WASPADA HUBUNGAN BEBAS KAUM MUDA
DALAM MENENTUKAN PASANGAN HIDUP
PENGANTAR
Berbagai macam persoalan yang dihadapai dewasa
ini yakni pergaulan bebas kaum muda yang lagi panas dikalangan kaum muda atau
lebih popular disebut dengan “seks bebas. Dalam berbagai tulisan; Koran, buku
atau majalah, sangat sering dibicarakan bahakan dalam seminar atau pembinaan
kaum muda juga sering dibahas. Meskipun demikian kasus ini pun tak habis
terjadi sepanjang hidup kaum muda sepanjang tahun. Hal ini patut dilihat
sebagai kasus yang serius dan sangat perlu guna pembentukan mental dan moral
setiap kaum muda untuk lebih berkembang kearah yang lebih baik di masa yang
akan datang.
Berbicara
seputar kaum muda tentu ada banyak hal yang mendasari atau sebab terjadinya
suatu perkembangan yang lebih bebas tersebut, bahkan seakan dengan kebebasan
kaum muda menjadi tidak sadar terhadap apa yang menjadi tujuan hidupnya. Oleh
karena ini sebagai pribadi, orang harus memahami apa arti hidupnya dan bagaimana
orang mempunyai pola pikir yang baik dalam melihat ke depan yang lebih baik dan
menguntungkan.
Dalam
tulisan ini saya lebih melihat pada masalah aktual yang dihadapi oleh kaum muda
dewasa ini yakni pornografi dan pergaulan bebas serta bagaimana solusi atau
jalan keluar/ langkah yang diambil untuk kasus tersebut. Dua hal ini yang akan
dibahas dalam tulisan ini. Dan tentu ada banyak kekurangan dalam penulisan ini
perlu diperbaiki sajauh perlu guna perbaikan untuk lebih baik lagi. Untuk itu
tak tertutup kemungkinan saran dari para pembaca. Namun saya berharap semoga tulisan in bisa
bermanfaat bagi siapa saja yang membaca.
Selamat
membaca!!!
Daftar isi
Pengantar
Daftar
Isi
A. Masalah
Sosial Aktual Kaum Muda
B. Masalah
Pornografi
C. Sudah
Terlanjur Mau Bagaimana
D. Kisa
Nyata
E. Solusinya/Jalan
Keluar
A.
Masalah
Sosial Aktual Kaum Muda
Krisis
identitas tidak mempunyai tujuan hidup, pemujaan kebebasan, mental lembek
kurang harga diri dan percaya diri menyebabkan orang muda kita begitu mudah
terpengaruh atau melarikan diri dari kesulitan dan tantangan hidup, kedalam
dunia khayalan dan kelonggaran yang menghancurkan masa depan. Dan dunia narkoba
sangat dekat dengan seks bebas, HIV/AIDS dan pornografi yang begitu
mudah diakses dan dipelajari dari internet dan dibeli dalam keeping-keping
CD-DVD. Pornografi menjadi ancaman terbesar generasi muda saat ini, karena itu
ditempatkan sebagai musuh utama pembinaan generasi muda.
Termasuk
seks bebas dikalangan kaum muda. Di sini focus dalam pembicaraan lebih pada masalah
social aktual pornografi akaibat dari pergaulan bebas. Banyak hal terjadi dalam
kehidupan kaum muda terhadap pornografi
dan seks bebas adalah karena kenikmatan sesaat yang berujung pada penyesalan.
Tanpa sadar orang muda terantuk dan jatuh akibat pula kecerobohan dan kurangnya komitmen dan
optimis masa depan. Konon, sering tenar dalam kalangan kaum muda bahwasanya
dikatakan “seks bebas itu terjadi karena perlu pembuktian cinta”, kadang pula
adalah karena kenikmatan tanpa batas atau tidak adanya kepuasan seksual.
Berbagai
hal terjadi akibat pemujaan kebebasan bagi kaum muda sehingga memperpanjang
penyesalan diri sendiri. Pergaulan seringkali menghendaki kaum muda melakukan
hal-hal yang tidak diinginkan sebagaimana dikehendaki dalam kehidupan kaum muda
yaitu pengaruh pornografi dan pergaulan bebas sehingga kaum muda terperosok
kedalam seks bebas yang akhirnya membuat mereka kehilangan masa depan karena itu
kehamilan juga terjadi di sana sini.
B. Masalah Pornografi
Seperti
di negara kita, di negara-negara lain pun cukup banyaklah orang dan kelompok
masyarakat yang suka mempermasalahkan pornografi. Sebagian dari mereka secara
terus terang menghendaki adanya sensor atas pornografi di media masa, antara
lain untuk melindungi kaum muda dan anak-anak dibawah umur dari dampak
negatifnya. Sayang, mereka sendiripun tidak punya pemahaman yang sama tentang
batas-batas dari pornografi itu. Di Amerika Serikat, misalnya, sejak kasus
“Roth Versus USA” pada tahun 1975, para hakim berusaha membuat definisi hukum
dari pornografi. Sembilan tahun sesudahnya, Mahkama Agung di negara adidaya itu
menjatuhkan hukuman lima tahun penjarah atas Ralph Ginsburg, penerbit literatur-literatur
yang erotis. Anehnya. Pada tahun yang sama, pengadilan Massecchusetts justru
mengizinkan penerbitan dan penjualan buku Funny Hill, karena menilainya tidak
pornografis, walaupun buku itu jelas-jelas dimaksud untuk merangsang para
wanita untuk menikmati hubungan seksual lesbian.
Karena
batas-batas pornografi tampaknya tidak pernah bisa jelas dan tegas, ada ahli
moral sosial yang menegaskan tidak perlunya sensor atas ponografi pada media
massa. Dalam sebuah bukunya, Kyle Haselden antara lain menyebutkan pendapatnya,
bahwa cara yang tepat untuk mengatasi pornografi pada media massa bukanlah
dengan melarang publikasi dan distribusi dirinya, melainkan dengan mendukung
publikasi dan distribusi dari artikel-artikel dan buku-buku yang bermutu
tentang seksualitas.
Kyle
Haselden juga mengungkapkan bahwa industri periklanan biasanya mengeksploitas
seks dalam dua cara berikut. Cara pertama, adalah dengan merangsang hasrat
seksual secara langsung dan terus terang. Sedang cara kedua adalah dengan
merangsang hasrat seksual secara halus dan tersembunyi. Kedua cara itu,
menurutnya, sama-sama immoral, bukan karena berhubungan dengan seks, melainkan
menempatkan seks pada tingkat yang lebih tinggi dari tempatnya yang semestinya.
Disana terjadi pembalikan hirarki nilai-nilai manusiawi.
Sek
sendiri sebenarnya merupakan suatu hal yang baik, karena berasal dari sang
Prncipta. Hal itu bahkan berlaku juga untuk hasrat seksual. Yang buruk pada
pornografi bukanlah seks sendiri melainkan penempatannya yang salah pada
keseluruhan hidup manusia. Seks itu penting, tetapi bukan yang terpenting.
Pornografi meletakan seks pada tempat yang terlalu tinggi.
C.
Sudah
Terlanjur Mau Bagaimana (Bergaul Bebas)
Kasus
yang kerap terjadi umumnya diakibatkan karena pergaulan terlalu bebas. Rina
terpaksa cepat-cepat kawin dengan Tito karena sudah “ terlanjur ‘ dan dikroyok
orang kampung. Atau seorang pemuda SMP dan SMA terpaksa berhenti dari sekolah,
karena pemudi sudah mengandung, sehingga si pemuda terpaksa mengawininya. Kerap
kali terjadi pula dua muda-mudi yang betul-betul masih ingusan, belum bekerja
apa-apa dan bahkan belum matang sebagai pemuda, terpaksa kawin, hanya karena
sudah terlanjur dan ingin nama baik orangtuanya terlindungi. Penyakit ini bukan
saja di kalangan orang tingkat bawah saja tetapi justru pada golongan menengah
dan atas. Pendek kata merata. Mengandung dan hamil sebelum perkawinan rupanya
dianggap lumrah dan biasa. Seolah-olah jalan keluar satu-satunya dikawinkan
secara resmi. Bahkan seringkali ada yang menggunakan cara demikian sebagai paksaan moral bagi
orang tua untuk mengijinkan anaknya kawin. Ada juga yang menggunakan cara ini sebagai “
voorschot “ ( Bon duluh ), seolah-olah
perkawinan itu mudah dan murah. Jelaslah
perkawinan demikian bukan pertama-tama di dorong oleh cinta, tetapi oleh
situasi terpaksa.
Dalam
beberapa kasus yang sama, kaum muda yang terlanjur melakukan tindakan yang di sebutkan
di atas sering kali diperparah karena kurangnya kesepakatan dan kerja sama
antara satu dengan yang lain sehingga akibatnya persoalan kecelakaan kaum
wanita tidak dapat menempuh suatu penyelesaian, melainkan kekecewaan dan
penyesalan yang terjadi. Akibat dari kebebasan dalam bergaul menyebabkan kaum
muda telah jatu dalam kebodohan dirinya sendiri dan karena itu kaum muda yang
merasa tidak dihaargai alias merasa diri sudah berbeda dengan teman lain menjadi
minder dan mudah terjun dalam hal-hal yang tidak diinginkan. Kaum muda lantas
tidak lagi memahami apa arti sesungguhnya sebuah cinta dan bagaimana cinta itu
mengarahkan mereka untuk mencapai suatu tujuan hidup yang lebih baik. Cinta
yang dijalani hanyalah suatu nafsu belaka yang mengantar dirinya pada
kenikmatan sesaat. Disini orang, khususnya kaum muda cukup berhati-hati dalam
hubungan antara sesama jenis (hubungan pacaran kelewat batas). Akan menjadi
lebih baik jika setiap kebebasan dalan begaul dengan pasangan dibatasi, jika
kaum muda merasa masa depan adalah tujuan dari hidupnya saat ini.
Jadi,
cinta itu perlu tampat dalam praktek kehidupan yang lebih baik. Cinta yang
tidak kelihatan perlu dijelmakan sehingga menjadi pengalaman yang konkrit. Tetapi
berhubungan cinta itu laksana benih yang harus tumbuh, maka perwujudan cinta
harus sejajar dan selaras dengan pertumbuhannya; setahap demi setahap. Bahkan
aneh sekali kalau seorang baru sehari berkenalan sudah memberikan bingkisan TV.
Bingkisan akan menjadi tanda cinta yang sungguh-sungguh kalau sudah ada
hubungan batin yang cukup erat dan akrab. Sebaliknya kado tidak berarti
apa-apa, kalau hanya alat pemikat, dimana belum ada perkenalan yang mendalam.
Demikian pula ungkapan cinta dalam perbuatan pun seharusnya sesuai dengan
gerakan pertumbuhan dan jalinan batin tersebut. Suatu loncatan dalam hal ini
akan terasa kurang wajar, tidak akan membuat hubungan menjadi lebih harmonis
dan akrab, melainkan kerap kali akan merupakan rangsangan timbulnya cinta diri atau
egoisme. Sebab cinta itu bukan soal rasa, soal seks, atau soal mau sama mau,
tetapi memerlukan pandangan yang menyeluruh.
Fungsi seksual dalam kehidupan
manusia bukan hanya sebagai alat pencari kenikmatan atau pelampiasan hawa
nafsu, tetapilebih-lebih berfungsi agar manusia dapat lebih sempurnah
mengungkapkan cinta kasih dan penyerahan diri mereka pada partnernya. Cinta
kasih diungkapkan secara khas didalam perkawinan dan disempurnakan dalam
persetubuhan. Maka persetubuhan merupakan tindakan yang luhur dan suci, karena
merupakan ungkapan cinta yang total antara suami isteri atau satu pasangan,
asal dilaksanakan dengan pantas, yaitu didorong oleh cinta kasih pribadi yang
penuh. Dan persetubuhan itu akan hanya merupakan ungkapan cinta kasih dan
penyerahan total, kalau sudah ada hubungan batin yang mendasari janji dan
kesepakatan yang mantap dan tak terputuskan antara keduanya. Khususnya setelah
diteguhkan dengan ikatan tali perkawinan.
Maka
persetubuhan sebelum nikah sangat tidak dianjurkan, bahkan dilarang dengan
alasan; persetubuhan harus merupakan
perwujudan persejiwaan antara suami isteri, hal mana menuntut supaya
partner diterima secara tetap, legal, social, personal dan tak terbatalkan. Dan
saling bertanggung jawab ini perlu dinyatakan didepan umum, karena pengakuan
oleh masyarakat akan membuat lebih kuat dan aman, lebih-lebih masyarakat juga
berkepentingan akan hal itu. Alasan lain karena pengalaman pertama dari wanita
menuntut kepastian. Persetubuhan sebelum perkawinan kurang baik dan integral,
dan bisa menyempitkan kebebasan untuk memilih partner yang tepat, karena ikatan
psikologis yang diakibatkan oleh kehamilan. Dan kadang-kadang dalam nafsu
birahi dan egoisme masih main peran; cinta belum murni. Ini dapat membahayakan
hubungan antara kedua pasangan.
D.
Kisa
Nyata, Kasus Kaum Muda
Tina
terpaksa keluar dari sekolah. Padahal dia baru duduk di kelas III SMP.
Kawan-kawannya dan semua orang kampung tahu bahwa ia sudah hamil. Ini
diakibatkan karena hubungannya yang sembrono dengan Tono seorang murid kelas
III SMA yang terkenal berandalan dan suka berganti-ganti pacar. Keluarga dari
pihak Tini yang selurunya beragama Islam memaksa Tono untuk mengawini Tini,
lebih-lebih ibunya. Tetapi ayahnya masih menuntut Tini supaya menggugurkan
kandungannya dengan menelan pil kontrasepsi.
Keluarga
dari pihak Tono, yang seluruhnya beragama Katolik juga mengalami kesulitan;
pertama karena terlalu miskin untuk membentuk keluarga baru ini, kalau Tono dan
Tini jadi diresmikan. Ayahnya sebenarnya menghendakai supaya Tono meneruskan
pelajaran dulu.
Tono
sendiri, menurut pengakuannya, sebenarnya belum cinta kepada Tini. Tetapi
pebuatan yang kelewat batas itu dikarenakan sikap Tono yang terlalu bebas dalam
pergaulan, dan karena “iseng”dari keduanya. Kesulitan lain yaitu bahwa keduanya
belum mempunyai pekerjaan. Kesulitan ini masih diperhebat oleh desakan orang
sekampung yang memaksa keduanya harus secepat mungkin diresmikan. Dan bagi
keluarga Tini, andaikata perkawinan toh harus dilaksanakan, menuntut supaya
dilaksanakannya di Mesjid menurut agama Islam. Sedangkan Romo Paroki Tono
terpaksa angakat bahu terhadap masalah ini.
E.
Solusi
Atau Jalan Keluar
Melihat
kembali sejumlah kasus yang terjadi di atas tadi, memang sangat disayangkan,
apalagi kasus kebebasan kaum muda yang tak mengontrol akhirnya jatuh ke dalam
seks bebas, dipengaruhi oleh pornografi di media massa, pun juga kasus
kehamilan Tini, sehingga perlu adanya suatu pembinaan yang cukup mendalam
khususnya bagi kaum muda. Meskipun manusia diberi kebebasan penuh delam
hidupnya, namun jikalau kebebasan itu tidak dipagari dengan adanya suatu aturan
maka, akan berakibat buruk. Hal ini sangat nyata dalam pergaulan bebas kaum
muda.
Banyak
kasus sering terjadi karena kaum muda berbuat semau gue, dan menganggap dirinya sudah bisa berbuat apa saja
sesuka hatinya. Dari tiga kisa nyata di atas yakni; pornografi, pergulan bebas,
dan kisah nyata kehamilan Tini masing-masing mempunyai solusi-solusi
tersendiri.
Pertama,
kasus pornografi. Dalam kasus di atas menurut saya, dengan melihat perkembangan
dunia maka pornografi seabiknya tidak boleh diperkenalkan kepada kaum muda yang
dalam hal ini memang belum pantas untuk dipertontonkan. Sebab hal itu akan
membahayakan pertumbuhan kaum muda menuju pribadi yang lebih baik dan bermoral.
Kemudian pornografi kiranya bisa diperkenalkan kepada kaum muda, namun dalam
bentuk buku-buku atau dalam bentuk tulisan atau artikel yang bermutu sehingga
kaum muda dapat membaca dan lebih tahu
arti pornoggrafi, memahami apa itu perlakuan yang baik atau bagaimana kaum muda
menjaga tubunya terhadap seksualitas yang salayaknya.
Kedua,
pergaulan bebas. Menurut saya, solusia yang baik untuk mengatasi pergaulan
bebas ialah adanya suatu control baik dari pihak orang tua, guru di sekolah dan
pemerintah. Dalam artinya dalam pergaulan kaum muda itu perlu ada batasan dan
ketegasan dari ketiga pihak tersebut. Orangtua, tanpa menekan dan membatasi
kegbebasan anak, ia harus memberikan sebanyak mungkin nasehat dan
pandangan-pandanagan bagaimana seharusnya bergaul bebas terpimpin di dalam masyarakat.
Guru di Sekolah agar memberikan pembinaan khusus kepada anak muda tentang
pengaruh pergaulan bebas itu dan dampak buruknya dalam pergaulan kaum muda,
setiap orang dapat tahu sejauh mana ia mampu berelasi dengan teman sebayanya.
Sedangkan pemerintah perlu membatasi tempat-tempat hiburan yang menarik
perhatian kaum muda untuk tergiur ke sana. Sebab hal itu perlahan-lahan dapat
memberi warna buruk bagi perkembangan hidup kaum muda dan banyak terjadi kaum
muda lupa daratan.
Ketiga,
kisah nyata kehamilan Tini. Solusi yang tepat menrut saya adalah terpaksa
harus kawin. Meskipun ada pro kontra
antara kedua belah pihak karena agama, Keluarga dari pihak Tini menghendaki
Tono untuk mengawini Tini, dari ayahnya mau Tini menggugurkan, kesulitan
keluarga Tono membentuk keluargha baru ini dan kesulitan karena keduanya belum
memiliki pekarjaan dan seterusnya. Manurut saya, langka yang pertama-tama
diambil ialah; harus adanya suatu koordinasi yang baik antara kedua keluarga.
Kedua, menanyakan persetujuan mereka berdua untuk mau menikah secara Islam atau
menikah secara Katolik. Dan yang ketiga, jika sudah mencapai suatu kesepakatan
yang baik antara kedua belah pihak maka perlu pertanggungjawaban yang serius
dari pihak laki-laki; kurang labih pengaturan selanjutnya. Sebab mau kembali ke
sekolah juga sudah tidak bisa, terpaksa harus kawin dan menjalani keluarga
baru.
Drs. Philips Tangdilintin, MM, PEMBINAAN
GENERASI MUDA, KANISIUS, JOGYAKARTA, 2008, HLM. 50.
Al. Purwa Hadiwardoyo, MSF, Masalah Sosial
Aktual- Sikap Gereja Katolik, Kanisius, Jogyakarta, 2006, hlm.60.
Al. Budyapranata Pr. Membangun Keluarga Kristiani, Kanisius, Jogyakarta, 1981, hal. 140 ..
Al. Budyapranata Pr. Membangun Keluarga Kristiani, Kanisius, Jogyakarta, 1981.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar