trifena dan Trifosa, Persis, Rufus, Asinkritus, Flegon, Hermes, Patrobas, Hermas, Filologus, Yulia, Nereus, Olimpas (bdk. Rom 16:1-15). Kepada mereka, Paulus mengirim salamnya. Dengan adanya teman dan sahabat di Roma, Paulus berharap tidak merasa terlalu asing dengan jemaat di sana.
    
2. Jemaat di Roma

     Tidak ada kejelasan kapan awal pertumbuhan dan perkembangan Gereja di Roma. Roma mengenalnya sebagai Gereja yang tumbuh dengan baik dalam hal iman (Rom 1:8). Suetonius menulis bahwa pada tahun 49M kaisar Klaudius mengusir semua orang Yahudi dari Roma karena mereka bertengkar atas hasutan seorang bernama Krestus (bdk. Kis 18:1 dst.). Dengan demikian sebelum tahun 49M pasti sudah ada orang Kristen di Roma. Mereka dianggap identik dengan kelompok orang Yahudi, sehingga orang Yahudi-Kristen ikut terusir bersama rekan sebangsanya. Informasi ini sesuai dengan Kis 18:2 yang mengatakan bahwa Akwila dan  Priskilla meninggalkan Italia karena terjadi pengusiran kaum Yahudi dari kota Roma atas perintah  kaisar Klaudius. Setelah kematian kaisar Klaudius (54M), banyak orang Yahudi kembali ke Roma, termasuk Akwila dan Priskila. Pada waktu Paulus menulis suratnya, orang Yahudi sudah boleh hidup di Roma lagi (Rom 16:3). Di natara mereka yang kembali ke Roma ada banyak sahabat yang dia kenal pada waktu penginjilannya. Jemaat Roma pada waktu itu terdiri dari orang Yahudi (Rom 4:1; 7:4-6; 15:7-8) dan orang non Yahudi (Rom 1:5.13; 11:13-32; kemungkinan juga 15:10-11).
     Kehadiran kaum Yahudi di Roma tentu masih dapat dirunut jauh ke belakang, paling tidak ketika Pompeius menaklukkan Yerusalem (63 sM). Pada tahun 19M, kaum Yahudi di Roma sudah mengalami pengusiran atas perintah kaisar Tiberius. Akan tetapi beberapa tahun kemudian mereka kembali ke Roma lagi dengan jumlah yang lebih banyak. Priskila dan Akwila tampaknya sudah menjadi kristen sebelum bertemu dengan Paulus, namun kita tidak tahu riwayat pertobatan mereka. Di dalam suratnya, Paulus kelihatannya memperhitungkan dua kelompok besar dalam jemaat, yaitu kelompok Kristen-Yahudi dan kelompok Kristen non-Yahudi. Meskipun jumlahnya lebih besar, Paulus berpesan agar jemaat Kristen non-Yahudi jangan menghina jemaat Kristen Yahudi (11:18). Mereka hendaknya sadar bahwa pertumbuhan jemaat mereka tetaplah berawal dari komunitas Yahudi. Dibandingkan dengan suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus tampak lebih berhati-hati di dalam surat Roma jika berbicara mengenai adat-istiadat dan dasar kepercayaan kaum Yahudi. Karena Paulus banyak memakai bahasa dan ungkapan khas liturgi Yahudi, kemungkinan ada banyak keturunan Yahudi di kalangan Gereja Roma (meskipun bukan mayoritas).

3. Tujuan penulisan surat Roma

     Dari suratnya dapat diduga bahwa Paulus sedang mencari dukungan dari jemaat Kristen di Roma untuk karya misinya ke Yerusalem dan misi berikutnya ke Spanyol. Mengenai perjalanannya ke Yerusalem, Paulus meminta doa jemaat Roma (Kis 15:30-31). Berkaitan dengan rencananya ke Spanyol, Paulus bermaksud menjadikan Roma sebagai basis kegiatannya di wilayah Barat (15:22-25.28). Dia mengharapkan sambutan yang baik dari jemaat Roma atas kunjungannya (15:22-25.28-29.32; bdk. juga 16:1-2.23).
     Nada yang cukup kuat dari suratnya adalah usaha Paulus untuk menjembatani kesenjangan yang terjadi antara paham Yahudi dan paham Kristen. Diperlihatkan olehnya bahwa adanya unsur-unsur kontinuitas dan diskontinuitas. Hendaknya masing-masing memahami hal-hal itu agar iman akan Yesus Kristus dapat merek pertanggungjawabkan tanpa harus melewati perselisihan bahkan perpecahan.
Tujuan penulisan surat kepada jemaat di Roma dapat kita sebutkan secara singkat sebagai berikut:
a.  berkenalan dengan jemaat yang tidak didirikan oleh Paulus sendiri (1:11 dst).
b.  meminta dukungan keuangan dan sarana untuk perjalanan ke Spanyol (15:24)
c.  meminta doa sehubungan dengan konfrontasi melawan orang Yahudi fanatik di Yerusalem yang kemungkinan besar akan segera dia hadapi sebelum keberangkatan ke Roma (15:30-31)
d.  meminta doa sehubungan dengan ketidakpastian jemaat Kristen Yerusalem terhadap sumbangan jemaat-jemaat Makedonia dan Akhaya yang dibawa Paulus ke Yerusalem sebagai bentuk solidaritas dan kesatuan jemaat universal (15:30-31)
e.  meredakan perselisihan yang sedang berlangsung dalam jemaat di Roma (14:1-15:13)

     Masalahnya, mengapa ada uraian panjang dalam 1:18-13:14 yang berisi perdebatan terus-menerus dengan pihak Yahudi? Bagaimanakah uraian itu dapat kita anggap sebagai dasar nasihat 14:1-15:13, dan apakah relevasinya? Jika bab 1-11 berbicara banyak tentang hukum Taurat dan hubungan jemaat Kristen non Yahudi dengan Kristen Yahudi, mengapa bab 14-15 samasekali tidak menyinggung lagi soal-soal tersebut?
Ada beberapa kemungkinan jawabannya:

a.  Tema pokok 1:18-11:36 adalah kesatuan orang Yahudi dan non Yahudi dalam pembenaran oleh iman dalam Yesus Kristus. Bangsa Yahudi diakui sebagai bangsa pilihan, umat Allah. Antara Yahudi dan non-Yahudi terpisah sebelum kedatangan Kristus. Kini semuanya sama-sama menjadi umat Allah yang dikarunia Roh Allah, berkat baptisan.
b.  Rupanya rencana ke Spanyol mau dijadikan bukti bahwa tidak ada lagi pemisahan antara bangsa-bangsa.
c.  Untuk itu Paulus mendapat perlawanan dari tiga pihak: orang-orang Yahudi yang menolak Injil Paulus (dianggap kaum murtad), orang Kristen Yahudi yang telah menerima Injil (kedatangan Kristus tidak merubah status Israel sebagai bangsa pilihan dan tidak ada alasan untuk meniadakan kewajiban mentaati Taurat), orang Kristen non Yahudi (Israel tidak masuk hitungan lagi; orang Kristen yang masih Yudais dianggap lemah).

     Sebenarnya apa sajakah tuduhan yang dilontarkan para lawan Paulus terhadapnya? Dari surat-suratnya dapat disimpulkan demikian:
a.  Paulus dituduh mewartakan keselamatan tanpa hukum Taurat (3:21)
b.  Paulus mengajarkan bahwa kebenaran tanpa hukum Taurat membatalkan hukum Taurat (Kitab Suci).
c.  Paulus mengajarkan bahwa Allah menganugerahkan keselamatan berdasarkan iman, bukan atas dasar menjalankan Taurat. Dengan dermikian Paulus mewartakan Allah lain.

     Paulus pernah membela ajarannya di hadapan pemimpin gereja Yerusalem (Kis 15). Tapi rupanya pengakuan resmi dari para rasul tidak melindungi Paulus dari serangan kaum Yudais. Ada kecurigaan terhadapnya. Itulah sebabnya Paulus merasa perlu ke Yerusalem lagi. Dengan semangat solidaritas (antara lain lewat sumbangan yang dikumpulkannya untuk jemaat Yrusalem) Paulus ingin menjelaskan lagi pengajaran karya kerasulannya di tengah bangsa-bangsa lain. Dengan latar belakang demikian dapat dikatakan bahwa:
a.  Rm 1:18-13:14 merupakan upaya preventif dari Paulus untuk menjaga jangan sampai jemaat Roma terpengaruh oleh tuduhan-tudahan yang selama ini dialamatkan kepadanya.
b.  Lewat jemaat Roma, ia menyapa lawan-lawannya dalam lingkungan Yahudi-Kristen, yang harus dia hadapi dalam berbagai kesempatan, termasuk kelak di Yerusalem. Sumbangan dana dipakai sebagai tanda kesatuan Gereja.
c.  Teologi: Rm 1:18-13:14 mau meletakkan dasar keyakinan Paulus mengenai kesatuan antara orang Yahudi dan non Yahudi, sambil tetap mempertahankan perbedaan kedua golongan tersebut. Ia meletakkan dasar kesinambungan hukum Taurat dengan Injil, sambil menunjukkan pembaharuan yang dibawa oleh Injil. Paulus mengutip sana-sini dari PL (bab 1-4 dan 9-11) untuk menunjukkan kesinambungan PL dengan Injil. Cara ini penting lebih-lebih bagi jemaat Kristen yang mempunyai latar belakang agama, bangsa, dan budaya Yahudi. Paulus ingin mengeaskan bahwa Injil yang dia wartakan, yang berpusat pada Yesus Kristus, sebenarnya sudah mendapat antisipasinya di dalam Taurat.
d.  Yang terutama menjadi alamat dari serangan Paulus adalah orang-orang Yahudi-Kristen yang masih  eksklusif dengan membanggakan sunat dan Taurat. Mereka ingin agar praktek Taurat masih diberlakukan di tengah jemaat Kristen.
e.  Rupanya Paulus menyadari benar bahwa jemaat Roma berada dalam posisi defensif melawan agama Yahudi, sehingga tema-tema pembicaraan berkaitan dengan paham Yudaisme.
f.  Paulus sering memakai cara berpikir zig-zag. Di satu pihak dia menyatakan bahwa Injil membawa keselamatan tanpa hukum Taurat (3:21), di pihak lain ia meneguhkan hukum Taurat (3:31). Cara ini ditempuh karena dia memperhitungkan siapakah jemaat yang sedang dihadapinya. Paulus dengan bebas menggunakan ayat-ayat PL, di luar konteksnya, namun dengan begitu ia justru mampu menonjolkan pesannya secara jelas.
g.  Surat Roma berpengaruh besar terhadap dogma-dogma Kristen, lebih-lebih berkaitan dengan pembenaran cuma-cuma berkat penebusan Kristus. Martin Luther mendasarkan salah satu ajaran pokoknya, yaitu tentang pembenaran oleh iman, dari surat Paulus kepada jemaat di Roma ini.

4. Jenis sastra dari surat Roma

     Karena Paulus tidak dapat hadir di Roma, maka ia berkomunikasi dengan jemaat di Roma lebih dahulu lewat surat. Surat Roma memiliki struktur yang sama dengan surat-surat lainnya: pengantar (1:1-7), ucapan syukur (1:8-17); bagian pokok (1:18-11:36); parenesis (12:1-15:13); narasi perjalanan misi (15:14-32); penutup panjang (15:33-16:27). Sebagai surat, surat Roma lebih panjang dari surat-suratnya yang lain. Isinya bersifat didaktis, mirip dengan dokumen publik yang resmi. Dapat dikatakan bahwa surat Roma lebih mirip sebuah surat-esei.
     Struktur retorik dari surat Paulus kepada jemaat di Roma menunjukkan ciri epideictic, yaitu suatu retorika yang sifatnya demonstratif. Kata Yunani epideixis artinya menunjukkan atau memamerkan. Tipe persuasif dari retorika ini sering dipakai pada pidato penguburan, pidato politik, pidato yang mengawali suatu pesta atau pertandingan olah raga. Yang dituju dengan gaya ini adalah mengangkat perasaan publik (audiens) dengan cara menunjukkan keutamaan-keutamaan dari para audiens. Retorika epideictic berakar pada encomia, yaitu retorika yang dimaksudkan untuk menghormati seseorang karena kepribadiannya yang mengagumkan.  Dibandingkan dengan surat Galatia, surat Roma tidak terlalu kelihatan defensif dan tidak menunjuk kesalahan-kesalahan jemaat. Dibandingkan dengan 1Korintus, surat Roma tidak memberi perhatian pada persoalan-persoalan praktis di dalam jemaat. Yang menonjol dari surat ini lebih-lebih pengajaran yang bermaksud meneguhkan nilai-nilai iman kepercayaan mereka.
     Jika kita mengamati dengan baik isi suratnya, tampak bahwa Paulus memakai gaya bertutur yang runtut, selangkah-demi selangkah. Dia mulai dengan suatu pernyataan (propositio), kemudian dia menjelaskan pernyataan itu dengan macam-macam bukti dan argumen (probatio). Tema-tema yang dibicarakan Paulus pada garis besranya adalah:
     -    Injil yang diwartakan Paulus: isinya, hasilnya, tujuannya dan siapa yang dituju.
-    Keadilan ilahi: hubungan antara murka Allah dan keadilan-Nya, keadilan dan belas-kasih, keadilan dan pilihan-Nya
-    Eksistensi dan tindakan dari umat beriman, pembenaran terhadap mereka, pembenaran dan moralitas, umat beriman dan perintah dalam hukum Musa.
-    Hukum Musa: gunanya, hubungannya dengan keselamatan, Yesus Kristus dan Hukum Musa.

5.  Tema pokok dari Surat Roma:

     Dalam suratnya, Paulus tampak memperhitungkan hubungan antara orang-orang Yahdui dan bangsa-bangsa lain, baik dalam hal keselamatan maupun dalam situasi konkret jemaat. Tema pokok ini kelihatan tiga bagian dari isi suratnya:
(1)     Dalam Rm 1-8 Paulus menyatakan bahwa baik orang Yahudi mapun bangsa lain mendapatkan keselamatan atas dasar yang sama, yaitu iman akan Yesus. Orang Yahudi tidak mendapatkan manfaat dari Hukum, karena tidak ada manusia akan dibenarkan di hadapan Allah berdasarkan Hukum. Dalam hal ini Paulus membedakan perspektif pandangannya dari pandangan kaum Yahudi-Kristen. Kaum Yahudi-Kristen berbeda pendapat mengenai keharusan orang non-Yahudi (bangsa lain) dalam hal ketaatan pada  Hukum Taurat. Namun, mereka setuju mengatakan bahwa orang Yahudi-Kristen masih perlu melakukan Hukum Taurat. Pola pikir Paulus sungguh kontras dengan pandangan itu. Argumentasi yang diajukannya  membawa kita pada kesimpulan logis bahwa ketaatan pada Hukum Taurat bagi orang Yahudi pun tidak akan membawa keselamatan. Paulus memang tidak keberatan jika orang Yahudi-Kristen masih mempraktekkan Taurat, meskipun menurut sikap tersebut menurut dia merupakan pertanda dari lemahnya iman. Paulus menekankan bahwa ketaatan pada Taurat tidak membawa efek apapun bagi keselamatan. Bagi orang Yahudi maupun bangsa lain hanya ada satu Allah, yaitu Dia yang “akan membenarkan kaum bersunat atas dasar iman dan kaum tak bersunat juga atas dasar iman yang sama” (Rm 3:30). Hukum tidak  membawa keselamatan, tetapi justru membuat manusia mengenal dosa: “justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa” (Rm 7:7).
(2)     Dalam Rm 9-11, tema tentang Yahudi dan bangsa lain dilanjutkan. Paulus mempertanyakan, mengapa bangsa lain menerima Mesias Yahudi, sedangkan kebanyakan orang Yahudi sendiri justru menolaknya? Paulus menyimpulkan bahwa situasi ini adalah bagian rencana penyelamatan oleh Allah bagi kaum Yahudi maupun bangsa lain. Allah telah membuat kaum Yahudi menolak kabar gembira supaya bangsa lain menerimanya, namun dengan cara tertentu Allah akan menyelamatkan bangsa Israel juga. Untuk itu Paulus menasehatkan agar jemaat Kristen non-Yahudi jangan memandang diri mereka lebih dari bangsa Yahudi. Rupanya di balik pernyataan Paulus ini ada kasus di mana kaum Yahudi direndahkan karena telah menolak Kristus dan karya penyelamatan-Nya.
(3)     Tema tentang Yahudi dan bangsa lain terjadi lagi dalam Rm 14-15, namun dengan nuansa yang lain. Paulus menganjurkan terjalinnya hubungan yang harmonis antara “yang lemah” dan “yang kuat”. Yang disebut sebagai “yang lemah” kemungkinanya adalah orang-orang Yahudi-Kristen yang mengharamkan daging binatang tertentu dan daging yang dipersembahkan kepada dewa-dewi. Banyak yang bahkan mengharamkan anggur. Mereka yang kuat adalah kaum Kristen non-Yahudi dan kaum Yahudi Kristen yang tidak lagi peduli pada pantangan-pantangan tersebut. Apakah persoalan tersebut sungguh terjadi di kalangan jemaat Roma, ataukah Paulus mengadopsinya dari Gereja di daerah lain? Tidak cukup jelas. Meskipun begitu, tujuan utamanya adalah agar jemaat menciptakan relasi yang harmonis satu sama lain, karena Kristus telah menjadi pelayan bagi kaum yahudi maupun non-Yahudi (Rm 15:7-9).

6. Struktur retorik dari Surat Roma

I.  PROLOG (1:1-17)  -    EXORDIUM
A. Salam                                                                       1:1-7
     B. Ucapan syukur                                                             1:8-15
     C. Tema surat - TRANSITIO                                              1:16-17

PROBATIO/CONFIRMATIO (1:18-15:13)

II. PEMBENARAN OLEH IMAN (1:18-4:25)
     A. Kuasa dosa yang universal   1:18-3:32
          1.  Dosa kaum fasik                                                      1:18-32
          2.  Orang Yahudi juga terkena dosa     (2:1-3:8)
              a.  Orang Yahudi dan penghakiman Allah (2:1-16)
                   i.   Kritik terhadap anggapan dari orang Yahudi                   2:1-5
                   ii.  Tidak ada pembedaan bagi penghakiman Allah          2:6-11
                   iii. Penghakiman dan Hukum Taurat                            2:12-16
              b.  Keterbatasan dari perjanjian   (2:17-29)
                   i.   Hukum Taurat                                           2:17-24
                   ii.  Sunat                                                         2:25-29
              c.  Kesetiaan Allah dan penghakiman bagi orang Yahudi              3:1-8
          3.  Semua orang berdosa                                                   3:9-20
     B. Pembenaran oleh Iman (3:21-4:25)
          1.  Pembenaran dan kebenaran Allah                                    3:21-26
          2.  “Hanya oleh Iman” (3:27-4:25)
    
          a.  “Hanya oleh Iman”: Pernyataan awal                          3:27-31
              b.  “Hanya oleh Iman”: Abraham (4:1-25)
                   i.   Iman dan perbuatan                                       4:1-8
                   ii.  Iman dan sunat                                              4:9-12
                   iii. Iman, Janji dan Hukum Taurat                                4:13-22
                   iv. Iman Abraham dan iman Kristiani                          4:23-25
III. HARAPAN AKAN KESELAMATAN (5:1-8:39)
     A. Harapan akan kemuliaan (5:1-21)
          1.  Dari Pembenaran ke Keselamatan                                    5:1-11
          2.  Kuasa Rahmat dan Kehidupan                                         5:12-21
     B. Pembebasan dari belenggu dosa (6:1-23)
          1.  “Mati terhadap dosa” melalui kesatuan dengan Kristus            6:1-14
          2.  Dibebaskan dari kuasa dosa untuk mengabdi Kebenaran              6:15-23


     C. pembebasan dari kuasa hukum Taurat (7:1-25)
          1.  Bebas dari Hukum Taurat, disatukan dengan Kristus               7:1-6
          2.  Kehidupan orang Yahudi di bawah hukum Taurat (7:7-25)
              i.   Datangnya hukum Taurat                                        7:7-12
              ii.  Hidup di bawah hukum Taurat                                    7:13-25
     D. Jaminan hidup kekal di dalam Roh (8:1-30)
          1. Roh Kehidupan                                                       8:1-13
          2.  Roh Keputeraan                                                      8:14-17
          3.  Roh Kemuliaan                                                       8:18-30
     E. Keyakinan Iman                                                       8:31-39
IV.    MEMBELA INJIL (9:1-11:36)
     A. Ketegangan antara janji Allah dan pilihan atas Israel   9:1-5
     B. Tentang janji Allah (9:6-29)
          1.  Israel di dalam Israel                                                    9:6-13
          2.  Kebebasan dan Maksud Allah                                          9:14-23
          3.  Umat Allah yang baru: Yahudi dan non-Yahudi                      9:24-29
     C. Kristus puncak sejarah keselamatan (9:30-10:21)
          1.  Israel, bangsa-bangsa lain, dan kebenaran Allah (9:30-10:13)
              a.  Kebenaran Allah dan Hukum Kebenaran                    9:30-33
              b.  Kebenaran Allah dan “kebenaran mereka sendiri”           10:1-4
              c.  Injil dan hukum Taurat                                       10:5-13
          2.  Ketidsk percayaan Israel                                              10:14-21
     D. Sumarium: Israel yang dipilih dan yang tegar hati                11:1-10
     E. Masa depan Israel (11:11-32)
          1.  Maksud Allah di dalam penolakan dari bangsa Israel               11:11-15
          2.  Hubungan orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain                     11:16-24
          3.  Keselamatan bagi “seluruh Israel”
     F.  Kesimpulan: Puji Tuhan atas rencana-Nya yang tak terselami (11:33-36)
V. PERI LAKU KRISTIANI (12:1-15:13) - EXHORTATIO
     A. Transformasi total                                                 12:1-2
     B. Rendah hati dan saling melayani                                  12:3-8
     C. Kasih dan perwujudannya                                               12:9-21
     D. Pemimpin sekuler dan Pemimpin kristiani                         13:1-7
     E. Kasih dan Hukum Taurat                                            13:8-10
     F.  Menggunakan senjata terang                                        13:11-14
     G. Himbauan agar bersatu                                              14:1-15:13
          1.  Jangan saling menghakimi                                           14:1-12
          2.  Jangan membuat batu sandungan bagi orang lain                      14:13-23
          3.  Utamakan orang lain                                                    15:1-6
          4.  Saling menerima dengan orang lain                                  15:17-13

VI.    PENUTUP    (15:14-16:27) - CONCLUSIO 
     A. Pelayanan Paulus dan rencana perjalanannya (15:14-15:33)
          1.  Menengok ke belakang: Misi Paulus di Timur                      15:14-21
- PERORATIO (15:14-15 - REKAPITULASI PENDAPAT)
          2.  Melihat ke depan: Yerusalem, Roma, Spanyol                     15:22-29
          3.  Mohon doa                                                              15:30-33
     B. Salam (16:1-23)
          1.  Minta perhatian untuk Febe                                         16:1-2
          2.  Salam untuk jemaat kristiani di Roma                              16:3-16
          3.  Peringatan, janji dan mohon kasih karunia                            16:17-20
          4.  Salam dari teman-teman Paulus                                   16:21-23
     C. Doksologi penutup                                                       16:25-27

(1)     Introduksi (1:1-15): Paulus memulai syratnya dengan salam dan menjelaskan pujian dan niatnya untuk mengunjungi jemaat Roma.

(2)     Injil yang diwartakan oleh Paulus (1:16-8:39): Pada pembagian dari pokok surat Roma, Paulus memberikan sejumlah detil mengenai Inil yang diwartakannya. Dia tidak hanya mengulangi pewartaan pokok Injil (tentang wafat, penguburan, kebangkitan Yesus), tetapi juga menjelaskan bagaimana peristiwa Yesus itu begitu penting bagi keselamatan kaum beriman. Paulus ingin menunjukkan bahwa keselamatan tidak datang melalui Hukum tetapi melalui iman akan Kristus. Hukum Taurat tidak membawa manfaat bagi orang Yahudi. Baik kaum Yahudi maupun non Yahudi mempunyai k\peluang yang sama untuk sampai kepada Allah lewat iman dalam Yesus Kristus.

-    Tema pokok (1:16-17): Paulus menyatakan bahwa tema pokok suratnya adalah “kebenaran Allah” yang diperoleh lewat iman. Istilah Yunani “kebenaran” dapat juga berarti “pembenaran”. Sama seperti dalam surat Gakatia, istilah ini datang dari dunia pengadilan berkaitan dengan pembenaran yang diputuskan hakim terhadap terdakwa.

-    Persoalan yang dihadapi manusia (1:18-3:20): Paulus memulai pengajaran Injilnya dengan menggambarkan kondisi maunsia yang butuh diselamatkan, yaitu:
*   Karena jauh dari Allah maka manusia menjadi rapuh dan berdosa (1:18-32). Akibatnya manusia mengalami: kegelapan hati (1:21), tubuh tercemar (1:24), dan pikiran-pikiran terkutuk (1:28). Yang dimaksud dengan “pikiran” di sini identik dengan “hati”.
*   Sebagai akibatnya, baik kaum Yahudi maupun non Yahudi layak mendapat hukuman Allah pada hari penghakiman. Semua orang menjadi subyek pengadilan Allah karena dosa (2:1-3:20). Tidak ada umat manusia (Yahudi maupun bangsa lain) yang tanpa dosa dan semua dosa akan diperhitungkan pada hari penghakiman Allah. Hukum dan sunat tidak akan menolong kaum Yahudi lepas dari hukuman Allah.

-    Solusi atas pengadilan Allah terhadap dosa manusia? (3:21-5:21): Ada dua persoalan pokok, dan Paulus berusaha memberi solusi untuk masing-masing. Pertama, pengadilan Allah terhadap manusia yang berdosa diselesaikan lewat kematian Yesus bagi kaum pendosa. Manusia dibenarkan karena iman dalam Kristus, dengan menerima kematian-Nya sebagai pengganti dirinya. Pembenaran tidak terjadi lewat Hukum.
*   Pembenaran datang melalui darah Yesus (3:21-26)
*   Karena itu orang Yahudi tidak dapat membanggakan Hukum Taurat (3:27-31)
*   Pembenaran karena iman diajarkan oleh Kitab Suci, khususnya pada kisah Abraham (4)
*   Pembenaran membawa pendamaian, pemulihan dari keretakan hubungan dengan Allah (5:1-11)
*   Seperti halnya dosa masuk ke seluruh umat manusia lewat satu orang, yaitu Adam; demikian juga rahmat Allah datang kepada seluruh umat manusia lewat satu orang, yaitu Yesus. Hukum Taurat hanyalah menambah dosa (5:12-21).

-    Solusi terhadap kedosaan yang merusak manusia (6:1-8:17): Paulus selanjutnya berbicara mengenai solusi terhadap rusaknya manusia akibat kedosaan. Allah bukan hanya mengampuni para pendosa dan membiarkan manusia terus berkubang di dalam kecenderungan pada dosa. Allah bermaksud merubah situasi dan kondisi manusia agar terbebas dari kecenderungannya pada dosa. Paulus menyebut kecenderungan tersebut sebagai “kuasa dosa” (hamartia) yang tinggal di dalam daging dan membelenggu jiwa manusia. Kuasa dosa dihancurkan dengan partisipasi umat beriman pada wafat dan kebangkitan Yesus lewat baptisan, dengan mati terhadap dosa tetapi hidup bagi Allah,  dengan menerima Roh Kudus serta mengarahkan pikiran pada hal-hal dari Roh dan bukan kepada daging.
*   Baptis menyimbolkan partisipasi dalam kematian, penguburan dan kebangkitan Kristus. Melalui baptisan, manusia beriman mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah (6).
*   Jika seorang suami mati, maka dia tidak lagi berkuasa atas isterinya. Demikian juga jika orang telah mati terhadap dosa, hukum dosa tidak lagi berkuasa atas dirinya (7:1-6).
*   Hukum Taurat dan perintahnya adalah kudus dan baik, tetapi ternyata memberi kesempatan pada kuasa dosa yang tinggal di dalam tubuh manusia untuk menjadikan akal budi manusia sebagai tawanannya (7:7-25).
*   Jika seorang menerima Roh Kudus, pikirannya dikuasai oleh Roh dan bukan oleh daging (8:1-17).
*   Keselamatan saat ini akan disempurnakan di masa depan. Tidak ada yang dapat memisahkan umat beriman dari kasih Allah (8:18-39).

(3)     Tempat Israel di dalam rencana Allah (9-11): Pada bagian kedua ini Paulus menghadapi persoalan yang sama dengan apa yang dikisahkan dalam Kisah Para Rasul, yaitu penolakan bangsa Yahudi terhadap pewartaan Injil. Jika Yesus adalah Mesias yang dijanjikan kepada bangsa Israel, mengapa kebanyakan bangsa Israel menolak-Nya? Pulus mrnyimpulkan bahwa Allah memang telah mengeraskan hati orang-orang Yahudi sehingga mereka tidak mau menerima Injil. Mungkin tindakan Allah terkesan tidak fair. Namun, Paulus beranggapan bahwa Allah pasti punya alasan untuk mengeraskan hati umat Israel agar kemudian Dia dapat merestorasinya.

-    Mengeraskan hati Israel (9-10): Paulus sedih bahwa bangsanya telah menolak Injil (9:1-5), namun dia yakin bahwa janji Allah kepada Abraham tidak akan pernah gagal. Israel sejati menurut Paulus adalah mereka yang menjadi anak-anak Abraham melalui iman dalam Yesus (9:6-13). Israel yang rohani ini telah menerima janji-janji tersebut, lebih daripada Israel fisik (bangsa Israel). Apakah dengan demikian Allah berlaku tidak adil terhadap bangsa Israel? Paulus berkata “tidak”, karena Allah mempunyai kewenangan untuk menunjukkan kasih kepada yang dikehendaki-Nya atau sebaliknya mengeraskan hati mereka yang dikehendaki-Nya (9:14-18). Allah bagaikan tukang periuk yang mempunyai kewenangan untuk membuat periuk seperti yang dikehendaki-Nya (9:19-29). Agak unik bahwa Paulus kemudian mengalihkan sebab musabab “pengerasan hati” dari kewenangan Allah menjadi kesalahan bangsa Yahudi. Manurut Paulus, bangsa Yahudi  telah melakukan kesalahan dengan mengandalkan pembenaran melalui pelaksanaan Hukum Taurat, bukan melalui iman dalam Yesus Kristus (9:30-10:21).

-    Restorasi Israel (11): Kendati Allah telah mengeraskan hati Israel namun Dia tidak menolak mereka sebagai umat-Nya (11:1a). Sisa Israel yang dipilih berdasarkan karunia Allah telah menerima Injil, walaupun sisa yang lain dikeraskan hatinya (11:1c-10). Selain itu, Israel tersandung bukan agar mereka jatuh, tetapi agar keselamatan sampai juga kepada bangsa-bangsa lain (11:11-16). Akan ada pemulihan bagi bangsa Israel. Mereka bagaikan cabang dari pohon zaitun yang dipotong untuk memberi tempat pada cabang lainnya, yaitu bangsa-bangsa lain., agar dapat dicankokkan. Orang Kristen non-Yahudi janganlah membanggakan diri terhadap cabang-cabang yang pada mulanya telah bersatu secara natural dengan pokoknya, sebab cabang-cabang tersebut masih mungkin dicankokkan lagi (11:17-24). Rencana Allah adalah kebijaksanaan yang tak terselami bagi manusia. Pada kenyataannya, rencana Allah yang terakhir merupakan suatu perwahyuan rahasia bagi Paulus:

”25 Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. 26 Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: "Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. 27 Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka." 28 Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang. 29 Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya. 30 Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka, 31 demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh kemurahan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh kemurahan. 32 Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua.” (11:15-32).


(4)     Pengajaran tentang hidup baru di dalam Kristus (12:1-15:13)

     Pada bagian ini Paulus menggambarkan kehidupan baru yang hendaknya membentuk karakter seorang yang telah mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah.
-    Hidup yang dipersembahkan dan pembaharuan budi (12:1-2): Paul memulai penjelasannya dengan merujuk ke tema utama Injil yang diwartakannya, yaitu berkenaan dengan keselamatan badan dan budi (nous). Tubuh menjadi seuatu persembahan yang hidup dengan disalibkan terhadap dosa dan dibangkitkan bagi kehidupan baru dengan Kristus. Budi manusia diperbaharui di dalam Roh dan bukan di dalam daging.

-    Bermacam-macam pengajaran (12:3-13:14): Paulus memberipengajaran mengenai berbagai aspek dari kehidupan baru di dalam Kristus. Dia menasieati agar para pembacanya memiliki kerendahan hati di dalam menjalankan tugasnya sebagai anggota tubuh Kristus (12:3-8); di dalam mengikuti berbagai nasehat (12:9-21); tunduk pada pemimpin yang ditunjuk (13:1-7); saling mengasihi (13:8-10); dan hidup sebagai anak-anak terang (13:11-14).

-    Yang lemah dan yang kuat (14:1-15:13): Paulus memberi perhatian khusus pada mereka yang dianggap “lemah dalam iman” (14:1), yaitu mereka percaya adanya makanan tertentu yang dianggap najis dan adanya hari-hari tertentu yang dianggap khusus. Mereka yang kuat mempunyai pengetahuan yang lebih daripada yang lemah.Sejumlah ahli menganggap pembedaan berkaitan dengan anggota jemaat yang berbangsa Yahudi dan non-Yahudi. Rupanya pembedaan itu masih cukup terasakan di tengah jemaat Galatia, sejauh pemahaman Paulus. Oleh karena itu, baik anggota yang dianggap lemah maupun yang dianggap kuat hendaknya dapat hidup bersama. Mereka janganlah menghakimi saudara seiman (14:1-12) atau membuat menjadi sandungan bagi yang lain (14:13-15:6), tetapi bersedia saling menerima seperti Kristus menerima mereka semua (15:7-13).

(5)     Kesimpulan (15:14-16:27)

-    Rencana di masa depan (15:14-33): Paulus mengakhiri suratnya dengan pernyataan yang sifatnya lebih personal, yaitu menceritakan rencana-rencananya dan meminta doa-doa dari jemaat di Roma.

-    Mengenai Efesus (16:1-20): Paulus memperkenalkan Febe, seorang diakon wanita dari Kengkrea (16:1-2). Ada kemungkinan dia adalah seorang wanita yang membawa surat kepada jemaat di Efesus. Kengkrea adalah sebuah kota dekat Korintus. Paulus melewatkan musim dingin di wailayah tersebut untuk menulis suratnya. Kemudian dia memberi salam kepada banyak teman dan rekan kerjanya di Efesus (16:3-16), mengingatkan mereka untuk melawan pengajaran-pengajaran yang menyeleweng dari apa yang telah dia ajarkan (16:16:17-20a). dan mengakhirinya dengan berkat (16:20b).

-    Salam dari para rekan kerjanya (16:21-23):  Berupa salam yang sifatnya umum, dari rekan-rekan sekerjanya. Tampaknya salam ini lebih tepat dikatakan di dalam surat kepada jemaat di Roma daripada kepada jemaat di Efesus.

-    Doksologi (16:25-27): Ada kemungkinan doksologi adalah bagian dari surat versi yang pendek, yang berakhir pada bab 14.















3. SURAT PAULUS KEPADA JEMAAT KORINTUS

     Kita tidak dapat mengabaikan pentingnya surat Paulus kepada jemaat di Korintus atas beberapa alasan. Surat Korintus merekam dengan bagus perkembangan jemaat kristen perdana di wilayah diaspora. Surat-surat ini juga memberikan gambaran persoalan-persoalan sehari-hari yang dihadapi oleh jemaat perdana dan para tokoh pendirinya. Selain itu, sebagai tulisan yang berisi pembicaraan antara rasul dengan jemaatnya tentu menjadi penting sebagai sumber awal pengajaran kristiani.

A. Kota Korintus

     Kota Korintus pada abad pertama adalah ibu kota dari propinsi Akhaya, bagian dari  kekaisaran Roma (bdk. 2Kor 1:1) yang dibangun kembali pada masa pemerintahan Yulius Caesar (44 sM). Kota Korintus kuno yang dibangun pada tahun 146 sM telah diratakan dengan tanah. Setelah dibangun kembali, kaisar Roma menempatkan para veteran perang Roma dan bekas budak-budaknya di Korintus. Penduduk Korintus pada waktu itu diperkirakan ada 600.000 jiwa, sebagian besar (400.000) adalah budak, buruh, tukang, pedagang kecil. Kebudayaan yang dominan adalah Yunani bercampur dengan macam-macam kebudayaan Timur. Jurang kaya-miskin cukup mencolok. Hanya sedikit saja orang kaya yang sekaligus mempunyai kekuasaan, selebihnya adalah kaum miskin. Sesuai dengan masayarakatnya yang majemuk, di Korintus berkembang macam-macam agama dan aliran kepercayaan. Orang-orang Korintus terbuka pada pengaruh-pengaruh asing.
     Pada zaman Paulus, Korintus merupakan kota perdagangan yang penting dengan dua pelabuhan yang terkenal yaitu Kengkrea (pantai Timur) dan Lekhaion (pantai Barat). Posisinya yang menghubungkan laut Aegea dan Adriatik memberi keuntungan bagi Korintus sebagai lalu lintas perdagangan darat dan laut, juga menghubungkan jalur Yunani Utara dengan Yunani Selatan. Sebagian terbesar perdagangan timur-barat di Laut Tengah melintas lewat Korintus. Tidak heran jika kota Korintus menarik perhatian para pedagang, pelancong dan pelaut dari wilayah sekitar laut Mediteran (laut Tengah). Penelitian arkeologis menunjukkan adanya pasar yang besar dengan banyak toko, saluran air panas dan dingin, sejumlah kuil para dewa (Apolo, Poseidon, Demetrios, Asclepius), sebuah gedung drama, tempat bermain gimnastik, gedung pengadilan. Penggalian di lokasi kuil-kuil menunjukkan adanya praktek ibadat perjamuan dan korban dalam agama Yunani-Romawi di masa lalu. Di temukan juga bekas sinagoga Yahudi yang membuktikan kehadiran bangsa Yahudi di Korintus (bdk. Kis 18).
     Korintus adalah salah satu kota yang paling bejat di jaman dahulu. Praktek pelacuran merajalela. Di tempat ketinggian di kota itu berdirilah kenisah untuk dewi Aphrodite, dengan tak kurang dari seribu imam wanita yang menjalankan pelacuran sakral. Bersetubuh dengan salah satu dari antara mereka termasuk ibadah atau perbuatan suci. Karena itu, wanita-wanita kuil itu pada malam hari pergi ke kota dan melaksanakan perbuatan itu di sana. Menurut sejahrawan bernama Strabo, ungkapan 'perempuan Korintus' pada waktu itu merupakan ungkapan Yunani yang sama artinya dengan pelacur. Kata kerja bahasa Yunani korinthiazesthai berarti menjadi calon pelacur, melacur atau juga menjadi pelacur. Situasi moral pada umumnya itu rupanya membawa dampak pada jemaat kristen. Kata Corinthian masuk ke dalam perbendaharaan bahasa lnggris dan diartikan sebagai pemborosan duit dan pesta pora resmi.
    
B. Jemaat Korintus

     Informasi mengenai berdirinya jemaat Korintus hanya sedikit saja ditemukan di dalam PB, yaitu pada surat 1Kor dan Kisah Rasul. Menurut Kisah rasul, kunjungan Paulus yang pertama ke Korintus terjadi setelah dia meninggalkan Athena (Kis 18:1-17). Rekan kerjanya, yaitu Timotius dan Silwanus bergabung bersama dia di Korintus. Di sana dia juga menjumpai Priska dan Akwila, suami-isteri Yahudi, yang melarikan diri dari Roma karena pengusiran yang dilakukan oleh Claudius terhadap bangsa Yahudi. Ketika tiba di Korintus, Paulus bekerja bersama Priskila dan Akwila (Kis 18:1-3; 1Kor 16:19) sebagai pembuat tenda. Setelah berdebat di sinagoga (Kis 18:4), Paulus mewartakan Injil di kalangan bangsa lain, tinggal bersama Titius Yustus (Kis 18:7). Pada waktu itu Paulus membaptis Krispus, seorang kepala sinagoga (Kis 18:8; 1Kor 1:14); Sostenes (1Kor 1:1); ada kemungkinan juga kepala sinagoga yang dikisahkan pada Kis 18:17; Erastus, seorang bendahara kota (Rm 16:23).
     Keluarga Stefanus (1Kor 1:16; 16:15) dan Kloe (1:11) juga dipertobatkan oleh Paulus dan kemudian menjadi anggota jemaat lokal. Nama-nama lain yang disebut sebagai anggota jemaat Korintus tertulis dalam 1Kor 16:17 (Fortunatus dan Akhaikus), Rm 16 (Yason, Lucius, Febe, Tertius, Quartus, Sosipater). Kebanyakan dari mereka memakai nama Romawi dan dapat diduga berasal dari kalangan atas dalam masyarakat (bdk. 1Kor 10:27; 11:17-34). Meskipun begitu, kebanyakan dari jemaat Korintus berasal dari kalangan bawah (1Kor 1:26-29).
     Jemaat di Korintus, seperti jemaat kristiani di wilayah lain, memanfaatkan rumah keluarga sebagai tempat beribadat (gereja rumah, Rm 16:23; 1Kor 16:29). Kemungkinannya rumah yang dipakai adalah milik anggota jemaat yang kaya, yang biasanya mempunyai rumah cukup besar. Dalam 1Kor kesan tentang adanya gereja-rumah ini tampak pada  saat perjamuan Agape yang biasa mengawali Perjamuan Tuhan (1Kor 11:17-34). Keanekaragaman anggota jemaat tampak ketika terjadi ketegangan antara kelas atas dan kelas bawah, anggota yang kuat dan yang lemah, Yahudi dan non-Yahudi, penggunaan karunia-karunia rohani (1Kor 12-14). Sikap dalam menghadapi agama/ kepercayaan lain diperlihatkan pada nasihat Paulus tentang kasus makan makanan yang disediakan bagi dewa-dewi (1Kor 8; 10:14-11:1). Rupanya Paulus menganggap sesuatu yang serius adanya kecenderungan di dalam jemaat Korintus membedakan golongan-golongan di antara mereka menurut  siapa yang mereka ikuti (Apolos, Kefas, Paulus, bahkan Kristus; bdk. 1Kor 1:10-15).
     Dari surat-surat Paulus dapat ditafsirkan bahwa kebanyakan anggota jemaat di Korintus berasal dari kalangan non-Yahudi (bdk. 1Kor 12:2). Meskipun ada juga sejumlah orang Yahudi, tetapi pengaruh mereka tidak besar (1Kor 7:18; bdk Kis 18:4). Sejumlah orang Kristen kaya berasal dari kalangan atas (1Kor 11:21-22) yang menyediakan rumahnya yang besar untuk menampung seluruh jemaat pada kesempatan pesta. Agaknya Paulus pernah memberitakan Injil di Korintus sekitar tahun 41 M, ketika ia belum lama menjadi Kristen (th 33 M). Ia memberitakan Injil sekaligus mendirikan jemaat di Korintus (bdk 1Kor 3:8; 4:15). Sekitar tahun 51 M barulah Paulus kembali ke Korintus dalam jangka waktu yang agak lama. Selama sepuluh tahun (th 41-51) jemaat Korintus menempuh perkembangan sendiri tanpa pengawasan Paulus. Rupanya Paulus belum berpikir untuk mendirikan sebuah jemaat yang harus mampu mengatur diri.
     Garis besar sejarah jemaat Korintus diberikan dalam Kis 18. Sekitar th 51 M Paulus bergerak sendirian, dari Makedonia melalui daerah Atena lalu ke Korintus. Ia tinggal bersama satu keluarga Yahudi, Akwila dan Priskila, yang barangkali telah menjadi Kristen dan belum lama diusir dari Roma. Jadi jemaat Korintus yang pertama lahir di rumah tangga Akwila. Paulus punya kebiasaan berkotbah di sinagoga tentang Yesus sebagai Mesias, untuk mempertobatkan orang Yahudi dan masyarakat non-Yahudi (proselit). Suatu tambahan tenaga bagi golongan Kristen diperoleh berkat kedatangan Silas dan Timotius, dengan berita baik dari Makedonia (bdk 1Tes 3:16). Keadaan ini menambah kekuatan baru pada pemberitaan Paulus. Timbullah perlawanan yang kuat dari masyarakat Yahudi, yang mengakibatkan Paulus terpisah dari kelompok sinagoga.
     Sejak itu pelayanan Paulus di Korintus terutama ditujukan kepada masyarakat non-Yahudi. Pusat kegiatan Paulus yang pertama berdampingan dengan sinagoga Yahudi, yaitu di rumah seorang non-Yahudi yang bernama Titius Yustus. Agaknya, seperti yang terjadi di tempat-tempat lain, masyarakat non-Yahudi yang takut akan Allah (proselit) sebagai satu keseluruhan terbuka menerima Injil. Demikian juga halnya dengan beberapa orang Yahudi asli, termasuk pejabat tinggi sinagoga bernama Krispus (bdk 1Kor 1:14), yang agaknya diikuti oleh teman sekerjanya atau penggantinya yang bernama Sostenes. Pada suatu kali orang-orang Yahudi menghadapkan Paulus di meja pengadilan wali negeri, akan tetapi  Galio memutuskan bahwa perselisihan itu di luar kekuasaan hukumnya. Dengan begitu untuk sementara waktu tidak ada yang perlu ditakuti dari penguasa sipil maupun orang Yahudi.
     Menurut Kis 18:11, Paulus berada di Korintus lebih lama dari biasanya, yaitu hingga 18 bulan. Dia kemudian meninggalkan Korintus dengan membawa  Akwila dan Priskila bersamanya. Di Efesus kedua orang ini sangat berperan membantu seorang pewarta Kristen lainnya, yaitu Apolos. Paulus kemudian meninggalkan Akwila dan Priskila di Efesus, dan kembali ke Antiokhia. Sementara Paulus tidak di Korintus, datanglah seorang pewarta bernama Apolos. Rupanya karya Apostolos did Korintus amat bagus, sehingga dia memperoleh banyak pengikut. Dalam Kis 18:24-28 dikatakan bahwa Apolos adalah seorang Yahudi-Kristen yang berasal dari Alexandria, pusat studi helenisme dan kebijaksanaan Timur dekat. Beberapa pembicaraan Paulus tentang kebijaksanaan manusiawi dan ilahi dapat ditafsirkan sebagai ajaran yang sifatnya mengoreksi orang-orang Korintus yang tertarik pada Apolos karena keahliannya berbicara, pengetahuannya mengenai helenisme dan kebijaksanaan kuno. Kendati begitu, tampak bahwa Paulus menghargai pelayanan misi yang dilakukan oleh Apolos (1Kor 3:5-9.21-23; 16:21), seperti dikatakannya pada 1Kor 3:6: “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.”
     Apolos melihat adanya pertobatan ditengah-tengah masyarakat Yahudi (Kis 18:28). Banyak pengajar lain yang mengikutinya. Selain itu ada kelompok Kefas di Korintus (1Kor l:12). Tidak harus diartikan bahwa rasul Petrus atau Kefas sendiri telah mengunjungi Korintus, tapi mungkin kelompok itu dibentuk oleh pengajar-pengajar Yahudi dari jemaat-jemaat yang lebih tua. Memang, rasul-rasul palsu yang begitu keras ditentang dalam 2 Kor 11 ialah orang-orang Yahudi (bdk ay 22). Korintus tidak kekurangan “pendidik dalam Kristus” (l Kor 4: 15).
     Paulus mengatakan bahwa jemaat Korintus kaya dalam segala hal (1 Kor 1:5 dst). Mereka sangat gembira atas karunia-karunia yang menakjubkan, khususnya berbahasa lidah, dan memperkenankan orang menggemarinya tanpa batas (1 Kor 12; 13:1.8; 14:2 dst). Sikap ini rupanya telah memberi angin kepada penggolongan, kecongkakan, kepuasan diri yang menimbulkan kekacauan.

C. Berapakah surat yang dikirim Paulus kepada jemaat di Korintus?

     Kedua surat kepada jemaat di Korintus yang kita punya ditulis oleh Paulus ketika ia berada di Efesus. Dari tahun 49-51 Paulus tinggal di Efesus dan kemudian ia mendengar kabar tentang jemaat di Korintus beserta permasalahannya. Kabar-kabar tersebut tidak terlalu menggembirakan, antara lain soal percabulan yang dianggap oleh jemaat Korintus sebagai perkara sepele. Oleh karena itu sekitar th 49 Paulus mengirim surat kepada jemaat di Korintus untuk membicarakan soal itu dan sejumlah soal lainnya (bdk 1Kor 5:9-11). Surat ini tidak tersimpan dalam kanon PB. Mungkin surat tersebut kurang ditanggapi dengan baik oleh jemaat. Oleh karena itu dalam 1Kor 6:2-20 soal itu dibicarakan lagi oleh Paulus. Ada kemungkinan jemaat Korintus menanggapi surat itu dan mengirimnya kepada Paulus di Efesus. Surat tersebut berisi sejumlah perkara yang merepotkan jemaat (1Kor 7:1). Mengenai perkara tersebut, sebenarnya Paulus juga sudah mendengarnya dari keluarga Klöe (1Kor 1:11). Paulus kemudian menulis sepucuk surat lagi sebagai tanggapannya. Surat Paulus inilah yang kita punyai dalam kanon PB sebagai surat pertama kepada jemaat di Korintus. Ketika surat tersebut masih di perjalanan, Paulus mengutus Timotius ke Korintus (1Kor 4:17) karena khawatir jemaat tidak menanggapi dengan baik suratnya dan Timotius diperlakukan tidak baik (1Kor 16:10-11). Paulus kemudian masih mengutus Titus dan orang lain untuk mengumpulkan kolekte bagi jemaat induk di Yerusalem (2Kor 12:17-18; 8:6). Paulus berencana untuk pergi ke Korintus melewati Makedonia (1Kor 16:5-9).
     Sementara itu muncul sejumlah pengacau di Korintus yang menghasut jemaat agar melawan Paulus (2Kor 11:22-23). Hasutan itu berhasil, dan entah bagaimana Paulus mengetahui gerakan yang terjadi di Korintus itu. Oleh karena itu segera Paulus menyebang dari Efesus ke Korintus (bdk 2Kor 2:1; 12:14; 13:1). Sejumlah umat Korintus tidak menerima Paulus dengan baik, bahkan ada yang menghina Paulus (2Kor 2:5; 7:12). Paulus kemudian kembali ke Efesus lagi dan menulis surat yang ketiga, yang isinya lebih keras dan tegas. Mengenai surat tersebut kita dapat membacanya pada 2 Kor 2:3-4. Surat ketiga ini rupanya tidak tersimpan. Paulus bermaksud sekali lagi pergi ke Korintus (2Kor 1:16), namun terpaksa perjalanan itu ditunda. Sesudah itu ia berangkat menuju Makedonia dan ditunggu oleh Titus di sana (2Kor 2:12-13; 7:5). Yang membawa surat ketiga tersebut ke Korintus adalah Titus. Berita terakhir dari Titus tentang orang Korintus  rupanya menyenangkan Paulus (2Kor 7:6-7, 13-16).
     Di Makedonia, Paulus menulis surat yang keempat sekitar tahun 51. Sesudah itu Paulus pergi ke Korintus dan tinggal di sana selama kurang lebih 2 tahun. Surat Paulus yang keempat inilah yang kita kenal dalam kanon PB sebagai surat Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus. Dengan begitu sedikitnya ada 4 surat yang ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Korintus. Berkat dua surat yang tersimpan di dalam kanon PB (1-2 Kor), kita dapat memperoleh sejumlah informasi mengenai kekristenan pada pertengahan abad pertama Masehi di dunia Yunani-Romawi. Kedua surat itu juga memberi kita wawasan tentang pribadi Paulus, termasuk pikiran dan refleksinya mengenai Yesus Kristus dan karya-Nya serta tentang Gereja Yesus Kristus.
     Inilah salah satu pendapat mengenai jumlah surat Paulus kepada jemaat di Korintus. Yang jelas, secara kanonik saat ini hanya ada 2 surat Paulus kepada jemaat di Korintus. Masing-masing surat berisi tanggapan Paulus terhadap persoalan yang dihadapi jemaat Korintus. Misalnya, dalam surat 1Kor dia menanggapi satu per satu persoalan tersebut dengan ungkapan “sekarang tentang” atau “tentang”;  Yun: Peri. de. (peri de).
     7:1     -    “Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku...”
     7:25: -    “Sekarang tentang para gadis....”
     8:1:    -    “Tentang daging persembahan berhala...”
     12:1: -    “Sekarang tentang karunia-karunia Roh. Aku mau...”
     16:1   -    “Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus..”
     12      -    “Tentang saudara Apolos”

     Ungkapan yang biasa dipakai untuk memulai topik pembicaraan tersebut menunjukkan awal dari tanggapan Paulus terhadap surat-surat yang dikirim oleh jemaat Korintus kepadanya. Namun, beberapa topik pembahasan ternyata tidak memakai formula tersebut di atas. Topik-topik tersebut misalnya berkaitan dengan perpecahan di dalam Gereja (1:10-4:21), percabulan (5:1-6:20), menahan diri dari keinginan jahat (9:24-10:13), penyembahan berhala (10:14-22), menghina perjamuan Tuhan (11:1.17-34), tentang penyangkalan terhadap kebangkitan (15:1-58). Selain itu masih ada dua tema berkaitan dengan peranan kaum perempuan dalam Gereja (1Kor 11:3-16; 14:33b-38).

D. SURAT PAULUS YANG PERTAMA KEPADA JEMAAT DI KORINTUS

1. Struktur retorik surat 1Korintus

Bagian I: Pembelaan diri Paulus terhadap otoritasnya

1.  Epistolary prescript (1:1-3)
Pengirim dan jemaat yang dituju                            1:1-2
          Salam                                                                  1:3
2.  Ucapan syukur                                                                  1:4-9
3.  Propositio                                                                     1:10
4.  Narratio                                                                        1:11-13
5.  Refutatio                                                                      1:14-17
6.  Topik-topik yang dibicarakan (1:18-2:5)
          A. Hikmat Allah dan hikmat manusia                          1:18-30
          B. Relasi Paulus dengan jemaat Korintus                    2:1-5
7.  Argumentatio dan pengembangan topik (2:6-4:21)    
A. Hikmat yang benar menurut Paulus                        2:6-3:4
          B. Tugas Paulus dan para hamba Kristus                     3:5-23
          C. Relasi-relasi Paulus dengan Gereja-gereja Korintus    4:1-13
8.  Peroratio (rekapitulasi argumen)                                  4:14-21 

Bagian II: Tanggapan Paulus terhadap persoalan-persoalan jemaat Korintus

9.  Persoalan tentang imoralitas dan perselisihan (5-6)
          A. Kasus khusus dalam imoralitas seksual                   5:1-8
B. Referensi surat sebelumnya                                     5:9-13
          C. Perselisihan di antara sesama saudara                     6:1-4
          D. Nasehat melawan percabulan                             6:12-20
10.     Jawaban atas surat berisi pertanyaan dari jemaat Korintus kepada Paulus (7:1-16:4)
A. Selibat dan perkawinan                                      7:1-40
          B. Makanan persembahan kepada berhala     (8:1-11:1)
a.  Topik tentang persembahan kepada berhala  8
                   b.  Kehidupan Paulus sebagai teladan                9
                   c.  Pengembangan topik tentang berhala-           10:1-11:1
C. Persoalan tentang kerudung wanita dalam ibadat  11:2-16
D. Persoalan tentang Perjamuan Tuhan                       11:17-34
E. Karunia spiritual kepada jemaat (12:1-14:40)
a.  Kasih sebagai sikap dasariah Gereja              13
                   b.  Karunia bernubuat dan menafsirkan              14:1-40
F.  Kebangkitan Kristus dan dan kebangkitan kita      15
G. Kolekte bagi jemaat di Yerusalem                          16:1-4
11.     Epistolary postscript - conclusio (16:5-24)
A. Rencana misi dan perjalanan Paulus                       16:5-9
B. Peroratio (rekapitulasi argumen)                         16:10-18
C. Salam                                                                  16:19-24
     Struktur retorik ini mengandaikan kedekatan hubungan antara pembelaan diri Paulus (1:10-4:21; 9) dan  nasihat kepada jemaat (5-16, kecuali 9). Paulus pertama-tama ingin membangun dan meneguhkan kembali wibawa kerasulannya sebelum menasihati jemaat berkenaan dengan persoalan-persoalan yang mereka hadapi.Surat 1Kor menyajikan hal-hal penting berkaitan dengan permasalahan sehari-hari dalam jemaat. Di dalamnya kita temukan juga sejumlah tradisi awal, misalnya: kerygma primitif dari iman kristen (15:3-7), perjamuan Tuhan (11:23-25), pandangan apokaliptis (7:29-31; 15:24-28). Dalam 1Kor 16 dikatakan juga ajaran tentang persekutuan antar Gereja, yaitu pengumpulan bantuan bagi jemaat Yerusalem seperti yang disinggung dalam 2Kor 8-9 dan Rm 16.
     Retorika dari Paulus kita kenal dari sejumlah gaya bicaranya: mengajukan premis dan memberi kesimpulan, memperluas sebuah topik pembicaraan, kiasan dan metafor, seruan dan himbauan, perbandingan dan kontras, pertanyaan retorik, peroratio (epilog berupa kesimpulan dari pokok-pokok pembicaraan yang penting).

2. Masalah-masalah yang dibicarakan:

1.  Perpecahan di dalam jemaat (lKor 1:10-11; 3:3-15)
Gereja Korintus terpecah ke dalam beberapa golongan, masing-masing menyebut pemimpin mereka. Ada yang mengatakan bahwa Apolos pemimpin mereka, yang lain Petrus, yang lain lagi Paulus. Apolos dianggap sebagai seorang pewarta Injil yang berpengetahuan dan pandai bicara, berasal dari Aleksandria (Kis 18:24). Orang-orang Korintus yang mengakui dia sebagai pemimpin pasti juga dari kalangan cendekiawan. Ada pula tradisi yang mengatakan bahwa Petrus pernah ke Korintus. Mereka yang mengakui Petrus sebagai pemimpin rupanya orang-orang yang dulu bertobat karena pewartaan Petrus (Kefas). Tidak ada cukup bukti tentang kunjungan Kefas (Petrus) ke Krointus. Yang mengakui Paulus sebagai pemimpin tentulah anggota jemaat dari kalangan Kristen liberal.  Dalam 1Kor 3:6-9 Paulus berkata: “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.”
Sedangkan dalan 1Kor 1:12-13 dikatakan: “Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus. Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?” Paulus ingin mengatakan bahwa di dalam Kristus semua anggota jemaat adalah satu. Kita semua milik Kristus.

2.  Keangkuhan intelektual (lKor 1:17.20-25; 2:1-5.10-16; 3:18-23).
Paulus mewartakan Injil di Korintus setelah meninggalkan Atena (Kis 18:1). Dia Atena, tepatnya di hadapan sidang Areopagus, Paulus menyampaikan kotbah filosofis mengenai kebesaran Allah dan eksistensi manusia. Namun, dia gagal mempertobatkan Paulus sidang Areopagus ketika berbicara mengenai kebangkitan orang mati (Kis 17:22-34). Bukan mustahil bahwa pengalaman kegagalan itu membuat Paulus berbicara mengenai hikmat Allah yang dianggap sebagai batu sandungan bagi orang Yahudi, kebodohan bagi orang Yunani yang lebih suka mencari hikmat (1Kor 1:19-25). Oleh karena itu di Korintus Paulus sudah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa yang lain selain Yesus Kristus, yaitu Yesus Kristus yang disalibkan (1Kor 2:2). Di Korintus Paulus lebih suka berbicara tentang wahyu Allah dalam diri Yesus Kristus, daripada tentang akal budi manusia.

3.  Dosa percabulan (1Kor 5)
Paulus menanggapi juga soal percabulan, antara lain tentang seorang laki-laki yang kawin dengan ibu tirinya (isteri ayahnya), tetapi tidak ada reaksi dari jemaat. Telah dikatakan bahwa kemurnian betul-betul satu kebajikan Kristen yang baru, yang dibawa ke dalam dunia. Orang-orang Kristen Korintus harus dapat memberi kesaksian suatu kehidupan bermoral di tengah masyarakat Korintus. Jangan sampai iman mereka yang belum lama mereka hayati itu dicemarkan. Paulus dalam hal ini berbicara mengenai percabulan yang terjadi di dalam jemaat, bukan percabulan di masyarakat Korintus umumnya. Hendaknya jemaat jangan bergaul dengan kaum cabul tanpa harus menghakimi mereka. Biarlah Allah sendiri yang menjadi hakim atas mereka.
4.  Masalah penyelesaian perkara (1Kor 6:1-8)
Paulus keberatan jika persoalan yang terjadi di antara anggota jemaat sampai dibawa ke pengadilan. Hendaknya jemaat hidup dalam damai. Jika ada persoalan, hendaknya diselesaikan dengan semangat damai di antara anggota jemaat sendiri. Ada kemungkinan bahwa persoalan yang diselesaikan di dalam jemaat dengan semangat damai dan pengampunan tidak akan ada ganti rugi. Paulus tahu itu semua, tetapi bagi Paulus semangat tidak mau rugi itu bukanlah dasar yang baik untuk suatu persaudaraan dalam iman. Dalam 1Kor 6:7 Paulus mengatakan: “Adanya saja perkara di antara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu. Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapakah kamu tidak lebih suka dirugikan?

5.  Tubuh dan jiwa (1Kor 6:9-20)
Di kalangan orang Yunani ada titik tolak pandangan yang mengatakan bahwa materi pada dasarnya jahat. Menurut Plato: “Tubuh adalah penjara bagi jiwa”. Epitectus mengatakan: “Saya adalah jiwa yang malang, dibelenggu menjadi mayat”. Seneca berbicara tentang, “kebiasaan-kebiasaan tubuh yang menjijikkan”. Menurut Paulus, manusia bukanlah jiwa atau badan, tetapi jiwa dan badan. Keduanya telah ditebus oleh Kristus, menjadi milik Allah dan menjadi tempat kediaman Roh. Jiwa dan badan, keduanya adalah milik Kristus. Di dalam 1Kor 6:19-20 Paulus berkata: “Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

6.  Perkawinan dan hubungan seksual (1Kor 7)
Apa yang kita bicarakan dalam nomor-nomor terdahulu, merupakan jawaban Paulus atas soal-soal dan informasi yang dibawa oleh anggota keluarga Klöe. Soal perkawinan dan hidup seksual rupanya ditanyakan lewat surat yang ditulis Korintus sendiri, seperti dikatakan oleh Paulus pada 1Kor 7:1: “Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku.” Paulus memberi konteks ajarannya berkaitan dengan saat parousia yang sudah dekat. Waktu terlalu singkat  (1Kor 7:19), sehingga orang harus menyesuaikan kehidupannya dengan situasi dan kondisi tersebut. Dalam kondisi “waktu yang singkat” ini, perkawinan dapat dilakukan jika orang memang sudah tidak tahan bertarak.  Kedatangan Kristus yang kedua dapat terjadi setiap saat, dan ia menghendaki seluruh perhatian diarahkan pada saat kedatangan Kristus yang kedua ini (lKor 7:32-35). Bukannya perkawinan itu tidak penting, tetapi hendaknya orang lebih memusatkan perkara Tuhan dan mengesampingkan perkara-perkara duniawi. Mengenai perkawinan, pendapat Paulus tertuang dalam Ef 5:22-33, di mana hubungan suami isteri digambarkan seperti Kristus dengan GerejaNya.

7.  Daging persembahan berhala (lKor 8-10)
Seperti kebiasaan korban syukur atau korban nazar di kalangan Yahudi, tidak seluruh daging korban dibakar. Ada bagian tertentu dari daging kurban yang diambil untuk dibakar di altar, bagian lainnya untuk umat dan untuk imam. Umat membuat pesta dengan bagiannya itu. Rupanya pesta di yang sama biasa terjadi di dalam kuil-kuil kafir. Mungkin bagian yang diperuntukkan para imam itu terlalu banyak (jika banyak orang yang mempersembahkan korban), akibatnya banyak daging korban yang dijual di pasar. Karena daging korban itu merupakan bagian dari upacara kafir, ada yang menolak untuk membeli dan memakannya. Akan tetapi, jika ada orang yang menolak makan daging persembahan itu akan muncul anggapan bahwa dia mau memutuskan sama sekali hubungannya dari keakraban sosial. Menurut Paulus, tangan yang telah menyentuh Tubuh Kristus dalam Sakramen tak boleh menyentuh daging persembahan berhala. Seorang yang beriman kuat mungkin berpikir bahwa hal itu tidak apa-apa; tetapi soalnya akan lain bagi mereka yang lemah hati? Dan demi mereka yang lemah itulah, orang-orang yang kuat harus mengalah. Jika orang nekad memakan daging persembahan kepada berhala, dia membuat dosa sandungan. Dalam hal ini, Paulus mengambil sikap: “Apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku” (1Kor 8:13).



8.  Wanita dalam Gereja (1Kor 11:2 -16; 14:34-36)
Ada permasalahan mengenai wanita di dalam ibadat. Apakah mereka harus memakai kerudung atau tidak? Di zaman dahulu, jika seorang wanita pakai kerudung, tak seorangpun yang boleh berbicara dengannya, atau mengganggunya. Kalau ia berjalan tanpa kerudung, wanita itu sebenarnya menyatakan dirinya sebagai wanita bebas, dan setiap pria dapat mendekatinya. Wanita Yunani dari keluarga terhormat biasa menyembunyikan dirinya dari kehidupan umum. Kalau ada pria asing di rumah, ia tidak akan duduk bersama di meja makan. Menurut hukum Yahudi, wanita dianggap mempunyai hak yang terbatas, bahkan mendapat pendidikan pun tidak. Agama Kristen sebenarnya sudah menghapuskan aturan yang terkesan membedakan hak antara pria dan wanita itu, apalagi ada kecenderungan untuk merendahkan atau membatasi kebebasan pihak wanita.Wanita Kristen di kalangan jemaat Korintus rupanya mau menuntut kebebasan di tengah jemaat kristen tersebut, antara lain dengan tidak memakai kerudung. Paulus tidak mau memberi ketegasan mutlak dalam hal ini, tetapi menyerahkannya pada pertimbangan jemaat: “Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?” (1Kor 11:13). Paulus hanya menyerahkannya pada kebijaksanaan setempat. Namun dia mengatakan kepada jemaat Korintus bahwa baginya dan bagi jemaat pada umumnya, tidak ada kebiasaan wanita yang beribadat tanpa memakai kerudung. Mungkin soal ini lebih berkaitan dengan kesopanan dan kebiasaan dalam jemaat, daripada persoalan teologis.

9.  Masalah Perjamuan Tuhan (1Kor 11:17-34)
Pada saat surat ini ditulis, Perjamuan Tuhan merupakan satu bagian dari perjamuan bersama yang disebut Perjamuan Cintakasih (Agape). Perjamuan ini seharusnya merupakan satu kegiatan persaudaraan yang sejati. Sebaliknya, pada waktu itu orang kaya makan kelewat kenyang, orang miskin tetap lapar, dan rasa persaudaraan jadi mandul (1Kor 11:18-22). Akibatnya tampak sekali adanya kesenjangan kaya-miskin. Mengingat perjamuan agape merupakan bagian dari perjamuan Tuhan, maka hendaknya orang melaksanakannya dengan cara yang layak.

l0. Masalah Anugerah Roh (1Kor 12-14)
Gereja bagaikan satu tubuh, kata Paulus. Ada banyak macam anggota tubuh manusia, masing-maing berbeda dalam fungsi, tetapi saling melengkapi. Jemaat hendaknya memperhitungkan perbedaan fungsi di antara anggota Gereja sebagai kesempatan untuk saling melengkapi, dan bukan dijadikan alasan untuk bersaing dan saling merasa diri lebih dari yang lain. Ada bermacam-macam anugerah di dalam Gereja: bernubuat, berkata-kata dengan hikmat, mengadakan mujizat, berbhasa roh, menafsirkan bahasa roh. Namun, Paulus berkata bahwa: “Semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.  Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus” (1Kor 12:11-12).

11. Kebangkitan badan (IKor 15)
Yang menjadi soal bukan bahwa jiwa tak dapat mati (immortalitas jiwa), karena orang Yunani juga percaya akan hal ini, tetapi tentang kebangkitan badan.Yang ingin ditandaskan oleh Paulus ialah bahwa manusia diselamatkan baik jiwa maupun badannya. Pribadi atau orang-perorangan tetap ada, namun tubuh yang bangkit tidak lagi akan menyerupai tubuh sekarang ini (1Kor 15:35-50). Bagaimana persisnya tubuh yang baru sesudah kebangkitan itu? Semuanya kita serahkan kepada kebijaksanaan Allah.

3.  Sejumlah tema pengajaran Paulus dalam surat 1Korintus

1.  Hidup di dalam Kristus (1 Kor. 1:10-4:21)
Untuk menyelesaikan persoalan tentang keretakan di dalam jemaat, Paulus mengajak jemaat merenungkan peristiwa Kristus. Ketika Paulus pertama kali mengunjungi Korintus, Paulus menyatakan bahwa salib Kristus dan kebangkitan-Nya adalah "paling utama" dalam usaha mengerti iman Kristen (1 Kor. 15:3-7; 1:18-25). Ini merupakan satu-satunya dasar bagi orang-orang dari bermacam-macam kebudayaan untuk dapat dipersatukan kembali. Jika Paulus, Apolos atau Kefas melakukan pewartaan dalam nama mereka sendiri, tidak akan ada artinya. Jadi Paulus mengulangi berita pokoknya sebagai jawaban terhadap masalah-masalah di jemaat Korintus: "Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus" (1 Kor. 3:11). Setelah menjelaskan titik-tolaknya sendiri, Paulus melanjutkan dengan meninjau beberapa masalah khusus di jemaat Korintus; masalah-masalah yang berkaitan dengan sikap mereka terhadap kebiasaan-kebiasaan bukan-Kristen, dan sikap mereka satu terhadap yang lainnya di dalam pertemuan-pertemuan jemaat.

2.  Hidup di dalam dunia (1 Kor. 5:1-11:1) .
Walaupun orang-orang Kristen menikmati hak-hak istimewa yang baru di dalam Kristus, pada kenyataannya mereka masih harus hidup di dalam dunia bukan-Kristen. Paulus menyebut tiga perkara khusus yang telah disampaikan jemaat Korintus kepadanya:
-    Kebejatan moral: Salah satu hal yang benar-benar membuatnya khawatir adalah laporan tentang adanya percabulan di antara jemaat (1 Kor. 5:1). Paulus bukanlah tipe orang yang akan mengambil tindakan keras terhadap orang-orang yang tidak setuju dengannya. Namun perilaku seperti ini begitu buruk, sehingga Paulus merasa tidak mempunyai alternatif selain menyuruh anggota-anggota jemaat agar tidak berhubungan dengan orang yang bersangkutan sampai ia bertobat dari dosanya. Ia berkata kepada mereka: "Bilamana kita berkumpul dalam roh, kamu bersama-sama dengan aku, dengan kuasa Yesus, Tuhan kita, orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan" (1 Kor. 5:4-5). Beberapa bagian dari perintah ini sulit kita mengerti. Tetapi pokok utamanya jelas, dosa jenis ini begitu berat sehingga harus dibinasakan. Orang yang bersangkutan harus keluar dari persekutuan Kristen - dan masa depan rohaninya yang terakhir bukan lagi urusan jemaat setempat tetapi akan diungkapkan "pada hari Tuhan".
     -    Kemerdekaan: Sekali lagi Paulus menekankan bahwa kemerdekaan dalam Kristus tidak berarti kebebasan untuk berbuat cabul (1 Kor. 6:12-20). Orang-orang Kristen tidak bebas untuk berbuat sesuka hatinya, melainkan bebas untuk melayani Allah, sebab mereka milik-Nya (ayat 19-20).
-    Perkawinan : Salah satu pertanyaan yang diajukan orang-orang Korintus kepada Paulus juga berkaitan dengan perkawinan dan perceraian (1 Kor. 7:1-40). Di dalam menjawabnya, Paulus mengizinkan orang Kristen untuk menikah (ayat 1-9), walaupun ia sendiri tidak menikah dan “alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku” (ayat 7). Ia melarang perceraian (ayat 10-11), kecuali bila seorang pasangan kafir meninggalkan seorang Kristen (ayat 12-16). Ia menganjurkan supaya orang-orang Kristen di Korintus tetap tinggal dalam keadaannya yang sekarang, apakah keadaan menikah atau tidak menikah (ayat 17-24), walaupun ia menyatakan keadaan tidak menikah sebagai keadaan yang lebih baik (ayat 25-40).

3.  Orang Kristen berhadapan dengan hukum masyarakat:
Hal lain yang merisaukan Paulus adalah begitu mudahnya orang Kristen Korintus membawa persoalan yang terjadi di antara mereka ke pengadilan. Paulus mengutuk kelakuan ini dengan tegas. Pertama-tama, tidak masuk akal bahwa orang Kristen, yang menyatakan mereka bersekutu sebagai saudara, harus pergi ke pengadilan kafir. Kalau terjadi pertengkaran di dalam sebuah keluarga, tidak perlu pergi ke pengadilan, karena pasti ada anggota persekutuan jemaat yang mampu menyelesaikan perkaranya (1Kor. 6:1-6). Adanya pertengkaran-pertengkaran sangat merisaukan Paulus.

4.  Paulus membahas persoalan makan daging haram (1Korintus 8:1-11:1):
Ada empat pokok berkaitan dengan persoalan ini:
-    Orang Kristen bebas makan makanan yang dipersembahkan kepada dewa-dewa kafir, oleh karena dewa-dewa tersebut toh tidak ada. Tetapi orang Kristen yang mengerti hal ini harus juga mempunyai kepedulian terhadap orang~orang yang mempunyai pandangan lain. Jadi orang Kristen yang “berpengetahuan” kadang-kadang harus rela melepaskan kebebasannya untuk makan makanan yang dibeli dari kuil-kuil kafir demi tenggang rasa bagi orang lain (1 Kor. 8:1-13).
-    Paulus sendiri pernah melakukan konsesi seperti ini dalam bidang lain. Sebagai rasul Allah, Paulus berhak ditunjang oleh umat Allah: “Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu” (1Kor. 9:14). Paulus melepaskan haknya untuk ditunjang dengan cara itu, dan melakukan disiplin diri sendiri (1Kor. 9:1-27). Ia bersedia menempatkan dirinya di bawah pembatasan-pembatasan agar beritanya dapat diterima oleh berbagai macam orang: "Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang" (ayat 19).
-    Orang-orang Kristen juga harus sadar ada bahaya nyata bila ikut serta dalam pesta-pesta kafir (1Kor 10:1-22). Beberapa orang Kristen di Korintus beranggapan bahwa sakramen-sakramen memberikan semacam kekebalan magis terhadap upacara-upacara agama kafir, sehingga mereka dapat ikut serta dalam upacara kafir tersebut tanpa benar-benar terlibat secara rohani. Paulus menunjukkan dari sejarah bangsa Israel bahwa hal itu tidak benar. Tidak mungkin ikut serta dalam Perjamuan Kudus pada suatu hari, dan menghadiri pesta kafir bari berikutnya dan luput dari akibatnya.
-    Prinsip umum yang harus diikuti di dalam mencapai keputusan praktis tentang persoalan-persoalan etis ini adalah agar jangan melakukan sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain tersandung - walaupun hal-hal tersebut pada dirinya sendiri tidak salah - melainkan supaya melakukan "semuanya itu untuk kemuliaan Allah" (1Kor. 10:23-11:1).

5.  Ibadah  jemaat (1 Kor. 11:2-14:40):
Sewaktu jemaat di Korintus bertemu untuk beribadah, dengan mencoba melakukan apa yang diajarkan Paulus kepada mereka, tiga kesulitan praktis timbul:
-    Kemerdekaan di dalam ibadah: Paulus mengizinkan wanita untuk memainkan peranan penuh dalam pelayanan Kristen, berbeda dengan kebiasaan Yahudi. Ia telah meneruskan tradisi-tradisi tentang hal itu kepada jemaat Korintus (1 Kor. 11:2) dan ajarannya ini dituruti oleh anggota-anggota jemaat. Namun mereka menyalahartikan sifat kemerdekaan Kristen. Menurut kebiasaan sosial yang berlaku masa itu, wanita yang sopan hanya muncul di depan umum dengan kepaIa yang bertudung. Tetapi orang-orang Kristen di Korintus berpendapat, orang Kristen dibebaskan dari kebiasaan umum masyarakat, dan dapat menyatakan kebebasan itu di hadapan Allah daIam jemaat. Jika wanita-wanita yang mengambil peranan penting dalam kebaktian tidak bertudung, berarti mereka berani melakukan sesuatu di hadirat Allah yang tidak akan mereka lakukan di hadapan tetangganya. Sebab itu ia menyarankan agar wanita-wanita yang ikut serta di dalam kebaktian jemaat, harus mengikuti kebiasaan sosial yang berlaku di masyarakat waktu itu, yaitu harus menutupi kepalanya (1 Kor. 11:2-16).
     -    Etika dalam ibadah: Cara jemaat menyelenggarakan Perjamuan Kudus juga merupakan sumber keprihatinan Paulus (1Kor. 11:17-34). Mereka tidak mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Yesus sendiri, dan yang telah disampaikan Paulus sebelumnya (ayat 23-26), tetapi orang-orang Kristen di Korintus menjadikan ibadah suatu kesempatan untuk berpesta dan bergembira. Mereka semua membawa makanannya sendiri, dan mengadakan pesta pribadi yang mestinya diadakan di rumah mereka sendiri (ayat 22). Perpecahan antara kelompok-kelompok yang begitu ditentang Paulus, muncul juga dalam perjamuan (1 Kor. 11:18-19).
     -    Karunia-karunia dan ibadah: Suatu ciri penting di jemaat Korintus adalah penggunaan karunia-karunia rohani yang dianugerahkan oleh Roh Kudus. Mereka adalah orang-orang "kharismatik", yang mempunyai karunia-karunia rohani berupa: berbicara dalam bahasa lidah (glossolalia), penafsiran bahasa lidah, nubuat (seperti dalam Kis. 13:1-2), dan mengerjakan mujizat-mujizat, yang dilakukan oleh para rasul (Kis. 19:11-12). Jemaat di Korintus memiliki semua karunia tersebut dan karunia lainnya secara berkelimpahan, dan mereka begitu ingin mempergunakannya. Namun Paulus memperingatkan mereka, "Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera" (1 Kor. 14:33). Itu berarti bila karunia itu digunakan di dalam jemaat, dan jikalau Allah benar-benar mengilhami mereka, semestinya karunia-karunia itu dijalankan dengan cara yang akan membangun seluruh jemaat (1 Kor. 12:7). Paulus mengakui keabsahan semua karunia yang muncul di Korintus. Ia menekankan tiap karunia itu diberikan oleh Allah, dan oleh karena itu mempunyai tempat dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Sama seperti tubuh manusia mempunyai anggota-anggota yang berbeda-beda, yang masing-masingnya berperan agar tubuh berfungsi dengan baik, begitu juga dengan jemaat. Setiap karunia yang dimiliki anggota-anggota yang berlainan di jemaat, harus membantu memperlancar fungsi keseluruhannya (1 Kor. 12:14-31).

6. Kepercayaan jemaat (1 Kor. 15):
Akhirnya Paulus membicarakan inti iman Kristen yang hakiki, yang merupakan salah satu unsur utama dari masalah-masalah yang dihadapi jemaat di Korintus, yakni kebangkitan Kristus. Beberapa anggota jemaat menyatakan dalam pengalaman mistiknya, mereka sudah dibangkitkan pada suatu tingkat rohani baru, yang lebih tinggi daripada apa yang dicapai oleh anggota jemaat yang biasa. Keyakinan ini didasarkan atas salah pengertian tentang kebangkitan Yesus, dan Paulus menghadapinya dengan dua cara. Pertama-tama, ia mengingatkan orang-orang Korintus tentang kokohnya dasar historis yang melandasi kepercayaan akan kebangkitan (1 Kor. 15:3-11). Kedua, ia melanjutkan dengan menunjukkan bagaimana - jika kebangkitan Yesus terjadi secara historis (seperti yang dipercaya oleh Paulus dan para rasul lainnya) - maka peristiwa itu menjadi jaminan bahwa orang-orang Kristen pun akan dibangkitkan pada hari terakhir, sama seperti Yesus dibangkitkan dari kematian. Oleh karena kebangkitan Yesus begitu hakiki bagi seluruh iman Kristen, setiap orang yang menyangkal hal ini dengan merohanikannya sebagai pengalaman mistik, pada kenyataannya menolak dasar iman kristen: "Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu .... maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia" (1 Kor. 15:16-19).

E.  SURAT PAULUS YANG KEDUA KEPADA JEMAAT DI KORINTUS

     Surat Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus termasuk surat yang sulit dipahami. Salah satu penyebabnya yang mencolok adalah kurangnya informasi mengenai konteks historis suratnya. Paulus tampaknya sedang menanggapi sejumlah konflik yang terjadi antara dirinya dengan sejumlah kelompok dalam Gereja Korintus. Namun tidak mudah menduga siapakah para lawannya dan apakah yang menjadi persoalan persisnya. Surat 2Kor kelihatannya terdiri atas beberapa surat yang disusun menjadi satu. Kita dapat menduganya dari adanya perubahan nada suratnya yang tiba-tiba, interupsi-interupsi dalam tuturannya, adanya adanya inkonsistensi antara bagian surat yang satu dengan bagian lainnya.

1. Rekonstruksi konteks historis 2Kor:

     Surat 2Kor merupakan semacam surat pendamaian dan rujuk antara Paulus dan jemaat di Korintus. Isi pokoknya merupakan pembelaan diri Paulus sebagai rasul dan karya misinya. Rupanya, pada rentang waktu antara penulisan 1Kor dan 2Kor terjadi bentrokan hebat antara jemaat dan Paulus. Untuk menyelesaikan konflik itu, Timotius dikirim oleh Paulus ke Korintus namun ternyata tidak membawa hasil yang diharapkan (1Kor 4:17;16.10). Sebaliknya bentrokan menjadi-jadi dan semakin meruncing ketika Paulus secara mendadak mengunjungi jemaat (2Kor 1:15; 2:5; 7:12). Kunjungan Paulus yang mendadak itu ternyata juga tidak berhasil memperbaiki situasi. Selanjutnya Paulus mengirim Titus ke Korintus sambil membawa surat yang ditulisnya, yang isinya cukup tegas (2Kor 7:13-15; 2:3.4.9; 7:8-10.12; 8:6; 12:17-18). Usaha Titus berhasil baik, sebagian besar jemaat menyesal dan mau berdamai dengan Paulus. Kemudian, sekitar th. 51 Paulus menulis 2Kor yang dibawa oleh Titus ke Korintus (2Kor 8:16-18). Paulus sendiri akan datang juga setelah kedatangan Titus (2Kor 12:20; 13:2). Dengan demikian, surat 2Kor bermaksud memperteguh perdamaian yang sudah tercapai, meskipun masih belum sepenuhnya selesai. Surat ini mengisahkan pertikaian antara jemaat Korintus dengan Paulus. Nada pertikaian cukup terasa di beberapa bagian suratnya.
     Permasalahan yang dibahas dalam surat 2Kor ini berkaitan dengan kedatangan sekelompok orang yang berasal dari Yerusalem dan mengaku diri sebagai “rasul-rasul” (2 Kor. 11:1-15). Paulus sudah menghadapi orang-orang semacam ini di jemaat-jemaat di Galatia. Kali ini mereka datang ke Korintus dan membujuk jemaat Korintus agar tidak mengakui Paulus sebagai rasul atas dasar beberapa alasan. Alasan-alasan yang mereka kemukakan dapat dideteksi dari tanggapan Paulus terhadap mereka di dalam 2Kor. Jelas bahwa mereka tidak sama dengan kelompok Yudais yang berusaha jemaat kristen agar menjadi orang Yahudi dengan menerima sunat dan hukum Taurat. Kelompok yang datang ke Korintus ini  Paulus rupanya berusaha menghimbau jemaat agar hanya para pemimpin Yahudi dari jemaat pertama di Yerusalem.
     Ada kemungkinan Paulus mengunjungi jemaat di Korintus sewaktu orang-orang tersebut masih berada di sana, dan kunjungan ini disebut sebagai “kunjungan dukacita” (2 Kor 2:1). Kunjungan tersebut memang menyakitkan bagi Paulus, sebab ia dihina oleh rasul-rasul palsu tersebut dan otoritasnya sebagai rasul patut diragukan. Kemudian Paulus meninggalkan kota itu dengan tergesa. Tindakannya ini kemudian disesalinya karena memberi kesan bahwa apa yang dikatakan para lawannya adalah benar (2 Kor. 1:12-22).
     Paulus kemudian menulis satu surat yang sangat keras dan tajam. “Aku menulis kepada kamu” kata Paulus, “dengan hati yang sangat cemas dan dengan mengucurkan banyak air mata” (2Kor 2:4). “Jadi meskipun aku menyedihkan kamu dengan suratku itu, namun aku tidak menyesalkannya. Memang pernah aku menyesalkannya, karena aku lihat bahwa surat itu menyedihkan hatimu - kendatipun untuk- seketika saja lamanya -, namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat” (2Kor 7:8-9). Persoalannya, surat manakah yang dimaksud oleh Paulus sebagai surat yang menyedihkan, bernada keras dan tajam itu? Dengan mengandaikan bahwa surat 2Kor merupakan kumpulan dari sejumlah fragmen, pengamatan diarahkan pada perubahan tiba-tiba dari surat yang semula bernada tenang (bab 1-9) kemudian berubah menjadi keras pada bab 10. Paulus pada bab 10 mengungkapkan suatu keluhan yang paling pedih yang pernah ditulis Paulus. Boleh jadi 2Kor 10-13 adalah surat bernada kecewa yang terpaksa Paulus tulis setelah kunjungannya yang tak memuaskan itu. Surat ini dikirim lewat Titus. Paulus sangat ingin mendapat jawabannya sampai-sampai ia tak tahan menunggu, lalu pergi ke Troas untuk menemui Titus di sana. Sesampai di sana Titus belum juga tiba, sehingga Paulus berangkat ke Makedonia untuk menemuinya (2Kor 2:13). Di sana ia bertemu dengan Titus dan mendapat kabar bahwa persoalan antara Paulus dan jemaat Korintus dapat dianggap beres (2Kor 7:5-13). Karena menerima kabar sukacita dari Titus tersebut, Paulus menulis surat kini kita temukan dalam 2 Kor 9, yang merupakan surat pengampunan, karena luka-luka pelanggaran berangsur-angsur sembuh.
     Siapakah sebenarnya lawan-lawan Paulus dalam surat ini? Ada kemungkinan para lawan Paulus dalam 2Kor adalah orang-orang yang datang dari luar (10:15-16), yaitu orang Kristen (5:16;10:7; 11:23) keturunan Yahudi yang datang dari Palestina (11:22). Rupanya mereka mengaku diri sebagai rasul (11:5.13; 12:11) dan membawa surat rekomendasi (3:11). Meskipun keturunan Yahudi, rupanya mereka bukan golongan Kristen-Yahudi yang mau memberlakukan sunat dan hukum Taurat. Yang mereka lakukan tidak lebih dari membanggakan diri mereka sendiri sebagai orang-orang yang mendapat penyataan dan penglihatan khusus (12:1.7.11). Mungkin saja mereka yang dianggap pengacau itu adalah orang Kristen keturunan Yahudi dari Palestina, yang dipengaruhi paham mistik Yunani. Jelas sekali mereka langsung melawan Paulus sendiri. Mereka yang hanya sekelompok kecil itu (2:6; 10:2) memfitnah dan memburukkan nama Paulus.
     Tuduhan mereka terhadap Paulus dapat direkonstruksi berdasarkan isi suratnya dan cara Paulus menanggapi mereka. Berdasarkan surat 2Kor dapat diduga bahwa tuduhan-tuduhan tersebut adalah:

-    Kelakuan Paulus tidak mantap dan tidak dapat dipercaya (1:15-17), terbukti dari surat-suratnya yang terkesan mendua (1:13-14).
-    Paulus tidak mempunyai surat rekomendasi (3:1-4) dan Injilnya tidak jelas (4:3).
-    Kelakuan Paulus tidak jernih (5:11) dan menjadi batu sandungan (6:3) serta merugikan jemaat (7:2).
-    Paulus dengan licik memperkaya dirinya (12: 16) dan hanya pura-pura tidak mau menerima sumbangan dari jemaat (11:7-9; 12:13).
-    Hanya dari jauh saja Paulus berani (10:1) dan cara bicaranya menjemukan (10:11; 11:16).
-    Paulus sebenarnya bukan utusan sejati (l0:14), bukan milik Kristus (10:7), juru bicara-Nya (13:3) atau rasul-Nya (12:11-12; 11:5).

     Paulus balik menyerang mereka dengan sebutan pengacau-pengacau yang hanya mencari keuntungan sendiri (2:17; 11:20), sombong tanpa dasar (10:12.18; 5:12; 11:12-18), pekerja dan rasul gadungan (11:13). Mereka utusan Iblis (11:13-14) yang memberitakan 1njil, Kristus dan roh yang lain (11:4), orang berdosa yang tidak bertobat (12:21; 13:2).
     Suasana panas dan caranya 2Kor ditulis (agaknya secara bertahap) dapat menjelaskan sedikit mengapa tuturannya tidak begitu lancar. Fragmen-fragmen dalam surat 2Kor memberi nuansa yang berbeda:
     -    bab 1-7 bernada  tenang,
     -    bab 10-13 sangat emosional.
     -    bab 8-9 membicarakan pengumpulan dana.
     -    Ayat 2:13 pikiran tiba-tiba terputus, lalu diteruskan dalam 7:5.
     -    Antara 6:2 dan 6:3 pikiran terputus, dan 5:14-6:2 terasa sebagai semacam selingan yang kurang pada tempatnya.
-    Bab 6:14-7:1 nampaknya terlalu umum dan di luar rangka sapaan langsung yang menjiwai 6: 11-13 dan 7:2-4.
     Tidak ada alasan untuk meragukan bahwa 2Kor sungguh-sungguh karangan Paulus. Selain kaitannya (baik isi, latar belakang dan bahasanya) dengan 1Kor, ada tradisi kuat sejak abad kedua Masehi yang mendukung keaslian surat itu.Kalau diambil secara menyeluruh 2Kor merupakan suatu pembelaan diri Paulus. Mati-matian Paulus membela dirinya dan kewibawaannya sebagai rasul sejati, karena kewibawaannya sebagai rasul di Korintus sedang digerogoti. Meskipun jemaat secara menyeluruh sudah berdamai dengannya, namun rupanya Paulus tetap kuatir kalau pengacau-pengacau itu kembali menghasut jemaat. Surat 2Kor dapat dibagi menjadi tiga bagian besar yang tidak jelas hubungannya satu sama lain, yaitu bab 1-7; bab 8-9 dan bab 10-13.
2. Struktur retorik surat 2 Korintus

STRUKTUR RETORIK 2 KOR 1:1-7:16

I. Epistolary prescript                                                                                    1:1-2
II. Allah yang penuh belas kasih dan sumber penghiburan,
yang meneguhkan Paulus dalam penderitaannya,
dan membagikan penghiburan ini kepada umat Korintus                                 1:3-7
III.    Narasi tentang penolakan terhadap tuduhan melawan Paulus (1:8-2:13)
     A. Paulus di Asia Kecil: Allah membebaskan dia dari derita dan kematian     1:8-11
     B. Relasi Paulus dengan umat Korintus (1:12-2:13)
1.  Tindakannya diwarnai oleh kesederhanaan dan ketulusan                      1:12-14
          2.  Paulus menjelaskan batalnya kunjungan dan
penulisan “surat air mata” nya                                                             1:15-2:11
     C. Paulus berangkat ke Makedonia                                                          2:12-13
IV.    Propositio:     Pelayanan Paulus yang tulus, berasal dari Allah dan
dimaksudkan untuk mewartakan Kristus (12:14-17)
A. Metafor kemenangan militer dan keharuman dupa                                  2:14-16
     B. Ketulusan Paulus dalam mewartakan Firman                                               2:17
V. Kesaksian: jemaat sebagai surat pujian / rekomendasi                                  3:1-3
VI. Argumentatio dan propositio
A. Kesanggupan kami berasal dari Allah agar menjadi
pelayan perjanjian baru dalam Roh                                                          3:4-4:1
B. Ketulusan Paulus dalam tindakan dan kotbahnya                                   4:2-6
     C. Kekuatan Allah di dalam kerapuhan dan penderitaan Paulus                      4:7-12
D. Ketulusan Paulus dalam penderitaan menumbuhkan rasa percaya diri        4:13-5:10
     E. Kesaksian Paulus akan Kristus                                                                 5:11-6:10

Interpolasi: Jangan berpasangan dengan orang tak beriman (6:14-7:1)

VII. Peroratio: Paulus membela diri (kecuali 6:14-7:1) - (6:11-7:16)
A. Himbauan agar mau membuka hati (pathos)                                            6:11-7:4
B. Narasi pengalaman Paulus sejak datang ke Makedonia (bdk. 2:13) - 7:5-16
1.  Allah menghibur Paulus dengan kedatangan Titus (bdk. 1:3-4)              7:5-7
2.  Paulus menyinggung lagi “surat air mata” nya                                    7:8:13a
          3.  Kegembiraan atas kabar baik dari Titus                                              7:13b-16

STRUKTUR RETORIK 2 KOR 8-9

I.  Narasi tentang kemurahan hati jemaat Makedonia: tekadan bagi jemaat Korintus (8:1-9)
A. Teladan dari kemurahan hati jemaat Makedonia                                          8:1-5
B. Penerapannya bagi jemaat Korintus                                                         8:6-7
C. Transisi untuk menyiapkan “Propositio”                                                  8:8-9
II. Propositio: menyelesaikan apa yang sudah dimulai setahun yang lalu             8:10-11
III. Argumentio                                                                                           8:12-15
IV. Rekomendasi bagi Titus, wakil Paulus untuk mengumpulkan kolekte       8:16-24
V. Alasan Paulus menulis surat                                                                          9:1-5
VI. Peroratio (epilog)
A. Rakapitulasi tentang himbauan agar memberi dengan murah hati           9:6
B. Alasan untuk berderma                                                                       9:7-12
C. Himbauan yang penuh perasaan                                                          9:13-14
VII. Kesimpulan: “Syukur kepada Allah”                                                             9:15


STRUKTUR RETORIK 2 KOR 10-13

I.  Pendahuluan kepada persoalan yang akan dibahas dalam surat                        10:1-6
II. Propositio: menolak tuduhan terhadap Paulus                                             10:7-11
III. Argumentatio (10:12-12:13)
     A. Introduksi: Paulus dan orang-orang bodoh (10:12-11:15)
1.  Kebalikan dari para lawan, kesombongan Paulus dibatasi oleh Tuhan    10:12-18
2.  Paulus membandingkan dirinya dengan para lawan                                11:1-15
B. Argumentasi pertama: Paulus sebagai pelayan yang menderita               11:16-33
C. Argumentasi kedua: Paulus membanggakan perwahyuan Allah padanya    12:1-10
D. Kesimpulan dari argumentasi-argumentasi: “Aku tidak kalah”               12:11-13
IV. Peroratio
A. Merencanakan kunjungan yang ketiga (bdk. 10:1-2)                               12:14-18
B. Paulus tidak bermaksud membela diri (bdk. 10:7-11)                             12:19-21
C. Peringatan yang keras dari Paulus                                                            13:1-10                         
V. Epistolary postscript                                                                                     13:11-14

     Dari bentuknya yang ada sekarang, surat 2Kor serupa dengan sebuah surat umumnya di zaman itu. Ada pembukaan yang menyebutkan si penulis, alamat dan salam (1:1-2); ada ucapan syukur (1:3-7); bagian pokok dari surat (1-9 dan 10-13); nasehat singkat (13:11); dan akhirnya bagian akhir surat yang berisi salam (13:12-13) dan ucapan berkat (13:14). Karena alamatnya adalah para anggota gereja Allah di Korintus, maka suratnya bersifat publik dan resmi.
     Bentuk dan struktur surat 2 Kor dapat disamakan dengan surat Roma dan 1Kor. Sama dengan 1Kor, retorika surat 2Kor bersifat memberi penilaian yang diungkapkan dengan hati-hati. Banyak ahli mengatakan bahwa surat Korintus kumpulan yang terdiri atas 2 sampai 4 fragmen yang berbeda. Dalam 1:1-7:16, Paulus membela kerasulannya yang berasal dari Allah dengan nada tegas. Dalam 2Kor 8-9 Paulus memakai retorika yang lebih hati-hati, yaitu ketika menghimbau jemaat agar menyelesaikan pengumpulan sumbangan bagi jemaat Yerusalem yang sudah dimulainya setahun sebelumnya. Akhirnya, dalam 2Kor 10-13 Paulus memakai lagi retorika yang bersifat tegas dalam menanggapi para lawannya yang mengatakan bahwa Paulus keras dalam suratnya tetapi ternyata lemah dan tidak meyakinkan dalam penampilannya. Jika berpangkal pada retorikanya, surat 2Kor tidak harus dibaca secara kronologis (menurut urutan yang ada). Misalnya, apa yang dikatakan dalam 2Kor 10-13 tentang surat air mata sebenarnya sudah disebut dalam 2Kor 2:4: “Aku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata, bukan supaya kamu bersedih hati, tetapi supaya kamu tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua.” Jika kita ingin membuat urutan berdasarkan retorikanya, surat 2Kor dapat dibuat perandaian bahwa pembukaan dari bagian surat 2Kor 8-9 dan 10-13 serta penutup dari surat 2Kor 1-7 dan 8-9 sekarang ini hilang (dihapuskan?).
     Surat 2Kor bekisar pada pengalaman pribadi Paulus. Meskipun begitu keras dia mengritik para lawannya, namun dia memaafkan mereka. Demi kasihnya kepada jemaat dan demi kebaikan mereka, Paulus rela untuk menderita. Meskipun dikecewakan oleh kegagalannya, namun imannya akan Allah dan relasi mistiknya dengan Kristus memberi peneguhan dari dalam. Yang cukup dominan dalam surat ini adalah pembelaan diri Paulus terhadap jati dirinya sebagai rasul dan misinya mewartakan Injil. Baginya, kerasulan dan Injil tidak dapat dipisahkan. Sebagai rasul, Paulus merasa terpanggil untuk mewartakan Injil Kristus. 

3.  Komponen-komponen yang terdapat dalam surat 2Kor:

Bornkamm mengatakan bahwa ada 6 surat berbeda di dalam 2Kor. Ahli lain mengatakan bahwa suratnya terdiri atas dua, tiga atau empat fragmen yang berbeda isi dan nuansanya. Bagaimana perbedaan tersebut dapat diamati dari surat 2Kor? Kita mencoba mengamati perbedaannya menurut tema yang dibicarakan:
a.  Apologi pertama (2:14-6:13; 7:2-4): Apologi ini dimulai dengan ucapan syukur kepada Allah dan kisah tentang kegiatan misionaris Paulus, yang disampaikan dengan metafor tentang pawai kemenangan (2:14-17). Dalam pawai kemenangan tersebut, Paulus berada di ujung depan barisan (4:5; 5:20-6:2; 6:11-13; 7:2-4). Metafor tersebut adalah bagian dari argumentasi-argumentasi Paulus dalam membela kelayakan dirinya untuk tugas kerasulan. Sebagai seorang rasul, dia menyebut dirinya “pelayan perjanjian baru” (3:6), yang kemudian dijelaskannya pada 3A:4-6:10. Meskipun maksud dari argumentasinya yang persis tidak cukup jelas, namun kelihatan bahwa Paulus mau menampilkan ajaran-ajaran kristologis dan soteriologis. Kesimpulannya berupa sebuah himbauan  akan jemaat mau menerima Paulus dan percaya kepadanya (6:11-13; 7:2-3), seperti halnya Paulus juga merasa terhibur dan gembira akan mereka (7:4). Ungkapan dalam 7:2-4 ini serupa dengan akhir sebuah surat.
b.  Apologi yang kedua (10:1-13:10) sering disebut sebagai “surat air mata” (bdk. 2:4). Rupanya surat ini berkaitan dengan kegagalannya dalam membela diri dan membersihkan diri dari prasangka terhadap dirinya (10:1-2). Untuk itu Paulus merasa harus melawannya dengan senjata retorikanya dan menghadapi para penuduhnya secara langsung. Dalam 10:10 Paulus sebenarnya mengatakan soal cukup serius berkaitan dengan penampilannya: “Kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti.” Siapakah para lawan Paulus? Apakah dia termasuk golongan orang yang suka memuji dirinya sendiri (bdk. 7:12), ataukah dia mempunyai peran tertentu dalam jemaat, atau dia adalah seorang mata-mata yang mau mengawasi Paulus? Pendapat lawan tentang diri Paulus dalam 10:10 bernada negatif. Paulus kemudian mengakui dirinya sebagai seorang yang bodoh dan kurang paham dalam berkata-kata (11:1-12:10). Paulus berupaya memulihkan kredibilitas dirinya dengan mendiskreditkan para lawannya, yang dianggapnya sebagai rasul palsu, pekerja curang, Iblis, dan sebagainya. Paulus setuju jika para pengritiknya meragukan kepandaian dalam berkata-kata, akan tetapi tidak demikian dengan pengetahuannya (11:6). Jika mereka menginginkan bukti dari kerasulannya, Paulus siap untuk menunjukkan semuanya. Paulus mengisahkan bagaimana dia mempunyai pengalaman rohani yaitu diangkat sampai ke sorga (12:1-4), selain itu diapun mengakui kelemahan-kelemahannya. Namun, Paulus mempunyai cara pandang yang berbeda terhadap kelemahan dirinya. Dia memuliakan Allah dalam kelemahan-kelemahannya (12:9-10; 11:21-29; 12:21). Dia tidak menerima bantuan finansial dari orang-orang Korintus (11:7-12; 12:13; 14:18) dan menolak jika dibandingkan dengan para rasul lainnya (11:5.13-15; 12:11-13). Setelah berbicara tentang kebodohannya dalam berkata-kata, Paulus menyebut rencananya untuk melakukan kunjungan ketiga ke Korintus (12:14-21; 13:1-4). Ada kesan pula bahwa 13:5-10 merupakan akhir surat.
c.  Surat rekonsiliasi (1:1-2; 7:4-16; 13:11-13): Tema-tema rekonsiliasi cukup mudah dideteksi dan rupanya dipakai sebagai kerangka pokok oleh redaktor di dalam mengatur potongan-potongan surat lainnya. Surat rekonsiliasi dimulai dengan pengantar (1:1-2) yang menyatakan siapakah pengirimnya, yaitu Paulus, bersama dengan Timotius. Selanjutnya disebut juga alamt surat, yaitu jemaat Allah di Korintus dengan semua orang kudus di seluruh Akhaya. Pengantar ini diakhiri dengan salam. Bagian exordium dimulai dengan ucapan pujian kepada Allah (1:3-4), dan tidak tampak adanya ungkapan syukur seperti biasanya. Tema tentang penderitaan (thlipsis) Paulus dan penghiburan (paraklesis) yang diterimanya dari Allah dipakai sebagai dasar teologis dari doa pujian dan sekaligus mengantar tema yang ada pada bagian pokok surat. Paulus menganggap bahwa jemaat Korintus merupakan rekan dalam penderitaan dan penghiburan (1:5-7). Peristiwa penyelamatan dari kematian yang hampir dialami oleh Paulus di Asia Kecil dipakai sebagai contoh bagaimana karya penghiburan (peneguhan) terjadi di dalam situasi konkret. Setelah menunjukkan nuansa teologis dari pengalamannya, Paulus kemudian masuk pada diskusi panjang tentang suratnya yang lampau (1:12-2:4), yang merupakan surat air mata (10:1-13:10). Paulus kemudian mengatakan bahwa dia akan mengubah rencana perjalanannya, setelah menyatakan ketulusan serta maksud baiknya (1:12-14). Hendaknya perubahan rencana tersebut jangan dijadikan dasar tuduhan bahwa dirinya tidak dapat dipercaya (1:15-22). Selanjutnya dijelaskan juga mengapa dia menunda kedatangannya yang ketiga ke Korintus dan mengapa ditulisnya surat air mata. Jika suratnya telah membuat mereka sedih, itu bukan dimaksudkan untuk menyedihkan mereka tetapi untuk menunjukkan kasihnya kepada mereka. Mereka yang menentang Paulus sebenarnya tidak akan menyedihkan dia tetapi justru hanya akan menyedihkan jemaat. Oleh karena itu hendaknya jemaat mengampuni mereka, dan Paulus juga akan mengampuni mereka (2:5-11). Paulus kemudian menyatakan betapa cemas hatinya ketika bermaksud menjumpai Titus di Makedonia, untuk mencari tahu bagaimana tanggapan jemaat Korintus atas suratnya (2:12-13 dilanjutkan pada 7:5). Kecemasan itu berubah seketika menjadi suka cita ketika Titus memberitakan kabar baik kepadanya yang isinya adalah kerinduan jemaat Korintus kepada Paulus dan kesediaan mereka untuk membelanya (7:6-7). Sejak itu terjadi rekonsiliaso antara Paulus dan jemaat Korintus.
Paulus memberi analisa teologis (dan psikologis) atas kecemasannya dan atas suratnya yang membawa kesediahan bagi jemaat. Paulus menganggap bahwa suratnya yang menyedihkan membawa sukacita karena kemudian mereka bertobat. Dukacita  menurut kehendak Allah akan membawa sukacita, sebaliknya dukacita dari dunia akan membawa kematian (7:9-10). Sambutan baik jemaat kepada Titus membuat Paulus bangga dan semakin percaya kepada kesungguhan serta ketaatan jemaat (7:13-16).
d.  Surat yang berkaitan dengan pengumpulan sumbangan bagi Yerusalem (2Kor 8-9):  2Kor 8 ditulis oleh Paulus dan dikirimkan kepada jemaat di Korintus, dibawa oleh Titus dan dua “saudara” berkaitan dengan pengumpulan sumbangan bagi Gereja di Yerusalem. Pada bagian dari surat bab 8 ini, Paulus memberi rekomendasi bagi Titus dan teman-temannya untuk mengumpulkan sumbangan tersebut. Bab 9 merupakan tulisan bagi jemaat di propinsi Akhaya, juga berkaitan dengan pengumpulan sumbangan. Paulus menesihati agar pengumpulan sumbangan dilaksanakan dan diurus tuntas. Maksud dari sumbangan secara teologis diuraikan pada 9:6-14. Hendaknya jemaat mengumpulkan sumbangan dengan sukacita dan percaya bahwa Allah akan menganugerahi mereka dengan berkat yang berkelimpahan. Ulasan teologis ini ditutup dengan sebuah perorasi berupa ucapan syukur kepada Allah.
e.  Bagian yang isinya campuran (6:14-7:1): Bagian ini isinya berbeda dengan bagian lain dari surat 2Kor.  Di sini Paulus tidak berbicara mengenai hubungannya dengan jemaat Korintus dan tidak berbicara mengenai kolekte. Isi dari bagian ini adalah peringatan agar jemaat menjaga diri terhadap noda-noda kekafiran yang dapat terjadi di dalam perkawinan dengan orang-orang tak beriman. Asal dari bagian ini tidak jelas, demikian juga tidak kita ketahui alasan dimasukkannya ke dalam surat 2Kor. Ungkapan yang dipakai juga bukan khas Paulus, sehingga ada sementara ahli yang meragukan keaslian bagian ini sebagai tulisan Paulus sendiri (bdk. Furnish dan Betz)..


4.  Sejumlah tema pengajaran Paulus dalam surat 2 Korintus

a.  Menghadapi masalah-masalah (2 Kor. 1:3-2:13):
Paulus perlu menjelaskan hubungannya yang kurang begitu baik dengan jemaat Korintus. Selain itu ada juga persoalan mengenai kerasulan yang sejati dan yang palsu. Paulus menjelaskan pemikirannya tentang kedua pokok tersebut dalam bagian ucapan syukur di pembukaan suratnya (2 Kor. 1:3-11). Ia meminta perhatian bukan hanya terhadap kasihnya kepada jemaat di Korintus, tetapi juga terhadap keyakinannya bahwa penderitaan dan kelemahan merupakan bagian yang tak terhindarkan dari pelayanan yang sejati kepada Allah. Supaya bisa tahan dalam penganiayaan, Paulus harus percaya dengan sepenuh hati kepada Allah. Tetapi ia juga membutuhkan dukungan doa dari para pembacanya. Hubungannya dengan mereka tidak bersifat sepihak: Paulus membutuhkan doa-doa mereka sama seperti mereka memerlukan bimbingannya. Paulus juga harus meyakinkan kembali orang-orang Korintus bahwa ia dapat diandalkan. Kunjungan serta surat-suratnya yang tak disangka-sangka itu, dan perubahan rencana parla saat terakhir, telah memberikan kesan kepada mereka bahwa ia bertindak serampangan (2Kor.1:12-2:4). Mereka menyimpulkan Paulus takut mengunjungi mereka, sebab di dalam hatinya ia tahu pernyataan-pernyataan para “rasul palsu” itu memang benar. Paulus rupanya sangat terluka dengan kecaman-kecaman ini, dan membela dirinya terhadap tuduhan bahwa ia bertindak demi kepentingan diri sendiri. Hal itu sama sekali tidak benar; ia menulis surat, dan tidak mengunjungi mereka, sebab berharap hal ini merupakan cara yang tidak begitu menyakitkan dalam meluruskan anggapan mereka: “Aku menulis kepada kamu . . . bukan supaya kamu bersedih hati, tetapi supaya kamu tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua” (2 Kor.2:4). Permusuhan pribadi juga harus dibereskan - baik Paulus maupun jemaat harus bersedia mengampuni orang-orang yang menyebabkan kesedihan (2 Kor. 2:5-11).

b.  Apa artinya rasul? (2 Kor. 2:14-7:4):
Pokok utama yang dipermasaIahkan adaIah kewenangan Paulus sebagai rasul. Paulus mengawali pokok ini dengan ucapan syukur kepada Allah atas apa yang telah dilakukan-Nya daIam kehidupan Paulus. Oleh karena pengaIamannya akan Kristus yang hidup, ia menjadi bagian dari “jalan kemenangan-Nya” (2 Kor. 2:14). Dengan demikian, ia mempunyai hubungan pribadi yang dekat dengan Kristus sendiri. Tetapi hal itu bukan alasan baginya untuk membanggakan diri karena kesanggupan-kesanggupannya sendiri. Sebaliknya, oleh karena dipenuhi dengan Roh Kudus dari Allah berarti mempunyai tanggung jawab yang besar; dan kesadaran akan hal tersebut membedakan Paulus dari para “rasul” lainnya yang tiba di Korintus: “Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya” (2 Kor. 2:17). Berbeda dengan mereka yang datang dari Yerusalem, Paulus tidak bergantung pada surat-surat resmi guna memperoleh kepercayaan. Ia sudah merasa puas bahwa keabsahan pekerjaannya diuji melalui hasil-hasil yang telah dicapai yakni adanya perubahan hidup dari orang-orang yang bertobat, dan gaya hidup pribadinya sendiri (2Kor. 3:1-18). Jika orang-orang Kristen sungguh-sungguh melayani Allah, maka kehadiran dan kuasa Allah harus nyata bagi semua orang: “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan . . . Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (ayat 18). Inilah manfaat besar yang diberikan Injil kepadanya dibanding dengan kesetiaannya yang lama terhadap agama Yahudi (ayat 4-17).
Tetapi tidakkah hal ini berarti para rasul akan menghayati hidup rohani yang luar biasa, di mana semua persoalan hidup sehari-hari, sudah lenyap? Sama sekali tidak, kata Paulus (2 Kor. 4:1-15). Injil adalah berita yang berkuasa dan memberi hidup, namun Allah telah mempercayakannya kepada manusia lemah yang diumpamakan sebagai “bejana tanah liat”. Biasanya perkakas tanah liat ini mudah rapuh. Hal semacam ini juga akan dialami oleh hamba-hamba Kristus yang sejati: “Dalam segala hal kami ditindas.... kami habis akal .... kami dianiaya... .kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami ...” (ayat 8-10). Ini tentunya merupakan pengalaman Yesus sendiri, yang memuncak dengan penderitaan di kayu salib. Tetapi setelah salib ada kebangkitan - dan bagi Paulus ini merupakan kunci kehidupan Kristen. Dalam Galatia 2:19-20 ia menegaskan rahasia imannya adalah kehadiran Kristus yang hidup di dalam dirinya. Dan dia menguiangi tema yang sama di sini: “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesusjuga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (2 Kor. 4:10). Inilah, kata Paulus, yang seyogianya diberi penekanan. Para pembawa berita Injil janganlah dibingungkan dengan berita itu sendiri. Kenyataan “harta rohani” terdapat dalam “bejana tanah liat” menekankan kenyataan “kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2 Kor. 4:7).
Setelah merenungkan kembali bahaya-bahaya fisik yang telah dialaminya, Paulus beralih kepada pokok hidup setelah mati. Hal itu sudah merupakan pokok utama dalam 1 Korintus. Tetapi sekarang perspektifnya telah berubah. la mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berbeda di sini - pasti sebagai akibat pengalamannya luput dari maut beberapa waktu sebelumnya (mungkin di Efesus, 2 Kor. 1:9). Apa yang dikatakannya merupakan salah satu ayat yang paling rumit dalam semua suratnya (2 Kor. 5:1-10). Tetapi ada dua hal yang jelas:
-    Ia tetap menentang pandangan orang-orang Korintus (dan para Gnostik pada kemudian hari) yang menyatakan kebangkitan adalah soal pengalaman rohani dalam batin seseorang.
-    Ia juga tetap berpegang pada kepercayaan Yahudi tentang adanya tubuh setelah kematian, dan tidak mengikuti pandangan Yunani tentang adanya roh manusia yang abadi, yang akan hidup terus setelah tubuh binasa.
Itu tidak berarti ia berpikir secara duniawi semata-mata, sebab ia menulis tentang menggantikan “tempat kediaman kita di bumi ini” dengan “tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia [melainkan oleh Allah]” (2 Kor. 5:1). Sebab itu cara orang Kristen berpikir, cara mereka bertindak, dan standar-standar serta nilai-nilai mereka, harus mencerminkan di sini dan sekarang ini suatu realitas kehadiran Allah yang hidup: “Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia ... Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Kor. 5:16-17). Hal ini menyangkut inti pengertian Paulus tentang kematian dan kebangkitan Yesus, yang merupakan dasar segala pekerjaannya sebagai seorang penginjil: “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus” (2 Kor. 5:19).
Dalam terang ini, penderitaan Paulus sama sekali tidak bertentangan dengan pernyataannya bahwa ia seorang rasul. Sebaliknya merupakan pembuktian yang paling jelas tentang kebenaran pemyataannya itu (2 Kor. 6:1-10). Mungkin Paulus merasa ia telah memberikan pembelaan diri yang lebih rinci daripada yang diperlukan, sebab ia menutup bagian ini dengan seruan kepada para pembacanya agar memperlihatkan kejujuran yang sama terhadap dirinya seperti yang ia telah perlihatkan kepada mereka (ayat 11-13).
Ia kemudian memperingatkan mereka bahwa gaya hidup orang Kristen harus berbeda sama sekali dari gaya hidup sekuler. Orang-orang Kristen harus mencerminkan nilai-nilai dan standar-standar Allah sendiri (2 Kor. 6:14- 7:1). Para pembaca modero dari nats ini sering mengira Paulus menulis tentang moralitas pribadi, khususnya masalah perkawinan. Memang hal itu termasuk dalam apa yang dikatakannya, tetapi nasihatnya mencakup banyak hai lain. Ada sesuatu yang secara hakiki tidak sesuai antara standar-standar dunia kafir dan standar-standar Injil Kristen - dan orang-orang percaya harus bersedia untuk mengutamakan Allah dalam semua bidang kehidupan, bukan hanya dalam keadaan yang menyenangkan. Yesus sendiri mengatakan hai yang sama: “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan..... Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat. 6:24).

c.  Memandang ke masa depan (2 Kor. 7:5-9:15):
Paulus kemudian membahas akibat dari surat yang membawa dukacita, yang rupanya telah menyebabkan orang-orang Korintus mengubah sikapnya - seperti yang dilaporkan oleh Titus (2 Kor. 7:5-16). Perubahan sikap itulah yang menjadi dasar Paulus mengajak mereka ikut berpartisipasi dalam pengumpulan dalla yang sedang diselenggarakannya bagi jemaat di Yerusalem (2 Kor. 8:1-9:15). Ini bukanlah pertama kalinya orang-orang Korintus mendengar hal itu (1Kor. 16:1-4). Tetapi hubungan mereka dengan Paulus yang begitu terganggu telah mencegah mereka melakukan pengumpulan dalla selama ini. Paulus mendesak mereka agar bermurah hati bukan karena terpaksa, tetapi sebagai tanggapan dalam kasih terhadap apa yang telah dilakukan Allah bagi mereka. Bagian kedua surat (2Kor 8:1-9:15) membahas sampai  dua kali tentang pengumpulan dana bagi jemaat induk di Yerusalem. Paulus mengharapkan dan mengajak jemaat supaya dengan murah dan hati ikut serta dalam”pelayanan kasih” menuruti teladan baik jemaat-jemaat di Makedonia. Rupanya Paulus kuatir kalau-kalau dituduh main korupsi. Karena itu ia mengambil tindakan untuk menghilangkan segala rasa curiga (8:1-23). Pengumpulan dana itu sudah lama dimulai, tetapi rupanya di Korintus tidak bisa jalan dengan lancar (8:6-7.10-11; 9:2-5).Tentu saja mengherankan sedikit bahwa Paulus dua kali berturut-turut membicarakan hal yang sama dengan panjang lebar. Dasar dari pelayanan kasih itu ada dalam peristiwa Yesus sendiri. Masuknya Yesus dalam hidup mereka merupakan suatu tindakan kebajikan Allah yang sebenarnya tidak layak mereka terima. Oleh karena itu mereka harus melakukan kebajikan dengan membantu mereka yang butuh bantuan (2 Kor. 8:9). Paulus percaya, tindakan kemurahan hati seperti itu akan memperbaiki hubungan antara jemaat-jemaat bukan-Yahudi yang didirikannya dengan jemaat-jemaat Yahudi di Palestina (2 Kor. 9:1-15).

d.  Kewenangan dan kharisma (2 Kor. 10:1-13:10)
Paulus dikecam oleh para lawannya karena kepribadiannya. “Surat-suratnya memang tegas dan keras”, kata para lawannya di Korintus, “tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti” (2 Kor. 10:10). Paulus tidak menjawab tuduhan-tuduhan tersebut secara komprehensif di sini. Ia sudah melakukannya dalam pembahasan sebelumnya tentang hubungan antara kelemahan dan kekuasaan di dalam kehidupan hamba-hamba Allah. Penjelasan Paulus mengenai pokok tersebut kurang sistematis di sini, dan memberi kesan para lawannya itu hanya kelihatannya saja hebat, karena “mereka mengukur dirinya dengan ukuran mereka sendiri dan membandingkan dirinya dengan dici mereka sendiri” (2 Kor. 10:12). Paulus menanggapi mereka yang mempertanyakan “surat-surat kepercayaannya”,  dengan cara berturut-turut membahas hubungannya dengan jemaat Korintus (2 Kor. 11:1-6), gaya hidupnya (ayat 7-11), dan sumber tertinggi dari kewenangannya sebagai rasul (ayat 12-15). Penganiayaan yang dideritanya memperlihatkan kebenaran panggilannya sebagai rasul (ayat 16-33). Paulus menyadari bahwa menyombongkan diri tentang hal-hal tersebut tidak ada faedahnya - tetapi ia harus meluruskan persoalan dan menegaskan ia pun menerima “penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan” dari Tuhan (2 Kor. 12:1). Tetapi ia tetap kembali ke tema penderitaan dan kelemahan sebagai batu penjuru dari status kerasulannya: hanya kalau orang menyadari kelemahannya sendiri dan mempercayakan diri kepada Allah, mereka dapat menyatakan diri sebagai orang Kristen sejati (2 Kor.12:7-10).

e.  Kesimpulan
Paulus diserang oleh kawan dan lawan. Ini tentu membuat dia sadar akan perlunya merenungkan kembali isi Injilnya. Ia ingin menghindari jebakan-jebakan masa lampau, tanpa sedikit pun mengurangi pandangannya yang pokok bahwa dalam Kristus semua hambatan ras, jenis kelamin dan kedudukan sosial sudah dilenyapkan, dan semua manusia berdiri sama rata di dalam kemerdekaan yang diberikan oleh Roh Kudus. Meskipun 'surat keras'  Paulus dalam 2 Kor ini memberi dampak penyesalan, tetapi kunjungan yang dibicarakan dalam 2 Kor  akhirnya dilangsungkan (bdk. Kis 20:2), juga bantuan bagi jemaat di Yerusalem dapat terlaksana (Rm 15:26). Surat kepada jemaat di Roma, yang ditulis selama kunjungan ketiga ini, memberikan tanda-tanda adanya suatu akhir yang menyenangkan. Setelah kekecewaan-kekecewaan yang lama dan mengalami penundaan-penundaan, sekarang Paulus dapat menantikan kesempatan memberitakan Injil di Roma dan daerah lain (Rm 1:10-15; 15:28). Selesailah perkara Korintus.
4.  SURAT PAULUS KEPADA JEMAAT FILIPI

     Surat kepada jemaat Filipi bersama dengan Kolose, Efesus dan Filemon adalah empat surat Paulus yang ditulis Paulus penjara. Ada sejumlah alasan mengenai menyebut keempat surat sebagai surat dari penjara. Pertama, keempat surat tersebut memberi kesan ditulis oleh Paulus sendiri (Fil 1:1; Flm 1; Kol 1:1; 4:18; Ef 1:1; 4:1). Kedua, di dalam keempat surat ini Paulus menyebut dirinya sebagai seorang tawanan (Fil 1:7.13.14; Flm 1:9; Kol 4:18; Ef 3:1; 4:1; 6:20). Ketiga, ada banyak rekan sekerja yang disebut di dalam keempat surat ini. Surat kepada Filemon dan kepada jemaat di Kolose menyebut nama  Onesimus dan Arkhipus (Flm 1.12.17; Kol 4:9-10.17). Surat kepada jemaat di Kolose dan Efesus menyebut nama Tikhikus dengan cara yang sama (Kol 4:7; Ef 6:21). Surat kepada jemaat di Filipi, kepada Filemon, dan kepada jemaat di Kolose menyebut Timotius sebagai utusan Paulus (Fil 1:1; Flm 1; Kol 1:1).
     Persoalannya, surat kepada jemaat di Kolose dan Efesus diragukan sebagai tulisan Paulus. Surat Efesus lebih serupa dengan liturgi baptisan atau homili daripada sebuah surat menurut lazimnya di kalangan jemaat kristen perdana yang terpengaruh sastra helenis. Surat Filipi mempunyai sejumlah perbedaan dibandingkan dengan ketiga surat lainnya. Ada nama-nama yang hanya dikenal dalam surat ini, yaitu: Epafroditus (2:25; 4:18), Euodia, Sintikhe (4:2). Rencana perjalanannya juga khas (2:19.23-29) dan situasi Paulus di penjara tidak begitu jelas, jika dibandingkan dengan surat-surat lainnya (1:20-26; 2:17.24). Persoalan terakhir, di penjara manakah Paulus menulis surat Filipi? Umum disetujui bahwa surat ini ditulis di Efesus.

1. Kota Filipi

     Pada zaman Paulus, Filipi adalah sebuah penting dari propinsi Makedonia, terletak di wilayah bagian Timur pegunungan Pangaeus, persisnya di Via Egnatia yang menghubungkan laut Adriatik dan laut Egea. Kota Filipi didirikan oleh Filipus II raja Makedonia, ayah Aleksander Agung, pada tahun 358-357 sM.  Filipus dari Makedonia tahun 360 sM merebutnya dan menamai kota itu sesuai dengan namanya. Dia kemudian memperkuat dan mengembangkan tambang emas di kota ini. Pada tahun 31 sM kota Filipi menjadi saksi kemenangan Markus Antonius melawan para pembunuh Yulius Caesar, yaitu Cassius dan Brutus.
     Setelah mengalahkan Markus Antonius di Actium, Octavianus (nantinya bergelar kaisar Augustus) memasukkan orang-orang Italia kota Filipi, kebanyakan dari mereka adalah para tentara veteran Roma. Sejak itu kota Filipi diberi nama Colonia Iulia Augusta Philippensis. Penduduk kota menerima Ius Italicum (hak sebagai orang Italia), seolah-olah mereka berada di Italia.

2.  Gereja Filipi

     Di Filipi,  pada perjalanan misinya yang kedua, Paulus memulai karya misinya yang pertama kali di daratan Eropa. Kis 16:11-40 mengisahkan berdirinya jemaat Filipi. Berhubung Filipi tidak mempunyai sinagoga, maka Paulus memulai pewartaannya di sebuah tempat sembahyang Yahudi dekat sungai Crenides. Ahli sejarah Strabo (VII: 41) mengatakan bahwa nama kota Filipi dulunya adalah Crenides karena banyaknya sumber air di daerah itu.
     Dibandingkan dengan surat-surat lainnya, surat kepada jemaat Filipi bernada ramah dan penuh perasaan. Paulus menulis kepada jemaat yang ia kenal dengan baik. Mereka adalah orang-orang yang ia pertobatkan sewaktu datang ke Filipi untuk pertama kali, pada perjalanan misi kedua sekitar tahun 50 (Kis 16:12-40). Ia mengunjungi mereka untuk kedua kalinya pada perjalanan misi ketiga, yaitu dalam perjalanannya dari Efesus menuju ke Korintus pada musim gugur tahun 57 (Kis 20:1-2). Dan untuk ketiga kalinya ia mengunjungi mereka pada perayaan Roti tak beragi tahun 58 (Kis 20:3-6). Paulus mengenal jemaat Filipi dengan amat baik. Meskipun berpendirian tidak mau menerima pemberian umat atas karyanya di tengah mereka, toh Paulus dengan senang menerima hadiah yang mereka kirimkan, sewaktu dia berada di Tesalonika (Flp 4:16) dan di Korintus (2Kor 11:9). Ini merupakan bukti betapa dekatnya hubungan Paulus dengan jemaat Filipi.    
     Paulus mendirikan jemaat Kristen di kota perdagangan ini pada tahun 50/51. Silas, Timotius dan Lukas ada bersamanya. Sesudah karya yang berhasil itu, Paulus dan Silas ditangkap dengan tuduhan proselitisme. Orang-orang Roma mengizinkan orang-orang Yahudi (tidak dibedakan antara orang Yahudi dan Kristen) untuk menjalankan agamanya, tetapi mereka dilarang mempertobatkan orang. Di Filipi, Paulus mempertobatkan Lidia, seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira. Ia dibaptis beserta seisi rumahnya. Eksorsisme yang dilakukan Paulus terhadap seorang budak perempuan yang mempunyai roh tenung membuatnya ditangkap, disesah dan dimasukkan ke penjara. Sesudah dibebaskan secara ajaib dan dengan persetujuan para pembesar, Paulus dan Silas meninggalkan kota itu menuju Tesalonika (Kis 16:11-17:1). Para pembesar merasa bersalah setelah tahu bahwa mereka telah mendera dan memenjarakan Paulus, seorang warganegara Roma, tanpa melewati proses pengadilan. Seperti disebut di muka, setelah meninggalkan Filipi pada kunjungannya yang pertama, Paulus masih mengunjungi kembali jemaatnya beberapa kali (musim gugur 57 dan Paskah tahun 58). Lidia ternyata menjadi seorang wanita yang mempunyai peranan penting di tengah jemaat Filipi. Dari nama-nama yang disebut dalam surat Filipi, dapat diduga bahwa kebanyakan warga jemaat adalah pertobatan dari bangsa-bangsa lain (bukan bangsa Yahudi).

3.  Otentisitas surat Filipi dan persoalan mengenai kesatuan surat

     Para ahli kebanyakan sependapat bahwa surat ini ditulis oleh Paulus sendiri. Pendapat ini didukung oleh Ireneus (dalam bukunya Adversus Haeresis, 1:83), Fragmen Muratorium, dan beberapa naskah kuno lainnya. Pendapat ini juga didukung oleh pengamatan atas bahasa, gaya, ajaran yang dipakai Paulus dalam surat ini. Keaslian surat Filipi sebagai tulisan Paulus didukung oleh para ahli modern dari sekolah Tübingen (abad 19), dan sampai sekarang tidak ada lagi yang mempersoalkannya.
     Yang lebih menimbulkan persoalan adalah kesatuan di dalam surat. Ada yang mempertanyakan apakah surat Filipi ini dari awalnya merupakan satu surat atau merupakan kompilasi dari dua atau tiga surat yang dilakukan generasi setelah Paulus. Polikarpus (abad 2) menyebut adanya beberapa surat yang ditulis Paulus kepada jemaat Filipi. Ini merupakan kesaksian eksternal yang sering dipakai untuk meragukan kesatuan surat. Kendati begitu, ada alasan lain yang dikemukakan berdasarkan pengamatan internal dari isi surat dan tata susunannya.
Sejumlah pengamatan internal yang meragukan kesatuan surat antara lain sebagai berikut:
-    Bila dilihat konteksnya, pada Fil 3:2 tiba-tiba Paulus mengubah nada dan isi bicaranya. Ia memberi peringatan agar hati-hati terhadap para lawan yang akan menggoyahkan iman jemaat. Perubahan tiba-tiba yang kontras dengan perikope yang mendahului ini lebih cocok menjadi awal sebuah surat.
-    Setelah kesimpulan yang mengakhiri 4:2-9, seolah-olah Paulus memulai pembicaraan yang baru pada 4:10 di mana Paulus berterima kasih terhadap pemberian bantuan dari jemaat Filipi.
-    Ajakan untuk bersukacita pada 4:4 sejalan dengan ajakan yang sama pada 3:1. Seolah-olah 3:1b-16 dan 3:17-4:3 menyela kesinambungan tuturan antara 3:1 dengan  4:4.

Dari pengamatan di atas, ada dugaan bahwa surat Filipi merupakan kompilasi dari:
     Surat A: 4:10-20, yang berisi ucapan terima kasih atas pemberian bantuan dari jemaat Filipi.
Surat B: 1:1-3:1a; 4:4-7:21-23, yang berisi ajakan untuk menjaga kesatuan dan bersuka-cita.
     Surat C: 3:1b-4:3.8-9, yang berisi polemik antara Paulus dan para lawannya.

     Banyak ahli lain yang tetap berpendapat bahwa surat Filipi adalah satu surat. Mereka juga mendasarkan argumennya pada kesesuaian gaya bahasa, ide, dan konstruksi surat. Selain itu, kesulitan dalam merekonstruksi proses kompilasinya membuat mereka cenderung mengandaikan bahwa sejak dari awalnya surat Filipi adalah suatu kesatuan. Meskipun begitu, perubahan tema dan nada bicara Paulus yang tiba-tiba pada 3:2 tetaplah suatu kendala yang mengurangi keyakinan akan kesatuan surat Filipi. Entah surat Filipi merupakan suatu kesatuan atau suatu kompilasi dari beberapa surat, yang jelas sejumlah ide dan gaya bicara dari surat tersebut tak diragukan lagi adalah khas Paulus.
    
4.  Waktu dan tempat penu1isan

     Sulit ditentukan kapan dan di mana surat ini ditulis. Paulus hanya mengatakan bahwa ia menulis surat ini dari penjara. Berabad lamanya orang berkeyakinan bahwa ia menulis surat kepada jemaat Filipi pada saat pemenjaraannya di Roma dari tahun 61 sampai 63. Alasannya, di dalam surat ini Paulus menyebut “praetorium” (= istana), 1:13, dan “mereka yang di istana Kaisar” (4:22). Pendapat ini tidak lagi diikuti. Kedua ungkapan tersebut tidak mesti mengacu pada Roma. Diperkirakan istilah-istilah itu dipakai oleh Paulus untuk menunjukkan hubungan orang-orang Filipi dengan orang-orang Roma. Ini dapat menjadi semacam petunjuk bahwa setiap kota penting dalam kerajaan Romawi memiliki sebuah istana. Juga setiap pegawai sipil, termasuk para hamba, disebut “mereka dari istana Kaisar”.
     Para ahli dari abad kesembilan belas sepakat berpendapat bahwa tak ada petunjuk jelas bahwa surat ini ditulis pada masa pemenjaraannya di Roma. Apakah surat ini ditulisnya ketika Paulus di dalam penjara di Kaisarea? Pendapat ini tidak mendapat dukungan dari isi suratnya sendiri. Perlu dikembangkan teori lain. Meskipun Kisah para Rasul tidak bicara mengenai penahanan di Efesus, namun ada dugaan bahwa surat ini ditulis di Efesus pada perjalanan misinya yang ketiga. Paulus tinggal cukup lama tinggal di sana (Kis 19:1-20:1). Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus menyebut dengan bahasa kiasan “binatang buas di Efesus” (lKor 15:32) dan “penderitaan” (2Kor 1:8-10). Alasan lain untuk mendukung penulisan di Efesus adalah jaraknya yang tidak terlalu jauh dari  Filipi. Ada kesan bahwa Timotius serta Epafroditus tidak mempunyai kesulitan untuk berangkat dan pergi ke situ. Perjalanan dari Filipi ke Efesus hanya membutuhkan waktu seminggu, sedangkan perjalanan dari Filipi ke Roma butuh waktu sekitar l bulan.
     Kita andaikan saja bahwa surat kepada jemaat Filipi ini ditulis sewaktu Paulus ada dalam penjara di Efesus. Sewaktu mendengar penderitaannya, jemaat Filipi mengumpulkan dana dan menitipkannya kepada Epafroditus. Epafroditus mengunjungi Paulus di penjara dan kemudian jatuh sakit. Begitu sembuh, Paulus memutuskan untuk mengirimkannya ke Filipi dengan membawa suratnya kepada jemaat Filipi. Paulus menyinggung kebaikan hati mereka dua kali (waktu ia pertama kali pergi ke Filipi dan ketika mereka mengirimkan dana kepadanya dalam penjara, 4:14-17).

5.  Madah Kristus dalam 2:6-11

     Enam ayat ini merupakan untaian madah yang indah. Para ahli sangat tertarik akan bagian ini yang menyoroti secara bagus misteri inkarnasi Yesus. Mungkin juga Paulus menggubah madah ini berdasarkan Yes 52:13 - 53:12 yang sudah digunakan dalam liturgi Gereja purba. Namun demikian tak dapat disangkal bahwa unsur-unsur dari madah sendiri dikembangkan dalam surat-surat Paulus lainnya, seperti Rm 1:1-4; 2Kor 8:9; bdk. Ibr. 5:8; 12:1-2. Dalam madah itu ia menjelaskan, bahwa meskipun Kristus berada dalam kemuliaan Ilahi tetapi Ia tidak menganggap perlu untuk selalu memperlihatkan kemuliaan-Nya yang setara dengan Allah Bapa itu. Sebaliknya, Ia menghampakan diri dan menanggalkan kemuliaan ilahi-Nya dengan mengambil rupa manusia, bahkan manusia yang paling hina sampai mati di kayu salib. Karena kerendahan hati dan ketaatan yang mengantar-Nya ke kematian di kayu salib, Allah Bapa menganugerahkan kepada-Nya Nama, yang artinya pemberian kepada Yesus kemuliaan dan kekuasaan-Nya sendiri. Misteri inkarnasi Yesus ini dijadikan pola bagi jemaat Filipi untuk bersikap rendah hati yang serupa dengan pengosongan diri Kristus.

6.  Struktur dan isi surat Filipi

Pendahuluan
     1:1-2           Salam
     1:3-11         Ucapan syukur dan doa
Berita pribadi (1:12-26)
Nasihat
     1:27-30       Agar jemaat teguh dalam iman
     2:1-11         Agar tetap bersatu dalam kasih
     2:12-18       Agar taat
Berita tentang dikirimnya Timotius dan Epafroditus (2:19-30)
Peringatan terhadap orang-orang Kristen - Yahudi
     3:1-21         Keyakinan mereka dilawankan dengan keyakinannya sendiri
Nasihat selanjutnya
     4:1-9           Agar tetap teguh dan bergembira
     4:10-20       ucapan terima kasih atas pemberian jemaat
Salam dan berkat (4:21-23)

     Nada surat Filipi pada umumnya lembut dan menggembirakan, memberi tekanan pada ajakan bersukacita (1:4.18; 2:2.17; 3:1; 4:1.4.10). Jalan pikiran surat Filipi relatif sederhana. Dalam salam pembukaan (Flp 1:1-2), Paulus serta Timotius mengucapkan selamat kepada jemaat di Filipi beserta para pemukanya. Cukup menarik jika mengamati bahwa Paulus tidak menyebut dirinya sebagai “rasul”, seperti yang di katakan dalam surat-surat lainnya (kecuali 1Tes dan 2Tes). Kita bisa menduga bahwa kerasulan Paulus tidak dipersoalkan oleh jemaat Filipi. Di Korintus dan Galatia, Paulus menghadapi para lawan yang yang mempersoalkan kerasulannya, sehingga Paulus terpaksa menyebut dirinya sebagai “rasul”.
     Setelah salam pembukaan, Paulus mulai dengan mengucapkan syukur (1:3-8) atas iman dan semangat jemaat. Ucapan syukur ini bernada lembut dan akrab. Syukur itu kemudian beralih menjadi sebuah doa bagi jemaat (1:9-11).
     Pada 1:12-26, Paulus berbicara mengenai pemenjaraannya. Dia berharap agar bisa segera keluar dari penjara untuk melayani jemaat lagi. Manurut Paulus, pemenjaraannya membawa keuntungan bagi pemberitaan Injil (1:12-17), karena dia dipenjarakan demi Kristus. Oleh karena itu Paulus dapat bersukacita bahwa Kristus dimuliakan di dalam penderitaannya (1:18-20). Paulus tidak peduli apakah dia akan mati atau hidup terus. Dengan terus-terang Paulus mengatakan: “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (1:21). Sebenarnya Paulus lebih ingin mati sebagai martir dan begitu segera berkumpul dengan Kristus (1:21-23). Namun begitu, dia lebih merasa lebih perlu untuk tinggal hidup demi pelayanannya kepada jemaat (1:24). Paulus yakin bahwa ia akan dibebaskan dari penjara dan terus berkarya (1:24-26).
     Pembicaraan mengenai kesaksian imannya kemudian beralih pada serangkaian nasehat (1:27 - 2:18). Jemaat diajak untuk hidup berpadanan dengan Injil Kristus. Jemaat hendaknya bersatu padu dalam iman yang dicobai oleh penderitaan (1:27-30). Sebagai orang kristen, kita dipanggil bukan hanya untuk percaya tetapi juga untuk menderita demi Kristus. Hendaknya mereka secara sehati, saling mengasihi dengan tidak mementingkan dirinya, senantiasa bersukacita, rendah hati dengan cara menganggap yang lain lebih utama (2:1-5). Dalam hal itu jemaat mesti meneladan Kristus atau sepikiran dan seperasaan dengan Kristus. Menyusul kemudian sebuah madah terkenal yang intinya menyampaikan misteri perendahan dan peninggian Kristus Yesus (2:6-11). Hendaknya jemaat meneruskan kehidupan kristianinya dalam dunia buruk, sehingga Paulus dapat berbangga dan bersukacita, meskipun barangkali mesti mengalami hukuman mati (2:12-18).
     Paulus berbicara mengenai Timotius dan Epafroditus yang telah membantu dia selama dipenjara (2:19-30). Timotius dipuji dan diutus. Epafroditus yang diutus oleh jemaat untuk membawa sumbangan dan membantu dia ternyata jatuh sakit keras dan kemudian dikirim kembali kepada jemaat Filipi setelah sembuh (2:25-30). Flp 3:la terkesan menjadi semacam penutup surat, tetapi tiba-tiba Paulus memulai suatu pembicaraan baru yang intinya mengecam orang-orang yang membahayakan jemaat (Flp 3:lb-21). Rupanya ada sejumlah orang-orang Yahudi yang aktif di Filipi, yang mau mengacaukan jemaat dengan mengajak mereka untuk mentaati Taurat agar memperoleh keselamatan. Paulus dengan penuh ketegasan menyatakan bahwa dia sendiri seorang Yahudi sejati. Akan tetapi iman akan Kristus telah membuatnya meninggalkan segala sesuatu. Paulus hanya ingin mengenal Kristus, kuasa kebangkitan-Nya, persekutuan dalam penderitaan-Nya, dan menjadi serupa dengan-Nya dalam wafat dan kebangkitan (3:5-11). Ia tentu sadar bahwa belum sampai di tujuan itu, tetapi penuh kepercayaan dia mau mengarah ke tujuan itu (3:12-14). Maka Paulus mengharapkan jemaat berpegang pada apa yang sudah mereka dapat (3:15-16).
     Selanjutnya Paulus tidak ragu-ragu mengecam anggota-anggota jemaat yang dalam gaya hidupnya rnenyangkal kekristenannya dengan memikirkan perkara duniawi saja (3:17-19). Mereka telah hidup sebagai seteru salib Kristus. Panggilan jemaat yang beriman kepada Kristus adalah kewarganegaraan sorgawi yang akan membawa perubahan tubuh duniawi menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia (3:20-21). Hendaknya jemaat tetap berdiri teguh dalam Tuhan (4:1).
     Menyusul kemudian nasehat agar jemaat bersatu hati dan berjuang untuk menwartakan Injil dengan penuh sukacita (4:2-9). Pada bagian akhir surat, Paulus mengucapkan terima kasih atas sumbangan yang dikirim jemaat (4:10-19). Kata penutup (4:20-23) terdiri atas suatu pujian, salam bagi seluruh jemaat Filipi dan berkat penutup.

7.  Pentingnya surat ini

     Surat ini berisikan pelajaran-pelajaran berharga dan penuh rasa persahabatan. Bagian yang terpenting adalah pujian terhadap keilahian Kristus, penjelmaan, keutamaan, kematian, kebangkitan dan kemuliaan (2:5-11). Hukum dan karya-karya kodrati keselamatan (3:2-8) seolah-olah tidak berguna. Keadilan diberikan Tuhan secara cuma-cuma kepada orang beriman (3:9). Kebangkitan badan hanya dapat terjadi  melalui kekuatan Kristus (3:12). Paulus memberi sejumlah nasehat berharga bagi kehidupan Kristen: keselarasan, kedamaian (1:27; 2:4; 4:2-7) dan kerendahan hati (2:3-5). Umat kristen perlu menghayati persekutuan dalam sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus (3:10). Seluruh jemaat dipanggil untuk bekerja keras guna mencapai kesempurnaan (3:12 dst.). Jika percaya kepada Kristus dan selalu bersama-Nya, kita dapat melakukan segala hal (4:13). Hendaknya jemaat senantiasa taat dan mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (2:12). Iman akan Kristus membawa keyakinan kuat bahwa kita akan menerima hadiah surgawi (3:14; 1:6-11). Surat ini terutama berisi ajakan berulang-ulang untuk bergembira (1:7.25; 2:2-17.18.28-29; 3:1; 4:4). Ajakan tersebut memberi warna tersendiri pada surat ini. Paulus selalu mengaitkan “kegembiraan” dengan keselamatan dari Mesias.

5.  SURAT PAULUS KEPADA FILEMON


     Surat Paulus kepada Filemon merupakan salah satu dari surat yang ditulis dari dalam penjara. Inilah surat Paulus yang terpendek (hanya 335 kata dalam teks Yunaninya) dalam Perjanjian Baru. Beberapa kali Paulus dipenjara (di Kaisarea, Efesus, Roma), surat ini rupanya ditulis ketika Paulus dipenjarakan di Efesus. Pada waktu itu Paulus sudah tua, meskipun semangatnya masih tinggi untuk mewartakan Injil Tuhan. Kata-kata Paulus di dalam surat Filemon terkesan bijak, hati-hati dan penuh kepekaan perasaan.

1.  Struktur retorik surat Paulus kepada Filemon

Pengantar surat / Epistolary Prescript                          -    1-3
Pendahuluan / Exordium                                             -    4-7
Tujuan penulisan surat / Probatio - Confirmatio          -    8-16
Alasan dan kesimpulannya / Argumentatio - Peroratio    -    17-22
Penutup / Epistolary Postcript                                     -    23-25

2.  Sebuah surat semi pribadi

     Surat kepada Filemon dapat disebut sebagai surat semi pribadi. Alasannya, surat ini memang ditujukan kepada Filemon, tetapi di dalamnya disebut juga dua nama lain yang menjadi tujuan surat, yaitu Apfia dan Arkhipus. Sebagai pengirim, Paulus tidak mau sendirian tetapi juga menyebut nama Timotius yang ada bersama dengan dia. Tentunya Timotius mengetahui juga isi surat kepada Filemon ini. Rupanya Paulus  memang menulisnya sebagai surat semi pribadi, agar jemaat yang biasa berkumpul di rumah Filemon dapat ikut mengetahui isinya dan dapat bersama-sama merenungkan pesannya. Pada bagian salam pembukaan, para jemaat juga ikut disapa. Kendati demikian, permasalahan pokok yang dibahas di dalam surat lebih pada urusan Paulus dengan Filemon berkenaan dengan minggatnya Onesimus.
     Pada waktu itu, jumlah jemaat kristen masih sedikit dan mereka biasa mengadakan doa serta pertemuan di rumah-rumah pribadi jemaat yang mempunyai ruangan cukup besar. Sudah menjadi kebiasaan bahwa surat-surat Paulus dibaca dan didengarkan bersama-sama. Mengenai surat Filemon, kehadiran jemaat yang ikut mendengarkan pembacaan surat memberi keuntungan sendiri bagi tujuan Paulus. Di dalam surat, Paulus meminta agar Onesimus diterima kembali di rumah Filemon. Dapat dibayangkan bahwa kehadiran jemaat pada waktu surat dibacakan membuat  Filemon sulit mengabaikan atau menolak permintaan Paulus. Tentu saja cara yang dipilih oleh Paulus tidak bertujuan buruk, mengingat sikap persaudaraan dan keterbukaan di antara jemaat pada waktu itu sudah menjadi suatu keutamaan yang dicita-citakan bersama. Selain itu, isi dan pesan suratnya relevan untuk seluruh jemaat, bukan hanya untuk Filemon.
     Apakah Filemon mengabulkan permintaan Paulus? Kita mengandaikan bahwa Filemon mengabulkannya, terbukti surat semi pribadi ini sampai disimpan oleh jemaat, dan Gereja memasukkannya ke dalam kanon Kitab Suci. Bahkan amat sangat mungkin pesan rohani Paulus di dalam surat ini menyentuh hati jemaat dan memberi inspirasi iman yang dianggap relevan untuk diteruskan dari generasi ke generasi.

3.  Apakah pokok permasalahannya?

     Dari suratnya, kita dapat merekonstruksi duduk permasalahan yang melatarbelakanginya. Filemon mempunyai seorang budak yang bernama Onesimus. Pada suatu hari, entah apa alasannya, Onesimus melarikan diri dari tuannya. Jika mengacu pada surat Kolose 4:9.17, nama Onesimus dan Arkhipus disebut sebagai orang-orang yang tinggal di Kolose. Dari situ dapat disimpulkan bahwa Filemon tinggal di Kolose. Kita tidak tahu persis apa sebabnya Onesimus minggat dan apa kesalahan yang telah dilakukannya. Ada kesan bahwa Onesimus bukan hanya minggat dari rumah Filemon tetapi juga telah merugikan tuannya itu. Kerugian apakah yang dimaksud? Apakah Onesimus telah mencuri uang Filemon? Ataukah dia masih berhutang kepada tuannya dan belum membayarnya? Kita tidak tahu persis. Yang jelas, jika memang benar bahwa Onesimus telah merugikan tuannya entah dalam hal uang maupun hutang,  Paulus bersedia menanggungnya (ayat 18-19).
     Onesimus minggat dari rumah Filemon dan pergi kepada Paulus yang pada waktu itu sedang dipenjara. Jarak antara Kolose ke Efesus memang tidak amat jauh. Jika ditarik garis lurus, kedua kota itu berjarak sekitar 175 km. Karena Onesimus lari kepada Paulus, maka Paulus merasa bertanggungjawab secara langsung untuk menyelesaikan persoalannya. Menurut undang-undang Romawi, barangsiapa menerima seorang budak pelarian, dia harus bertanggungjawab pada tuan dari budak tersebut. Paulus memang menunjukkan tanggungjawabnya, dia akan mengembalikan Onesimus kepada Filemon dan akan menanggung segala kerugian (ayat 19). Sebagai perbandingan, dalam Ul 23:15-16 dikatakan: “Janganlah kauserahkan kepada tuannya seorang budak yang melarikan diri dari tuannya kepadamu. Bersama-sama engkau ia boleh tinggal, di tengah-tengahmu, di tempat yang dipilihnya di salah satu tempatmu, yang dirasanya baik; janganlah engkau menindas dia.” Sebagai orang Yahudi, tentunya Paulus tahu aturan yang tertulis dalam kitab Ulangan tersebut. Kendati begitu, Paulus hidup di tengah budaya helenis yang memakai undang-undang Romawi di dalam kehidupan sosial dan politik. Paulus memang tidak menindas Onesimus. Dari suratnya, hal itu tidak disebabkan oleh perintah kitab Ulangan, tetapi karena Paulus sendiri merasakan kehadiran Onesimus yang berguna baginya.
     Rupanya Paulus juga memperhitungkan undang-undang Romawi untuk mengembalikan seorang budak yang melarikan diri kepada tuannya. Kasus minggatnya seorang budak dari rumah tuannya adalah sesuatu yang biasa terjadi di dunia Yunani-Romawi pada waktu itu. Biasanya para budak yang tertangkap setelah melarikan diri akan dihukum dengan hukuman penjara, dicambuk, bahkan disalibkan. Dalam kasus Onesimus, persoalannya menjadi tidak biasa karena iman kristen memberi dimensi baru bagi persaudaraan di dalam Kristus yang tidak mengenal pembedaan suku, ras, golongan, status sosial, maupun gender. Bagi iman kristen, Kristus adalah semua di dalam segala sesuatu (bdk. Kol 3:11; Gal 3:27-28). Paulus tidak mau membiarkan Onesimus kembali kepada Filemon untuk kemudian ditindas, atau diperlakukan sebagai budak kembali. Paulus ingin agar Onesimus diperlakukan dengan baik, bahkan dianggap sebagai saudara dalam Kristus.

4.  Tujuan surat

     Apakah Paulus memakai surat ini sebagai senjata untuk memberantas perbudakan? Kita boleh menduga bahwa Paulus tidak mau masuk ke dalam masalah perbudakan, kendati latar belakang suratnya kental dengan suasana itu. Keprihatinan Paulus lebih pada bagaimana dapat membangun relasi antar jemaat kristen yang diwarnai persaudaraan sejati. Di dalam persaudaraan sejati itu diandaikan adanya sikap saling menghargai, saling mengampuni, saling berbela rasa, saling mengasihi dan memberi perhatian. Siapapun entah budak atau tuan, entah kaya atau miskin, entah berstatus rendah maupun tinggi, mendapat hak dan kewajiban yang sama untuk membangun dan merasakan persaudaraan sejati itu. Jika prinsip persaudaran sejati itu sungguh dilaksanakan, lama-kelamaan sistem perbudakan akan hapus dengan sendirinya. Untuk sementara, Paulus baru sampai pada himbauan agar memperlakukan budak sebagai saudara sejati di dalam Kristus. Sekali lagi, penghapusan sistem perbudakan bukanlah tujuan utama dari surat ini. Rasanya masih sulit pada waktu itu untuk membayangkan suatu masyarakat tanpa budak. Namun, dapat diharapkan bahwa sistem perbudakan dengan sendirinya akan hapus jika jemaat mau mewujudkan persaudaraan sejati yang dilandasi iman akan Kristus. Jika Onesimus kembali kepada Filemon, mungkin saja dia masih melakukan pekerjaan yang sama sebagai budak. Namun, dengan intervensi Paulus diharapkan perlakuan terhadap Onesimus menjadi lain. Dia diperlakukan sebagai saudara sejati dalam Kristus, meskipun masih melakukan pekerjaan yang sama. Selain itu, intervensi Paulus bertujuan pula agar Onesimus tidak harus menanggung kerugian Filemon. Paulus yang akan menanggungnya.
     Surat kepada Filemon mempunyai beberapa tujuan penting. Pertama, untuk memberi kepastian kepada Filemon bahwa Paulus akan mengirimkan Onesimus kembali kepadanya. Kedua, Paulus meminta agar dia diterima oleh Filemon sebagai saudara terkasih demi iman akan Kristus. Ketiga, persoalan ini menjadi kesempatan bagi Paulus untuk menasihatkan bahwa iman kristen membawa pola relasi yang baru di antara anggota jemaat, yaitu relasi yang diwarnai persaudaraan sejati tanpa memandang perbedaan suku, ras, golongan, budaya, kedudukan sosial, maupun gender. Keempat, Paulus mau mengajarkan perwujudan iman Kristen di dalam tindakan belas kasih dan pengampunan.
     Onesimus yang dianggap bersalah itu ternyata telah banyak membantu Paulus selama dia berada di dalam penjara. Dari kedekatannya dengan Onesimus, Paulus tahu bahwa Onesimus adalah orang baik dan dia tidak memberi kesan sebagai seorang budak yang sedang melayani Paulus sebagai tuannya. Lebih tepat dikatakan bahwa Onesimus telah melayani Paulus sebagai seorang kristen melayani rasul, atau sebagai seorang anak melayani bapaknya. Dia melayani Paulus dengan penuh hormat, perhatian dan kasih yang tulus. Oleh karena itu, Paulus tidak segan-segan menyebut dia sebagai anak dan buah hatinya. Ini suatu pertanda bahwa hubungan keduanya sudah begitu dekat dan saling membutuhkan. Hanya satu yang masih mengganjal, yaitu bahwa Onesimus bukan orang merdeka. Dia adalah milik Filemon, sehingga Paulus harus mengirimnya kembali kepadanya.
     Berdasarkan pengalaman relasi yang begitu dekat itu, Paulus berpendapat bahwa Onesimus layak diterima kembali oleh Filemon sebagai saudara dalam Kristus, tidak diperlakukan sebagai seorang budak. Mengapa hal ini perlu ditekankan? Persoalannya, bisa saja Filemon menerima Onesimus kembali kepadanya tanpa diberi hukuman tetapi tetap diperlakukan sebagai seorang budak. Menurut ukuran kelaziman waktu itu, sudah merupakan suatu kebajikan yang luar biasa jika Onesimus diterima kembali tanpa mendapat hukuman. Namun, Paulus menghimbau Filemon agar menunjukkan kebaikan yang melebihi kelaziman pada zamannya. Dia ingin agar Onesimus bukan hanya diterima dan tidak dihukum, tetapi hendaknya dianggap sebagai saudara dalam Kristus. Status dan latar belakang Onesimus memang tidak dapat diubah lagi dari segi sosial kemasyarakatan. Namun, masih ada jalan yang sah dan seharusnya terjadi bagi umat Kristen, yaitu menganggap orang lain sebagai saudara dalam iman akan Yesus Kristus. Di dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, Paulus pernah memberi nasehat demikian:
8 Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.  9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, 10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; 11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. 12 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.” (Kol 3:8-12)

27 Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. 28 Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. (Gal 3:27-28)

     Paulus menasihati jemaat Kolose tentang keutamaan kristiani yang menjadi ciri dari manusia baru yang terus-menerus diperbaharui menurut gambar (citra) Allah Sang Pencipta, manusia baru yang dipilih-Nya dan dikasihi-Nya. Keutamaan tersebut antara lain berupa sikap dan tindakan belas kasih, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran. Selain itu, Paulus juga mengatakan bahwa di dalam Kristus tidak ada lagi pembedaan, antara lain pembedaan antara budak dan orang merdeka. Kristus adalah semua dan di dalam semua, dan kita semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.
     Sebagai anggota jemaat yang berdomisili di Kolose, Filemon tentu pernah mendengar atau bahkan membaca surat Paulus tersebut. Dengan demikian, permintaan Paulus agar Onesimus diampuni dan diterima kembali di rumahnya bukan sesuatu yang baru bagi Filemon. Filemon pernah mendengar nasihat Paulus itu, dan inilah saat yang tepat baginya untuk mewujudkannya secara nyata.

5.  Argumentasi dan retorika Paulus di dalam surat kepada Filemon

1.  Paulus menyebut Filemon sebagai saudara kekasih dan rekan sekerja (ayat 1). Sebutan sebagai saudara dan rekan sekerja ini menunjukkan pola relasi tertentu. Filemon bukan orang lain dan bukan sekedar salah satu anggota jemaat kristen. Filemon mempunyai relasi dekat dengan Paulus, bahkan berperan sebagai rekan sekerjanya di dalam membina jemaat Kolose. Diandaikan bahwa Filemon mengenal dengan baik apa yang menjadi perjuangan, semangat dan cita-cita Paulus. Wibawa Paulus diakuinya.
2.  Paulus bersyukur atas teladan Filemon dalam hal kasih kepada semua orang kudus (jemaat beriman) dan dalam beriman kepada Tuhan Yesus. Surat ini ditulis dengan disertai keyakinan Paulus akan keunggulan kasih dan iman dari Filemon. Keyakinan ini menumbuhkan harapan bagi Paulus bahwa Filemon akan menyetujui permintaannya dan memahami argumentasi Paulus dalam menganjurkan pengampunan dan penerimaan kembalinya Onesimus kepadanya.
3.  Paulus menyatakan dirinya sebagai orang yang sudah menjadi tua dan dipenjarakan karena Kristus. Apa kaitannya dengan isi surat? Dengan pernyataan itu, Paulus mau mengatakan bahwa dia telah rela mengorbankan dirinya demi Kristus sampai pada masa tuanya. Jika dia meminta Filemon untuk berkorban demi Kristus itu bukan sekedar nasehat saleh tetapi dia sendiri sudah menghayati arti pengorbanan itu. Pengorbanan apa yang dituntut dari Filemon? Tak lain adalah kesediaannya untuk menerima Onesimus kembali, bukan sebagai budak tetapi sebagai saudara dalam Kristus. Selain itu, Paulus ingin menggugah simpati Filemon akan kondisinya dan mengundangnya untuk ikut terlibat di dalam pengorbanannya demi Kristus. Di dalam penderitaannya, Paulus dapat merasakan bahwa kehadiran Onesimus amat bermanfaat baginya. Baginya, Onesimus sudah menjadi saudara kekasih. Tentunya, hal yang sama dapat dirasakan oleh Filemon dengan kehadiran Onesimus kepadanya.
4.  Paulus memang mempunyai sebuah permintaan, tetapi dia tidak mau memaksa Filemon untuk mengabulkannya. Dia sebenarnya ingin agar Onesimus tetap tinggal bersamanya dan membantu dia selama di penjara. Akan tetapi dia tidak mau melakukan hal itu tanpa persetujuan Filemon. Bagaimanapun juga, Onesimus secara hukum adalah miliknya. Dengan mengirim kembali Onesimus kepada tuannya, Filemon bebas untuk mangambil keputusan. Kalau dia mau, dapat saja Onesimus dikirim kembali ke Efesus untuk melayani Paulus di penjara atas persetujuannya. Paulus tidak mau berandai-andai sejauh itu. Baginya cukup untuk mengatakan bahwa Onesimus telah berguna baginya, dia bukan lagi seorang budak tetapi sudah seperti saudara, anak, buah hati, bahkan telah menjadi bagian dari dirinya. Dia ingin agar relasi yang begitu dekat itu juga terjadi antara Filemon dan Onesimus.
5.  Minggatnya Onesimus dari rumah Filemon dalam arti tertentu mempunyai makna positif. Jika dia tidak minggat, keadaannya masih akan sama. Disposisi Filemon terhadap Onesimus, dan juga sebaliknya, masih akan tetap sama. Dengan sejenak berpisah dari Filemon, Onesimus mempunyai harapan untuk perubahan situasi dan kondisi. Ayat 15-16 memberi tafsiran itu: “15 Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya, 16 bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan.”
6.  Paulus sampai pada argumentasi puncaknya pada ayat 17: ““Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri.” Kalau argumen sebelumnya mengatakan bahwa Onesimus sepatutnya diterima kembali oleh Filemon karena masih dapat berguna baginya (fungsional), sekarang argumentasinya menjadi lebih menukik lagi. Menerima kembali Onesimus berarti sama dengan menerima Paulus sendiri. Kita diingatkan pada perumpamaan Yesus tentang penghakiman terakhir. Di situ sang raja (Tuhan) yang menghakimi manusia menurut perbuatannya, menyamakan dirinya dengan kaum lemah yang ditolong; “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Begitu dalamnya pathos Paulus sampai dia menyamakan dirinya dengan Onesimus. Dapat kita bayangkan, Filemon tentu tidak dapat tidak mengabulkan permintaan Paulus.
7.  Persoalan antara Filemon dan Onesimus adalah persoalan yang tidak terlalu rumit untuk ukuran sosial kemasyarakatan waktu itu. Budak adalah budak. Jika bersalah, tuannya dapat saja menghukum dia dengan cara yang lazim pada waktu itu. Tidak ada yang bisa menggugat, karena budak tersebut sudah menjadi milik tuannya. Seandainya tuannya cukup berbaik hati untuk menerima budak pelarian itu kembali ke rumahnya, wajar jika dia harus menyelesaikan persoalan yang telah membuat dia lari. Berkaitan dengan kasus Onesimus, kita andaikan saja dia telah mencuri uang Filemon atau telah berhutang padanya. Jika dia kembali kepada tuannya dan diterima kembali tanpa hukuman, Onesimus tetap harus menyelesaikan perkaranya yaitu mengembalikan uang yang dicuri atau melunasi hutangnya. Akan tetapi cara berpikir Paulus lain. Dia ingin agar Onesimus kembali kepada tuannya tanpa dibebani lagi permasalahan uang yang tak mungkin diselesaikannya itu. Jika Filemon mau memberlakukan kebiasaan tersebut, Paulus bersedia membayar kerugiannya. Biarlah semua kerugian Filemon akibat ulah Onesimus ditanggungkan pada dirinya (ayat 18-19). Selanjutnya Paulus mengatakan sesuatu yang bisa membuat Filemon semakin tak berkutik. Onesimus hanya berhutang uang kepada Filemon, tetapi Filemon sendiri sebenarnya juga telah berhutang kepada Paulus, bukan uang tetapi hidupnya sendiri. Paulus telah memperkenalkan Kristus kepadanya dan dengan demikian hidupnya telah “diselamatkan”. Tidak berlebihan jika Paulus mengatakan bahwa Filemon telah berhutang kepadanya, karena berkat jasanya hidup Filemon telah diselamatkan untuk kehidupan abadi. Akan tetapi entah Filemon mengakuinya atau tidak, Paulus bersedia untuk menanggung kerugian akibat ulah Onesimus, dengan jaminan tulisan tangannya sendiri (ayat 19). Bisa dipastikan bahwa Filemon tidak keberatan untuk mengabulkan permintaan Paulus yang disertai dengan segala alasan yang begitu kuat itu. Paulus tentu juga yakin akan hal itu. Pada awal surat, Paulus bersyukur kepada Tuhan karena kasih yang iman Filemon. Tentu Filemon tidak akan menyia-nyiakan rasa syukurnya dan mengabaikan hubungan persaudaraan yang telah begitu erat dengan Paulus, hanya karena persoalan minggatnya Onesimus. Kasihnya kepada sesama, imannya kepada Tuhan, dan persahabatannya dengan Paulus tidak akan dapat digoyahkan oleh pelanggaran seorang budaknya. Sebaliknya semua itu sekarang sedang diuji. Dan Paulus yakin bahwa Filemon akan memenangkan ujian itu. Bahkan Paulus yakin bahwa Filemon akan melakukan lebih dari apa yang diminta oleh Paulus (ayat 21).


6.  SURAT PAULUS KEPADA JEMAAT DI TESALONIKA

Surat-surat Tesalonika dianggap sebagai tulisan yang tertua dalam Perjanjian Baru. Surat-surat tersebut memaparkan sejumlah  permasalahan dan aspirasi dari Gereja muda. Surat 1Tes diperkirakan ditulis dalam 20 tahun setelah karya pulbik Yesus, tidak lama setelah Paulus mendirikan komunitas kristen di  Tesalonika, provinsi Makedonia (Kis 17; 1Tes). Dengan demikian surat-surat ini tergolong cukup penting. Ada kesulitan untuk membandingkan 1Tes dengan 2Tes. Keduanya mempunyai kemiripan tetapi juga mempunyai perbedaan yang tajam. Umumnya diduga bahwa 2Tes bukan tulisan asli Paulus, tetapi hasil peredaksian pada masa seseudah Paulus.

1.  Kota Tesalonika

     Sampai sekarang kota Tesalonika masih berdiri, dengan nama Salonika. Pada zaman Paulus, Tesalonika adalah kota pelabuhan alami di propinsi Makedonia yang terletak di ujung teluk Terme. Kota Tesalonika mempunyai sejarahnya jauh sebelum Paulus, yaitu sekitar tahun 315 ketika kota itu didirikan oleh Cassander atau Kassandros, salah seorang jenderal dari raja Aleksander Agung. Cassander menamainya kota Tesalonika, seperti nama isterinya, saudari tiri/satu ayah dari Aleksander Agung. Setelah menang perang di Pydna pada tahun 168 sM, bangsa Romawi menguasai Tesalonika dan menjadikannya kota yang penting serta strategis untuk berhubungan dengan wilayah kekaisaran bagian Timur. Tahun 146 sM, Tesalonika menjadi ibu kota dari privinsi Makedonia, di bawah kekaisaran Romawi. Penduduk Tesalonika mendukung Octavius dalam perang di Filipi tahun 42 sM, dan sejak itu mendapatkan status kota merdeka yang mempunyai otonomi administratip sendiri di bawah seorang gubernur Roma. Karena letaknya yang strategis, Tesalonika juga menjadi kota penting dalam bidang ekonomi, perdagangan dan politik.
     Orang Yahudi di Tesalonika mempunyai sinagoga sendiri, di mana Paulus pernah berkotbah (bdk. Kis 17:1-2). Selain itu dari penelitian arkeologis di sana ditemukan juga bekas-bekas kuil dewa-dewi Isis, Serapis, Osiris, Anubis dan tempat pemujaan kaisar.

2.  Gereja di Tesalonika

     Sumber yang dapat kita ambil mengenai didirikannya Gereja di Tesalonika oleh Paulus terdapat pada Kis 17:1-10 dan surat 1Tes. Disebutnya nama Makedonia dalam Kis 19-20 dan surat-surat Paulus (1-2Kor, Roma, Filipi) mengandaikan adanya kontak yang cukup dekat antara Paulus dengan jemaat Tesalonika. Menurut Kis 17:1-10, Tesalonika adalah kota Eropa kedua, setelah Filipi, di mana Paulus mewartakan Injil. Ditemani oleh Silas dan Timotius, Paulus menyeberangi laut Aegea dari Asia. Setelah mengunjungi Filipi dan mengalami banyak kesulitan sampai pemenjaraan (Kis 16:16-40), Paulus dan kawan-kawan meninggalkan Filipi, melewati Amfipolis dan Apolonia lalu sampai di Tesalonika (sekitar tahun 49), yang jaraknya sekitar 130 km dari Filipi. Amfipolis dan Apolonia tidak mereka singgahi, mungkin karena tidak terdapat sinagoga di kedua kota itu.
     Menurut Kisah Para Rasul, Paulus beserta Silas dan Timotius mengunjungi Tesalonika dalam perjalanan misinya yang kedua, sekitar tahun 50. Rupanya jumlah orang Yahudi di Tesalonika ada cukup banyak, sampai dapat mempunyai sinagoga sendiri. Kisah Para Rasul menceritakan bahwa Paulus dan kawan-kawannya tinggal di rumah Yason ketika berkotbah selama tiga hari Sabat di Tesalonika. Dia berhasil mengkristenkan beberapa orang Yahudi terkemuka dan banyak orang Yunani proselit. Karena terjadi keributan yang diprakarsai oleh orang-orang Yahudi melawan Paulus, mereka meninggalkan Tesalonika dan pergi ke Berea (Kis 17:1-9). Surat 1Tes ditulis beberapa bulan setelah dia meninggalkan Tesalonika dan surat ini ditulisnya dari Korintus.
     Penjelasan menurut Kisah Para Rasul tidak memberikan gambaran lengkap tentang kegiatan Paulus di Tesalonika. Pembicaraan Paulus tentang karya misinya (1Tes 2:9-12) dan kedekatannya dengan jemaat Tesalonika (1Tes  2:8; 3:6-10) mengandaikan bahwa Paulus tinggal di sana lebih dari tiga minggu, mungkin sampai beberapa bulan. Menurut 1Tes, diduga bahwa Paulus mempertobatkan orang-orang dari paganisme, bukan dari Yudaisme (bdk. 1:9: mereka meninggalkan berhala-berhala). Tidak terkesan adanya komunitas Yahudi dalam 1Tes dan tidak ada petunjuk bahwa pengejaran terhadapnya disebabkan oleh ulah kaum Yahudi. Selain itu, 1Tes tidak mengatakan bahwa tema kotbah Paulus di Tesalonika berkisar pada Yesus sebagai Mesias yang menderita, wafat dan bangkit. Menurut Kisah Para Rasul 17, kotbah Paulus mengenai Yesus sebagai Mesias yang menderita dan bangkit dari mati (ay. 2-3) disalah-tafsirkan sebagai upaya mewartakan pemerintahan baru melawan kaisar Roma (ay. 7). Isu ini tentunya cukup efektip mengingat Tesalonika menjadi tempat tinggal gubernur Roma untuk propinsi Makedonia.
     Informasi berdasarkan surat 1Tes agak berbeda dengan apa yang ditulis dalam Kisah Rasul. Paulus ingin ditinggal sendirian di Atena sementara Timotius dikirim kembali ke Tesalonika untuk melihat bagaimana keadaan jemaat di Tesalonika (1Tes 3:6). Ketika Timotius kembali, tidak jelas apakah waktu itu Paulus masih di Atena (1Tes 3:1-3) atau sudah pergi ke Korintus (Kis 18:1.5). Mendengar laporan Timotius bahwa bahwa jemaat Tesalonika masih teguh dalam iman, Paulus kemudian menulis surat 1Tes ini yang ditujukan kepada jemaat di sana. Dalam Kisah Rasul ditegaskan bahwa baik Timotius maupun Silas tidak bertemu Paulus di Atena, tetapi mereka bergabung kembali dengannya setelah Paulus berada di Korintus (Kis 17:14-16; 18:5).
     Mengapa terjadi perbedaan informasi antara Kis 17 dan 1Tes? Rupanya penulis Kisah Rasul lebih dipengaruhi oleh situasi dan kondisi setelah zaman Paulus yang cenderung mendiskreditkan kaum Yahudi. Misalnya, dengan menyebut adanya perlawanan dari kaum Yahudi terhadap umat Kristen, mau ditunjukkan bahwa yang perlu dicurigai bangsa Roma adalah sinagoga dan bukan Gereja.
     Meskipun ada perbedaan, namun terdapat sejumlah kesamaan informasi dari Kisah Rasul dan 1Tes. Pertama, kunjungan Paulus ke Tesalonika telah didahului dengan kunjungan ke Filipi (1Tes 2:2; Kis 16:19-24). Kedua, tinggalnya Paulus di Tesalonika diwarnai oleh kesulitan dan penganiayaan (1Tes 1:6; 2:14; Kis 17:5-9). Ketiga, setelah meninggalkan Tesalonika, Paulus pergi ke Atena (1Tes 3:1; Kis 17:14-16). Keempat, Paulus menulis surat Tesalonika ketika dia bergabung kembali dengan Timotius dan Silas (1Tes 1:1; 3:6), kemungkinannya ditulis di Korintus (Kis 18:1.5). Dengan demikian, ada kemungkinan surat ini ditulis sekitar tahun 50. Ada yang bilang ditulis lebih awal.
     Hubungan Paulus dengan jemaat di Makedonia rupanya terus berlangsung, tentunya juga dengan jemaat Tesalonika. Hubungan ini disinggung dalam Kis 19-20, surat Filipi, Korintus, dan Roma. Paulus memuji kesetiaan mereka pada iman kendati ada di dalam penganiayaan dan juga kemurahan hati mereka (Rm 15:26; 2Kor 8:1-5). Pada akhir karyanya di Filipi (tahun 55) Paulus berencana untuk pergi ke Korintus dengan melewati Makedonia (1Kor 16:5). Baik 2Kor 7:5 maupun Kis 20:1-6 memberi petunjuk bahwa Paulus mengunjungi Makedonia lagi (tahun 56) sebelum perjalanannya yang terakhir ke Yerusalem.

3.  Pentingnya surat Tesalonika

Sebagai dokumen yang tertua, surat 1Tes memuat bahan-bahan tradisional, khususnya rumusan-rumusan iman:

1Tes 1:9-10 :   9 Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar, 10 dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.
1Tes 4:14:       Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.
1Tes 5:9-10          9 Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, 10 yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia.
     Rumusan singkat tersebut merupakan gambaran inti pewartaan Injil pada masa antara kebangkitan Kristus sampai penulisan-penulisan awal Perjanjian Baru (antara th. 30-50). Awal munculnya iman terkait erat dengan pemaknaan peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus bagi jemaat Kristiani.
     Dari segi doktrinal, tulisan Paulus berkaitan dengan parousia (1Tes 4:13-18) dan Hari Tuhan (5:1-11) menggambarkan tumbuhnya harapan eskatologis di kalangan jemaat perdana. Harapan ini dinyatakan dengan ungkapan-ungkapan yang bersifat apokaliptik. Berhubungan apokaliptisme penuh dengan ungkapan simbolik, maka teks berkaitan dengan parousia dan Hari Tuhan tidak dapat ditafsirkan sebagai gambaran harafiah mengenai akhir zaman. Yang menjadi dasar keyakinan pokok adalah kedatangan kembali Yesus pada akhir dunia untuk menegakkan pengadilan-Nya.
     Surat 1Tes disusun serupa dengan surat personal yang lazim ditulis di lingkungan budaya sastra helenis. Dengan demikian, kita mendapatkan contoh bentuk dokumen kristen yang kuno.

4.  Susunan surat 1Tesalonika:

SALAM (1:1)
UCAPAN SYUKUR (1:2-3:13)
     A. Ucapan syukur yang pertama     -    1:2-2:12
     B. Ucapan syukur yang kedua         -    2:13-3:13
NASEHAT (PARENESE) YANG PERTAMA (4:1-12)
     A. Mengenai bahaya percabulan      -    4:1-8
     B. Mengenai perbuatan cinta kasih  -    4:9-12
ESKATOLOGI (4:13-5:11)
A. Kotbah apokaliptis (1): Parousia -   4:13-18
     B. Kotbah apokaliptis (2): Eksistensi eskatologis - 5:1-11
NASEHAT TERAKHIR (5:12-22)
     A. Nasehat pertama: hormat dan taat kepada pemimpin jemaat     -   5:12-13
B. Nasehta kedua: himbauan tentang berbagai keutamaan hidup menjemaat -     5:14-22
SALAM DAN BERKAT (5:23-28)

5.  Permasalahan jemaat Tesalonika dan tanggapan Paulus

a.  Meneguhkan mereka agar setia dalam iman di tengah penganiayaan dan penderitaan:
Menurut laporan Timotius, jemaat di Tesalonika menderita penganiayaan dan pengejaran namun tetap tabah dalam iman. Paulus meneguhkan iman mereka dengan mensharingkan pengalamannya sendiri. Selain itu, Paulus menyatakan bahwa ketekunan dan kesetiaan jemaat Tesalonika sudah dikenal di kalangan Gereja-gereja lainnya dan mampu menjadi daya dorong bagi mereka agar tekun dan tabah dalam iman. Ketekunan dan ketabahan dalam iman hendaknya dieujudkan pula dalam tindakan cinta kasih dan hormat kepada sesama jemaat dan mempertahankan hidup kudus.

b.  Paulus mau membela dirinya melawan berbagai tuduhan:
Di balik pernyataan Paulus dalam 1Tes 2:1-12 terkandung suatu pembelaan diri Paulus terhadap tuduhan padanya, yang berupa anggapan bahwa Paulus adalah rasul yang: melakukan tugas kerasulannya dengan tidak murni, disertai dengan tipu daya, mau menyukakan hati manusia saja, hanya bermulut manis, loba, mencari pujian dari manusia, tidak ramah, mengambil keuntungan material dari pelayanannya. Paulus dengan tegas menolak semua tuduhan tersebut. Para anggota jemaat diharapkan dapat menjadi saksi bahwa tuduhan-tuduhan terhadapnya tidak benar.

c.  Kedatangan Tuhan kembali di akhir dunia:
Yesus telah berjanji akan datang kembali. Rupanya jemaat menafsirkan bahwa kedatangan Yesus kembali sudah begitu dekat. Mereka yang masih hidup akan mengalami tibanya akhir zaman itu. Muncul persoalan dengan meninggalnya para anggota jemaat sebelum akhir dunia. Apakah ada keselamatan bagi mereka? Bagaimana mereka nanti akan diadili karena sudah meninggal? Untuk menanggapi permasalahan tersebut, Paulus memakai bahasa apokaliptik yang sarat dengan simbolisme untuk melukiskan datangnya akhir zaman (1Tes 4:13-18). Gambaran apokaliptik ini tentu saja tidak dapat ditafsirkan secara harafiah. Paulus menegaskan bahwa rencana keselamatan Allah bagi umat-Nya akan terlaksana, meskipun pada waktu itu terjadi banyak halangan dari kalangan musuh-musuh Kristus. Paulus menasehati agar jemaat jangan gelisah. Mereka yang sudah meninggal akan dibangkitkan dan kemudian ikut serta dalam barisan pengikut Kristus. Mereka akan bangkit mendahului anggota jemaat yang masih hidup, baru kemudian bersama-sama dengan mereka yang masih hidup diangkat dalam awan untuk menyongsong kedatangan Tuhan. Baik-yang hidup maupun yang telah mati akan bersama-sama ada di dalam Tuhan dan bersama Tuhan (1Tes 4:16-17). Paulus mau memberi keyakinan kepada jemaat bahwa mereka yang mati sebelum hari Tuhan tetap akan disatukan dengan Kristus. Kematian tidak akan memisahkan manusia beriman dari Kristus. Di dalam 1Tes, Paulus terkesan menganggap hari Tuhan akan segera tiba, oleh karena itu umat hendaknya berjaga-jaga. Surat 2Tes seolah-olah mengoreksi anggapan Paulus ini dengan pernyataan bahwa kedatangan Tuhan belum akan segera datang. Sebelum Tuhan datang, akan lebih dulu muncul para musuh Kristus yang semuanya akan dikalahkan oleh-Nya. Untuk jelasnya, kita dapat membandingkan 1Tes  4:13-18 dengan 2Tes 2;1-12. Entah kapan hari Tuhan akan tiba, kedua surat Tesalonika hanya menasehatkan agar jemaat berjaga-jaga menghadapi kedatangan Tuhan tersebut.

c.  Menasihati jemaat agar hidup secara pantas menurut Injil:
Berkaitan dengan kepercayaan akan datangnya hari Tuhan, Paulus menasehati jemaat agar hidup kudus (4;1-12; 5:1-22). Hidup kudus adalah cara yang paling tepat untuk berjaga-jaga jika suatu kali Tuhan datang kembali, karena hari Tuhan akan datang seperti pencuri di waktu malam. Artinya dapat begitu saja datang tanpa disangka-sangka. Bagaimana persisnya hidup kudus itu? Paulus ingin agar jemaat tidak gelisah tetapi justru dapat saling memberi penghiburan satu sama lain, seperti Paulus juga bermaksud menghibur dan meneguhkan hati jemaat. Ungkapan berjaga-jaga oleh Paulus dikaitkan dengan jati diri jemaat kristiani sebagai anak-anak terang dan anak-anak siang. Istilah kegelapan dikaitkan dengan kondisi tidur dan tidak berjaga-jaga. Dengan bahasa kiasan, Paulus menggambarkan sikap berjaga-jaga bagaikan: memakai iman dan kasih sebagai baju zirah, memakai pengharapan bagaikan ketopong yaitu semacam topi pelindung kepala  (5:1-11). Di satu pihak, berjaga-jaga adalah siap melindungi diri dari serangan, di lain pihak berjaga-jaga sama dengan siap menyerang musuh yang tak lain adalah kejahatan dan dosa. Pada ayat 10 kata tidur disamakan dengan mati. Selanjutnya, Paulus dalam 5:12-22 memberi nasehat agar jemaat saling menghormati, mengasihi, mengingatkan, menghibur, membela yang lemah dan sabar terhadap semua orang. Hendaknya jemaat jangan membalasa kejahatan dengan kejahatan, sebaliknya tetap tekun dan setia untuk berbuat baik terhadap semua orang. Berkaitan dengan iman akan Kristus, hendaknya jemaat senantiasa bersukacita, tekun berdoa, bersyukur dalam segala hal, tidak memadamkan Roh, tidak menganggap rendah nubuat, menguji segala sesuatu dan berpegang pada hal yang baik. Pada akhirnya, Paulus mensehati jemaat agar menjauhkan diri dari segala macam kejahatan (ay. 22). Pernyataan ini merupakan kesimpulan dari nasehat Paulus agar jemaat berjaga-jaga di dalam menghadapi hari kedatangan Tuhan.

6.  Permasalahan mengenai otentisitas 2Tes sebagai surat Paulus

     Sesuatu hal yang cukup janggal bahwa surat 1Tes dianggap asli Paulus sedangkan surat 2Tes diragukan keasliannya. Sebenarnya pada abad kedua dan ketiga keaslian 2Tes sudah diterima umum. Beberapa manuskrip kuno memuat surat 2Tes  Surat Polikarpus kepada jemaat Filipi yang ditulis sekitar tahun 140 sudah menyebut adanya surat 2Tes. Kesaksian mengenai otentisitas surat 2Tes kita temukan pada kanon Muratorium (abad 2-4), koleksi Marcion (sekitar th. 140), kesaksian Ireneus (sekitar th. 180), tulisan Klemes dari Aleksandria dan Tetulianus (abad 3). Rupanya kesaksian yang sifatnya internal tersebut tidak menyurutkan dugaan banyak ahli untuk meragukan otentisitas surat 2Tes. Para ahli memakai alasan yang sifatnya internal, yaitu bukti-bukti yang didapatkan lewat pengamatan atas teksnya sendiri.
Alasan keraguan terhadap keaslian 2Tes:
-    Adanya kemiripan antara 1 Tes dengan 2Tes. Surat 2Tes mempunyai 146 kata yang ditemukan pula di dalam 1Tes. Selain itu juga ada kemiripan dalam sejumlah frase (bdk. 1Tes 2:9 dengan 2Tes 3:8). Kemiripan dalam ungkapan: pekerjaan iman (1Tes 1:3; 2Tes 1:11), “orang-orang yang tidak mengenal Allah” (1Tes 4:5; 2Tes 1:8), “beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus Tuhan kita” (1Tes 5:9; 2Tes 2:14).
-    2Tes mempunyai sejumlah kata dan frase yang tidak dikenal di dalam surat-surat Paulus lainnya, misalnya: Kami wajib (harus) selalu mengucap syukur kepada Allah (2Tes 1:3; 2:13), “lekas bingung dan gelisah” (2Tes 2:2), “percaya akan kebenaran” (2Tes 2:12), “beroleh kemajuan” (3:1). Alasan ini sebenarnya bukanlah dasar yang cukup kuat karena Paulus juga mempunyai kata-kata dan ungkapan yang khas untuk masing-masing surat.
-    Pandangan yang berbeda terhadap eskatologi: Bandingkan 1Tes 5:1-3 dengan 2Tes 2:1-12; 1Tes 5:4. Dalam surat 1Tes kedatangan Tuhan akan segera terjadi di saat mereka/jemaat masih hidup (1Tes 4:15.17). Dalam 2Tes kedatangan masih jauh (2Tes 2:7). Parousia baru akan terjadi setelah kaum jahat dienyahkan. Dalam 1Tes parusia akan datang tanpa peringatan, sedangkan bagi 2Tes parusia akan didahului dengan peristiwa-peristiwa apokaliptis (bdk. kontras antara Mat 24:3-35 dengan 36-44). Ide mengenai manusia pendosa dalam 2Tes tidak dikenal dalam surat-surat Paulus lainnya. Tidak biasa bagi Paulus untuk memberi dua macam nasihat kepada jemaat yang sama pada waktu yang berdekatan.
-    Kristologi yang lebih maju: Surat 1Tes memberi tekanan pada Allah sedangkan 2Tes pada Tuhan (1Tes 1:4 bdk 2Tes 2:13). 1Tes menempatkan Allah sebelum Yesus: dalam 3:11, dan 2Tes 2:16 menempatkan Yesus sebelum Allah. Ini menunjukkan bahwa surat 2Tes ditulis setelah zaman Paulus ketika Gereja memberi tempat yang lebih penting pada Yesus. Ada perbedaan penggunaan antara sebutan “Allah” dalam 1Tes dengan sebutan “Tuhan” dalam 2Tes. Ini mengandaikan adanya perkembangan kristologis: dari Allah ke Yesus. Dalam 2Tes, Kristus disapa sebagai Allah (1:12).
-    Perbedaan pada nuansa personal surat: Kecuali 3:1.7-9, surat 2Tes tidak memiliki nuansa personal seperti kelihatan pada 1Tes (bdk. 2:1-3:10). Keinginan Paulus untuk melihat dan mengajar kembali jemaat Tes tidak kelihatan pada 2Tes.
-    Tema mengenai pembalasan ilahi bagi pembunuh Yesus dan penganiayaan jemaat kristen adalah tema yang khas setelah zaman Paulus (Apologi dari Yustinus martir, Injil Petrus 7:25). Ini salah satu alasan mengapa 1Tes 2:15-16 dianggap Dtr-Paulinis.
































IV.  GAGASAN TEOLOGIS DALAM SURAT-SURAT PAULUS

     Surat-surat Paulus tidak memberikan suatu pengajaran teologis yang sistematik, karena dia hanya mengajarkan hal-hal yang menjadi permasalahan di kalangan jemaatnya. Nasihat, himbauan, peringatan, peneguhan, dan berbagai pengajaran yang diberikan oleh Paulus lebih menyangkut hal-hal khusus dalam praksis kehidupan iman jemaat. Meskipun tidak diberikan dengan cara sistematis, namun kita masih dapat membuat sejumlah gagasan teologis, kristologis, dan etis yang dominan dari pemikiran Paulus berdasarkan surat-suratnya.
     Perlu diketahui bahwa pemahaman Paulus mengenai kristianisme dipengaruhi oleh latar belakang Yudaisme yang dianutnya sebelum menjadi kristen, budaya helenisme, dan tradisi kristiani awal. Dari Yudaisme, Paulus mewarisi paham tentang kebangkitan badan, datangnya zaman baru, otoritas Kitab Suci, serta cara interpretasi dan berargumentasi khas para rabi Yahudi. Pandangan etis Paulus tampak dipengaruhi oleh budaya helenis. Paulus memakai terminologi filsafat yang berkembang di dunia Helenis-Roma ketika berbicara mengenai etika dan moral. Selebihnya, Paulus juga memanfaatkan retorika Yahudi (amat kelihatan dalam surat kepada jemaat di Roma). Iman Paulus akan Yesus yang dibangkitkan dari mati diwarisi dari tradisi kristiani yang sudah ada sebelum pertobatannya (bdk. 1Kor 15:1-7). Paulus tentu mengenal juga ajaran kristiani yang berasal dari Yesus sendiri, meskipun dia tidak pernah menyinggung hidup publik Yesus. Sebagai contoh, Paulus mengutip ajaran-ajaran Yesus mengenai seorang isteri yang hendaknya tidak meninggalkan suaminya (1Kor 7:10 bdk. Mrk 10:12), mereka yang mewartakan Injil mempunyai hak untuk hidup dari jerih-payahnya (1Kor 9:14 bdk. Mat 10:10; Luk 10:7). Banyak aspek dari pengajaran Paulus mempunyai kesamaan dengan apa yang terdapat dalam Injil, misalnya perintah untuk mengasihi sesama (Rm 13:8-10 bdk. Mrk 12:28-34). Yang pasti adalah bahwa Paulus meneruskan tradisi perjamuan Tuhan (1Kor 11:23-26 bdk. Mrk 14:22-25).

Beberapa ide teologis, kristologis, eklesiologis dan antropologis dalam surat-surat Paulus antara lain:

1.  Eskatologi

Gerakan Yesus memberi orientasi pada dimensi eskatologis dari kehidupan beriman. Demikian juga Paulus mengarahkan pandangannya pada datangnya kehidupan baru yang terjadi pada saat kedatangan Kristus yang kedua. Pada saat itu, orang-orang mati akan dibangkitkan dan dihadapkan pada pengadilan Allah. Segenap ciptaan akan ditebus dari belenggu kedosaan dan kematian tidak ada lagi. Kristus akan meraja dan semua umat beriman akan ambil bagian dalam kemuliaan-Nya. Bagi Paulus, berkat keselamatan yang sudah hadir di dalam Kristus akan mendapat kepenuhan-Nya di zaman kemudian. Paulus percaya bahwa hari kedatangan Tuhan sudah dekat. Dia memperingatkan jemaat di Roma dan Tesalonika agar berjaga-jaga sebab hari Tuhan sudah dekat (Rm 13:11-12; 1Tes 4-5). Kepada jemaat Filipi, Paulus menulis bahwa “Tuhan sudah dekat!” (Flp 4:5).

2.  Memaknai Hukum Taurat dari sudut pandang non-Yahudi

Baik Paulus maupun umat Yahudi-Kristen sama-sama menantikan datangnya pengadilan Allah dalam Kristus. Bagaimana umat beriman dapat diselamatkan dari penghukuman? Jemaat Yahudi-Kristen masih berpegang pada pandangan bahwa Hukum Taurat merupakan jalan ke keselamatan. Pandangan Paulus rupanya berbeda secara radikal dengan pandangan tersebut. Bagi Paulus, Hukum tidak membawa kehidupan tetapi justru membawa kematian. Tidak ada orang yang dibenarkan (dinyatakan benar) di hadapan Allah dengan melalui Hukum. Problem yang utama bagi Paulus sebenarnya bukan Hukum itu sendiri, tetapi kerapuhan manusia di dalam mentaati Hukum (Rm 7:7-14).  Kodrat manusia adalah “daging” sedang Allah adalah “Roh”. Daging dan Roh bertentangan karena kuasa dosa tinggal di dalam daging dan membuat manusia cenderung melawan Allah. Meskipun Hukum pada prinsipnya adalah baik, namun tidak mendapatkan implementasinya di dalam kehidupan manusia karena sifat “kedagingan” dari manusia itu sendiri. Tuntunan yang diberikan oleh Hukum tidak dapat dipenuhi oleh manusia, akibatnya Hukum justru membawa manusia kepada dosa dan mereka hidup di bawah kutuk (Gal 3:10; Rm 7:7-14). Sebagai akibatnya, manusia menjadi musuh Allah, diperbudak oleh kuasa dosa, layak mendapat hukuman pada saat penghakiman dan tak berdaya di hadapan kematian.
3.  Pembenaran berkat iman akan Yesus

Dalam pembicaraan mengenai keselamatan, Paulus memahami kematian Yesus sebagai korban. Salah satu jenis korban yang dipersembahkan di Bait Allah adalah korban pelunas dosa yang diperuntukkan bagi orang yang telah melanggar Hukum. Ritus korban menyertakan pula darah yang tertumpah dari binatang yang dikorbankan. Dengan tumpahnya darah korban maka Allah mengampuni si pendosa dan membatalkan hukuman yang seharusnya dijatuhkan. Paulus tidak pernah mendiskusikan apa yang dia pikirkan mengenai ritus korban, tetapi baginya wafat Yesus adalah korban terakhir, bahkan korban yang sempurna. Darah Yesus yang tertumpah membawa pengampunan Allah atas manusia yang berdosa. Hanya dengan iman dalam Yesus, manusia akan menerima rahmat keselamatan (Rm 3:21-26). Berkat darah-Nya, manusia didamaikan dengan Allah. Berkat iman akan Yesus dan baptisan, umat beriman dibenarkan (tidak lagi menjadi obyek murka Allah di hari pengadilan), didamaikan dengan Allah (tidak lagi menjadi musuh-Nya) dan ditebus (tidak lagi tunduk di bawah kuasa dosa).
Jika Paulus berbicara mengenai dosa, yang dia maksud lebih-lebih adalah kuasa dosa dan bukan dosa personal. Paulus tidak memakai bentuk plural untuk kuasa dosa (hamartia). Baginya, dosa (hamartia) adalah kekuatan yang tak tertahankan bagi manusia, yang membawanya kepada kejahatan, kebencian, dan akhirnya kematian (Rm 5:12; 6:6; 6:11; 7:13). Untuk menyebut dosa partikular, Paulus biasanya memakai ungkapan dari Septuaginta yaitu: pelanggaran, kesalahan, kekeliruan, kejahatan. Surat kepada jemaat di Roma secara khusus menmbahas kuasa dosa dan kecenderungan kepada dosa. Bagi Paulus, dosa adalah kuasa jahat yang masuk ke dunia lewat dosa Adam, manusia pertama. Namun, manusia pertama jangan dianggap sebagai orang mendalangi terjadinya dosa, tetapi lebih tepat dianggap sebagai sarana masuknya dosa. Pada kenyataannya, dosa membuat masing-masing manusia menjadi pendosa.

4.  Pewartaan Injil sebagai pembebasan

Injil yang diwartakan oleh Paulus adalah sebuah kabar gembira pembebasan, yaitu pembebasan dari dosa, dari Hukum dan dari maut. Inilah tiga kekuatan yang membayangi kehidupan manusia dan oleh Paulus ketiga kekuatan tersebut dipersonifikasikan sebagai musuh manusia. Ketiga kekuatan tersebut juga merupakan musuh dari karya keselamatan Allah. Jika manusia ada dalam kebebasan, maka diapun dapat membuat pilihan antara melawan atau mentaati Allah. Sebagai seorang pendosa, manusia dapat berkata “tidak” terhadap Perjanjian yang diadakan oleh Allah dengan manusia. Dosa dan kedosaan membuat manusia terpisah dari Allah. Di hadapan Hukum, manusia dapat menjadikan dirinya bagaikan seorang budak, yaitu mentaatinya secara buta dengan menfasirkannya secara harafiah. Hukum dengan begitu menjadi belenggu bagi kebebasan manusia. Berhadapan dengan maut, manusia sepenuhnya tanpa daya. Tidak ada manusia yang tidak mengakhiri kehidupannya dengan kematian. Kematian menjadi kemestian yang menakutkan dan menyakitkan bagi manusia. Namun, Kristus melalui wafat dan kebangkitan-Nya mengalahkan ketiga musuh tersebut. Dia membebaskan manusia dengan Roh-Nya (Rm 8:2). Dosa menjadi tanpa daya berhadapan dengan  rahmat-Nya. Roh ketaatan pada Hukum digantikan dengan Roh kebebasan dan kasih. Kematian yang tak terelakkan menjadi sarana yang membawa kebangkitan dan kesatuan dengan Tuhan.

5.  Dasar dan alasan dari tanggapan Paulus terhadap Taurat

Perbedaan yang radikal antara Paulus dan gerakan Yesus yang mendahuluinya membuat banyak orang menganggap Paulus sebagai pendiri dari kristianisme seperti yang kita kenal sekarang. Meskipun Paulus mewarisi tradisi yang lebih awal darinya, namun harus diakui bahwa dia mempunyai pengaruh besar dengan penolakannya terhadap Taurat sebagai jalan keselamatan. Kita tidak dapat melebih-lebihkan peranan Paulus dalam membangun kristianisme, namun kita tetap mengakui pengaruhnya yang besar. Apa yang membuat Paulus mengambil sikap yang begitu radikal terhadap Taurat? Ada beberapa alasan yang rupanya saling berkaitan.
-    Pertama, Hukum Taurat menawarkan jalan yang begitu rumit untuk mencapai keselamatan. Kerumitan tersebut justru membuat manusia semakin merasa bersalah karena tidak akan pernah dapat melaksanakannya dengan sempurna. Bagaimana orang dapat selamat jika hanya berdasarkan Taurat? Bagaimana nasib orang yang tidak mengenal Taurat?
     -    Karya misi Paulus di tengah bangsa-bangsa non Yahudi membuatnya bertanya mengenai relevansi Taurat. Apalagi yang diwartakan adalah Kristus, yang datang untuk menyelamatkan semua manusia. Bangsa Yahudi yang mengenal Taurat justru menjadi lawan yang amat gigih menentang pewartaannya akan keselamatan dalam Kristus. Bangsa-bangsa non Yahudi justru lebih terbuka pada pewartaan Injil.
-    Jika Taurat dirasa cukup untuk keselamatan, lalu manakah peran Kristus sebagai Penyelamat? Paulus menyinggung hal ini dalam Gal 2:21: “Sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.” Apalagi kematian Kristus adalah cara kematian yang terkutuk menurut Taurat. Kontras dari peristiwa Yesus dengan ajaran Taurat rupanya membuat Paulus harus memilih salah satu, yaitu Kristus atau Taurat. Ketika harus merefleksikan nilai dari kematian Yesus demi keselamatan seluruh umat manusia, Paulus makin cenderung untuk menolak Taurat sebagai jalan keselamatan. Jika toh Taurat masih dipandang bermanfaat, maka itu tidak lebih dari pembimbing bagi umat yang belum mencapai kedewasaan, serupa dengan paedagogos.
-    Perjuangan untuk taat pada Taurat justru membuat orang beriman semakin jauh dari Allah. Jika manusia semakin jauh dari Allah, berarti keselamatan juga semakin menjadi utopia belaka. Peristiwa Yesus bagi Paulus adalah peristiwa rahmat di mana Allah sendiri yang menghampiri manusia. Kristus dengan wafat dan kebangkitan-Nya memberi perspektif baru yang menjadi pencerahan bagi Paulus. Manusia tidak diselamatkan karena melakukan Taurat, tetapi berkat iman akan Kristus dan dalam Kristus. Partisipasi manusia dalam wafat dan kebangkitan Kristus itulah yang akan membawa keselamatan.
Apapun alasan Paulus untuk mengabaikan Taurat, yang jelas ajarannya membawa langkah maju dari gerakan Yesus. Pandangan Paulus memberi cakrawala bagi tradisi Kristen non Yahudi, yang pada gilirannya akan diadopsi oleh tradisi Gereja universal. Begitu lepas dari Hukum Yahudi, kristianisme berkembang menjadi agama sendiri, tidak lagi dianggap sebagai sekte Yahudi.

6.  Sekitar hidup menggereja dalam surat-surat Paulus

Jika mengamati karya Paulus dalam Kisah Para Rasul dan berdasarkan surat-suratnya, ada kesan kuat bahwa Gereja perdana berawal dari Gereja rumah. Jemaat kristiani berkumpul di rumah salah satu anggota jemaat dan melakukan pemecahan roti serta berdoa bersama. Pada kesempatan tertentu, Gereja rumah dapat berkumpul bersama sehingga membentuk sebuah kelompok jemaat yang cukup besar. Dalam situasi dan kondisi tersebut, Paulus lewat surat-suratnya merefleksikan beberapa gagasan yang sifatnya eklesiologis.
-    Perbedaan kelas sosial: Anggota Gereja berasal dari bermacam-macam kelas dan golongan dalam masyarakat. Beberapa surat Paulus menanggapi persoalan yang berangkat dari beragamnya latar belakang anggota Gereja tersebut. Dia berusaha menyelesaikan konflik atau potensi konflik yang timbul di tengah jemaat akibat perbedaan sosial dari anggotanya.  Dengan baptisan, umat kristiani menjadi sebuah keluarga yang menganggap satu sama lain sebagai saudara atau saudari. Masing-masing anggota jemaat dihimbau agar memiliki “sense of belonging”, bukan hanya di tingkat lokal (intern), tetapi juga  dalam relasinya dengan Gereja-gereja lainnya. Solidaritas antar Gereja juga menjadi perhatian dari Paulus, antara lain dalam bidang kesejahteraan hidup. Paulus menggambarkan Gereja sebagai tubuh Kristus di mana masing-masing anggota mempunyai peranannya sendiri-sendiri tanpa kehilangan unsur persatuan dan perhatian terhadap yang anggota lainnya (Rm 12:4-5; 1Kor 12:12-31; bdk. Kol 1:24; Ef 5:23). Ia menggambarkan Gereja bagaikan pengantin Kristus (2Kor 11:2; bdk. Ef 5:24-32), dan sebagai Bait Allah atau Bait Roh Kudus (1Kor 3:16-17; 2Kor 6:16; bdk. Ef 2:19-22).
-    Mengambil jarak terhadap hal-hal duniawi: Gereja memanfaatkan banyak keutamaan yang ditemukan di dalam budaya di sekitarnya. Sebagai contoh, etika kristiani memanfaatkan filsafat helenis yang populer. Meskipun memanfaatkan sejumlah keutamaan dari budaya yang ada, Paulus mengajak jemaatnya agar berani mengambil jarak terhadap budaya sekitarnya (bersikap kritis). Dalam pandangannya, dunia berada di bawah kuasa setan. Allah berinisatif mengakhiri tata sosial yang lama dengan tata sosial yang baru yang mengutamakan kebenaran. Dunia menjadi perlambang dari tempat berkembangnya kegelapan moral dan spiritual.  Jemaat kristiani dipanggil untuk membawa terang baru yang mengantisipasi terang sejati yang merupakan zaman baru (Flp 2:15). Paulus mengajar jemaatnya agar menjaga keutamaan dari kehidupan seksual, keluarga, hubungan antar keluarga, dan urusan-urusan duniawi lainnya.
-    Kepemimpinan Gereja: Kita tidak mendapatkan gambaran yang lengkap dan jelas mengenai kepemimpinan Gereja dari surat-surat Paulus. Yang banyak kita dapatkan adalah para pelayan Injil yang berpindah dari satu Gereja ke Gereja lain, yang hanya mengunjungi suatu Gereja dalam jangka waktu tertentu saja. Ada kesan, para pemimpin Gereja lokal antara lain adalah anggota yang cukup kaya, yang rumahnya diapakai berkumpulnya jemaat. Dalam 1Tes 5:12, Paulus berpesan kepada jemaat demikian: “hendaknya supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu”. Kepada para pemimpin, Paulus berpesan: “Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang. Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang” (1Tes 5:14-15). Dalam Flp 1:1 Paulus menyebut adanya para penilik jemaat (Yun: episcopoi) dan para diaken (Yun: diakonoi). Dalam Rm 16:1-2 disebut tentang Febe, yaitu seorang wanita yang melayani jemaat di Kengkrea. Dari surat-surat Paulus setidaknya kita peroleh gambaran mengenai orang-orang yang menduduki jabatan tertentu sebagai pemimpin dan pelayan jemaat.
     -    Peranan perempuan: Para perempuan rupanya menduduki peran yang penting di dalam jemat-jemaat yang didirikan oleh Paulus. Mereka termasuk anggota jemaat yang diberi salam dalam Rm 16. Paulus menyebut nama Priskila dan Akwila, suami isteri yang menjadi rekan kerja Paulus (Rm 16:3-5; Kis 18:24-26). Priskila disebut pertama, seolah-olah perempuan itu berperan penting dalam jemaat. Suami isteri lainnya yang disebut oleh Paulus adalah Andronikus dan Yunias (Rm 16L7). Paulus juga mengirim salam kepada beberapa perempuan, antara lain: Maria, Trifena, Trifosa, Persis, yang berperan sebagai rekan sekerja Paulus (Rm 16:6.12). Di dalam surat kepada jemaat di Filipi (Flp 4:2-3), Paulus menyebut nama Euodia dan Sintikhe sebagai dua perempuan yang bekerja bersama Paulus di dalam mewartakan Injil. Tampilnya perempuan di dalam pelayanan Gereja perdana menunjukkan bahwa Paulus secara konsekuen mewujudkan sebuah gereja yang tidak mengenal perbedaan jenis kelamin (bdk. Gal 3:28: “tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus”). Semuanya mendapat peluang yang sama untuk melayani Gereja sebagai tokoh jemaat maupun asebagai pewarta Injil. Dengan semangat penghargaan terhadap peranan perempuan di dalam kebaktian, surat Paulus kepada jemaat Korintus yang pertama memberi kesan aneh. Dalam 1Kor 11:3016 para perempuan dinasehati oleh Paulus agar mereka memakai kerudung kepala di dalam acara ibadat. Dalam 1Kor 14:33-36 bahkan perempuan dilarang berbicara di dalam Gereja. Kita tidak dapat menafsirkan ayat-ayat tersebut sebagai “bias gender”, tetapi mungkin Paulus menghadapi suatu persoalan kongkrit dengan cara yang kongkrit pula.
-    Dimensi ritual:
=   Baptis: Di dalam jemaat Paulus, tanda pertobatan untuk menjadi anggota Gereja adalah pembaptisan. Pembaptisan menjadikan seorang kristen sebagai anak Allah tanpa memandang status sosial dan jenis kelamin, dan mendapat pencurahan Roh Kudus (Gal 3:26-28; 4:6-7; bdk. Mrk 1:9-11). Refleksi mengenai kematian Kristus bagi Paulus menjadi dasar ritus pembaptisan. Dimasukkan ke dalam air menjadi lambang partisipasi umat beriman dalam kematian Yesus, dan diangkat dari air menjadi lembang partisipasi dalam kebangkitan-Nya (Rm 6:1-11). Sebelum menerima baptisan, calon baptis harus mengucapkan pengakuan iman, seperti dikatakannya dalam Rm 10:9: “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.”
=   Persekutuan dalam ibadat: Jemaat biasa berkumpula pada hari Tuhan (1Kor 16:2), yaitu pada hari pertama dalam pekan untuk menghormati hari kebangkitan Kristus. Sejumlah anggota yang berpartisipasi dalam ibadat hari Minggu merasa mendapatkan karunia rohani dari Roh Kudus, dengan mengucapkan nubuat, menasihati anggota jemaat lain, berbicara dengan bahasa roh, menafsirkan bahasa roh, menyembuhkan orang sakit (1Kor 12-14; Rm 12:3-8). Di dalam kegiatan ibadat, jemaat juga bernyanyi dan bermain musik (1Kor 14:26; bdk. Kol 3:16; Ef 5:19).
=   Perjamuan Tuhan: Paulus menyebut adanya perjamuan komunal yang disebutnya Perjamuan Tuhan, yang menyajikan roti dan anggur (1Kor 11:20-34; bdk. 10:14-22). Roti yang diberkati menghadirkan tubuh Yesus, sedangkan anggur yang diberkati menghadirkan darah Yesus. Partisipasi dalam tubuh dan darah Yesus ini melambangkan kesatuan Gereja sebagai Tubuh Kristus.
-    Dimensi etis:
Penolakan Paulus terhadap Hukum Taurat sebagai dasar pembenaran bukan berarti bahwa suatu penolakan terhadap tuntutan-tuntutan moralnya. Sama seperti tradisi awal kekristenan, tuntutan moral  dari Hukum: “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” (Rm 13:8-10). Dengan melakukan perintah tersebut, umat kristen telah memenuhi Hukum. Dari tradisi Helenis-Roma, Paulus mewarisi sikap negatif terhadap nafsu daging. Menurut Paulus, kita hendaknya menyelamatkan nafsu daging jika ingin berpartisipasi secara simbolis dalam kematian Kristus lewat pembaptisan. Mati terhadap daging memungkinkan seseorang untuk hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Sebagai ciptaan baru, umat beriman tidak lagi hidup dalam daging tetapi hidup dalam Roh, yang diterima dalam baptisan dan berdiam di dalam umat beriman, menghasilkan buah-buah keutamaan bagaikan pohon baik yang menghasilakn buah yang baik (Gal 5:16-26). Surat-surat Paulus penuh dengan himbauan dan nasehat (parenesis / nasihat-nasihat berkaitan dengan suatu tema tertentu) yang dimaksudkan untuk menuntun tingkah laku umat beriman. Salah satui contoh parenesis: “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!” Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!”


7.  Kristologi Paulus (gelar-gelar Yesus)

Apakah dasar Kristologi Paulus? Sebagai orang Yahudi pasti ada pemahaman tentang pre-christian messianic dalam diri Paulus,  yang berakar pada tradisi Yudaisme, meskipun hal itu jarang dia bicarakan. Dalam Rom 9:5 ada kesan bahwa Paulus percaya akan kedatangan Mesias keturunan Daud. Dengan latar belakang helenisme, Paulus menggunakan sebutan Kyrios untuk Yesus, sebuah sebutan yang diambil dari dunia Yunani. Kendati begitu, paham bahwa Yesus adalah Tuhan - yang kedatangan-Nya kembali diharapkan - sudah kelihatan pada masa sebelum penulisan surat-surat Paulus, contohnya dipakainya ungkapan Maranatha (datanglah Tuhan kami; bdk. 1Kor 16:22) yang berasal dari lingkungan berbahasa Aram. Dengan begitu, gelar Kyrios dalam surat-surat Paulus adalah istilah Yunani yang merupakan transliterasi dari gelar Aramaic tersebut.
Pertobatan Paulus dan tradisi kristiani awal: Gal 1:11-23 merupakan pernyataan yang mungkin paling awal tentang pertobatannya. Dalam surat tersebut Paulus meyakini bahwa ia menerima injilnya bukan dari manusia tetapi dari Allah secara langsung. Pertobatan Paulus dikisahkan pula dalam Kis 9 dan 22.
Paulus mewartakan Injil Kristus. Apa artinya? Bisa jadi artinya sama dengan “injil yang diberitakannya berasal dari Yesus Kristus” atau “injil yang isinya mengenai Kristus”. Apapun arti dari ungkapan tersebut, tetaplah tidak dapat diingkari bahwa setelah pertobatannya Paulus menerima pengajaran dari orang kristen lain (antara lain Petrus, bdk Gal 1:18) mengenai Yesus dan ajaran-Nya. Selain itu, Paulus dengan segala kemampuannya yang dituntun oleh Tuhan sendiri pasti telah melakukan pendalaman pribadi tentang Yesus dan ajaran-Nya. Mengenai hal ini, Paulus dapat berbicara bahwa ia mendapatkan ilham atau insight dari Kristus sendiri.
Paulus mengimani Kristus yang bangkit dan mulia. Paulus percaya bahwa Yesus masih hidup dalam kehidupan yang mengatasi darah dan daging manusiawi. Jika Yesus setelah kematian-Nya diangkat ke sorga, maka itu berarti Dia dibenarkan oleh Allah. Sesudah pengalaman pertobatannya di jalan menuju Damaskus, Paulus memandang Yesus secara lain, bukan lagi dari kaca mata manusia (bdk. 2Kor 5:16). Ia percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Sengsara dan wafat Kristus dipahami sebagai kesediaan Kristus untuk menjadi kutuk bagi umat demi menyelamatkan mereka dari kutukan hukum (Taurat; bdk. 1Kor 12:3).
Bagi Paulus, jemaat kristiani disatukan dalam Kristus. Pengalaman Damsyik (Kis 9:4-5; bdk. Kis 22:7-8; 26:14-15) menjelaskan kepada Paulus bahwa Kristus mengidentifikasikan diri dengan umat kristiani, dan umat kristiani pastilah umat Allah. Rupanya pengalaman ini ikut mempengaruhi pandangannya tentang Gereja sebagai tubuh mistik Kristus. Bagi Paulus, Kristus adalah Penyelamat. Pengalaman di Damsyik baginya pengalaman diselamatkan oleh Kristus, kendati Paulus dan tindakannya justru melawan Kristus. Ia menghayati pengalaman tersebut sebagai rahmat. Dengan refleksinya mengenai rahmat, Paulus harus membuat cara pandang yang baru terhadap Hukum Taurat. Seluruh segi kehidupan sekarang harus dinilai dari cara pandang Kristus dan bukan kaca mata Taurat. Kristus mengakhiri peranan Taurat. Dengan ketaatan pada Taurat, Paulus mengejar keselamatan berdasarkan tindakan manusia. Dalam Kristus, keselamatan adalah rahmat. Apa yang dapat dilakukan manusia adalah menanggapi rahmat tersebut dengan melakukan keutamaan-keutamaan yang selaras.
-    Yesus adalah Tuhan: Salah satu inti dari pemberitaan Paulus : Yesus Kristus adalah Tuhan. Kita temukan di dalam surat-suratnya ungkapan: Tuhan Yesus Kristus (28 x), Tuhan kita (9x), Yesus Kristus Tuhan kita (3x). Pengakuan akan Yesus sebagai Tuhan memasukkan umat ke dalam persekutuan yang percaya akan kebangkitan dan mengakui ke-Tuhan-an Kristus (Rom 10:9). Dalam 2Kor 4:5 dikatakan: “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus”. Bagi Paulus tidak ada seorangpun yang dapat mengaku (dengan iman) bahwa Yesus adalah Tuhan selain berkat karunia Roh Kudus (1Kor 12:3). Pengakuan ini mencerminkan pengalaman si pengaku (Kol 2:6), sekaligus dihayati di dalam persekutuan Gereja. Yesus telah diangkat dan menempati kedudukan penuh kuasa atas manusia baik yang hidup maupun yang mati (Rom 14:9). Dalam 1Kor 8:6 dikatakan salah satu unsur penting dari ke-Tuhan-an Yesus: “Bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup”.
Dalam Flp 2:5-11 kita temukan himne kristologis tentang pengosongan dan peninggian. Karena pengosongan diri-Nya dan ketaatan-Nya sampai mati, kepada-Nya dikaruniakan suatu nama baru yang menunjukkan peran dan statusnya yang baru, yaitu Kyrios. Di hadapan Yesus Tuhan, seluruh dunia akan berlutut. Gelar Kyrios merupakan terjemahan dari tetragramaton YHWH, yaitu nama Allah perjanjian dan juga nama Allah sejarah. Dengan gelar tersebut, Yesus menempati peran Allah dalam memerintah dunia, memulihkan dunia yang telah jatuh. Allah melakukan itu semua dalam diri Anak-Nya yang telah menjelma, Yesus Kristus. Ketika dunia menyembah Kristus sebagai Tuhan, maka dunia akan menyembah Allah. Dalam Fil 2:6 dst. dikatakan tentang Yesus sebagai Dia yang “dalam rupa Allah” (morphē theou) telah mengosongkan diri-Nya.
Jika pengakuan akan ke-Tuhan-an Yesus berarti keselamatan (Rom 10:9), maka latar belakangnya adalah konsep Perjanjian Lama tentang menyeru nama Yahweh. Paulus mengutip Yoel 2:32: “barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan” (bdk. Rom 10:13). Istilah Hari Tuhan (1Kor 5:5; 1Tes 5:2; 2Tes 2:2) telah menjadi Hari Tuhan Yesus (2Kor 1:14), atau Hari Tuhan Yesus Kristus (1Kor 1:8), atau Hari Kristus (Flp 1:6.10; 2:16). Kristus sebagai Tuhan menjalankan hak prerogatif Allah. Ia menduduki kursi pengadilan Allah (Rom 14:10; bdk. 2Kor 5:10). Allah menghakimi dunia melalui Kristus (Rom 2:16).
Cukup jelas bahwa ke-Tuhan-an dan mesianitas Yesus mengungkapkan realitas yang sama. Berhubung paham mesias adalah kekhasan Yahudi, tentunya Paulus lebih banyak menggunakan gelar Tuhan untuk Yesus. Ide ke-Tuhan-an Yesus diambil dari Perjanjian Lama, namun rupanya dapat diterima di dunia helenis. Paulus menulis bahwa Yesus mati dan bangkit untuk menjadi Tuhan (kyrieusē) bagi orang yang mati dan yang hidup (Rom 14:9). Yesus harus memerintah sebagai raja (basileuein) sampai Ia menaklukkan semua musuh-Nya (1Kor 15:25: “Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya”). Dengan demikian cukup jelas bahwa gelar Mesias (Kristus) dan Tuhan menunjuk pada beberapa aspek yang mirip, yaitu berkaitan dengan kuasa Yesus yang menyerupai kuasa Allah sendiri.

     -    Kristus Mesias: Pertobatan di Damsyik meyakinkan Paulus bahwa Yesus sungguh Mesias yang dinanti-nantikan orang Yahudi. Sepintas lalu, mesianitas Yesus hanya memainkan peranan kecil di dalam pemikiran Paulus. Dibandingkan dengan penggunaannya dalam Injil-injil Sinoptik, penggunaan gelar Kristus (Christos) dalam surat-surat Paulus hampir serupa dengan nama diri. Hanya ada satu ayat di mana Christos digunakan sebagai gelar, yaitu pada Rom 9:5: “Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!” Kita dapat juga mengamati pemakaian Christos sebagai gelar dalam beberapa ayat lain: Rom 10:6; 1Kor 10:4.15.22; 2Kor 4:4; 5:10. Kendati begitu, sebutan “Yesus Mesias” sudah diganti dengan sebutan “Yesus Kristus” atau “Tuhan Yesus Kristus”. Paulus sendiri memang masing tetap membedakan antara Yesus sebagai nama diri dan Kristus sebagai gelar, contohnya, kerapkali dia menempatkan Kristus di muka nama Yesus. Kecenderungan untuk menyebut Christos sebagai nama diri ada kemungkinan terjadi di dunia helenis di mana sebutan tersebut tidak mempunyai konotasi iman atau religius. Dalam Kis 11:26 dikatakan bahwa di Antiokhia para murid Kristus untuk pertama kalinya disebut Christianoi (orang-orang Kristen). Kenyataan ini mengandaikan bahwa nama Kristus telah dianggap sebagai nama diri.
     Yesus Kristus tetaplah mempunyai fungsi yang ditempatkan di dalam arus karya keselamatan Israel. Dalam Rom 9:4-5 disebutkan peranan Kristus sebagai Mesias, misi-Nya dilakukan “menurut Kitab Suci” (1Kor 15:3), Kristus juga memenuhi fungsi eskatologis dari Mesias dengan harapan akan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan (2Tim 4:1; 2Tes 1:5), menjadi hakin atas manusia (1Kor 15:10), menghancurkan orang jahat (2Tes 2:8).
Misi Yesus dikaitkan dengan martabat Kerajaan. Paulus menghubungkan Kerajaan Allah dengan kebangkitan dan keselamatan. Dengan pemerintahan-Nya, Kristus Mesias akan berkuasa atas semua musuh-Nya (1Kor 15:25), dan Ia akan menyerahkan Kerajaan Allah kepada Bapa (1Kor 15:24). Kerajaan Allah adalah pemerintahan yang dinamis, menyelamatkan, yang dijalankan oleh misi mesianis Yesus. Kerajaan Allah di satu pihak digambarkan sebagai berkat eskatologis yang akan diwariskan (1Kor 6:9.10; 15:50; Gal 5:21) sekaligus juga berkat masa kini (Kol 1:13). Kerajaan Allah bukanlah hal-hal jasmani namun lebih berkaitan dengan realitas rohani, antara lain kebenaran, damai, sukacita, yang dianggap sebagai buah-buah Roh (Rom 14:17). Kendati ada kesinambungan, Mesianitas Kristus tetaplah mengambil bentuk lain daripada mesias menurut tradisi Yahudi. Kristus bukanlah penguasa politik, Ia tidak menghancurkan musuh-musuh Israel, pemerintahannya tidak diatur menurut tatanan di bumi. Bagi Paulus, Mesias yang duduk di sebelah kanan Allah adalah Yesus dari Nazaret. Paulus tidak pernah hidup bersama Yesus, sehingga masuk akal jika dia tidak menyinggung biografi Yesus. Kendati begitu ia  menyatakan bahwa Yesus yang dimuliakan adalah Yesus dari Nazaret, orang Israel (Rom 9:5), keturunan Daud (Rom 1:3), pernah hidup di bawah Taurat (Gal 1:19), miskin (2Kor 8:9), berkarya di tengah masyarakat Yahudi (Rom 15:2) memiliki 12 murid (1Kor 15:5), memulai tradisi perjamuan Tuhan (1Kor 11:23 dst.), disalibkan, dikuburkan dan bangkit dari kematian (2Kor 1:3.4; 1Kor 15:4). Paulus juga mempunyai referensi pada sifat-sifat Yesus yang: lemah-lembut (2Kor 10:1); taat kepada Allah (Rom 5:19), tekun (2Tes 3:5), menyangkal diri (Fil 2:9 dst.), benar (Rom 5:18), tidak berdosa (2Kor 5:21). Bultmann menganggap bahwa Paulus mendasarkan idenya mengenai keselamatan hanya pada kerygma, bukan pada fakta-fakta historis tentang Yesus. Bagi Bultmann, Yesus sejarah telah hilang di balik tradisi Kristen. Sebenarnya ada perbedaan antara Yesus menurut daging (Christos kata sarka) dengan Kristus dalam kerygma. Bagi Bultmann tidak ada kesinambungan antara Yesus historis dan Kristus kerygma. Pendapat Bultmann ini dinilai terlalu ekstrim dan tidak semua dapat menyetujuinya. Bagi Paulus, makna eskatologis dari pribadi dan karya Yesus mendapat maknanya yang lebih penuh di dalam wafat dan kebangkitan-Nya. Dalam 2Kor 5:16 Paulus mengatakan: “Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.” Apa yang dimaksudkan oleh Paulus dengan “menilai Yesus menurut ukuran manusia” (harafiah: Yesus menurut daging; Yun: Christos kata sarka). Bagi Paulus, ungkapan Christos kata sarka bukanlah Yesus yang pernah hidup dalam sejarah. Ungkapan tersebut mau menjelaskan adanya pandangan yang keliru terhadap Kristus, antara lain menganggap-Nya sebagai penghujat, pelanggar hukum Taurat. Pada kenyataannya, pandangan keliru tersebutlah yang diyakini oleh Sanhedrin, sampai mereka menghendaki kematian-Nya. Pemahaman keliru tersebut menjadi pemahaman Paulus pula sebelum pertobatannya. Kekeliruan terjadi karena ia memandang Yesus menurut ukuran manusia / harf. ukuran daging (kata sarka).

-    Yesus Anak Allah: Gelar Yesus sebagai Anak Allah kurang begitu sering digunakan oleh Paulus, jika dibandingkan dengan gelar Tuhan dan Kristus, meskipun gelar tersebut amat penting. Gelar Anak Allah mempunyai bagi Yesus nuansa: relasi amat dekat dengan Allah, diutus untuk menyelamatkan, menjadi serupa dengan manusia, supaya manusia serupa dengan-Nya sebagai anak-anak Allah. Partisipasi Yesus pada kerapuhan manusia (akibat dosa) bertujuan agar manusia berpartisipasi dalam status ke-Puteraan Ilhi-Nya. Kepada jemaat di Roma, Paulus menyatakan bahwa dia mewartakan Injil mengenai Anak Allah (Rm 1:3; bdk. 1:9). Gelar ini mempunyai latar belakang Yudaisme, yang biasa digunakan untuk malaekat, Israel, raja. Dengan sebutan tersebut ingin diungkapkan adanya hubungan dekat mereka dengan Allah. Dalam Rm 1:3-4 Paulus berkata: “(Injil) tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud,  dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.” Kebangkitan Yesus bagi Paulus merupakan bukti dari dari Allah bahwa Yesus adalah benar dan diakui sebagai Anak Allah, bahkan Anak Allah yang berkuasa. Selanjutnya, Paulus masih menyebut lagi Yesus sebagai Anak Allah dalam Rm 8:3. Yesus diutus sebagai Anak Allah dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa. Dengan jalan itu, Dia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging. Tindakan Allah dalam Yesus ini tidak mungkin dilakukan hukum Taurat. Dalam 1Tes 1:9-10, keputeraan Yesus disebut dalam kaitannya dengan kebangkitan-Nya dari mati. Gelar Anak Allah yang bernada mesianis ditemukan juga dalam 1Kor 15:24-28. Jelas bahwa peranan Yesus dan makna gelar-Nya sebagai Anak Allah jauh melampaui konsep tentang mesianis keturunan Daud. Yesus sebagai Anak Allah diserahkan oleh Bapa kepada manusia untuk mengaruniakan keselamatan (Rm 8:32), sejalan dengan Gal 2:20 yang mengatakan bahwa Anak Allah telah mati dan menyerahkan diri-Nya (dengan kematian) untuk keselamatan manusia. Gelar Anak Allah mempunyai nilai tinggi sebagai “yang amat berkenan kepada Allah” dan “yang rela untuk mengasihi dan menyerahkan diri-Nya” dermi keselamatan umat manusia. Dengan gerlar ini juga ditekankan bahwa Yesus ada di pihak Allah dalam karya penebusan-Nya. Cara lain untuk menyatakan keselamatan sebagai maksud Allah mengutus Putera-Nya adalah agar supaya manusia “diterima menjadi anak (Allah)”. Dengan begitu, unsur partisipasi pada wafat dan kebangkitan Kristus akhirnya mengarah pada partisipasi umat beriman dalam Kristus (Anak Allah) sebagai anak-anak Allah, bdk. juga 1Kor 1:9: “Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.” Paulus mengajarkan secara konsisten bahwa keputeraan Ilahi bagi umat Kristen dianugerahkan melalui dan seturut dengan Kristus yang merupakan prototipe original Anak Allah.

8.  Antropologi Paulus

Semua teologi mengandaikan adanya suatu antropologi. Untuk menafsirkan surat-surat Paulus, hendaknya perlu diingat bahwa dia adalah seorang Yahudi yang berasal dari daerah diaspora. Sebagai orang Yahudi, Paulus mempunyai paham antrolopologi khas Semit yang sangat berbeda dari antropologi Yunani. Manusia bagi filsafat Yunani adalah mahluk yang mempunyai badan dan jiwa. Bagi orang Yahudi, manusia adalah suatu badan, pribadi yang hidup. Badan adalah keseluruhan manusia dalam relasinya dengan Allah, orang lain dan dunia. Terjemahan Yunani dari bahasa Ibrani kerapkali tidak sungguh-sungguh mewakili makna sebenarnya. Paulus menggunakan versi Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani (Septuaginta), namun pemikiran yang ada di balik istilah-istilah yang dia pakai tetaplah semitik.

     Bahasa Ibrani                                                  Bahasa Yunani / LXX
     Bâsâr (daging) - diri manusia yang bisa hancur          Sarx: daging
                                                                                Sôma: tubuh
     Lev (hati) - diri manusia dengan akal budi              Nous: intelegensi, daya pikir, rasio
                                                                                Kardia: hati, kehendak
     Ruah (angin, roh) - manusia dengan daya rohani   Pneuma: roh
     Nefesh (jiwa) - manusia dengan kebutuhan rohani Psyche: jiwa

Menurut pemahaman Yahudi, bâsâr adalah diri manusia dalam seginya yang tampak, tubuh, aspek-aspek yang sifatnya duniawi. Dengan begitu, bâsâr adalah bagian dari hidup manusia yang  sifatnya sementara dan rapuh. Dalam arti tertentu, daging menunjuk pada aspek kelemahan manusia jika dibandingkan dengan iman. Dosa dikaitkan dengan kelemahan daging. Untuk menterjemahkan bâsâr, bahasa Yunani memakai makna gabungan dari kata sarx dan sôma. Sarx (daging) adalah keseluruhan diri manusia tetapi dipandang dari segi kerapuhannya dan sifatnya yang sementara (bdk. Kol 1:24; Rm 6:19; 2Kor 4:11). Bagi Paulus, mereka yang hidup oleh daging atau di dalam daging identik dengan “bukan kristen”, identik dengan kehidupan manusia yang mengingkari Allah (Rm 7:5). Sôma adalah keseluruhan pribadi manusia dipandang dari aspek eksternal, tetapi mampu berelasi dengan dunia, sesama dan Allah. Tubuh merupakan suatu tanda solidaritas, sebagai “saya” yang diciptakan untuk Allah, sehingga dapat dibangkitkan. Tubuh adalah bait Roh Kudus (1Kor 6:19-20), tubuh adalah untuk Tuhan dan Tuhan untuk tubuh (1Kor 6:13). Dalam Rm 12:1 dikatakan “Demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu (sôma) sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Kata lèv dalam bahasa Ibrani merupakan tempat beradanya akal budi dan kehendak (Ul 29:3; 1Sam 12:24). Bagi orang Yahudi, lèv (hati) merupakan tempat kegiatan intelektual dan pengambilan keputusan. Hati juga merupakan pusat kesadaran, perasaan, emosi dan keinginan. Sebaliknya, orang Yunani membedakan antara intelegensi (nous) dan hati (kardia). Nous merupakan tempat beradanya pengetahuan, pemahaman dan pemikiran, sedangkan hati (kardia) adalah tempat dari keinginan, niat, kehendak dan perasaan. Hati digerakkan oleh perasaan dalam arti: mengiginkan sesuatu (Rm 10:1), mengambil keputusan (2Kor 2:4), kesedihan (Rm 9:2), mencintai (2Kor 7:3; 8:16; Flp 1:7).
Ruah (Ibr.: angin, roh) merupakan daya hidup (Kej 7:22; Ayb 34:14-15), unsur rohaniah dari diri manusia. Daya hidup ini berasal dari Allah, mempunyai daya kekuatan dan energi, kemampuan untuk bertindak. Manusia mampu menemui atau mengenal Allah karena mempunyai Ruah. Kata ruah dalam bahasa Yunani diterjemahkan dengan kata pneuma, yang muncul 145 dalam surat-surat Paulus, sebagai bukti bahwa kata ini penting. Banyak kali Paulus menggunakan kata pneuma untuk dikenakan pada Roh Allah.
Nefesh (Ibr: jiwa, nyawa) mungkin serupa dengan nyawa, unsur manusiawi dari jiwa dengan segala kebutuhannya. Misalnya, untuk mempertahankan nefesh, orang perlu minum, makan. Dalam bahasa Yunani,  kata nefesh diterjemahkan dengan psyche, diri manusia sebagai mahluk hidup (a living being). Psyche dapat juga berarti keseluruhan pribadi manusia (2Kor 12:15), dapat berarti manusia duniawi yang dikongraskan dengan manusia rohani. Pembedaan itu misalnya kelihatan pada 1Kor 2:14-15: “Tetapi manusia duniawi (psychikos) tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. Tetapi manusia rohani (pneumatikos) menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain. Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” Psychikos dalam hal ini dipakai untuk menunjuk sisi pribadi manusia yang tidak komunikatif dengan Allah, diwarnai oleh daging dan darah (fisik), tidak mempunyai potensi untuk berkomunikasi dengan Allah. Contoh lain dari perbedaan antara psyche dan pneuma kelihatan pada 1Kor 15:44: “Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah (psychikos), yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah (pneumatikos).”
Berkaiatn dengan antropologi Paulus, masih ada kata lain yang dipakai, yaitu syneidèsis, dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan dengan “kesadaran.” Melalui kesadarannya (syneidèsis), manusia dapat berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Melalui kesadaran, manusia dapat memilih antara yang baik dan yang buruk. Dalam 1Kor 8:7-13 dan 10:23-33 dibahas mengenai hal ini. Dalam 1Kor 15:10, terjemahan Indonesia, kata ini diterjemahkan dengan “hati nurani”. Kesadaran manusia dapat lemah atau kuat berhadapan dengan tuntutan moral.


























































Tidak ada komentar:

Posting Komentar