MANAJEMEN PERKOTAAN
MAKALAH TENTANG
SISTEM
DRAINASE LINGKUNGAN
RT01/RW01 KELURAHAN
VIM
DISTRIK
ABEPURA
JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS SAINS DAN TEKNOLOGI JAYAPURA
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar .......................................................................................................... i
Daftar
Isi .................................................................................................................... ii
Daftar
Tabel ................................................................................................................ iii
Daftar
Gambar ............................................................................................................ iv
Bab
I Pendahuluan ................................................................................................... 1
1.1
Latar Belakang ....................................................................................................... 1
1.2
Maksud dan Tujuan ............................................................................................... 2
1.3
Ruang Lingkup ....................................................................................................... 2
1.4
Teknik
Pengumpulan Data ……………………………………………………….. 2
1.5 Sistematika Penulisan ............................................................................................ 3
Bab
II Landasan Teori ................................................................................................. 4
2.
1 Pengertian ............................................................................................................ 4
2. 2 Standar dan Sistem Penyediaan
Drainase ……………………………………… 4
2. 3 Sistem Jaringan Drainase ………………………………………………………. 7
2. 4 Pengklasifikasian Saluran Drainase …………………………………………….. 11
2.
5 Bangunan-bangunan Sistem Drainase dan Pelengkapnya ……………………… 13
2.
6 Perencanaan Drainase .......................................................................................... 16
Bab III Kondisi Eksisting Wilayah
Studi …………………………………………… 18
3.1 Kondisi
Makro …………………………………………………………………… 18
3.1.1
Keadaan Umum …………………………………………………………… 18
3.1.2 Keadaan Sosial Ekonomi ……………………………………………… 18
3.2 Kondisi Mikro ……………………………………………………………………. 20
3.2.1
Keadaan Umum ………………………………………………………….. 20
3.2.2 Keadaan
Sosial Ekonomi ………………………………………………… 21
Bab IV Pembahasan …………………………………………………………………. 23
4.1
Perumusan Masalah ............................................................................................. 23
4.2 Sistem Drainase ………………………………………………………………… 23
4.3 Peran serta Masyarakat …………………………………………………………. 26
4.4 Permasalahan Drainase ………………………………………………………… 26
4.5 Pemecahan Masalah ........................................................................................... 28
Bab V Penutup ……………………………………………………………………… 29
5.1 Kesimpulan ………………………………………………………………………. 29
5.2 Saran ……………………………………………………………………………. 29
Daftar
pustaka
Lampiran
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Batas Sempadan Sungai Minimum ………………………………………. 6
Tabel 2.2 Bentuk dan Fungsi Saluran
Tertutup (Sewerage) ……………………….. 14
Tabel 2.3 Bentuk-bentuk
umum saluran terbuka dan Fungsinya ................................. 14
Tabel 3.1 Keadaan Struktuk Penduduk Kelurahan Vim Tahun 2007 ………………. 19
Tabel 3.2 Banyaknya Pencari Kerja berdasarkan pendidikan Kota Jayapura
Tahun 2007 ……………………………………………………………….. 19
Tabel 3.3 Rata-rata Guru dan Murid terhadap Sekolah serta Ratio Murid
terhadap
Guru menurut jenis Pendidikan dan Status tahun 2007 …………………… 20
Tabel 3.4 Keadaan Struktuk Penduduk RT01/RW01 Kelurahan Vim Tahun 2008 …. 22
Tabel 3.5 Banyaknya Sekolah dan Guru berdasarkan jenjang pendidikan di
kelurahan VIM tahun 2007 ……………………………………………… 22
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Konfigurasi
Sistem Drainase Perkotaan (Grigg, 1996 dgn modifikasi) … 8
Gambar 3.1 Peta
Sketsa Lokasi Studi Prasarana Drainase …………………………. 21
Gambar 4.1 Bentuk Saluran Drainase terbuka di RT 01/RW01 ……………………. 24
Gambar 4.2 saluran drainase tertutup di RT 01/RW01 ……………………………. 25
Gambar 4.3 Drainase Primer …………………………………………………….. 26
Gambar 4.4 Drainase Sekunder ……………………………………………………… 26
Gambar 4.5 Drainase Tersier ………………………………………………………. 26
Gambar 4.6 Sampah di saluran drainase ................................................................... 28
Gambar
4.7 Sampah disekitar drainase ..........................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Perumahan
adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau
lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Dalam
rangka meningkatkan kualitas lingkungan yang sehat, aman, harmonis dan dinamis perlu
menciptakan iklim yang kondusif dalam penyelenggaraan pembangunan dengan
mengoptimalkan sumber daya pendukung salah satunya prasarana drainase
Prasarana drainase dimaksudkan untuk pembuangan kelebihan air yang tidak diinginkan pada suatu
daerah. Dari sudut pandang yang lain, drainase adalah salah satu unsur dari
prasarana umum yang dibutuhkan masyarakat kota dalam rangka menuju kehidupan
kota yang aman, nyaman, bersih dan sehat. Prasarana drainase disini berfungsi
untuk mengalirkan air permukaan ke badan air (sumber air permukaan dan bawah
permukaan tanah) dan atau bangunan resapan. Selain itu juga berfungsi sebagai
pengendali kebutuhan air permukaan dengan tindakan untuk memperbaiki daerah
becek, genangan air dan banjir.
RT 01/RW01 kelurahan Vim memiliki penduduk sebanyak 1.024
jiwa dengan kepadatan 227 Jiwa/Ha.
Dengan jumlah yang terus bertambah tentunya membutuhkan ruang untuk hidup secara
sehat. Dengan bertambahnya jumlah penduduk secara fakta setiap orang
menghasilkan limbah rumah tangga baik itu limbah yang bersifat cair maupun limbah padat. Hasil
limbah cair dibuang dan dialirkan langsung ke saluran drainase yang berakhir di
saluran drainase primer. Sedangkan limbah padat sebagian besar dibuang ke
tempat sampah dan sebagian lagi dibuang dan dibiarkan menumpuk di saluran
drainase yang ada, sehingga membuat saluran drainase tersumbat yang menyebabkan
pendangkalan dan penyempitan pada saluran drainase yang menyebabkan kapasitas
daya tampung drainase berkurang sehingga terjadi genangan pada sesaat setelah hujan.
Pertambahan jumlah penduduk, peningkatan debit, amblesan tanah juga merupakan
beberapa hal yang meyebabkan penurunan daya tampung prasarana drainase.
Berdasarkan kondisi yang ada diatas sudah semestinya
pemerintah memperhatikan permasalahan drainase kota, karena apabila tidak
diperhatikan bukan tidak mungkin prasarana drainase yang ada sekarang ini
nantinya tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai saluran penampung air
permukaan.
1.2
Maksud dan Tujuan
1.2.1
Maksud
Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui
dan mengidentifikasi sistem drainase dan permasalahan prasarana drainase yang
ada di RT 01/RW 01 Kelurahan VIM Distrik Abepura. Sehingga diharapakan dapat
memberikan solusi untuk pemecahan permasalahan yang ada baik secara teknis
maupun non teknis.
1.2.2
Tujuan
Tujuan dari
penulisan makalah ini adalah:
Agar
Mahasiswa dapat mengerti dan Memahami tentang prasarana drainase
Agar
Mahasiwa dapat melihat dengan langsung permasalahan drainase yang ada di
wilayah studi yang diamati dan dapat memberikan solusi terhadap permasalahan
drainase.
1.3
Ruang Lingkup
Adapun yang menjadi ruang lingkup penulisan makalah ini
adalah sistem prasarana drainase di lingkungan RT 01/RW01 kelurahan VIM distrik
Abepura Kota Jayapura.
1.4 Teknik Pengumpulan Data
1.4.1 Data Primer
Pengumpulan data primer diperoleh dengan survey dan
melihat langsung kondisi eksisting di lapangan
Data
Sekunder
Diperoleh
dari metode pustaka serta instansi-instansi pemerintah yang berhubungan dengan
kegiatan penelitian.
Sistematika Penulisan
|
Bab
I
|
Pendahulan
Pada Bab ini membahas
tentang latar belakang, maksud, tujuan, ruang lingkup, teknik pengumpulan
data dan sistematika Penulisan
|
|
Bab
II
|
Landasan Teori
Pada Bab ini membahas
tentang Landasan Teori yang berhubungan dengan prasarana drainase
|
|
Bab
III
|
Kondisi Eksisting
Wilayah Studi
Pada Bab ini membahas
tentang kondisi wilayah Studi secara umum dan keadaan prasana drainase di
wilayah studi
|
|
Bab
IV
Bab
V
|
Pembahasan
Pada Bab ini membahas
tentang Sistem dan Permalahan Drainase di wilayah studi
Penutup
Pada Bab ini berisi
tentang kesimpulan dan saran
|
BAB II
LANDASAN TEORI
2. 1 Pengertian
Pengertian Drainase menurut Suhardjono (1984:1) yaitu
suatu cara pembuangan kelebihan air yang tidak diinginkan pada suatu daerah,
serta cara-cara penanggulangan akibat yang ditimbulkan oleh kelebihan air
tersebut.
Dari sudut pandang yang lain, drainase adalah salah satu
unsur dari prasarana umum yang dibutuhkan masyarakat kota dalam rangka menuju
kehidupan kota yang aman, nyaman, bersih dan sehat. Prasarana drainase disini
berfungsi untuk mengalirkan air permukaan ke badan air (sumber air permukaan
dan bawah permukaan tanah) dan atau bangunan resapan. Selain itu juga berfungsi
sebagai pengendali kebutuhan air permukaan dengan tindakan untuk memperbaiki
daerah becek, genangan air dan banjir. Kegunaan dengan adanya
drainase ini antara lain :
Mengeringkan daerah becek dan genangan
air sehingga tidak ada akumulasi air permukaan tanah.
Menurunkan
permukaan air tanah pada tingkat yang ideal.
Mengendalikan erosi tanah, kerusakan
jalan dan bangunan yang ada.
Mengendalikan air hujan yang berlebihan
sehingga tidak terjadi bencana banjir.
2.
2 Standar dan Sistem Penyediaan Drainase
Penyediaan
sistem drainase harus disesuaikan dengan kondisi eksisting lahan tempat sistem
tersebut akan dibangun. Macam-macam sistem drainase yang ada antara lain:
Sistem Drainase Utama, yaitu sistem
drainase perkotaan yang melayani kepentingan sebagian besar warga masyarakat
kota.
Sistem Drainase Lokal, yaitu sistem
drainase perkotaan yang melayani kepentingan sebagian kecil warga masyarakat
lingkungan setempat.
Sistem Drainase Terpisah, yaitu sistem
drainase yang mempunyai jaringan saluran pembuangan terpisah untuk air
permukaan atau air limpasan.
Sistem Drainase Gabungan, yaitu sistem
drainase yang mempunyai jaringan saluran pembuangan yang sama, baik untuk air
genangan atau air limpasan yang telah diolah.
Kemampuan
permukaan tanah untuk merembeskan air secara alami yang dibagi menjadi 3 kelas,
yaitu drainese baik/tidak pernah tergenang, drainase tergenang periodik dan
drainase tergenang terus-menerus.
Sasaran
penyediaan sistem drainase dan pengendalian banjir adalah :
1. Penataan
sistem jaringan drainase primer, sekunder dan tersier melalui normalisasi maupun
rehabilitasi saluran guna menciptakan lingkungan yang aman baik terhadap
genangan, luapan sungai, banjir kiriman, maupun hujan lokal. Dari masing-masing
jaringan dapat didefinisikan sebagai berikut :
Jaringan
Primer, saluran yang memanfaatkan sungai dan anak sungai
Jaringan
Sekunder, saluran yang menghubungkan saluran tersier dengan saluran primer
(dibangun dengan beton/plesteran semen)
Jaringan
Tersier, mengalirkan limbah rumah tangga ke saluran sekunder, berupa plesteran,
pipa dan tanah.
2.
Memenuhi
kebutuhan dasar/basic need drainase bagi kawasan hunian dan kota.
3.
Menunjang
kebutuhan pembangunan/development need dalam menunjang terciptanya skenario
pengembangan kota untuk kawasan andalan dan menunjang sektor unggulan yang
berpedoman pada Rencana Umum Tata Ruang Kota.
Sedangkan arahan dalam pelaksanaannya adalah :
1.
Harus
dapat diatasi dengan biaya ekonomis.
2.
Pelaksanaannya
tidak menimbulkan dampak sosial yang berat.
3.
Dapat dilaksanakan dengan teknologi
sederhana.
4.
Memanfaatkan semaksimal mungkin saluran
yang ada.
5.
Jaringan drainase harus mudah
pengoperasian dan pemeliharaannya.
6.
Mengalirkan air hujan ke badan sungai
yang terdekat.
Standarisasi untuk
penempatan perumahan di pinggiran saluran primer atau sungai untuk sungai Brantas
mengacu pada Provinsial Water Reclement (PWR) Bab II Ps. 2 tentang “Pemakaian
Bebas dari Perairan Umum” (Waterrocilijn); yaitu :
Pasal
2 :
1. Dilarang
menempatkan sebuah bangunan apapun, atau memperbaharui seluruhnya atau sebagian
dalam jarak diukur dari kaki tangkis sepanjang perairan umum atau bilamana
tidak ada tangkis, dari pinggir atas dari tamping (talud) perairan umum kurang
dari :
20
meter untuk sungai-sungai tersebut dalam daftar 1 dari verordening ini.
5
meter untuk sungai-sungai tersebut dalam daftar 2 dari verordening ini,
demikian juga untuk saluran pengaliran dan pembuangan dengan kemampuan
(kapasistet) 4 meter kubik/detik atau lebih.
3
meter untuk saluran-saluran pengairan, pengambilan dan pembuangan kemampuan
normal 1 s/d 4 meter kubik/detik.
2
meter untuk saluran-saluran pengairan pengambilan dan pembuangan kemampuan
normal kurang dari 1 meter kubik/detik.
Batas Sempadan Sungai Minimum berdasarkan Peraturan
Menteri PU RI nomor 63/PRT/1993; yaitu :
Tabel
2.1.
Batas Sempadan Sungai Minimum
|
Tipe
sungai
|
Diluar
kawasan Perkotaan
|
Didalam
garis sempadan
|
Ket
|
||
|
Kriteria
|
Sempadan
|
Kriteria
|
Sempadan
|
||
|
Sungai bertanggul diukur dari kaki tanggul terluar
|
-
|
5 meter
|
-
|
3 meter
|
Pasal 6
|
|
Sungai tak bertanggul diukur dari tepi sungai
|
Sungai besar luas DPS > 500 km2
|
100 meter
|
Kedalaman maksimum
> 20 m
|
30 meter
|
Pasal 7 dan
Pasal 8
|
|
Kedalaman maks > 3 m dan < 20 m
|
15 meter
|
||||
|
Sungai kecil luas DPS < 500 km2
|
50 meter
|
Kedalaman maksimum
< 3 m
|
10 meter
|
||
|
Danau/
waduk
|
-
|
50 meter
|
-
|
50 meter
|
Pasal 10
|
Sumber :
Data Pokok Peraturan Menteri PU, 1993
2. 3 Sistem Jaringan Drainase
2.3.1 Sistem Drainase Mayor/Primer sampai Sekunder
Sistem drainase mayor yaitu sistem saluran/badan air yang
menampung dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (Catchment
Area). Biasanya sistem ini menampung aliran yang berskala besar dan luas
seperti saluran drainase primer, kanal-kanal atau sungai-sungai. Pada umumya
sistem drainase mayor ini disebut juga sebagai sistem saluran pembuangan utama
(major system) atau drainase primer. Sistem ini merupakan penghubung antara
drainase dan pengendalian banjir. Debit rencananya untuk daerah urban urban
umumnya dipakai dengan periode ulang antara 5 sampai 10 tahun. Di Indonesia
mengingat keterbatasan dana untuk sungai-sungai besar yang berfungsi sebagai
pengendalian banjir biasanya dipakai periode ulang antara 25 sampai 50 tahun.
Kondisi wilayah yang berbukit atau daerah yang kemiringan
tanahnya cukup, persoalan pembuangan/pengaliran airnya tidak begitu sulit
pemecahannya, karena perbedaan tingginya cukup besar sehingga air yang mengalir
sangat cepat. Bilamana kemiringannya mencapai > 0,001 perlu dibuatkan
terjunan yang berfungsi untuk mengurangi kemiringan saluran dan memperlambat
aliran. Persoalan yang dihadapi di daerah perbukitan umumnya gerusan, karena
sifat aliran yang deras.
Akan tetapi di daerah yang datar terutama di daerah kota
yang relatif datar ataupun pantai yang terkena pengaruh pasang surut,
kadang-kadang tidak terdapat beda tinggi yang cukup untuk pengaliran. Air
cenderung mengalir dengan lambat, bahkan timbul aliran balik akibat pengaruh
pasang sehingga memungkinkan terjadinya sedimentasi. Pengaruh kemiringan yang
landai dan kenaikan muka air laut cukup dominan. Pengukuran topografi yang
detail mutlak diperlukan untuk perencanaan sistem drainase ini.
Gambar 2.1.
Konfigurasi Sistem Drainase
Perkotaan (Grigg, 1996 dgn modifikasi)
2.3.2 Sistem Drainase Mikro
Drainase mikro yaitu sistem saluran dan bangunan pelengkap drainase yang
menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan hujan dimana sebagian besar
di dalam wilayah kota. Secara keseluruhan yang termasuk dalam sistem drainase
mikro adalah: saluran di sepanjang sisi jalan, saluran/selokan air hujan di
sekitar bangunan, gorong-gorong, saluran drainase kota dan lain sebagainya
dimana debit air yang dapat ditampungnya tidak terlalu besar.
Pada umumnya drainase mikro ini direncanakan untuk hujan
dengan masa ulang 2, 5 atau 10 tahun tergantung pada tata guna tanah yang ada. Sistem
drainase untuk lingkungan permukiman lebih cenderung sebagai sistem drainase
mikro.
Dari segi konstruksinya sistem saluran/drainase mikro
dapat dibedakan atas dua bagian yaitu :
a.
Sistem
saluran tertutup
Pengertian sistem saluran tertutup tidak sama dengan
aliran dalam pipa. Aliran air masih bersifat gravitasi (aliran pada saluran
terbuka) hanya konstruksi diatasnya dibuat tertutup sehingga dapat dimanfaatkan
untuk bangunan yang lain. Sistem ini cukup bagus digunakan di daerah perkotaan
terutama untuk kota yang tinggi kepadatannya seperti kota Metroplitan dan
kota-kota besar lainnya. Lahan yang tersedia sudah begitu terbatas dan mahal
harganya, sehingga kadang-kadang tidak memungkinkan lagi untuk membuat sistem
saluran terbuka. Walaupun tertutup sifat alirannya merupakan sifat aliran pada
saluran terbuka yang mengalir secara gravitasi.
Berdasarkan fungsinya sistem dapat dibedakan menjadi 3,
yaitu : sistem saluran tepisah yatu hanya untuk mengalirkan air hujan saja
ataupun untuk mangalirkan air limbah penduduk saja, dan dapat juga berupa
gabungan dari kedua fungsi tersebut tergantung pada kepentingannya. Saluran
tertutup ini dapat berupa pipa beton bertulang besi, besi tuang, tanah liat,
plastik (PVC) atau bahan-bahan lain yang tahan karat (korosif) tergantung
kondisi lapangan. Pemasangan dilakukan sesuai dengan desain sistem drainase
secara keseluruhan. Bisa saja langsung dipasang dengan permukaanya sejajar muka
tanah atau ditanam beberapa meter di bawah muka tanah sesuai dengan desain
topografinya. Pada daerah yang padat sistem saluran tertutup didesain dengan
kekuatan untuk dapat mendukung beban diatasnya.
Untuk saluran yang besar (terutama saluran primer) dapat
dibuat dengan pembangunan setempat. Namun pabila bentuknya relatif lebih kecil
dan dapat mudah diangkut dapat dibuat prefabricated. Harganya dapt lebih murah
karena dibuat secara masal.
Air hujan yang masuk ke dalam saluran melalui bangunan inlet atau catch basin. Pada
outlet saluran dibuat juga konstruksi khusus untuk mencegah terjadinya
erosi/gerusan. Untuk keperluan pengawasan pemeliharaanya, pada tiap belokan,
perubahan dimensi atau bentuk dan pada setiap pertemuan saluran serta pada
setiap jarak 25-50 m dibuat bangunan pemeriksa (manhole).
Dengan sistem saluran tertutup ini kemungkinan terhadap
penyalahgunaan saluran drainase yang biasanya terjadi seperti tempat pembuangan
sampah atau tempat membuang kotoran manusia dapat dihindari serta memungkinkan
pemanfaatan permukaan tanah untuk keperluan-keperluan lain.
Kesulitan pelaksanaannya tidak terlepas pula dari
persoalan non-teknis karena misalnya, harus membongkar jalan umum, membongkar
rumah-rumah yang sudah terlanjur dibangun, memindahkan instalasi-instalasi
bawah tanah, tiang listrik, telepon dan lain-lain. Mutu pekerjaan harus
benar-benar baik karena sifatnya yang sekali terpasang sulit untuk diubah
kembali.
Manajemen pemeliharaannya harus juga baik, sebab meskipun
dibandingkan dengan saluran terbuka lebih aman terhadap kerusakan, tetapi lebih
sulit melaksanakannya. Mengingat biaya untuk pembuatan sistem saluran tertutup
ini cukup besar dan memerlukan teknologi yang lebih tinggi baik dalam
perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaanya maka pada saat sekarang di
Indonesia sistem ini belum begitu mendapat perhatian utama.
b.
Sistem
saluran terbuka
Biaya pembuatan sistem saluran terbuka biasanya lebih
rendah dan tidak memerlukan teknologi yang begitu rumit sehingga sistem ini
cenderung lebih sering digunakan sebagai alternatif pilihan dalam penanganan
masalah drainase perkotaan. Sistem pemeliharaanya relatif mudah dilakukan.
Sistem saluran terbuka ini biasanya direncanakan hanya
untuk menampung dan mengalirkan air hujan (sistem terpisah). Namun kebanyakan
sistem saluran ini berfungsi sbagai saluran campuran (gabungan) dimana misalnya
sampah dan limbah penduduk dibuang ke saluran tersebut. Sebagai catatan limbah
penduduk merupakan limbah terbesar dibandingkan dengan limbah lainnya. Namun
biasanya tidak begitu bahaya dibandingkan dengan limbah pabrik baja, tekstil
sehingga untuk limbah penduduk tidak dibuat treatment plant.
Persoalan lainnya adalah sampah masih merupakan persoalan yang
rumit karena disamping budaya menganggap saluran/sungai sebagai tempat buangan
juga diakibatkan kapasitas tampungan sampah yang ada kurang memadai. Bahkan
dalam masyarakat ada anggapan bahwa sungai sebagai tempat buangan (lihat
penggalan lagu ”e asune mati e buakno kali”). Akibatnya banyak permukiman
disekitar drainase yang membelakangi sungai.
Saluran yang baru selesai dibangun tidak dapat lagi
berfungsi karena penuh timbunan sampah.
Pada pinggiran kota, saluran terbuka ini biasanya tidak
diberi lining (lapisan pelindung). Perlindungan tebing cukup memakai gebalan
rumput saja. Akan tetapi saluran terbuka di dalam kota harus diberi lining
dengan beton, pasangan batu (masonry) ataupun dengan pasangan bata. Penampungan
saluran ini biasanya dibuat berbentuk trapesium. Namun kadang-kadang mengingat
kondisi lapangan misalnya karena keterbatasan lahan yang tersedia sudah tidak
memungkinkan lagi maka penampang saluran dibuat persegi. Dasarnya dapat berupa
setengah lingkaran atau datar maupun kombinasi dari keduanya. Apabila
diperlukan, saluran ini dapat juga ditutup dengan plat beton. Tetapi harus
dibuat lubang/celah pemasukan agar air dapat mengalir masuk ke dalam saluran
lewat lubang ataupun celah-celap plat tersebut.
2. 4 Pengklasifikasian Saluran Drainase
Sistem
jaringan drainase di dalam wilayah kota umumnya dibagi atas 2 bagian yaitu :
drainase mayor dan drainase minor.
Macam
saluran untuk pembuangan air, menurut De Chaira dan Koppelmen (1994:74) dapat
di bedakan menjadi :
1.
Saluran Air Tertutup, diklasifikasikan
lagi menjadi :
a. Drainase Bawah Tanah Tertutup, dimana menerima
air limpasan dari daerah yang diperkeras maupun yang tidak diperkeras dan
membawanya ke sebuah pipa keluar di sisi tapak (saluran permukaan atau sungai),
ke sistem drainase kota. Keuntungannya yaitu dapat menampung volume dan
kecepatan yang meningkat sehingga tidak menyebabkan erosi dan kerusakan pada
tapak. Keterbatasannya sedimen tidak tersaring dari limpasan karena adanya
kecepatan limpasan yang meningkat sehingga daerah sekitar tapak rentan terhadap
sedimentasi dan erosi.
b. Drainase Bawah Tanah Tertutup dengan tempat
penampungan pada tapak, dimana drainase ini memiliki keuntungan seperti diatas,
tetapi kerusakan diluar tapak lebih dapat dihindari.
2.
Saluran Air Terbuka, menurut Chow
(1989:17), merupakan saluran yang mengalirkan air dengan suatu permukaan bebas.
Pada saluran terbuka jika ada sampah yang menyumbat dapat dengan mudah untuk
dibersihkan, namun bau yang ditimbulkan dapat mengurangi kenyamanan. Menurut
asalnya saluran dibedakan menjadi :
a. Saluran Alam (natural), meliputi selokan
kecil, kali, sungai kecil dan sungai besar sampai saluran terbuka alamiah.
b. Saluran Buatan (artificial), seperti saluran
pelayaran, irigasi, parit pembuangan dan lain-lain. Saluran terbuka buatan
mempunyai istilah yang berbeda-beda antara lain :
§ Saluran
(canal) : biasanya panjang dan
merupakan selokan landai yang dibuat di tanah, dapat dilapisi pasangan
batu/tidak atau beton, semen, kayu maupun aspal.
§ Talang
(flume) : merupakan selokan dari
kayu, logam, beton/pasangan batu, biasanya disangga/terletak di atas permukaan
tanah, untuk mengalirkan air berdasarkan perbedaan tinggi tekanan.
§ Got
Miring (chute) : selokan yang curam.
§ Terjunan
(drop) : seperti got miring dimana perubahan tinggi air terjadi dalam jangka
pendek.
§ Gorong-gorong
(culvert): selokan tertutup yang
pendek dipakai untuk mengalirkan air melalui tanggul jalan raya.
§ Terowongan
Air terbuka (open-flow tunnel):
selokan tertutup yang cukup panjang, dipakai untuk mengalirkan air menembus
bukit/gundukan tanah.
3.
Saluran Air Kombinasi, dimana limpasan
air terbuka dikumpulkan pada saluran drainase permukaan, sementara limpasan
dari daerah yang diperkeras dikumpulkan pada saluran drainase tertutup.
Penampang
saluran buatan biasanya dirancang berdasarkan bentuk geometris yang umum,
menurut Chow (1989: 18) antara lain :
Trapesium : merupakan bentuk yang paling
umum dipakai untuk saluran berdinding tanah yang tidak dilapisi, sebab stabilitas
kemiringan dindingnya dapat disesuaikan.
Persegi Panjang : untuk saluran yang
dibangun dengan bahan stabil, seperti pasangan batu, padas, logam/kayu.
Segitiga : dipakai untuk saluran kecil,
selokan dan penyelidikan di laboratorium.
Lingkaran : dipakai untuk saluran
pembuangan air kotor dan gorong-gorong berukuran sedang/kecil.
Parabola : dipakai sebagai penampang
pendekatan untuk saluran alam berukuran sedang maupun kecil
Modifikasi seperti berupa : penampang
persegi panjang yang ujung-ujungnya dibulatkan, penampang segitiga yang ujung
bawahnya dibulatkan (terjadi akibat penggalian dengan sekop), penampang
lingkaran modifikasi (bulat telur, elips, bentuk U, lagam kuda).
2. 5 Bangunan-bangunan
Sistem Drainase dan Pelengkapnya
2.5.1 Bangunan-bangunan
Sistem Saluran Drainase
Bangunan-bangunan dalam sistem drainase adalah
bangunan-bangunan struktur dan bangunan-bangunan non struktur.
a. Bangunan Struktur
Bangunan struktur hádala bangunan pasangan disertai
dengan perhitungan-perhitungan kekuatan tertentu. Contoh bangunan struktur
adalah :
-
Bangunan
rumah pompa
-
Bangunan
tembok penahan tanah
-
Bangunan
terjunan yang cukup tinggi
-
Jembatan
b. Bangunan Non Struktur
Bangunan non struktur adalah bangunan pasangan atau tanpa
pasangan, tidak disertai dengan perhitungan-perhitungan kekuatan tertentu yang
biasanya berbentuk siap pasang. Contoh bangunan non struktur adalah :
-
Pasangan
: saluran Cecil tertutup, tembok talud saluran, manhole/bak control usuran
Cecil, street inlet.
-
Tanpa
pasangan : saluran tanah dan saluran tanah berlapis rumput.
2.5.2 Bangunan
Pelengkap Saluran Drainase
Bangunan pelengkap saluran drainase diperlukan untuk
melengkapi sutatu sistem saluran untuk fungÃs-fungsi tertentu. Pada dasarnya
bangunan pelengkap drainase haruslah kuat, fungsional, tidak menyebabkan ketidaknyamanan
berkendaraan, dan tidak merusak keindahan kota. Adapun bangunan-bangunan
pelengkap sistem drainase antara lain :
Catch Basin/watershed
Bangunan dimana air masuk ke dalam sistem saluran
tertutup. Air mengalir bebas diatas permukaan tanah menuju match basin. Untuk
mempermudah air masuk, lokasi catch basin ditetapkan pada tempat yang rendah.
Permukaan juga dibuat lebih rendah dari tanah disekelilingnya. Catch basin
dibuat pada tiap persimpangan jalan, pada tempat-tempat yang rendah, tempat parkir.
Inlet
Apabila terdapat saluran terbuka dimana pembuangannya
akan dimasukkan ke dalam saluran tertutup yang lebih besar, maka dibuat statu
konstruksi khusus inlet. Inlet harus diberi saringan agar sampat tidak masuk ke
dalam saluran tertutup.
Tabel 2.2.
Bentuk
dan Fungsi Saluran Tertutup (Sewerage)
|
No.
|
Bentuk saluran
|
Fungsinya
|
|
1.
|
|
Berfungsi untuk menyalurkan limpasan air hujan maupun limbah air
bekas (air limbah) rumah tangga atau keduanya.
Konstruksi sistem saluran ini
cocok dipakai untuk pertokoan yang sangat padat dan lahan yang tersedia telah
terbatas
|
|
2.
|
|
Berfungsi untuk menyalurkan air hujan dan limbah air bekas dimana
fluktuasi debitnya besar. Bentuk yang panjang mengecil ini berfungsi untuk
mendapatkan kedalaman air yang cukup untuk dapat menghanyutkan endapan paclat dan tinja walaupun debitnya kecil.
|
|
3.
|
Segi Empat
|
Berfungsi untuk mengalirkan air hujan dalam jumlah besar dimana
bagian atasnya terdapat bangunan. Walaupun daya alirannya tidak sebaik yang
bebentuk bulat telur namun pelaksanaannya relatif lebih mudah.
|
Sumber : Manajemen Dan
Rekayasa Infrastruktur (Robert J. Kodoatie, Ph.D.)
Tabel 2.3.
Bentuk-bentuk umum
saluran terbuka dan Fungsinya
|
No.
|
Bentuk saluran
|
Fungsinya
|
|
1.
|
Trapesium
|
Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan
air hujan dengan debit yang besar. Sifat alirannya terus‑mcnerus dengan fl u
ktuasi kecil. Bentuk saluran ini dapat digunakan pada daerah yang masih cukup
tersedia lahan.
|
|
2.
|
|
Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air huian dengan
debit yang besar dan kecil. Sitar alirannya berfluktuasi besar dan terus‑menerus
tapi debit minimumnya masih cukup besar.
|
|
3.
|
|
Fungsinya sama dengan bertuk (2) sifat alirannya terus‑menerus dan
berfluktuasi besar dengan debit minimum kecil. Fungsi bentuk setengah
lingkaran ini adalah untuk menampung dan mengalirkan debit minimum tersebut.
|
|
4.
|
|
Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan
limpasan air huian dengan debit yang besar. Sifat alirannya terus‑menerus
dengan fluktuasi kecil.
|
|
5.
|
|
Bentuk saluran segi empat ini digunakan
pada lokasi jalur saluran yang tidak mempunyai lahan yang cukup/terbatas. Fungsinya sama dengan bentuk (2) dan (3).
|
|
6.
|
|
Berfungsi untuk menyalurkan limbah air hujan untuk debit yang kecil.
Bentuk saluran ini umum digunakan untuk salura‑saluran rurnah penclud u k dan
pada sisijalan perumahan padat
|
Sumber
: Manajemen Dan Rekayasa Infrastruktur (Robert J. Kodoatie, Ph.D.)
Manhole
Untuk keperluan pemeliharaan sistem saluran drainase
tertutup di setiap saluran diberi manhole pertemuan, perubahan dimensi,
perubahan bentuk selokan pada setiap jarak 10 – 25 meter. Lubang manhole dibuat
sekecil mungkin supaya ekonomis, cukup, asal dapat dimasuki oleh orang dewasa.
Biasanya diameter lubang adalah 60 cm dengan tutup dari besi tulang.
Headwall
Headwall adalah konstruksi khusus pada outlet saluran
tertutup dan ujung gorong-gorong yang dimaksudkan untuk melindungi dari longsor
dan erosi.
Gorong-gorong
Gorong-gorong didesain untuk mengalirkan air untuk
menembus jalan raya, jalan kereta api, atau lain-lain halangan. Bentuk
penampangnya dapat berupa lingkaran, segi empat dan lain-lain tergantung dari
debit, ruang bebas dari atasnya, perhitungan ekonomi dan peraturan setempat.
Bangunan terjun
Bangunan ini digunakan untuk menerjunkan aliran. Dengan
adanya terjunan dasar saluran di hulu dan hilirnya bisa lebih landai, hal ini
diperlukan jika kemiringan medan sangat curam dan dikhawatirkan bengunan
saluran tidak stabil. Bangunan ini juga dilengkapi dengan tolakan untuk meredam
energi, dan banyak jenisnya.
Shipon
Siphon dibuat bilamana ada persilangan dengan sungai.
Shipon dibangun dibagian bawah dari penampang sungai, karena tertanam di dalam
tanah meka pada waktu pembangunannya harus dibuat secara kuat sehingga tidak
terjadi keretakan ataupun kerusakan kosntruksi. Sama halnya dengan
gorong-gorong, hanyan dasar saluran menukik ke bawah dan muncul lagi pada akhir
bangunan yang dilewati. Shipon hanya digunakan jika benar-benar diperlukan dan
tidak ada alternatif lain untuk membuat persilangan dengan bangunan atau
saluran lain. Selain harganya mahal, secara hidrolis juga kurang menguntungkan
(banyak kehilangan tinggi, kecepatan rendah) dan mudak tersumbat. Sebaiknya
dalam merencanakan drainase dihindarkan perencanaan dengan menggunakan shipon,
dan sebaiknyasaluran yang debitnya lebih tinggi tetap untuk dibuat shipon dan
saluran drainasenya yang dibuat saluran terbuka atau gorong-gorong.
Bangunan got miring
Sama dengan bangunan terjun, tetapi air mengalir melalui
saluran yang kemiringannya agak landai.
2. 6 Perencanaan Drainase
2.6.1
Landasan
Perencanaan
Perencanaan
drainase perkotaan perlu memperhatikan fungsi drainase perkotaan sebagai
prasarana kota yang dilandaskan pada konsep pembangunan yang berwawasan
lingkungan. Konsep ini antara lain berkaitan dengan sumberdaya air, yang pada
prinsipnya adalah mengendalikan air hujan supaya banyak meresap dalam tanah dan
tidak banyak terbuang sebagai aliran, antara lain membuat : bangunan resapan
buatan, kolam tandon, penataan landscape dan sempadan.
2.6.2
Tahapan
Perencanaan
Tahapan Perencanan drainase perkotaan meliputi :
Tahapan
dilakukan melalui pembuatan rencana induk, studi kelayakan dan perencanaan
detail dengan penjelasan :
§ Studi kelayakan dapat dibuat sebagai kelanjutan dari
pembuatan .rencana induk.
§ Perencanaan detail perlu dibuat sebelum pekerjaan
konstruksi drainase dilaksanakan.
Drainase
perkotaan di kota raya dan kota besar perlu direncanakan secara menyeluruh
melalui tahapan rencana induk.
Drainase
perkotaan di kota sedang dan kota kecil dapat direncanakan melalui tahapan
rencana kerangka sebagai pengganti rencana induk.
Drainase
perkotaan di kota sedang yang mempunyai pertumbuhan fisik dan pertambahan
penduduk yang cepat serta drainase perkotaan yang mempunyai permasalahan rumit
karena keadaan alam setempat, perlu perencanaan yang menyeluruh melalui tahapan
rencana induk.
Drainase
perkotaan agar direncanakan dengan berbagai alternatif, dan pemilihan
alternatif yang terbaik dilaksanakan melalui proses pengkajian dengan
mempertimbangkan aspek teknik, sosial ekonomi, finansial dan lingkungan.
Survei
yang dilakukan dalam rangka perencanaan drainase perkotaan meliputi lokasi,
topografi, hidrologi, geoteknik, tata guna tanah, sosial ekonomi, institusi
atau kelembagaan penyelidikan yang dilakukan dalam rangka perencanaan drainase
perkotaan adalah rincian lebih lanjut pekerjaan survei untuk mendapatkan
parameter-parameter desain, peran serta masyarakat, kependudukan, lingkungan
dan pembiayaan.
Penyelidikan
yang dilakukan dalam rangka perencanaan drainase perkotaan adalah rincian lebih
lanjut pekerjaan survei untuk mendapatkan parameter-parameter desain.
Desain
drainase perkotaan agar dilaksanakan pada pertimbangan hidrologi, hidrolik,
struktur, dan biaya.
Penyiapan
tanah untuk pembangunan drainase perkotaan agar dilaksanakan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pelaksanaan
drainase perkotaan agar dikerjakan sesuai dengan peraturan konstruksi yang
lazim dipakai dan disetujui oleh instansi yang berwenang.
Operasi
dan pemeliharaan drainase perkotaan agar mengikuti peraturan yang lazim dipakai
dan disetujui instansi yang berwenang.
BAB III
KONDISI EKSISTING
WILAYAH STUDI
3.1 Kondisi Makro
3.1.1
Keadaan Umum
3.1.1.1 Letak dan Lokasi
Kelurahan Vim merupakan 1 (satu)
dari 8 (delapan) kelurahan di distrik Abepura dengan luas wilayah 5,9 Km2.
Untuk menuju ibukota distrik dari kelurahan Vim setidaknya menempuh jarak 3 Km
dan ibukota Kotamadya 8 Km.
Secara administrasi kelurahan vim
adalah sebagai berikut :
Sebelas Utara berbatas dengan Kelurahan Waena
Sebelah Selatan berbatas dengan kelurahan Waimoro
Sebelah Timur berbatas dengan kelurahan Wahno
Sebelah Barat berbatas dengan kelurahan Hedam
3.1.1.2 Ketinggian dari Permukaan Air Laut
Keadaan topografi
kelurahan Vim datar hingga landai dengan kelerengan 0% – 8 % dengan ketinggian 25 meter di atas permukaan
air laut.
3.1.1.3 Iklim dan Musim
Kota Jayapura
tergolong beriklim tropis basah dengan suhu minimum 20,2° C dan maksimim 32,6°
C, curah hujan rata-rata 222 mm/th. Kelembaban udara rata-rata 80,42 % dengan
kecepatan angin rata-rata 2,25 Knot di lingkungan perkotaan sampai daerah
pinggiran sehingga sangat menunjang untuk pertanian dan peternakan.
3.1.2 Keadaan Sosial Ekonomi
3.1.2.1 Penduduk
Keluarahan
Vim terdiri atas 8 (delapan ) RW dan 43 RT dengan jumlah penduduk 8.693 jiwa
dengan kepadatan 1.464 Jiwa/Km2 dengan 2.047 rumah tangga. Keadaan struktur
penduduk kelurahan Vim berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel
3.1 di bawah ini.
Tabel
3.1
Keadaan
Struktuk Penduduk Kelurahan Vim
Tahun
2007
|
No
|
Kelurahan
|
Luas
|
Jumlah
penduduk
|
Jumlah
|
Kepadatan
Jiwa/Km
|
|
|
L
|
P
|
|||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|
1.
|
Vim
|
5,9
|
4.665
|
3.974
|
8.639
|
1.464
|
Sumber
data :
Distrik
Abepura dalam Angka
2008
3.1.2.2
Ketenagakerjaan
Sedangkan keadaan ketenagakerjaan di
distrik Abepura yang mencari pekerjaan pada tahun 2007 berjumlah 24.378 jiwa
yang terdiri 12.798 tenaga kerja laki-laki dan 11.580 tenaga kerja wanita
dengan berbagai latar belakang pendidikan. Banyaknya pencari kerja menurut
pendidikan dapat dilihat pada tabel 3.2
dibawah ini.
Tabel 3.2
Banyaknya Pencari Kerja
berdasarkan pendidikan
Kota Jayapura Tahun
2007
|
No
|
Pendidikan
|
Laki-Laki
|
Perempuan
|
Jumlah
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
1
|
Tidak
/ belum tamat SD
|
13
|
13
|
26
|
|
2
|
Sekolah
Dasar
|
52
|
105
|
157
|
|
3
|
SMP
|
378
|
724
|
1.102
|
|
4
|
SMA
|
4.856
|
4.219
|
9.075
|
|
5
|
Setingkat
SLTP
|
118
|
35
|
153
|
|
6
|
Setingkat
SLTA
|
230
|
242
|
272
|
|
7
|
Sarjana
Muda
|
2.201
|
2.261
|
4.462
|
|
8
|
Sarjana
Lengkap
|
2.730
|
2.899
|
5.629
|
|
9
|
Pasca
Sarjana
|
18
|
17
|
35
|
|
|
Jumlah
|
12.798
|
11.580
|
24.378
|
Sumber
data : Distrik Abepura dalam Angka 2008
3.1.2.3
Pendidikan
Keadaan pendidikan di wilayah distrik
Abepura sudah memadai dengan jumlah sekolah pada seluruh jenjang pendidikan
sebanyak 51 sekolah, jumlah guru 1.127 dan jumlah murid sebanyak 17.369 murid
denngan rasio murid terhadap guru 15. Berikut ini keadaan pendidikan di wilayah
distrik Abepura dapat dilihat pada tabel
3.3 dibawah ini
Tabel 3.3
Rata-rata Guru dan
Murid terhadap Sekolah serta Ratio Murid terhadap Guru menurut jenis Pendidikan
dan Status tahun 2007
|
No
|
Pendidikan
|
Negeri
|
Swasta
|
||||
|
Guru per sekolah
|
Murid per sekolah
|
Murid terhadap guru
|
Guru per sekolah
|
Murid per sekolah
|
Murid terhadap guru
|
||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
|
1
|
TK
|
5,5
|
100
|
18,2
|
4,7
|
99,4
|
21
|
|
2
|
SD
|
19,2
|
393,7
|
20,5
|
15,3
|
347,1
|
22,8
|
|
3
|
SLTP
|
33
|
471
|
14,3
|
20
|
243,7
|
12,2
|
|
4
|
SMU
|
95
|
1.378
|
14,5
|
28,8
|
277,5
|
9,7
|
|
5
|
SMK
|
78,3
|
729
|
9,3
|
0
|
0
|
0
|
|
|
Jumlah
|
31,1
|
466,3
|
15
|
13,4
|
219,7
|
16,4
|
Sumber
data : Dinas P dan P Kota Jayapura
3.1.2.4
Kesehatan
Di
wilayah distrik Abepura terdapat rumah sakit Umum sebanyak 1 buah, rumah sakit
militer 1 buah, puskesmas sebanyak 1 buah dan puskesmas pembantu 5 buah. Sedangkan
tenaga dokter yang praktek di distrik Abepura tercatat sebanyak 40 orang yang
terdiri dari 25 orang Dokter Umum, 6 orang Dokter Gigi dan 9 orang Dokter ahli.
3.1.2.5
Mata Pencaharian
Penduduk
di wilayah keluraha Vim memiliki mata pencaharian yang beragam antara lain PNS,
Swasta, buruh, TNI/POLRI, bertani dan lain-lain. Setidak nya terdapat luas
panen 180 Ha yang terdiri atas komoditi Ubi kayu, Ubi jalar, Jagung dan Kacang
Tanah dengan produksi lebih kurang 829 ton pertahunnya.
3.2 Kondisi
Mikro
3.2.1 Keadaan
Umum
3.2.1.1 Letak dan Lokasi
RT 01 merupakan 1 (satu) dari 43
(empat puluh tiga) RT di kelurahan kelurahan Vim distrik Abepura dengan luas
wilayah Ha. Untuk menuju ibukota
kelurahan dari RT 01/RW 8 setidaknya menempuh jarak 0.5 Km dan ibukota Kotamadya
8 Km.
Secara administrasi RT01/RW01
Kelurahan Vim mempunyai batas sebagai berikut :
Sebelah Utara
berbatas dengan RT01/RW05 keluarahan Vim
Sebelah Selatan
berbatas dengan kelurahan Waimoro
Sebelah Timur
berbatas dengan RT01/RW02 kelurahan Vim
Sebelah Barat
berbatas dengan RT02/RW01 keluarahan Vim
Batas administrasi RT01/RW01 dapat dilihat
lebih jelas pada gambar 3.1 dibawah ini ;
Gambar 3.1 Peta Sketsa
Lokasi Studi Prasarana Drainase
3.2.1.2 Ketinggian dari Permukaan Air Laut
Keadaan topografi kelurahan RT 01/RW01 kelurahan Vim datar
hingga landai pada bagian utaranya dengan kelerengan 0% – 8 % dan
ketinggian 25 meter di atas permukaan air laut.
3.2.2
Keadaan
Sosial Ekonomi
3.2.2.1 Penduduk
RT
01 lokasi dimana studi penelitian sitem drainase dilaksanakan terletak di RW01
kelurahan Vim dengan jumlah penduduk 1.024 jiwa dengan kepadatan 227 Jiwa/Ha
dengan 241 rumah tangga. Keadaan struktur penduduk kelurahan Vim berdasarkan
jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 3.4 di bawah ini.
Tabel
3.4
Keadaan
Struktuk Penduduk RT01/RW01 Kelurahan Vim
Tahun
2008
|
No
|
Kelurahan
|
Luas
(Ha)
|
Jumlah
penduduk
|
Jumlah
|
Kepadatan
Jiwa/Ha
|
|
|
L
|
P
|
|||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|
1.
|
RT01/RW01
|
4,5
|
546
|
478
|
1.024
|
227
|
Sumber
data :
Kantor
kelurahan Vim 2009
3.2.2.2 Pendidikan
Kelurahan Vim terdapat 3 Taman
kanak-kanak dan 9 Sekolah Dasar dengan jumlah murid dan guru masing-masing
2.741 dan 129. SMP sebanyak 3 dengan jumlah guru dan murid 60 dan 731. SMU
sebanyak 3 sekolah dengan jumlah murid dan guru 877 dan 93 orang. SMK 3 sekolah
dengan jumlah murid dan guru 2.696 dan 272 orang. Lebih rinci dapat
dilihat pada tabel 3.5 dibawah ini.
Tabel 3.5
Banyaknya
Sekolah dan Guru berdasarkan jenjang pendidikan
di kelurahan VIM
tahun 2007
|
No
|
Pendidikan
|
Sekolah
|
Guru
|
Murid
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
1
2
3
4
5
|
TK
SD
SLTP
SMU
SMK
|
3
9
3
3
3
|
9
129
60
93
272
|
186
2.71
731
877
2.696
|
|
|
Jumlah
|
21
|
563
|
1.799
|
Sumber Data :
Dinas P dan P Kota Jayapura
3.2.2.3 Kesehatan
Fasilitas
kesehatan di RT01/RW01 berupa Posyandu
3.2.2.4 Mata
Pencaharian
Penduduk
di wilayah kelurahan RT01/RW01 keluarahan Vim memiliki mata pencaharian yang
beragam antara lain PNS, Swasta, buruh, TNI/POLRI, bertani dan lain-lain.
BAB IV
PEMBAHASAN
Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah dalam penyusunan makalah ini
adalah ” Identifikasi sistem dan
permasalahan drainase di lingkungan RT 01/RW 01 wilayah Kelurahan VIM distrik
Abepura”
4.2 Sistem Drainase
Drainase merupakan suatu cara pembuangan kelebihan air yang tidak diinginkan pada suatu
daerah, serta cara-cara penanggulangan akibat yang ditimbulkan oleh kelebihan
air tersebut.
Di wilayah
RT 01/RW01 Kelurahan Vim berdasarkan konstruksinya sistem drainase terdiri atas
:
a.
Drainase
terbuka
Sistem saluran terbuka ini digunkan untuk menampung dan mengalirkan air hujan. Namun sistem
saluran ini berfungsi sebagai saluran campuran (gabungan) dimana misalnya sampah dan limbah
penduduk dibuang ke saluran tersebut.
Saluran terbuka yang ada diberi lining (lapisan pelindung). Perlindungan tebing
memakai beton. Penampungan saluran ini dibuat berbentuk segi
empat dengan dasar datar datar.
Pada daerah perpotongan jalan dan tempat tertentu saluran terbuka ini dibuat
tertutup dan dibuat
lubang/celah pemasukan agar air dapat mengalir masuk ke dalam saluran lewat
lubang ataupun celah-celap plat tersebut.
Saluran
terbuka ini terdapat pada daerah lingkungan atau drainase yang lansung
berhubungan dengan limbah rumah tangga. Berikut ini gambar yang menunjukkan
bentuk saluran drainase yang ada di RT 01/RW01.
Gambar 4.1 Bentuk Saluran Drainase terbuka di RT 01/RW01
a.
Drainase tertutup kombinasi terbuka
Sistem saluran tertutup di RT01/RW01 bersifat gravitasi (aliran pada saluran terbuka) hanya
konstruksi diatasnya dibuat tertutup sehingga dapat dimanfaatkan untuk bangunan
yang lain. Kontruksi ini berada pada jaringan primer yaitu yang
berada akhir dari drainase lingkungan .
Air hujan yang masuk ke dalam saluran melalui bangunan inlet atau catch basin. Pada
outlet saluran dibuat juga konstruksi khusus untuk mencegah terjadinya
erosi/gerusan. Untuk keperluan pengawasan pemeliharaanya, pada tiap belokan,
perubahan dimensi atau bentuk dan pada setiap pertemuan saluran serta pada
setiap jarak 25-50 m dibuat bangunan pemeriksa (manhole).
Dengan sistem saluran tertutup ini kemungkinan terhadap
penyalahgunaan saluran drainase yang biasanya terjadi seperti tempat pembuangan
sampah atau tempat membuang kotoran manusia dapat dihindari serta memungkinkan
pemanfaatan permukaan tanah untuk keperluan-keperluan lain.
Manajemen pemeliharaannya harus juga baik, sebab meskipun
dibandingkan dengan saluran terbuka lebih aman terhadap kerusakan, tetapi lebih
sulit melaksanakannya. Mengingat biaya untuk pembuatan sistem saluran tertutup
ini cukup besar dan memerlukan teknologi yang lebih tinggi baik dalam
perencanaan. Berikut ini gambar yang menunjukkan saluran
drainase tertutup yang ada di RT01/RW01.
Gambar 4.2 saluran drainase tertutup di RT 01/RW01
Sedangkan berdasarkan jenisnya saluran drainase di RT
01/RW01 terbagi atas 3 jenis yaitu :
a.
Saluran Drainase Primer
Saluran drainase ini merupakan muara dari saluran drainase lingkungan di
wilayah RT01/RW01 yang terletak di sisi jalan utama Kotaraja – Abepura. Saluran
Drainase primer ini memiliki dimensi yang cukup lebar yaitu 1 – 1,5 meter
dengan kedalaman 1- 1,5 meter. Saluran drainase ini memiliki bentuk konstruksi
kombinasi yaitu terbuka dan tertutup dengan bentuk penampungan persegi dan
beton pada sisi-sisi dindingnya.
b.
Drainase Sekunder
Saluran drainase ini terbentuk disepanjang jalan utama pada lingkungan RT
01/RW01. Dimana berfungsi untuk menampung buangan limbah atau air dari saluran
tersier. Saluran drainase sekunder ini memiliki dimensi 30-50 Cm dengan
kedalaman 50 Cm. Saluran drainase ini memiliki bentuk konstruksi terbuka dengan
penampungan persegi dan beton pada sisi-sisi dindingnya.
c.
Drainase Tersier
Saluran drainase ini berada pada lingkungan perumahan di wilayah
kelurahan RT 01/RW1. Saluran ini menampung langsung limbah yang berasal dari
rumah tangga. Saluran drainase ini memiliki dimensi 15 – 30 Cm dengan bentuk
kontruksi terbuka dan penampungan persegi dan beton pada sisi-sisi dindingnya.
Gbr
4.3 Drainase Primer
Gbr
4.4 Drainase Sekunder
Gbr.
4.5 Drainase Tersier
Peta sketsa jaringan drainase terlampir
4.3 Peran
serta Masyarakat
Peran serta masyarakat terhadap sistem prasarana
drainase di lingkungan RT01/RW01 sangat dominan. Hal ini terlihat mulai dari
pembersihan saluran drainase hingga membuat jaringan drainase menjadi permanen.
Kegiatan pemeliharan prasarana drainase di lingkungan RT01/RW01 dilakukan
secara bersama-sama dengan cara gotong royong yang dipimpin oleh Ketua RT.
Kegiatan gotong royong ini dilakukan sebulan sekali pada hari libur dengan
melibatkan seluruh masyarakat lingkungan RT 01 tanpa terkecuali.
Pembuatan prasarana drainase dilakukan secara semi
swadaya dengan sumber dana berasal dari bantuan pemerintah dan iuran
bersama-sama warga lingkungan RT01/RW01. Sedangkan pengerjaannya langsung
dilaksanakan oleh warga lingkungan setempat.
4.4 Permasalahan
Drainase
Permasalahan drainase yang ada di RT01/RW01 di pengaruhi oleh beberapa
factor antara lain :
Peningkatan Debit
Manajemen sampah yang kurang baik member kontribusi percepatan
pendangkalan/penyempitan saluran. Saluran drainase menjadi berkurang sehingga
tidak mampu menampung debit yang terjadi. Pada akhirnya terjadilah genangan
pada jalan yang berdampak pada rusaknya jalan dan turunnya tinggi jalan
Peningkatan jumlah penduduk
Meningkatnya jumlah penduduk di RT01/RW01 berpengaruh pada pembangunan
infrastrukutur di wilayah tersebut. Sejalan dengan hal tersebut peningkatan
jumlah penduduk tentunya akan menghasilkan jumlah limbah, baik limbah cair
maupun sampah.
Amblesan Tanah dan sampah
Hal
ini disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebihan, mengakibatkan
beberapa bagian kota berada dibawah muka air laut pasang. Tersumbatnya saluran oleh endapan, sedimentasi atau
timbunan sampah
Elevasi saluran tidak memadai
Elevasi ini menentukan lancar tidaknya saluran air mengalir. Pada daerah
RT 01/RW8 terdapat sebagian saluran drainase tersier atau sekunder yang memiliki
elevasi lebih rendah dari saluran induknya sehingga membuat air menjadi
berbalik atau bergenang.
Tumpukan sampah
Tumpukan sampah ini berada disekitar dan disaluran drainase, terutama
drainase primer. Tumpukan sampah yang berada pada drainase primer di lingkungan
RT01/RW02 ini mengakibatkan berkurangnya daya tamping sehingga mengakibatkan
banjir saat musim hujan.
Kurangnya kesadaran masyarakat
Kurangnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan dan pemeliharaan dan
ditambah tidak disiplinya masyarakat dalam membuang sampah juga memberikan
kontribusi yang besar terhadap menurunnya daya tamping drainase di lingkungan
RT01/RW8.
4.3
Pemecahan
Masalah
Untuk memecahkan permasalahan drainase yang ada di
lingkungan RT 01/RW01 dapat dilakukan beberapa cara :
- Dibuat bak pengontrol serta saringan
agar sampah yang masuk ke drainase dapat dibuang dengan cepat agar tidak
mengendap
- Peningkatan daya guna air,
meminimalkan kerugian serta memperbaiki konservasi lingkungan
- Mengelola limpasan dengan cara
mengembangkan fasilitas untuk menahan air hujan, menyimpan air hujan
maupun pembuatan fasilitas resapan
- Diadakan penyuluhan akan pentingnya
kesadaran membuang sampah pada tempat yang telah tersedia
- Pemberian sanksi kepada siapapun yang
melanggar aturan terutama pembuangan sampah sembarangan agar masyarakat mengetahui
pentingnya melanggar drainase
'
BAB V
P E N U T U P
5.1 Kesimpulan
Sistem drainase dilingkungan RT01/RW01 berdasarkan
konstruksinya dibedakan atas konstruksi terbuka dengan bentuk penampang datar
persegi empat dan konstruksi tertutup kombinasi terbuka
Berdasarkan jenis dan fungsinya saluran drainase di
RT01/RW01 terdiri atas saluran drainase primer dengan luas penampang 1 – 1,5 m,
drainase sekunder dengan luas penampang 30 – 50 Cm dan drainase tersier dengan
luas penumpang 15-30 Cm.
Peran serta masyarakat dilingkungan RT 01/RW01
sangatlah dominan, mulai dari pembuatan jaringan menjadi permanen dengan sumber
dana kalaborasi antara pihak pemerintah dan warga setempat. Sedangkan
pemeliharannya dilakukan saat kegiatan gotong royong yang dilakukan sekali dalam satu bulan.
Permasalahan drainase di lingkungan RT01/RW01 pada
umumnya disebabkan oleh manajemen sampah yang kurang baik, peningkatan jumlah
penduduk, elevasi saluran yang tidak memadai serta kurangnya kesadaran
masyarakat dalam pengelolaan dan pemeliharaan dan ditambah tidak disiplinnya
masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya.
5.2 Saran
Memberikan penyuluhan kepada penduduk setempat akan
pentingnya hidup bersih, serta menindak tegas terhadap masyarakat yang membuang
sampah tidak pada tempatnya
Membuat tempat sampah dengan membedakan limbah cair dan
limbah padat pada setiap rumah.
DAFTAR PUSTAKA
Hindarko, S. 2000. “Drainase Perkotaan”. ES-HA
Kodoatie, R.J., dan Sugiyanto.
2002. Banjir“Beberapa Penyebab dan Metode
Pengendaliannya dalam Perspektif Lingkungan”. Pustaka pelajar, Yogyakarta.
Suripin, 2001. “Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air”. ANDI
Offset, Yogyakarta.
Internet











Tidak ada komentar:
Posting Komentar