Senin, 17 Maret 2014

HATI NURANI

Komunikasi intrapribadi atau Komunikasi intrapersonal

Tipe Komunikasi
Secara umum tipe-tipe komunikasi adalah: Komunikasi Intrapersona; Komunikasi Antarpersona; Komunikasi Publik; dan Komunikasi Massa
A. Komunikasi Intrapersona
Komunikasi yang dilakukan oleh individu terhadap dirinya sendiri, dimana dia menerima, mengolah. menyimpan dan menghasilkan kernbali informasi yang didapatnya.
Tahap-tahap komunikasi Intra Persona:
1.    Sensasi
Proses penangkapan stimuli atau rangsangan oleh panca indra manusia
2. Persepsi
Proses pemberian makna stimuli atau rangsangan yang didapat dan sensasi, persepsi dipengaruhi oleh kebutuhan, pengalaman masa lalu dan factor personal dari tiap individu.
3. Memori
Memori adalah proses menyimpan informasi dan memanggilnya kembali. Yaitu suatu sistem yang sangat berstruktur yang menyebabkan individu sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya.
Memori mencakup tiga proses: Perekaman (encoding); Pencatatan Informasi; Penyimpanan (storage); menentukan berapa lama informasi tersebut ada di dalam diri kita, dalam bentuk apa dan dimana. Penyimpanan ini bisa bersifat aktif maupun pasif; pemanggilan kembali (retrieval) penggunaan informasi yg disimpan. Dalam tahap ini terdapat 4 tahap: pengingatan (recall); pengenalan (recognition); belajar kembali (relearning); redintegrasi (redintegration); merekontruksi masa lalu melalui satu petunjuk kecil.
4. Berfikir
Berpikir merupakan aktivitas psikis yang intensional, dan terjadi apabila seseorang menjumpai problema (masalah) yang harus dipecahkan. Dengan demikian bahwa dalam berpikir itu seseorang menghubungkan pengertian satu dengan pengertian lainnya dalam rangka mendapatkan pemecahan persoalan yang dihadapi. Dengan mana, pengertian-pengertian itu merupakan bahan atau materi yang digunakan dalam proses berpikir. Dalam pemecahan persoalan individu membeda-bedakan, mempersatukan dan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan: mengapa, untuk apa, bagaimana, di mana dan lain sebagainya.
Berpikir juga berarti memahami realita dalam rangka rnengambil keputusan (decision making), memecahkan persoalan (problem solving), dan menghasilkan sesuatu yang baru (creativity).
Salah satu yang mempengaruhi penafsiran kita terhadap suatu stimuli adalah berfikir, dimana didalamnya juga terdapat proses sensasi, persepsi, dan memori. Proses berfikir itu melibatkan penggunaan lambang-lambang, visual dan grafis.
Orang berpikir itu untuk: memahami realita atau kenyataan yang ada dalam rangka pengambilan keputusan (decision making), pemecahan masalah (problem solving), dan untuk menghasilkan sesuatu yang baru (creativity); memahami realita berarti menarik kesimpulan, meneliti berhagai kemungkinan penjelasan dan realitas secara eksternal dan internal.
Tiga macam berpikir:
1. Berpikir Deduktif yaitu mengambil kesimpulan dari dua pernyataan. Misalnya: jika A benar, dan B benar, maka akan terjadi C. Contohnya: semua mahkluk pasti akan mati, anjing adalah makhluk, maka semua anjing pasti akan mati
2. Berpikir Induktif yaitu dimulai dengan yang khusus, ambil kesimpulan umum lalu digeneralisasikan. Misalkan: pejabat A melakukan korupsi, pejabat B juga terlibat korupsi, pejabat C di propinsi X pun tersandung korupsi, jadi kesimpulannya semua pejabat korupsi. Apakàh demikian?
3. Berpikir Evaluatif yaitu berpikir kritis, menilai baik buruknya sesuatu, tepat tidaknya suatu hal.
2. Komunikasi Antarpersona
Pada komunikasi antar-persona terdapat pengaruh konsep diri pada perilaku manusia. Maksudnya adalah bagaimana anda memandang diri anda dan bagaimana orang lain memandang diri anda. Kesemuanya ini akan dipengaruhi pola interaksi anda dengan orang lain. Istilah komunikasi antarpersona disebut juga komunikasi sosial karena merujuk pada komunikasi yang dilakukan antar manusia atau antar individu atau terkait erat dengan hubungan antar manusia.
Komunikasi antapersona menggunakan: Bahasa baik secara lisan maupun tertulis; Isyarat -isyarat tubuh yang keluar pada waktu berkomunikasi; Tanda-tanda atau signal seperti bendera, sandi morse, lampu, dll; Gambar-gambar seperti grafik, peta, skema dll;
Definisi:
“Intra-persona communication as the sending of message by one person and receiving of message by another person, of small group of persons with some effect and some immediate feedback”; Komunikasi antarpersona melibatkan paling sedikit dua orang dalam pelaksanaannya. Maka komunikasi antarpersona juga disebut komunikasi diadik.
Perlu diingatkan dan ditekankan bahwa komunikasi intrapersona adalah dasar dari komunikasi antarpersona, karena tidak mungkin seseorang berbicara dengan orang lain tanpa dia terlebih dahu!u mengetahui dan mempertanyakan pada diri sendiri apa sebetulnya yang akan disampaikan kepada orang lain.
Kontek dari komunikasi: konteks fisik; konteks sosial; konteks psikologis; konteks waktu;

konteks budaya (tambahan).
Keefektifan dari komunikasi antarpersona terjadi apabila tujuan untuk mengubah pendapat, sikap dan tingkah laku komunikan dapat tercapai.
Hal-hal yang dapat membantu menciptakan komunikasi antar persona yang efektif: Terimalah orang lain sebagaimana adanya, meskipun anda suka atau tidak. Dengan pertimbangan bahwa anda tidak dapat merubah nilai, tujuan, pendapat, dan perasaannya pada saat itu juga; Harapkan dan undang orang lain untuk mengekspresikan perasaannya, tujuannya, nilai-nilainya, keraguannya dll; Ekspresikan reaksi anda sendiri dalam sikap dan tingkah laku; Jaga hubungan perasaan anda masing-masing dan buatlah komunikasi itu hanya berdasarkan atas rasa berkawan dan keramahan; Jangan menilai secara kritis (jangan mengkritik) pandangan orang lain yang berbeda dan bertentangan dengan pandangan anda; Pandanglah secara keseluruhan sebagai suatu proses bersama untuk mencapai tingkat kebijaksanaan yang lebih tinggi dan mandiri.
De Vito juga mengemukakan bahwa ada lima karakteristik untuk komunikasi antarpersona yang efektif: 1. Keterbukaan (Openess); 2. Empati (Emphaty); 3. Dukungan (Supportiveness); 4. Rasa Positif (Positiveness); 5. Kesamaan (Equality)
Makin tertarik kita kepada seseorang maka makin besar kecenderungan kita berkomunikasi dengan orang tersebut.
Faktor situasional yang mempengaruhi interaksi antarpersona yakni daya tarik fisik (physical attractiveness); ganjaran/penghargaan (reward); tidak asing (familiarity); kedekatan (proximity); kemampuan (competence)
3. Komunikasi Publik
Komunikasi publik biasa disebut komunikasi pidato, komunikasi kolektif, komunikasi retorika, public speaking dan komunikasi khalayak (audience communication). Apa pun namanya, komunikasi publik menunjukkan suatu proses komunikasi di mana pesan-pesan disampaikan oleh pembicara dalam situasi tatap muka di depan khalayak yang lebih besar.
Komunikasi publik memiliki ciri komunikasi interpersonal (pribadi), karena berlangsung secara tatap muka, tetapi terdapat beberapa perbedaan yang cukup mendasar sehingga memiliki ciri masing-masing.
Dalam komunikasi publik penyampaian pesan berlangsung secara kontinu. Dapat diidentifikasi siapa yang berbicara (sumber) dan siapa pendengarnya. Interaksi antara sumber dan penerima sangat terbatas, sehingga tanggapan balik juga terbatas. Hal ini disebabkan karena waktu yang digunakan sangat terbatas, dan jumlah khalayak relatif besar. Sumber seringkali tidak dapat mengidentifikasi satu-per satu pendengarnya.
Ciri lain yang dimiliki komunikasi publik bahwa pesan yang disampaikan itu tidak berlangsung secara spontanitas, tetapi terencana dan dipersiapkan lebih awal. Tipe komunikasi publik biasanya ditemui dalam berbagai aktivitas seperti kuliah umum, khotbah, rapat akbar, pengarahan, ceramah, dan semacamnya.
Ada kalangan tertentu menilai bahwa komunikasi publik bisa digolongkan komunikasi massa bila dilihat pesannya yang terbuka. Tetapi terdapat beberapa kasus tertentu di mana pesan yang disampaikan itu terbatas pada segmen khalayak tertentu, misalnya pengarahan, sentiaji, diskusi panel, seminar, dan rapat anggota. Karena itu komunikasi publik bisa juga disebut komunikasi kelompok bila dilihat dan segi tempat dan situasi.
4. Komunikasi Massa
Terdapat berbagai macam pendapat tentang pengertian komunikasi massa. Ada yang menilai dan segmen khalayaknya, dan segi medianya dan ada pula dan sifat pesannya.. Komunikasi massa dapat didefinisikan sebagai proses komunikasi yang berlangsung di mana pesannya dikirim dan sumber yang melembaga kepada khalayak yang sifatnya missal melalui alat-alat yang bersifat mekanis seperti radio, televisi, surat kabar dan film.
Dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi sebelumnya, maka komunikasi massa memiliki ciri tersendiri. Sifat pesannya terbuka dengan khalayak yang variatif, baik dan segi usia, agama, suku, pekerjaan maupun dan segi kebutuhan.
Ciri lain yang dimiliki komunikasi massa, ialah sumber dan penerima dihubungkan oleh saluran yang telah diproses secara mekanik. Sumber juga merupakan suatu lembaga atau institusi yang terdiri dan banyak orang, misalnya reporter, penyiar, editor, teknisi dan sebagainya. Karena itu proses penyampaian pesannya lebih formal, terencana dan lebih rumit.
Pesan komunikasi massa berlangsung satu arah dan tanggapan baliknya lambat (tertunda) dan sangat terbatas. Tetapi dengan perkembangan teknologi komunikasi yang begitu cepat, khususnya media massa elektronik seperti radio dan televisi maka umpan balik dan khalayak bisa dilakukan dengan cepat kepada penyiar.
Selain dan itu, sifat penyebaran pesan melalui media massa berlangsung begitu cepat, serempak dan luas. Ia mampu mengatasi jarak dan waktu, serta tahan lama bila didokumentasikan. Dari segi ekonomi, biaya produksi komunikasi massa cukup mahal dan memerlukan dukungan tenaga kerja relatif banyak untuk mengelolanya.
Jenis komunikasi yang ditujukan pada sejumlah khalayak yang tersebar heterogen, dan anonim melalui media massa (cetak maupun elektronik) sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.
Komunikasi massa komunikatornya lebih banyak, terorganisasikan dan terlembagakan. Ditujukan pada orang banyak yang bersifat anonim dan heterogen.
Karakteristik komunikasi massa menurut Charles Wright. Komunikasi massa itu ditujukan kepada audience yang relatif besar atau luas, bersifat heterogen, dan anonim. Kegiatannya dilakukan secara cepat datam waktu tertentu; Pesan-pesan disiarkan secara umum (publicity), sering ditentukan waktunya untuk mencapai sebagian besar audiensnya secara simultan/ serempak; Komunikatornya dikerjakan oleh suatu bentuk organisasi yang nienggunakan pembiayaan sangat besar.
Pesan-pesan dalam komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan melalui media massa, bersifat masalitas, dan ditujukan kepada audiens yang luas. Penyampaian pesan bersifat umum, disampaikan secara cepat, dan terbuka untuk semua orang.
Media massa modern mempunyai peranan penting sebagai sarana penerangan, pendidikan, dan sarana hiburan. Bahkan juga dipandang sebagai sarana perubahan dan pembaharuan pada masyarakat.
KOMUNIKASI INTRAPERSONAL
Komunikasi intrapersonal adalah proses pengolahan informasi. Proses ini melewati empat tahap; sensasi, persepsi, memori, dan berpikir. Proses pertama dari komunikasi intrapersonal terjadi pada saat sensasi terjadi. Sensasi, yang berasal dari kata sense, berarti kemampuan yang dimiliki manusia untuk mencerap segala hal yang diinformasikan oleh pancaindera. Informasi yang dicerap oleh pancaindera disebut stimuli yang kemudian melahirkan proses sensasi. Dengan demikian sensasi adalah proses menangkap stimuli.
Kapasitas indrawi yang dimiliki setiap orang berbeda-beda yang, karenanya, memungkinkan terjadinya perbedaan sensasi. Namun secara umum ada ambang batas tertentu yang didalamnya pancaindera manusia dapat menyerap informasi. Mata hanya dapat menyerap gelombang cahaya antara 380 sampai 780 nanometer. Telinga hanya mampu menerima getaran suara dalam frekuensi antara 20 hertz sampai 20 kilohertz. Tubuh manusia hanya sanggup bertahan dengan normal pada suhu udara antara 10 derajat celcius sampai 45 derajat celcius. Rangsangan dari luar ini yang dicerap sensasi disebut sebagai stimuli eksternal yang merupakan faktor situasional yang berpengaruh pada sensasi. Disamping itu juga terdapat faktor internal yang dapat pula memengaruhi sensasi yaitu faktor personal. Dalam hal ini, faktor personal adalah pengalaman, lingkungan budaya, dan kapasitas indrawi masing-masing individu yang berbeda.
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Secara sederhana persepsi adalah memberikan makna pada hasil cerapan panca indera. Selain dipengaruhi oleh sensasi yang merupakan hasil cerapan panca indera, persepsi dipengaruhi juga oleh perhatian (attention), harapan (expectation), motivasi dan ingatan. Secara umum tiga hal yang disebut pertama terbagi menjadi dua faktor personal dan faktor situasional. Penarik perhatian yang bersifat situasional merupakan penarik perhatian yang ada di luar diri seseorang (eksternal), seperti intensitas stimuli, kebaruan, dan perulangan. Secara internal, ada yang dinamakan perhatian selektif (selective attention) yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya faktor biologis, sosiopsikologis, dan sosiogenis. Penyimpanan informasi yang dihasilkan dan pemanggilan kembali (recalling) dilakukan dalam memori.
Dalam melakukan fungsinya memori melakukan tiga hal: perekaman (encoding), penyimpanan (storage) dan pemanggilan (retrieval). Tahap pertama adalah pencatatan informasi melalui reseptor indera dan saraf internal. Tahap kedua terbagi terbagi menjadi dua: penyimpanan aktif (dengan memberi informasi pada apa yang telah kita terima) dan penyimpanan aktif. Tahap terakhir terjadi ketika kita membutuhkan ingatan yang telah tersimpan dengan mengingat kembali hal itu.
Dari tiga tahap memori, hanya tahap terakhir yang dapat diketahui dan, karenanya, dapat diklasifikasi. Pada tahap terakhir ini memori terbagi menjadi empat jenis. Pertama, pengingatan (recall) yaitu proses menghasilkan kembali fakta dan informasi secara apa adanya, seperti ketika seseorang ditanya, ”Apa saja jenis ikan laut yang termasuk mamalia”. Kedua, pengenalan (recognition) adalah mengenal kembali sebagian informasi yang sebagiannya telah dikenal, seperti pertanyaan yang disajikan dalam bentuk pilihan ganda (multiple choice). Ketiga, pembelajaran ulang (relearning) adalah mempelajari kembali sesuatu yang pernah dipelajari. Seseorang yang pernah mempernah mempelajari suatu hal dan kemudian mempelajarinya kembali dua puluh lima persen lebih cepat menghafal. Keempat, redintegrasi (redintegration) adalah rekonstrusi masa lalu dari satu petunjuk memori kecil, seperti kenangan yang muncul saat anda melewati satu tempat yang biasa dilewati teman anda.

Komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan. Komunikasi intrapersonal dapat menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lainnya. Pengetahuan mengenai diri pribadi melalui proses-proses psikologis seperti persepsi dan kesadaran (awareness) terjadi saat berlangsungnya komunikasi intrapribadi oleh komunikator. Untuk memahami apa yang terjadi ketika orang saling berkomunikasi, maka seseorang perlu untuk mengenal diri mereka sendiri dan orang lain. Karena pemahaman ini diperoleh melalui proses persepsi. Maka pada dasarnya letak persepsi adalah pada orang yang mempersepsikan, bukan pada suatu ungkapan ataupun obyek.
Aktivitas dari komunikasi intrapribadi yang kita lakukan sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi diantaranya adalah; berdo'a, bersyukur, instrospeksi diri dengan meninjau perbuatan kita dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas, dan berimajinasi secara kreatif.
Pemahaman diri pribadi ini berkembang sejalan dengan perubahan perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Kita tidak terlahir dengan pemahaman akan siapa diri kita, tetapi perilaku kita selama ini memainkan peranan penting bagaimana kita membangun pemahaman diri pribadi ini
Kesadaran pribadi (self awareness) memiliki beberapa elemen yang mengacu pada identitas spesifik dari individu. Elemen dari kesadaran diri adalah konsep diri, proses menghargai diri sendiri (self esteem), dan identitas diri kita yang berbeda beda (multiple selves).
Konsep Diri
Konsep diri adalah bagaimana kita memandang diri kita sendiri, biasanya hal ini kita lakukan dengan penggolongan karakteristik sifat pribadi, karakteristik sifat sosial, dan peran sosial.
Karakteristik pribadi adalah sifat-sifat yang kita miliki, paling tidak dalam persepsi kita mengenai diri kita sendiri. Karakteristik ini dapat bersifat fisik (laki-laiki, perempuan, tinggi, rendah, cantik, tampan, gemuk, dsb) atau dapat juga mengacu pada kemampuan tertentu (pandai, pendiam, cakap, dungu, terpelajar, dsb.) konsep diri sangat erat kaitannya dengan pengetahuan. Apabila pengetahuan seseorang itu baik/tinggi maka, konsep diri seseorang itu baik pula. Sebaliknya apabila pengetahuan seseorang itu rendah maka, konsep diri seseorang itu tidak baik pula.
Karakteristik Sosial
Karakteristik sosial adalah sifat-sifat yang kita tamplikan dalam hubungan kita dengan orang lain (ramah atau ketus, ekstrovert atau introvert, banyak bicara atau pendiam, penuh perhatian atau tidak pedulian, dsb). Hal hal ini memengaruhi peran sosial kita, yaitu segala sesuatu yang mencakup hubungan dengan orang lain dan dalam masyarakat tertentu
Peran Sosial
Ketika peran sosial merupakan bagian dari konsep diri, maka kita mendefinisikan hubungan sosial kita dengan orang lain, seperti: ayah, istri, atau guru. Peran sosial ini juga dapat terkait dengan budaya, etnik, atau agama. Meskipun pembahasan kita mengenai 'diri' sejauh ini mengacu pada diri sebagai identitas tunggal, namun sebenarnya masing-masing dari kita memiliki berbagai identitas diri yang berbeda (mutiple selves).
Identitas Diri Yang Berbeda
Identitas berbeda atau multiple selves adalah seseorang kala ia melakukan berbagai aktivitas, kepentingan, dan hubungan sosial. Ketika kita terlibat dalam komunikasi antarpribadi, kita memiliki dua diri dalam konsep diri kita.
  • Pertama persepsi mengenai diri kita, dan persepsi kita tentang persepsi orang lain terhadap kita (meta persepsi).
  • Identitas berbeda juga bisa dilihat kala kita memandang 'diri ideal' kita, yaitu saat bagian kala konsep diri memperlihatkan siapa diri kita 'sebenarnya' dan bagian lain memperlihatkan kita ingin 'menjadi apa' (idealisasi diri)
  • Contohnya saat orang gemuk berusaha untuk menjadi langsing untuk mencapai gambaran tentang dirinya yang ia idealkan.
Proses Pengembangan Kesadaran Diri
Proses pengembangan kesadaran diri ini diperoleh melalui tiga cara, yaitu;
  • Cermin diri (reflective self) terjadi saat kita menjadi subyek dan obyek diwaktu yang bersamaan, sebagai contoh orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi biasanya lebih mandiri.
  • Pribadi sosial (social self) adalah saat kita menggunakan orang lain sebagai kriteria untuk menilai konsep diri kita, hal ini terjadi saat kita berinteraksi. Dalam interaksi, reakasi orang lain merupakan informasi mengenai diri kita, dan kemudian kita menggunakan informasi tersebut untuk menyimpulkan, mengartikan, dan mengevaluasi konsep diri kita. Menurut pakar psikologi Jane Piaglet, konstruksi pribadi sosial terjadi saat seseorang beraktivitas pada lingkungannya dan menyadari apa yang bisa dan apa yang tidak bisa ia lakukan
Contoh: Seseorang yang optimis tidak melihat kekalahan sebagai salahnya, bila ia mengalami kekalahan, ia akan berpikir bahwa ia mengalami nasib sial saja saat itu, atau kekalahan itu adalah kesalahan orang lain. Sementara seseorang yang pesimis akan melihat sebuah kekalahan itu sebagai salahnya, menyalahkan diri sendiri dalam waktu yang lama dan akan memengaruhi apapun yang mereka lakukan selanjutnya, karena itulah seseorang yang pesimis akan menyerah lebih mudah.
  • Perwujudan diri (becoming self). Dalam perwujudan diri (becoming self) perubahan konsep diri tidak terjadi secara mendadak atau drastis, melainkan terjadi tahap demi tahap melalui aktivitas serhari hari kita. Walaupun hidup kita senantiasa mengalami perubahan, tetapi begitu konsep diri kita terbentuk, teori akan siapa kita akan menjadi lebih stabil dan sulit untuk diubah secara drastis.
Contoh, bila kita mencoba mengubah pendapat orang tua kita dengan memberi tahu bahwa penilaian mereka itu harus diubah, biasanya ini merupakan usaha yang sulit. Pendapat pribadi kita akan 'siapa saya' tumbuh menjadi lebih kuat dan lebih sulit untuk diubah sejalan dengan waktu dengan anggapan bertambahnya umur maka bertambah bijak pula kita. Konsep diri adalah bagaimana kita memandang diri kita sendiri, biasanya hal ini kita lakukan dengan penggolongan karakteristik sifat pribadi, karakteristik sifat sosial, dan peran sosial.



Hati Nurani (Suara Hati, Conscience)

A. Apa itu Kebebasan?
Akhirnya saya harus membayar Rp. 25.500,- untuk satu porsi makanan yang saya pesan. Untuk itu, saya berikan uang Rp. 50.000,- Waktu saya menghitung-hitung kembalinya, ternyata pelayan rumah makan tadi mengembalikan Rp. 30.500,- Sejenak saya senang: sudah makan enak malah masih diberi uang! Tapi segera hati saya menegur: ‘kau harus segera mengembalikan uang kelebihan itu karena kau tidak berhak atasnya. Kalau tidak, pelayan itu yang harus membayar kekurangan kasnya pada bosnya’. Saya menjadi sadar bahwa secara moral saya wajib mengembalikan kelebihan itu. Tetapi sekaligus saya juga menyadari bahwa saya juga bisa untuk tidak mengembalikan uang tersebut. Saya bisa untuk tidak menghiraukan teguran suara hati saya. Saya bebas untuk menaati suara hati saya atau tidak. Dengan kebebasan itu saya menyadari bahwa saya, dan hanya saya yang bertanggungjawab atas perbuatan saya.
Hanya karena saya memiliki kebebasan maka saya dapat dibebani kewajiban moral. Sedangkan binatang tidak mengenal kebebasan. Segala sesuatu yang dilakukan ditentukan oleh insting dan kecenderungan alamiah lainnya. Maka apa yang akan dilakukan bisa kita ramalkan sebelumnya. Berbeda dengan manusia, sebagai makhluk yang berakal budi, manusia mempunyai pengertian. Pengertian itu berarti bahwa ia memahami alternatif-alternatif untuk bertindak. Itulah sebabnya ia bebas. Ia dapat memilih berbuat ini atau itu. Dan karena ia bebas, ia dapat dibebani kewajiban. Begitulah Tuhan menganugerahkan kebebasan kepada kita. Kita diberi otonomi untuk bertindak. Sama seperti seorang ibu yang membantu anaknya berjalan. Bila ibu itu adalah ibu yang baik maka kadang-kadang juga akan membiarkan anaknya jatuh agar ia belajar bangkit dan kemudian mampu berjalan sendiri. Tuhan juga demikian, karena ia ingin manusia berkembang.
Ada dua arti kebebasan, yaitu:

Kebebasan eksistensial
Kebebasan yang diberikan Tuhan sejak kita lahir, untuk menentukan tindakan kita sendiri

Dengan kebebasan ini manusia bisa menentukan apa yang ingin dia lakukan. Tetapi secara kodrat ia tetap terbatas. Seandainya kita menggerakkan tangan kita ke atas dan ke bawah menyerupai burung dengan kecepatan tinggi kita tetap tidak bisa terbang. Hal ini bukan berarti kita dibatasi tetapi sebagai wujud khas manusia yang bukan seperti burung. Yang bisa kita anggap pengekangan terhadap kebebasan kita bila karena paksaan orang lain kita tidak mampu menggerakkan seluruh bagian tubuh kita, atau bila pengekangan itu dilakukan bukan hanya secara fisik tetapi juga mental atau rohani. Seperti seorang tawanan yang mengalami siksaan fisik dan bentakan keras, ia bisa mengalami ketakutan yang luar biasa yang membatasi kebebasannya. Oleh karena itu orang ini membutuhkan kebebasan sosial

Kebebasan Sosial
Kebebasan yang diberikan orang lain kepada kita


Hal ini menunjukkan bahwa kebebasan itu kita hayati juga dalam hubungan kita dengan orang lain. Misalnya saja bila kita setiap hari main bola di tanah lapang di dekat rumah kita, tetapi pada suatu hari kita melihat di tanah itu terpasang pengumuman “Tanah ini milik….!!! Yang tidak berkepentingan dilarang memasukinya…!!!.” Mendadak kita sadar bahwa kebebasan kita main bola dibatasi oleh pemilik tanah tersebut. Tetapi juga kita sadar bahwa kita perlu juga menghormati pemilik tanah tersebut. Demikian juga, kita sebagai mahasiswa diberi banyak kebebasan oleh kampus entah memilihkuliah atau tidak, memakai sepatu dengan warna bebas, belajar mengorganisasi sebuah kegiatan dll. Tetapi kebebasan sosial itu kita hayati dalam hubungan kita juga dengan orang lain. Kita bebas tetapi bertanggungjawab dengan apa yang kita lakukan agar jangan sampai merugikan orang lain.
Kebebasan yang diberikan kepada kita seringkali justru memberi keleluasaan kita untuk melakukan segala sesuatu sesuka kita dan bahkan lebih cenderung ke arah yang buruk daripada yang baik. Inilah gambaran dinamika hidup manusia yang justru karena kebebasan yang diberikan padanya mengarahkannya pada DOSA. Seperti dalam Kisah Manusia jatuh ke dalam dosa (Kej.3:1-24).

B. Suara Hati
Setiap manusia dalam hatinya memiliki suatu kesadaran tentang apa yang menjadi tanggungjawab dan kewajibannya. Tetapi kesadaran itu tidak selalu kita perhatikan. Namun dalam situasi yang konkret suara hati akan selalu menyatakan diri sebagai kesadaran tentang apa yang menjadi kewajibannya berhadapan dengan masalah konkret yang dihadapinya. Suara hati atau Hati Nurani seringkali juga disebut sebagai keputusan suara hati, atau dalam bahasa latin disebut Judicium Consientiae.

1. Pengertian Suara Hati

a. Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes no. 16
Suara hati adalah inti manusia yang paling rahasia di mana manusia seorang diri mendengar sapaan Allah di dalam batinnya (Sanggar Suci Allah)

b. Katekismus Gereja Katolik no. 1778
Suara hati adalah keputusan akal budi dimana manusia mengerti apakah suatu perbuatan konkret yang dia rencanakan, sedang dilaksanakan atau sudah dilaksanakan bersifat baik atau buruk secara moral

c. Buku Iman Katolik
Suara hati adalah kemampuan manusia untuk menyadari tugas moral dan untuk mengambil keputusan moral

d. Dr. Franz Magnis Suseno
Suara hati adalah kesadaran dalam batin manusia bahwa manusia berkewajiban mutlak untuk melakukan hal-hal yang benar sesuai dengan tanggungjawabnya dalam situasi yang konkret.

Dari berbagai pengertian di atas kita dapat menyimpulkan bahwa suara hati bisa diartikan secara luas dan secara sempit. Arti luas: hati nurani berarti kesadaran moral yang tumbuh dan berkembang dalam hati manusia. Keinsafan akan adanya kewajiban. Arti sempit: hati nurani merupakan penerapan kesadaran moral di atas dalam situasi konkret. Suara hati yang menilai suatu tindakan manusia benar atau salah, baik atau buruk. Hati nurani tampil sebagai hakim yang baik dan jujur.

2. Cara Kerja Suara Hati
a. Dalam hati manusia, sebelum bertindak atau berbuat sesuatu, ia sudah mempunyai kesadaran atau pengetahuan umum bahwa ada yang baik dan ada yang buruk. Setiap orang memiliki kesadaran moral tersebut, walaupun kadar kesadarannya berbeda-beda.
b. Pada saat suatu tindakan itu dilakukan, suara hati akan mengatakan perbuatan itu baik atau buruk. Jika perbuatan itu baik, kata hati akan mendorong supaya perbuatan itu dilakukan. Dan jika perbuatan itu buruk, kata hati akan melarang perbuatan untuk dilakukan. Dan akan terus bekerja dengangan mendorong perbuatan baik dan melarang perbuatan buruk.
c. Sesudah suatu tindakan atau perbuatan, maka kata hati muncul sebagai hakim yang memberi vonis. Untuk perbutan yang baik, kata hati akan memberi tanda lewat perasaan positif dengan pujian yang membuat orang merasa senang, bangga, tenang, dan sebagainya. Namun jika perbuatan itu buruk maka ia akan memberi tanda lewat perasaan yang muncul, karena suara hati mencela perbuatan tersebut sehingga orang merasa gelisah, malu, menyesal, putus asa, dan sebagainya.

Demikianlah kata hati muncul sebagai indeks (petunjuk), kemudian sebagai iudex (hakim) dan sekaligus vindex (penghukum).

3. Fungsi Hati Nurani
Suara hati berfungsi sebagai: Pegangan, pedoman atau norma untuk menilai suatu tindakan apakah tindakan itu baik atau buruk; Pegangan atau peraturan-peraturan konkret di dalam kehidupan sehari-hari; Menyadarkan manusia akan nilai dan harga dirinya.

4. Suara Hati Keliru
Suara hati kita bisa juga menjadi suara hati yang keliru karena hal-hal di bawah ini:

a. Ketidaktahuan
Seseorang melakukan tindakan tanpa didasari oleh kesadaran apakah yang ia lakukan benar atau salah karena ia tidak mengetahui apakah perbuatan itu benar atau salah.
Contoh:
Seorang anak yang sejak kecil hidup dalam lingkungan pencuri. Ia tidak akan mengerti bahwa mencuri itu salah, baik atau buruk, maka ia tetap melakukan tindakan mencuri.

b. Kebiasaan
Contoh:
Deni hari ini tidak belajar untuk ulangan Matematika yang akan dilaksanakan hari ini. Ia kemudian mencari cara agar ia tetap mendapatkan nilai baik, akhirnya ia menyontek. Suara hati yang memberinya kesadaran tidak dihiraukannya Karena tidak ketahuan maka ia mengulang perbuatan itu berulangkali, sampai menjadi suatu kebiasaan, sehingga ia tidak lagi peka apakah perbuatan itu benar atau salah.

c. Ideologi
Contoh:
Seseorang menganut paham komunisme. Maka ia sangat yakin dengan kehidupan bersama, yang semua harus sama dan rata, dan ia tidak mempercayai bahwa Tuhan itu ada. Oleh karenanya keputusannya akan didasarkan pada paham/ideology yang diyakinminya benar, meskipun secara obyektif tidak bisa dibenarkan.

d. Pengalaman Masa Lalu
Contoh:
Seorang anak yang sejak kecil dikatakan bodoh, maka ia akan selalu ragu-ragu ketika harus membuat keputusan. Semua yang ia lakukan akan didasarkan pada keraguan, karena ia mempunyai gambaran diri yang bodoh.

e. Rasionalisasi
Alasan yang selalu dibuat seolah-olah benar akan mengacaukan suara hati kita sampai kita sulit untuk membuat keputusan karena segala yang baik dan benar yang harus kita lakukan dibutakan oleh rasionalisasi yang kita buat.

Pedoman yang dapat dipegang

Suara Hati Benar, jika kata hati kita sesuai dengan norma obyektif
Suara Hati Keliru, jika kata hati kita tidak sesuai dengan norma obyektif

Hati nurani yang pasti, artinya, secara moral dapat dipastikan bahwa hati nurani tidak keliru. Hati nurani yang bimbang, artinya masih ada keraguan

Hal-hal di bawah ini bisa menjadi pedoman :
Suara hati yang benar dan pasti, maka:
Perbuatan yang baik dapat dan harus dilakukan
Perbuatan yang buruk harus dielakkan

Suara hati yang pasti, tetapi keliru, maka:
Perbuatan yang baik dapat dan harus dilakukan
(Misalnya, seorang siswa merasa pasti bahwa hari Senin adalah hari puasa, maka ia harus berpuasa walaupun keliru)

Perbuatan buruk harus dielakkan
(Misalnya, seorang remaja merasa pasti bahwa mencium kekasihnya adalah dosa, maka ia harus mengelakkannya walaupun keliru)

Suara hati yang tidak pasti
Seseorang dapat memilih yang paling menguntungkan. Misalnya, hati nurani seseorang tidak merasa pasti apakah hari ini hari puasa atau tidak, maka ia boleh memilih yang menguntungkan dia

Jika menyangkut nyawa manusia, itu harus didahulukan. Misalnya, jika seseorang tidak merasa pasti bahwa suatu cara KB bersifat abortif atau tidak, maka ia harus menolak cara itu, sebab menyangkut nyawa manusia.

Arti dan Peranan Suara Hati dalam Kitab Suci

Membaca (Rm 7: 14-26), Santo Paulus mengatakan kepada kita bahwa dalam diri kita ada dua hukum, yaitu hukum Allah dan hukum dosa. Kedua hukum itu saling bertentangan. Hukum Allah menuju kebaikan sedangkan hukum dosa menuju kepada kejahatan. Santo Paulus menyadari bahwa selalu ada pergulatan antara yang baik dan yang jahat dalam hati manusia. Dalam mengambil keputusan, kita mempunyai pedoman bukan berasal dari luar diri kita, tetapi berasal dari dalam diri kita sendiri. Setiap orang mempunyai daya khusus, untuk mengenal yang baik dan buruk. Dalam situasi yang konkret kita disadarkan oleh suara hati kita untuk melakukan hal yang baik yang akan membahagiakan diri kita, dan jika tidak kita laksanakan maka kita akan kecewa dan menyesal.
Konsili Vatikan II dengan sangat indah mengungkapkan dalam dokumen Gaudiumet Spes artikel 16 demikian: “Di lubuk hati nuraninya, manusia menemukan hukum, ynag tidak diterimanya dari dirinya sendiri, melainkan harus ditaati. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan apa yang baik, dan menghindari apa yang jahat. Bilamana perlu, suara itu menggemakan dalam lubuk hatinya: jalankan ini, elakkan itu sebab dalam hatinya, manusia menemukan hukum yang ditulis oleh Allah. Martabatnya ialah mematuhi hukum itu dan menurut hukum itu pula ia akan diadili.”
Hati nurani adalah sanggar suci Allah. Pesan Allah menggema dalam hati kita. Berkat hati nurani dikenallah secara ajaib hokum yang dilaksanakan dalam cinta kasih terhadap Allah dan sesama. Atas kesetiaan kita terhadap hati nurani maka kita bersama semakin banyak orang mencari kebenaran dan mampu memecahkan persoalan moral yang timbul baik dalam hidup perorangan maupun dalam kehidupan masyarakat.




Ilustrasi 1
Moore adalah seorang dokter terkenal dan dihormati, melalui tangannya sudah tak terhitung nyawa yang diselamatkan. Dia tinggal disebuah kota tua di Prancis. 20 tahun yang lalu dia adalah seorang narapidana, kekasihnya mengkhianatinya dan lari ke pelukan lelaki lain.
Oleh karena emosi, dia melukai lelaki itu yang akhirnya menyeretnya ke penjara selama 3 tahun. Dari seorang mahasiswa di universitas ternama lalu menjadi seorang narapidana.
Setelah dia keluar dari penjara, kekasihnya telah menikah dengan orang lain. Statusnya sebagai bekas narapidana menyebabkannya ketika melamar pekerjaan menjadi bahan ejekan dan penghinaan. Dalam keadaan sakit hati, Moore memutuskan akan menjadi perampok.
Dia telah mengincar di bagian Selatan kota ada sebuah rumah yang akan menjadi sasarannya. Para orang dewasa di rumah tersebut semuanya pergi bekerja sampai malam baru pulang ke rumah. Di dalam rumah hanya ada seorang anak kecil buta yang tinggal sendirian.
Dia pergi ke rumah tersebut mencongkel pintu utama membawa sebuah pisau belati, masuk ke dalam rumah, sebuah suara lembut bertanya, “Siapa itu?” Moore sembarangan menjawab, “Saya adalah teman papamu, dia memberikan kunci rumah kepadaku.”
Anak kecil ini sangat gembira, tanpa curiga berkata, “Selamat datang, namaku Kay, tetapi papaku malam baru sampai ke rumah. Paman apakah engkau mau bermain sebentar dengan saya?” Dia memandang dengan  mata yang besar dan terang tetapi tidak melihat apapun, dengan wajah penuh harapan, di bawah tatapan memohon yang tulus, Moore lupa kepada tujuannya, langsung menyetujui.
Moore sangat terheran-heran saat Kay, anak yang berumur 8 tahun dan buta ini dapat bermain piano dengan lancar, lagu-lagu yang dimainkannya sangat indah dan gembira, walaupun bagi seorang anak normal harus melakukan upaya besar sampai ke tingkat seperti anak buta ini
Setelah selesai bermain piano anak ini melukis sebuah lukisan yanag dapat dirasakan di dalam dunia anak buta ini, seperti matahari, bunga, ayah-ibu, teman-teman, dunia anak buta ini rupanya tidak kosong, walaupun lukisannya kelihatannya sangat canggung, yang bulat dan persegi tidak dapat dibedakan, tetapi dia melukis dengan sangat serius dan tulus.
“Paman, apakah matahari seperti ini?” Moore tiba-tiba merasa sangat terharu, lalu dia melukis di telapak tangan anak ini beberapa bulatan, “Matahari bentuknya bulat dan terang, dan warnanya keemasan.”
“Paman, apa warna keemasan itu?”, dia mendongakkan wajahnya yang mungil bertanya. Moore terdiam sejenak, lalu membawanya ke tempat terik matahari, “Emas adalah sebuah warna yang sangat vitalitas, bisa membuat orang merasa hangat, sama seperti kita memakan roti yang bisa memberi kita kekuatan. “
Anak buta ini dengan gembira dengan tangannya meraba ke empat penjuru, “Paman, saya sudah merasakan, sangat hangat, dia pasti akan sama dengan warna senyuman paman.“
Moore dengan penuh sabar menjelaskan kepadanya berbagai warna dan bentuk barang, dia sengaja menggambarkan dengan hidup, sehingga anak yang penuh imajinatif ini mudah mengerti. Anak buta ini mendengar ceritanya dengan sangat serius, walaupun dia buta, tetapi rasa sentuh dan pendengaran anak ini lebih tajam dan kuat daripada anak normal, tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat.
Akhirnya, Moore teringat tujuan kedatangannya, tetapi Moore tidak mungkin lagi merampok. Hanya karena kecaman dan ejekan dari masyarakat dia akan melakukan kejahatan lagi, berdiri di hadapan Kay dia merasa sangat malu,  lalu dia menulis sebuah catatan untuk orang tua Kay.
“Tuan dan nyonya yang terhormat, maafkan saya mencongkel pintu rumah kalian. Kalian adalah orang tua yang hebat, dapat mendidik anak yang demikian baik.  Walaupun matanya buta, tetapi hatinya sangat terang. Dia mengajarkan kepada saya banyak hal, dan membuka pintu hati saya.”
Tiga tahun kemudian, Moore menyelesaikan kuliahnya di Universitas Kedokteran, dan memulai karirnya sebagai seorang dokter.
Enam tahun kemudian, dia dan rekan-rekannya mengoperasi mata Kay, sehingga Kay bisa melihat keindahan dunia ini. Kemudian Kay menjadi seorang pianis terkenal, yang mengadakan konser ke seluruh dunia. Setiap mengadakan konser, Moore akan berusaha menghadirinya, duduk di sebuah sudut yang tidak mencolok, mendengarkan musik indah menyirami jiwanya yang dimainkan oleh seorang pianis yang dulunya buta.
Ketika Moore mengalami kekecewaan terhadap dunia dan kehidupannya, semangat dan kehangatan Kay kecil yang buta ini yang memberikan kehangatan dan kepercayaan diri kepadanya. Kay kecil yang tinggal di dalam dunia yang gelap, sama sekali tidak pernah putus asa dan menyia-nyiakan hidupnya, dia membuat orang menyadari betapa besar vitalitas dalam hidup ini, vitalitas dan semangat ini menyentuh ke dasar hati Moore.
Cinta dan harapan akan dapat membuat seseorang kehilangan niat melakukan kejahatan. Sedikit harapan mungkin bisa menyembuhkan seorang yang putus asa, atau bahkan bisa mengubah nasib kehidupan seseorang atau kehidupan banyak orang. Seperti Moore yang telah membantu banyak orang, ketika mengalami putus asa maka bukalah pintu hatimu, maka cahaya harapan akan menyinari hatimu.

Ilustrasi 2
Ada 2 orang yang berteman baik, yang seorang disebut Rendah Hati dan yang seorang lagi disebut Serakah. Mereka berdua sepakat untuk bersama-sama naik ke surge. Mereka membawa bekal yang cukup untuk persediaan makanan mereka selama perjalanan menuju ke surga. Untuk mencerminkan semangat kasih tanpa pamrih, di dalam perjalanan mereka selalu mengalah satu sama lain. Karena hal tersebut menyebabkan waktu yang dipergunakan dalam perjalanan tertunda sangat banyak. Jika hal ini berlanjut terus bisa berbahaya. Oleh sebab itu, Serakah mulai berpikir tidak akan mengalah lagi. Jika engkau tidak mau saya akan menerimanya, akhirnya dia memakan habis semua makanan yang diberikan oleh Rendah hati.
Kemudian di perjalanan mereka timbul hal yang aneh. Setelah Serakah memakan makanan yang diberikan Rendah Hati, semakin dimakan nafsu makannya semakin besar, terus ingin makan. Akhirnya Rendah Hati karena kasihan kepada Serakah, walaupun dirinya tidak makan sampai lemas dia tetap memberikan makanannya kepada Serakah. Akhirnya yang satu orang karena kelaparan lemas tidak bisa berjalan lagi. Sedangkan yang satu lagi karena kekenyangan tidak dapat berjalan. Setelah malam hari akhirnya mereka sampai di depan pintu surga.
Di pintu surga mereka dihalangi oleh malaikat penjaga pintu dan tidak boleh masuk ke dalam surga.
Serakah bertanya, “Kenapa tidak mengizinkan kami masuk ke dalam?”
Malaikat berkata, “Karena engkau terlalu serakah, memakan habis semua makanan temanmu.”
Serakah berkata, “Tetapi, itu semua pemberian dari dia.”
Malaikat berkata, “Walaupun diberikan secara sukarela, tetapi engkau tidak boleh mengabaikan orang sehingga dia kelaparan sampai lemas tidak bisa berjalan. Etika ini saja engkau tidak mengerti. Lalu, apakah engkau pantas masuk ke surga?”.
Rendah Hati bertanya, “Lalu saya bagaimana?, demi supaya Serakah bisa makan dengan kenyang, saya memberikan semua makanan saya untuknya.”
Malaikat berkata, “Jika kemungkinan kesempatan Serakah masuk surga adalah 1 di antara sepuluh ribu, sedangkan kemungkinan kesempatan kamu adalah 1 di antara jutaan juga tidak mungkin.“  Rendah Hati tidak mengerti makna kata yang disebut malaikat dia terbengong di sana. Malaikat kemudian melanjutkan, “Membuat diri sendiri kelaparan seperti itu bukanlah sebuah kebajikan, engkau membuat surga ini bagaikan panggung sandiwara, dan menempatkan Tuhan sebagai penontonnya.”

Ilustrasi 3
Ada seorang pemuda yang buta sedang bermain piano. Seorang pelajar mendekatinya dan bertanya kepadanya, “Berapa usia Anda?” Si buta menjawab, “Saya berumur 15 tahun.” “Sejak kapan Anda menjadi buta?” “Sejak usia 3 tahun.”
“Kalau begitu Anda sudah buta selama 12 tahun, setiap hari dalam kegelapan, tidak dapat melihat bulan, matahari, gunung-gunung, tidak tahu kehidupan dalam masyarakat, tidak tahu penampilan keindahan dan keburukan wajah manusia, tidak melihat keindahan pemandangan alam, apakah tidak terlalu menyedihkan?”.
Pemuda buta ini dengan tersenyum menjawab, “Engkau hanya tahu orang buta itu buta, tetapi tidak tahu bahwa orang normal itu banyak yang buta. Walaupun mata saya tidak bisa melihat, tetapi keadaan tubuh saya normal saya dapat bergerak bebas. Mendengar suara saja saya sudah tahu siapa itu. Mendengar percakapan orang saya dapat mengetahui apakah dia orang baik atau orang jahat, saya dapat memperkirakan kondisi jalan untuk mengatur laju kecepatan, tanpa takut terjatuh,..
Seluruh pikiran dan jiwa saya dengan konsentrasi melakukan pekerjaan saya, dengan gigih meningkat maju, tanpa membuang-buang energi mengurus urusan yang konyol, lama kelamaan hal tersebut menjadi kebiasaan, sehingga saya tidak sedih lagi karena mata saya buta. 
Tetapi sekarang di masyarakat banyak yang matanya walaupun dapat melihat, tetapi dibutakan oleh hasrat. Terlalu banyak melihat hal-hal yang buruk, sehingga tidak bisa membedakan kebijaksanaan dan kebodohan, tidak bisa membedakan orang baik dan orang jahat, tidak mengetahui penyebab kekacauan maupun ketenangan, buku dan puisi yang terletak di depan mata tetapi pikiran melayang kemana-mana, sehingga tidak memahami esensinya.
Ada juga orang yang memutar balikkan fakta, berbuat jahat, tidak bisa bertobat sehingga akhirnya terperangkap di dalamnya. Apakah orang-orang tersebut tidak mempunyai mata? Apakah orang yang dengan mata terbuka sengaja berbuat kesalahan apakah mereka bukan orang buta?   Mereka sebenarnya dibandingkan dengan orang yang seperti saya yang secara fisiologis buta lebih tercela dan lebih menyedihkan!” Pelajar ini tidak bisa lagi mengucapkan sepatah katapun.
Cerita ini mengungkapkan filfasat hidup, bahwa kebutaan fisik ini tentu menyedihkan, tetapi buta secara psikologis lebih menyedihkan lagi. Kebutaan adalah kelemahan utama, tetapi dalam kebutaan ini jika kita dapat berkonsentrasi mempelajari sebuah keahlian yang akhirnya dapat mencapai hasil yang baik dan memahami wawasan dalam prinsip-prinsip kehidupan. Tetapi walaupun mata ini melek tetapi selalu melakukan pelanggaran, melakukan perbuatan menyimpang maka orang tersebut adalah  “orang yang buta mata hatinya”.  


Ilustrasi 4
Sejarah itu bagaikan cermin, dapat mengungkapkan banyak rincian peristiwa. Membaca sejarah membuat orang merasa seolah-olah melampaui ruang dan waktu, memutar video dari adegan masa lalu.
Ada banyak hal yang terjadi dalam sejarah, dan kita bisa belajar banyak dari mereka dengan membaca buku-buku sejarah. Salah satu contohnya Shiji (史記), sebuah maha karya yang ditulis sejarawan China, Shima Qian (109-91 SM). Saat membaca Shiji, saya menemukan satu pepatah kuno di dalamnya: “Integritas seseorang yang akan berbicara.”
Pepatah ini berasal dari biografi Jenderal Li dalam buku Shiji. Disitu tertulis, “Jenderal Li tidak pandai dalam berbicara. Namun saat kematiannya, semua orang merasa kehilangan dirinya, hal ini dikarenakan kesetiaan dan ketulusannya kepada orang lain. Artinya, integritas seseorang yang berbicara.”
Perkataan ini mengacu pada Li Guang, seorang jenderal terkenal era Dinasti Xihan. Jenderal Li bijaksana dan berani, dia membuat kontribusi besar dalam mempertahankan negara dari invansi musuh. Selain keahlian seni bela dirinya, dia juga dikenal peduli terhadap para prajuritnya.
Suatu hari ketika berbaris dalam cuaca dingin, Jenderal Li melihat seorang tentara dengan kaki terluka berjalan dengan susah payah. Dia turun dari kudanya dan meminta prajurit tersebut duduk di atas kudanya, seraya dengan lembut menghibur prajurit itu.
Semua prajurit yang menyaksikan peristiwa ini menjadi tersentuh. Ketika berhenti untuk istirahat, persediaan makanan prajurit tersebut telah menipis, mengetahui hal ini Jenderal Li memberikan makanannya untuk prajurit yang terluka tersebut dan tidur dengan perut kosong malam itu.
Ketulusan hati dan kepeduliannya telah meraih kepercayaan dari para prajuritnya. Meskipun Jenderal Li tidak berbicara tentang masalah ini, para prajuritnya telah tersentuh sehingga bertempur dengan gagah berani melawan musuh-musuh mereka. Ketika mendengar Jenderal Li telah meninggal, seluruh prajurit dan warga sipil menangisinya. Shima Qian mencatatnya dalam Shiji dan memuji Jenderal Li.

Ilustrasi 5:
Pamer diri merupakan kebiasaan buruk. Kebajikan seseorang akan diperhatikan oleh orang lain, meskipun mereka sendiri tidak membicarakannya. Ini adalah tingkatan alam spiritual. Saya pikir sebagai manusia bijak, kita juga harus tetap rendah hati dalam berasimilasi dengan prinsip Sejati-Baik-Sabar.
Adalah seorang pemuda yang baru mendapatkan pekerjaan untuk pertama kalinya. Ia belum tahu seluk-beluk dunia pekerjaan dan trik-trik yang dimainkan di dalamnya. Tak lama kemudian, ia pun terjerat pengaruh rekan-rekan kerjanya lalu menempuh jalan pintas untuk mendapatkan tambahan uang (gelap) dari pekerjaannya itu. Hal ini tentu merupakan suatu perbuatan yang sangat mempengaruhi perkembangan bisnis dalam perusahaan tersebut. Hingga pada akhrinya perbuatan tersebut diketahui oleh atasanya. Dan tidak heran kalau tindakannya  itu diketahui atasannya sehingga ia bersama dengan beberapa rekannya itu dikeluarkan dari pekerjaanya. Disadarinya bahwa pelanggaran itu memang bukan datang dari dirinya sendiri, tetapi karena pengaruh dari rekan sekerjanya. Itu bukanlah yang diinginkannya, tetapi semuanya telah terjadi.

Untuk Kita Renungkan
Menyimak sejumlah cerita di atas, ada satu hal yang bisa kita petik sebagai salah satu pegangan dalam hidup kita yang pada dasarnya dapat menyadarkan  fungsi suara hati itu sendiri.  Di dalam hidup ini kita seringkali tidak bisa memilah, mana masalah yang harus diprioritaskan dan mana yang boleh diurus belakangan. Apalagi jika hubungan tersebut menyangkut masalah pribadi dengan kebenaran. Dalam kehidupan umat manusia dewasa ini masih banyak kekacauan yang dapat menegaskan hal tersebut. Yang lebih dominan adalah perasaan tidak enak terhadap sesama atau teman kerja jika tidak bekerja sama dalam hal yang buruk. Inilah realitas kehidupan umat manusia pada zaman ini, di mana mereka telah salah menerapkan rasa solidaritas. Mereka menggunakan solidaritas sebagai salah satu sarana untuk menjatuhkan orang lain dan juga menghancurkan dirinya sendiri.
Kebutuhan kita tidak mungkin tercapai jika ada motivasi tidak baik di balik aktivitas kita. Manipulasi kebohongan dan pemuasan ego pribadi, semuanya adalah musuh utama kita. Motivasi yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan sama saja tidak ada arti. Sebab segala apa yang kita lakukan semuanya sangat bertentangan dengan  kehendak Allah. Hal inilah yang membawa kita jauh dari Tuhan dan hubungan kita dengan Tuhan semakin hari semakin tidak jelas, sebab hidup kita sudah dikuasai oleh keinginan yang tidak jelas. Dan Santo Yakobus dalam suratnya mengatakan “Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yak.4:2-3). 
Yang merupakan masalah besar di dalam hidup kita adalah bagaimana menentukan kebenaran menurut Allah. Apa patokannya?  Terus terang saja seringkali Kitab Suci tidak menerima suatu konsep baku atau jadi di dalam menjawab semua masalah hidup kita namun ada prinsip-prinsip dasar yang jelas dan kita harus mengolahnya di dalam hidup kita sehari-hari, supaya hidup kita selalu terarah kepada Tuhan.
Di situlah tempat Allah berbicara, manusia bertemu dengan Allahnya dan manusia bertemu dengan dirinya sendiri. Di situlah tempat hukum yang utama yaitu cintakasih. Suara hati adalah tempat hukum cintakasih. Ada yang mengatakan bahwa suara hati bisa keliru. Memang demikian namun yang keliru bukan ajarannya  melainkan cara mengungkapkannya atau pelaksanaan keputusannya. Ajakan suara hati itu selalu benar, yang keliru adalah langkah-langkahnya. Seorang manusia yang jelas bersalah, bisa menganggap dirinya benar dan berhasil meyakinkan banyak orang dengan pernyataanya yang dibuat logis namun tidak bisa lari dari tuntutan suara hatinya. Kemana pun ia pergi suara hati akan terus mengejarnya dengan perasaan bersalah seperti yang dialami oleh pemuda di atas tadi.
Di dalam lubuk hati seseorang suara  hati  selalu bekerja. Pada waktu tertentu ia memberi perintah untuk melakukan yang baik dan menghindarkan yang jahat. Ia juga menilai keputusan yang konkret, di mana ia menyetujui yang baik dan menolak yang jahat. Ia memberi kesaksian tentang kebenaran dalam hubungan dengan kebaikan tertinggi yaitu Allah, oleh siapa manusia ditarik, hukum-hukum siapa manusia terima. Kalau ia mendengarkan hati nuraninya, manusia yang bijaksana mendapat suara dari Allah yang berbicara di dalamnya dan tidak dipengaruhi oleh orang lain yang membawa kehancuran di dalam hidupnya.
Hati nurani adalah keputusan akal budi, di mana manusia mengerti apakah suatu perbuatan konkrit yang ia rencanakan, sedang dilaksanakan, atau sudah terlaksana, baik atau buruk secara moral. Dalam segala sesuatu yang  diperbuat, manusia berkewajiban untuk mengikuti dengan seksama apa yang ia tahu, bahwa itu benar dan tepat. Oleh keputusan hati nurani manusia mendengar dan mengenal penetapan hukum ialahi. Sebab manusia diciptakan untuk suatu persahabatan yang mendalam dan akrab dengan Tuhan dan menjadi sempurna seperti Dia sempurna. Hati kita merindukan hal itu. Seperti St. Agustinus pernah mengatakan “hati kami belum tenang sebelum beristirahat di dalam Engkau.”
Bagi manusia yang telah menemukan Tuhan sebagai dasar dan tujuan hidupnya, keputusan suara hati juga merupakan jawaban terhadap Allah. Di dalam imanlah, manusia bertemu dengan Tuhan. Maka bagi orang beriman keputusan suara hati berarti perwujudan iman, sebab sebagai hidup menjadi kenyataan kalau membuat sesuatu yang konkret, demikian juga iman menjadi dasar di dalam kehidupan kita umat Kristen. Jadi iman itu, hidup bukan pertama-tama dalam agama sebagai ungkapan iman yang implisit, melainkan dalam tindakan moral sebagai wujud hidup beriman. Di situ terjalinlah relasi manusia dengan Allah. Tidaklah cukup bagi manusia jika ia hanya berseru “Tuhan Tuhan”. Ia harus masih menjalankan kehendak Allah yang diakuinya dalam ketaatan kepada suara hati.
Dengan berpikir sebelum mengambil keputusan, setidaknya dapat menyadarkan kita akan fungsi suara hati, sebab dengan ini dapat membantu kita untuk bisa melihat mana yang membangun kehidupan kita dan mana yang menghancurkan diri kita sendiri dan juga orang lain. Berpikir sebelum mengambil keputusan sangat membantu kita dalam suatu tugas yang kita jalani. Memang di sini juga membutuhkan rahmat Tuhan sendiri, sebab tanpa rahmat Tuhan segala sesuatu yang kita lakukan tidak selalu berjalan dengan mulus. Akan tetapi, jika kita mohon rahmat Tuhan, Tuhan pasti membantu kita asalkan hal tersebut dapat membangun kehidupan kita untuk menuju persatuan dengan Dia yang kudus.  
Kasih Tuhan begitu besar di dalam kehidupan kita umat manusia, sehingga Ia merelakan diri mati di kayu salib, supaya umat manusia memperoleh keselamatan kekal.  Dan juga supaya manusia  tidak dikuasai oleh dosa lagi. Inilah cinta Tuhan yang terbesar dalam kehidupan kita umat manusia. Tuhan memberikan hati yang murni bagi kita, supaya kita dapat melihat hal-hal yang membangun kehidupan kita dan juga membawa kita untuk selalu dekat dengan Dia di dalam kehidupan kita  sehari-hari, baik itu di tempat kerja ataupun di mana kita berada.
Supaya dapat mendengar dan mengikuti suara hati, orang harus mengenal hati sendiri. Upaya mencari kehidupan batin menjadi lebih penting lagi, karena kehidupan seringkali mengalihkan perhatian kita dari setiap pertimbangan, dan pemeriksaan diri. Santa Teresa Avila pernah mengatakan “lebih baik serahkan dirimu ke dalam tangan Tuhan, supaya Dia dapat berbuat sesuka hati-Nya dengan dirimu, sehingga kecemasan akan kepentingan dirimu akan menjadi kecil”. Dengan menyerahkan kepada Tuhan segala sesuatu yang kita alami cepat atau lambat Tuhan akan membantu kita.
Suara hati tidak hanya menilai sarana dan tujuan usaha manusia sesuai dengan arah kehidupan. Keputusan suara hati juga merupakan pedoman dan daya penggerak bagi tindakan kita. Dalam kehidupan kita jarang ada yang mutlak perlu, yang tanpa alternatif dan tidak dapat diganti oleh sesuatu yang lain. Suara hati membantu manusia mengikatkan diri pada keputusan tertentu dan menjalaninya dengan setia dan tekun serta membawa dia untuk bisa melihat mana yang baik dan mana yang buruk. Tuhan memberi kebebasan kepada manusia supaya manusia dapat melihat mana yang dari Allah dan mana yang dari keinginan diri sendiri yang bertentangan dengan kehendak Allah. Beato Henry Suso pernah mengatakan bahwa ”Aku lebih baik menjadi cacing kotor di bumi ini oleh karena kehendak Allah, daripada menjadi seorang malaikat oleh karena kemauanku sendiri.”
Hati nurani harus dibentuk dan keputusan moral harus diterangi. Hati nurani yang dibentuk dengan baik dapat memutuskan secara tepat dan benar. Dalam keputusannya ia mengikuti akal budi dan  pada kebaikan yang benar, yang dikehendaki oleh Allah sendiri. Bagi kita umat manusia yang takluk kepada pengaruh-pengaruh yang buruk dan selalu digoda untuk mementingkan diri sendiri dan menolak ajaran Tuhan yang membawa kita kepada keselamatan kekal. Pembentukan hati nurani itu mutlak perlu, supaya segala sesuatu yang bukan Tuhan dapat diatasi. pembentukan hati nurani merupakan suatu tugas seumur hidup yang pada akhirnya membawa kita kepada pengenalan akan kasih Tuhan.
Dalam pembentukan hati nurani, Sabda Allah adalah terang di jalan kita. Dalam iman dan doa kita harus menjadikannya milik kita dan melaksanakannya. Kita juga harus menguji hati nurani kita dengan memandang ke salib Tuhan, serta mohon terang Roh Kudus untuk dapat melihat apakah yang kita lakukan berasal dari Allah ataukah dari keinginan kita sendiri. Dengan mohon rahmat Tuhan kita yakin dan percaya bahwa Tuhan akan memberikan rahmat bagi kita yang memintanya sebab Tuhan menghendaki kita,  supaya kita mempunyai suatu tujuan hidup yang penuh arti yang pada akhirnya membawa kita kepada keselamatan kekal.
Di hadapan suatu keputusan untuk mengambil suatu tindakan, dapat menyadarkan kita untuk dapat melihat akan mana yang dikehendaki Allah akan apa yang kita putuskan. Dan Tuhan Yesus sendiri telah bersabda “segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, berbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat.7:12). Manusia selalu harus mengikuti keputusan yang pasti dari hati nuraninya. Kalau ia dengan sengaja bertindak melawannya, ia menghukum dirinya sendiri. Akan tetapi, dapat juga terjadi karena ketidaktahuan, sehingga hati nurani membuat keputusan yang keliru mengenai tindakan yang orang rencanakan atau sudah lakukan. Seringkali manusia yang bersangkutan itu sendiri turut menyebabkan ketidaktahuan ini, karena ia “ tidak peduli untuk mencari apa yang benar serta baik, dan karena kebiasaan berdosa hati nuraninya lambat laun hampir menjadi buta” (GS 16). Dalam hal ini ia bertanggung jawab atas yang jahat, yang ia lakukan di hadapan Tuhan.
Segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini semuanya akan kelihatan ketika kita kembali pada pangkuan Bapa di Surga. Ketika kita jatuh dalam dosa, Tuhan selalu memberi kesempatan bagi kita untuk kembali kepada Dia dengan sepenuh hati.  Dengan meninggalkan segala sesuatu yang bukan Dia, hati nurani kita selalu terarah kepada Dia, dan hidup kita tidak lagi dipengaruhi oleh hal-hal yang  tidak diinginkan misalnya; manipulasi, menjatuhkan orang lain dan juga hal-hal  lain yang bertentangan dengan kehendak-Nya.
Baiklah kita melihat hal mana yang dari Allah dan mana yang dari keinginan diri sendiri. Biarlah dengan kuasa Tuhan kita mampu menyingkirkan segala sesuatu yang bukan Dia. Dan mohonlah rahmat Tuhan supaya segala sesuatu yang kita lakukan semuanya berasal dan seturut kehedak Allah. Sebab jika kita mengikuti kehendak Tuhan dalam kehidupan sehari-hari cepat atau lambat kita akan mengalami kebahagiaan di dalam hidup. Tidak ada lagi kekhwatiran dan kecemasan di dalam hidup, sebab kasih Tuhan selalu menjiwai hidup kita.
Semoga melalui ini semua, hati kita selalu terarah kepada Tuhan. Sebab Tuhan menghendaki kita umat manusia supaya di dunia ini kita sudah boleh mengalami prarasa kehahagiaan kekal. Inilah yang Tuhan tawarkan di dalam kehidupan kita supaya hidup kita dipenuhi oleh kebahagian dan sukacita. Dengan melalui suara hati yang merupakan pancaran dari rahmat Tuhan, kita bisa melihat mana yang baik dan mana yang buruk.

Zhu Yuanshen dan Fu Yuanshen
Tanyakan pada hati nurani! Dimanakah hati nurani kita? Tidak punya hati nurani! Apakah hati nurani itu?
Banyak dari kita sering mendengar kalimat-kalimat seperti ini, namun jarang yang bisa menjabarkan makna yang sesungguhnya tentang hati nurani.
Dalam kehidupan sehari-hari, saat kita ada pikiran untuk melakukan hal-hal yang menyimpang dari kebaikan, kita akan merasakan satu sisi hati kita akan membisikkan larangan agar tidak melakukan niat pikiran buruk kita tadi, namun sekejap kemudian ada bisikan hati yang lain untuk membujuk agar kita tetap melakukan niat hati yang semula. Saat niat semula belum terlaksana, seolah-olah ada perseteruan dalam hati, antara yang membujuk agar terlaksana dan yang melarang agar tujuan tidak terlaksana.
Dalam filosofi orang Jawa, manusia saat terlahir mempunyai empat jiwa sebagai kembarannya, yang lahir bersama-sama dengannya. Jiwa-jiwa itu adalah yang baik, yang benar, yang jahat, dan yang salah. Dalam buku Zhuan Falun, dikatakan manusia mampunyai Zhu Yuanshen (Jiwa Utama) dan Fu Yuanshen (Jiwa Sekunder) yang menguasai satu tubuh. Jumlah Fu yuanshen berbeda-beda ada yang mempunyai satu, dua, tiga, empat, bahkan lima. Tubuh manusia jika tidak ada Yuanshen, tidak ada tabiat, watak dan karakter, bila tanpa semua ini hanya merupakan segumpal daging, dia tidak akan menjadi seorang manusia yang lengkap dengan kepribadian mandiri.
Fu Yuanshen atau jiwa sekunder, yang berada di dimensi lain dapat melihat hakikat suatu urusan, tahu mana yang salah dan yang benar, tidak dibuat sesat oleh masyarakat manusia. Sedangkan Zhu Yuanshen (Jiwa Utama) mudah tergoda oleh nafsu duniawi. Untuk manusia yang mempunyai bawaan dasar baik mudah dikendalikan oleh kehidupan tingkat tinggi, Fu Yuanshen-nya juga berasal dari tingkat tinggi. Semakin tinggi tingkat Fu Yuanshen-nya berasal, hal-hal yang diketahui semakin sesuai dengan kebenaran dari prinsip-prinsip Tuhan. Sedangkan untuk manusia yang bawaan dasarnya rendah mudah dipengaruhi oleh informasi dari kehidupan tingkat rendah yang menyesatkan
Hati nurani adalah informasi yang disampaikan oleh Fu Yuanshen manusia, karena Fu Yuanshen manusia berasal dari tingkatan yang lebih tinggi daripada Zhu Yuanshennya, dengan demikian Fu Yuanshenlah yang selalu menjaga manusia agar terhindar dari perbuatan yang menyimpang dari hukum Tuhan. Namun begitu Zhu Yuanshen juga adalah kesadaran utama manusia, dialah yang memegang kendali untuk memutuskan segala sesuatu yang hendak dilakukan. Meskipun hati nurani kita mengingatkan untuk selalu berjalan di jalan lurus, namun jika kesadaran utama kita memutuskan untuk tetap melakukan perbuatan buruk, maka tetap saja kita akan melakukan keputusan salah yang telah kita putuskan tersebut.
Zhu yuanshen manusia yang mudah terpengaruh oleh keduniawian akan mudah dituntun oleh informasi-informasi yang membujuk kita untuk selalu berjalan di jalan yang menyimpang, karena informasi yang dibawa/diperoleh bisa jadi informasi dari unsur-unsur negatif yang berusaha menyesatkan Zhu yuanshen/kesadaran utama kita. Meskpiun hati nurani (Fu Yuanshen) selalu mengingatkannya, namun apa daya tangan tak sampai karena jika kesadaran utama kita tetap mengambil keputusan yang menyimpang tersebut, maka tetap saja kita melakukan suatu keburukan, sesuai dengan informasi yang menyesatkan yang diperoleh oleh Zhu Yuanshen kita.
Untuk menghindarkan diri dari perbuatan dosa karena perbuatan buruk maka kita harus mendengarkan bisikan hati nurani. Saat terjadi perseteruan isi hati antara hati nurani kita dengan bisikan hati yang mengajak keburukan, maka segera kuatkanlah kesadaran utama kita untuk mengikuti bisikan hati nurani yang jelas-jelas akan membawa kita melakukan hal-hal yang benar. Sebagai contoh, saat kita berpikir untuk berbohong demi menutupi perbuatan buruk kita, maka hati nurani anda akan membisikkan larangan untuk tidak berbohong, atau saat kita mau memamerkan diri, hati kita membisikkan untuk tidak memamerkan diri, saat ingin menyebarkan hasutan, gosip dll yang buruk, akan ada suara hati yang melarang kita melakukan hal-hal tersebut.

Saat manusia sudah tidak mau mendengarkan hati nuraninya, niscaya akan selalu melakukan hal yang tidak benar, hanya saja kita tetap bersyukur karena hati nurani kita tidak bosan-bosannya menyertai dan membimbing kita sepanjang hidup kita. Setelah raga ini terpisah dari jiwa kita maka barulah Fu Yuanshen blerpisah dengan Zhu Yuanshen untuk menjalani kehidupan masing-masing. Mungkin Fu Yuanshen masuk surga, sedang Zhu yuanshen harus menjalani reinkarnasi dalam enam jalur reinkarnasi, atau malah mengalami pemusnahan total di neraka yang tak berujung pangkal tingkatannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar