Sabtu, 03 Mei 2014

MANAJEMEN PERKOTAAN

MAKALAH TENTANG

SISTEM DRAINASE LINGKUNGAN
RT01/RW01 KELURAHAN VIM

DISTRIK ABEPURA


JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS SAINS DAN TEKNOLOGI JAYAPURA


DAFTAR ISI

Kata Pengantar    ..........................................................................................................      i
Daftar Isi   ....................................................................................................................     ii
Daftar Tabel   ................................................................................................................    iii
Daftar Gambar   ............................................................................................................    iv

Bab I  Pendahuluan    ...................................................................................................     1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................     1
1.2 Maksud dan Tujuan  ...............................................................................................     2
1.3 Ruang Lingkup  .......................................................................................................     2
1.4 Teknik Pengumpulan Data  ………………………………………………………..     2
1.5 Sistematika Penulisan   ............................................................................................    3

Bab II Landasan Teori  .................................................................................................     4
2. 1 Pengertian   ............................................................................................................     4
2. 2 Standar dan Sistem Penyediaan Drainase  ………………………………………     4
2. 3 Sistem Jaringan Drainase   ……………………………………………………….     7
2. 4 Pengklasifikasian Saluran Drainase  ……………………………………………..   11
2. 5 Bangunan-bangunan Sistem Drainase dan Pelengkapnya  ………………………   13
2. 6 Perencanaan Drainase   ..........................................................................................   16

Bab III Kondisi Eksisting Wilayah Studi ……………………………………………   18
3.1 Kondisi Makro ……………………………………………………………………   18
3.1.1 Keadaan Umum  ……………………………………………………………   18
3.1.2 Keadaan Sosial Ekonomi        ………………………………………………   18
3.2 Kondisi Mikro …………………………………………………………………….   20
3.2.1 Keadaan Umum    …………………………………………………………..   20
3.2.2 Keadaan Sosial Ekonomi    …………………………………………………   21

Bab IV Pembahasan ………………………………………………………………….   23
4.1 Perumusan Masalah    .............................................................................................   23
4.2 Sistem Drainase   …………………………………………………………………   23
4.3 Peran serta Masyarakat   ………………………………………………………….   26
4.4 Permasalahan Drainase    …………………………………………………………   26
4.5 Pemecahan Masalah      ...........................................................................................   28

Bab V Penutup  ………………………………………………………………………   29
5.1 Kesimpulan ……………………………………………………………………….   29
5.2 Saran   …………………………………………………………………………….   29

Daftar pustaka
Lampiran

DAFTAR TABEL

            

                                                                                                                                    Halaman

Tabel 2.1 Batas Sempadan Sungai Minimum   ……………………………………….     6

Tabel 2.2 Bentuk dan Fungsi Saluran Tertutup (Sewerage)    ………………………..   14

Tabel 2.3 Bentuk-bentuk umum saluran terbuka dan Fungsinya .................................   14

Tabel 3.1 Keadaan Struktuk Penduduk Kelurahan Vim Tahun 2007  ……………….   19

Tabel 3.2 Banyaknya Pencari Kerja berdasarkan pendidikan Kota Jayapura

Tahun 2007  ………………………………………………………………..   19

Tabel 3.3 Rata-rata Guru dan Murid terhadap Sekolah serta Ratio Murid terhadap

Guru menurut jenis Pendidikan dan Status tahun 2007 ……………………   20

Tabel 3.4 Keadaan Struktuk Penduduk RT01/RW01 Kelurahan Vim Tahun 2008 ….   22

Tabel 3.5 Banyaknya Sekolah dan Guru berdasarkan jenjang pendidikan  di

kelurahan VIM tahun 2007   ………………………………………………   22



DAFTAR GAMBAR

                                                                                                Halaman

Gambar 2.1 Konfigurasi Sistem Drainase Perkotaan (Grigg, 1996 dgn modifikasi) …     8

Gambar 3.1 Peta Sketsa Lokasi Studi Prasarana Drainase   ………………………….   21

Gambar 4.1 Bentuk Saluran Drainase terbuka di RT 01/RW01   …………………….   24

Gambar 4.2 saluran drainase tertutup di RT 01/RW01    …………………………….   25

Gambar 4.3 Drainase Primer        ……………………………………………………..   26

Gambar 4.4 Drainase Sekunder ………………………………………………………   26

Gambar 4.5 Drainase Tersier    ……………………………………………………….   26

Gambar 4.6 Sampah di saluran drainase     ...................................................................   28

Gambar 4.7 Sampah disekitar drainase      ..........................................




BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan yang sehat, aman, harmonis dan dinamis perlu menciptakan iklim yang kondusif dalam penyelenggaraan pembangunan dengan mengoptimalkan sumber daya pendukung salah satunya prasarana drainase
Prasarana drainase dimaksudkan untuk pembuangan kelebihan air yang tidak diinginkan pada suatu daerah. Dari sudut pandang yang lain, drainase adalah salah satu unsur dari prasarana umum yang dibutuhkan masyarakat kota dalam rangka menuju kehidupan kota yang aman, nyaman, bersih dan sehat. Prasarana drainase disini berfungsi untuk mengalirkan air permukaan ke badan air (sumber air permukaan dan bawah permukaan tanah) dan atau bangunan resapan. Selain itu juga berfungsi sebagai pengendali kebutuhan air permukaan dengan tindakan untuk memperbaiki daerah becek, genangan air dan banjir.
RT 01/RW01 kelurahan Vim memiliki penduduk sebanyak 1.024  jiwa dengan kepadatan 227 Jiwa/Ha. Dengan jumlah yang terus bertambah tentunya membutuhkan ruang untuk hidup secara sehat. Dengan bertambahnya jumlah penduduk secara fakta setiap orang menghasilkan limbah rumah tangga baik itu limbah yang  bersifat cair maupun limbah padat. Hasil limbah cair dibuang dan dialirkan langsung ke saluran drainase yang berakhir di saluran drainase primer. Sedangkan limbah padat sebagian besar dibuang ke tempat sampah dan sebagian lagi dibuang dan dibiarkan menumpuk di saluran drainase yang ada, sehingga membuat saluran drainase tersumbat yang menyebabkan pendangkalan dan penyempitan pada saluran drainase yang menyebabkan kapasitas daya tampung drainase berkurang sehingga terjadi genangan pada sesaat setelah hujan. Pertambahan jumlah penduduk, peningkatan debit, amblesan tanah juga merupakan beberapa hal yang meyebabkan penurunan daya tampung prasarana drainase.
Berdasarkan kondisi yang ada diatas sudah semestinya pemerintah memperhatikan permasalahan drainase kota, karena apabila tidak diperhatikan bukan tidak mungkin prasarana drainase yang ada sekarang ini nantinya tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai saluran penampung air permukaan.

1.2        Maksud dan Tujuan
1.2.1   Maksud
Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan mengidentifikasi sistem drainase dan permasalahan prasarana drainase yang ada di RT 01/RW 01 Kelurahan VIM Distrik Abepura. Sehingga diharapakan dapat memberikan solusi untuk pemecahan permasalahan yang ada baik secara teknis maupun non teknis.

1.2.2   Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
          Agar Mahasiswa dapat mengerti dan Memahami tentang prasarana drainase
          Agar Mahasiwa dapat melihat dengan langsung permasalahan drainase yang ada di wilayah studi yang diamati dan dapat memberikan solusi terhadap permasalahan drainase.

1.3   Ruang Lingkup
Adapun yang menjadi ruang lingkup penulisan makalah ini adalah sistem prasarana drainase di lingkungan RT 01/RW01 kelurahan VIM distrik Abepura Kota Jayapura.

1.4  Teknik Pengumpulan Data
1.4.1 Data Primer
Pengumpulan data primer diperoleh dengan survey dan melihat langsung kondisi eksisting di lapangan

                   Data Sekunder
Diperoleh dari metode pustaka serta instansi-instansi pemerintah yang berhubungan dengan kegiatan penelitian.

                        Sistematika Penulisan
Bab I
Pendahulan
Pada Bab ini membahas tentang latar belakang, maksud, tujuan, ruang lingkup, teknik pengumpulan data dan sistematika Penulisan

Bab II
Landasan Teori
Pada Bab ini membahas tentang Landasan Teori yang berhubungan dengan prasarana drainase

Bab III
Kondisi Eksisting Wilayah Studi
Pada Bab ini membahas tentang kondisi wilayah Studi secara umum dan keadaan prasana drainase di wilayah studi

Bab IV



Bab V
Pembahasan
Pada Bab ini membahas tentang Sistem dan Permalahan Drainase di wilayah studi

Penutup
Pada Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran

  
BAB II
LANDASAN TEORI


2. 1 Pengertian

Pengertian Drainase menurut Suhardjono (1984:1) yaitu suatu cara pembuangan kelebihan air yang tidak diinginkan pada suatu daerah, serta cara-cara penanggulangan akibat yang ditimbulkan oleh kelebihan air tersebut.
Dari sudut pandang yang lain, drainase adalah salah satu unsur dari prasarana umum yang dibutuhkan masyarakat kota dalam rangka menuju kehidupan kota yang aman, nyaman, bersih dan sehat. Prasarana drainase disini berfungsi untuk mengalirkan air permukaan ke badan air (sumber air permukaan dan bawah permukaan tanah) dan atau bangunan resapan. Selain itu juga berfungsi sebagai pengendali kebutuhan air permukaan dengan tindakan untuk memperbaiki daerah becek, genangan air dan banjir. Kegunaan dengan adanya drainase ini antara lain :
          Mengeringkan daerah becek dan genangan air sehingga tidak ada akumulasi air permukaan tanah.
          Menurunkan permukaan air tanah pada tingkat yang ideal.
          Mengendalikan erosi tanah, kerusakan jalan dan bangunan yang ada.
          Mengendalikan air hujan yang berlebihan sehingga tidak terjadi bencana banjir.

2. 2 Standar dan Sistem Penyediaan Drainase

Penyediaan sistem drainase harus disesuaikan dengan kondisi eksisting lahan tempat sistem tersebut akan dibangun. Macam-macam sistem drainase yang ada antara lain:
          Sistem Drainase Utama, yaitu sistem drainase perkotaan yang melayani kepentingan sebagian besar warga masyarakat kota.
          Sistem Drainase Lokal, yaitu sistem drainase perkotaan yang melayani kepentingan sebagian kecil warga masyarakat lingkungan setempat.
          Sistem Drainase Terpisah, yaitu sistem drainase yang mempunyai jaringan saluran pembuangan terpisah untuk air permukaan atau air limpasan.
          Sistem Drainase Gabungan, yaitu sistem drainase yang mempunyai jaringan saluran pembuangan yang sama, baik untuk air genangan atau air limpasan yang telah diolah.
Kemampuan permukaan tanah untuk merembeskan air secara alami yang dibagi menjadi 3 kelas, yaitu drainese baik/tidak pernah tergenang, drainase tergenang periodik dan drainase tergenang terus-menerus.
Sasaran penyediaan sistem drainase dan pengendalian banjir adalah :
1.    Penataan sistem jaringan drainase primer, sekunder dan tersier melalui normalisasi maupun rehabilitasi saluran guna menciptakan lingkungan yang aman baik terhadap genangan, luapan sungai, banjir kiriman, maupun hujan lokal. Dari masing-masing jaringan dapat didefinisikan sebagai berikut :
          Jaringan Primer, saluran yang memanfaatkan sungai dan anak sungai
          Jaringan Sekunder, saluran yang menghubungkan saluran tersier dengan saluran primer (dibangun dengan beton/plesteran semen)                                          
          Jaringan Tersier, mengalirkan limbah rumah tangga ke saluran sekunder, berupa plesteran, pipa dan tanah.
2.    Memenuhi kebutuhan dasar/basic need drainase bagi kawasan hunian dan kota.
3.    Menunjang kebutuhan pembangunan/development need dalam menunjang terciptanya skenario pengembangan kota untuk kawasan andalan dan menunjang sektor unggulan yang berpedoman pada Rencana Umum Tata Ruang Kota.
Sedangkan arahan dalam pelaksanaannya adalah :
1.    Harus dapat diatasi dengan biaya ekonomis.
2.    Pelaksanaannya tidak menimbulkan dampak sosial yang berat.
3.    Dapat dilaksanakan dengan teknologi sederhana.
4.    Memanfaatkan semaksimal mungkin saluran yang ada.
5.    Jaringan drainase harus mudah pengoperasian dan pemeliharaannya.
6.    Mengalirkan air hujan ke badan sungai yang terdekat.
Standarisasi untuk penempatan perumahan di pinggiran saluran primer atau sungai untuk sungai Brantas mengacu pada Provinsial Water Reclement (PWR) Bab II Ps. 2 tentang “Pemakaian Bebas dari Perairan Umum” (Waterrocilijn); yaitu :
Pasal 2 :
1.    Dilarang menempatkan sebuah bangunan apapun, atau memperbaharui seluruhnya atau sebagian dalam jarak diukur dari kaki tangkis sepanjang perairan umum atau bilamana tidak ada tangkis, dari pinggir atas dari tamping (talud) perairan umum kurang dari :
          20 meter untuk sungai-sungai tersebut dalam daftar 1 dari verordening ini.             5 meter untuk sungai-sungai tersebut dalam daftar 2 dari verordening ini, demikian juga untuk saluran pengaliran dan pembuangan dengan kemampuan (kapasistet) 4 meter kubik/detik atau lebih.
            3 meter untuk saluran-saluran pengairan, pengambilan dan pembuangan kemampuan normal 1 s/d 4 meter kubik/detik.
            2 meter untuk saluran-saluran pengairan pengambilan dan pembuangan kemampuan normal kurang dari 1 meter kubik/detik.

Batas Sempadan Sungai Minimum berdasarkan Peraturan Menteri PU RI nomor 63/PRT/1993; yaitu :

Tabel 2.1.

Batas Sempadan Sungai Minimum
Tipe sungai
Diluar kawasan Perkotaan
Didalam garis sempadan
Ket
Kriteria
Sempadan
Kriteria
Sempadan
Sungai bertanggul diukur dari kaki tanggul terluar
-
­­5 meter
-
3 meter
Pasal 6
Sungai tak bertanggul diukur dari tepi sungai
Sungai besar luas DPS > 500 km2
100 meter
Kedalaman maksimum
> 20 m
30 meter
Pasal 7 dan
Pasal 8
Kedalaman maks > 3 m dan < 20 m
15 meter
Sungai kecil luas DPS < 500 km2
50 meter
Kedalaman maksimum
< 3 m
10 meter
Danau/
waduk
-
50 meter
-
50 meter
Pasal 10
            Sumber : Data Pokok Peraturan Menteri PU, 1993

2. 3   Sistem Jaringan Drainase

2.3.1 Sistem Drainase Mayor/Primer sampai Sekunder
Sistem drainase mayor yaitu sistem saluran/badan air yang menampung dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (Catchment Area). Biasanya sistem ini menampung aliran yang berskala besar dan luas seperti saluran drainase primer, kanal-kanal atau sungai-sungai. Pada umumya sistem drainase mayor ini disebut juga sebagai sistem saluran pembuangan utama (major system) atau drainase primer. Sistem ini merupakan penghubung antara drainase dan pengendalian banjir. Debit rencananya untuk daerah urban urban umumnya dipakai dengan periode ulang antara 5 sampai 10 tahun. Di Indonesia mengingat keterbatasan dana untuk sungai-sungai besar yang berfungsi sebagai pengendalian banjir biasanya dipakai periode ulang antara 25 sampai 50 tahun.
Kondisi wilayah yang berbukit atau daerah yang kemiringan tanahnya cukup, persoalan pembuangan/pengaliran airnya tidak begitu sulit pemecahannya, karena perbedaan tingginya cukup besar sehingga air yang mengalir sangat cepat. Bilamana kemiringannya mencapai > 0,001 perlu dibuatkan terjunan yang berfungsi untuk mengurangi kemiringan saluran dan memperlambat aliran. Persoalan yang dihadapi di daerah perbukitan umumnya gerusan, karena sifat aliran yang deras.
Akan tetapi di daerah yang datar terutama di daerah kota yang relatif datar ataupun pantai yang terkena pengaruh pasang surut, kadang-kadang tidak terdapat beda tinggi yang cukup untuk pengaliran. Air cenderung mengalir dengan lambat, bahkan timbul aliran balik akibat pengaruh pasang sehingga memungkinkan terjadinya sedimentasi. Pengaruh kemiringan yang landai dan kenaikan muka air laut cukup dominan. Pengukuran topografi yang detail mutlak diperlukan untuk perencanaan sistem drainase ini.

Gambar 2.1.

  Konfigurasi Sistem Drainase Perkotaan (Grigg, 1996 dgn modifikasi)

 
2.3.2 Sistem Drainase Mikro
Drainase mikro yaitu sistem saluran dan bangunan pelengkap drainase yang menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan hujan dimana sebagian besar di dalam wilayah kota. Secara keseluruhan yang termasuk dalam sistem drainase mikro adalah: saluran di sepanjang sisi jalan, saluran/selokan air hujan di sekitar bangunan, gorong-gorong, saluran drainase kota dan lain sebagainya dimana debit air yang dapat ditampungnya tidak terlalu besar.
Pada umumnya drainase mikro ini direncanakan untuk hujan dengan masa ulang 2, 5 atau 10 tahun tergantung pada tata guna tanah yang ada. Sistem drainase untuk lingkungan permukiman lebih cenderung sebagai sistem drainase mikro.
Dari segi konstruksinya sistem saluran/drainase mikro dapat dibedakan atas dua bagian yaitu :
a.    Sistem saluran tertutup
Pengertian sistem saluran tertutup tidak sama dengan aliran dalam pipa. Aliran air masih bersifat gravitasi (aliran pada saluran terbuka) hanya konstruksi diatasnya dibuat tertutup sehingga dapat dimanfaatkan untuk bangunan yang lain. Sistem ini cukup bagus digunakan di daerah perkotaan terutama untuk kota yang tinggi kepadatannya seperti kota Metroplitan dan kota-kota besar lainnya. Lahan yang tersedia sudah begitu terbatas dan mahal harganya, sehingga kadang-kadang tidak memungkinkan lagi untuk membuat sistem saluran terbuka. Walaupun tertutup sifat alirannya merupakan sifat aliran pada saluran terbuka yang mengalir secara gravitasi.
Berdasarkan fungsinya sistem dapat dibedakan menjadi 3, yaitu : sistem saluran tepisah yatu hanya untuk mengalirkan air hujan saja ataupun untuk mangalirkan air limbah penduduk saja, dan dapat juga berupa gabungan dari kedua fungsi tersebut tergantung pada kepentingannya. Saluran tertutup ini dapat berupa pipa beton bertulang besi, besi tuang, tanah liat, plastik (PVC) atau bahan-bahan lain yang tahan karat (korosif) tergantung kondisi lapangan. Pemasangan dilakukan sesuai dengan desain sistem drainase secara keseluruhan. Bisa saja langsung dipasang dengan permukaanya sejajar muka tanah atau ditanam beberapa meter di bawah muka tanah sesuai dengan desain topografinya. Pada daerah yang padat sistem saluran tertutup didesain dengan kekuatan untuk dapat mendukung beban diatasnya.
Untuk saluran yang besar (terutama saluran primer) dapat dibuat dengan pembangunan setempat. Namun pabila bentuknya relatif lebih kecil dan dapat mudah diangkut dapat dibuat prefabricated. Harganya dapt lebih murah karena dibuat secara masal.
Air hujan yang masuk ke dalam saluran melalui bangunan inlet atau catch basin. Pada outlet saluran dibuat juga konstruksi khusus untuk mencegah terjadinya erosi/gerusan. Untuk keperluan pengawasan pemeliharaanya, pada tiap belokan, perubahan dimensi atau bentuk dan pada setiap pertemuan saluran serta pada setiap jarak 25-50 m dibuat bangunan pemeriksa (manhole).
Dengan sistem saluran tertutup ini kemungkinan terhadap penyalahgunaan saluran drainase yang biasanya terjadi seperti tempat pembuangan sampah atau tempat membuang kotoran manusia dapat dihindari serta memungkinkan pemanfaatan permukaan tanah untuk keperluan-keperluan lain.
Kesulitan pelaksanaannya tidak terlepas pula dari persoalan non-teknis karena misalnya, harus membongkar jalan umum, membongkar rumah-rumah yang sudah terlanjur dibangun, memindahkan instalasi-instalasi bawah tanah, tiang listrik, telepon dan lain-lain. Mutu pekerjaan harus benar-benar baik karena sifatnya yang sekali terpasang sulit untuk diubah kembali.
Manajemen pemeliharaannya harus juga baik, sebab meskipun dibandingkan dengan saluran terbuka lebih aman terhadap kerusakan, tetapi lebih sulit melaksanakannya. Mengingat biaya untuk pembuatan sistem saluran tertutup ini cukup besar dan memerlukan teknologi yang lebih tinggi baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaanya maka pada saat sekarang di Indonesia sistem ini belum begitu mendapat perhatian utama.

b.      Sistem saluran terbuka
Biaya pembuatan sistem saluran terbuka biasanya lebih rendah dan tidak memerlukan teknologi yang begitu rumit sehingga sistem ini cenderung lebih sering digunakan sebagai alternatif pilihan dalam penanganan masalah drainase perkotaan. Sistem pemeliharaanya relatif mudah dilakukan.
Sistem saluran terbuka ini biasanya direncanakan hanya untuk menampung dan mengalirkan air hujan (sistem terpisah). Namun kebanyakan sistem saluran ini berfungsi sbagai saluran campuran (gabungan) dimana misalnya sampah dan limbah penduduk dibuang ke saluran tersebut. Sebagai catatan limbah penduduk merupakan limbah terbesar dibandingkan dengan limbah lainnya. Namun biasanya tidak begitu bahaya dibandingkan dengan limbah pabrik baja, tekstil sehingga untuk limbah penduduk tidak dibuat treatment plant.
Persoalan lainnya adalah sampah masih merupakan persoalan yang rumit karena disamping budaya menganggap saluran/sungai sebagai tempat buangan juga diakibatkan kapasitas tampungan sampah yang ada kurang memadai. Bahkan dalam masyarakat ada anggapan bahwa sungai sebagai tempat buangan (lihat penggalan lagu ”e asune mati e buakno kali”). Akibatnya banyak permukiman disekitar drainase yang membelakangi sungai.
Saluran yang baru selesai dibangun tidak dapat lagi berfungsi karena penuh timbunan sampah.
Pada pinggiran kota, saluran terbuka ini biasanya tidak diberi lining (lapisan pelindung). Perlindungan tebing cukup memakai gebalan rumput saja. Akan tetapi saluran terbuka di dalam kota harus diberi lining dengan beton, pasangan batu (masonry) ataupun dengan pasangan bata. Penampungan saluran ini biasanya dibuat berbentuk trapesium. Namun kadang-kadang mengingat kondisi lapangan misalnya karena keterbatasan lahan yang tersedia sudah tidak memungkinkan lagi maka penampang saluran dibuat persegi. Dasarnya dapat berupa setengah lingkaran atau datar maupun kombinasi dari keduanya. Apabila diperlukan, saluran ini dapat juga ditutup dengan plat beton. Tetapi harus dibuat lubang/celah pemasukan agar air dapat mengalir masuk ke dalam saluran lewat lubang ataupun celah-celap plat tersebut.

2. 4 Pengklasifikasian Saluran Drainase

Sistem jaringan drainase di dalam wilayah kota umumnya dibagi atas 2 bagian yaitu : drainase mayor dan drainase minor.
Macam saluran untuk pembuangan air, menurut De Chaira dan Koppelmen (1994:74) dapat di bedakan menjadi :
1.    Saluran Air Tertutup, diklasifikasikan lagi menjadi :
a.  Drainase Bawah Tanah Tertutup, dimana menerima air limpasan dari daerah yang diperkeras maupun yang tidak diperkeras dan membawanya ke sebuah pipa keluar di sisi tapak (saluran permukaan atau sungai), ke sistem drainase kota. Keuntungannya yaitu dapat menampung volume dan kecepatan yang meningkat sehingga tidak menyebabkan erosi dan kerusakan pada tapak. Keterbatasannya sedimen tidak tersaring dari limpasan karena adanya kecepatan limpasan yang meningkat sehingga daerah sekitar tapak rentan terhadap sedimentasi dan erosi.
b.  Drainase Bawah Tanah Tertutup dengan tempat penampungan pada tapak, dimana drainase ini memiliki keuntungan seperti diatas, tetapi kerusakan diluar tapak lebih dapat dihindari.
2.    Saluran Air Terbuka, menurut Chow (1989:17), merupakan saluran yang mengalirkan air dengan suatu permukaan bebas. Pada saluran terbuka jika ada sampah yang menyumbat dapat dengan mudah untuk dibersihkan, namun bau yang ditimbulkan dapat mengurangi kenyamanan. Menurut asalnya saluran dibedakan menjadi :
a.  Saluran Alam (natural), meliputi selokan kecil, kali, sungai kecil dan sungai besar sampai saluran terbuka alamiah.
b.  Saluran Buatan (artificial), seperti saluran pelayaran, irigasi, parit pembuangan dan lain-lain. Saluran terbuka buatan mempunyai istilah yang berbeda-beda antara lain :
§  Saluran (canal) : biasanya panjang dan merupakan selokan landai yang dibuat di tanah, dapat dilapisi pasangan batu/tidak atau beton, semen, kayu maupun aspal.
§  Talang (flume) : merupakan selokan dari kayu, logam, beton/pasangan batu, biasanya disangga/terletak di atas permukaan tanah, untuk mengalirkan air berdasarkan perbedaan tinggi tekanan.
§  Got Miring (chute) : selokan yang curam.
§  Terjunan (drop) : seperti got miring dimana perubahan tinggi air terjadi dalam jangka pendek.
§  Gorong-gorong (culvert): selokan tertutup yang pendek dipakai untuk mengalirkan air melalui tanggul jalan raya.
§  Terowongan Air terbuka (open-flow tunnel): selokan tertutup yang cukup panjang, dipakai untuk mengalirkan air menembus bukit/gundukan tanah.
3.    Saluran Air Kombinasi, dimana limpasan air terbuka dikumpulkan pada saluran drainase permukaan, sementara limpasan dari daerah yang diperkeras dikumpulkan pada saluran drainase tertutup.
Penampang saluran buatan biasanya dirancang berdasarkan bentuk geometris yang umum, menurut Chow (1989: 18) antara lain :
          Trapesium : merupakan bentuk yang paling umum dipakai untuk saluran berdinding tanah yang tidak dilapisi, sebab stabilitas kemiringan dindingnya dapat disesuaikan.
          Persegi Panjang : untuk saluran yang dibangun dengan bahan stabil, seperti pasangan batu, padas, logam/kayu.
          Segitiga : dipakai untuk saluran kecil, selokan dan penyelidikan di laboratorium.
          Lingkaran : dipakai untuk saluran pembuangan air kotor dan gorong-gorong berukuran sedang/kecil.
          Parabola : dipakai sebagai penampang pendekatan untuk saluran alam berukuran sedang maupun kecil
          Modifikasi seperti berupa : penampang persegi panjang yang ujung-ujungnya dibulatkan, penampang segitiga yang ujung bawahnya dibulatkan (terjadi akibat penggalian dengan sekop), penampang lingkaran modifikasi (bulat telur, elips, bentuk U, lagam kuda).

2. 5   Bangunan-bangunan Sistem Drainase dan Pelengkapnya

2.5.1  Bangunan-bangunan Sistem Saluran Drainase
Bangunan-bangunan dalam sistem drainase adalah bangunan-bangunan struktur dan bangunan-bangunan non struktur.
a.  Bangunan Struktur
Bangunan struktur hádala bangunan pasangan disertai dengan perhitungan-perhitungan kekuatan tertentu. Contoh bangunan struktur adalah :
-          Bangunan rumah pompa
-          Bangunan tembok penahan tanah
-          Bangunan terjunan yang cukup tinggi
-          Jembatan
b. Bangunan Non Struktur
Bangunan non struktur adalah bangunan pasangan atau tanpa pasangan, tidak disertai dengan perhitungan-perhitungan kekuatan tertentu yang biasanya berbentuk siap pasang. Contoh bangunan non struktur adalah :
-          Pasangan : saluran Cecil tertutup, tembok talud saluran, manhole/bak control usuran Cecil, street inlet.
-          Tanpa pasangan : saluran tanah dan saluran tanah berlapis rumput.

2.5.2  Bangunan Pelengkap Saluran Drainase
Bangunan pelengkap saluran drainase diperlukan untuk melengkapi sutatu sistem saluran untuk fungís-fungsi tertentu. Pada dasarnya bangunan pelengkap drainase haruslah kuat, fungsional, tidak menyebabkan ketidaknyamanan berkendaraan, dan tidak merusak keindahan kota. Adapun bangunan-bangunan pelengkap sistem drainase antara lain :
                  Catch Basin/watershed
Bangunan dimana air masuk ke dalam sistem saluran tertutup. Air mengalir bebas diatas permukaan tanah menuju match basin. Untuk mempermudah air masuk, lokasi catch basin ditetapkan pada tempat yang rendah. Permukaan juga dibuat lebih rendah dari tanah disekelilingnya. Catch basin dibuat pada tiap persimpangan jalan, pada tempat-tempat yang rendah, tempat parkir.
                  Inlet
Apabila terdapat saluran terbuka dimana pembuangannya akan dimasukkan ke dalam saluran tertutup yang lebih besar, maka dibuat statu konstruksi khusus inlet. Inlet harus diberi saringan agar sampat tidak masuk ke dalam saluran tertutup.

Tabel 2.2.

Bentuk dan Fungsi Saluran Tertutup (Sewerage)


No.
Bentuk saluran
Fungsinya
1.

Berfungsi untuk menyalurkan limpasan air hujan maupun limbah air bekas (air limbah) rumah tangga atau keduanya.
Konstruksi  sistem saluran ini cocok dipakai untuk pertokoan yang sangat padat dan lahan yang tersedia telah terbatas
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      
2.



Berfungsi untuk menyalurkan air hujan dan limbah air bekas dimana fluktuasi debitnya besar. Bentuk yang panjang mengecil ini berfungsi untuk mendapatkan kedalaman air yang cukup untuk dapat menghanyutkan endapan  paclat dan tinja walaupun debitnya kecil.
3.

Segi Empat


Berfungsi untuk mengalirkan air hujan dalam jumlah besar dimana bagian atasnya terdapat bangunan. Walaupun daya alirannya tidak sebaik yang bebentuk bulat telur namun pelaksanaannya relatif lebih mudah.

                     Sumber : Manajemen Dan Rekayasa Infrastruktur (Robert J. Kodoatie, Ph.D.)

Tabel 2.3.

Bentuk-bentuk umum saluran terbuka dan Fungsinya

No.
Bentuk saluran
Fungsinya
1.

Trapesium


Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air hujan dengan debit yang besar. Sifat alirannya terus‑mcnerus dengan fl u ktuasi kecil. Bentuk saluran ini dapat digunakan pada daerah yang masih cukup tersedia lahan.

2.





Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air huian dengan debit yang besar dan kecil. Sitar alirannya berfluktuasi besar dan terus‑menerus tapi debit minimumnya masih cukup besar.

3.


Fungsinya sama dengan bertuk (2) sifat alirannya terus‑menerus dan berfluktuasi besar dengan debit minimum kecil. Fungsi bentuk setengah lingkaran ini adalah untuk menampung dan mengalirkan debit minimum tersebut.

4.

Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air huian dengan debit yang besar. Sifat alirannya terus‑menerus dengan fluktuasi kecil.
5.

Bentuk saluran segi empat ini digunakan pada lokasi jalur saluran yang tidak mempunyai lahan yang cukup/terbatas. Fungsinya sama dengan bentuk (2) dan (3).
6.

Berfungsi untuk menyalurkan limbah air hujan untuk debit yang kecil. Bentuk saluran ini umum digunakan untuk salura‑saluran rurnah penclud u k dan pada sisijalan perumahan padat

Sumber : Manajemen Dan Rekayasa Infrastruktur (Robert J. Kodoatie, Ph.D.)

      Manhole
Untuk keperluan pemeliharaan sistem saluran drainase tertutup di setiap saluran diberi manhole pertemuan, perubahan dimensi, perubahan bentuk selokan pada setiap jarak 10 – 25 meter. Lubang manhole dibuat sekecil mungkin supaya ekonomis, cukup, asal dapat dimasuki oleh orang dewasa. Biasanya diameter lubang adalah 60 cm dengan tutup dari besi tulang.
            Headwall
Headwall adalah konstruksi khusus pada outlet saluran tertutup dan ujung gorong-gorong yang dimaksudkan untuk melindungi dari longsor dan erosi.
            Gorong-gorong
Gorong-gorong didesain untuk mengalirkan air untuk menembus jalan raya, jalan kereta api, atau lain-lain halangan. Bentuk penampangnya dapat berupa lingkaran, segi empat dan lain-lain tergantung dari debit, ruang bebas dari atasnya, perhitungan ekonomi dan peraturan setempat.
            Bangunan terjun
Bangunan ini digunakan untuk menerjunkan aliran. Dengan adanya terjunan dasar saluran di hulu dan hilirnya bisa lebih landai, hal ini diperlukan jika kemiringan medan sangat curam dan dikhawatirkan bengunan saluran tidak stabil. Bangunan ini juga dilengkapi dengan tolakan untuk meredam energi, dan banyak jenisnya.
            Shipon
Siphon dibuat bilamana ada persilangan dengan sungai. Shipon dibangun dibagian bawah dari penampang sungai, karena tertanam di dalam tanah meka pada waktu pembangunannya harus dibuat secara kuat sehingga tidak terjadi keretakan ataupun kerusakan kosntruksi. Sama halnya dengan gorong-gorong, hanyan dasar saluran menukik ke bawah dan muncul lagi pada akhir bangunan yang dilewati. Shipon hanya digunakan jika benar-benar diperlukan dan tidak ada alternatif lain untuk membuat persilangan dengan bangunan atau saluran lain. Selain harganya mahal, secara hidrolis juga kurang menguntungkan (banyak kehilangan tinggi, kecepatan rendah) dan mudak tersumbat. Sebaiknya dalam merencanakan drainase dihindarkan perencanaan dengan menggunakan shipon, dan sebaiknyasaluran yang debitnya lebih tinggi tetap untuk dibuat shipon dan saluran drainasenya yang dibuat saluran terbuka atau gorong-gorong.
            Bangunan got miring
Sama dengan bangunan terjun, tetapi air mengalir melalui saluran yang kemiringannya agak landai.

2. 6   Perencanaan Drainase

2.6.1   Landasan Perencanaan
Perencanaan drainase perkotaan perlu memperhatikan fungsi drainase perkotaan sebagai prasarana kota yang dilandaskan pada konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan. Konsep ini antara lain berkaitan dengan sumberdaya air, yang pada prinsipnya adalah mengendalikan air hujan supaya banyak meresap dalam tanah dan tidak banyak terbuang sebagai aliran, antara lain membuat : bangunan resapan buatan, kolam tandon, penataan landscape dan sempadan.

2.6.2   Tahapan Perencanaan
Tahapan Perencanan drainase perkotaan meliputi :
          Tahapan dilakukan melalui pembuatan rencana induk, studi kelayakan dan perencanaan detail dengan penjelasan :
§  Studi kelayakan dapat dibuat sebagai kelanjutan dari pembuatan .rencana induk.
§  Perencanaan detail perlu dibuat sebelum pekerjaan konstruksi drainase dilaksanakan.
          Drainase perkotaan di kota raya dan kota besar perlu direncanakan secara menyeluruh melalui tahapan rencana induk.
          Drainase perkotaan di kota sedang dan kota kecil dapat direncanakan melalui tahapan rencana kerangka sebagai pengganti rencana induk.
          Drainase perkotaan di kota sedang yang mempunyai pertumbuhan fisik dan pertambahan penduduk yang cepat serta drainase perkotaan yang mempunyai permasalahan rumit karena keadaan alam setempat, perlu perencanaan yang menyeluruh melalui tahapan rencana induk.
          Drainase perkotaan agar direncanakan dengan berbagai alternatif, dan pemilihan alternatif yang terbaik dilaksanakan melalui proses pengkajian dengan mempertimbangkan aspek teknik, sosial ekonomi, finansial dan lingkungan.
          Survei yang dilakukan dalam rangka perencanaan drainase perkotaan meliputi lokasi, topografi, hidrologi, geoteknik, tata guna tanah, sosial ekonomi, institusi atau kelembagaan penyelidikan yang dilakukan dalam rangka perencanaan drainase perkotaan adalah rincian lebih lanjut pekerjaan survei untuk mendapatkan parameter-parameter desain, peran serta masyarakat, kependudukan, lingkungan dan pembiayaan.
          Penyelidikan yang dilakukan dalam rangka perencanaan drainase perkotaan adalah rincian lebih lanjut pekerjaan survei untuk mendapatkan parameter-parameter desain.
          Desain drainase perkotaan agar dilaksanakan pada pertimbangan hidrologi, hidrolik, struktur, dan biaya.
          Penyiapan tanah untuk pembangunan drainase perkotaan agar dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
          Pelaksanaan drainase perkotaan agar dikerjakan sesuai dengan peraturan konstruksi yang lazim dipakai dan disetujui oleh instansi yang berwenang.
          Operasi dan pemeliharaan drainase perkotaan agar mengikuti peraturan yang lazim dipakai dan disetujui instansi yang berwenang.

BAB III
KONDISI EKSISTING WILAYAH STUDI

3.1    Kondisi Makro
3.1.1 Keadaan Umum
3.1.1.1 Letak dan Lokasi
Kelurahan Vim merupakan 1 (satu) dari 8 (delapan) kelurahan di distrik Abepura dengan luas wilayah 5,9 Km2. Untuk menuju ibukota distrik dari kelurahan Vim setidaknya menempuh jarak 3 Km dan ibukota Kotamadya 8 Km.
Secara administrasi kelurahan vim adalah sebagai berikut :
Sebelas Utara berbatas dengan Kelurahan Waena
Sebelah Selatan berbatas dengan kelurahan Waimoro
Sebelah Timur berbatas dengan kelurahan Wahno
Sebelah Barat berbatas dengan kelurahan Hedam

3.1.1.2 Ketinggian dari Permukaan Air Laut
Keadaan topografi kelurahan Vim datar hingga landai dengan kelerengan 0%  – 8 %  dengan ketinggian 25 meter di atas permukaan air laut.

3.1.1.3 Iklim dan Musim
Kota Jayapura tergolong beriklim tropis basah dengan suhu minimum 20,2° C dan maksimim 32,6° C, curah hujan rata-rata 222 mm/th. Kelembaban udara rata-rata 80,42 % dengan kecepatan angin rata-rata 2,25 Knot di lingkungan perkotaan sampai daerah pinggiran sehingga sangat menunjang untuk pertanian dan peternakan.

3.1.2  Keadaan Sosial Ekonomi
3.1.2.1  Penduduk
Keluarahan Vim terdiri atas 8 (delapan ) RW dan 43 RT dengan jumlah penduduk 8.693 jiwa dengan kepadatan 1.464 Jiwa/Km2 dengan 2.047 rumah tangga. Keadaan struktur penduduk kelurahan Vim berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel  3.1 di bawah ini.

Tabel 3.1
Keadaan Struktuk Penduduk Kelurahan Vim
Tahun 2007
No
Kelurahan
Luas
Jumlah penduduk
Jumlah
Kepadatan Jiwa/Km
L
P
1
2
3
4
5
6
7

1.

Vim

5,9

4.665

3.974

8.639

1.464

Sumber data : Distrik Abepura dalam Angka 2008

3.1.2.2 Ketenagakerjaan
Sedangkan keadaan ketenagakerjaan di distrik Abepura yang mencari pekerjaan pada tahun 2007 berjumlah 24.378 jiwa yang terdiri 12.798 tenaga kerja laki-laki dan 11.580 tenaga kerja wanita dengan berbagai latar belakang pendidikan. Banyaknya pencari kerja menurut pendidikan dapat dilihat pada tabel 3.2 dibawah ini.
Tabel 3.2
Banyaknya Pencari Kerja berdasarkan pendidikan
Kota Jayapura Tahun 2007
No
Pendidikan
Laki-Laki
Perempuan
Jumlah
1
2
3
4
5
1
Tidak / belum tamat SD
13
13
26
2
Sekolah Dasar
52
105
157
3
SMP
378
724
1.102
4
SMA
4.856
4.219
9.075
5
Setingkat SLTP
118
35
153
6
Setingkat SLTA
230
242
272
7
Sarjana Muda
2.201
2.261
4.462
8
Sarjana Lengkap
2.730
2.899
5.629
9
Pasca Sarjana
18
17
35

Jumlah
12.798
11.580
24.378
Sumber data : Distrik Abepura dalam Angka 2008

3.1.2.3  Pendidikan
Keadaan pendidikan di wilayah distrik Abepura sudah memadai dengan jumlah sekolah pada seluruh jenjang pendidikan sebanyak 51 sekolah, jumlah guru 1.127 dan jumlah murid sebanyak 17.369 murid denngan rasio murid terhadap guru 15. Berikut ini keadaan pendidikan di wilayah distrik Abepura dapat dilihat pada tabel 3.3 dibawah ini



Tabel 3.3
Rata-rata Guru dan Murid terhadap Sekolah serta Ratio Murid terhadap Guru menurut jenis Pendidikan dan Status tahun 2007
No
Pendidikan
Negeri
Swasta
Guru per sekolah
Murid per sekolah
Murid terhadap guru
Guru per sekolah
Murid per sekolah
Murid terhadap guru
1
2
3
4
5
6
7
8
1
TK
5,5
100
18,2
4,7
99,4
21
2
SD
19,2
393,7
20,5
15,3
347,1
22,8
3
SLTP
33
471
14,3
20
243,7
12,2
4
SMU
95
1.378
14,5
28,8
277,5
9,7
5
SMK
78,3
729
9,3
0
0
0

Jumlah
31,1
466,3
15
13,4
219,7
16,4
Sumber data : Dinas P dan P Kota Jayapura

3.1.2.4  Kesehatan
Di wilayah distrik Abepura terdapat rumah sakit Umum sebanyak 1 buah, rumah sakit militer 1 buah, puskesmas sebanyak 1 buah dan puskesmas pembantu 5 buah. Sedangkan tenaga dokter yang praktek di distrik Abepura tercatat sebanyak 40 orang yang terdiri dari 25 orang Dokter Umum, 6 orang Dokter Gigi dan 9 orang Dokter ahli.

3.1.2.5  Mata Pencaharian
Penduduk di wilayah keluraha Vim memiliki mata pencaharian yang beragam antara lain PNS, Swasta, buruh, TNI/POLRI, bertani dan lain-lain. Setidak nya terdapat luas panen 180 Ha yang terdiri atas komoditi Ubi kayu, Ubi jalar, Jagung dan Kacang Tanah dengan produksi lebih kurang 829 ton pertahunnya.

3.2 Kondisi Mikro
3.2.1 Keadaan Umum
3.2.1.1 Letak dan Lokasi
RT 01 merupakan 1 (satu) dari 43 (empat puluh tiga) RT di kelurahan kelurahan Vim distrik Abepura dengan luas wilayah   Ha. Untuk menuju ibukota kelurahan dari RT 01/RW 8 setidaknya menempuh jarak 0.5 Km dan ibukota Kotamadya 8 Km.

Secara administrasi RT01/RW01 Kelurahan Vim mempunyai batas sebagai berikut :
                        Sebelah Utara berbatas dengan RT01/RW05 keluarahan Vim
                        Sebelah Selatan berbatas dengan kelurahan Waimoro
                        Sebelah Timur berbatas dengan RT01/RW02 kelurahan Vim
                        Sebelah Barat berbatas dengan RT02/RW01 keluarahan Vim
Batas administrasi RT01/RW01 dapat dilihat lebih jelas pada gambar 3.1 dibawah ini ;


Gambar 3.1 Peta Sketsa Lokasi Studi Prasarana Drainase


3.2.1.2 Ketinggian dari Permukaan Air Laut
Keadaan topografi kelurahan RT 01/RW01 kelurahan Vim datar hingga landai pada bagian utaranya dengan kelerengan 0%  – 8 %  dan ketinggian 25 meter di atas permukaan air laut.

3.2.2   Keadaan Sosial Ekonomi
3.2.2.1  Penduduk
RT 01 lokasi dimana studi penelitian sitem drainase dilaksanakan terletak di RW01 kelurahan Vim dengan jumlah penduduk 1.024 jiwa dengan kepadatan 227 Jiwa/Ha dengan 241 rumah tangga. Keadaan struktur penduduk kelurahan Vim berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel  3.4 di bawah ini.

Tabel 3.4
Keadaan Struktuk Penduduk RT01/RW01 Kelurahan Vim
Tahun 2008
No
Kelurahan
Luas (Ha)
Jumlah penduduk
Jumlah
Kepadatan Jiwa/Ha
L
P
1
2
3
4
5
6
7

1.

RT01/RW01

4,5

546

478

1.024

227

Sumber data : Kantor kelurahan Vim  2009


3.2.2.2  Pendidikan
Kelurahan Vim terdapat 3 Taman kanak-kanak dan 9 Sekolah Dasar dengan jumlah murid dan guru masing-masing 2.741 dan 129. SMP sebanyak 3 dengan jumlah guru dan murid 60 dan 731. SMU sebanyak 3 sekolah dengan jumlah murid dan guru 877 dan 93 orang. SMK 3 sekolah dengan jumlah murid dan guru  2.696 dan 272 orang. Lebih rinci dapat dilihat pada tabel 3.5 dibawah ini.
Tabel 3.5
Banyaknya Sekolah dan Guru berdasarkan jenjang pendidikan
di kelurahan VIM tahun 2007
No
Pendidikan
Sekolah
Guru
Murid
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
TK
SD
SLTP
SMU
SMK
3
9
3
3
3
9
129
60
93
272
186
2.71
731
877
2.696

Jumlah
21
563
1.799
Sumber Data : Dinas P dan P Kota Jayapura

3.2.2.3  Kesehatan
Fasilitas kesehatan di RT01/RW01 berupa Posyandu

3.2.2.4  Mata Pencaharian
Penduduk di wilayah kelurahan RT01/RW01 keluarahan Vim memiliki mata pencaharian yang beragam antara lain PNS, Swasta, buruh, TNI/POLRI, bertani dan lain-lain.


BAB IV
PEMBAHASAN


              Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah dalam penyusunan makalah ini adalah ” Identifikasi sistem dan permasalahan drainase di lingkungan RT 01/RW 01 wilayah Kelurahan VIM distrik Abepura

4.2 Sistem Drainase
Drainase merupakan suatu cara pembuangan kelebihan air yang tidak diinginkan pada suatu daerah, serta cara-cara penanggulangan akibat yang ditimbulkan oleh kelebihan air tersebut.
Di wilayah RT 01/RW01 Kelurahan Vim berdasarkan konstruksinya sistem drainase terdiri atas :

a.       Drainase terbuka
Sistem saluran terbuka ini digunkan untuk menampung dan mengalirkan air hujan. Namun sistem saluran ini berfungsi sebagai saluran campuran (gabungan) dimana misalnya sampah dan limbah penduduk dibuang ke saluran tersebut.
Saluran terbuka yang ada diberi lining (lapisan pelindung). Perlindungan tebing memakai beton. Penampungan saluran ini dibuat berbentuk segi empat dengan dasar datar datar. Pada daerah perpotongan jalan dan tempat tertentu saluran terbuka ini dibuat tertutup dan dibuat lubang/celah pemasukan agar air dapat mengalir masuk ke dalam saluran lewat lubang ataupun celah-celap plat tersebut.
Saluran terbuka ini terdapat pada daerah lingkungan atau drainase yang lansung berhubungan dengan limbah rumah tangga. Berikut ini gambar yang menunjukkan bentuk saluran drainase yang ada di RT 01/RW01.
Gambar 4.1 Bentuk Saluran Drainase terbuka di RT 01/RW01

a.       Drainase tertutup kombinasi terbuka
Sistem saluran tertutup di RT01/RW01 bersifat gravitasi (aliran pada saluran terbuka) hanya konstruksi diatasnya dibuat tertutup sehingga dapat dimanfaatkan untuk bangunan yang lain. Kontruksi ini berada pada jaringan primer yaitu yang berada akhir dari drainase lingkungan .
Air hujan yang masuk ke dalam saluran melalui bangunan inlet atau catch basin. Pada outlet saluran dibuat juga konstruksi khusus untuk mencegah terjadinya erosi/gerusan. Untuk keperluan pengawasan pemeliharaanya, pada tiap belokan, perubahan dimensi atau bentuk dan pada setiap pertemuan saluran serta pada setiap jarak 25-50 m dibuat bangunan pemeriksa (manhole).
Dengan sistem saluran tertutup ini kemungkinan terhadap penyalahgunaan saluran drainase yang biasanya terjadi seperti tempat pembuangan sampah atau tempat membuang kotoran manusia dapat dihindari serta memungkinkan pemanfaatan permukaan tanah untuk keperluan-keperluan lain.
Manajemen pemeliharaannya harus juga baik, sebab meskipun dibandingkan dengan saluran terbuka lebih aman terhadap kerusakan, tetapi lebih sulit melaksanakannya. Mengingat biaya untuk pembuatan sistem saluran tertutup ini cukup besar dan memerlukan teknologi yang lebih tinggi baik dalam perencanaan. Berikut ini gambar yang menunjukkan saluran drainase tertutup yang ada di RT01/RW01.


Gambar 4.2 saluran drainase tertutup di RT 01/RW01


Sedangkan berdasarkan jenisnya saluran drainase di RT 01/RW01 terbagi atas 3 jenis yaitu :
a.       Saluran Drainase Primer
Saluran drainase ini merupakan muara dari saluran drainase lingkungan di wilayah RT01/RW01 yang terletak di sisi jalan utama Kotaraja – Abepura. Saluran Drainase primer ini memiliki dimensi yang cukup lebar yaitu 1 – 1,5 meter dengan kedalaman 1- 1,5 meter. Saluran drainase ini memiliki bentuk konstruksi kombinasi yaitu terbuka dan tertutup dengan bentuk penampungan persegi dan beton pada sisi-sisi dindingnya.

b.      Drainase Sekunder
Saluran drainase ini terbentuk disepanjang jalan utama pada lingkungan RT 01/RW01. Dimana berfungsi untuk menampung buangan limbah atau air dari saluran tersier. Saluran drainase sekunder ini memiliki dimensi 30-50 Cm dengan kedalaman 50 Cm. Saluran drainase ini memiliki bentuk konstruksi terbuka dengan penampungan persegi dan beton pada sisi-sisi dindingnya.

c.       Drainase Tersier
Saluran drainase ini berada pada lingkungan perumahan di wilayah kelurahan RT 01/RW1. Saluran ini menampung langsung limbah yang berasal dari rumah tangga. Saluran drainase ini memiliki dimensi 15 – 30 Cm dengan bentuk kontruksi terbuka dan penampungan persegi dan beton pada sisi-sisi dindingnya.

                                      Gbr 4.3 Drainase Primer

                                        Gbr 4.4 Drainase Sekunder

                                      Gbr. 4.5 Drainase Tersier


Peta sketsa jaringan drainase terlampir

4.3  Peran serta Masyarakat
Peran serta masyarakat terhadap sistem prasarana drainase di lingkungan RT01/RW01 sangat dominan. Hal ini terlihat mulai dari pembersihan saluran drainase hingga membuat jaringan drainase menjadi permanen. Kegiatan pemeliharan prasarana drainase di lingkungan RT01/RW01 dilakukan secara bersama-sama dengan cara gotong royong yang dipimpin oleh Ketua RT. Kegiatan gotong royong ini dilakukan sebulan sekali pada hari libur dengan melibatkan seluruh masyarakat lingkungan RT 01 tanpa terkecuali.
Pembuatan prasarana drainase dilakukan secara semi swadaya dengan sumber dana berasal dari bantuan pemerintah dan iuran bersama-sama warga lingkungan RT01/RW01. Sedangkan pengerjaannya langsung dilaksanakan oleh warga lingkungan setempat.

4.4  Permasalahan Drainase
Permasalahan drainase yang ada di RT01/RW01 di pengaruhi oleh beberapa factor antara lain :
                        Peningkatan Debit
Manajemen sampah yang kurang baik member kontribusi percepatan pendangkalan/penyempitan saluran. Saluran drainase menjadi berkurang sehingga tidak mampu menampung debit yang terjadi. Pada akhirnya terjadilah genangan pada jalan yang berdampak pada rusaknya jalan dan turunnya tinggi jalan

                        Peningkatan jumlah penduduk
Meningkatnya jumlah penduduk di RT01/RW01 berpengaruh pada pembangunan infrastrukutur di wilayah tersebut. Sejalan dengan hal tersebut peningkatan jumlah penduduk tentunya akan menghasilkan jumlah limbah, baik limbah cair maupun sampah.

                        Amblesan Tanah dan sampah
Hal ini disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebihan, mengakibatkan beberapa bagian kota berada dibawah muka air laut pasang. Tersumbatnya saluran oleh endapan, sedimentasi atau timbunan sampah

                        Elevasi saluran tidak memadai
Elevasi ini menentukan lancar tidaknya saluran air mengalir. Pada daerah RT 01/RW8 terdapat sebagian saluran drainase tersier atau sekunder yang memiliki elevasi lebih rendah dari saluran induknya sehingga membuat air menjadi berbalik atau bergenang.

                        Tumpukan sampah
Tumpukan sampah ini berada disekitar dan disaluran drainase, terutama drainase primer. Tumpukan sampah yang berada pada drainase primer di lingkungan RT01/RW02 ini mengakibatkan berkurangnya daya tamping sehingga mengakibatkan banjir saat musim hujan.

                        Kurangnya kesadaran masyarakat
Kurangnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan dan pemeliharaan dan ditambah tidak disiplinya masyarakat dalam membuang sampah juga memberikan kontribusi yang besar terhadap menurunnya daya tamping drainase di lingkungan RT01/RW8.

4.3  Pemecahan Masalah

Untuk memecahkan permasalahan drainase yang ada di lingkungan RT 01/RW01 dapat dilakukan beberapa cara :
  1. Dibuat bak pengontrol serta saringan agar sampah yang masuk ke drainase dapat dibuang dengan cepat agar tidak mengendap
  2. Peningkatan daya guna air, meminimalkan kerugian serta memperbaiki konservasi lingkungan
  3. Mengelola limpasan dengan cara mengembangkan fasilitas untuk menahan air hujan, menyimpan air hujan maupun pembuatan fasilitas resapan
  4. Diadakan penyuluhan akan pentingnya kesadaran membuang sampah pada tempat yang telah tersedia
  5. Pemberian sanksi kepada siapapun yang melanggar aturan terutama pembuangan sampah sembarangan agar masyarakat mengetahui pentingnya melanggar drainase
 '
BAB V
P E N U T U P


5.1  Kesimpulan
        Sistem drainase dilingkungan RT01/RW01 berdasarkan konstruksinya dibedakan atas konstruksi terbuka dengan bentuk penampang datar persegi empat dan konstruksi tertutup kombinasi terbuka

        Berdasarkan jenis dan fungsinya saluran drainase di RT01/RW01 terdiri atas saluran drainase primer dengan luas penampang 1 – 1,5 m, drainase sekunder dengan luas penampang 30 – 50 Cm dan drainase tersier dengan luas penumpang 15-30 Cm.

        Peran serta masyarakat dilingkungan RT 01/RW01 sangatlah dominan, mulai dari pembuatan jaringan menjadi permanen dengan sumber dana kalaborasi antara pihak pemerintah dan warga setempat. Sedangkan pemeliharannya dilakukan saat kegiatan gotong royong yang  dilakukan sekali dalam satu bulan.

        Permasalahan drainase di lingkungan RT01/RW01 pada umumnya disebabkan oleh manajemen sampah yang kurang baik, peningkatan jumlah penduduk, elevasi saluran yang tidak memadai serta kurangnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan dan pemeliharaan dan ditambah tidak disiplinnya masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya.

5.2  Saran
        Memberikan penyuluhan kepada penduduk setempat akan pentingnya hidup bersih, serta menindak tegas terhadap masyarakat yang membuang sampah tidak pada tempatnya

        Membuat tempat sampah dengan membedakan limbah cair dan limbah padat pada setiap rumah.


DAFTAR PUSTAKA


Hindarko, S. 2000. “Drainase Perkotaan”. ES-HA
Kodoatie, R.J., dan Sugiyanto. 2002. Banjir“Beberapa Penyebab dan Metode Pengendaliannya dalam Perspektif Lingkungan”. Pustaka pelajar, Yogyakarta.
Suripin, 2001. “Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air”. ANDI Offset, Yogyakarta.
Internet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar