Selasa, 29 April 2014

WASPADA HUBUNGAN BEBAS KAUM MUDA
 DALAM MENENTUKAN PASANGAN HIDUP

PENGANTAR
 Berbagai macam persoalan yang dihadapai dewasa ini yakni pergaulan bebas kaum muda yang lagi panas dikalangan kaum muda atau lebih popular disebut dengan “seks bebas. Dalam berbagai tulisan; Koran, buku atau majalah, sangat sering dibicarakan bahakan dalam seminar atau pembinaan kaum muda juga sering dibahas. Meskipun demikian kasus ini pun tak habis terjadi sepanjang hidup kaum muda sepanjang tahun. Hal ini patut dilihat sebagai kasus yang serius dan sangat perlu guna pembentukan mental dan moral setiap kaum muda untuk lebih berkembang kearah yang lebih baik di masa yang akan datang.
Berbicara seputar kaum muda tentu ada banyak hal yang mendasari atau sebab terjadinya suatu perkembangan yang lebih bebas tersebut, bahkan seakan dengan kebebasan kaum muda menjadi tidak sadar terhadap apa yang menjadi tujuan hidupnya. Oleh karena ini sebagai pribadi, orang harus memahami apa arti hidupnya dan bagaimana orang mempunyai pola pikir yang baik dalam melihat ke depan yang lebih baik dan menguntungkan.
Dalam tulisan ini saya lebih melihat pada masalah aktual yang dihadapi oleh kaum muda dewasa ini yakni pornografi dan pergaulan bebas serta bagaimana solusi atau jalan keluar/ langkah yang diambil untuk kasus tersebut. Dua hal ini yang akan dibahas dalam tulisan ini. Dan tentu ada banyak kekurangan dalam penulisan ini perlu diperbaiki sajauh perlu guna perbaikan untuk lebih baik lagi. Untuk itu tak tertutup kemungkinan saran dari para pembaca. Namun  saya berharap semoga tulisan in bisa bermanfaat bagi siapa saja yang membaca.
Selamat membaca!!!


Daftar isi
Pengantar
Daftar Isi
A.    Masalah Sosial Aktual Kaum Muda
B.     Masalah Pornografi
C.     Sudah Terlanjur Mau Bagaimana
D.    Kisa Nyata
E.     Solusinya/Jalan Keluar



A.    Masalah Sosial Aktual Kaum Muda
Krisis identitas tidak mempunyai tujuan hidup, pemujaan kebebasan, mental lembek kurang harga diri dan percaya diri menyebabkan orang muda kita begitu mudah terpengaruh atau melarikan diri dari kesulitan dan tantangan hidup, kedalam dunia khayalan dan kelonggaran yang menghancurkan masa depan. Dan dunia narkoba sangat dekat dengan seks bebas, HIV/AIDS dan pornografi yang begitu mudah diakses dan dipelajari dari internet dan dibeli dalam keeping-keping CD-DVD. Pornografi menjadi ancaman terbesar generasi muda saat ini, karena itu ditempatkan sebagai musuh utama pembinaan generasi muda.
Termasuk seks bebas dikalangan kaum muda. Di sini focus dalam pembicaraan lebih pada masalah social aktual pornografi akaibat dari pergaulan bebas. Banyak hal terjadi dalam kehidupan kaum muda  terhadap pornografi dan seks bebas adalah karena kenikmatan sesaat yang berujung pada penyesalan. Tanpa sadar orang muda terantuk dan jatuh akibat  pula kecerobohan dan kurangnya komitmen dan optimis masa depan. Konon, sering tenar dalam kalangan kaum muda bahwasanya dikatakan “seks bebas itu terjadi karena perlu pembuktian cinta”, kadang pula adalah karena kenikmatan tanpa batas atau tidak adanya kepuasan seksual.
Berbagai hal terjadi akibat pemujaan kebebasan bagi kaum muda sehingga memperpanjang penyesalan diri sendiri. Pergaulan seringkali menghendaki kaum muda melakukan hal-hal yang tidak diinginkan sebagaimana dikehendaki dalam kehidupan kaum muda yaitu pengaruh pornografi dan pergaulan bebas sehingga kaum muda terperosok kedalam seks bebas yang akhirnya membuat  mereka kehilangan masa depan karena itu kehamilan juga terjadi di sana sini.

B.  Masalah Pornografi
Seperti di negara kita, di negara-negara lain pun cukup banyaklah orang dan kelompok masyarakat yang suka mempermasalahkan pornografi. Sebagian dari mereka secara terus terang menghendaki adanya sensor atas pornografi di media masa, antara lain untuk melindungi kaum muda dan anak-anak dibawah umur dari dampak negatifnya. Sayang, mereka sendiripun tidak punya pemahaman yang sama tentang batas-batas dari pornografi itu. Di Amerika Serikat, misalnya, sejak kasus “Roth Versus USA” pada tahun 1975, para hakim berusaha membuat definisi hukum dari pornografi. Sembilan tahun sesudahnya, Mahkama Agung di negara adidaya itu menjatuhkan hukuman lima tahun penjarah atas Ralph Ginsburg, penerbit literatur-literatur yang erotis. Anehnya. Pada tahun yang sama, pengadilan Massecchusetts justru mengizinkan penerbitan dan penjualan buku Funny Hill, karena menilainya tidak pornografis, walaupun buku itu jelas-jelas dimaksud untuk merangsang para wanita untuk menikmati hubungan seksual lesbian.
Karena batas-batas pornografi tampaknya tidak pernah bisa jelas dan tegas, ada ahli moral sosial yang menegaskan tidak perlunya sensor atas ponografi pada media massa. Dalam sebuah bukunya, Kyle Haselden antara lain menyebutkan pendapatnya, bahwa cara yang tepat untuk mengatasi pornografi pada media massa bukanlah dengan melarang publikasi dan distribusi dirinya, melainkan dengan mendukung publikasi dan distribusi dari artikel-artikel dan buku-buku yang bermutu tentang seksualitas.
Kyle Haselden juga mengungkapkan bahwa industri periklanan biasanya mengeksploitas seks dalam dua cara berikut. Cara pertama, adalah dengan merangsang hasrat seksual secara langsung dan terus terang. Sedang cara kedua adalah dengan merangsang hasrat seksual secara halus dan tersembunyi. Kedua cara itu, menurutnya, sama-sama immoral, bukan karena berhubungan dengan seks, melainkan menempatkan seks pada tingkat yang lebih tinggi dari tempatnya yang semestinya. Disana terjadi pembalikan hirarki nilai-nilai manusiawi.
Sek sendiri sebenarnya merupakan suatu hal yang baik, karena berasal dari sang Prncipta. Hal itu bahkan berlaku juga untuk hasrat seksual. Yang buruk pada pornografi bukanlah seks sendiri melainkan penempatannya yang salah pada keseluruhan hidup manusia. Seks itu penting, tetapi bukan yang terpenting. Pornografi meletakan seks pada tempat yang terlalu tinggi.

C.      Sudah Terlanjur Mau Bagaimana (Bergaul Bebas)
Kasus yang kerap terjadi umumnya diakibatkan karena pergaulan terlalu bebas. Rina terpaksa cepat-cepat kawin dengan Tito karena sudah “ terlanjur ‘ dan dikroyok orang kampung. Atau seorang pemuda SMP dan SMA terpaksa berhenti dari sekolah, karena pemudi sudah mengandung, sehingga si pemuda terpaksa mengawininya. Kerap kali terjadi pula dua muda-mudi yang betul-betul masih ingusan, belum bekerja apa-apa dan bahkan belum matang sebagai pemuda, terpaksa kawin, hanya karena sudah terlanjur dan ingin nama baik orangtuanya terlindungi. Penyakit ini bukan saja di kalangan orang tingkat bawah saja tetapi justru pada golongan menengah dan atas. Pendek kata merata. Mengandung dan hamil sebelum perkawinan rupanya dianggap lumrah dan biasa. Seolah-olah jalan keluar satu-satunya dikawinkan secara resmi. Bahkan seringkali ada yang menggunakan  cara demikian sebagai paksaan moral bagi orang tua untuk mengijinkan anaknya kawin.  Ada juga yang menggunakan cara ini sebagai “ voorschot “ ( Bon duluh ),  seolah-olah perkawinan itu mudah dan murah.  Jelaslah perkawinan demikian bukan pertama-tama di dorong oleh cinta, tetapi oleh situasi terpaksa.
Dalam beberapa kasus yang sama, kaum muda yang terlanjur melakukan tindakan yang di sebutkan di atas sering kali diperparah karena kurangnya kesepakatan dan kerja sama antara satu dengan yang lain sehingga akibatnya persoalan kecelakaan kaum wanita tidak dapat menempuh suatu penyelesaian, melainkan kekecewaan dan penyesalan yang terjadi. Akibat dari kebebasan dalam bergaul menyebabkan kaum muda telah jatu dalam kebodohan dirinya sendiri dan karena itu kaum muda yang merasa tidak dihaargai alias merasa diri sudah berbeda dengan teman lain menjadi minder dan mudah terjun dalam hal-hal yang tidak diinginkan. Kaum muda lantas tidak lagi memahami apa arti sesungguhnya sebuah cinta dan bagaimana cinta itu mengarahkan mereka untuk mencapai suatu tujuan hidup yang lebih baik. Cinta yang dijalani hanyalah suatu nafsu belaka yang mengantar dirinya pada kenikmatan sesaat. Disini orang, khususnya kaum muda cukup berhati-hati dalam hubungan antara sesama jenis (hubungan pacaran kelewat batas). Akan menjadi lebih baik jika setiap kebebasan dalan begaul dengan pasangan dibatasi, jika kaum muda merasa masa depan adalah tujuan dari hidupnya saat ini.
Jadi, cinta itu perlu tampat dalam praktek kehidupan yang lebih baik. Cinta yang tidak kelihatan perlu dijelmakan sehingga menjadi pengalaman yang konkrit. Tetapi berhubungan cinta itu laksana benih yang harus tumbuh, maka perwujudan cinta harus sejajar dan selaras dengan pertumbuhannya; setahap demi setahap. Bahkan aneh sekali kalau seorang baru sehari berkenalan sudah memberikan bingkisan TV. Bingkisan akan menjadi tanda cinta yang sungguh-sungguh kalau sudah ada hubungan batin yang cukup erat dan akrab. Sebaliknya kado tidak berarti apa-apa, kalau hanya alat pemikat, dimana belum ada perkenalan yang mendalam. Demikian pula ungkapan cinta dalam perbuatan pun seharusnya sesuai dengan gerakan pertumbuhan dan jalinan batin tersebut. Suatu loncatan dalam hal ini akan terasa kurang wajar, tidak akan membuat hubungan menjadi lebih harmonis dan akrab, melainkan kerap kali akan merupakan rangsangan timbulnya cinta diri atau egoisme. Sebab cinta itu bukan soal rasa, soal seks, atau soal mau sama mau, tetapi memerlukan pandangan yang menyeluruh.
Fungsi seksual dalam kehidupan manusia bukan hanya sebagai alat pencari kenikmatan atau pelampiasan hawa nafsu, tetapilebih-lebih berfungsi agar manusia dapat lebih sempurnah mengungkapkan cinta kasih dan penyerahan diri mereka pada partnernya. Cinta kasih diungkapkan secara khas didalam perkawinan dan disempurnakan dalam persetubuhan. Maka persetubuhan merupakan tindakan yang luhur dan suci, karena merupakan ungkapan cinta yang total antara suami isteri atau satu pasangan, asal dilaksanakan dengan pantas, yaitu didorong oleh cinta kasih pribadi yang penuh. Dan persetubuhan itu akan hanya merupakan ungkapan cinta kasih dan penyerahan total, kalau sudah ada hubungan batin yang mendasari janji dan kesepakatan yang mantap dan tak terputuskan antara keduanya. Khususnya setelah diteguhkan dengan ikatan tali perkawinan.
Maka persetubuhan sebelum nikah sangat tidak dianjurkan, bahkan dilarang dengan alasan; persetubuhan harus merupakan  perwujudan persejiwaan antara suami isteri, hal mana menuntut supaya partner diterima secara tetap, legal, social, personal dan tak terbatalkan. Dan saling bertanggung jawab ini perlu dinyatakan didepan umum, karena pengakuan oleh masyarakat akan membuat lebih kuat dan aman, lebih-lebih masyarakat juga berkepentingan akan hal itu. Alasan lain karena pengalaman pertama dari wanita menuntut kepastian. Persetubuhan sebelum perkawinan kurang baik dan integral, dan bisa menyempitkan kebebasan untuk memilih partner yang tepat, karena ikatan psikologis yang diakibatkan oleh kehamilan. Dan kadang-kadang dalam nafsu birahi dan egoisme masih main peran; cinta belum murni. Ini dapat membahayakan hubungan antara kedua pasangan.

D.    Kisa Nyata, Kasus Kaum Muda
Tina terpaksa keluar dari sekolah. Padahal dia baru duduk di kelas III SMP. Kawan-kawannya dan semua orang kampung tahu bahwa ia sudah hamil. Ini diakibatkan karena hubungannya yang sembrono dengan Tono seorang murid kelas III SMA yang terkenal berandalan dan suka berganti-ganti pacar. Keluarga dari pihak Tini yang selurunya beragama Islam memaksa Tono untuk mengawini Tini, lebih-lebih ibunya. Tetapi ayahnya masih menuntut Tini supaya menggugurkan kandungannya dengan menelan pil kontrasepsi.
Keluarga dari pihak Tono, yang seluruhnya beragama Katolik juga mengalami kesulitan; pertama karena terlalu miskin untuk membentuk keluarga baru ini, kalau Tono dan Tini jadi diresmikan. Ayahnya sebenarnya menghendakai supaya Tono meneruskan pelajaran dulu.
Tono sendiri, menurut pengakuannya, sebenarnya belum cinta kepada Tini. Tetapi pebuatan yang kelewat batas itu dikarenakan sikap Tono yang terlalu bebas dalam pergaulan, dan karena “iseng”dari keduanya. Kesulitan lain yaitu bahwa keduanya belum mempunyai pekerjaan. Kesulitan ini masih diperhebat oleh desakan orang sekampung yang memaksa keduanya harus secepat mungkin diresmikan. Dan bagi keluarga Tini, andaikata perkawinan toh harus dilaksanakan, menuntut supaya dilaksanakannya di Mesjid menurut agama Islam. Sedangkan Romo Paroki Tono terpaksa angakat bahu terhadap masalah ini.
E.     Solusi Atau Jalan Keluar
Melihat kembali sejumlah kasus yang terjadi di atas tadi, memang sangat disayangkan, apalagi kasus kebebasan kaum muda yang tak mengontrol akhirnya jatuh ke dalam seks bebas, dipengaruhi oleh pornografi di media massa, pun juga kasus kehamilan Tini, sehingga perlu adanya suatu pembinaan yang cukup mendalam khususnya bagi kaum muda. Meskipun manusia diberi kebebasan penuh delam hidupnya, namun jikalau kebebasan itu tidak dipagari dengan adanya suatu aturan maka, akan berakibat buruk. Hal ini sangat nyata dalam pergaulan bebas kaum muda.
Banyak kasus sering terjadi karena kaum muda berbuat semau gue, dan menganggap dirinya sudah bisa berbuat apa saja sesuka hatinya. Dari tiga kisa nyata di atas yakni; pornografi, pergulan bebas, dan kisah nyata kehamilan Tini masing-masing mempunyai solusi-solusi tersendiri.
Pertama, kasus pornografi. Dalam kasus di atas menurut saya, dengan melihat perkembangan dunia maka pornografi seabiknya tidak boleh diperkenalkan kepada kaum muda yang dalam hal ini memang belum pantas untuk dipertontonkan. Sebab hal itu akan membahayakan pertumbuhan kaum muda menuju pribadi yang lebih baik dan bermoral. Kemudian pornografi kiranya bisa diperkenalkan kepada kaum muda, namun dalam bentuk buku-buku atau dalam bentuk tulisan atau artikel yang bermutu sehingga kaum muda dapat membaca dan  lebih tahu arti pornoggrafi, memahami apa itu perlakuan yang baik atau bagaimana kaum muda menjaga tubunya terhadap seksualitas yang salayaknya.
Kedua, pergaulan bebas. Menurut saya, solusia yang baik untuk mengatasi pergaulan bebas ialah adanya suatu control baik dari pihak orang tua, guru di sekolah dan pemerintah. Dalam artinya dalam pergaulan kaum muda itu perlu ada batasan dan ketegasan dari ketiga pihak tersebut. Orangtua, tanpa menekan dan membatasi kegbebasan anak, ia harus memberikan sebanyak mungkin nasehat dan pandangan-pandanagan bagaimana seharusnya bergaul bebas terpimpin di dalam masyarakat. Guru di Sekolah agar memberikan pembinaan khusus kepada anak muda tentang pengaruh pergaulan bebas itu dan dampak buruknya dalam pergaulan kaum muda, setiap orang dapat tahu sejauh mana ia mampu berelasi dengan teman sebayanya. Sedangkan pemerintah perlu membatasi tempat-tempat hiburan yang menarik perhatian kaum muda untuk tergiur ke sana. Sebab hal itu perlahan-lahan dapat memberi warna buruk bagi perkembangan hidup kaum muda dan banyak terjadi kaum muda lupa daratan.
Ketiga, kisah nyata kehamilan Tini. Solusi yang tepat menrut saya adalah terpaksa harus  kawin. Meskipun ada pro kontra antara kedua belah pihak karena agama, Keluarga dari pihak Tini menghendaki Tono untuk mengawini Tini, dari ayahnya mau Tini menggugurkan, kesulitan keluarga Tono membentuk keluargha baru ini dan kesulitan karena keduanya belum memiliki pekarjaan dan seterusnya. Manurut saya, langka yang pertama-tama diambil ialah; harus adanya suatu koordinasi yang baik antara kedua keluarga. Kedua, menanyakan persetujuan mereka berdua untuk mau menikah secara Islam atau menikah secara Katolik. Dan yang ketiga, jika sudah mencapai suatu kesepakatan yang baik antara kedua belah pihak maka perlu pertanggungjawaban yang serius dari pihak laki-laki; kurang labih pengaturan selanjutnya. Sebab mau kembali ke sekolah juga sudah tidak bisa, terpaksa harus kawin dan menjalani keluarga baru.




Drs. Philips Tangdilintin, MM, PEMBINAAN GENERASI MUDA, KANISIUS, JOGYAKARTA, 2008,         HLM. 50.
Al. Purwa Hadiwardoyo, MSF, Masalah Sosial Aktual- Sikap Gereja Katolik, Kanisius, Jogyakarta, 2006,        hlm.60.
Al. Budyapranata Pr. Membangun Keluarga Kristiani, Kanisius, Jogyakarta, 1981, hal. 140 ..
Al. Budyapranata Pr. Membangun Keluarga Kristiani, Kanisius, Jogyakarta, 1981. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar