Komunikasi intrapribadi atau Komunikasi
intrapersonal
Tipe Komunikasi
Secara umum tipe-tipe komunikasi
adalah:
Komunikasi
Intrapersona; Komunikasi Antarpersona; Komunikasi Publik; dan Komunikasi Massa
A. Komunikasi Intrapersona
Komunikasi yang dilakukan oleh
individu terhadap dirinya sendiri, dimana dia menerima, mengolah. menyimpan dan
menghasilkan kernbali informasi yang didapatnya.
Tahap-tahap komunikasi Intra
Persona:
1.
Sensasi
Proses penangkapan stimuli atau
rangsangan oleh panca indra manusia
2. Persepsi
Proses pemberian makna stimuli
atau rangsangan yang didapat dan sensasi, persepsi dipengaruhi oleh kebutuhan,
pengalaman masa lalu dan factor personal dari tiap individu.
3. Memori
Memori adalah proses menyimpan
informasi dan memanggilnya kembali. Yaitu suatu sistem yang sangat berstruktur
yang menyebabkan individu sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan
pengetahuannya untuk membimbing perilakunya.
Memori
mencakup tiga proses: Perekaman
(encoding); Pencatatan Informasi;
Penyimpanan (storage);
menentukan berapa lama informasi tersebut ada di dalam diri kita, dalam bentuk
apa dan dimana. Penyimpanan ini bisa bersifat aktif maupun pasif; pemanggilan
kembali (retrieval) penggunaan informasi yg disimpan. Dalam tahap ini terdapat
4 tahap: pengingatan (recall);
pengenalan
(recognition);
belajar
kembali (relearning);
redintegrasi
(redintegration); merekontruksi masa lalu melalui satu petunjuk kecil.
4. Berfikir
Berpikir
merupakan aktivitas psikis yang intensional, dan terjadi apabila seseorang
menjumpai problema (masalah) yang harus dipecahkan. Dengan demikian bahwa dalam
berpikir itu seseorang menghubungkan pengertian satu dengan pengertian lainnya
dalam rangka mendapatkan pemecahan persoalan yang dihadapi. Dengan mana,
pengertian-pengertian itu merupakan bahan atau materi yang digunakan dalam
proses berpikir. Dalam pemecahan persoalan individu membeda-bedakan,
mempersatukan dan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan: mengapa, untuk apa,
bagaimana, di mana dan lain sebagainya.
Berpikir juga berarti memahami
realita dalam rangka rnengambil keputusan (decision making), memecahkan
persoalan (problem solving), dan menghasilkan sesuatu yang
baru (creativity).
Salah satu yang mempengaruhi
penafsiran kita terhadap suatu stimuli adalah berfikir, dimana didalamnya juga
terdapat proses sensasi, persepsi, dan memori. Proses berfikir itu melibatkan
penggunaan lambang-lambang, visual dan grafis.
Orang berpikir itu untuk:
memahami
realita atau kenyataan yang ada dalam rangka pengambilan keputusan (decision making), pemecahan masalah (problem solving), dan untuk menghasilkan
sesuatu yang baru (creativity);
memahami realita berarti menarik kesimpulan, meneliti berhagai kemungkinan
penjelasan dan realitas secara eksternal dan internal.
Tiga macam berpikir:
1. Berpikir Deduktif yaitu
mengambil
kesimpulan dari dua pernyataan. Misalnya: jika A benar, dan B benar, maka akan
terjadi C. Contohnya: semua mahkluk pasti akan mati, anjing adalah makhluk,
maka semua anjing pasti akan mati
2. Berpikir Induktif yaitu
dimulai
dengan yang khusus, ambil kesimpulan umum lalu digeneralisasikan. Misalkan:
pejabat A melakukan korupsi, pejabat B juga terlibat korupsi, pejabat C di
propinsi X pun tersandung korupsi, jadi kesimpulannya semua pejabat korupsi.
Apakàh demikian?
3. Berpikir Evaluatif yaitu berpikir
kritis, menilai baik buruknya sesuatu, tepat tidaknya suatu hal.
2. Komunikasi Antarpersona
Pada komunikasi antar-persona
terdapat pengaruh konsep diri pada perilaku manusia. Maksudnya adalah bagaimana
anda memandang diri anda dan bagaimana orang lain memandang diri anda.
Kesemuanya ini akan dipengaruhi pola interaksi anda dengan orang lain. Istilah
komunikasi antarpersona disebut juga komunikasi sosial karena merujuk pada
komunikasi yang dilakukan antar manusia atau antar individu atau terkait erat
dengan hubungan antar manusia.
Komunikasi antapersona
menggunakan:
Bahasa
baik secara lisan maupun tertulis;
Isyarat
-isyarat tubuh yang keluar pada waktu berkomunikasi;
Tanda-tanda
atau signal seperti bendera, sandi morse, lampu, dll;
Gambar-gambar
seperti grafik, peta, skema dll;
Definisi:
“Intra-persona communication as
the sending of message by one person and receiving of message by another
person, of small group of persons with some effect and some immediate
feedback”; Komunikasi antarpersona melibatkan paling sedikit dua orang dalam
pelaksanaannya. Maka komunikasi antarpersona juga disebut komunikasi diadik.
Perlu diingatkan dan ditekankan
bahwa komunikasi intrapersona adalah dasar dari komunikasi antarpersona, karena
tidak mungkin seseorang berbicara dengan orang lain tanpa dia terlebih dahu!u
mengetahui dan mempertanyakan pada diri sendiri apa sebetulnya yang akan
disampaikan kepada orang lain.
Kontek dari komunikasi: konteks
fisik;
konteks
sosial;
konteks
psikologis;
konteks
waktu;
|
|
Keefektifan dari komunikasi
antarpersona terjadi apabila tujuan untuk mengubah pendapat, sikap dan tingkah
laku komunikan dapat tercapai.
Hal-hal yang dapat membantu
menciptakan komunikasi antar persona yang efektif:
Terimalah
orang lain sebagaimana adanya, meskipun anda suka atau tidak. Dengan
pertimbangan bahwa anda tidak dapat merubah nilai, tujuan, pendapat, dan
perasaannya pada saat itu juga;
Harapkan
dan undang orang lain untuk mengekspresikan perasaannya, tujuannya, nilai-nilainya,
keraguannya dll;
Ekspresikan
reaksi anda sendiri dalam sikap dan tingkah laku;
Jaga
hubungan perasaan anda masing-masing dan buatlah komunikasi itu hanya
berdasarkan atas rasa berkawan dan keramahan;
Jangan
menilai secara kritis (jangan mengkritik) pandangan orang lain yang berbeda dan
bertentangan dengan pandangan anda;
Pandanglah
secara keseluruhan sebagai suatu proses bersama untuk mencapai tingkat
kebijaksanaan yang lebih tinggi dan mandiri.
De Vito juga mengemukakan bahwa
ada lima karakteristik untuk komunikasi antarpersona yang efektif: 1.
Keterbukaan (Openess); 2. Empati (Emphaty); 3. Dukungan (Supportiveness); 4.
Rasa Positif (Positiveness); 5. Kesamaan (Equality)
Makin tertarik kita kepada
seseorang maka makin besar kecenderungan kita berkomunikasi dengan orang
tersebut.
Faktor situasional yang
mempengaruhi interaksi antarpersona yakni
daya
tarik fisik (physical attractiveness); ganjaran/penghargaan (reward);
tidak
asing (familiarity); kedekatan (proximity); kemampuan (competence)
3. Komunikasi Publik
Komunikasi publik biasa disebut
komunikasi pidato, komunikasi kolektif, komunikasi retorika, public speaking
dan komunikasi khalayak (audience communication). Apa pun namanya, komunikasi
publik menunjukkan suatu proses komunikasi di mana pesan-pesan disampaikan oleh
pembicara dalam situasi tatap muka di depan khalayak yang lebih besar.
Komunikasi publik memiliki ciri
komunikasi interpersonal (pribadi), karena berlangsung secara tatap muka,
tetapi terdapat beberapa perbedaan yang cukup mendasar sehingga memiliki ciri
masing-masing.
Dalam komunikasi publik
penyampaian pesan berlangsung secara kontinu. Dapat diidentifikasi siapa yang
berbicara (sumber) dan siapa pendengarnya. Interaksi antara sumber dan penerima
sangat terbatas, sehingga tanggapan balik juga terbatas. Hal ini disebabkan
karena waktu yang digunakan sangat terbatas, dan jumlah khalayak relatif besar.
Sumber seringkali tidak dapat mengidentifikasi satu-per satu pendengarnya.
Ciri lain yang dimiliki
komunikasi publik bahwa pesan yang disampaikan itu tidak berlangsung secara
spontanitas, tetapi terencana dan dipersiapkan lebih awal. Tipe komunikasi
publik biasanya ditemui dalam berbagai aktivitas seperti kuliah umum, khotbah,
rapat akbar, pengarahan, ceramah, dan semacamnya.
Ada kalangan tertentu menilai
bahwa komunikasi publik bisa digolongkan komunikasi massa bila dilihat pesannya
yang terbuka. Tetapi terdapat beberapa kasus tertentu di mana pesan yang disampaikan
itu terbatas pada segmen khalayak tertentu, misalnya pengarahan, sentiaji,
diskusi panel, seminar, dan rapat anggota. Karena itu komunikasi publik bisa
juga disebut komunikasi kelompok bila dilihat dan segi tempat dan
situasi.
4. Komunikasi Massa
Terdapat berbagai macam pendapat
tentang pengertian komunikasi massa. Ada yang menilai dan segmen khalayaknya,
dan segi medianya dan ada pula dan sifat pesannya.. Komunikasi massa dapat
didefinisikan sebagai proses komunikasi yang berlangsung di mana pesannya
dikirim dan sumber yang melembaga kepada khalayak yang sifatnya missal melalui
alat-alat yang bersifat mekanis seperti radio, televisi, surat kabar dan film.
Dibandingkan dengan bentuk-bentuk
komunikasi sebelumnya, maka komunikasi massa memiliki ciri tersendiri. Sifat
pesannya terbuka dengan khalayak yang variatif, baik dan segi usia, agama,
suku, pekerjaan maupun dan segi kebutuhan.
Ciri lain yang dimiliki
komunikasi massa, ialah sumber dan penerima dihubungkan oleh saluran yang telah
diproses secara mekanik. Sumber juga merupakan suatu lembaga atau institusi
yang terdiri dan banyak orang, misalnya reporter, penyiar, editor, teknisi dan
sebagainya. Karena itu proses penyampaian pesannya lebih formal, terencana dan
lebih rumit.
Pesan komunikasi massa berlangsung
satu arah dan tanggapan baliknya lambat (tertunda) dan sangat terbatas. Tetapi
dengan perkembangan teknologi komunikasi yang begitu cepat, khususnya media
massa elektronik seperti radio dan televisi maka umpan balik dan khalayak bisa
dilakukan dengan cepat kepada penyiar.
Selain dan itu, sifat penyebaran
pesan melalui media massa berlangsung begitu cepat, serempak dan luas. Ia mampu
mengatasi jarak dan waktu, serta tahan lama bila didokumentasikan. Dari segi
ekonomi, biaya produksi komunikasi massa cukup mahal dan memerlukan dukungan
tenaga kerja relatif banyak untuk mengelolanya.
Jenis komunikasi yang ditujukan
pada sejumlah khalayak yang tersebar heterogen, dan anonim melalui media massa
(cetak maupun elektronik) sehingga pesan yang sama dapat diterima secara
serentak dan sesaat.
Komunikasi massa komunikatornya
lebih banyak, terorganisasikan dan terlembagakan. Ditujukan pada orang banyak
yang bersifat anonim dan heterogen.
Karakteristik komunikasi massa
menurut Charles Wright. Komunikasi massa itu ditujukan kepada audience yang
relatif besar atau luas, bersifat heterogen, dan anonim. Kegiatannya dilakukan
secara cepat datam waktu tertentu; Pesan-pesan disiarkan secara umum
(publicity), sering ditentukan waktunya untuk mencapai sebagian besar audiensnya
secara simultan/ serempak; Komunikatornya dikerjakan oleh suatu bentuk
organisasi yang nienggunakan pembiayaan sangat besar.
Pesan-pesan dalam komunikasi
massa adalah komunikasi yang disalurkan melalui media massa, bersifat
masalitas, dan ditujukan kepada audiens yang luas. Penyampaian pesan bersifat
umum, disampaikan secara cepat, dan terbuka untuk semua orang.
Media massa modern mempunyai
peranan penting sebagai sarana penerangan, pendidikan, dan sarana hiburan.
Bahkan juga dipandang sebagai sarana perubahan dan pembaharuan pada masyarakat.
KOMUNIKASI
INTRAPERSONAL
Komunikasi intrapersonal adalah proses pengolahan informasi.
Proses ini melewati empat tahap; sensasi, persepsi, memori, dan berpikir.
Proses pertama dari komunikasi intrapersonal terjadi pada saat sensasi terjadi.
Sensasi, yang berasal dari kata sense, berarti kemampuan yang dimiliki manusia
untuk mencerap segala hal yang diinformasikan oleh pancaindera. Informasi yang
dicerap oleh pancaindera disebut stimuli yang kemudian melahirkan proses
sensasi. Dengan demikian sensasi adalah proses menangkap stimuli.
Kapasitas indrawi yang dimiliki setiap orang berbeda-beda
yang, karenanya, memungkinkan terjadinya perbedaan sensasi. Namun secara umum
ada ambang batas tertentu yang didalamnya pancaindera manusia dapat menyerap
informasi. Mata hanya dapat menyerap gelombang cahaya antara 380 sampai 780
nanometer. Telinga hanya mampu menerima getaran suara dalam frekuensi antara 20
hertz sampai 20 kilohertz. Tubuh manusia hanya sanggup bertahan dengan normal
pada suhu udara antara 10 derajat celcius sampai 45 derajat celcius. Rangsangan
dari luar ini yang dicerap sensasi disebut sebagai stimuli eksternal yang
merupakan faktor situasional yang berpengaruh pada sensasi. Disamping itu juga
terdapat faktor internal yang dapat pula memengaruhi sensasi yaitu faktor
personal. Dalam hal ini, faktor personal adalah pengalaman, lingkungan budaya,
dan kapasitas indrawi masing-masing individu yang berbeda.
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau
hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan
pesan. Secara sederhana persepsi adalah memberikan makna pada hasil cerapan
panca indera. Selain dipengaruhi oleh sensasi yang merupakan hasil cerapan
panca indera, persepsi dipengaruhi juga oleh perhatian (attention), harapan (expectation),
motivasi dan ingatan. Secara umum tiga hal yang disebut pertama terbagi menjadi
dua faktor personal dan faktor situasional. Penarik perhatian yang bersifat
situasional merupakan penarik perhatian yang ada di luar diri seseorang
(eksternal), seperti intensitas stimuli, kebaruan, dan perulangan. Secara
internal, ada yang dinamakan perhatian selektif (selective attention) yang dipengaruhi oleh beberapa faktor,
diantaranya faktor biologis, sosiopsikologis, dan sosiogenis. Penyimpanan
informasi yang dihasilkan dan pemanggilan kembali (recalling) dilakukan dalam
memori.
Dalam melakukan fungsinya memori melakukan tiga hal:
perekaman (encoding), penyimpanan (storage) dan pemanggilan (retrieval). Tahap pertama adalah
pencatatan informasi melalui reseptor indera dan saraf internal. Tahap kedua
terbagi terbagi menjadi dua: penyimpanan aktif (dengan memberi informasi pada
apa yang telah kita terima) dan penyimpanan aktif. Tahap terakhir terjadi
ketika kita membutuhkan ingatan yang telah tersimpan dengan mengingat kembali
hal itu.
Dari tiga tahap memori, hanya tahap terakhir yang dapat
diketahui dan, karenanya, dapat diklasifikasi. Pada tahap terakhir ini memori
terbagi menjadi empat jenis. Pertama,
pengingatan (recall) yaitu proses
menghasilkan kembali fakta dan informasi secara apa adanya, seperti ketika
seseorang ditanya, ”Apa saja jenis ikan laut yang termasuk mamalia”. Kedua,
pengenalan (recognition) adalah
mengenal kembali sebagian informasi yang sebagiannya telah dikenal, seperti
pertanyaan yang disajikan dalam bentuk pilihan ganda (multiple choice). Ketiga, pembelajaran ulang (relearning) adalah mempelajari kembali sesuatu yang pernah
dipelajari. Seseorang yang pernah mempernah mempelajari suatu hal dan kemudian
mempelajarinya kembali dua puluh lima persen lebih cepat menghafal. Keempat,
redintegrasi (redintegration) adalah
rekonstrusi masa lalu dari satu petunjuk memori kecil, seperti kenangan yang
muncul saat anda melewati satu tempat yang biasa dilewati teman anda.
Komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal
secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang
individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi
dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan. Komunikasi
intrapersonal dapat menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lainnya. Pengetahuan
mengenai diri pribadi melalui proses-proses psikologis seperti persepsi dan
kesadaran (awareness) terjadi saat berlangsungnya komunikasi
intrapribadi oleh komunikator. Untuk memahami apa yang terjadi ketika orang
saling berkomunikasi, maka seseorang perlu untuk mengenal diri mereka sendiri
dan orang lain. Karena pemahaman ini diperoleh melalui proses persepsi. Maka
pada dasarnya letak persepsi adalah pada orang yang mempersepsikan, bukan pada
suatu ungkapan ataupun obyek.
Aktivitas dari komunikasi intrapribadi yang kita lakukan
sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi diantaranya adalah; berdo'a, bersyukur, instrospeksi diri dengan meninjau perbuatan kita dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas, dan berimajinasi secara kreatif.
Pemahaman diri pribadi ini berkembang sejalan dengan perubahan
perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Kita tidak terlahir dengan pemahaman
akan siapa diri kita, tetapi perilaku kita selama ini memainkan peranan penting
bagaimana kita membangun pemahaman diri pribadi ini
Kesadaran pribadi (self awareness) memiliki
beberapa elemen yang mengacu pada identitas spesifik dari individu. Elemen dari
kesadaran diri adalah konsep diri, proses menghargai diri sendiri (self
esteem), dan identitas diri kita yang berbeda beda (multiple selves).
Konsep Diri
Konsep diri adalah bagaimana kita memandang diri kita
sendiri, biasanya hal ini kita lakukan dengan penggolongan karakteristik sifat
pribadi, karakteristik sifat sosial, dan peran sosial.
Karakteristik pribadi adalah sifat-sifat yang kita
miliki, paling tidak dalam persepsi kita mengenai diri kita sendiri.
Karakteristik ini dapat bersifat fisik (laki-laiki, perempuan, tinggi, rendah,
cantik, tampan, gemuk, dsb) atau dapat juga mengacu pada kemampuan tertentu
(pandai, pendiam, cakap, dungu, terpelajar, dsb.) konsep diri sangat erat
kaitannya dengan pengetahuan. Apabila pengetahuan seseorang itu baik/tinggi
maka, konsep diri seseorang itu baik pula. Sebaliknya apabila pengetahuan
seseorang itu rendah maka, konsep diri seseorang itu tidak baik pula.
Karakteristik Sosial
Karakteristik sosial adalah sifat-sifat yang kita
tamplikan dalam hubungan kita dengan orang lain (ramah atau ketus, ekstrovert atau introvert, banyak bicara atau pendiam, penuh perhatian atau tidak
pedulian, dsb). Hal hal ini memengaruhi peran sosial kita, yaitu segala sesuatu
yang mencakup hubungan dengan orang lain dan dalam masyarakat tertentu
Peran Sosial
Ketika peran sosial merupakan bagian dari konsep diri,
maka kita mendefinisikan hubungan sosial kita dengan orang lain, seperti: ayah,
istri, atau guru. Peran sosial ini juga dapat terkait dengan budaya, etnik,
atau agama. Meskipun pembahasan kita mengenai 'diri' sejauh ini mengacu pada diri
sebagai identitas tunggal, namun sebenarnya masing-masing dari kita memiliki
berbagai identitas diri yang berbeda (mutiple selves).
Identitas Diri Yang Berbeda
Identitas berbeda atau multiple selves adalah
seseorang kala ia melakukan berbagai aktivitas, kepentingan, dan hubungan
sosial. Ketika kita terlibat dalam komunikasi antarpribadi, kita memiliki dua
diri dalam konsep diri kita.
- Pertama
persepsi mengenai diri kita, dan persepsi kita tentang persepsi orang lain
terhadap kita (meta persepsi).
- Identitas
berbeda juga bisa dilihat kala kita memandang 'diri ideal' kita, yaitu
saat bagian kala konsep diri memperlihatkan siapa diri kita 'sebenarnya'
dan bagian lain memperlihatkan kita ingin 'menjadi apa' (idealisasi diri)
- Contohnya
saat orang gemuk berusaha untuk menjadi langsing untuk mencapai gambaran
tentang dirinya yang ia idealkan.
Proses
Pengembangan Kesadaran Diri
Proses pengembangan kesadaran diri ini diperoleh melalui
tiga cara, yaitu;
- Cermin
diri (reflective self) terjadi saat kita menjadi subyek dan obyek
diwaktu yang bersamaan, sebagai contoh orang yang memiliki kepercayaan
diri yang tinggi biasanya lebih mandiri.
- Pribadi
sosial (social self) adalah saat kita menggunakan orang lain
sebagai kriteria untuk menilai konsep diri kita, hal ini terjadi saat kita
berinteraksi. Dalam interaksi, reakasi orang lain merupakan informasi
mengenai diri kita, dan kemudian kita menggunakan informasi tersebut untuk
menyimpulkan, mengartikan, dan mengevaluasi konsep diri kita. Menurut
pakar psikologi Jane Piaglet, konstruksi pribadi sosial terjadi saat
seseorang beraktivitas pada lingkungannya dan menyadari apa yang bisa dan
apa yang tidak bisa ia lakukan
Contoh: Seseorang yang optimis tidak melihat kekalahan
sebagai salahnya, bila ia mengalami kekalahan, ia akan berpikir bahwa ia
mengalami nasib sial saja saat itu, atau kekalahan itu adalah kesalahan orang
lain. Sementara seseorang yang pesimis akan melihat sebuah kekalahan itu
sebagai salahnya, menyalahkan diri sendiri dalam waktu yang lama dan akan
memengaruhi apapun yang mereka lakukan selanjutnya, karena itulah seseorang
yang pesimis akan menyerah lebih mudah.
- Perwujudan
diri (becoming self). Dalam perwujudan diri (becoming self)
perubahan konsep diri tidak terjadi secara mendadak atau drastis,
melainkan terjadi tahap demi tahap melalui aktivitas serhari hari kita.
Walaupun hidup kita senantiasa mengalami perubahan, tetapi begitu konsep
diri kita terbentuk, teori akan siapa kita akan menjadi lebih stabil dan
sulit untuk diubah secara drastis.
Contoh, bila kita mencoba mengubah pendapat orang tua
kita dengan memberi tahu bahwa penilaian mereka itu harus diubah,
biasanya ini
merupakan usaha yang sulit. Pendapat pribadi kita akan 'siapa saya' tumbuh
menjadi lebih kuat dan lebih sulit untuk diubah sejalan dengan waktu dengan
anggapan bertambahnya umur maka bertambah bijak pula kita.
Konsep diri adalah
bagaimana kita memandang diri kita sendiri, biasanya hal ini kita lakukan
dengan penggolongan karakteristik sifat pribadi, karakteristik sifat sosial,
dan peran sosial.
Hati
Nurani (Suara Hati, Conscience)
|
A. Apa itu Kebebasan?
Akhirnya
saya harus membayar Rp. 25.500,- untuk satu porsi makanan yang saya pesan.
Untuk itu, saya berikan uang Rp. 50.000,- Waktu saya menghitung-hitung
kembalinya, ternyata pelayan rumah makan tadi mengembalikan Rp. 30.500,- Sejenak
saya senang: sudah makan enak malah masih diberi uang! Tapi segera hati saya
menegur: ‘kau harus segera mengembalikan uang kelebihan itu karena kau tidak
berhak atasnya. Kalau tidak, pelayan itu yang harus membayar kekurangan
kasnya pada bosnya’. Saya menjadi sadar bahwa secara moral saya wajib
mengembalikan kelebihan itu. Tetapi sekaligus saya juga menyadari bahwa saya
juga bisa untuk tidak mengembalikan uang tersebut. Saya bisa untuk tidak
menghiraukan teguran suara hati saya. Saya bebas untuk menaati suara hati
saya atau tidak. Dengan kebebasan itu saya menyadari bahwa saya, dan hanya
saya yang bertanggungjawab atas perbuatan saya.
Hanya karena saya memiliki kebebasan maka saya dapat dibebani kewajiban moral. Sedangkan binatang tidak mengenal kebebasan. Segala sesuatu yang dilakukan ditentukan oleh insting dan kecenderungan alamiah lainnya. Maka apa yang akan dilakukan bisa kita ramalkan sebelumnya. Berbeda dengan manusia, sebagai makhluk yang berakal budi, manusia mempunyai pengertian. Pengertian itu berarti bahwa ia memahami alternatif-alternatif untuk bertindak. Itulah sebabnya ia bebas. Ia dapat memilih berbuat ini atau itu. Dan karena ia bebas, ia dapat dibebani kewajiban. Begitulah Tuhan menganugerahkan kebebasan kepada kita. Kita diberi otonomi untuk bertindak. Sama seperti seorang ibu yang membantu anaknya berjalan. Bila ibu itu adalah ibu yang baik maka kadang-kadang juga akan membiarkan anaknya jatuh agar ia belajar bangkit dan kemudian mampu berjalan sendiri. Tuhan juga demikian, karena ia ingin manusia berkembang.
Ada dua
arti kebebasan, yaitu:
Kebebasan
eksistensial
Kebebasan
yang diberikan Tuhan sejak kita lahir, untuk menentukan tindakan kita sendiri
Dengan
kebebasan ini manusia bisa menentukan apa yang ingin dia lakukan. Tetapi
secara kodrat ia tetap terbatas. Seandainya kita menggerakkan tangan kita ke
atas dan ke bawah menyerupai burung dengan kecepatan tinggi kita tetap tidak
bisa terbang. Hal ini bukan berarti kita dibatasi tetapi sebagai wujud khas
manusia yang bukan seperti burung. Yang bisa kita anggap pengekangan terhadap
kebebasan kita bila karena paksaan orang lain kita tidak mampu menggerakkan
seluruh bagian tubuh kita, atau bila pengekangan itu dilakukan bukan hanya
secara fisik tetapi juga mental atau rohani. Seperti seorang tawanan yang
mengalami siksaan fisik dan bentakan keras, ia bisa mengalami ketakutan yang
luar biasa yang membatasi kebebasannya. Oleh karena itu orang ini membutuhkan
kebebasan sosial
Kebebasan Sosial
Kebebasan yang diberikan orang
lain kepada kita
Hal ini
menunjukkan bahwa kebebasan itu kita hayati juga dalam hubungan kita dengan
orang lain. Misalnya saja bila kita setiap hari main bola di tanah lapang di
dekat rumah kita, tetapi pada suatu hari kita melihat di tanah itu terpasang
pengumuman “Tanah ini milik….!!! Yang tidak berkepentingan dilarang
memasukinya…!!!.” Mendadak kita sadar bahwa kebebasan kita main bola dibatasi
oleh pemilik tanah tersebut. Tetapi juga kita sadar bahwa kita perlu juga
menghormati pemilik tanah tersebut. Demikian juga, kita sebagai mahasiswa diberi
banyak kebebasan oleh kampus entah memilihkuliah atau tidak, memakai sepatu
dengan warna bebas, belajar mengorganisasi sebuah kegiatan dll. Tetapi
kebebasan sosial itu kita hayati dalam hubungan kita juga dengan orang lain.
Kita bebas tetapi bertanggungjawab dengan apa yang kita lakukan agar jangan
sampai merugikan orang lain.
Kebebasan
yang diberikan kepada kita seringkali justru memberi keleluasaan kita untuk
melakukan segala sesuatu sesuka kita dan bahkan lebih cenderung ke arah yang
buruk daripada yang baik. Inilah gambaran dinamika hidup manusia yang justru
karena kebebasan yang diberikan padanya mengarahkannya pada DOSA. Seperti
dalam Kisah Manusia jatuh ke dalam dosa (Kej.3:1-24).
B. Suara Hati
Setiap
manusia dalam hatinya memiliki suatu kesadaran tentang apa yang menjadi
tanggungjawab dan kewajibannya. Tetapi kesadaran itu tidak selalu kita perhatikan.
Namun dalam situasi yang konkret suara hati akan selalu menyatakan diri
sebagai kesadaran tentang apa yang menjadi kewajibannya berhadapan dengan masalah
konkret yang dihadapinya. Suara hati atau Hati Nurani seringkali juga disebut
sebagai keputusan suara hati, atau dalam bahasa latin disebut Judicium Consientiae.
1. Pengertian Suara Hati
a.
Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes no. 16
Suara hati
adalah inti manusia yang paling rahasia di mana manusia seorang diri
mendengar sapaan Allah di dalam batinnya (Sanggar Suci Allah)
b. Katekismus Gereja Katolik
no. 1778
Suara hati
adalah keputusan akal budi dimana manusia mengerti apakah suatu perbuatan
konkret yang dia rencanakan, sedang dilaksanakan atau sudah dilaksanakan
bersifat baik atau buruk secara moral
c. Buku Iman Katolik
Suara hati
adalah kemampuan manusia untuk menyadari tugas moral dan untuk mengambil
keputusan moral
d. Dr. Franz Magnis Suseno
Suara hati
adalah kesadaran dalam batin manusia bahwa manusia berkewajiban mutlak untuk
melakukan hal-hal yang benar sesuai dengan tanggungjawabnya dalam situasi
yang konkret.
Dari
berbagai pengertian di atas kita dapat menyimpulkan bahwa suara hati bisa diartikan
secara luas dan secara sempit. Arti
luas: hati nurani berarti kesadaran moral yang tumbuh dan berkembang
dalam hati manusia. Keinsafan akan adanya kewajiban. Arti sempit: hati nurani merupakan penerapan kesadaran moral di
atas dalam situasi konkret. Suara hati yang menilai suatu tindakan manusia
benar atau salah, baik atau buruk. Hati nurani tampil sebagai hakim yang baik
dan jujur.
2. Cara Kerja Suara Hati
a. Dalam hati manusia, sebelum
bertindak atau berbuat sesuatu, ia sudah mempunyai kesadaran atau pengetahuan
umum bahwa ada yang baik dan ada yang buruk. Setiap orang memiliki kesadaran
moral tersebut, walaupun kadar kesadarannya berbeda-beda.
b. Pada saat suatu tindakan
itu dilakukan, suara hati akan mengatakan perbuatan itu baik atau buruk. Jika
perbuatan itu baik, kata hati akan mendorong supaya perbuatan itu dilakukan.
Dan jika perbuatan itu buruk, kata hati akan melarang perbuatan untuk
dilakukan. Dan akan terus bekerja dengangan mendorong perbuatan baik dan
melarang perbuatan buruk.
c. Sesudah suatu tindakan atau
perbuatan, maka kata hati muncul sebagai hakim yang memberi vonis. Untuk
perbutan yang baik, kata hati akan memberi tanda lewat perasaan positif
dengan pujian yang membuat orang merasa senang, bangga, tenang, dan
sebagainya. Namun jika perbuatan itu buruk maka ia akan memberi tanda lewat
perasaan yang muncul, karena suara hati mencela perbuatan tersebut sehingga
orang merasa gelisah, malu, menyesal, putus asa, dan sebagainya.
Demikianlah
kata hati muncul sebagai indeks
(petunjuk), kemudian sebagai iudex (hakim) dan
sekaligus vindex (penghukum).
3. Fungsi Hati Nurani
Suara hati
berfungsi sebagai: Pegangan, pedoman atau norma untuk menilai suatu tindakan apakah
tindakan itu baik atau buruk; Pegangan atau peraturan-peraturan konkret di
dalam kehidupan sehari-hari; Menyadarkan manusia akan nilai dan harga
dirinya.
4. Suara Hati Keliru
Suara hati
kita bisa juga menjadi suara hati yang keliru karena hal-hal di bawah ini:
a.
Ketidaktahuan
Seseorang
melakukan tindakan tanpa didasari oleh kesadaran apakah yang ia lakukan benar
atau salah karena ia tidak mengetahui apakah perbuatan itu benar atau salah.
Contoh:
Seorang anak yang sejak kecil hidup dalam lingkungan pencuri. Ia tidak akan mengerti bahwa mencuri itu salah, baik atau buruk, maka ia tetap melakukan tindakan mencuri.
b.
Kebiasaan
Contoh:
Deni hari ini tidak belajar untuk ulangan Matematika yang akan dilaksanakan hari ini. Ia kemudian mencari cara agar ia tetap mendapatkan nilai baik, akhirnya ia menyontek. Suara hati yang memberinya kesadaran tidak dihiraukannya Karena tidak ketahuan maka ia mengulang perbuatan itu berulangkali, sampai menjadi suatu kebiasaan, sehingga ia tidak lagi peka apakah perbuatan itu benar atau salah.
c.
Ideologi
Contoh:
Seseorang menganut paham
komunisme. Maka ia sangat yakin dengan kehidupan bersama, yang semua harus
sama dan rata, dan ia tidak mempercayai bahwa Tuhan itu ada. Oleh karenanya
keputusannya akan didasarkan pada paham/ideology yang diyakinminya benar,
meskipun secara obyektif tidak bisa dibenarkan.
d. Pengalaman Masa Lalu
Contoh:
Seorang anak yang sejak kecil dikatakan bodoh, maka ia akan selalu ragu-ragu ketika harus membuat keputusan. Semua yang ia lakukan akan didasarkan pada keraguan, karena ia mempunyai gambaran diri yang bodoh.
e.
Rasionalisasi
Alasan yang selalu dibuat
seolah-olah benar akan mengacaukan suara hati kita sampai kita sulit untuk
membuat keputusan karena segala yang baik dan benar yang harus kita lakukan
dibutakan oleh rasionalisasi yang kita buat.
Pedoman yang dapat dipegang
Suara Hati Benar, jika kata
hati kita sesuai dengan norma obyektif
Suara Hati Keliru, jika kata
hati kita tidak sesuai dengan norma obyektif
Hati nurani
yang pasti, artinya, secara moral dapat dipastikan bahwa hati nurani tidak
keliru. Hati nurani yang bimbang,
artinya masih ada keraguan
Hal-hal di bawah ini bisa menjadi
pedoman :
Suara hati yang benar dan pasti, maka: Perbuatan yang baik dapat dan harus dilakukan Perbuatan yang buruk harus dielakkan Suara hati yang pasti, tetapi keliru, maka: Perbuatan yang baik dapat dan harus dilakukan (Misalnya, seorang siswa merasa pasti bahwa hari Senin adalah hari puasa, maka ia harus berpuasa walaupun keliru) Perbuatan buruk harus dielakkan (Misalnya, seorang remaja merasa pasti bahwa mencium kekasihnya adalah dosa, maka ia harus mengelakkannya walaupun keliru) Suara hati yang tidak pasti Seseorang dapat memilih yang paling menguntungkan. Misalnya, hati nurani seseorang tidak merasa pasti apakah hari ini hari puasa atau tidak, maka ia boleh memilih yang menguntungkan dia
Jika menyangkut nyawa manusia,
itu harus didahulukan. Misalnya, jika seseorang tidak merasa pasti bahwa
suatu cara KB bersifat abortif atau tidak, maka ia harus menolak cara itu,
sebab menyangkut nyawa manusia.
Arti dan Peranan Suara Hati dalam Kitab Suci
Membaca (Rm
7: 14-26), Santo Paulus mengatakan kepada kita bahwa dalam diri kita ada dua
hukum, yaitu hukum Allah dan hukum dosa. Kedua hukum itu saling bertentangan.
Hukum Allah menuju kebaikan sedangkan hukum dosa menuju kepada kejahatan.
Santo Paulus menyadari bahwa selalu ada pergulatan antara yang baik dan yang
jahat dalam hati manusia. Dalam mengambil keputusan, kita mempunyai pedoman
bukan berasal dari luar diri kita, tetapi berasal dari dalam diri kita
sendiri. Setiap orang mempunyai daya khusus, untuk mengenal yang baik dan
buruk. Dalam situasi yang konkret kita disadarkan oleh suara hati kita untuk
melakukan hal yang baik yang akan membahagiakan diri kita, dan jika tidak
kita laksanakan maka kita akan kecewa dan menyesal.
Konsili
Vatikan II dengan sangat indah mengungkapkan dalam dokumen Gaudiumet Spes
artikel 16 demikian: “Di lubuk hati nuraninya, manusia menemukan hukum, ynag
tidak diterimanya dari dirinya sendiri, melainkan harus ditaati. Suara hati
itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan apa yang
baik, dan menghindari apa yang jahat. Bilamana perlu, suara itu menggemakan
dalam lubuk hatinya: jalankan ini, elakkan itu sebab dalam hatinya, manusia
menemukan hukum yang ditulis oleh Allah. Martabatnya ialah mematuhi hukum itu
dan menurut hukum itu pula ia akan diadili.”
Hati nurani
adalah sanggar suci Allah. Pesan Allah menggema dalam hati kita. Berkat hati
nurani dikenallah secara ajaib hokum yang dilaksanakan dalam cinta kasih
terhadap Allah dan sesama. Atas kesetiaan kita terhadap hati nurani maka kita
bersama semakin banyak orang mencari kebenaran dan mampu memecahkan persoalan
moral yang timbul baik dalam hidup perorangan maupun dalam kehidupan
masyarakat.
|
|
|
|
Ilustrasi 1
Moore
adalah seorang dokter terkenal dan dihormati, melalui tangannya sudah tak
terhitung nyawa yang diselamatkan. Dia tinggal disebuah kota tua di
Prancis. 20 tahun yang lalu dia adalah seorang narapidana, kekasihnya
mengkhianatinya dan lari ke pelukan lelaki lain.
Oleh
karena emosi, dia melukai lelaki itu yang akhirnya menyeretnya ke penjara
selama 3 tahun. Dari seorang mahasiswa di universitas ternama lalu menjadi
seorang narapidana.
Setelah
dia keluar dari penjara, kekasihnya telah menikah dengan orang lain.
Statusnya sebagai bekas narapidana menyebabkannya ketika melamar pekerjaan
menjadi bahan ejekan dan penghinaan. Dalam keadaan sakit hati, Moore
memutuskan akan menjadi perampok.
Dia
telah mengincar di bagian Selatan kota ada sebuah rumah yang akan menjadi
sasarannya. Para orang dewasa di rumah tersebut semuanya pergi bekerja sampai
malam baru pulang ke rumah. Di dalam rumah hanya ada seorang anak kecil buta
yang tinggal sendirian.
Dia
pergi ke rumah tersebut mencongkel pintu utama membawa sebuah pisau belati,
masuk ke dalam rumah, sebuah suara lembut bertanya, “Siapa itu?” Moore
sembarangan menjawab, “Saya adalah teman papamu, dia memberikan kunci rumah
kepadaku.”
Anak
kecil ini sangat gembira, tanpa curiga berkata, “Selamat datang, namaku Kay,
tetapi papaku malam baru sampai ke rumah. Paman apakah engkau mau bermain
sebentar dengan saya?” Dia memandang dengan mata yang besar dan terang
tetapi tidak melihat apapun, dengan wajah penuh harapan, di bawah tatapan
memohon yang tulus, Moore lupa kepada tujuannya, langsung menyetujui.
Moore
sangat terheran-heran saat Kay, anak yang berumur 8 tahun dan buta ini dapat
bermain piano dengan lancar, lagu-lagu yang dimainkannya sangat indah dan
gembira, walaupun bagi seorang anak normal harus melakukan upaya besar sampai
ke tingkat seperti anak buta ini
Setelah
selesai bermain piano anak ini melukis sebuah lukisan yanag dapat dirasakan
di dalam dunia anak buta ini, seperti matahari, bunga, ayah-ibu, teman-teman,
dunia anak buta ini rupanya tidak kosong, walaupun lukisannya kelihatannya
sangat canggung, yang bulat dan persegi tidak dapat dibedakan, tetapi dia
melukis dengan sangat serius dan tulus.
“Paman,
apakah matahari seperti ini?” Moore tiba-tiba merasa sangat terharu, lalu dia
melukis di telapak tangan anak ini beberapa bulatan, “Matahari bentuknya
bulat dan terang, dan warnanya keemasan.”
“Paman,
apa warna keemasan itu?”, dia mendongakkan wajahnya yang mungil bertanya.
Moore terdiam sejenak, lalu membawanya ke tempat terik matahari, “Emas adalah
sebuah warna yang sangat vitalitas, bisa membuat orang merasa hangat, sama
seperti kita memakan roti yang bisa memberi kita kekuatan. “
Anak
buta ini dengan gembira dengan tangannya meraba ke empat penjuru, “Paman,
saya sudah merasakan, sangat hangat, dia pasti akan sama dengan warna
senyuman paman.“
Moore
dengan penuh sabar menjelaskan kepadanya berbagai warna dan bentuk barang,
dia sengaja menggambarkan dengan hidup, sehingga anak yang penuh imajinatif
ini mudah mengerti. Anak buta ini mendengar ceritanya dengan sangat serius,
walaupun dia buta, tetapi rasa sentuh dan pendengaran anak ini lebih tajam
dan kuat daripada anak normal, tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat.
Akhirnya,
Moore teringat tujuan kedatangannya, tetapi Moore tidak mungkin lagi
merampok. Hanya karena kecaman dan ejekan dari masyarakat dia akan melakukan
kejahatan lagi, berdiri di hadapan Kay dia merasa sangat malu, lalu dia
menulis sebuah catatan untuk orang tua Kay.
“Tuan
dan nyonya yang terhormat, maafkan saya mencongkel pintu rumah kalian. Kalian
adalah orang tua yang hebat, dapat mendidik anak yang demikian baik. Walaupun matanya buta, tetapi hatinya sangat
terang. Dia mengajarkan kepada saya banyak hal, dan membuka pintu hati saya.”
Tiga
tahun kemudian, Moore menyelesaikan kuliahnya di Universitas Kedokteran, dan
memulai karirnya sebagai seorang dokter.
Enam
tahun kemudian, dia dan rekan-rekannya mengoperasi mata Kay, sehingga Kay
bisa melihat keindahan dunia ini. Kemudian Kay menjadi seorang pianis
terkenal, yang mengadakan konser ke seluruh dunia. Setiap mengadakan konser,
Moore akan berusaha menghadirinya, duduk di sebuah sudut yang tidak mencolok,
mendengarkan musik indah menyirami jiwanya yang dimainkan oleh seorang pianis
yang dulunya buta.
Ketika
Moore mengalami kekecewaan terhadap dunia dan kehidupannya, semangat dan
kehangatan Kay kecil yang buta ini yang memberikan kehangatan dan kepercayaan
diri kepadanya. Kay kecil yang tinggal di dalam dunia yang gelap, sama sekali
tidak pernah putus asa dan menyia-nyiakan hidupnya, dia membuat orang
menyadari betapa besar vitalitas dalam hidup ini, vitalitas dan semangat ini
menyentuh ke dasar hati Moore.
Cinta
dan harapan akan dapat membuat seseorang kehilangan niat melakukan kejahatan.
Sedikit harapan mungkin bisa menyembuhkan seorang yang putus asa, atau bahkan
bisa mengubah nasib kehidupan seseorang atau kehidupan banyak orang. Seperti
Moore yang telah membantu banyak orang, ketika mengalami putus asa maka
bukalah pintu hatimu, maka cahaya harapan akan menyinari hatimu.
|
Ilustrasi 2
Ada 2 orang yang berteman baik,
yang seorang disebut Rendah Hati dan yang seorang lagi disebut Serakah. Mereka
berdua sepakat untuk bersama-sama naik ke surge. Mereka membawa bekal yang
cukup untuk persediaan makanan mereka selama perjalanan menuju ke surga. Untuk
mencerminkan semangat kasih tanpa pamrih, di dalam perjalanan mereka selalu
mengalah satu sama lain. Karena hal tersebut menyebabkan waktu yang
dipergunakan dalam perjalanan tertunda sangat banyak. Jika hal ini berlanjut
terus bisa berbahaya. Oleh sebab itu, Serakah mulai berpikir tidak akan
mengalah lagi. Jika engkau tidak mau saya akan menerimanya, akhirnya dia
memakan habis semua makanan yang diberikan oleh Rendah hati.
Kemudian di perjalanan mereka
timbul hal yang aneh. Setelah Serakah memakan makanan yang diberikan Rendah Hati,
semakin dimakan nafsu makannya semakin besar, terus ingin makan. Akhirnya
Rendah Hati karena kasihan kepada Serakah, walaupun dirinya tidak makan sampai
lemas dia tetap memberikan makanannya kepada Serakah. Akhirnya yang satu orang
karena kelaparan lemas tidak bisa berjalan lagi. Sedangkan yang satu lagi
karena kekenyangan tidak dapat berjalan. Setelah malam hari akhirnya mereka
sampai di depan pintu surga.
Di pintu surga mereka dihalangi
oleh malaikat penjaga pintu dan tidak boleh masuk ke dalam surga.
Serakah bertanya, “Kenapa tidak
mengizinkan kami masuk ke dalam?”
Malaikat berkata, “Karena engkau
terlalu serakah, memakan habis semua makanan temanmu.”
Serakah berkata, “Tetapi, itu
semua pemberian dari dia.”
Malaikat berkata, “Walaupun
diberikan secara sukarela, tetapi engkau tidak boleh mengabaikan orang sehingga
dia kelaparan sampai lemas tidak bisa berjalan. Etika ini saja engkau tidak
mengerti. Lalu, apakah engkau pantas masuk ke surga?”.
Rendah Hati bertanya, “Lalu saya
bagaimana?, demi supaya Serakah bisa makan dengan kenyang, saya memberikan
semua makanan saya untuknya.”
Malaikat berkata, “Jika
kemungkinan kesempatan Serakah masuk surga adalah 1 di antara sepuluh ribu,
sedangkan kemungkinan kesempatan kamu adalah 1 di antara jutaan juga tidak
mungkin.“ Rendah Hati tidak mengerti makna kata yang disebut malaikat dia
terbengong di sana. Malaikat kemudian melanjutkan, “Membuat diri sendiri
kelaparan seperti itu bukanlah sebuah kebajikan, engkau membuat surga ini
bagaikan panggung sandiwara, dan menempatkan Tuhan sebagai penontonnya.”
Ilustrasi 3
Ada seorang pemuda yang buta
sedang bermain piano. Seorang pelajar mendekatinya dan bertanya kepadanya,
“Berapa usia Anda?” Si buta menjawab, “Saya berumur 15 tahun.” “Sejak kapan Anda
menjadi buta?” “Sejak usia 3 tahun.”
“Kalau begitu Anda sudah buta
selama 12 tahun, setiap hari dalam kegelapan, tidak dapat melihat bulan,
matahari, gunung-gunung, tidak tahu kehidupan dalam masyarakat, tidak tahu
penampilan keindahan dan keburukan wajah manusia, tidak melihat keindahan
pemandangan alam, apakah tidak terlalu menyedihkan?”.
Pemuda buta ini dengan tersenyum
menjawab, “Engkau hanya tahu orang buta itu buta, tetapi tidak tahu bahwa orang
normal itu banyak yang buta. Walaupun mata saya tidak bisa melihat, tetapi
keadaan tubuh saya normal saya dapat bergerak bebas. Mendengar suara saja saya
sudah tahu siapa itu. Mendengar percakapan orang saya dapat mengetahui apakah
dia orang baik atau orang jahat, saya dapat memperkirakan kondisi jalan untuk
mengatur laju kecepatan, tanpa takut terjatuh,..
Seluruh pikiran dan jiwa saya
dengan konsentrasi melakukan pekerjaan saya, dengan gigih meningkat maju, tanpa
membuang-buang energi mengurus urusan yang konyol, lama kelamaan hal tersebut
menjadi kebiasaan, sehingga saya tidak sedih lagi karena mata saya buta.
Tetapi sekarang di masyarakat
banyak yang matanya walaupun dapat melihat, tetapi dibutakan oleh hasrat. Terlalu
banyak melihat hal-hal yang buruk, sehingga tidak bisa membedakan kebijaksanaan
dan kebodohan, tidak bisa membedakan orang baik dan orang jahat, tidak
mengetahui penyebab kekacauan maupun ketenangan, buku dan puisi yang terletak
di depan mata tetapi pikiran melayang kemana-mana, sehingga tidak memahami
esensinya.
Ada juga orang yang memutar
balikkan fakta, berbuat jahat, tidak bisa bertobat sehingga akhirnya
terperangkap di dalamnya. Apakah orang-orang tersebut tidak mempunyai mata?
Apakah orang yang dengan mata terbuka sengaja berbuat kesalahan apakah mereka
bukan orang buta? Mereka sebenarnya dibandingkan dengan orang yang
seperti saya yang secara fisiologis buta lebih tercela dan lebih menyedihkan!” Pelajar
ini tidak bisa lagi mengucapkan sepatah katapun.
Cerita ini mengungkapkan
filfasat hidup, bahwa kebutaan fisik ini tentu menyedihkan, tetapi buta secara
psikologis lebih menyedihkan lagi. Kebutaan adalah kelemahan utama, tetapi
dalam kebutaan ini jika kita dapat berkonsentrasi mempelajari sebuah keahlian
yang akhirnya dapat mencapai hasil yang baik dan memahami wawasan dalam
prinsip-prinsip kehidupan. Tetapi walaupun mata ini melek tetapi selalu
melakukan pelanggaran, melakukan perbuatan menyimpang maka orang tersebut
adalah “orang yang buta mata hatinya”.
Ilustrasi 4
Sejarah itu bagaikan cermin,
dapat mengungkapkan banyak rincian peristiwa. Membaca sejarah membuat orang
merasa seolah-olah melampaui ruang dan waktu, memutar video dari adegan masa
lalu.
Ada banyak hal yang terjadi
dalam sejarah, dan kita bisa belajar banyak dari mereka dengan membaca
buku-buku sejarah. Salah satu contohnya Shiji (史記),
sebuah maha karya yang ditulis sejarawan China, Shima Qian (109-91 SM). Saat
membaca Shiji, saya menemukan satu pepatah kuno di dalamnya: “Integritas
seseorang yang akan berbicara.”
Pepatah ini berasal dari
biografi Jenderal Li dalam buku Shiji. Disitu tertulis, “Jenderal Li tidak
pandai dalam berbicara. Namun saat kematiannya, semua orang merasa kehilangan
dirinya, hal ini dikarenakan kesetiaan dan ketulusannya kepada orang lain.
Artinya, integritas seseorang yang berbicara.”
Perkataan ini mengacu pada Li
Guang, seorang jenderal terkenal era Dinasti Xihan. Jenderal Li bijaksana dan
berani, dia membuat kontribusi besar dalam mempertahankan negara dari invansi
musuh. Selain keahlian seni bela dirinya, dia juga dikenal peduli terhadap para
prajuritnya.
Suatu hari ketika berbaris dalam
cuaca dingin, Jenderal Li melihat seorang tentara dengan kaki terluka berjalan
dengan susah payah. Dia turun dari kudanya dan meminta prajurit tersebut duduk
di atas kudanya, seraya dengan lembut menghibur prajurit itu.
Semua prajurit yang menyaksikan
peristiwa ini menjadi tersentuh. Ketika berhenti untuk istirahat, persediaan
makanan prajurit tersebut telah menipis, mengetahui hal ini Jenderal Li
memberikan makanannya untuk prajurit yang terluka tersebut dan tidur dengan
perut kosong malam itu.
Ketulusan hati dan kepeduliannya
telah meraih kepercayaan dari para prajuritnya. Meskipun Jenderal Li tidak
berbicara tentang masalah ini, para prajuritnya telah tersentuh sehingga
bertempur dengan gagah berani melawan musuh-musuh mereka. Ketika mendengar
Jenderal Li telah meninggal, seluruh prajurit dan warga sipil menangisinya.
Shima Qian mencatatnya dalam Shiji dan memuji Jenderal Li.
Ilustrasi 5:
Pamer diri merupakan kebiasaan
buruk. Kebajikan seseorang akan diperhatikan oleh orang lain, meskipun mereka
sendiri tidak membicarakannya. Ini adalah tingkatan alam spiritual. Saya pikir
sebagai manusia bijak, kita juga harus tetap rendah hati dalam berasimilasi
dengan prinsip Sejati-Baik-Sabar.
Adalah seorang pemuda yang baru mendapatkan pekerjaan
untuk pertama kalinya. Ia belum tahu seluk-beluk dunia pekerjaan dan trik-trik
yang dimainkan di dalamnya. Tak lama kemudian, ia pun terjerat pengaruh
rekan-rekan kerjanya lalu menempuh jalan pintas untuk mendapatkan tambahan uang
(gelap) dari pekerjaannya itu. Hal ini tentu merupakan suatu perbuatan yang
sangat mempengaruhi perkembangan bisnis dalam perusahaan tersebut. Hingga pada
akhrinya perbuatan tersebut diketahui oleh atasanya. Dan tidak heran kalau
tindakannya itu diketahui atasannya sehingga ia bersama dengan beberapa
rekannya itu dikeluarkan dari pekerjaanya. Disadarinya bahwa pelanggaran itu
memang bukan datang dari dirinya sendiri, tetapi karena pengaruh dari rekan
sekerjanya. Itu bukanlah yang diinginkannya, tetapi semuanya telah terjadi.
Untuk Kita
Renungkan
Menyimak sejumlah
cerita di atas, ada satu hal yang bisa kita petik sebagai salah satu pegangan
dalam hidup kita yang pada dasarnya dapat menyadarkan fungsi suara hati
itu sendiri. Di dalam hidup ini kita seringkali tidak bisa memilah, mana
masalah yang harus diprioritaskan dan mana yang boleh diurus belakangan.
Apalagi jika hubungan tersebut menyangkut masalah pribadi dengan kebenaran.
Dalam kehidupan umat manusia dewasa ini masih banyak kekacauan yang dapat
menegaskan hal tersebut. Yang lebih dominan adalah perasaan tidak enak terhadap
sesama atau teman kerja jika tidak bekerja sama dalam hal yang buruk. Inilah
realitas kehidupan umat manusia pada zaman ini, di mana mereka telah salah
menerapkan rasa solidaritas. Mereka menggunakan solidaritas sebagai salah satu
sarana untuk menjatuhkan orang lain dan juga menghancurkan dirinya sendiri.
Kebutuhan kita
tidak mungkin tercapai jika ada motivasi tidak baik di balik aktivitas kita. Manipulasi
kebohongan dan pemuasan ego pribadi, semuanya adalah musuh utama kita. Motivasi
yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan sama saja tidak ada arti. Sebab segala
apa yang kita lakukan semuanya sangat bertentangan dengan kehendak Allah.
Hal inilah yang membawa kita jauh dari Tuhan dan hubungan kita dengan Tuhan
semakin hari semakin tidak jelas, sebab hidup kita sudah dikuasai oleh
keinginan yang tidak jelas. Dan Santo Yakobus dalam suratnya mengatakan “Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak
memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai
tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh
apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak
menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak
kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yak.4:2-3).
Yang merupakan
masalah besar di dalam hidup kita adalah bagaimana menentukan kebenaran menurut
Allah. Apa patokannya? Terus terang saja seringkali Kitab Suci tidak
menerima suatu konsep baku atau jadi di dalam menjawab semua masalah hidup kita
namun ada prinsip-prinsip dasar yang jelas dan kita harus mengolahnya di dalam
hidup kita sehari-hari, supaya hidup kita selalu terarah kepada Tuhan.
Di situlah
tempat Allah berbicara, manusia bertemu dengan Allahnya dan manusia bertemu
dengan dirinya sendiri. Di situlah tempat hukum yang utama yaitu cintakasih.
Suara hati adalah tempat hukum cintakasih. Ada yang mengatakan bahwa suara hati
bisa keliru. Memang demikian namun yang keliru bukan ajarannya melainkan
cara mengungkapkannya atau pelaksanaan keputusannya. Ajakan suara hati itu
selalu benar, yang keliru adalah langkah-langkahnya. Seorang manusia yang jelas
bersalah, bisa menganggap dirinya benar dan berhasil meyakinkan banyak orang
dengan pernyataanya yang dibuat logis namun tidak bisa lari dari tuntutan suara
hatinya. Kemana pun ia pergi suara hati akan terus mengejarnya dengan perasaan
bersalah seperti yang dialami oleh pemuda di atas tadi.
Di dalam lubuk
hati seseorang suara hati selalu bekerja. Pada waktu tertentu ia
memberi perintah untuk melakukan yang baik dan menghindarkan yang jahat. Ia
juga menilai keputusan yang konkret, di mana ia menyetujui yang baik dan
menolak yang jahat. Ia memberi kesaksian tentang kebenaran dalam hubungan
dengan kebaikan tertinggi yaitu Allah, oleh siapa manusia ditarik, hukum-hukum
siapa manusia terima. Kalau ia mendengarkan hati nuraninya, manusia yang
bijaksana mendapat suara dari Allah yang berbicara di dalamnya dan tidak dipengaruhi
oleh orang lain yang membawa kehancuran di dalam hidupnya.
Hati nurani
adalah keputusan akal budi, di mana manusia mengerti apakah suatu perbuatan
konkrit yang ia rencanakan, sedang dilaksanakan, atau sudah terlaksana, baik
atau buruk secara moral. Dalam segala sesuatu yang diperbuat, manusia
berkewajiban untuk mengikuti dengan seksama apa yang ia tahu, bahwa itu benar
dan tepat. Oleh keputusan hati nurani manusia mendengar dan mengenal penetapan
hukum ialahi. Sebab manusia diciptakan untuk suatu persahabatan yang mendalam
dan akrab dengan Tuhan dan menjadi sempurna seperti Dia sempurna. Hati kita
merindukan hal itu. Seperti St. Agustinus pernah mengatakan “hati kami belum tenang sebelum beristirahat
di dalam Engkau.”
Bagi manusia
yang telah menemukan Tuhan sebagai dasar dan tujuan hidupnya, keputusan suara
hati juga merupakan jawaban terhadap Allah. Di dalam imanlah, manusia bertemu
dengan Tuhan. Maka bagi orang beriman keputusan suara hati berarti perwujudan
iman, sebab sebagai hidup menjadi kenyataan kalau membuat sesuatu yang konkret,
demikian juga iman menjadi dasar di dalam kehidupan kita umat Kristen. Jadi
iman itu, hidup bukan pertama-tama dalam agama sebagai ungkapan iman yang
implisit, melainkan dalam tindakan moral sebagai wujud hidup beriman. Di situ
terjalinlah relasi manusia dengan Allah. Tidaklah cukup bagi manusia jika ia
hanya berseru “Tuhan Tuhan”. Ia harus masih menjalankan kehendak Allah yang
diakuinya dalam ketaatan kepada suara hati.
Dengan berpikir
sebelum mengambil keputusan, setidaknya dapat menyadarkan kita akan fungsi
suara hati, sebab dengan ini dapat membantu kita untuk bisa melihat mana yang
membangun kehidupan kita dan mana yang menghancurkan diri kita sendiri dan juga
orang lain. Berpikir sebelum mengambil keputusan sangat membantu kita dalam
suatu tugas yang kita jalani. Memang di sini juga membutuhkan rahmat Tuhan
sendiri, sebab tanpa rahmat Tuhan segala sesuatu yang kita lakukan tidak selalu
berjalan dengan mulus. Akan tetapi, jika kita mohon rahmat Tuhan, Tuhan pasti membantu
kita asalkan hal tersebut dapat membangun kehidupan kita untuk menuju persatuan
dengan Dia yang kudus.
Kasih Tuhan
begitu besar di dalam kehidupan kita umat manusia, sehingga Ia merelakan diri
mati di kayu salib, supaya umat manusia memperoleh keselamatan kekal. Dan
juga supaya manusia tidak dikuasai oleh dosa lagi. Inilah cinta Tuhan
yang terbesar dalam kehidupan kita umat manusia. Tuhan memberikan hati yang
murni bagi kita, supaya kita dapat melihat hal-hal yang membangun kehidupan
kita dan juga membawa kita untuk selalu dekat dengan Dia di dalam kehidupan
kita sehari-hari, baik itu di tempat kerja ataupun di mana kita berada.
Supaya dapat
mendengar dan mengikuti suara hati, orang harus mengenal hati sendiri. Upaya
mencari kehidupan batin menjadi lebih penting lagi, karena kehidupan seringkali
mengalihkan perhatian kita dari setiap pertimbangan, dan pemeriksaan diri.
Santa Teresa Avila pernah mengatakan “lebih baik serahkan dirimu ke dalam tangan Tuhan, supaya Dia dapat
berbuat sesuka hati-Nya dengan dirimu, sehingga kecemasan akan kepentingan
dirimu akan menjadi kecil”. Dengan menyerahkan kepada Tuhan segala
sesuatu yang kita alami cepat atau lambat Tuhan akan membantu kita.
Suara hati
tidak hanya menilai sarana dan tujuan usaha manusia sesuai dengan arah
kehidupan. Keputusan suara hati juga merupakan pedoman dan daya penggerak bagi
tindakan kita. Dalam kehidupan kita jarang ada yang mutlak perlu, yang tanpa
alternatif dan tidak dapat diganti oleh sesuatu yang lain. Suara hati membantu
manusia mengikatkan diri pada keputusan tertentu dan menjalaninya dengan setia
dan tekun serta membawa dia untuk bisa melihat mana yang baik dan mana yang
buruk. Tuhan memberi kebebasan kepada manusia supaya manusia dapat melihat mana
yang dari Allah dan mana yang dari keinginan diri sendiri yang bertentangan
dengan kehendak Allah. Beato Henry Suso pernah mengatakan bahwa ”Aku lebih baik menjadi cacing kotor di bumi
ini oleh karena kehendak Allah, daripada menjadi seorang malaikat oleh karena
kemauanku sendiri.”
Hati nurani
harus dibentuk dan keputusan moral harus diterangi. Hati nurani yang dibentuk
dengan baik dapat memutuskan secara tepat dan benar. Dalam keputusannya ia
mengikuti akal budi dan pada kebaikan yang benar, yang dikehendaki oleh
Allah sendiri. Bagi kita umat manusia yang takluk kepada pengaruh-pengaruh yang
buruk dan selalu digoda untuk mementingkan diri sendiri dan menolak ajaran
Tuhan yang membawa kita kepada keselamatan kekal. Pembentukan hati nurani itu
mutlak perlu, supaya segala sesuatu yang bukan Tuhan dapat diatasi. pembentukan
hati nurani merupakan suatu tugas seumur hidup yang pada akhirnya membawa kita
kepada pengenalan akan kasih Tuhan.
Dalam
pembentukan hati nurani, Sabda Allah adalah terang di jalan kita. Dalam iman
dan doa kita harus menjadikannya milik kita dan melaksanakannya. Kita juga
harus menguji hati nurani kita dengan memandang ke salib Tuhan, serta mohon
terang Roh Kudus untuk dapat melihat apakah yang kita lakukan berasal dari
Allah ataukah dari keinginan kita sendiri. Dengan mohon rahmat Tuhan kita yakin
dan percaya bahwa Tuhan akan memberikan rahmat bagi kita yang memintanya sebab
Tuhan menghendaki kita, supaya kita mempunyai suatu tujuan hidup yang
penuh arti yang pada akhirnya membawa kita kepada keselamatan kekal.
Di hadapan
suatu keputusan untuk mengambil suatu tindakan, dapat menyadarkan kita untuk
dapat melihat akan mana yang dikehendaki Allah akan apa yang kita putuskan. Dan
Tuhan Yesus sendiri telah bersabda “segala
sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, berbuatlah demikian
juga kepada mereka” (Mat.7:12). Manusia selalu
harus mengikuti keputusan yang pasti dari hati nuraninya. Kalau ia dengan
sengaja bertindak melawannya, ia menghukum dirinya sendiri. Akan tetapi, dapat
juga terjadi karena ketidaktahuan, sehingga hati nurani membuat keputusan yang
keliru mengenai tindakan yang orang rencanakan atau sudah lakukan. Seringkali
manusia yang bersangkutan itu sendiri turut menyebabkan ketidaktahuan ini,
karena ia “ tidak peduli untuk mencari apa yang benar serta baik, dan karena
kebiasaan berdosa hati nuraninya lambat laun hampir menjadi buta” (GS 16).
Dalam hal ini ia bertanggung jawab atas yang jahat, yang ia lakukan di hadapan
Tuhan.
Segala sesuatu
yang kita lakukan di dunia ini semuanya akan kelihatan ketika kita kembali pada
pangkuan Bapa di Surga. Ketika kita jatuh dalam dosa, Tuhan selalu memberi
kesempatan bagi kita untuk kembali kepada Dia dengan sepenuh hati. Dengan
meninggalkan segala sesuatu yang bukan Dia, hati nurani kita selalu terarah
kepada Dia, dan hidup kita tidak lagi dipengaruhi oleh hal-hal yang tidak
diinginkan misalnya; manipulasi, menjatuhkan orang lain dan juga hal-hal
lain yang bertentangan dengan kehendak-Nya.
Baiklah kita
melihat hal mana yang dari Allah dan mana yang dari keinginan diri sendiri.
Biarlah dengan kuasa Tuhan kita mampu menyingkirkan segala sesuatu yang bukan
Dia. Dan mohonlah rahmat Tuhan supaya segala sesuatu yang kita lakukan semuanya
berasal dan seturut kehedak Allah. Sebab jika kita mengikuti kehendak Tuhan dalam
kehidupan sehari-hari cepat atau lambat kita akan mengalami kebahagiaan di
dalam hidup. Tidak ada lagi kekhwatiran dan kecemasan di dalam hidup, sebab
kasih Tuhan selalu menjiwai hidup kita.
Semoga melalui
ini semua, hati kita selalu terarah kepada Tuhan. Sebab Tuhan menghendaki kita
umat manusia supaya di dunia ini kita sudah boleh mengalami prarasa kehahagiaan
kekal. Inilah yang Tuhan tawarkan di dalam kehidupan kita supaya hidup kita
dipenuhi oleh kebahagian dan sukacita. Dengan melalui suara hati yang merupakan
pancaran dari rahmat Tuhan, kita bisa melihat mana yang baik dan mana yang
buruk.
Zhu Yuanshen
dan Fu Yuanshen
Tanyakan pada
hati nurani! Dimanakah hati nurani kita? Tidak punya hati nurani! Apakah hati
nurani itu?
Banyak dari
kita sering mendengar kalimat-kalimat seperti ini, namun jarang yang bisa
menjabarkan makna yang sesungguhnya tentang hati nurani.
Dalam
kehidupan sehari-hari, saat kita ada pikiran untuk melakukan hal-hal yang
menyimpang dari kebaikan, kita akan merasakan satu sisi hati kita akan
membisikkan larangan agar tidak melakukan niat pikiran buruk kita tadi, namun
sekejap kemudian ada bisikan hati yang lain untuk membujuk agar kita tetap
melakukan niat hati yang semula. Saat niat semula belum terlaksana, seolah-olah
ada perseteruan dalam hati, antara yang membujuk agar terlaksana dan yang
melarang agar tujuan tidak terlaksana.
Dalam
filosofi orang Jawa, manusia saat terlahir mempunyai empat jiwa sebagai
kembarannya, yang lahir bersama-sama dengannya. Jiwa-jiwa itu adalah yang baik,
yang benar, yang jahat, dan yang salah. Dalam buku Zhuan Falun,
dikatakan manusia mampunyai Zhu Yuanshen (Jiwa Utama) dan Fu Yuanshen (Jiwa
Sekunder) yang menguasai satu tubuh. Jumlah Fu yuanshen berbeda-beda ada yang
mempunyai satu, dua, tiga, empat, bahkan lima. Tubuh manusia jika tidak ada
Yuanshen, tidak ada tabiat, watak dan karakter, bila tanpa semua ini hanya
merupakan segumpal daging, dia tidak akan menjadi seorang manusia yang lengkap
dengan kepribadian mandiri.
Fu Yuanshen
atau jiwa sekunder, yang berada di dimensi lain dapat melihat hakikat suatu
urusan, tahu mana yang salah dan yang benar, tidak dibuat sesat oleh masyarakat
manusia. Sedangkan Zhu Yuanshen (Jiwa Utama) mudah tergoda oleh nafsu duniawi.
Untuk manusia yang mempunyai bawaan dasar baik mudah dikendalikan oleh
kehidupan tingkat tinggi, Fu Yuanshen-nya juga berasal dari tingkat tinggi.
Semakin tinggi tingkat Fu Yuanshen-nya berasal, hal-hal yang diketahui semakin
sesuai dengan kebenaran dari prinsip-prinsip Tuhan. Sedangkan untuk manusia
yang bawaan dasarnya rendah mudah dipengaruhi oleh informasi dari kehidupan
tingkat rendah yang menyesatkan
Hati nurani
adalah informasi yang disampaikan oleh Fu Yuanshen manusia, karena Fu Yuanshen
manusia berasal dari tingkatan yang lebih tinggi daripada Zhu Yuanshennya,
dengan demikian Fu Yuanshenlah yang selalu menjaga manusia agar terhindar dari
perbuatan yang menyimpang dari hukum Tuhan. Namun begitu Zhu Yuanshen juga
adalah kesadaran utama manusia, dialah yang memegang kendali untuk memutuskan
segala sesuatu yang hendak dilakukan. Meskipun hati nurani kita mengingatkan
untuk selalu berjalan di jalan lurus, namun jika kesadaran utama kita
memutuskan untuk tetap melakukan perbuatan buruk, maka tetap saja kita akan
melakukan keputusan salah yang telah kita putuskan tersebut.
Zhu yuanshen
manusia yang mudah terpengaruh oleh keduniawian akan mudah dituntun oleh
informasi-informasi yang membujuk kita untuk selalu berjalan di jalan yang
menyimpang, karena informasi yang dibawa/diperoleh bisa jadi informasi dari
unsur-unsur negatif yang berusaha menyesatkan Zhu yuanshen/kesadaran utama
kita. Meskpiun hati nurani (Fu Yuanshen) selalu mengingatkannya, namun apa daya
tangan tak sampai karena jika kesadaran utama kita tetap mengambil keputusan
yang menyimpang tersebut, maka tetap saja kita melakukan suatu keburukan,
sesuai dengan informasi yang menyesatkan yang diperoleh oleh Zhu Yuanshen kita.
Untuk
menghindarkan diri dari perbuatan dosa karena perbuatan buruk maka kita harus
mendengarkan bisikan hati nurani. Saat terjadi perseteruan isi hati antara hati
nurani kita dengan bisikan hati yang mengajak keburukan, maka segera kuatkanlah
kesadaran utama kita untuk mengikuti bisikan hati nurani yang jelas-jelas akan
membawa kita melakukan hal-hal yang benar. Sebagai contoh, saat kita berpikir
untuk berbohong demi menutupi perbuatan buruk kita, maka hati nurani anda akan
membisikkan larangan untuk tidak berbohong, atau saat kita mau memamerkan diri,
hati kita membisikkan untuk tidak memamerkan diri, saat ingin menyebarkan
hasutan, gosip dll yang buruk, akan ada suara hati yang melarang kita melakukan
hal-hal tersebut.
Saat manusia
sudah tidak mau mendengarkan hati nuraninya, niscaya akan selalu melakukan hal
yang tidak benar, hanya saja kita tetap bersyukur karena hati nurani kita tidak
bosan-bosannya menyertai dan membimbing kita sepanjang hidup kita. Setelah raga
ini terpisah dari jiwa kita maka barulah Fu Yuanshen blerpisah dengan Zhu
Yuanshen untuk menjalani kehidupan masing-masing. Mungkin Fu Yuanshen masuk
surga, sedang Zhu yuanshen harus menjalani reinkarnasi dalam enam jalur
reinkarnasi, atau malah mengalami pemusnahan total di neraka yang tak berujung
pangkal tingkatannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar